Serial Keluarga Kemiri: PERPU

part one

Enok: Bah, lagi rame PERPU ORMAS di Medsos.

Tole: PERPU sebagai bentuk pemerintah kalah argumen. Pemerintah otoriter eta teh!

Abah : Hemmm, itu karena Tole memandang dari sisi korban. Ari ceuk Abah mah. Ini Abah pakai kacamata pemimpin yg udah disumpah buat jaga pancasila dan NKRI. PERPU itu upaya pemerintah menjaga ideologi bangsa. Jika pemerintah masa bodoh dengan ormas, dan membiarkankan missleading dari kerangka kebangsaan, maka artinya NEGARA ABSEN DALAM MENJAGA IDEOLOGI.

Enok: negara kudu ya Bah, hadir dalam menjaga ideologi bangsa?

Abah: kudu atuh Nok, mun henteu “apa yg akan mendasari persatuan dan kesatuan Indonesia?” Kesamaan Agama? Tidak. Kesamaan suku? Tidak. Yg menjaga kesatuan dari sabang sampai merouke ya ideologi bangsa. Negara haruslah hadir menjaganya.

Enok: Tah, Kang Tole regeupkeun!

Tole : Gandenglah Nok!

Emak: Geus! Udah tong ribut wae adi jeung lanceuk teh, tah kulub sampeu panas keneh.

Abah: Tah! Alhamdulillah masih manggih Kulub sampeu, lain kulub batu.

———-

Part two

Tole : Bener represif, dzlim, otoriter pemerintah sekarang.

Emak: Eh, eta maca koran kukulutus kitu.

Enok: Masih terkait PERPU Kang Tole? Kan udah Abah Jelaskan.  PERPU itu wujud kehadiran pemerintah dalam menjaga ideologi negara.

Tole: Nih, telegram juga udah diblokir!

Emak: Lain diblokir meureunan tapi dinonaktifkan sama pemerintah.  Ya, wajar we atuh, da jaman kiwari saha nu rek make telegram deui? Geus aya email, SMS, jeung handphone.  Mun aya kabar penting teu kudu pake telegram deui.

Abah: Lain telegram kantor pos mak. Ieu mah telegram orang rusia.  Yeuh, Le! Coba kamu pikirkan, “andaikan kita hidup dalam kekhilafahan islamiyah, memerintah berdasarkan syariat islam.  Lalu ada sekelompok orang membuat organisasi menggunakan azas demokrasi liberalisme.  Kira-kira Sang Kholifah akan membiarkan? Lalu ada berbagai aplikasi yang digunakan orang2 untuk menyebarkan isu-isu dan menggalang kekuatan untuk melakukan revolusi atau bughot terhadap sistem khilafah, apakah kholifah akan membiarkannya? Apakah Kholifah akan membiarkan sistem khilafah runtuh?” Sok tah, kamu yang suka ngaji jawab!

Tole: Gak tahu sih Bah.  Yg jelas mah, ya Kholifah akan melakukan segala cara agar sistem khilafah tetap eksis.

Abah: Nah, kan.  Abah mah yakin, Kholifah akan melakukan pelarangan terhadap organisasi demokrasi-liberalisme, bahkan akan menangkap anggota organisasi itu jika tetap bandel, pun blokir terhadap media2 baik cetak, elektronik, atau sosial yang dapat mengurangi keloyalan masyarakat terhadap sistem khilafah.

Enok: jadi maksudna gimana Bah, enok gak ngerti!

Abah: Pemimpin punya tugas menjaga ideologi negara.  Kalau pemimpin mengeluarkan PERPU atau blokir situs atau media sosial, ya jangan dianggap sebagai dzalim-represif dll.  Itu karena mereka sedang menjalankan tugas sebagai pemimpin.  Kalau gak setuju dg tindakan pemerintah, bisa ajukan ke MAHKAMAH KONSTITUSI, jangan sampai provokasi orang ngajak duma demo demi membela kelompoknya.

Enok: Oh gitu, tuh Kang Tole! Tong demo wae, sono bikin banding ke Mahkamah Kontitusi.

Advertisements

Menggoyang rakyat, lalu menggoyang TNI

Saya warga negara bisa,

Tapi saya punya pengalaman hidup yang lumayan kompleks.  Ayah saya sebagai TNI yang ditugaskan menjalankan fungsi dwi fungsi ABRI dalam level tatanan pemerintahan terendah di Masyarakat.  Sejak kecil saya terbiasa melihat ayah saya meng”handle” para begundal dan preman, pun termasuk kerjasama dengan beberapa ulama NU dan PERSIS di wilayah untuk membina masyarakat di daerahnya.  Maka jangan heran jika, kriminalisasi yang asalnya sangat parah kemudian bisa berkurang, pun pengajian-pengajian menjadi subur dan tambah subur ketika seorang Kyai NU terkenal datang ke kampung.

Lalu saya masuk ke IPB berkenalan dg berbagai gerakan transnasional dari mulai ingin mendirikan kampung islam, negara islam di Indonesia sampai mendirikan khilafah.  Siapapun anak IPB langsung atau tak langsung pernah berhubungan dg gerakan transnasional.  Pada saat di gerakan ini kemudian saya mengenal “Talbun Nasroh” meminta pertolongan, salah satunya minta pertolongan pada ABRI.  Saya pernah duskusi dg alm. Bpk terkait hal ini, lalu bapak bilang, “awas bahaya, ngaji politik! ABRI punya mekanisme, tergantung pimpinan, tapi ABRI pernah punya riwayat kelam, ketika jaman PKI, TNI AU dianggap mem-back up PKI, TNI AD vs TNI AU diadu domba” 

Gerakan transnasional ada dua jenis, jenis pertama justeru menjauhi ABRI.  Loe anak ABRI, loe gak akan punya tempat di pengajian ini, tujuan mereka adalah mendirikan NII, dengan cara apapun dengan masuk menjadi partai resmi atau lewat jalur tarbiyah, tapi mereka tetap satu dalam hal “anti ABRI dan POLRI”.   Jenis kedua, justeru memanfaatkan anak dan keluarga ABRI/POLRI untuk melindungi gerakan mereka.  

