Deteksi ‘radikalisme’ dari opini

Kebijakan pemerintah dengan mencabut ijin operasional sebuah ormas membuat mereka berang. sehingga menuduh pemerintah berbuat dzalim dan menurut mereka pemerintah melakukan dosa luar biasa besar. Mereka pun merasa dirinya terdzalimi dan mengais rasa iba dari kaum muslimin lainnya. Betulkan mereka didzalimi? Bayangkan pemerintah Indonesia hanya mencabut izin operasional, sampai saat ini mereka masih bebas berkoar-koar MEMUTARBALIKKAN FAKTA DAN MENEBAR PROVOKASI SERTA MENGAJAK MASYARAKAT MENGGANTIKAN NKRI PANCASILA HASIL IJMAK ULAMA dengan sistem baru yang hasil ijtihad seorang ulama di Timur Tengah. Tak ada aktifis ormas ini yang dipenjarakan, bahkan banyak PNS yang terang2an dan sembunyi2 mengaku sebagai syabab ini tidak dipecat dari ke-ASN-annya hanya dilakukan pencabutan jabatan struktural. Kurang baik apa negara ini pada mereka? Ini semua karena negara merasa bahwa mereka adalah WN juga harus diayomi.

Tapi ya itu, sebaik apapun negara ini pada mereka, mereka tak henti-hentinya memojokkan negara, dan siapapun yang membela kebijakan negara akan mereka sebut sebagai pro sekular, pro kapitalis, pro sosialis. Dan tak jarang mereka menuduh kebijakan pemerintah PRO ATHEIS dan seringkali mengumpat pemerintah dengan sebutan PEMERINTAH KAFIR dan DEMOKRASI KUFUR serta PEMERINTAH ANTI ISLAM. Dibandingkan sebagai organisasi agama atau organisasi dakwah, mereka lebih pantas disebut sebagai Kelompok Politik islam. Dan memang dalam kitab Takatul Hizby, kitab yang harus dikaji oleh setiap orang ketika akan masuk Hizb Tahrir sebelum mereka disumpah (ba’iat/qosam) menjadi anggota sangat jelas disebutkan bahwa “kelompok ini bukanlah ORGANISASI MASSA atau Jamaah Khoiriyah [organisasi kebaikan/sosial] tapi PARTAI POLITIK. Dengan tujuan organisasi bersifat politik yaitu mengambil alih kekuasaan yang ada di suatu negara melalui jalan umat . Di sinilah kita harus hati-hati, kita ingin mengkaji islam dan berislam secara baik, tapi ternyata kita terjebak dalam sebuah Partai Politik jaringan Internasional lagi!

Di media sosial sangat mudah mendeteksi para anggota dan simpatisan kajian radikal yang telah dicuci otaknya bertahun-tahun oleh kajian2 ini. Proses cuci otak dalam kajian yang disebut liqo atau halaqoh menghasilkan syakhyiah atau kepribadian yang khas dan pola pikir khas akan terlihat pada opininya, seperti apa itu? Mari kita lihat contoh-contoh opini simpatisan atau mungkin juga anggota jaringan ini pada berbagai status dan komentar di facebook.

Ketika ada status facebook teman yang memposting tulisan dengan judul “Gus Baha Aset NU” komentar khas mereka adalah….

  1. “Apalagi kalau menerapkan syariat islam secara kaffah ya Om!” Agus Soleh Sudrajat.
  2. “Aset kok kayak gitu sih!Ahmad Din

Berikut juga ungkapan khas mereka,

Ada yang bangga atas jasa para pendahulunya, tapi ketika ada yang berjuang seperti pendahulunya, justeru dianggap sebagai musuhnya. Dulu loyang sekarang besi. Dulu semangat berjuang kini rajin persekusi. Sambil bergoyang teriak cinta NKRI. Pengajian dihadang, natalan ditemani. Budaya sesat disang-sayang atas nama toleransi. LGBT diberi ruang atas nama hak asasi. Hukum islam diganyang atas nama demokrasi. Skenario Alloh memang tidak mungkin dihentikan, walau andaikata selalu orang-orang kafir bekererjasama dengan seluruh setan untuk melakukan perlawanan. Abu Fatih

Kalau yang membolehkan riba dan penyerahan kekayaan negeri ini ke para cukong dan antek asing siapa ya? Su Tisna.

Orang sekuler liberal moderat tentu anti khilafah David David Dafid

Sekarang makin tampak dan terang-terangan mereka terus menyebarkan paham atheis di negeri. Tidak setuju ada konsep tuhan dan iman. mereka begitu mendewakan akalnya. Seolah-olah akal manusia penentu segalanya. Hartadi Hartadi

Ada beberapa kata kunci yang sering disampaikan oleh anggota gerakan ini ketika beropini yaitu: Atheis, demokrasi, HAM, kaffah, cukong, antek asing, riba, sekuler, liberal, anti moderat, khilafah.

Kata kunci yang ditebarkan penuh kebencian, memperlihatkan radikalisme dalam berujar.

WN ISIS haruskan dikembalikan ke Indonesia?

600-an kombatan ISIS akan dipulangkan kembali ke Indonesia. Sebelumnya ada 200-an warga negara ISIS yang merasa tertekan atau memang memilih kabur dari ISIS sudah kembali ke Indonesia dan mendapatkan beberapa program deradikalisasi. Jumlah 800-an yang sudah dan akan kembali ini belum termasuk anggota ISIS yang pulang sendiri melalui jalur UMROH dan HAJI sehingga tidak terdeteksi pemerintah, dan mereka yang memang tidak pergi ke ISIS.

600-an ini memang yang tertangkap dan ikut berjuang dengan ISIS. Bayangkan tingkat radikalisme dan terorisme mereka! Mengingat hal ini tentu kita bertanya, “Haruskan mereka diterima kembali oleh Indonesia? Mereka sendiri telah membakar PASPOR Indonesia, yang artinya sudah tidak mau menjadi WNI. Kemudian kita memulangkan mereka, jangan sampai mereka ini merasa menjadi tawanan dan makin membenci pemerintah Indonesia.

Kekalahan ISIS bukan berarti menghapuskan mimpi berdirinya Khilafah Islamiah atau Islamic State. Dari seruan pemimpin ISIS sangat jelas, bahwa obyek perjuangan bisa berpindah ke berbagai negara. Mereka melihat Asia Tenggara dengan pusatnya Indonesia bisa dijadikan sasaran berdirinya Islamic State. Mengapa ISIS melihat Asia Tenggara, khususnya Indonesia sangat potensial mendirikan Khilafah Islamiyah? Berikut beberapa alasannya:

