Emak-emak berpolitik?

Muncul beberapa grup politik yang anggotanya emak-emak.  Emak-emak berpolitik apa salah? Tidak sih, namun ketika terjun menjadi bagian masyarakat yang sadar politik ada beberapa rambu-rambu yang harus emak-emak ini patuhi.  Mengapa seperti itu? Ya, agar emak-emak tidak “kabawa ku sakaba-kaba” dalam bahasa sundanya adalah TIDAK TERBAWA ARUS.  Jika emak-emak terbawa arus bisa bahaya, nanti kebingungan mau belok ke kiri kasih sen ke kanan…..  Jadi apa yang harus disiapkan emak-emak ketika ikut mengharubirukan perpolitikan di Indonesia.

(1) Kudu Paham IDEOLOGI GLOBAL dan derivatnya

Pahami hiruk pikuk ideologi yang mendasari perang politik.  Emak harus paham ideologi Kapitalisme, Sosialisme, dan Islamisme berserta turunan dari Ideologi itu.  Ini pengetahuan global tapi sangat mendasar yang harus emak-emak pahami.  Tanpa memahami perbandingan ideologi Kapitalisme, Sosialisme, dan Islamisme, tanpa memahami derivat dari ideologi ini pada sistem ekonomi dan sosial; maka emak-emak hanya akan jadi KANTONG KRESEK yang terbang ketika angin berhembus, sobek ketika bawaan keberatan, dan  dikesek-kesek ketika sudah tidak terpakai, hanya sebatas dijadikan wadah sampah, bahkan tak laku dalam perdagangan daur ulang.  Loh, kok bisa jadi kantong kresek begitu.  Itulah kejamnya politik.  Emak-emak SARACEN yang ditangkap baru-baru lalu adalah contohnya mereka nyebur ke politik tanpa pengetahuan perbedaan IDEOLOGI (MABDA INI).  Jadi, kalau emak mau nyebur ke politik ya BELAJAR DASAR-DASAR IDEOLOGI GLOBAL BERSERTA DERIVATNYA DULU.

(2) Kudu paham Sejarah perpolitikan Indonesia dari masa ke masa + Ushul Fiqh buat Emak yang muslimah

Pahami konteks budaya lokal Nusantara dalam perpolitikan.  Memahami ini berarti Emak harus paham banget sama sejarah Indonesia.  Hayo dulu waktu SD-SMA udah baca berapa buku Sejarah? Jangan-jangan modalnya hanya buku pelajaran sejarah yang itu pun jarang Emak baca.   Nih, saya kasih tahu karena saya dari kecil kerjaannya bacaain buku sejarah dan biography tokoh-tokoh sejarah, dan sejak kecil ortu saya mengajarkan prinsip  “sejarah untuk dilupakan” tapi “sejarah harus jadi kenangan agar bisa belajar dari masa lalu untuk masa depan” .  Saya kasih tahu ya: Sejak 1905 atau 1908 misi perpolitikan Indonesia dicanangkan.  Melawan Belanda gak lagi pake pedang berhadapan langsung FACE TO FACE, tapi lebih elegan menggunakan pemikiran, gelar diskusi, gelar orasi atau pidato, dan gelar tulisan baik di media massa maupun berupa buku.  Buku pun dari buku serius atau non fiksi sampai buku-buku fiksi bahkan puisi.  Pemikiran kemerdekaan dan nasionalisme terus mengembang.  Perkumpulan-perkumpulan pemuda dan organisasi tumbuh pesat.  Sampai akhirnya Jepang melakukan inisiasi menyatukan semua perkumpulan dan organisasi tersebut dalam BPUPKI  (独立準備調査会 = どくりつじゅんびいちょうさか=Dokuritsu Junbii Chōsakai).  Lalu BPUPK berubah setelah Pemboman Hiroshima dan Nagasaki yang dikenal dengan Perang ……..[apa coba??? jawabannya bukan perang bintang ya!]  menjadi 独立準備委員会 =どくりつじゅんびいいいんかい=Dokuritsu Junbi Iinkai、dalam bahasa Indonesia disebut ……..[Hayo apa coba???].  Perkumpulan organisasi, tokoh, dan perkumpulan seindonesia menyepakati PANCASILA sebagai dasar negara.  Pancasila yang memuat lima sila menggambarkan akomodasi dari ideologi kapitalisme “Kemanusiaan yang adil dan Beradab, Permusyawaratan Rakyat yang dipimpin oleh hikmah kebujaksanaan dalam permusyawartan dan perwakilan”, ideologi sosialisme “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, Islamisme “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang semua ideologi itu dirangkum dalam “PERSATUAN INDONESIA”.   Pancasila hasil kompromi? Eit, Jika Emak seorang muslim maka dalam terjun ke politik Emak juga perlu pengetahuan tentang USHUL FIQH.  Nah, dalam Ushul Fiqh itu ada Ijmak Ulama.  Pancasila disepakati oleh para Ulama yang saat itu menjadi wakil umat Islam.  Bisa Emak sebutkan siapa saja nama ulama tersebut? Bahkan Ulama itu masuk PANITIA SEMBILAN BPUPKI, Emak!  [Daripada Emak harus minum Puyer bintang tujuh, ini saya kasih PIAGAM JAKARTA hasil perumusan BPUPKI, coba Emak tebak siapa saja Kyai yang ada di situ!]

300px-Naskah_Asli_Piagam_Jakarta.jpg

PPKI yang menghasilkan pancasila yang sekarang ada di dinding depan kelas kita dulu dan anak-anak kita sekarang, itu disahkan tanggal berapa mak? [Inget aja Mak, pembukaan ASIAN GAMES tanggal berapa?].  Para Ulama pun masih menjadi anggota PPKI.  Jadi Emak-emak muslim, menurut ushul fiqh, PANCASILA ITU HASIL IJMAK ULAMA 1945.  Ijmak Ulama teh salah satu hukum syara.  Karena ketika para ulama ber-Ijmak tidak mungkin mereka bersepakat untuk menjerumuskan umat dalam ke-dhoror-an.  Oleh sebab itu, pahami sejarah, sehingga ketika berpolitik Emak gak menjadi orang yang menolak PANCASILA sebagai dasar NKRI dan menyatakan pancasila sebagai THOUGUT, KAFIR, SYIRIK, dll.  Kalau EMAK muslim mau ubah pancasila silahkan emak suruh Para Ulama untuk mengeluarkan IJMAK!  Dengan modal ini Emak akan berpolitik secara santun, dengan tujuan menjaga KEUTUHAN NKRI berlandaskan PANCASILA. Bukan sebaliknya politik BABI BUTA yang menghancurkan NKRI dan PANCASILA.

(3) Cerdas melihat fakta

Terjun ke politik selain dua pengetahuan di atas, juga emak harus cerdas melihat fakta.  Fakta didepan mata harus dilihat dari berbagai sisi dan diprediksi lalu diinkuiri fakta tersebut motif ideologinya apa?  Tanpa kecerdasan ini Emak hanya akan jadi orang yang ikut-ikutan saja.  Jika ikut-ikutan saja ya EMAK HANYA AKAN JADI KANTONG KERESEK.  Contohnya bagaimana? Contohnya nih Mak, Gerakkan #2019GantiPresiden.  Emak jangan dulu main ikut-ikutan karena Emak SEBEL sama Pak Jokowi yang Krempeng tapi Kerja Keras, jangan hanya benci sama Pak Jokowi yang sunyam senyum saja tapi bisa bangun infrastruktur banyak, jangan hanya sebel DOLLAR naik padahal keluar negeri atau lihat uang dollar aja gak pernah, jangan sampai hanya karena telur naik di jelang hari raya emak protes sama Jokowi padahal setiap jelang hari raya kebutuhan selalu naik siapapun presidennya.  Jangan hanya karena sebel-sebel seperti itu lalu EMAK ikut-ikutan gerakan TAGAR GANTI PRESIDEN.  Emak harus analisis secara ideologi, gerakkan itu siapa inisiatornya, motif tujuannya apa, adakah kepentingan ideologi di sana, apa untungnya gerakkan itu bagi PERDAMAIAN DAN KEDAMAIAN BANGSA DAN NEGARA?.  Setelah jelas semuanya baru emak putuskan ikut-ikutan tagar itu? atau Emak lebih baik ikutan tagar baru yang lebih elegan misalnya #PERMAKBODI #EMAKWARASPILIHJOMIN dan grup lainnya yang saya tidak tahu maklum saya tidak jadi anggota grup seperti itu ya Mak! atau mendingan ikut meningkat keterampilan memasak, kelas YOGA, atau kelas Parenthing?  Ingat ya, Emak, ikut-ikutan berpolitik….boleh saja! Namun jangan sampai jadi KANTONG KRESEK ya, Mak!  Kalau saya pribadi sebagai EMAK lebih enak nonton dunia politik sambil ngeteh dan menikmati brownies yang legit buatan AMANDA, produksi mertua-mantu.

Jokowi Amin atau GOLPUT? #saveNKRI

Jokowi Amin….. (nb. kalau saya membaca frasa ini, serasa do’a berkah untuk sebuah pertanyaan, “Siapa Presiden Indonesia 2019-2024? insyaalloh “Jokowi! Aamiin!”).  Hal yang sama jika Prabowo berpasangan dengan Amien Rais, frasanya menjadi “Prabowo Amien”

Bagi saya pribadi pasangan Jokowi Amin cukup mengagetkan, karena sejak awal saya menduga Pak Mahfud MD yang akan berpasangan dengan Pak Jokowi.  Pak Mahmud MD tidak diragukan lagi keilmuan dalam soal ketatanegaraan dan agama.  Namun gelarnya beliau belum nyampe Kyai atau Ulama.  Partai koalisi Jokowi yang tidak pernah membahas ‘ijmak ulama’ pada akhirnya memilih seorang Kyai seorang ulama untuk mendampingi Jokowi. Sementara partai oposisi yang sudah melakukan Ijmak Ustadz sudah mengeluarkan dua nama Ustadz yang dipilih, pada akhirnya berlabuh pada sosok Pengusaha Muda.