Bagaimana cara mendekati ABRI/polri? Jika kontak secara langsung, yaitu gerakkan ini membuka dialog pada ABRI aktif, menyentuh perasaan kemuslimannya, selanjutnya mereka memasukkan isme2 gerakkan, sampai akhirnya anggota ABRI terutama para perwiranya menyetujui gerakkan mereka, dan berada dipihak mereka.  Ketika gesekkan antara gerakkan tersebut dengan pemerintah sah, maka mereka bisa berlindung pada para perwira ABRI/POLRI yg berada pada pihak mereka.

Namun, mendekati ABRI/POLRI tentu tak mudah.  Mengapa? ABRI/POLRI mempunyai tujuan yg jelas, mempertahankan NKRI, dan aktifitas gerakkan transnasional yg akan menyusup pada mereka, saya pikir dengan sejarah ABRI yang panjang mereka cukup waspada.  Sehingga mendekati dan menyusup serta minta tolong pada ABRI, bukan hal mudah.  Betul, gerakkan transnasional berhasil mendekati pensiunan ABRI/POLRI, namun para pensiunan ABRI/POLRI bila sudah tidak aktif, senjata dilucuti dan jaringan komunikasi dengan yg masih aktif pun terputus.  Jaringan komunikasi hanya terjadi dikalangan pensiunan saja.  Jadi, tidak banyak bantuan bisa diberikan pada gerakan transnasional ini.

Apakah gerakkan transnasional akan berhenti berusaha untuk melakukan tholabun nusroh? Jika pertolongan ini tidak bisa diraih, maka upaya berikutnya adalah melemahkan ABRI dan POLRI.  Lihatlah Panglima ABRI dan Kapolri dijadikan sasaran.  Pak Gatot Nurmantyo vs Jokowi, pada saat 212 muncul simpati luar biasa dari beberapa kalangan gerakkan pada Panglima ABRI, sampai kopiah putihnya dielu-elukan.  Harapannya apa? Panglima menjadi simpati dengan perjuangan mereka, siap menjadi pembela mereka melawan POLRI dan Presiden jika diperlukan. Lihatlah berbagai posting dilakukan untuk mencitrakan Panglima ABRI pada satu sisi tapi membunuh karakter Kapolri dan Presiden pada sisi lain.  Tujuannya? Sudah jelas agar mereka mendapatkan simpati dari ABRI,  ketika Kapolri dan Presiden memberangus mereka, mereka bisa pada ABRI, karena selama ini mereka baik pada ABRI.

Menggoyang ABRI adalah targetan selanjutnya setelah berhasil mengoyang rakyat.  Rakyat pro pada demo2 yg mereka inisiasi, nurut pada seruan untuk boikot produk atau boikot ikut dalam kegiatan keagamaan di istiqlal atau boikot nonton salah satu stasiun teve.  Kita sebagai rakyat biasa, yg bisa membaca fenomena yg terjadi, harapan saya cuma satu ABRI-POLRI-jajaran Kepresidenan tetap kompak dalam menata NKRI.  Revolusi hijau ataupun hitam dengan jalan kudeta, tentu menjadi agenda dari gerakkan transnasional.  Kami rakyatlah yang akan menjadi korban dari revolusi tersebut.  ABRI-POLRI-Presiden yg punya kebijakkan untuk meminimalisir efek dari revolusi atau bahkan menekan laju revolusi hitam.

Kita sebagai rakyat biasa dan wanita patut diingat, bila revolusi hijau atau hitam diberi ruang di indonesia, kemudian gerakkan tradnsnasional itu berhasil menduduki kekuasaan di Indonesia.  Hal paling buruk bisa terjafi pada para wanita adalah, “Siapkah kita, sebagai wanita dikurung di rumah? Tidak berhak keluar rumah kecuali dikawal mahrom? Bayangkan tak ada lagi wanita dengan bebas dan aman berjalan mengendarai motor ke kampus, ke pasar dan ke tempat kerja? Lalu memesan taksi online atau taksi jalanan untuk pergi ke mall sendirian?  Lelaki! Ya, lelaki dipandang sebagai srigala yang punya potensi memerkosa dan melecehkan para wanita, dan wanita adalah domba yang siap dterkam para srigala, sehingga domba harus selalu dikawal pengembala agar aman.  Begitulah pandangan terhadap wanita dan lelaki oleh gerakkan ini, lelaki dianggap srigala dan wanita adalah sekumpulan domba.  Siapkah kita para wanita? Mana yg lebih disukai? Kehidupan muslim dan muslimah Nusantara saat ini? Atau kehidupan muslim dan muslimah seperti pandangan gerakkan transnasional yg ingin membudaykan hubungan SRIGALA-Domba?” So, let’s think it!

Membidik Indonesia

“Mencari titik lemah dari pemerintahan sah.  Menjadikan titik lemah sebagai isue yg digoreng. Menyajikan hasil gorengan tersebut pada masyarakat.  Tujuannya agar masyarakat tidak percaya lagi pada pemerintah yg sah”

Seperti itulah gerakan politik yg berusaha mengganti presiden dan sistem suatu negara.  Jadi, kita tak perlu heran bila kebijakan pemerintah terus dibombardir isu.  Yg perlu kita lakukan adalah move on dg pembangunan.   Kita punya pengalaman buruk pada pemerintahan lalu, banyakannya kritikan membuat pemerintahan lalu menjadi stagnan.  Pemerintahan saat itu kayak salah langkah, mundur kena mau kena, akhirnya hanya sedikit melangkah dengan hati-hati sekali.  Tentu kita semua ingin maju, ingin #moveON dari kondisi stagnan tersebut.  Maka saya pada pemerintahan Jokowi, kita gak boleh seperti itu lagi, kalau kita punya cita2 INDONESIA MAJU, INDONESIA BAGUS, INDONESIA HEBAT! Jadi, yuk kita buat Indonesia Bagus, Maju, dan Hebat!

Upaya memutuskan “kepercayaan umat terhadap pemerintah yang sah” dilakukan dengan berbagai dalih yang islami, misalnya JIHAD SYIASI atau MUHASABAH BIL HUKAM.   Bahkan hadits yg mengatakan, “Muslim yg paling baik adalah yg bermuhasabah pada pemimpin, kemudian pemimpin itu memenggal lehernya”. Begitulah berbagai dalil terkait pentingnya menentang pemimpin sah yang disebut mereka sebagai “thogut atau kafir atau komprador” terus dikumandangkan sebagai legitimasi atas tindakan  mereka.  Di sisi lain, ayat2 terkait bughot (menghianati negara) dan hukuman bagi org yg melakukan bughot mereka tutupi.  