  1. Hizbut Tahrir, diterima dengan baik oleh Indonesia. Bahkan pada dasawarsa 1980-an sampai dengan 2017 lalu, Hizb. Tahrir secara formal dapat berkiprah di Perguruan Tinggi Indonesia, mereka dengan bebas melakukan pengkaderan melalui lembaga formal kampus seperti DKM dan LDK. Hizb Tahrir pun diakui sebagai ormas resmi di Indonesia. Hizb Tahrir memang melarang penggunaan senjata dan kontak fisik dalam memperjuangkan berdirinya khilafah islamiyah. Hizbut Tahrir hanya menggunakan jalan “Pertarungan pemikiran” yaitu menyebarkan opini provokatif untuk menyerang pemerintahan dan sistem pemerintahan yang ada, dengan tujuan melemahkan kepercayaan rakyat pada pemerintahan sah. Masyarakat yang sudah terbakar amarahnya dan pemikiran pun ingin segera mewujudkan tatanan pemerintahan baru yang diimpikan yaitu KHILAFAH ISLAMIAH, akan mudah diajak bergerak dan berdemo untuk menggulingkan pemerintahan sah [mengambil alih kekuasaan dengan jalan umat]. Pada momen inilah, ISIS akan menjadi bagian. Demo dengan kontak fisik bersenjata dengan angkatan bersenjata adalah momen yang ditunggu mereka sebagai bagian Jihad, ISIS masuk di sini untuk mengambil alih kekuasan dan menduduki kekuasaan. Hizb Tahrir memang tidak melakukan kontak fisik bersenjata, namun ISIS sangat mengambil keuntungan dari “KERINDUAN UMAT TERHADAP KHILAFAH” dan “MOMENT KUDETA”. Hizbut Tahrir akan menjadi bahan bakar bagi ISIS.
  2. Ikhwanul Muslimin (IM), dibeberapa negara Ikhwanul Muslimin dinyatakan sebagai organisasi terorisme karena beberapa upaya melakukan kudeta. Oleh sebab itu dibanyak negara mereka tidak lagi menggunakan nama IM tapi menggunakan nama khas wilayahnya misalnya PAS di Malaysia, PKS di Indonesia, dan Refah di Turki. Untuk Indonesia sendiri PKS selain bermahzab pada IM juga bergabung dari berbagai organisasi yang dulu mencita-citakan Negara Islam Indonesia, bahkan beberapa petingginya sangat dekat kekerabatnnya dengan perjuangan DI/TII. Berjuang dengan cara bergabung menjadi partai politik legal melalui pemilu dan berhasil mendudukan anggotanya di badan legislatif, yudikatif, bahkan eksekutif. ISIS melihat peluang, bahwa mereka ini adalah kawan seideologi, yang dapat membantu mereka ketika mereka mendapatkan banyak kendala terutama dalam kebijakan yang ada. Garis perjuangan sama, hanya beda uslub (cara). IM (PKS) sama sekali berbeda ranah perjuangan dengan ISIS, tapi bagi ISIS….IM di Indonesia adalah sabuk pengaman ISIS.
  3. FPI, FUI, dan ormas radikal lainnya, juga akan memberikan keuntungan bagi ISIS. Ormas-ormas ini sangat menyadari bahwa garis perjuangan ISIS sama dengan garis perjuangan mereka, hanya cara ISIS berjuang lebih sadis, tidak hanya anarkis tapi sudah teror. ISIS menyadari bahwa ormas-ormas ini pun tak mungkin kontra produktif terhadap perjuangan ISIS. Bagi ISIS ormas ini adalah bamper yang siap bertarung opini dan aksi dengan masyarakat dan pemerintah untuk membela ISIS.

ISIS yakin bahwa pergerakkannya akan didukung oleh gerakan lain yang siap menjadi bahan bakar, sabuk pengaman, bahkan bamper. Inilah alasan mengapa Asia Tenggara dijadikan target berikutnya oleh ISIS. 600 kompatan ISIS itu punya kemampuan untuk menggalang ini semua, dan mewujudkan Indonesia seperti “Suriah” ………

Ingat, bahwa Suriah pun diawali dengan terbakarnya emosi sebagian masyarakat atas terpilihnya Presiden Bashar Al Ashaad oleh lebih dari 70% masyarakat secara demokratis. Bayangkan kurang dari 30% masyarakat yang tidak setuju itu dapat membakar kekacauan yang luar biasa tragisnya, pada saat kekacauan itu terjadi, ISIS pun mengambil peran deklarasi dan caplok wilayah. Hal ini bisa terjadi di Indonesia…..

Ingat 212 bukan sekedar “menurunkan Ahok”, jika sekedar menurunkan Ahok dan memilih Anies saja, tidak akan ada pemeliharaan perasaan kesatuan umat lewat reuni tahunan. 212 adalah wujud kesatuan muslim yang sudah dipengaruhi ide2 untuk mendirikan negara islam indonesia (apapun bentuknya entah NKRI Bersyariah, Khilafah, atau Jamiatul Muslim). Melalui gerakan 212 ini emosi dan pikiran umat untuk melemahkan pemerintahan sah dengan cara mencari kelemahan untuk digoreng dan dihasut akan terus dilakukan. Dengan alasan mengkritisi kebijakan pemerintah……gerakan 212 akan terus dilakukan berharap pemerintahan koleps, dan menyerahkan kekuasaannya pada mereka secara sukarela….. jika jalan sukarela sulit ditempuh, maka anggota ISIS lah yang akan ambil peran.

Kengerian ini, dan efek mudorot yang akan dialami oleh rakyat, yang membuat kita menolak kombatan ISIS diterima kembali oleh pemerintah Indonesia. Di sini kita besarkan anak cucu kita, berharap Indonesia tetap damai…. jangan sampai kita mewariskan konflik dan peperangan pada anak cucu kita. Wallohualam bi sawab.

Khilafah wajib! Tidak ada syariat islam tanpa khilafah.

Betulkah pernyataan itu?

Khilafah sebagai sistem pemerintahan tunggal di muka bumi didesain, disebarkan, dan dibawa ke berbagai negara oleh Partai Politik Hizb Tahrir (disingkat HT). HT sendiri menolak disebut sebagai lembaga pendidikan, lembaga dakwah, atau lembaga sosial…HT mendeklarasikan secara jelas sebagai PARTAI POLITIK YG BERTUJUAN MELANJUTKAN KEHIDUPAN ISLAM (baca takatul hizbi, buku mutabanat sebelum pelajar yg mengkaji/daris HT dibaiat menjadi anggota/syabab HT).

Ada kata kunci “melanjutkan kehidupan islam” apa kehidupan sekarang dianggap idak islami dan jauh dari islam. Lalu kehidupan islam itu seperti apa? Menurut HT kehidupan islam itu seperti kehidupan yg dijalankan oleh para shahabat yg membentuk tatanan pemerintahan islam tunggal.

Khilafah sendiri artinya pengganti. Pengganti apa? Pengganti sistem nubuwah. Rasulullah saw membangum sistem nubuwah di Madinah, berperan sebagai pemimpin tunggal mengurus berbagai hal berdasarkan wahyu. Setelah Rasulullah saw wafat, tak ada yg bisa gantikan siatem nubuwah karena Nabi Muhammad saw nabi terakhir. Maka para shahabat memikirkan siatem penggantinya yg dinamakan khilafah.

Sistem khilafah yg dijalankan Khulafur Rasyidin dan Khalifah sesudahnya adalah hasil ijtihad para shahabat.

HT dalam mengeluarkan produk2 hukum menyandarkan pada al quran, hadits, qiyas, dan ijmak shahabat. HT menolak ijmak ulama dan fatwa ulama sebagai sumber hukum. Jadi, yg dimaksud HT melanjutkan kehidupan islam adalah MENERAPKAN KEMBALI SISTEM KEKHILAFAHAN SESUAI PRAKTEK ZAMAN KHULAFUR RASYIDIN dan Kekhalifahan sesudahnya.

Konsep penegakkan khilafah menurut HT adalah:

1. Untuk mendirikan khilafah awal diupayakan dg revolusi umat, yaitu umat menuntut berdirinya khilafah. Umat yg mana? Umat yg berhasil dipengaruhi dan dirangkul HT. Bgmn cara mempengaruhi dan merangkul umat ini? Dalam hal ini HT melakukan;

  • Menggali kelemahan pemerintah.
  • Menunjukkan bahwa kelemahan pemerintah itu karena penerapan ideologi selain ideologi khilafah islam.
  • Mengajak masyarakat mengkaji ideologi khilafah dalam kajian2 lebih khusus dan mencuci otak。Maka mereka yg sudah terbius dalam benaknya tertatanam bahwa KHILAFAH SATU2NYA SOLUSI, SELAIN KHILAFAH ADALAH SISTEM KUFUR
  • Keberhasilan cuci otak diukur dengan berapa jumlah massa dengan sukarela hadir pada kegiatan2 konferensi dan demo untuk penegakkan khilafah.

2. Selanjutnya memperbesar khilafah dengan dakwah dan jihad. Dakwah yg dimaksud disini ada mengajak Kepala Negara lain masuk jadi bagian Khilafah islamiyah, jika menerima dilindungi. Jjka menolak maka JIHAD atau diperangi.