Secara pribadi, saya menghaturkan terima kasih kepada Jokowi dan Partai Koalisinya yang menempatkan kepentingan bangsa Indonesia, bagaimana PILPRES dapat berjalan bukan hanya aman, namun juga damai dan tentram serta gembira.  Terima kasih yang sangat dalam juga untuk Pak Prabowo, Bapak telah menunjukkan secara cermat keluar dari tekanan yang begitu menghimpit demi keutuhan NKRI Pancasila juga. Brovo Jenderal, from the bottom of my heart i salute you

Hal yang menarik adalah pilihan partai koalisi Jokowi terhadap Pak KH. Ma’ruf Amin.  Menyandingkan antara Ulama dan Umaro.  Saya sendiri follower beberapa tokoh yang punya pandangan beragam tentang posisi ulama dan umaro dalam pemerintahan (islam khususnya), dalam diskurs ini paling tidak ada dua pendapat yaitu:

  1. Pemisahan ulama dan umaro.  Umaro atau pemimpin pemerintahan haruslah orang yang ahli dalam manajemen pemerintahan yang dibuktikan dengan pernahnya menjabat di pemerintahan level walikota, gubernur, pada akhirnya presiden.  Adapun ulama posisinya sebagai dewan penasehat umaro, posisi lebih tinggi dari Umaro.  Namun tidak setiap nasehat dari Ulama bisa ditelan mentah-mentah oleh Umaro.  Pemisahan seperti ini terjadi pada pemerintahan Syiah seperti di Iran.  Juga pada sistem monarkhi seperti sistem sultaniyah atau kerajaan.  Termasuk kesultanan-kesultanan di Nusantara seperti Ternate, Jogja, Solo, dan lainnya.
  2. Penyatuan antara ulama dan umaro.  Seorang umaro lebih afdol jika dia seorang mujtahid pada konteks ini maka dia adalah Umaro yg juga Ulama.   Pandangan seperti ini diadopsi oleh sistem khilafah islamiyah atau Negara Islam Indonesia.  Pada zaman kekhilafahan islam ada Umar bin Khatab, Abu Bakar Sidiq, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib….keempatnya adalah Umaro sekaligus Ulama yang dibina langsung oleh Nabi SAW.  Pada konsep #NeoNII unggulan dari calon gubernur selalu dibangkitkan sisi kefakihannya dalam agama, misalnya hafidz quran.  Jika pun tidak maka pasangan wakilnya haruslah unsur umaro-ulama, berdasarkan pandangan ini maka wajar jika kelompok tokoh agama islam pengusung #NEONII melakukan ijmak untuk memilih ustadz yang layak menjadi cawapres.

Ketika koalisi Jokowi menyandingkan Umaro-Ulama maka sesungguhnya pola ini mendekati sistem ideal kekhilafahan islam. Umaro dan ulama sejajar dalam membimbing bangsa Indonesia menuju baldatun toyibatun warobun ghofur.  Dengan masuknya unsur ulama juga ahli ekonomi syariah, saya membanyangkan bergejolaknya ekonomi real dan mulai dibumikannya mata uang berlandaskan emas yang boleh jadi akan menggantikan dominasi dollar.  Pembangunan mental dan spiritual akan makin subur.  Nasionalis religius….menjadi ruh dalam membangun Indonesia.  Ruh jamai’ pasangan Jokowi-Amin adalah islam nusantara, islam  yang toleran terhadap multikultur, multi ethnis, dan multi agama.

Lalu mengapa mereka yang memperjuangkan kekhilafahan islam dan #NeoNII tetap “nyinyir” dengan keputusan ini? Apalagi kelompok #NeoNII sangat paham siapa Kyai Ma’ruf Amin.  Beliau lah yang membuat fatwa sehingga lahir GNFMUI yang berjilid-jilid demo di Monas.  Mengapa setelah digandeng Jokowi cs, kelompok #NeoNII tetap membenci? Ini semata-mata karena Jokowi dan koalisinya yang menyadari bahkan menghalangi mereka bisa bangkit dalam menghimpun kekuatan umat islam untuk melakukan revolusi menggantikan pemerintahan NKRI berdasarkan pancasila menjadi pemerintahan NKRI BERSYARIAH sebagai cikal bakal dari Kekhilafahan islam.  Ini “nyinyir” ideologis.   Beberapa isu yang dimunculkan anggota kelompok Nyinyir ideologis adalah:

  1. KH Ma’ruf Amin sangat mulia, tidak pantas dijadikan pilihan politik.
  2. Jokowi butuh suara umat islam.
  3. Pemilihan KH. Ma’rif Amin sekedar perisai untuk menutupi kedzaliman Jokowi terhadap umat islam.
  4. ……dan isu-isu lainnya yang akan terus diproduksi oleh mereka untuk membuat masyarakat pemilih Jokowi GOLPUT.

Praktek kelompok #nyinyir ideologi ini di lapangan kemudian dibagi menjadi dua:

Kelompok Nyinyir ideologis pertama:  Selain isu yang telah disebutkan di atas, akan dimunculkan juga isu HARAM-nya memilih pemimpin dalam sistem demokrasi kufur, walaupun calonnya itu Seorang Kyai, namun karena sistem yang dibangunnya adalah demokrasi, dan demokrasi sistem kufur, maka memilih Kyai pun tetap haram.  Dengan Nyinyir #ideologis seperti ini mereka berharap masyarakat banyak yang GOLPUT, sehingga pemimpin terpilih nanti tidak menggambarkan legitimasi hukum.

Kelompok Nyinyir ideologis kedua: tidak mengajak golput, namun mengajak memilih koalisi partai yang bisa mereka stir.  Namun tak mudah menyitir calon presiden sekarang!

Sudah jelas koalisi 9 Partai Jokowi sangat solid tidak bisa mereka stir, justeru sebaliknya kelompok ini bisa distir dan dibanting jika bertindak membahayakan NKRI Pancasila.  Bagi kelompok Jokowi Amin sudah sangat jelas “NKRI Pancasila adalah perjuangan para pendiri bangsa termasuk di dalamnya para ulama dari NU.  Mempertahankan NKRI dan Pancasila adalah bentuk ke-tsiqoh-an pada para ulama pendahulu”.   Maka kelompok Jokowi cs karena tidak bisa mereka stir, bahkan jika kelompok #NeoNII ini masuk pada kelompok ini, mereka akan diminta tobat untuk kembali pada Islam Nusantara.  Oleh sebab itu Jokowi cs akan menjadi lawan abadi mereka.  Labeling “pendukung penista agama” walaupun di dalamnya ada Kyai yang menginisiasi gerakan demo berjilid-jilid, tetap akan terus disematkan pada kelompok Jokowi cs untuk memenangkan pertarungan ini.

Adapun Gerindra dan Demokrat juga bukan partai yang gampang distir, sudah terbukti dari keputusan Pak Prabowo memilih Sandiaga Uno.   Demokrat dan Gerindra sebagai partai nasionalis saya yakin menjaga NKRI Pancasila.  Bagi Gerindra/Demokrat bergabungnya orang-orang kelompok #NeoNII ini ke partai mereka bisa dianggap sebagai simbiosis komensalisme.  Militansi dan kesolidan mereka bisa dimanfaatkan untuk kampanye mendulang suara.  Walaupun kampanye mereka penuh hujatan SARA dan politik identitas, namun selama keberadaan mereka menguntungkan dan tidak merugikan mengapa tidak? Toh secara pribadi  Prabowo-Gerindra dan SBY-Demokrat bukan orang atau kelompok yang mudah di-stir oleh kemauan mereka.  Ideologi Gerindra dan Demokrat jelas ‘Nasionalis Pancasila’, tinggal kekuatan keduanya untuk tetap istiqomah ditengah gempuran pihak-pihak #NeoNII.

Tadinya saya berhadap PILPRES kali ini dengan berpasangannya Jokowi dengan Ulama bisa dijalani oleh warganet dengan nyaman dan damai, namun rasanya nyamannya hanya sesaat saja.  Sehari setelah deklarasi capres-cawapres keributan mulai kembali.  Ya, sudahlah kita tutup toko aja selama PILPRES.

 

Let’s stop the radicalism!

Ketika BNPT merilis PTN terpapar radikalisme.  Rilis ini tidak diterima begitu saja oleh beberapa kampus termasuk forum rektor, juga oleh kampus seperti IPBITS, dan UNAIR.    Namun ada pula universitas yang langsung responsif diantaranya UI, UGM, UNS, UB, dan UNDIP,   ada yang bagus yaitu mengakui secara sportif bahwa memang kampusnya terpapar radikalisme diantaranya ITBWalaupun rektor menampakkan tiga sikap yang berbeda yaitu #denial, #responsif, #nrimo, harus diyakinkan bahwa setiap rektor tidak akan tinggal diam untuk terus membersihkan radikalisme di kampus-kampus PLAT MERAH ini. Kampus-kampus ini tetap jadi kampus terbaik untuk mencetak intlektual-intelektual yang berbakti pada nusa, bangsa, dan agama.

Sebagian lini masa meminta kejelasan definisi dari radikalisme itu apa? Untuk yang meminta definisi kamus oxford mendefinisikan radikalisme sebagai:

The beliefs or actions of people who advocate thorough or complete political or social reform. ‘his natural rebelliousness found an outlet in political radicalism’

artinya kurang lebih keyakinan atau tindakan seseorang yang memprovokasi perubahan sosial politik secara kaffah atau menyeluruh.  Keyakinan atau tindakan ini akan mengarah pada sebuah pemberontakan.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia radikalisme didefinisikan sebagai berikut:

Paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.

Dari dua definisikan tersebut diambil kesimpulan bahwa radikalisme itu mengacu pada “PEMIKIRAN”. Bukan sembarang pemikiran, tapi PEMIKIRAN INGIN MENGUBAH TATANAN SOSIAL POLITIK SECARA KAFFAH.  Dengan definisi bahwa radikalisme adalah keinginan mengubah tatanan politik secara kaffah maka mudah kita menentukan siapa saja dan gerakan apa saja yang selama ini menginginkan tumbangnya NKRI PANCASILA.