Indonesia dibidik oleh gerakan transnasional untuk dijadikan targetan sebagai NEGARA ISLAM INDONESIA ataupun khilafah islamiyah, benarkah? Indonesia dengan potensi muslim terbesar hampir 200 juta dan kekayaan SDA yg memang merupakan wilayah yg empuk.  Semua gerakan sudah dimulai sejak tahun 1980-an.

Lalu darimana harus mulai? Mengambil pola keberhasilan kaum muda dalam kebangkitan Indonesia oleh mahasiswa STOVIA 1908, revolusi 1945 yg diperjuangkan salah satunya mahasiswa ITB yaitu SOEKARNO, dan gerakan 1966 sudah jelas digerakkan para aktifis kampus.  Berdasarkan pengalaman itu,  gerakan transnasional menjadikan kampus sebagai titik tumbuh paham-paham transnasional. Kampus berplat merah menjadi  kawah candradimuka tempat cuci otak  dan kaderisasi gerakan transnasional.  Kini kita saksikan tak ada satu pun kampus plat merah steril dari gerakan transnasional.  Di kampus-kampus plat merah inilah pengkaderan dilakukan…selama kurang lebih 30 tahunan.  Dan tidak hanya menyasar pada kampus plat merah, tapi juga mahasiswa indonesia di luar negeri.  

Gerakan transnasional bekerja di kampus plat merah melalui unit kegiatan mahasiswa resmi dan responsi keagamaan, juga secara tidak resmi dengan membentuk pemgajian terbatas dengan nama liqo atau halaqoh di rumah kos, begitu pula mahasiswa indonesia di luar negeri, dikumpulkan dalam liqo/halaqoh yg terdiri dari 1-4 org dalam kelompok. Begitulah pola-pola gerakan transnasional sejak 30 tahun lamanya mahasiswa Indonesia di perguruan tinggi plat merah dan mahasiswa indonesia di luar negeri menjadi sasaran.  

Bgmn hasilnya? Reformasi adalah salah satunya, ini titik mula memberikan kesempatan pada gerakkan ini untuk menjadi partai dan ormas dengan segala kebebasan  berhimpun dan berkumpul untuk mengeluarkan pendapatan.  Tanpa peduli bahwa pendapat tersebut bertentangan dg ideologi yang dianut bangsa. Semuanya akan berdalih, it’s just opinion.  Pemerintah tidak boleh memenjarakan orang yang hanya beropini.  Perangkat hukum didesain untuk sulit memenjarakan “gerakkan pemikiran”,  memenjarakan gerakan pemikiran berarti REZIM ORBA.  Kini ada sekitaran 8 jutaan org yg cukup loyal dg ide dan gerakan transnasional, bisa dilihat dari partai yg mereka pilih saat pilkada 2014. Itu blm semua, karena ada gerakan transnasional yg “golput”.  Ada 57 juta golputers pada pemilu 2014, anggap 10% dari golputers penyebabnya ideologi, jadi total selama 30 tahun  pengkaderan gerakan transnasional telah menghimpun sekitar 15 juta orang. Bayangkan 15 juta orang, tentu sudah bisa membuat sebuah kota bukan? Jumlah ini akan terus bertambah setiap tahunnya, seiring lembaga pendidikan dan pesantren yang mereka kelola, ditambah tak berbendungnya gerakan masif penyebaran ide2ini terutama di kampus plat merah, yg disokong oleh dosen-dosen yang juga bagian dari gerakan transnasional ini.

So, can you imagine this “ONCE UPON TIME,  INDONESIA WILL BE A STORY,  just a history, like Majapahit with nusantara……..? And Jokowi dengan pembangunannya akan jadi sejarah seperti Sejarah Syailendra dengan Borobudurnya,  Soekarno-Hatta dengan proklamasinya akan jadi sejarah terlupakan sebagaimana Gajah Mada dengan SUMPAH PALAPAnya.  INDONESIA DOES NOT EXIST! Apakah ini yang kita inginkan? So, let’s think about it!

Agama, politik, dan negara: where are we?

Isu ini mengemuka akhir-akhir ini.  #PILKADADKI suka atau tidak suka, secara fakta menjadi pemicu bagi kegegaran agama (islam) dalam tatanan pemerintahan di Indonesia.  Bukan sebuah rahasia lagi pada #PILKADADKI muncul slogan-slogan PEMIMPIN MUSLIM UNTUK JAKARTA BERSYARIAH. #PilkadaDKI menjadi momen kebangkitan NKRI Bersyariah (tentang NKRI BERSYARIAH, telah ditulis sebelumnya). 

Penangkapan Ustadz Muhammad Al Khathath (Gatot Saptono) bukan sekedar karena inisiasi aksi #313 tapi karena memang bukti-bukti dunia maya, untuk ide #NKRIBERSYARIAH yg digulirkan sejak tahun 2012 tertuju pada al ustadz (silahkan Googling, informasi pada media2 resmi yg diterbitkan FUI atau FPI dan juga media2 islam).  Dan juga bukti2 lain  hanya polisi yang tahu.

Jika penangkapan atas kasus makar #212, tidak terkait ideologi, hanya terkait skenario ketidaksetujuan dg pejabat yang memerintah. Maka penangkapan makar #313 lebih ideologis, yaitu mengancam pancasila.

Yes, islam is ideology….

Kami aktifis rohis sewaktu di SMA atau perguruan tinggi, sangat hapal bahwa islam sebagai ideologi khas.  Islam memerlukan negara untuk merealisasikan hukum terkait pidana seperti zina, minum khamar, mencuri, dan membunuh.  Lalu kami juga sangat hapal bahwa dengan sebutan Pemerintahan Thogut atau Pemerintahan Kufar untuk pemerintahannya yg tidak dijalankan berdasarkan syariat islam, pun disematkan pada pemerintahan demokrasi pancasila  Dan kami juga sangat sadar bahwa ide-ide terkait islam ideologi dibawa oleh dua jaringan.  Pertama, jaringan transnasional atau partai internasional seperti Ikhwanul Muslimin (di Indonesia bernama PKS) dan Hizb Tahrir dengan pemimpinan utamanya berada di negara sekitar Arab.  Kedua, jaringan lokal semodel NII atau metamorfosisnya.  Kedua jaringan ini bergerak masuk dlm sistem menjadi partai dan diluar sistem menjadi ORMAS atau ada juga gerakan di bawah tanah.