Absud-nya konsep ini adalah….Pada konteks sebelum PD II, kekerasan sebagai jalan mengambil kekuasaan lumrah dilakukan diberbagai wilayah di bumi ini. Namun pasca PD II setelah manusia menyadari efek perang “Hiroshima Nagasaki” “Pearl Hanbour” maka Kekerasan atau Jihad atau Perang tidak lagi jadi solusi, dunia sepakat menghargai HAM dan Perdamaian. Kelompok orang atau negara yg memaksakan jalan kekerasan untuk menduduki suatu wilayah akan dihukum sebagai PENJAHAT PERANG.

Berdasarkan hal ini, maka kita bertanya apakah Konsep Khilafah ala HT yg diadopsi dari ijtihad para shahabat dg konteks saat itu terjadi “barbarian-semua masalah solusinya perang” masihkah relevan diterapkan saat ini? Lalu memgapa HT “menolak ijmak ulama”? Padahal ulama adalah pewaris Nabi, ketika mereka berijmak tidak mungkin mereka berijmak untuk kemungkaran. Dan ulama hidup pada konteks saat ini.

NKRI Pancasila adalah hasil ijmak ulama, menyesuaikan dg konteks yg terjadi saat ini. Sistem NKRI Pancasila merupakan pengganti dari sistem nubuwah yg sesuai konteks saat ini, ini sistem khilafah juga bukan? Apakah di NKRI Pancasila syariat islam tidak ditegakkan? Rukun iman, islam tidak ditegakkan di NKRI Pancasila?

Wallohualambisawab

Terjerat dalam kelompok pengajian Radikal

Pertanyaan yg sering saya dapatkan adalah “Kok bisa belasan tahun ikut kajian dan tidak merasa bahwa itu sebuah kesalahan karena menentang NKRI PANCASILA?

“Pengajian radikal adalah pengajian ideologis yg ingin mengubah “dasar/akar/radical” sebuah negara. Bahasan ini radikalisme dalam pengajian islam berdasarkan pengalaman dimana saya pernah terjebak didalmnya saat mengikuti kajian Rohis SMA, Assistensi Agama Islam PT, Badan Kerohanian Islam PT, dan berlanjut setelah selesai kuliah…

Alasannya, kenapa sulit melepaskan diri dari kajian yg jelas-jelas ingin memgganti Pancasila dan menjadikan NKRI sebagai negara bagian kekhilafahan atau bagian dari Negara Serikat Muslim (Jamiatul Muslimin)

Pertama-pertama mengkaji tentu tidak langsung disampaikan anti pancasila. Tapi disampaikan hal-hal yg memperkuat iman. Misalnya kajian yg pernah sangat sebentar saya ikuti sekitar 1 tahun, materi awalnya ma’rifatullloh, marifatul rasul, ma’rufatul quran….cek hapalan, ngaji quran, shalat lail…tentu saja sebagai org yg ingin menjadi lebih baik tertarik memperbaiki aqidah dan amal ibadah. Lalu kajian yg saya ikuti selama belasan tahun mengawalinya dengan thariqul iman yang isinya rukun iman.

Kedua, setelah pondasi aqidah dirasakan kuat. Mulailah memperkuat makna laa ilaha illa lloh. Dilarang menuhankan hal lain selain alloh swt, maka haram menuhankan pancasila. Mulai memperkuat bahwa Alloh swt sbg kholiku wa mudabirru, makna adalah pembuat hukum, manusia tidak boleh membuat hukum. Maka pekerjaan pembuat hukum seperti anggota DPR/MPR adalah haram. Demokrasipun menjadi haram karena menyerahkan pembuatan hukum pada rakyat. Sampai di sini kita menyadari bahwa kajian ini mengancam NKRI PANCASILA. Kita sadari juga logika mereka yg kadang susah dimengerti dan tdk rasional misalnya “Manusia dilarang membuat hukum sendiri yg bersumber dari akalnya” Lalu kita tanya, lalu bagaimana mengatur hidup agar aman, tertib, damai, sejahtera tidak semua hukum ada dalam al quran dan assunah. Misalnya bagaimana aturan buang sampah, lalu lintas, tata kota? Mereka jawab harus lewat “ijtihad” Kemudian kita tanya, “Ijtihad bukannya menggunakan akal manusia juga?” Mereka menjawab, “iya memang ijtihad pakai akal manusia, namun rujukan ijtihad adalah al qur’an dan assunah” Jika dilanjutkan dg pertanyaan “namun pendapat tentang diri manusia terbagi dari hajatul udhowiyah dan garizah itu juga murni pengamatan mujtahid seorang manusia apa bedanya mujtahid ini dengan teori Mashlow?” Maka jawaban akan muter2 bahwa mujtahid tersebut mengkaitkan dg al quran dan assunah karena dia ulama sebagai pewaris nabi. Jika kita tohok dengan pertanyaan, “NKRI PANCASILA juga hasil ijmak ulama, para ulama yg tentu mempertimbangkan dg cermat ketika menerima NKRI PANCASILA” …. maka jawabnya bisa jadi dua yaitu 1) ulama itu bukan ulama golongan kita atau 2) ulama itu belum selesai perjuangannya untuk meng-kaffah-kan syariat islam di bumi indonesia. Jadi, tahapan ini membuat peserta teryakinkan bahwa perjuangan mereka menumbangkan NKRI PANCASILA adalah sah secara hukum islam dan bagian dari jihad.

Ketiga adalah menguatkan “ruh jamai'” apa itu ikatan antar anggota pengajian yg melebihi ikatan antar anggota keluarga. Ini membuat org menjadi sangat terikat bahkan saling guyub membantu finansial. Sebagai makluk sosial, hal wajar dan manusiawi terjebak di sini ketika merasakan nikmatnya ruh jamai’.

Keempat menjebak dalam liqo atau halaqoh seminggu sekali wajib hadir. Liqo atau halaqoh ini ibarat wadah cuci otak. Selama seminggu akan banyak pemikiran dan informasi masuk dari sana dan sini karena interaksi manusia dengan manusia juga dengan media berita. Liqo/halaqoh akan mendiskusikan isu2 itu dari sudut pandang kelompoknya sehingga setelah liqo/halaqoh sudut pandang menyatu lagi. Istilahnya liqo/halaqoh adalah cara menyamakan pemikiran agar satu langkah. Makin sering tidah hadir ke liqo/halqoh mingguan makin jauh dari pemikiran dan gerak kelompok ini. Lama2 akan keluar dari kelompok ini. Maka kehadiran dlm liqo/halaqoh secara dawam menjadi indikator tetap atau dikeluarkan dari kelompok ini. Bagi org2 yg tekun dan gigih, akan selalu hadir kegiatan liqo/halaqoh, akibatnya akan makin sulit lepas dari gerakkan ini.

Empat inilah alasan utama mengapa seseorang sulit lepas dari sebuah gerakkan radikal walaupun dia tahu bahwa gerakkan yg diikutinya mengancam NKRI PANCASILA dan perjuangnya melalui penyebaran opini umum yg bersifat provokasi dapat membuat perpecahan, dhoror, bahkan kerusakan di tengah masyarakat muslim. Wallohualam bi sawab.

Radikalisme dan cara berpikir linier kasualitas

Dimana langit dijunjung disitu bumi dipijak, adalah salah satu pribahasa Indonesia, mejadi pesan turun temurun, termasuk oleh WALI SONGO yg menyebarkan islam di Indonesia.

Pada kaum muda (sekarang ada juga kaum tua) yg sedang mencari jati diri, seringkali bertemu kajian yg mengamggap NKRI PANCASILA sebagai THOUGUT atau PRODUK KAFIR.

Kajian seperti ini menanamkan logika linier dan kasualitas yg mengarah pada radikalisme bahkan terorisme, seperti apa itu?