Sebetulnya sangat mudah mengidentifikasi pemikiran radikal itu apa cirinya: (1) Mereka yang selalu mencela pemerintahan sekarang dengan pemerintahan Thougut atau pemerintahan kufur. (2) Mereka yang menginginkan berdirinya negara islam Indonesia baik dalam bentuk jamiiah islam, immamah, khilafah, atau sultoniyah. (3) Mereka yang mencela orang-orang yang bukan golongan mereka sebagai orang kafir, munafik, atau komprador.

Apakah kampus terpapar pemikiran seperti ini? Ini adalah sedikit kisah di IPB dengan gerakkan islam transnasionalnya pada tahun 1990-an.

HTI di IPB

HT sejak datang ke Indonesia pertama kali diemban oleh mahasiswa IPB masuk secara formal melalui Badan Kerohanian Islam (BKI) dan Responsi Agama Islam pada tahun 1990 sudah menggunakan acuan Nidzamul Islam karya Syekh Taqiyuddin Annabhani (pendiri HT di Yerusalem). Dari cerita selama di BKI saya tahu bahwa pada zaman ketua BKI IPB dipegang oleh Muhammad Al Khoththoth 1985-1986,   jaringan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS LDK) dimanfaatkan untuk menebarkan pemikiran HT ke seluruh Indonesia.  IPB tidak bisa #denial atau #malu mengakui bahwa HIZBUT TAHRIR di Indonesia memang lahir, tumbuh, dan membesar karena memanfaatkan jaringan formal dan informal yang ada di IPB. Sumpah penegakkan khilafah islamiyah oleh peserta FS LDK se-Indonesia 2016 membuktikan bagaimana sebagian mahasiswa IPB menjadi ‘leader’ penegakkan khilafah islamiyah di Indonesia.  Mengakui bahwa IPB telah menjadi “kawah candridimuka” bagai pengkaderan, pertumbuhan, dan perkembangan Hizb Tahrir di Indonesia bukanlah sebuah aib.  Selanjutnya IPB bergerak, membersihkan HTI di kampus, bekerjasama dengan kepolisian dan BNPT.  Sangat disadari selama 30 tahun lebih IPB membudidayakan Hizb Tahrir di Indonesia, tentulah tidak mudah membersihkannya. Tidak mudah membersihkan debu yang sudah menebal selama hampir 30 tahun.  Perlu dukungan dan bantuan semua pihak.  Saya selalu yakin jajaran IPB akan selalu terus menerus berupaya membersihkan radikalisme yang berasal dari HTI di kampus tercinta.  Siapapun yang terpapar HTI di kampus, harus kita anggap sebagai KORBAN yang patut diselamatkan untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Ikhwanul Muslimin di IPB

Gelombang akhwat berkerudung panjang dan akhi berjengot yang suka menundukkan pandangan, mulai marak pada angkatan pada angkatan saya 1990 dan sesudahnya.  Zaman saya mereka kita sebut POKJA (Kelompok Jakarta) atau tarbiyah, karena rata-rata mereka berasal dari SMA di Jakarta atau Depok. Masuk IPB mereka sudah punya style seperti itu, sepertinya mereka sudah terkaderisasi sejak SMA.  Masuk ke IPB dengan gelombang yang cukup besar untuk mewarnai IPB.  Belakang teman-teman yang aktif di POKJA/Tarbiyah selama mahasiwa menjadi anggota dewan dari PKS.  Walau acapkali menolak dihubungkan dengan Ikhwanul Muslimin, namun dari tokoh panutan dan imam besar tak dapat di pungkiri Tarbiyah, PKS, KAMMI, dan Ikhwanul Muslimin merupakan satu bangunan (baca riset mahasiswa UIN Makasar).  Gerakan tarbiyah menjadi mendominasi di IPB setelah berhasil mengambil alih DKM Al Ghifari dengan responsi agamanya dari dominasi HTI (sekitar tahun 1993/1994).  Jika BKIM punya jaringan FS LDK yang terbentuk sejak 1985/1986.  Maka DKM Al Ghifari IPB mengutus Edi Chandra dalam inisiasi pendirian KAMMI 1998.   Ikhwanul Muslimin belum dinyatakan sebagai partai terlarang di Indonesia, namun dibeberapa negara seperti Bahrain, Mesir, Rusia, Arab Saudi, Suriah dan Uni Emirat Arab, partai ini dianggap sebagai kelompok teroris yang dilarang.

Jika radikalisme mengacu pada kelompok dakwah yang berasal dari Gerakan Transnasional model HTI atau IM, maka berapa tingkat paparannya dikalangan mahasiswa? Berdasarkan studi kasus di kelas angkatan saya yang terdiri dari 59 orang, maka yang terpapar radikalisme sebesar 44%.  Jurusan saya ini memang jurusan yang paparannya berat, pada jurusan lain jumlahnya sebetulnya lebih sedikit dari jumlah tersebut. Mengacu pada hal ini jumlah yang terpapar sebetulnya bukanlah jumlah dominan.

Walaupun jumlah tidak dominan tetap saja setiap kampus pada saat ini saya yakin sedang bekerja dalam membersihkan semua aktifitas terkait gerakan islam transnasional ini? Mengapa pembersihan giat dilakukan? Ini karena mereka yang terpapar radikalisme baik dari HTI maupun IM umumnya selalu kontraproduktif terhadap kebijakan pemerintah, siapapun pemerintahannya bukan hanya Jokowi, termasuk kepada SBY dulu,  Kita masih ingat betapa bapak SBY dibuat pusing oleh koalisi PKS yang selalu menentang kebijakkan SBY, partai tergabung pemerintah rasa oposisi. Apalagi sekarang oposisi terhadap pemerintah, makin menjadi-jadi.  Jika kita masuk pada gerakan transnasional seperti ini, selain memperkuat ibadah mahdoh, otak kita dicuci untuk melakukan “tebar opini” mengkondisikan Indonesia dalam perang pemikiran.  Lisan dan tulisan dianggap sebagai jihad yang lebih tajam daripada pedang. Jihad pemikiran untuk memutuskan kepercayaan umat kepada pemerintahan saat ini, untuk kemudian umat menyerahkan kepercayaan kepada gerakan transnasional ini, pada saat itulah mereka akan mengubah ideologi NKRI Pancasila.  Tahap Tafa’ul atau tahap Gozwul Fikr/ideologi ini mengakibatkan polemik dan keresahan secara ideologi di masyarakat.  Pemerintah akan disibukkan dengan agenda mengatasi perang pemikiran ini.  Akibatnya Indonesia tidak bisa #moveON bergerak menjadi negara maju.  Kita banyak disibukkan untuk mengcounter dan menyelesaikan permasalahan akibat perang ideologi.  Padahal permasalahan ideologi itu sudah selesai! SUDAH SELESAI PADA SAAT PARA ULAMA INDONESIA DAN KOMPONEN BANGSA LAINNYA MEN-SAH-KAN PANCASILA DAN UUD 1945 SEBAGAI DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA.  Seharusnya kita bergerak maju, membangun bangsa, mengejar ketertinggalan dari bangsa lain, sehingga bisa memposisikan diri sejajar sebagai bangsa besar di dunia. Bukan kembali lagi ke-era sebelum 1945.

Bayangkan energi yang besar dari lulusan PTN hebat itu jika menjadi duta bangsa, pengembang iptek, penjaga moral bangsa….potensinya begitu besar! Sayang potensi besar dari lulusan terbaik PTN di negeri ini, jika terperosok pada aliran #gantiIdeologi akan menjadi penantang paling lantang terhadap segala kebijakan pemerintahan, tidak pandang bulu…jika kebijakkan itu sebuah kebaikan, maka akan senantiasa dicari sela-sela keburukannya, agar punya amunisi untuk memutuskan kepercayaan umat terhadap pemerintah yang berkuasa.  Apakah “memutuskan kepercayaan umat terhadap pemerintahan yang berkuasa di Indonesia” menjadi sasaran dari PTN di Indonesia?  Tentu saja bukan.  PTN punya VISI mulia untuk turun menjaga NKRI dan Keberlanjutan Pembangunan di NKRI, maka penting untuk selalu melakukan upaya-upaya untuk membersihkan, mencegah, dan menangkalnya.  Bagaimana cara kita turut membantu menghentikan radikalisme?

  1. Stop jadi “vocal minority”  yang selalu membela eksistensi #radikalismeKampus, hanya  karena isu ini menguntungkan secara politik.
  2. Komponen alumni  PTN dan masyarakat sebagai “sillent majority” harus kencang dalam bersuara Religius Yes! NKRI Pancasila Yes! Radikal No!
  3. Diskusi keluarga harus terus dihidupkan, berdasarkan pengalaman saya selama tahun 1991-1995, teman-teman sekelas  yang tidak kos atau bermukim bersama orang tuanya, tidak ada yang terpapar radikalisme (tingkat paparan 0%).
  4. Mahasiswa yang kos dengan pengetahuan agama minim, yang jauh dari orang tua yang terkena paparan radikalisme. Mahasiswa kos namun yang berlatar belakang santri NU, atau orang tuanya berlatar belakang NU atau Muhammadiyah, mereka pun tidak ada yang terpapar radikalisme.  Hal ini karena mereka memiliki dasar keagamaan yang kuat. Orang tua yang memiliki anak kos, harus sering melakukan pengecekan dan nasehat atau peringatan “Awas, jangan sampai terbawa-bawa aliran-aliran radikal, jauhi pengajian-pengajian politik yang menjelek-jelekkan pemerintahan dan pancasila. Ingat NKRI dan pancasila ini juga perjuangan para Ulama yang lebih tahu agama ketimbang kita!” Peringatan seperti ini terus menerus diulang-ulang setiap orang tua menengok dan menelepon, umumnya peringatan seperti ini ampuh pada anak-anak kita yang mahasiswa.
  5. Bagaimana dengan mahasiswa yang sudah terlanjur terpapar radikalisme? Perlu dilakukan ‘CAMP’ untuk mencuci kembali otak mereka.  Dan membuat perjanjian untuk tidak terlibat dan memutuskan hubungan dengan jaringan gerakkan radikalisme.  Jika masih bersikukuh terlibat dalam jaringan radikalisme, tindakan tegas bisa saja diterapkan para rektor. Ini semua tentu untuk menyelamatkan masa depan para mahasiswa tersebut. Pun jika dia anak kita, maka mengobrol mendalam dengan si anak, jika kita kurang pengetahuan tentang hal ini bisa dibawa ke beberapa ulama atau memasukkan mereka ke ‘pesantren NU’.