Jaringan pertama marak sekitar tahun 80-an, seiring gegap gempita REVOLUSI IRAN.  Jika saya masuk SMA tahun 1987, maka sudah lebih dari 30 tahun untuk kelompok pertama melakukan kaderisasi.  Dan tentu saja lebih lama lagi untuk jaringan kelompok lokal, karena NII pun tumbuh dan ada seusia Indonesia berdiri.  Kini kedua jaringan tersebut menyatu dg agenda yang sama menjadikan Indonesia sebagai cikal bakal pendirian Negara Islam.  Jakarta dijadikan target utama, karena seperti kata DN AIDIT DALAM FILM G30S PKI “Jika ingin menguasai Indonesia, kuasai pulau Jawa, jika ingin kuasai Jawa maka kuasai Jakarta”.  Quote DN AIDIT ini ada benarnya, “Aksi 411 dan aksi 212 didatangi oleh muslim di wilayah yang tidak punya kepentingan dengan PILGUB DKI, ada peserta dari Palembang, Padang, Medan, Makasar, selain dari pulau Jawa.  Magnet Jakarta memang cukup besar.  Membludaknya dukungan terhadap aksi 212 dianggap sebagai sinyal positif kerinduan umat akan syariat islam tegak di Indonesia.  Momen sholat  berjama’ah atau peringatan hari besar digunakan untuk memelihara perlunya “umat islam  menjadi pemain dalam percaturan pemerintahan indonesia” “keharusan DKI dipimpin muslim yg bisa menjadi entry masuknya PERDA SYARIAH atau DKI BERSYARIAH” Dan sebetulnya dalam hal ini makna “pemain” bukan sekedar umat islam atau muslimnya, karena 95% yg mengisi birokrasi sekarang ini pun muslim, tapi maknanya IDEOLOGI ISLAM.

Is it logic?

Terus terang aja, saya mah agak bingung.  Apa memungkinkan tertunaikannya DKI BERSYARIAH jika gubernurnya muslim? Lihat saja JABAR gubernurnya Muslim, bahkan diusung oleh partai yg punya cita2 mendirikan negara islam.  Tapi apakah bisa menjadikan JAWABARAT BERSYARIAH? Apakah ada hukum ikhtilat, Liwath, Zina, Qishosh, dll di Jabar???  Begitu pun di Sumbar, adakah SUMBAR BERSYARIAT, pdhl wilayah ini terkenal dg adat bersanding syaro, syaro bersanding kitabulloh? Bisakah? Jadi? Think 2x. Jangan2 ini akal2an saja? Atau memang Jakarta jadi entry point, lalu wilayah lain nanti akan ikutan….seperti paham gerakan ikhwanul muslimin “dari individu, ke keluarga, ke daerah, daerah ke negara, negara2 bersatu jadi khilafah islamiyah…..”?

Pancasila dan NKRI yg ada saat ini disepakai oleh tokoh muslim dari NU, MUHAMMADIYAH, dan MASYUMI.  Dianggap sebagai jalan tengah untuk menakomodasi persatuan Indonesia dari Sabang sampai Meurauke.  Para ulama saat itu harus menahan ambisi mereka mendirikan SYARIAT ISLAM demi mashlahat seluruh rakyat Indonesia.  Apakah ini bentuk kekalahan? Atau bentuk perjuangan yg belum selesai?  Atau ini justeru bentuk kearifan dan kebijaksanaan?

So, where are we?

Kita muslim, tidak menolak islam dan al quran.  Namun perlu diingat Indonesia yg kita cintai ini adalah buah perjuangan para ulama sampai titik darah pemghabisan.   Pancasila sebagai bentuk kompromi dan perjuangan para ulama harus dihargai, kita hanyalah seorang mutabi atau pengikut ulama.   Jika ada ulama Timur Tengah yg menawarkan KHILAFAH atau NII untuk Indonesia, dan ada ulama Indonesia yg menawarkan hidup berdampingan dg pancasila, maka siapa yg kita pilih? Ulama Timur Tengah mengeluarkan ijtihad dg melihat fakta relevan di negaranya, pun begitu ulama Indonesia.  Khilafah dan NII boleh jadi cocok ditawarkan di negara Timur Tengah, tapi belum tentu cocok untuk negara Indonesia.  Sebagai mutabi, dalam pilihan politik lebih baik bila kita taat pada ulama Indonesia terutama para kyai NU, karena mereka mengikhsas fakta berdasarkan kondisi faktual Indonesia, dan tentu hasil ijtihadnya cocok untuk Indonesia.  MENOLAK #kompromi dan #jalanTengah sesungguhnya bentuk keegoisan, jika ada gerakan yg menolak kompromi dan mendahulukan kepentingan golongannya daripada kepentingan umat yang banyak patutlah kita pertanyakan, “APAKAH MEMNG ISLAM MENGAJARKAN HAL TERSEBUT?” 

Saya, IPB, Pancasila, dan Indonesia

Pancasila sebagai dasar negara, sejak kecil saya tahu. Saya hapal banget tanggal 1 Juni hari lahir Pancasila. Waktu kecil sih, setiap tahun keluarga kami tumpengan memperingatinya, ya tentu saja, karena hari lahir pancasila bertepatan dengan hari lahir bapak saya, sama-sama 1 juni hehehe.

Pancasila, sebagai dasar negera mulai dipertanyakan ketika saya aktif di rohis SMA. Kebetulan pengisi rohis saat itu dari kakak2 UNPAD, mereka memberikan pemahaman tentang islam dan pancasila, yang intinya pancasila itu tidak sakral dan bukan satu-satunya ideologi negara. Walhasil anak2 SMA yang ikut rohis saat itu jadi penentang guru PMP di kelas. Hingga akhirnya kakak2 UNPAD dilarang manggung lagi di sekolah. Beberapa teman tetap melanjutkan aktifitas kajian dengan kakak UNPAD yang belakangan saya tahu alirannya adalah Jamaa’ah kerosulan. Dan saya memilih tak ikut-ikutan, lebih memilih aktif di KARISMA ITB dan tetap bercita-cita jadi ilmuwan yang bisa membangun bangsa ini.