Laa ila ha illaloh, menjadi landasan aqidah ‘ilah’ sesuatu bukan dari Alloh swt dianggap musyrik termasuk pancasila sebagai produk manusia. Karena bukan produk Alloh swt maka org2 yg mengemban dan percaya pada pancasila disebut orang kafir.

Kajian radikal seperti ini akan menggelincirkan pada tindak terorisme, ketika mereka berpikir Orang kafir halal darahnya, maka melakukan bom bunuh diri dg korban masyarakat Indonesia baik muslim atau non muslim dianggap Jihad memerangi org kafir.

Benarkah? NKRI PANCASILA adalah hasil ijmak ulama Indonesia 1945, ulama dari Komponen MUHAMMADIYAH, NU, Masyumi, dll menyepakatinya demi kemashalahatan dan persatuan indonesia. Apakah para ulama tersebut Thougut dan Kafir? Apakah kalian tidak percaya pada ulama?

Tahun 50-70 an, di Indonesia sebagian ulama mencoba kembali mendirikan NII, ingin mengembalikan sila 1 dg ketuhanan yg maha esa sesuai Syariat Islam. Apa yg terjadi saat itu? Pecah perang saudara antara TNI vs TII yg korbannya rakyat. Rakyat ketakutan kena peluru nyasar sampai sembunyi di lubang2. rakyat merugi karena hasil panennya dijarah anggota TII yg kehabisan stok pangan. Perjuangan ini memberikan dhoror pada masyarakat, apakah kemudian kita akan mengulanginya dengan mendengungkan NKRI BERSYARIAH?

Jamiatul Islamiyah adalah pemikrian ulama Ikhwanul Muslimin, pun Khilafah adalah pemikiran ulama Hizbut Tahrir. Mereka berijtihad mengambil fakta2 di wilayah Timteng tempat mereka mukim. Fakta kekhilafahan itu dekat dg mereka. Tentu pendapat mereka para ulama ini adalah pendapat islami.

Bagaimana jika pendapat ini diimport di Indonesia? Dan bergerak mengubah tatanan yg sudah menjadi IJMAK ULAMA 1945? Maka suatu hal yg wajar jika NU bergerak mempertahankan ijmak ulama 45.

Perspektif Jamiatul Muslimin atau Khilafah dapat dipandang sebagai khasanah keilmuan islam, ragam ijtihad para ulama (terutama timur tengah) berdasarkan perspektif ketatanegaraan. Namun ketika melakukan provokasi dan pergerakan TSM (terstruktur, sistemik, masif) sambil meng-kafir2-kan dan men-thougut2-kan juga mem-bid’ah2-kan hasil kesepakatan para ulama 1945. Maka sesungguhnya anda2 inilah yg sedang menabur perpecahan dan mengoyak persatuan Indonesia.

Sebagai bagian dari Warga Negara Indonesia. Mari hargai perjuangan para wali songo dan para ulama yg telah berijmak tahun 1945. Hiduplah dg menjaga persatuan dan perdamaian Indonesia.

Wallohualambisawab

#RIP Cebong dan Kampret

Rasanya udah lama gak menulis pandangan politik. Pertemuan 13 Juli 2019 membuat saya bergairah menulis lagi. Sebelum nulis berdo’a dulu ah…. “Semoga peristiwa 137 menjadi lonceng kematian umpatan Cebong dan Kampret yang terus menerus mewarnai media sosial sejak 2014” Aamiin yra.

Dari awal saya tak pernah meragukan keberpihakan Prabowo terhadap NKRI, ideologi Partai Gerindra pun lebih mendekati dengan PDIP dan PSI dibandingkan PKS. Jika Gerindara dan Pak Prabowo berlabuh kembali dengan PDIP, adalah wajar saja. Bagaimana pun ikatan ideologi adalah ikatan yang paling kuat dalam menyatukan berbagai komponen. Partai peserta pemilu dan pemilihnya dibagi menjadi 4 kelompok ideologi, yaitu:

  1. Nasionalisme kerakyatan yaitu PDIP Gerindra PSI.
  2. Nasionalisme islam yaitu PBB, PKB, PPP, PAN
  3. Nasionalisme konglomeratisme yaitu Golkar, Nasdem, Demokrat dan pecahan kecil lainnya.
  4. Islamisme eksklusivisme: PKS yang bersifat transnasionalime (jejaring internasional) didukung ORMAS transnasional yaitu HTI dan salafy, dan juga organisasi tanpa jaringan internasional yaitu FUI dan FPI serta ormas sejenisnya.

Kelompok nasionalisme apapun ideologi pecahannya baik kerakyatan, islam, maupun konglomeratisme berkeyakinan “Indonesia dengan Bhineka Tunggal Ika hanya dapat bersatu dibawah NKRI Pancasila“. Sebaliknya kelompok Islamisme ekslusivisme yang saat ini berada dalam satu wadah koordinasi PA212 berkeyakinan “Indonesia harus berdiri atas dasar Al Quran dan As Sunnah dengan mendirikan Jamiatul islamiyah atau Khilafah atau NKRI Bersyariah atau NEO NII lainnya“. Peta seperti inilah yang terjadi saat ini.

Maka pertemuan Prabowo dan Jokowi disambut baik oleh mereka yang mencintai NKRI Pancasila, namun bagaikan badai besar bagi kelompok islamisme ekslusivisme. Mengapa? Mengapa mereka tidak setuju Prabowo berlabuh dengan kelompok Nasionalisme NKRI-Pancasila???

(1) Gerindra Prabowo adalah sekutu yang bisa diandalkan.

PAN dan Demokrat, bagi kelompok ini tidaklah dapat dijadikan gantungan. 2014 PAN dapat jatah kursi kabinet. Demokrat paling anti menggunakan isu eksklusivisme dalam setiap langkah politiknya. Gerindra, senantiasa bersekutu apapun kondisinya. Bahkan dalam kesempetan terbuka Pak Prabowo dengan lugas menyataka PKS bukan sekedar teman berkoalisi tapi juga SEKUTU.

(2) Prabowo mempunyai jejaring global yang dapat membantu upaya mereka kelak ketika menegakkan Syariat Islam di Indonesia. Dengan jejaring luar biasa, maka Prabowo adalah ruh semangat keberanian. Prabowo bagi mereka laksana Umar Bin Khatab yang memberikan kekuatan pada pasukan muslim untuk berani berkonfontrasi dengan musuh.

(3) Pada awalnya mereka menduga Prabowo bisa dikendalikan dengan mudah. Namun berdasarkan fakta, sebetulnya siapa yang mengendalikan? Gerindra Prabowo yang dikendalikan atau justeru Gerindra Prabowo mengendalikan PA212. Berdasarkan fakta revisi Ijmak Ulama I yang mendukung kalangan ulama menjadi wapres, kemudian direvisi jadi ijmak Ulama II yang mendukung Prabowo Sandi. Terdiamnya semua komponen atas kekosongan wagub DKI…. semua menandakan bahwa Gerindra Prabowolah yang mengendalikan mereka. PA212 dikendalikan untuk kemanangan Pilpres 2019, karena keberhasilan tes water di DKI Jakarta. Setelah Pilpres usai, dengan berbagai insiden ngotot menyalahi fakta dan takdir, tentu saja semua menjadi bahan renungan, bagi semua komponen bangsa termasuk Pak Prabowo. Betapa bahayanya NKRI Pancasila, jika terus bersama kelompok ini.