Para rektor di PTN, saat ini terus melakukan pembersihan ‘radikalisme di lingkungan kampus’.  Dosen ASD/PNS merupakan komponen yg perlu juga dibersihkan.  Beberapa dosen plat merah terpapar radikalisme sejak mahasiswa, mereka adalah kader potensial bagi gerakkan dakwah transnasional, bahkan diantara mereka masuk dalam jajaran pengurus gerakkan dakwah tersebut.  Apa yg mereka lakukan sebetulnya sudah melanggar SUMPAH PNS pada saat awal mereka ttd ketika lolos dari CPNS menjadi PNS. Tidak hanya rektor yg ditekan tapi kemenristek dan kemenag serta BKN dapat memanggil dosen2 tsb minta mereka komitmen “keluar dari PNS karena tetap menjadi simpatisan bahkan partisan gerakkan dakwah transnasional, atau tetap dari PNS stop jadi simpatisan dan partisipan gerakkan dakwah transnasional” tindakkan tegas ini perlu dilakukan pemerintah karena gerakkan dakwah transnasional ini ibarat kanker dalam NKRI.  Apalagi posisi sebagai dosen yg punya akses besar dalam rekuitmen kader dan simpatisan di kalangan mahasiswa.  TEGAS ITU HARUS!

Orang tua juga memperkuat deradikalisme di rumah.  Deradikalisme ini bukan hanya tugas rektor, polisi, dan BNPT tetapi juga tugas kita selaku orang tua anak-anak kita.  RELIGIUS YES! NKRI PANCASILA YES! RADIKAL NO!

Let’s Think! Part II

Tulisan ini adalah lanjutan tulisan sebelumnya, cuma ingin mengajak berfikir menggunakan nalar, jangan menggunakan rasa.  Karena acapkali RASA tidak sesuai FAKTA.  Semoga saja bermanfaat bagi yang mau tercerahkan….

Selamat membaca, mohon maaf bacaannya memang berat!

Lanjutan tahap Tafa’ul

Gozwul fikri adalah kata sakti yang dihembuskan untuk mempersiapkan masyarakat masuk ke tahap tafa’ul (berinteraksi dengan umat).  Senjata yang dihembuskan dalam medan perang pemikiran ini adalah “pemerintah anti islam” “pemerintah anti dakwah islam” “pemerintah dzalim” “pemerintah thogut” “pemerintah kufur“.  Pada tahap ini selain interaksi dengan masyarakat melalui penyebaran jargon-jargon yang membuat masyarakat tidak percaya pada pemerintah yang berkuasa, juga dilakukan interaksi dengan pemimpin di pemerintahan dan ABRI serta public figure atau tokoh masyarakat.  Tujuan interaksi dengan pemuka di pemerintahan, ABRI, dan masyarakat adalah untuk mencari bantuan dan mempercepat proses pengambilalihan kekuasaan.  Maka pada tahap ini, jika inflitrasi ini berhasil kita akan melihat pemuka dan tokoh di pemerintahan, ABRI, dan masyarakat mereka melakukan konter dan konfrontasi dengan pemerintahan sah.   Presiden v.s Panglima ABRi v.s Kapolri v.s Ketua DPR v.s ….dst.  Nah, pada tahap ini gerakan revolusioner ini juga  melakukan playing victim, contohnya mereka menyebutkan PEMERINTAH MELAKUKAN ADU DOMBA TERHADAP RAKYAT, manakala pemerintah sah melakukan pembersihan terhadap gerakan revolusioner ini.  Padahal sebuah pemerintahan sah akan tetap berdiri dan membangun rakyat serta melaksanakan programnya untuk kesejahteraan rakyat. Dan tugas pemerintah memberantas ancaman terhadap ideologi negara.

Tahap II.  Tatbiq

Tatbiq adalah berdirinya sistem islam atau terambilnya kursi presiden ke tangan golongan mereka.  Apa yang dilakukan ketika keberhasilan ini terjadi? Contoh kasus adalah Mesir saat keberhasilan IM memimpin dan Turki dengan keberhasilan PAS-nya sekarang.  Apa yang mereka lakukan adalah memecat para pejabat bahkan kelompok dakwah lain yang tidak seide, memenjarakannya, dan memberikan label TERORIS hanya karena mereka-mereka yang tidak se-ide.

Apakah kelompok ini berbahaya?

Bahaya atau tidak bukan itu pokoknya, namun bayangan saya, “Jika kelompok transnasional berkuasa di Indonesia, saya membayangkan yang akan mereka lumatkan adalah NU, Muhammadiyah, PDIP, NASDEM,….  Lalu budaya? Mungkin berbagai gelaran tari tradisional, juga festival jazz, rock, … akan hilang musnah diganti dengan gelaran nasyid dan kesenian arab lainnya.  Kita tidak akan mendapati para wanita yang bebas berekspresi, para wanita akan dikurung di rumah-rumah dan wilayah harom.  Bahkan boleh jadi para wanita yang sekarang bekerja di berbagai instansi akan dipensiunkan dini. Gerakkan islam yg beredar di Indonesia dibawa dari Mesir, Arab, Yordan….umumnya punya kesamaan yaitu membatasi ruang gerak wanita di sektor publik dan tidak menerima PERBEDAAN. Sekarang tinggal kita pikirakan, apakah kita setuju dg “ARABISASI? Menciptakan kultur seperti di timur tengah? Baju tak lagi boleh bercorak batik, harus berwarna kelam….budaya jaipong, ketuk tilu, suling, gamelan, angklung….mungkin akan dilarang. Dan blog, facebook, twitter, serta media sosial atau media kontra dg khilafah yg telah berdiri akan diberangus sampai ke akar2nya. Siapa saja yg menentang khilafah berdiri dikatagorikan budghot dan siapkan saja untuk dipancung. Biasanya org membayangkan yg enak2 ketika hidup dalam kekhilafahan islam, membayangkan gampangnya saja, tidak pernah membayang konsekuensi dari wahabisme ini apa? Apakah mereka yg sudah bergabung ke ISIS memperoleh “gemah ripah roh jinawi”?? So, let’s think it! Bayangkan sekarang aja tingkah para pejuangan gerakkan wahabisme melakukan persekusi hebat pada mereka yang tidak seide. Padahal mereka masih berada di negara pancasila. Bayangkan kalau daulah khilafah itu berdiri, hal yang lebih sadis bisa dilakukan bagi mereka yg tidak seide. Mau dibangun negara yg seperti itu? Negara penuh ancaman yg menakutkan jiwa?

Kurang apa Indonesia sekarang? Kita diberi kebebasan menjalankan ibadah dan syariat islam bahkan difasilitasi. Jika pun ideologi yg dipilih adalah pancasila bukan syariat islam, ini karena kesepakatan bersama termasuk para ulama yang mewakili umat islam saat itu. Jika kita berteriak-teriak #belaUlama tentulah kita pun harus membela perjuangan yg telah dilakukan para ulama pada tahun 1945. Yg perlu kita lakukan saat ini adalah menikmati kemerdekaan dan mengisinya dengan kerja dan prestasi, tidak perlu lagi membuat gerakan-gerakan revolusi apalagi mengatasnamakan islam. So, let’s think and keep the right side!

Let’s think! Keep the right side!

Pemerintah dzalim, pemerintah pemecah belah umat, .pemerintah mengadudomba umat islam….ungkapan itu sering kita dengar bukan?

Saya mah orangnya gitu, selalu mencari dibalik segala sesuatu itu apa makna tersembunyinya. Gak gampang nelen bulat-bulat segala yang berkecamuk di alam maya. Ya, semoga bermanfaat saja tulisan yang agak berat ini. Sorry-sorry bagi yg tak sependapat, tapi thank you kalau baca sampai selesai.

Bagi yg malang melintang dalam gerakan menjatuhkan pemerintah sah baik gerakan islam maupun gerakan berpaham lainnya, tentu sangat paham apa maksud dan makna tersebut. Dalam dakwah gerakan tahapan gerakkan menggulingkan pemerintah sah melalui jalan umat mengharuskan mereka untuk berperang pemikiran dg umat. Gozwul fiqri dalam pengajian merupakan topik bahasan yg utama dibahas dalam rangka mempersiapkan umat ketika tahap ini digulirkan. Tahap dakwah gerakan islam mengenal tiga tahapan yaitu tasqif, tafaul, tathbiq atau pembinaan, berinteraksi dengan umat, penerapan hukum islam… ada juga yg tahapannya individu (idza bi nafsi), keluarga, masyarakat, negara.

Tahap tasqif atau individu/keluarga merupakan tahap pembinaan, tahap ini dinamakan tahap silent and secretly – tersembunyi dan rahasia tujuannya memperbanyak anggota dan sel-sel baru, umumnya dilakukan dalam bentuk diskusi berupa kelompok kecil yang dilakukan seminggu sekali atau disebut dengan halaqoh/liqo. Pada tahap ini belum terlihat pergolakan ditengah-tengah masyarakat, ide-ide hanya masif dalam kelompok mereka. Banyak gerakan politik islam melakukan tahap ini pada tahun 80-90 an. Mereka yang lahir pada tahun 60-an dan 70-an adalah org2 yang terimbas politik islam ini. Pada tahapan ini dilakukan brainstroming, menggantikan pemikiran yg sebelumnya tertananam, mereka muncul dengan sosok-sosok baru yg militan terhadap ide yg mereka peroleh. Bahkan extrim berprinsip “IDE DILUAR YANG MEREKA KAJI ADALAH KUFUR, PRAKTEK DILUAR YANG MEREKA KAJI ADALAH BID’AH, PEMERINTAH YANG MENAUNGI ADALAH THOGUT DAN KUFUR”. Sosok-sosok ini biasanya mudah dikenali ditengah masyarakat karena menggunakan simbolisme khas dalam berpakaian dan berdandan. Pada tahap ini dimunculkan pribadi-pribadi petarung BERMENTAL BAJA yg siap menjadi martir untuk memulai perang yang mereka sebut sebagai perang pemikiran.