IPB. Saya diterima di IPB, ketika gagal masuk pilihan pertama kedokteran UNPAD. SMA tempat saya besekolah ada dilingkungan ABRI, teman saya kebanyakan adalah anak ABRI kalau tidak polisi. Salah satu sahabat saya mengingatkan saya, “Yanti, masuk IPB ya? hati-hati disana di Bogor itu banyak aliran-aliran. Jangan ngaji sembarangan”.

Saya tak mengerti banyak apa yang sahabat saya katakan. Ah, mungkin karena sahabat saya ini anak seorang polisi, dia tahu banyak tentang peta masyarakat. Tapi tetap saya tak paham.

Sampai akhirnya saya merasakan …. sendiri. IPB merupakan tempat berkembang dan bertumbuh ragam aliran islam. Ragam aliran ini bisa masuk secara formal melalui responsi agama dan unit kegiatan mahasiswa, maka siapapun mahasiswa IPB tentulah bersinggungan secara langsung dan tanpa disadari paling tidak dengan dua aliran yaitu Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin (masih banyak aliran lain di IPB tapi tidak terlalu banyak massa-nya karena tidak ada dalam lembaga formal kampus, tidak seperti dua gerakkan ini yang memegang lembaga formal di kampus), dua aliran keagamaan yang berasal dari Timur Tengah yaitu Yordania dan Mesir, dua aliran yang secara resmi bisa masuk di kampus IPB. Hizbut Tahrir saja namanya dulu, tapi kini Hizbut Tahrir Indonesia, adapun Ihwanul muslimin ini dulu kami sebut POKJA atau Kelompok Jakarta, karena kebanyakan anak-anak jakarta yang liqo di kelompok ini. Kemudian berubah nama lagi menjadi Tarbiyah dan sekarang PKS. Kok, bisa ya masuk ke IPB? Sejarahnya panjang sehingga kedua gerakan ini bisa bersemanyam secara formal di kampus, namun kunci yang membuat kedua gerakkan ini bisa langgeng melakukan pengkaderan di IPB adalah “kesungguhan dan jiwa tanpa pamrih” menyebarkan ide-idenya. Tanpa dibayar, tanpa minta bayaran, tanpa lelah mereka menyebarkan opini dan merekrut kader-kader di kampus.

Pancasila? Kami dapatkan pada saat p4 selama satu bulan. Yang saya ingat selama satu bulan itu saya dapat makan siang gratis. Sebagai anak kos, lumayan banget. Setelah itu ada matakuliah kewiraan yang membosankan. Jadi, belajar pancasila pun menjadi tidak menarik, lebih menarik hati mengetahui ide-ide khilafah ala HTI atau pemerintahan thogut ala ikhwanul muslimin. Apakah para mahasiswa bersalah? Saya pikir tidak! itu adalah masa mencari jati diri.

Kedua gerakan ini bersifat ideologis? Yap, mahasiswa yang mengikuti kajian di kedua gerakan itu sangat sadar, bahwa kedua gerakan tersebut mempunyai cita-cita untuk menerapkan syariat islam dalam bentuk konstitusi dan menggeser ideologi yang selama ini diemban oleh negera Indonesia yaitu pancasila dan UUD 1945. Pola gerakannya saja yang berbeda HTI tidak menggunakan jalur parlementer, lebih memilih parlementer jalanan yaitu politik menggerakkan massa di luar sistem, adapun ikhwanul muslimin bergerak melalui parlementer menjadi partai politik dan memiliki cita-cita terpendam untuk menjadikan islam sebagai sistem di suatu negara melalui gerakan politik dalam sistem. Istilah DEMOKRASI SISTEM KUFUR atau SISTEM THOGUT, merupakan istilah biasa yang sering terdengar bagi kami mahasiswa IPB.

Walaupun bergerak di kampus, tapi semua aktifitas ada garis koordinasi dengan gerakan di level dunia, bergerak atas arahan langsung dari para Amir di Timur Tengah. Ini sebabnya disebut sebagai gerakan transnasional.

Pancasila, bagi sebagian mahasiswa IPB pada akhirnya terdengar sayup2 saja. Jika mahasiswa IPB menjadi inisiator “Sumpah terhadap Penegakkan Khilafah Islamiyah” kami alumni IPB tidaklah heran. Jika alumni Teknologi Benih IPB semodel Muhammad Al Khotot atau Gatot Saptono ditangkap karena tuduhan makar, kami juga tak heran. Dan kini Bang Sambo alumni Matematika 26 IPB sebagai presedium 212 berapi-api mau menurunkan Jokowi atau konstitusi Indonesia, kami gak heran. Dari tahun 1980-an sampai kini IPB dan juga kampus-kampus lainnya menjadi kawah candradimuka untuk mengkader anak-anak terbaik Indonesia dalam menentang sistem demokrasi dan pancasila di Indonesia.

Tak mungkin masuk IPB kalau gak pintar loh! Rata-rata anak IPB itu juara2 di sekolahnya. Anak-anak itu kemudian memilih untuk menentang sistem yang dianut oleh negara Indonesia? How can?

Abaikan semuanya, karena saya yakin IPB dan Kemenristekdikti pun berpikir keras untuk memecahkan persoalan ini. Saya lebih suka ngobril aja…

“Islam bagi saya bukan sekedar ritual itu betul. Islam mengisyaratkan kehilafahan itu juga betul karena Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Muawiyah, ….tercatat sebagai kholifah dalam kehilafahan islam. Tak bisa ditampikan bahwa sistem khilafah diwariskan oleh para shahabat. Fakta sejarah. Apakah sistem ini perlu dibangkitkan pada saat ini di Indonesia? Sistem ini bisa menjadi solusi atas aneka masalah yang ada di Indonesia?”

“Mari kita lihat Indonesia. Pancasila, adalah ideologi yang didalamnya memuat unsur religiusme, humanisme, nasionalisme, demokrasi-liberalisme, dan sosialisme.  Adalah pancasila menjadi jalan tengah bagi semua “isme” yang ada di indonesia saat itu. Indonesia dengan keberagaman penduduknya melahirkan sebuah jalan tengah yang disepakati oleh Ulama saat itu dari NU, Muhammadiyah, Masyumi juga dari kubu nasionalisme, humanisme, liberalisme, dan sosialisme. Terlihat sekali sila-sila dari pancasila menggambarkan keberagaman ini. Adakah IDEOLOGI lain yang bisa menggantikan pancasila di Indonesia pada saat ini? Cobalah tanya pada masyarakat Indonesia, apakah mereka mau hidup di bawah naungan kekhilafahan islam atau mau hidup di bawah pancasila?” Tanya pada semua rakyat Indonesia tanpa membedakan ras, agaama, dan bangsa. Jika jawaban semua agama, ras, dan bangsa yang ada di Indonesia adalah khlafah islamiah, maka pancasila memang sudah usang. Namun jika jawabannya pancasila, maka pancasila menjadi ideologi yang tepat bagi bangsa indonesia yang berbhineka”.