Bahaya? bagaimana bisa. Kelompok PA212 terdiri dari tiga lapisan:

  1. Kelompok jihadul fikriyah, yaitu PKS dan HTI dan sejenisnya, kedua kelompok ini bertugas memproduksi konten provokasi menciptakan MEDAN PERANG PEMIKIRAN di kalangan masyarakat. Kelompok inilah yang bekerja menyebarkan konten2 provokatif melalui media sosial dan bulletin mingguan. Juga melalui pengajian2 di lingkungan masyarakat. Gerakkannya “Mengajak Berfikir” untuk melepaskan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan sah. Umumnya orang-orang pada kelompok ini adalah kalangan intelektual lulusan S1,S2, S3, bahkan professor. Sebagai intelektual mereka mendapatkan porsi “didengar dan ditaati” oleh masyarakat.
  2. Kelompok jihadul laksariyah, yaitu FUI dan FPI dan sejenisnya yang tampil dengan demo-demo agrasif, maju ke muka dengan berani, menyerukan masyarakat untuk berkerumun dan berkumpul. Dengan tegas mereka memposisikan sebagai pasukan yang berani menentang pemerintahan melalui umpatan dan cacian serta tekanan pengerahan massa. Kelompok ini menjadi tempat bersadar masyrakat yang kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah. Kelompok ini batu sandaran bagi masyarakat yang sudah tercuci otak oleh kelompok jihadul fikriyah tapi tak punya kualifikasi untuk bisa masuk pada kelompok jihadul fiktiryah tersebut.
  3. Kelompok jihadul madaniyah, kelompok ini adalah kelompok yang berani berperang, melakukan bentrokan fisik dan senjata dengan aparat keamanan. Mereka ini kelompok seperti ISIS, MMI, Al Qaeda, dll.

Jika kita sering membaca bagaimana konflik2 di Timur Tengah terjadi, keberadaan tiga lapisan ini sangat mudah ditelurusi geraknya. Ketiga lapisan ini bekerja sesuai ranah masing2 namun ketiganya sesungguhnya bahu membahu mencapai tujuan yang sama yaitu TEGAKNYA BENDERA TAUHID di Indonesia. Kita ambil kasus Suriah.

(1) Ikhwanul muslimin dan Hizb Tahrir tak pernah berhenti menyebarkan provokasi “ASSAD SYIAH, KOMUNIS, DZALIM” padahal Assad Presiden yang dipilih mayoritas rakyat, pro palestina, memberikan pendidikan dan pengobatan gratis pada rakyatnya, dan dia seorang Sunni. Namun medan perang pemikiran diciptakan kelompok jihadul fikriyah berhasil membuat rakyat benci Assad.

Mirip dengan di Indonesia “Pak Jokowi dilabeli dengan PKI, pemimpin DZALIM, China, menang dengan curang dll”

(2) Demo terus menerus didukung masyarakat yang diam dan dikomandoi oleh kelompok jihadul laskariyah. Keberhasilan hasutan kelompok Jihadul Fikriyah, dieksukusi dilapangan oleh kelompok jihadul laskariyah. Hal ini memicu pasukan Suriah bertindak tegas, dan ini dimanfaatkan oleh mereka dengan menuduh balik “Pemerintah Assad melakukan tindakan Refrresif”

Mirip dengan kejadian 2122-5, kelompok Jihadul Fikriyah berhasil menggiring opini Pemerintah Jokowi Dzalim dan Melakukan Kecurangan Secara TSM – Terstruktur Sistematik Masif. Kelompok jihadul laskariyah turun berdemo, yang akan memicu kelompok jihadul madaniyah untuk juga keluar memanfaatkan situasi genting untuk melakukan bentrokan senjata.

(3) Pada kasus Suriah, seruan pemimpin Ikhwanul Muslimin yaitu Yusuf Qadrawi untuk menyerukan untuk mengangkat senjata memerangi Pasukan pemerintah Assad. Seruan ini dianggap sebagai seruan Jihad…. maka berbagai kelompok baik fikriyah, laskariyah, dan madaniyah masuk ke Suriah untuk berperang menimbulkan “CHAOS”.

Jakarta 2122-5 hampir kejadian seperti ini. Seruan Amin Rais dengan PEOPLE POWER-nya menjadi sebuah kode. Beruntung “chaos” tidak terjadi, masih ada Masyarakat yang sadar, memaparkan apa yang sebenarnya sedang terjadi, sehingga masyarakat bisa berpikir proposional. Begitupula Aparat, menekan ego dan beban fisik untuk sabar menghadapi pedemo yang bukan hanya kelompok jihadul lasyakariah tetapi makan malam berganti menjadi kelompok jihadul madaniyah.

Begitulah bahaya dari kelompok ini, kok saya tahu? Tahu dong hampir 20 tahun saya pernahberkecimpung dalam kelompok seperti ini. Jadi semua analisis ini adalah berdasarkan pengalaman bergerak.

Apakah yang mereka perjuangkan salah? Walahualam bisawab, hanya Alloh swt yang menilai. Namun ingat “Nabi Muhammad saw mengingatkan kita bahwa “para ulama adalah para pewaris nabi” Para ulama 1945 telah berkumpul dan berijmak: NKRI PANCASILA sebagai wadah masyarakat Indonesia membangun negara yang maju, penuh ampunan, dan rahmat. Jika para Ulama 1945 masih hidup, tentu mereka ingin kita anak cucunya melanjutkan perjuangannya membangun Indonesia BUKAN sebaliknya menghancurkan Indonesia dan menggantikan dengan sesuatu yang sebelumnya pun tidak mereka sepakati tegak di Indonesia karena akan menimbulkan dhoror yang besar.

Jadi, mari bekerjasama secara rukun dan damai menciptakan Indonesia barokah, rahmah, adil, dan makmur bersama Pak Jokowi dan KH. Ma’ruf Amin

Dan mulai saat ini……..tidak ada lagi cebong dan kampret, yang tertinggal saat ini adalah mereka yang menginginkan Indonesia hancur…..dari puing2 kehancuran itu mereka berniat membangun Negara Islam Baru di Indonesia.

Khilafah vs NKRI

Sejak pilkda DKI Jakarta sampai dengan Pilpres 2019 lalu, perpolitikan cukup riuh karena keikutsertaan Hizb Tahrir didalamnya. Pada PILKADA DKI walaupun HTI GOLPUT, tapi HTI berhasil membumikan hastag #TolakPemimpinKafir yang menyebabkan Ahok terpeleset lidah dan HTI juga yang all out menggerakkan demo berjilid-jilid mulai 411, 212, 121 sampai reuni-reuninya hari kemarin sampai nanti. 212 dianggap sebagai momen untuk menyatukan perasaan umat, dan reuni demi reuni dianggap sebagai momen menyatukan pemikiran umat. Efek dari ini semua, kita bisa lihat:

  1. Kasus pembakaran bendera arrayah pada hari santri, membuat marah umat islam bukan hanya HTI saja tapi komunitas 212 dan juga masyarakat yang sudah terprovokasi dg ungkapan ‘tidak beriman kalau tidak sedih melihat lafadz laillahaillalloh dibakar’. Arrayah yang akan menjadi bendera khilafah jika berdiri, bisa dirasakan sebagai bendera mereka. Ketika perasaan menyatu dengan simbol2 hizbut tahrir ini sudah dimiliki masyarakat, tentu akan mudah ketika masyarakat diajak oleh Hizb Tahrir untuk melakukan gerakan-gerakan pendirian Khilafah dari sekedar fikriyah sampai revolusi.
  2. Hasil Quick Count ada 14 propinsi dengan kenaikan suara 02 sangat signifikan, dan perolehan suara PKS juga meningkat tajam karena HTI memperbolehkan anggotanya untuk memilih dan menyatakan dukungan pada paslon tentu saja #02. (Baca postingnya sebelumnya NKRI vs NEO NII).

Hizb. Tahrir (HT) mengusung IDE KHILAFAH didasarkan pada kajian: 1) Al Qur’an, 2) Hadits, 3) Ijmak Shahabat, 4) Qiyas. Jika merujuk Al Qur’an dan Hadits saja, keharusan harus menggunakan sistem Khilafah tidak ada. Pada Al Qur’an dan Hadits berbicara secara umum keharusnya adanya pemimpin. Adapun Konsep Khilafah muncul setelah melihat penerapan oleh para shahabat pasca Rasulullah saw wafat. Kajian dari Zaman Abu Bakar sampai dengan runtuhnya Kekhilafahan Turki Utsmaniyah dianggap sebagai IJMAK SAHABAT. Empat sumber hukum itu saja yang diyakini oleh HT. HT tidak memasukkan unsur ijmak ulama sebagai sebuah keharusan dalam memproduksi suatu hukum.