Tahap tafa’ul atau masyarakat menuju negara merupakan tahap memperkenalkan ide masif penerapan islam ketengah-tengah umat. Bila jalur politik yg diambil mereka akan mendaftar sebagai partai politik peserta pemilu atau bisa juga tidak namun benturan ide akan terasa di masyarakat. Untuk menarik simpati umat pencitraan bersih, jujur, profesional terus dibungkus agar umat simpati, jargon-jargon terus dikumandangkan untuk menarik simpati umat dan jargon-jargon, “Khilafah, Kaffah, Syari’, Addien, .… sejalan dengan jargon islami muncul juga jargon cacian seperti pemerintah thogut, Demokrasi Kufur, … tahap ini merupakan kancah perang yg sengaja diciptakan sengaja di-skenario-kan, memang sengaja mereka membuat gejolak ditengah masyarakat dengan cara mengugat pemerintah sah. “APAPUN YG DILAKUKAN PEMERINTAH HARUS TERUS DICARI PELUANG SALAHNYA, contohnya perkara Freeport…. pada pemerintahan sebelumnya mereka berkoar-koar penguasaan asing atas freeport adalah salah, harusnya dimiliki umat. Sekarang ketika pemerintah Jokowi berusaha meraih 51% saham dan mereformulasi kontrak karya, merekapun berteriak penuh prasangka lepas dari asing diberikan pada aseng. Mereka sangat menyadari bahwa tahap tafa’ul tidak akan berhasil jika masyarakat tidak bergejolak, jika masyarakat rukun dan adem, jika masyarakat merasa puas dengan kinerja pemerintahan yg ada, oleh sebab itu mereka ditugaskan menyebarkan opini ditengah masyarakat agar masyarat bergejolak, masyarakat TIDAK PERCAYA PADA PEMERINTAH. Pada tahap yg mereka sebut sebagai gozwul fikri mereka bertugas Memutuskan kepercayaan umat pada pemerintahan sah.

 

nah, sampai disini dulu terjawab sudah mengapa ada ungkapan pemerintah dzalim, tukang adu domba, pemerintah kufur….pemerintah pendukung LGBT (pahadal uu mana yg bolehkan LGBT di Indonesia?), lalu apa tujuan isue itu dilemparkan dan ditujukan pada pemerintah sah?

To be continue

Denpasar, 26 Des 2017

Cukup Tahu! Be carefull!

Fenomena yang terjadi di indonesia saat ini sebetulnya bukan fenomena baru. Pada tahun 1950-1970 an kakek nenek kita pernah merasakan hal yang sama. Di wilayah tertentu seperti Garut misalnya pertarungan antara DII/TII dan pemerintah sah mengorbankan rakyat saat itu. Kalau tidak ada NAHDATUL ULAMA saat itu, saya tak yakin NKRI masih berdiri sampai saat ini. Fenomena terulang kembali saat ini, beberapa komponen partai, ormas, dan komunitas rindu penegakan syariah islam kembali menampakan diri ke permukaan. Sejak tahun 1970-an sampai 1998 mereka dorman, keran reformasi memberi celah untuk angun bahkan membesar, puncak kebangkitan itu adalah 212. Persatuan sebagian umat islam ini telah berhasil meluluh lantakan seorang Ahok, menyeretnya dalam penjara, dan membungkam kemenagannya. Keberhasilan ini tentu membawa angin segar untuk mengoalkan agenda-agenda lain atas nama umat islam di masa depan. Tulisan ini hanyalah sebuah opini saja. Terima kasih sudah sudi membacanya, walau kepanjangan bacaannya.

Efek dari 212 adalah lahirnya PERPU yang kemudian menjadi UU, selain penangkapan inovator 411 dan 212. UU ORMAS ini menjadi tongkat pemukul bagi HTI. Peran opini HTI dalam pilkada Jakarta memang nyata, dimulai dari demo 49 tolak pemimpin kafir di patung kuda (see arsip: https://m.youtube.com/watch?v=O5RC6TDfBCQ Hastag “Tolak pemimpin kafir'” menjadi opini andalan saat itu. Opini #TOLAKPEMIMPINKAFIR telah membuat Ahok pada 279 di kepulauan seribu berpidato “Bapak ibu tak usah khawatir, ini pemilihan kan dimajuin jadi kalau saya tidak terpilih pun..ini bapak ibu tak usah khawatir  nanti programnya bubar, tidak saya  berhentinya sampai oktober 2017, jadi kalau program ini dijalankan pun bapak ibu masih sempat panen sama saya.  Jadi saya ingin bapak ibu semangat, jangan nanti ganti gubernur programnya bubar. Enggak saya sampai Oktober 2017.  Jadi jangan percaya sama orang, bisa saja dalam hati kecil bapak ibu gak bisa pilih saya.  Iyakan dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macam-macam itu.  Itu hak Bapak Ibu, jadi kalau bapak ibu perasaan gak bisa pilih saya takut masuk neraka dibodohin gitu gak apa-apa tergantung pribadi bapak ibu, program ini jalan saja.  Jadi bapak ibu gak usah merasa gak enak dalam nuraninya gak bisa pilih Ahok, gak suka sama Ahok, programnya udah terima gak enak dong gue punya hutang budi, jangan nanti gak enak mati pelan-pelan kena stroke…..”. Pidato Ahok ini menjadi landasan opini berikutnya yaitu #TolakPenistaAgama, Aksi berjilid-jilid pun muncul 411 lalu 212 dg #Tolakpemimpinkafir #tolakPenistaAgama akibat dari masifnya opini umum di mayarakat tidak hanya perang ayat tetapi juga perang mayat serta persekusi. Perang pemikiran berwujud pada aksi dan hukum rimba di masyarakat, opini masyarakat pun terbelah, yang tidak setuju terancam di-bully lewat komentar medsos atau viral medsos atau di-persekusi. HTI sendiri sebetulnya tidak punya kepentingan pada pilkada DKI, karena HTI menolak sistem demokrasi. Sistem demokrasi yg diterapkan termasuk di Indonesia dikatagorikan HTI sebagai sistem kufur. Jika HTI menganggap sistem indonesia kufur, harusnya tak hirau jika pemimpinnya pun kafir, masa muslim mau pimpin sistem kufur? Tapi mengapa HTI di DKI mengambil peran dalam #tolakPemimpinKafir dan para anggota HTI pun GOLPUT dalam pilkada DKI? Memanfaatkan “syuur umat” menguatkan citra hizb. Walaupun aksi 411 dan 212 digerakkan oleh GNFMUI dan FUI, namun peran HTI all out, kadernya dikerahkan sehingga tampak bendera ar rayyah khas HTI mendominasi. Syuur umat islam yg bersatu menjadi target dalam aksi ini. After aksi kajian subuh dan tawaran halaqoh bagi peserta aksi 212 dilakukan untuk menjaga spirit perjuangan islam, after aksi 212 agenda selanjunya adalah “mengelola gerakan syuur menjadi gerakkan pemikiran”. Sangat disadari oleh para TIM THANK GERAKAN ISLAM bahwa 212 adalah gerakan perasaan/syuur semata, org berkumpul karena perasaan yang sama yaitu “tidak setuju terhadap AHOK”. Namun latar belakang org datang pun berbeda-beda yaitu ada yg murni menolak penistaan alquran, ada yg datang krn gubernur pilihannya yang kebetulan muslim ingin menang, dan ada juga agenda DKI BERSYARIAH titik tolak bagi NKRI BERSYARIAH termasuk khilafah. Walaupun umat islam bersatu, namun Ketidaksamaan pemikiran ini akan menjadi batu sandungan bagi agenda jangka panjang yaitu #PILKADA-PILPRES #NKRIBERSYARIAH dan #khilafah. Subuh berjamaah dan halaqoh atau liqo mingguan digunakan sebagai sarana untuk menyatukan pemikiran, selanjutnya reuni dan kumpul2 tetap dijaga untuk menjaga syuur umat, syuur persatuan. Apa yg diharapkan? Terbentuk opini umum. Opini umum apa yang ingin dimajukan 1) pemerintah sekarang adalah pemerintah dzalim atau kufur 2) perlu ganti sistem pemerintahan yg ada bisa diawali dengan mengganti pemimpin pemerintahan yg pro pada agenda mereka. 3) opini 1 dan 2 terus digoreng melalui halaqoh/liqo, opini media, dan opini saat kumpul2 reuni tujuannya untuk menggerakkan massa menuntut revolusi yaitu mengganti sistem pemerintahan, bisa jadi dg terlebih dulu mengganti presiden.

Tim thank 212 kader-kader komunitas, ormas, dan partai yg punya cita-cita menegakan syariah islam di indonesia. Penegakkan syariah islam melalui jalur kekuasaan, direbut melalui jalan umat. Dari bendera yg dibawa tampak bahwa barisan 212 adalah 1) PKS yg punya misi menegakkan syariat islam melalui jalur parlemen dan pilkada, menggunakan isu SARA untuk memenangkan setiap pilkada. Reuni 212 sangat bermanfaat untuk mendukung kemenangan calon yg diusungnya dalam pilkada bahkan mungkin pilpres. 2) FUI FPI punya misi menegakkan NKRI BERSYARIAH, rangkaian demo 411 212 berhasil melambungkan ketokohan HRS, rencana ini sebenarnya sudah lama digagas, sejak 2013 HRS telah dinobatkan sebagai presiden NKRI bersyariah. Flyer dan undangan demo juga reuni demo pada bagian bawah santiasa ada logo #NKRIBERSYARIAH. 3) HTI sebetulnya punya tujuan dan metode yg beda dengan PKS dan FUI dalam mewujudkan khilafah islamiyah, namun ada ‘moment bersatunya umat’ karena distimulus perasaan yang sama yaitu benci Ahok, baik benci karena mau jadi gubenur maupun benci karena menukil al maidah serta benci kafir. Moment ini tak dibiarkan berlalu namum dimanfaatkan untuk turut meraih simpati umat dan meneguhkan ketokohan HTI dikalangan umat.