Khilafah, sangat tidak tergambar dalam benak masyarakat nusantara. Beda dengan masyarakat Arab dan Turki, dimana Khilafah adalah bagian dari sejarah mereka. Memperjuangkan khilafah di Indonesia ibarat mengkondisikan Indonesia pada jaman Arab Quraish. Benturan budaya akan banyak terjadi di Indonesia, yang membahayakan kebhinekaan Indonesia dan islam nusantara. Khilafah tidak dirindukan oleh masyarakat Indonesia, beda dengan masyarakat di Jazirah Arab dan Turki yang pernah merakan hidup dalam zaman itu, tentulah mereka mempunyai rasa merindukan kekhilafahan. Dibandingkan khilafah, kemungkinan besar masyarakat Indonesia akan lebih merindu rezim Suharto yang kukuh melakukan PANCASILA VERSI ORDE BARU yaitu KESTABILAN KEAMANAN.

Negara Islam digambarkan oleh masyarakat Indonesia sebagai NII/DII. Traumatik mendalam dialami oleh bangsa Indonesia pada saat konflik NKRI vs NII/DII. Rakyat sangat hapal pasukan mujahid atau TII (Tentara Islam Indonesia) tak lebih dari para gerombolan yang merampok dan menjarah hasil panen dan persediaan pangan mereka. Ini sebabnya NII tidak laku di Indonesia. Selain PKI masyarakat Indonesia pun menjadi anti dengan NII. Keduanya dianggap sebagai laten ideologi yang berbahaya bagi bangsa Indonesia.

Tapi bukan berarti kemudian Indonesia anti Islam dan anti kerakyatan, dengan menganggap ideologi islam dan komunis sebagai ancaman. Pancasila mengakomodasi umat beragama untuk menjalankan agamanya masing-masing dalam segi ritual ibadah dan muamalah, namun membatasi tidak dalam tatanan pemerintahan.

Jadi? Mari kita kembali pada tabiat nusantara. Bukan berarti kita tak mau islam tegak, tapi jika itu digenjot di bumi nusantara ini maka saksikanlah saat ini “perpecahan antara umat islam terjadi”. Sungguh mulia pendiri HT yaitu Taqyuddin Annabhani yang menyatakan bahwa perjuangan khilafah dilokalisasi di wilayah Arab, karena wilayah ini punya garis historis yang kuat. Menjadian Arab sebagai titik bangkit kekuatan khilafah islamiyah dan tidak menjadi nusantara sebagai target ADALAH PILIHAN BIJAK. Terlalu ambisius jika nusantara yang kita cintai ini dijadikan target oleh sekelompok orang untuk mendirikan NKRI BERSYARIAH atau KHILAFAH ISLAMIYAH. Jika hal itu dilakukan maka rakyat indonesia akan membayar mahal untuk sebuah KENYAMANAN, KEAMANAN, DAN KEMAJUAN.

Pancasila teruji sudah menjadi perekat kebhinekaan di Indonesia. Kita harus berpikir bijaksana untuk menghargai pilihan mayoritas masyarakat indonesia ini, jangan sampai EGOIS ingin mendirikan NKRI BERSYARIAH atau KEKHILAFAHAN ISLAM pada saat kondisi rakyat Indonesia masih cinta Pancasila. Saya teringat bagaimana Rasulullah saw meyakinkan bahwa masyarakat Madinah memang menginginkan islam tegak di Madinah. Rasulullah saw meyakinkan dengan baiat aqobah 1, baiat aqobah 2, dan mengutus Mushab bin Umair. Semuanya untuk memastikan bagaimana syuur masyarakat terhadap kerinduan ditegakkannya islam. Rasulullah saw tidak memaksakan kehendak pada masyarakat Quraish dalam mendirikan islam, Rasulullah saw membaca peta masyarakat, menghindari bentrokkan antar massa. MENJAGA PERDAMAIAN JAUH LEBIH UTAMA DARIPADA “EGOISME” PRIBADI DAN KELOMPOK.

I JUST WRITE, WHAT I THINK EVEN YOU THINK IT’S NOTHING

NKRI Bersyariah = NII Reborn [?]

Zaman keterbukaan seperti sekarang ini kita jadi lebih mudah mengakses apapun, termasuk dengan pergerakan-pergerakan yang biasanya di bawah tanah, salah satunya NKRI bersyariah yang dideklarasikan 1 September 2012 pada ulang tahun FPI (baca disini untuk jejak: NKRI BERSYARIAH.  Pasca deklarasi masif ide ini digulirkan seperti pada Khutbah Iedul Fitri dan melalui peluncuran buku (2013), juga terkait ide CAPRES NKRI BERSYARIAH).  Tampaknya gerakan-gerakan menggulirkan ide NKRI bersyariah sangat terencana, berikut ini beberapa berita terkait, dengan NKRI bersyariah (ini murni hasil googling berita):

1.Deklarasi NKRI Bersyariah, 1 September 2012.

1) Bertekad dan berjuang dengan mengorbankan harta dan nyawa untuk menghabisi seluruh kemaksiatan, korupsi, aliran sesat dan kezaliman dari bumi Indonesia. 2) Bertekad dan berjuang dengan mengorbankan harta dan nyawa untuk terwujudnya NKRI bersyariah, guna menggantikan NKRI bermaksiat. 3) Bertekad dan berjuang dengan mengorbankan harta dan nyawa untuk mengangkat Al Habib Muhammad Rizieq Syihab dan para pejuang Islam lainnya untuk menjadi presiden dan pejabat dalam kabinet NKRI Bersyariah.