Hal ini berbeda dengan NU yang mendasarkan sumber hukum pada 4 hal yaitu 1) Al Qur’an, 2) Hadits, 3) Ijmak Ulama, 4) Qiyas. Maka NU menolak sistem Khilafah atas landasan bahwa NKRI PANCASILA adalah hasil Ijmak Ulama 1945, terbaik buat Indonesia. Ingat ulama ketika mengeluarkan ijmak tidak akan membuat dhoror umat (kecuali ijma-ijmaan ulama-ulamaan demi kepentingan politik mendukung paslon tertentu dan itu hanyalah QUASY IJMAK ULAMA). Tentang Kekhilafahan sendiri menurut NU bagian dari sejarah saja, untuk dijadikan pelajaran karena dari sistem tersebut ada yang baik ada juga yang buruk. Hidup pada zaman sekarang, mengikuti Ijmak Ulama kekinian yang update dengan situasi dan kondisi saat ini.

Khilafah tidak islami? NKRI tidak islami? Eitttttt dua-duanya pendapat yang islami. Namun tentu saja dari kedua pendapat islami ini kita harus mengambil pendapat mana yang paling kuat dan mana yang menimbulkan dhoror paling sedikit.

Hadits mengikuti Sahabat banyak, demikian juga hadits mengikuti ulama sebagai pewaris nabi juga banyak. Ketika sahabat masih hidup, kita mengikuti mereka. Bagaimana kalau mereka sudah meninggal, apakah pendapatnya tetap diikuti? Beberapa pendapatnya tentu tidak relevan lagi saat ini. Contohnya tentang Khilafah, dimana tidak relevannya?

  1. Pasca perang dunia II semua orang berpikir untuk membuat bumi ini nyaman dihuni dengan menyadari adanya multikulturime dan hidup damai dalam perbedaan. Perang sudah dilarang, negara yang melakukan invansi akan kena PENJAHAT PERANG. Walaupun memang dalam pelaksanaannya masih pilih kasih, misalnya George Bush tak pernah diadili sebagai penjahat perang karena sudah menginvasi Irak. Tetapi hukum itu ada, dan mahkamah internasional itu ada.
  2. Beda dengan jaman para shahabat atau abad 7-19. Semua wilayah di dunia ini menggunakan jalan peperangan untuk memberikan pengaruh kekuasaannya. Kerajaan Pajajaran perang dengan Majapahit dalam perang Bubat, karena Majapahit ingin Pajajaran bergabung menjadi bagian wilayah Majapahit untuk disatukan menjadi Nusantara. Kehilafahan usmaniyah menaklukkan konstantinopel untuk menguasai wilayahnya. Demikian juga Antar Shogun di Jepang melakukan perang untuk menguasai wilayah. Saat ini abad 20-21 relevankah penggunakan otot dan senjata? Pasti semua berpikir itu cara barbar. Pada zaman ini menguasai suatu wilayah cukup dengan 4C: Creative thinking-inovatif, Critical Thinking-Problem solving, Colaborrative, dan Communicative. Korea mempengaruhi budaya dan kehidupan di Indonesia melalui perebutan wilayah? Tidak tapi melalui SAMSUNG dan DRAMA KOREA. Jepang menguasai ASEAN melalui pengiriman tentara seperti jaman dulu? Tidak tapi melalui Honda Toyota Sonny dan produk teknologi lainnya. Lalu sekarang China, menguasai ASIA melalui apa? Pengiriman pasukan Kublai Khan? Bukan tapi melalui XIOMI. Jadi pada abad 21 ini yang diperlukan adalah mengasah otak, mengasah komunikasi lobbying, dan menghasilakan produk inovatif. Sekarang zaman otak bukan zaman adu otot.

Jadi silahkan pikirkan apakah pembentukan kekhilafahan itu relevan pada saat sekarang? Untuk diketahui Hizbut Tahrir melakukan 3 tahapan dalam mewujud kekhilafahan, tahapan tersebut adalah:

  1. Pembinaan (tasqif): HT akan membentuk halaqoh2 terdiri dari 2-5 orang secara intensif setiap minggu mengkaji kitab rujukan HT. Tujuan dari Tasqif adalah menghasilkan kader-kader dakwah di masyarakat.
  2. Berinteraksi (Tafa’ul): Setelah mengalami proses tasqif setiap anggota HT harus menyebarkan pemikirannya di tengah umat. Pada tahap ini setiap kader diminta mencermati isu-isu yang ada lalu membuat opini dari isu tersebut yang mengarah pada “Memotong kepercayaan umat pada pemimpin yang berkuasa saat ini atau sistem yang bukan khilafah (termasuk pancasila), dan menawarkan Khilafah sebagai solusinya” Indikator keberhasilan tahap ini adalah MENYATUNYA PEMIKIRAN DAN PERASAAN UMAT UNTUK MENENTANG PEMERINTAHAN YANG ADA (Pemerintahan Bukan Khilafah). Keberhasilan tahapan ini ditentukan oleh tiga faktor: (1) Pemerintahan yang berkuasa lemah sehingga banyak celah untuk dikritik. (2) Umat yang mudah diprovokasi, karena literasi rendah, tidak suka baca, suka diiming-iming surga, dan takut diancam neraka. (3) Kader HT yang secara intensif dan tidak kenal lelah serta pantang menyerah untuk terus menyebarkan opini dan memprovokasi masyarakat.
  3. Pendirian Khilafah (Tatbiq). Umat yang tidak percaya pada pemerintah dan mereka percaya pada HT akan mudah diajak untuk melakukan kudeta menumbangkan sistem pemerintahan yang ada dan menggantinya dengan Khilafah. Ini disebut oleh Hizb Tahrir sebagai “Khilafah Berdiri atas keinginan Umat” bukan semata-mata keinginan HT.

Setelah Khilafah berdiri ngapain? Yang pertama milih kholifah. Yang akan menjadi Kholifah tentu saja yang pertama adalah PIMPINAN HIZB TAHRIR INTERNASIONAL. Tapi bisa saja ditawarkan pada yang lain tergantung deal politik, yang penting bagi HT mau menerapkan UU (Dustur) yang sudah mereka buat. Setelah menyusun perangkat2 kekhilafahan, tahap selanjutnya konsolidasi internal memperkuat negara Khilfah yang baru berdiri. Setelah Kekhilafahan kuat, maka akan meminta negara lain untuk masuk bagian kekhilfahan secara sukerela. Jika secara sukarela menolak, maka ditawari untuk membayar upeti perlindungan oleh Khilafah. Jika menolak juga maka yang dilakukan selanjutnya adalah memerangi negara2 yang tidak mau bergabung menjadi bagian negara khilafah. Dengan cara seperti ini UNITED STATE KHILAFAH ISLAMIYAH berdiri sebagai perwakilan Tuhan di Muka Bumi.

Jadi setelah mendapatkan gambaran ini, Mana yang dipilih NKRI Pancasila atau Khilafah?

NKRI dikepung Neo NII?

Pilpres berakhir, perhitungan suara sedang dilakukan. Hitungan cepat menunjukkan kemenangan bagi Pasangan Jokowi KH Ma’ruf Amin. Seperti umumnya pilpres lalu, perkiraan hitungan cepat yg bersifat sampling mungkin tidak melesat dari perhitungan populasi data. Hal yg menarik dari hitungan cepat adalah kenaikan suara PKS.