Semua itu agenda politik berbalut agama? Ya! Jelas ada agenda meraih kekuasaan dalam agenda-agenda yg digulirkan, bukan sekedar agenda ibadah mahdoh. Agenda 212 dan reuni mengandung agenda politik kekuasaan dan ideologi dapat dibaca dari halaman ini: Al Kaffah, khotimah dari bulletin tersebut adalah

Alhasil, sudah seharusnya umat Islam, termasuk para “Alumni 212”, memiliki visi dan misi politik Islam yang jelas dan tegas. Dengan begitu mereka bukan sekadar rajin melakukan aksi “kerumunan massa”. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana mereka terus melakukan gerakan politik Islam. Targetnya tentu bukan sekadar agar kaum Muslim bisa meraih kekuasaan. Yang lebih penting adalah agar Islam benar-benar berkuasa hingga negeri ini sungguh-sungguh bisa diatur dengan syariah Islam secara kâffah dalam institusi Khilafah ‘alâ minhâj an-nubuwwah. Tentu tak ada artinya kaum Muslim berhasil duduk di tampuk kekuasaan, sementara syariah Islam tetap dicampakkan, dan yang diterapkan serta tetap berkuasa adalah sistem sekular seperti sekarang ini. (SUMBER BULLETIN DAKWAH KAFFAH 018: umat, persatuan, dan politik, 8 Desember 2017

Lalu bagaimana posisi kita?

Jika pakai analogi, maka tim thank 212 beserta kader2 dan simpatisan yg sudah di liqo atau halaqoh mingguan atau dibina lewat sekolah/madrasah/pesantren mereka adalah para penikmat kue. Umat islam dan warga indonesia yg dibina dg kurikulum nasionalis atau pengajian salawatan adalah KUE SEDAP. Pemerintahan RI adalah pembuat kue sedap sekaligus penikmat kue. Maka saat ini posisi kita yg tidak tergabung dlm halaqoh atau liqo atau komunitas pengajian yg mendukung agenda 212 laksana kue yg sedang diperebutkan.

Apa yg akan terjadi masa depan?

Diantara para penikmat kue siapa yg akan dapat bagian lebih besar? Kue sedap yg akan disantap ternyata bukan benda tapi kue hidup yg punya rasa dan pikiran, kue-kue itu tidak bisa disantap para penikmat begitu saja, kue2 itu justeru yg akan memilih siapa penyantapnya. Masa depan sangat tergantung pada kue sedap, akan pilih siapa? Namun tim thank212 dg basis liqo/halaqoh dan pembinaan melalui sekolah/madrasah/pesantren boleh jadi meningkat tidak sekedar penikmat namun jadi pembuat kue juga. Jika ini terjadi akan ada dua pembuat kue yang bertarung masing2 pembuat akan menikmati kue masing-masing, perang tidak lagi pake ayat atau mayat tetapi perang memperebutkan lahan baik lahan produksi maupun lahan untuk pemasaran. Jika tim thank 212 sudah mampu menjadi pembuat kue, tentu butuh rumah produksi dan toko untuk memasarkan bukan? Jadi perlu lahan. Sementara selama ini semua lahan milik pemerintah, maka pilihannya membeli, bagaimana jika pemerintah tak jual lahan? Akankah Merebut andai pemerintah tak sediakan lahanya?

#refleksi bagi kita

Selayaknya kita berkaca pada Suriah, Dasmaskus kota peradaban yang indah luluh lantak karena perang antara muslim dengan muslim memperebutkan LAHAN DAN KEKUASAAN. Indonesia akan seperti itu jika berdiam diri terhadap syahwat kekuasaan. Betul, mereka dasarnya memperjuangkan islam bahkan syariat islam, namun apakah Nabi Muhammad saw mengajarkan pada kita KHIANAT TERHADAP JANJI? Pada tahun 1945 perwakilan umat islam yang diwakili oleh Ulama dari NU, MUHAMMADIYAH, dan MASYUMI mencapai kesepakatan bersama menata negeri ini dengan PANCASILA dan UUD45. Jika masih percaya pada para ulama dan menghargai mereka, selayaknya kita menghormati hasil musyawarah 1945, jika kita berteriak-teriak bela ulama, maka seyogyanya kita sadari tahun 1945 para ulama indonesia berjuang dan berdebat sengit sampai memperoleh mufakat tidak pakai Piagam Jakarta sebagai dasar negara dan UUD45 pun melepaskan beberapa kata islam. Ulama saat itu lebih menutamakan “persatuan indonesia daripada ambisi politik islam”. Apakah kita rela menghianati perjuangan mereka para ulama terdahulu? Ingat KOMITMEN TERHADAP JANJI ADALAH AKHLAK SEORANG MUSLIM.

Wallohualambisawab

Salam Dua Jari! SALAM DAMAI!

21764960_10212345157257657_5969800519486831942_n

Salam ini bukan untuk dukung PILPRES atau PILKADA, inilah adalah salam universal, SALAM PERDAMAIAN.

Let’s Talk abaout Japan 70 years ago!

Jepang 70 tahun lalu, menghadapi kondisi yang sama dengan Indonesia saat ini.  Film Oshin yg mengambil setting 1912-1950 menggambarkan dengan apik masa-masa suram Jepang. Masa itu anak-anak kecil terpaksa membantu ekonomi keluarga dg menjadi pembantu rumah tangga. Dalam film Oshin tersebut tahun 1912 Oshin yang baru berumur 7 tahun karena kemiskinan harus dijual untuk bekerja ke Saudagar kaya.  Dan 30 tahun kemudian tahun 1942, masa perang dunia II Hatsuko pun mengalami hal yang sama, keluarganya dari Yamagata harus menjualnya ke Tokyo untuk dijadikan pembantu di rumah Bordil, mungkin setelah dia remaja akan menjadi pelayan di rumah ini.  Setelah 30 tahun Jepang tidak lebih baik.  Masa-masa itu adalah masa suram bagi Jepang.  Ekonomi saat itu sangat sulit, kesenjangan antara kaya dan miskin pun lebar menganggga. Makanan serba dijatah bagi rakyat kecil, ekomoni pun tak tumbuh dengan bagus.  Melihat film Oshin akan mengenang masa sulit Jepang.  Itulah Jepang 70 tahun lalu. Persis sama dengan Indonesia saat ini.

Setelah perang dunia II dan kekalahannya dari Komplotan Sekutu AS, membuat Jepang me-rethinking misi masyarakatnya. Jepang selama era Perang Dunia menyuburkan mental patriotisme ala samurai yang kemana-mana DOYAN PERANG dan MERASA UNGGUL SENDIRI dengan semboyan-semboyan kesombongannya NIPON CAHAYA ASIA. Setelah kekalahan perang, Jepang menyadari bahwa PERANG HANYA MEMBAWA KESENGSARAAN. Tragedi perang dg segala kerugiannya menjadi pelajaran berharga bagi petinggi dan masyarakat Jepang. Oleh karena itu Jepang mengubah masyarakatnya menjadi mental cinta damai, atas dasar CINTA DAMAI JEPANG MEMBANGUN NEGERINYA KINI.  Bagaimana cara membangun masyarakat cinta damai? Jepang melakukannya dengan cara “MENCABUT RASA EGO PALING BENAR PALING HEBAT PALING UNGGUL dari benak masyarakat mengubahnya menjadi TOLERANSI, WIN WIN SOLUTION, KERJASAMA, MEMIKIRKAN PERASAAN ORANG LAIN

And Let’s Go Back to Indonesia!

70 tahun lebih kita merdeka. Perang fisik dg penjajah berakhir sudah, namun perang ideologi berlanjut terus, sampai tahun 1960-an kita sibuk mengatasi PKI (Partai Komunis Indonesia) dan NII (Negara Islam Indonesia).  Tahun 1970-an PKI benar-benar digebuk habis, menyisakan trauma bagi para pengembannya.  Kini PKI sulit berkembang di Indonesia, dan Komunis dunia pun telah hancur.   Bukan berarti Indonesia telah aman dari perang Ideologi, masih ada NEO NII yang terus berkumandang melancarkan PERANG PEMIKIRAN. Masyarakat Indonesia dikondisikan berada dalam kecamuk PERANG PEMIKIRAN atau diistilahkan dengan Gozwul Fikr. Kini kita melihat para anak muda yang ter-shibgoh NEO NII dengan penuh angkara murka memainkan jari jemarinya di media online menyebarkan opini bahkan hoax yg merusak jiwa-jiwa yg cinta damai yang sedang bekerja membangun bangsa Indonesia. Akhirnya energy bangsa habis terkuras meladeni perang ideologi atau perang pemikiran ini. Uniknya acapkali gerakan NEO NII ini menumpang dan didukung barisan sakit hati kalah PEMILU atau menumpang pada PILKADA.  Jika negara tidak bisa di-NII-kan, maka minimalnya Daerah bisa bersyariah, mungkin itu targetnya.

Masyarakat Indonesia kini dikondisikan dalam sebuah PERANG PEMIKIRAN. Jika perang terus apapun namanya mau perang revolusi, perang senjata, bahkan perang pemikiran; maka pertanyaannya KAPAN MAU MENATA INDONESIA? Apapun perangnya termasuk perang pemikiran sekalipun adalah PENGHAMBAT KEMAJUAN.

Disinilah kita harus sadar.  Mari keluar dari medan perang, ciptakan Indonesia yg tentram dg tangan, lisan, dan karya kita!

INGAT!!! INDONESIA dg NKRI PANCASILA adalah kesepakatan bersama semua perwakilan bangsa Indonesia termasuk didalamnya para ulama dari NU Muhammadiyah Sarekat Islam (baca WIKIPEDIA &  TIRTO). Sebuah kesepakatan hasil musyawarah bersama, jika kita tetap egois ingin mendirikan NII, maka betapa EGOIS-nya kita.  Jadi, mari kita bangun Indonesia yg sudah disepakati bersama. Hilangkan EGO, STOP PERANG PEMIKIRAN yang selalu kalian terbarkan pada kaum muslim.  Ayo bersama-sama bangun Indonesia. Indonesia adalah rumah kita bersama, jika ada dari pemerintah yang masih kurang maka jangan mudah PROVOKASI menyatakan PEMERINTAH KAFIR PEMERINTAH DZALIM PEMERINTAH KOMUNIS! Kapitalisme memang mengurita dunia saat ini, namun tetap ada celah untuk membantu keluar dari kapitalisme global sehingga kesenjangan kesejahteraan antara masyarakat tidak terlalu menjulang.  Selalu ada dengan cara yang arif berorientasi “Kesejahteraan Rakyat” yang bisa kita bangun bersama dalam upaya meringankan beban pemerintah. So, Yuk, kita buat Indonesia Bagus! Utamakan PERDAMAIAN DARIPADA PERANG! SALAM DUA JARI! SALAM PERDAMAIAN!