2. Peluncuran dan bedah buku “Wawasan Kebangsaan Menuju NKRI Bersyariah” Karya Habib Rizieq Syihab pada 10 Febuari 2013 KLIK DI SINI. Pernyataannya adalah sebagai berikut:

NKRI bersyariah harus direbut dengan jalan revolusi” Revolusi damai dengan jalan dakwah, akan tetapi bila ternyata usaha itu dihadapi dengan kekuatan fisik, terpaksa dilakukan dengan perlawanan.  Negara yang ada saat ini tidak perlu dihancurkan. Cukup penguasa yang tidak pro syariat Islam saja yang disingkirkan dan diganti dengan penguasa Islam.

3.  September 2013, terjadi penjaringan calon presiden NKRI bersyariah.  Jubir HTI menolak ketika dicalonkan (BACA DI SINI).  Ustdz Arifin Islam menawarkan Habib Rizieq sebagai Kandidat Presiden NKRI bersyariah (BACA DI SINI).

4. Pada tahun 2014, mulai memasuki jalur PILEG untuk menuju NKRI BERSYARIAH. Forum Caleg Syariah pun dideklarasikan (BACA DI SINI).

5. Pada tahun 2015, setelah sebagian besar Caleg Syariah gagal melenggang ke senayan, bukan berarti perjuangan berhenti.  Perang ide terus digulirkan dengan pemerintah yang sudah dipilih rakyat, salah satunya adalah membenturkan ISLAM NUSANTRA dengan NKRI Bersyariah (BACA DI SINI).

Umat Islam tinggal memilih : Ikut Habib Rizieq yang mengusung NKRI BERSYARIAH atau ikut Presiden Jokowi yang mengusung ISLAM NUSANTARA … ?

Pada 19 November tahun 2015, perjuangan dilajutkan dengan Muzakarah Alim Ulama, Habaib dan Cendekiawan Muslim  telah berhasil membentuk Majelis Tinggi DKI Jakarta Bersyariah (BACA DI SINI).  PILGUB JAKARTA dianggap sebagai ENTRI POINT MENUJU NKRI BERSYARIAH.

6. Pada 17 Agustus 2016 dalam milad FPI ke-18, kembali menegaskan perjuangan NKRI BERSYARIAH (BACA DI SINI). Dan pada tahun 2016 juga ada dua aksi 411 dan 212 yang berhasil menarik simpati jutaan muslim di Indonesia, menjadikan Habib Rizieq sebagai MAN OF THE YEAR versi MUSTI (Muslim Tionghoa) pimpinan Jusuf HAMKA (Baca di sini).

7. Kriminalisasi terus mendera Habieb Rizieq dengan kasus-kasusnya lawasnya.  Sekjen FUI pun bereaksi dengan kasus yang menimpa MAN OF THE YEAR 2016.  Pada hari selasa 10 bulan 1 tahun 2017 Habib Rizieq Shihab dibaiat sebagai Imam Umat Islam (BACA DI SINI).

Kita tidak tahu ke depan mau jadi seperti apa. Itulah sebabnya kita baiat Habib Rizieq sebagaai imam umat Islam karena Habib Rizieq tidak tunduk dengan RRC dan Amerika. Kalau Habib Rizieq ditangkap, maka umat Islam siap untuk ditangkap. Kalau Habib Rizieq ditembak, kami siap ditembak, menyongsong kematian. Ingatlah tipu daya orang-orang kafir itu seperti sarang laba-laba. “Sesungguhnya rumah atau sarang paling lemah adalah sarang laba-laba.”

KH. Muhammad Al Khaththath

Apakah NKRI Bersyariah sebagai NEW NII atau NII Reborn? Patut diketahui bahwa Islam sebagai ideologi memerlukan tempat untuk tumbuh dan berkembang menegakkan hukum-hukum publik, sehingga adalah sebuah hal yang wajar jika ide-ide NII pun muncul kembali pada masa kini dan masa yang akan datang.  Namanya ‘ideologi’ akan tetap tumbuh dan berkembang serta diwariskan dari generasi ke generasi. Gerakan dan nama gerakan bahkan pola gerakan akan terus dimofikasi dan dimetamorfosis menyesuaikan kondisi kontekstual.  Ini adalah hal wajar bagi semua ideologi.

Berkaca pada sejarah…..

NII (Negara Islam Indonesia) tak perlu diceritakan kembali bagaimana diperjuangkan oleh Bapak Kartosuwiryo dan bagaimana penderitaan rakyat sipil atas peristiwa ini (SILAHKAN BACA DI SINI).

#REFLEKSI

Pertanyaan pada kita bersama, “Apakah kita pada saat ini merasa sudah FINISH berada dalam NKRI Pancasila dan UUD 45? atau kita merasa memang harus memperjuangkan NII REBORN?

Tak perlu cerita panjang lebar, yang jelas ketika Jepang membentuk BPUPKI (Dokuritsu Junbi Cosakai) yang kemudian diganti nama setelah merdeka menjadi PPKI pada barisan itu ada para tokoh islam atau para Kyai.  Seperti dari Masyumi (Kiai Haji Mas Mansoer), NU (Kiai Haji Masjkur, Haji Abdul Wahid Hasyim), dan Muhammadiyah (Ki Bagus Hadikusumo).  Tentu saja selain itu ada dari tokoh kedaerahan, china, dan nasional (silahkan LIHAT DI SINI!).  Berdasarkan rembug bersama para FOUNDING FATHER, maka NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dianggap sebagai dasar yang ideal bagi tumbuh kembangnya keragaman di Indonesia.  Jika membaca sejarah, bagaimana para tokoh islam mengesampingkan ego dan idealisme mereka dalam menegakkan syariat islam, demi kesatuan bangsa indonesia dari Sabang sampai Meurauke. “KEPENTINGAN BANGSA DAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA mereka letakkan di atas kepentingan dan ego kelompok”

Jika sebagaian pemikir menganggap apa yang dilakukan para FOUNDING FATHER sebagai jalan tengah, tidak pro islam, dan kekalahan muslim.  Maka kita bisa menengok sejarah beberapa upaya penegakkan NII telah gagal, alih-alih membuat rakyat KAGUM, sebaliknya malah membuat rakyat menjadi TAKUT.  Para pejuang NII yaitu DII/TII disebut oleh masyarakat di Jawa Barat sebagai Gerombolan, karena mereka suka bergerombol ketika merampok pangan yang ditanam  rakyat sipil.  Pun begitu dalam NKRI Bersyariah,  entry point pada PILGUB DKI menjadi ajang SARA, perang ayat bahkan sampai pada perang mayat. Akibatnya umat kehilangan sosok Islam yang RAHMATAN LIL ALAMIN.