PKS adalah gabungan dua partai yaitu Partai Keadilan (kepanjangan dari partai Transnasional Ikhwanul Muslimin) dan Partai Islam Sejahtera (partai mengusung ideologi dan gerakan NII/DI TII). Kenaikan suara PKS saat ini tak lepas dari dukungan suara dari FUI FPI dan HTI, konon HTI pada kali ini memperbolehkan anggotanya mencoblos, dan partai yg paling memungkin dicoblos anggota HTI setelah PBB membelot ke kubu 01 adalah PKS. Masuknya suara FUI, FPI, HTI pada PKS tidak mengubah ideologi PKS, tapi justeru memperjelas ideologinya. PKS adalah partai yg memperjuangkan tegaknya NEGARA ISLAM INDONESIA, jika pimpinan tertinggi Republik ini sudah berada di tangan PKS maka akan dibentuk UNITED ISLAMIC STATE (Jamiatul Muslimin) dengan menggabungkan beberapa negara lain yg dipimpin anggota ikhwanul muslimin lainnya. Pada saat ini negara yg dipimpin kader Ikhwanul Muslimin adalah Turki oleh Erdogan (inilah sebabnya peserta liqo PKS selalu mengelu2kan Erdogan sebagai presiden mereka), sebentar lagi Malaysia dg Anwar Ibrahim. Konsep Jamiatul muslim ini mirip dg konsep Khilafah HIzbut Tahrir.

Berapa kekuatan mereka yg punya cita2 NEO NII di Indonesia. Jika didasarkan pada perkiraan QC antara 7-9% pemilih (jumlah pemilih 2019 sekitar 133 juta), maka jumlah mereka sekitar 12 juta orang. Ada 12 juta orang dewasa yang merupakan simpatisan, anggota, dan kader dari NEO NII. Jumlah yg harus diperhitungkan dg baik bagi eksistensi NKRI.

Bukankah mereka juga menerima NKRI PANCASILA? Menerima tapi tidak berhenti memperjuangkan agar Indonesia dihukumi dengan hukum islam dan semua jabatan diisi oleh muslim dari golongan mereka.

12 juta itu kecil? Iya, kecil tapi mereka paling riuh di media sosial, karena sebagian besar dari mereka dari kaum intelektual lulusan perguruan tinggi. Dan di kehidupan nyata mereka militan selalu memainkan politik identitas dan memberikan pada pengikutnya jaminan masuk surga, sehingga mampu menggolkan calon pemimpin apapun kondisinya seperti kasus 02 menjadi pemimpin yg islami dan ulamai dengan modal Ijmak para Ustadz dan tebar isue ‘Jokowi bagian dari Soekarnoisme yang mana PDIP diidentikan dengan PNI yang pernah bersatu dengan PKI“, lalu mengajak masyarakat memilih 02 dengan alasan didukung para Ustadz dan tidak ada kaitannya dengan PKI.  Padahal secara akal sehat 01 malah berpasangan dengan Ulama, dan platform Gerindra tak jauh beda dengan PDIP juga PSI. Maka kita bisa menyaksikan pengaruh 12 juta ini bisa mempengaruhi masyarakat di 14 propinsi yaitu Aceh, Riau, Sumbar, Sumsel, Bengkulu, Banten, Jabar, NTB, Gorontalo, Maluku Utara, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, Sulawesi Tenggara, dan Kalimantan Selatan. Ada 42% wilayah di Indonesia yg berhasil digiring dalam isu agama, jangkauan wilayah meningkat 10-15% dari tahun 2014 dengan beberapa wilayah terparah pengaruh Radikalisme Isu Agama Islam dalam pemilu yaitu di Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Kalaimantan Selatan, Maluku Utara, dan NTB.

Jika melihat Sejarah NII di Indonesia tentu kita tidak terkejut. Aceh bersama Teungku Daud Beureuh pernah mendeklarasikan NII, Sumbar-Jambi-Riau pernah jadi pusat PRRI/PERMESTA, Jawa Barat juga pernah jadi Basis pemberontakkan DII/TII. Maluku Utara sampai saat ini masih ada Kesultanan Ternate.

Jika Indonesia dipecah jadi negara2 kecil, maka diperkirakan wilayah2 ini akan jadi kerajaan atau kesultanan Islam. Nah, merawat Indonesia dengan keberagamannya tentu bukan hal mudah bukan? Inilah sebabnya 1945 Para Ulama berijmak “PANCASILA adalah dasar negara yg bisa mempersatukan keberagaman” dan “NKRI adalah bentuk negara yg mewadahi keberagaman dari 33 propinsi”. Akankah NKRI PANCASILA yg mewadahi keberagaman di Indonesia tetap eksis ditengah gempuran keinginan untuk melakukan Islamisasi Sistem Kekuasaan?

Semuanya akan berpulang pada warga negara Indonesia. Mampukan bertahan merawat NKRI dengan keberagamannya atau rela dipecah belah oleh aliran-aliran Radikal Islam yang ingin mendirikan sekedar NKRI BERSYARIAH atau meluas menjadi UNITED ISLAMIC STATE (Jamiatul Muslimin ala Ikhwanul Muslimin) atau mengglobal menjadi Khilafatul Islamiah ala Hizbut Tahrir.

Logical Fallacy #Obrolanpagi1

Topik obrolan pagi ini dengan suami saya adalah Logical fallacy.  Obrolan berawal dari ‘curhat’ yang dicurhatin antara kita biasalah seputar kerjaan kantor dan tumbuh kembang anak-anak. Mostly sih suami curhat kerjaan kantor.

“Ini saya nugasin seseorang untuk mendaftar menjadi peserta lomba olimpiade guru, lalu dia berkata “Kenapa saya Pak? Kenapa tidak guru kelas 12 saja?” Saya katakan pada ibu tersebut, “Ini karena ibu merupakan guru terbaik yang kami pilih!”. Guru yang ditugaskan menjawab, “Berarti guru kelas 12 itu Jelek dong!

ちょうと。。。seketika pikiran saya mengaitkan dengan fenomena MEDIA SOSIAL terutama GROUP IKATAN ALUMNI yang isinya semua lulusan THE TOP 5 UNIVERSITY IN INDONESIA. Logika seperti itu sering diungkapkan mereka ketika diskusi apapun termasuk masalah politik.

Nah, menarik nih untuk menggali ‘behind the main‘. Kita diskusi dari kasus ini. Tentu saja sisi yang kita ambil adalah sisi logika matematika. Mari kita lihat logika berpikir guru tersebut:

  • Premis 1: Guru yang diutus menjadi peserta olimpiade adalah guru terbaik.
  • Premis 2: Guru kelas XI diutus menjadi peserta olimpiade.
  • Kesimpulan: Guru kelas XII adalah guru yang tidak baik.

Apakah logika guru ini dalam mengambil KESIMPULAN sudah tepat?

Seketika saya teringat logika itu mirip dengan fenomena masyarakat jelang pilpres ini, logika yang dibangunpun sama.

  • Premis 1: Pemimpin Indonesia haruslah orang yang mampu bekerja keras membangun Indonesia menjadi negara yang mandiri dan berdaulat.
  • Premis 2: Presiden Jokowi saat ini terbukti mampu bekerja keras menata Indonesia menjadi lebih baik.
  • Kesimpulan: Capres Prabowo tidak mampu bekerja keras membangun Indonesia.

Logika ini persis sama bukan?

Ini adalah sebuah LOGICAL FALLACY karena seseorang melihat dunia ini sekedar HITAM – PUTIH, dia tidak melihat bahwa diantaranya ada warna MEJIKUHIBUNIU atau warna pelangi. Logika rasional orang-orang ini terbelenggu pada ‘Right or Wrong’. Baginya hanya ada dua hal saja YES or Not. Dalam rasio berpikirnya tidak sampai bahwa fenomena jagat raya ini bisa dibuat ‘skala rating’ dari mulai tidak, kurang, sedang, baik, terbaik….dst. Bahkan dia tidak mampu melihat randomisasi sebuah fenomena. Rasionalisasi holistik berpikir orang seperti ini menjadi sangat lemah sekali.