Menggoyang rakyat, lalu menggoyang TNI

Saya warga negara bisa,

Tapi saya punya pengalaman hidup yang lumayan kompleks.  Ayah saya sebagai TNI yang ditugaskan menjalankan fungsi dwi fungsi ABRI dalam level tatanan pemerintahan terendah di Masyarakat.  Sejak kecil saya terbiasa melihat ayah saya meng”handle” para begundal dan preman, pun termasuk kerjasama dengan beberapa ulama NU dan PERSIS di wilayah untuk membina masyarakat di daerahnya.  Maka jangan heran jika, kriminalisasi yang asalnya sangat parah kemudian bisa berkurang, pun pengajian-pengajian menjadi subur dan tambah subur ketika seorang Kyai NU terkenal datang ke kampung.

Lalu saya masuk ke IPB berkenalan dg berbagai gerakan transnasional dari mulai ingin mendirikan kampung islam, negara islam di Indonesia sampai mendirikan khilafah.  Siapapun anak IPB langsung atau tak langsung pernah berhubungan dg gerakan transnasional.  Pada saat di gerakan ini kemudian saya mengenal “Talbun Nasroh” meminta pertolongan, salah satunya minta pertolongan pada ABRI.  Saya pernah duskusi dg alm. Bpk terkait hal ini, lalu bapak bilang, “awas bahaya, ngaji politik! ABRI punya mekanisme, tergantung pimpinan, tapi ABRI pernah punya riwayat kelam, ketika jaman PKI, TNI AU dianggap mem-back up PKI, TNI AD vs TNI AU diadu domba”

Gerakan transnasional ada dua jenis, jenis pertama justeru menjauhi ABRI.  Loe anak ABRI, loe gak akan punya tempat di pengajian ini, tujuan mereka adalah mendirikan NII, dengan cara apapun dengan masuk menjadi partai resmi atau lewat jalur tarbiyah, tapi mereka tetap satu dalam hal “anti ABRI dan POLRI”.   Jenis kedua, justeru memanfaatkan anak dan keluarga ABRI/POLRI untuk melindungi gerakan mereka.

Bagaimana cara mendekati ABRI/polri? Jika kontak secara langsung, yaitu gerakkan ini membuka dialog pada ABRI aktif, menyentuh perasaan kemuslimannya, selanjutnya mereka memasukkan isme2 gerakkan, sampai akhirnya anggota ABRI terutama para perwiranya menyetujui gerakkan mereka, dan berada dipihak mereka.  Ketika gesekkan antara gerakkan tersebut dengan pemerintah sah, maka mereka bisa berlindung pada para perwira ABRI/POLRI yg berada pada pihak mereka.

Namun, mendekati ABRI/POLRI tentu tak mudah.  Mengapa? ABRI/POLRI mempunyai tujuan yg jelas, mempertahankan NKRI, dan aktifitas gerakkan transnasional yg akan menyusup pada mereka, saya pikir dengan sejarah ABRI yang panjang mereka cukup waspada.  Sehingga mendekati dan menyusup serta minta tolong pada ABRI, bukan hal mudah.  Betul, gerakkan transnasional berhasil mendekati pensiunan ABRI/POLRI, namun para pensiunan ABRI/POLRI bila sudah tidak aktif, senjata dilucuti dan jaringan komunikasi dengan yg masih aktif pun terputus.  Jaringan komunikasi hanya terjadi dikalangan pensiunan saja.  Jadi, tidak banyak bantuan bisa diberikan pada gerakan transnasional ini.

Apakah gerakkan transnasional akan berhenti berusaha untuk melakukan tholabun nusroh? Jika pertolongan ini tidak bisa diraih, maka upaya berikutnya adalah melemahkan ABRI dan POLRI.  Lihatlah Panglima ABRI dan Kapolri dijadikan sasaran.  Pak Gatot Nurmantyo vs Jokowi, pada saat 212 muncul simpati luar biasa dari beberapa kalangan gerakkan pada Panglima ABRI, sampai kopiah putihnya dielu-elukan.  Harapannya apa? Panglima menjadi simpati dengan perjuangan mereka, siap menjadi pembela mereka melawan POLRI dan Presiden jika diperlukan. Lihatlah berbagai posting dilakukan untuk mencitrakan Panglima ABRI pada satu sisi tapi membunuh karakter Kapolri dan Presiden pada sisi lain.  Tujuannya? Sudah jelas agar mereka mendapatkan simpati dari ABRI,  ketika Kapolri dan Presiden memberangus mereka, mereka bisa pada ABRI, karena selama ini mereka baik pada ABRI.

Menggoyang ABRI adalah targetan selanjutnya setelah berhasil mengoyang rakyat.  Rakyat pro pada demo2 yg mereka inisiasi, nurut pada seruan untuk boikot produk atau boikot ikut dalam kegiatan keagamaan di istiqlal atau boikot nonton salah satu stasiun teve.  Kita sebagai rakyat biasa, yg bisa membaca fenomena yg terjadi, harapan saya cuma satu ABRI-POLRI-jajaran Kepresidenan tetap kompak dalam menata NKRI.  Revolusi hijau ataupun hitam dengan jalan kudeta, tentu menjadi agenda dari gerakkan transnasional.  Kami rakyatlah yang akan menjadi korban dari revolusi tersebut.  ABRI-POLRI-Presiden yg punya kebijakkan untuk meminimalisir efek dari revolusi atau bahkan menekan laju revolusi hitam.

Kita sebagai rakyat biasa dan wanita patut diingat, bila revolusi hijau atau hitam diberi ruang di indonesia, kemudian gerakkan tradnsnasional itu berhasil menduduki kekuasaan di Indonesia.  Hal paling buruk bisa terjafi pada para wanita adalah, “Siapkah kita, sebagai wanita dikurung di rumah? Tidak berhak keluar rumah kecuali dikawal mahrom? Bayangkan tak ada lagi wanita dengan bebas dan aman berjalan mengendarai motor ke kampus, ke pasar dan ke tempat kerja? Lalu memesan taksi online atau taksi jalanan untuk pergi ke mall sendirian?  Lelaki! Ya, lelaki dipandang sebagai srigala yang punya potensi memerkosa dan melecehkan para wanita, dan wanita adalah domba yang siap dterkam para srigala, sehingga domba harus selalu dikawal pengembala agar aman.  Begitulah pandangan terhadap wanita dan lelaki oleh gerakkan ini, lelaki dianggap srigala dan wanita adalah sekumpulan domba.  Siapkah kita para wanita? Mana yg lebih disukai? Kehidupan muslim dan muslimah Nusantara saat ini? Atau kehidupan muslim dan muslimah seperti pandangan gerakkan transnasional yg ingin membudaykan hubungan SRIGALA-Domba?” So, let’s think it!

Membidik Indonesia

“Mencari titik lemah dari pemerintahan sah.  Menjadikan titik lemah sebagai isue yg digoreng. Menyajikan hasil gorengan tersebut pada masyarakat.  Tujuannya agar masyarakat tidak percaya lagi pada pemerintah yg sah”

Seperti itulah gerakan politik yg berusaha mengganti presiden dan sistem suatu negara.  Jadi, kita tak perlu heran bila kebijakan pemerintah terus dibombardir isu.  Yg perlu kita lakukan adalah move on dg pembangunan.   Kita punya pengalaman buruk pada pemerintahan lalu, banyakannya kritikan membuat pemerintahan lalu menjadi stagnan.  Pemerintahan saat itu kayak salah langkah, mundur kena mau kena, akhirnya hanya sedikit melangkah dengan hati-hati sekali.  Tentu kita semua ingin maju, ingin #moveON dari kondisi stagnan tersebut.  Maka saya pada pemerintahan Jokowi, kita gak boleh seperti itu lagi, kalau kita punya cita2 INDONESIA MAJU, INDONESIA BAGUS, INDONESIA HEBAT! Jadi, yuk kita buat Indonesia Bagus, Maju, dan Hebat!

Upaya memutuskan “kepercayaan umat terhadap pemerintah yang sah” dilakukan dengan berbagai dalih yang islami, misalnya JIHAD SYIASI atau MUHASABAH BIL HUKAM.   Bahkan hadits yg mengatakan, “Muslim yg paling baik adalah yg bermuhasabah pada pemimpin, kemudian pemimpin itu memenggal lehernya”. Begitulah berbagai dalil terkait pentingnya menentang pemimpin sah yang disebut mereka sebagai “thogut atau kafir atau komprador” terus dikumandangkan sebagai legitimasi atas tindakan  mereka.  Di sisi lain, ayat2 terkait bughot (menghianati negara) dan hukuman bagi org yg melakukan bughot mereka tutupi.

Indonesia dibidik oleh gerakan transnasional untuk dijadikan targetan sebagai NEGARA ISLAM INDONESIA ataupun khilafah islamiyah, benarkah? Indonesia dengan potensi muslim terbesar hampir 200 juta dan kekayaan SDA yg memang merupakan wilayah yg empuk.  Semua gerakan sudah dimulai sejak tahun 1980-an.

Lalu darimana harus mulai? Mengambil pola keberhasilan kaum muda dalam kebangkitan Indonesia oleh mahasiswa STOVIA 1908, revolusi 1945 yg diperjuangkan salah satunya mahasiswa ITB yaitu SOEKARNO, dan gerakan 1966 sudah jelas digerakkan para aktifis kampus.  Berdasarkan pengalaman itu,  gerakan transnasional menjadikan kampus sebagai titik tumbuh paham-paham transnasional. Kampus berplat merah menjadi  kawah candradimuka tempat cuci otak  dan kaderisasi gerakan transnasional.  Kini kita saksikan tak ada satu pun kampus plat merah steril dari gerakan transnasional.  Di kampus-kampus plat merah inilah pengkaderan dilakukan…selama kurang lebih 30 tahunan.  Dan tidak hanya menyasar pada kampus plat merah, tapi juga mahasiswa indonesia di luar negeri.