LOGICAL FALLACY ini pun terjadi karena dia bersikap ‘BLAMING IDEALISM‘ bukan ‘REFLEKTIF FAKTUAL’, ketika mencermati fenomena dia cenderung melihatnya sebagai sesuatu yang idealis kemudian mencari apa atau siapa yang tertuduh, dia bukan orang yang mencermati fakta dan mengambil kesimpulan dari fakta tersebut. Maka jadilah kesimpulan-kesimpulan yang dia hasilkan berupa negasi-negasi seperti contoh di atas.

Bagaimana Kesimpulan jika seseorang melihatnya sebagai seorang yang Reflektif Faktual dan berpikir rasional holistik? Untuk kasus 1:

  • Premis 1: Guru yang diutus menjadi peserta olimpiade adalah guru terbaik.
  • Premis 2: Guru kelas XI diutus menjadi peserta olimpiade.
  • Kesimpulan: Guru kelas XI termasuk salah satu guru terbaik.[Kesimpulan yang dihasilkan bukan negasi dari kesimpulan ini. Bukan guru kelas lain tidak baik, guru kelas lain pun terbaik juga, guru kelas XI salah satunya].

Kesimpulan yang tepat akan melahirkan tindakan tertentu, maka tindakan guru yang logikanya Ok sebagai salah satu guru terbaik di sekolah ini saya berpartisipasi dalam Ikut Olimpiade Guru.  Dia akan ikhlas menjalankannya karena dia berpikir rasionalis holistis tanpa blaming idealis tapi reflektif faktual “oh iya memang saya layak dipilih untuk berpartisipasi dalam lomba”

Untuk kasus 2:

  • Premis 1: Pemimpin Indonesia haruslah orang yang mampu bekerja keras membangun Indonesia menjadi negara yang mandiri dan berdaulat.
  • Premis 2: Presiden Jokowi saat ini terbukti mampu bekerja keras menata Indonesia menjadi lebih baik.
  • Kesimpulan: Presiden Jokowi layak dipilih kembali menjadi pemimpin Indonesia. [kesimpulan yang dihasilkan bukanlah negasi dari kesimpulan ini. Bukan Prabowo tidak bisa bekerja keras, Prabowo pun layak dipilih dengan pertimbangan kerja keras yang sudah dilakukannya untuk Indonesia.]  

Kesimpulan yang tepat akan menghasilkan tindakan tertentu. Berdasarkan kasus 2 maka tindakan yang mungkin dilakukan seseorang adalah “Memilih kembali Pak Jokowi sebagai presiden berikutnya“. Dengan pemikiran yang rasionalis holistik bukan blaming idealis, keputusan ini akan diambil tanpa melakukan HATE SPEECH.

朝話すことが面白いです、でもふくざつなトピクですね。

Mengapa membenci pemerintahan Jokowi?

Kita tentu sering terheran-heran mengapa sebagian dari orang Indonesia sangat membenci pemerintahan Jokowi. Namun, keheranan ini sebenarnya gampang dijawab, penyebabnya adalah:

  1. Alasan politik: keinginan untuk berkuasa pada periode selanjutnya, yaitu #gantipresiden
  2. Alasan ideologi: keinginan untuk mengganti sistem pancasila dengan sistem lainnya seperti NKRI BERSYARIAH yang diperjuangkan FUI & FPI, Khilafah yang diperjuangkan HTI, dan Jamiatul Muslimin yang diperjuangkan PKS; atau #gantisistem.

Dan hal yang unik terjadi selama 2014 sampai kini (Januari 2019) adalah alasan politik ideologi ini bersatu dan berpadu dengan agenda yang sama #gantipresiden. Walaupun Pak Prabowo jelas-jelas menolak untuk melakukan #gantisistem, namun bagaimanapun para pejuang #gantisistem adalah garda terdepan yang mengeluarkan IJMAKUSTADs I&II, garda utama dalam memobilisasi masa 212 REUNION yang menghadirkan Capres02 pada podium, dan pasukan siber yang paling gigih menyebar berita yang mendeskriditkan pemerintahan Jokowi di media sosial.

Jika hanya sekedar alasan politik, seharusnya partai politik bisa menempatkan diri menjadi oposisi yang baik. Kritis terhadap pemerintah, Tak perlu sebar HOAX dan berbicara tanpa data. Bicara dengan data dan fakta, kritis habis kebijakan pemerintah tidak apa2. Itu yang dilakukan dengan cerdas oleh Gerindra dan PDIP tahun 2009-2014, sehingga kedua partai ini bisa memenangkan hati rakyat dengan terpilih sebagai partai pemenang pemilu bagi PDIP, dan Gerindra perolehan suaranya naik secara signifikan.

Bagi kelompok-kelompok #antiIdeologiPancasila mendukung gerakan #gantipresiden adalah pilihan tepat mereka, karena mereka merasa organisasi mereka dihancurkan oleh pemerintahan Jokowi dengan terbitnya PERPU yang kemudian menjadi UU ORMAS. Rasa dendam dan terancam atau SURVIVAL OF THE FITNESS atau GARIZAH BAQO adalah landasan mereka mendukung gerakan ini dan membenci pemerintahan Jokowi. Kelompok ini memainkan isu-isu diantaranya:

  1. PEMERINTAHAN JOKOWI MELAKUKAN KRIMINALISASI ULAMA Faktanya: ulama mana yang ditangkapin atau dijeblosin ke penjara oleh Pemerintah Jokowi? TAK ADA. Yang ada adalah HRS yang lari dari proses hukum, tidak siap menghadapi proses hukum. Adakah ustadz atau aktifis HTI yang dijebloskan ke penjara? Di negara Turki banyak aktifis Hizbut Tahrir yang dipenjarakan loh? Tapi tidak oleh Pemerintahan Jokowi. Apakah fakta ini mau diingkari?).
  2. Jokowi berutang banyak untuk pembangunan. Jokowi berutang untuk pembangunan infrastruktur yang dinikmati rakyat. Dengan pembangunan ini distribusi barang dan jasa lebih lancar, waktu tidak banyak terbuang, … Jokowi berutang tapi untuk rakyat bukan untuk memperkaya dirinya sendiri. Salahnya dimana?
  3. Jokowi bekerjasama dengan China dan dekat dengan China. Investro terbesar di Indonesia adalah Singapore, Jepang, Korea Selatan, dan China. Pemerintahan Jokowi dekat dengan semua negara investor itu wajar, karena kita membutuhkan mereka untuk menggerakan roda ekonomi. Tak mungkin kita mengajak China berperang, bisa mati kutu kita. Dekat dengan China adalah wajar, karena China sekarang menjadi negara besar salah satu pemegang haegomoni ekonomi dunia.

Jadi jelaslah bahwa isu-isu yang disebarkan oleh kelompok kebelet #gantiideologi yang diamini oleh kelompok #gantipresiden hanyalah upaya untuk mendeskriditkan pemerintaha saja tanpa landasan logika rasional, mereka hanya menggunakan alasan emosional dan naluri mempertahankan diri.

Jadi alasan sesungguhnya, “Mengapa mereka membenci pemerintahan Jokowi” adalah ini semua karena mereka merasa marah pada diri mereka sendiri, marah kenapa pemerintahan Jokowi bisa didukung rakyat banyak, sementara mereka pendukungnya hanya 7-13 juta saja. Maka opini-opini kebencian pada pemerintah Jokowi pun disebarkan tujuan agar “Perasaan rakyat ikut menderita seperti yang mereka rasakan saat ini”

Jadi sungguh rugi, kita termakan oleh keinginan emosional mereka, lalu kita menjadi sosok-sosok yang lebih suka mencaci dan merasa menderita, dibandingkan jadi sosok yang bergembira menikmati pembangunan. Cuma mau pesan aja, “JANGAN LUPA BAHAGIA!”