Gerakan transnasional bekerja di kampus plat merah melalui unit kegiatan mahasiswa resmi dan responsi keagamaan, juga secara tidak resmi dengan membentuk pemgajian terbatas dengan nama liqo atau halaqoh di rumah kos, begitu pula mahasiswa indonesia di luar negeri, dikumpulkan dalam liqo/halaqoh yg terdiri dari 1-4 org dalam kelompok. Begitulah pola-pola gerakan transnasional sejak 30 tahun lamanya mahasiswa Indonesia di perguruan tinggi plat merah dan mahasiswa indonesia di luar negeri menjadi sasaran.

Bgmn hasilnya? Reformasi adalah salah satunya, ini titik mula memberikan kesempatan pada gerakkan ini untuk menjadi partai dan ormas dengan segala kebebasan  berhimpun dan berkumpul untuk mengeluarkan pendapatan.  Tanpa peduli bahwa pendapat tersebut bertentangan dg ideologi yang dianut bangsa. Semuanya akan berdalih, it’s just opinion.  Pemerintah tidak boleh memenjarakan orang yang hanya beropini.  Perangkat hukum didesain untuk sulit memenjarakan “gerakkan pemikiran”,  memenjarakan gerakan pemikiran berarti REZIM ORBA.  Kini ada sekitaran 8 jutaan org yg cukup loyal dg ide dan gerakan transnasional, bisa dilihat dari partai yg mereka pilih saat pilkada 2014. Itu blm semua, karena ada gerakan transnasional yg “golput”.  Ada 57 juta golputers pada pemilu 2014, anggap 10% dari golputers penyebabnya ideologi, jadi total selama 30 tahun  pengkaderan gerakan transnasional telah menghimpun sekitar 15 juta orang. Bayangkan 15 juta orang, tentu sudah bisa membuat sebuah kota bukan? Jumlah ini akan terus bertambah setiap tahunnya, seiring lembaga pendidikan dan pesantren yang mereka kelola, ditambah tak berbendungnya gerakan masif penyebaran ide2ini terutama di kampus plat merah, yg disokong oleh dosen-dosen yang juga bagian dari gerakan transnasional ini.

So, can you imagine this “ONCE UPON TIME,  INDONESIA WILL BE A STORY,  just a history, like Majapahit with nusantara……..? And Jokowi dengan pembangunannya akan jadi sejarah seperti Sejarah Syailendra dengan Borobudurnya,  Soekarno-Hatta dengan proklamasinya akan jadi sejarah terlupakan sebagaimana Gajah Mada dengan SUMPAH PALAPAnya.  INDONESIA DOES NOT EXIST! Apakah ini yang kita inginkan? So, let’s think about it!

Agama, politik, dan negara: where are we?

Isu ini mengemuka akhir-akhir ini.  #PILKADADKI suka atau tidak suka, secara fakta menjadi pemicu bagi kegegaran agama (islam) dalam tatanan pemerintahan di Indonesia.  Bukan sebuah rahasia lagi pada #PILKADADKI muncul slogan-slogan PEMIMPIN MUSLIM UNTUK JAKARTA BERSYARIAH. #PilkadaDKI menjadi momen kebangkitan NKRI Bersyariah (tentang NKRI BERSYARIAH, telah ditulis sebelumnya). 

Penangkapan Ustadz Muhammad Al Khathath (Gatot Saptono) bukan sekedar karena inisiasi aksi #313 tapi karena memang bukti-bukti dunia maya, untuk ide #NKRIBERSYARIAH yg digulirkan sejak tahun 2012 tertuju pada al ustadz (silahkan Googling, informasi pada media2 resmi yg diterbitkan FUI atau FPI dan juga media2 islam).  Dan juga bukti2 lain  hanya polisi yang tahu.

Jika penangkapan atas kasus makar #212, tidak terkait ideologi, hanya terkait skenario ketidaksetujuan dg pejabat yang memerintah. Maka penangkapan makar #313 lebih ideologis, yaitu mengancam pancasila.

Yes, islam is ideology….

Kami aktifis rohis sewaktu di SMA atau perguruan tinggi, sangat hapal bahwa islam sebagai ideologi khas.  Islam memerlukan negara untuk merealisasikan hukum terkait pidana seperti zina, minum khamar, mencuri, dan membunuh.  Lalu kami juga sangat hapal bahwa dengan sebutan Pemerintahan Thogut atau Pemerintahan Kufar untuk pemerintahannya yg tidak dijalankan berdasarkan syariat islam, pun disematkan pada pemerintahan demokrasi pancasila  Dan kami juga sangat sadar bahwa ide-ide terkait islam ideologi dibawa oleh dua jaringan.  Pertama, jaringan transnasional atau partai internasional seperti Ikhwanul Muslimin (di Indonesia bernama PKS) dan Hizb Tahrir dengan pemimpinan utamanya berada di negara sekitar Arab.  Kedua, jaringan lokal semodel NII atau metamorfosisnya.  Kedua jaringan ini bergerak masuk dlm sistem menjadi partai dan diluar sistem menjadi ORMAS atau ada juga gerakan di bawah tanah.

Jaringan pertama marak sekitar tahun 80-an, seiring gegap gempita REVOLUSI IRAN.  Jika saya masuk SMA tahun 1987, maka sudah lebih dari 30 tahun untuk kelompok pertama melakukan kaderisasi.  Dan tentu saja lebih lama lagi untuk jaringan kelompok lokal, karena NII pun tumbuh dan ada seusia Indonesia berdiri.  Kini kedua jaringan tersebut menyatu dg agenda yang sama menjadikan Indonesia sebagai cikal bakal pendirian Negara Islam.  Jakarta dijadikan target utama, karena seperti kata DN AIDIT DALAM FILM G30S PKI “Jika ingin menguasai Indonesia, kuasai pulau Jawa, jika ingin kuasai Jawa maka kuasai Jakarta”.  Quote DN AIDIT ini ada benarnya, “Aksi 411 dan aksi 212 didatangi oleh muslim di wilayah yang tidak punya kepentingan dengan PILGUB DKI, ada peserta dari Palembang, Padang, Medan, Makasar, selain dari pulau Jawa.  Magnet Jakarta memang cukup besar.  Membludaknya dukungan terhadap aksi 212 dianggap sebagai sinyal positif kerinduan umat akan syariat islam tegak di Indonesia.  Momen sholat  berjama’ah atau peringatan hari besar digunakan untuk memelihara perlunya “umat islam  menjadi pemain dalam percaturan pemerintahan indonesia” “keharusan DKI dipimpin muslim yg bisa menjadi entry masuknya PERDA SYARIAH atau DKI BERSYARIAH” Dan sebetulnya dalam hal ini makna “pemain” bukan sekedar umat islam atau muslimnya, karena 95% yg mengisi birokrasi sekarang ini pun muslim, tapi maknanya IDEOLOGI ISLAM.

Is it logic?

Terus terang aja, saya mah agak bingung.  Apa memungkinkan tertunaikannya DKI BERSYARIAH jika gubernurnya muslim? Lihat saja JABAR gubernurnya Muslim, bahkan diusung oleh partai yg punya cita2 mendirikan negara islam.  Tapi apakah bisa menjadikan JAWABARAT BERSYARIAH? Apakah ada hukum ikhtilat, Liwath, Zina, Qishosh, dll di Jabar???  Begitu pun di Sumbar, adakah SUMBAR BERSYARIAT, pdhl wilayah ini terkenal dg adat bersanding syaro, syaro bersanding kitabulloh? Bisakah? Jadi? Think 2x. Jangan2 ini akal2an saja? Atau memang Jakarta jadi entry point, lalu wilayah lain nanti akan ikutan….seperti paham gerakan ikhwanul muslimin “dari individu, ke keluarga, ke daerah, daerah ke negara, negara2 bersatu jadi khilafah islamiyah…..”?

Pancasila dan NKRI yg ada saat ini disepakai oleh tokoh muslim dari NU, MUHAMMADIYAH, dan MASYUMI.  Dianggap sebagai jalan tengah untuk menakomodasi persatuan Indonesia dari Sabang sampai Meurauke.  Para ulama saat itu harus menahan ambisi mereka mendirikan SYARIAT ISLAM demi mashlahat seluruh rakyat Indonesia.  Apakah ini bentuk kekalahan? Atau bentuk perjuangan yg belum selesai?  Atau ini justeru bentuk kearifan dan kebijaksanaan?

So, where are we?

Kita muslim, tidak menolak islam dan al quran.  Namun perlu diingat Indonesia yg kita cintai ini adalah buah perjuangan para ulama sampai titik darah pemghabisan.   Pancasila sebagai bentuk kompromi dan perjuangan para ulama harus dihargai, kita hanyalah seorang mutabi atau pengikut ulama.   Jika ada ulama Timur Tengah yg menawarkan KHILAFAH atau NII untuk Indonesia, dan ada ulama Indonesia yg menawarkan hidup berdampingan dg pancasila, maka siapa yg kita pilih? Ulama Timur Tengah mengeluarkan ijtihad dg melihat fakta relevan di negaranya, pun begitu ulama Indonesia.  Khilafah dan NII boleh jadi cocok ditawarkan di negara Timur Tengah, tapi belum tentu cocok untuk negara Indonesia.  Sebagai mutabi, dalam pilihan politik lebih baik bila kita taat pada ulama Indonesia terutama para kyai NU, karena mereka mengikhsas fakta berdasarkan kondisi faktual Indonesia, dan tentu hasil ijtihadnya cocok untuk Indonesia.  MENOLAK #kompromi dan #jalanTengah sesungguhnya bentuk keegoisan, jika ada gerakan yg menolak kompromi dan mendahulukan kepentingan golongannya daripada kepentingan umat yang banyak patutlah kita pertanyakan, “APAKAH MEMNG ISLAM MENGAJARKAN HAL TERSEBUT?”