#Note:

Islam adalah agama mulia, memperjuangkannya memerlukan kesabaran bukan PEMAKSAAN KEHENDAK.  Jika para pejuang islam tidak sabaran, maka kalian kalah sama orang-orang Yahudi.  Para Yahudi itu luar biasa sabar perjuangannya, sejak awal Islam berdiri di Madinah (Abad ke-7 M) tidak pernah lelah berjuang untuk menghancurkannya, sampai akhirnya hancur pada Abad 20, artinya perjuangan mereka lakukan selama 13 Abad tanpa henti terus mengeluarkan pemikiran-pemikiran dibalut dengan akademisi dan ekonomi ribawi yang kuat, sejengkal demi sejengkal PEMIKIRAN UMAT ISLAM dikuasi, sehingga ketika SULTANIYAH atau Khilafah  dihancurkan 1924 secara akademik dan ekonomi tiada satupun kerajaan atau negera bagian khilafah islamiyah merasa kehilangan.  Kecuali sebagian para ulama yang menangis karena mereka memahami bahwa tiada akan tegak islam tanpa khilafah/sultaniyah.

Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, bagaimana aktifitas muslim dengan penerapan syariat islamnya baik oleh individu maupun komunitas seharusnya dapat memberikan TAULADAN, SOLUSI, dan KETENTRAMAN serta UKUWAH, bukan cari-cari masalah menggunakan ayat2 Alloh swt lantas meng-kafir-kan atau me-munafik-an orang yang tidak sependapat dari sisi pengambilan ayat2 tersebut, alih-alih berkontribusi positif pada tatanan masyarakat, malahan membuat masyarakat menjadi galau dan TERBELAH.

Wallohualam bi sawab.  Semoga bisa memberikan wawasan bagi yang masih “awam” dengan situasi dan kondisi yang terjadi, yg terkadang bingung harus berposisi dimana dan seperti apa?  SEMOGA BERMANFAAT.

Jakarta dan Harapan para Pelajo

Ini tulisan iseng, tapi bisa dianggap serius. Sebenarnya pengen nulis buat warga DKI yang punya hak memilih pengen nitip sesuatu….tapi jadinya #random aja deh.alias bakal ngalor ngidul nih tulisan.

Pasca PILGUB DKI Chapter I, apa yang didapatkan? Sebagian terbengong,  kok Ahok masih menang?

#Analisis amatiran pertama: Ini gegara kaum golputers tunduhan #gazebo ini termaktub dalam status sebagian neitizen.  Ngapain ikut aksi 411 212 dan aksi lainnya, kalau akhirnya dia golput? Patut dipahami sebagian umat islam memang memandang bahwa MEMILIH PEMIMPIN DALAM SISTEM KUFUR (sistem bukan islam, termasuk sistem demokrasi pancasila) SIAPAPUN CALON PEMIMPINNYA MUSLIM ATAU BUKAN adalah HARAM.  Ketika sekelompok orang konsisten dengan pendapatnya ini, saya bilang itu bagus, itu namanya KONSISTEN. Lalu jika ada sebagian mencemoohnya, maka saya MENGELUS DADA aja bagi yang mencemoohnya, #shameONyou kamu gak ngerti cara memahami keyakinan orang lain. Sesungguhnya aksi GOLPUT mereka lebih mulia, karena memperlihatkan bahwa dukungan aksi mereka adalah murni karena kesatuan islam, bukan karena politik.  Sebaliknya yang harus malu itu partai yang secara hukum membolehkan memilih pemimpin non muslim bahkan di wilayah papua, maluku, dan kalimantan partai ini mengusung non muslim, tapi partai ini mengharamkan pemimpin non muslim untuk DKI JAKARTA.  Ini namanya inkonsistensi, demi kemenangan dalil haram bisa jadi halal, dalil halal bisa jadi haram.  Jadi #ShameOnYou again.

#Analisis amatiran kedua: Ini gegara sebagian kaum muslimin adalah para munafikun, udah jelas ahok menistakan qur’an masih aja dipilih, apa namanya kalau gak munafik. Yah, manusia udah ngaku tuhan sekarang.  Nabi Muhammad saw saja ketika diminta anak Abdullah bin Ubay menyolatkan ayahnya, Nabi SAW mau, sampai Alloh swt melarangnya karena dia tergolong munafik.  Predikat munafik itu ditentukan oleh Alloh swt, manusia dilarang menyebut seseorang muslim lainnya dengan munafik.  Nabi Muhammad saw jungjungan kita semua “suri tauladan” yang harus diikuti lahir dan bathin, posisi beliau di atas sabda para ulama.  Lihatlah Beliau, Rasulullah saw sangat hati-hati bersikap pada Muslim, dan kita terkadang sangat ponggah menganggap diri kita AL HAKIM bagi muslim lainnya.  Hanya karena #PILKADADKI kita kemudian mencap muslim lainnya dengan MUNAFIK.  #istigfar

Mengapa sebagian muslim yang masih memilih AHOK?

  1. Anggapan 1: Apa yang dilakukan Ahok  bukan penistaan.  Penistaan Al Qur’an itu bagaimana? Penista Al Qur’an itu adalah orang yang mengartikan al qur’an semaunya saja dan sangat bertentangan dengan Al Qur’an.  MISALNYA “DIA MENGKLAIM BAHWA MINUM KHAMAR ITU BOLEH, MABUK-MABUKAN ITU HALAL SELAMA TIDAK SHOLAT, Lalu dia mengutip ayat al qur’an QS. Annissa 43.  Ini baru namanya penistaan al qur’an.  Penista Al Qur’an itu adalah orang-orang yang sudah jelas diperintahkan untuk sholat dan zakat, tapi dia menentang sholat dan zakat.  Penista Al Qur’an itu adalah orang yang menganggap Al Qur’an adalah syair semata bukan sebuah kitab suci kaum muslimin.  Berdasarkan hal ini maka jelaslah bahwa Ahok cuma kepeleset lidah saja.  Memang Ahok tidak pantas secara etika, belum waktu kampanye sudah kampanye, bukan muslim tapi menyetir ayat al qur’an, dosanya hanya sisi ETIKA saja, bukan sebuah dosa maha besar sehingga menggolongkan Ahok pada sebutan PENISTA AL QUR’AN. So, it’s clear bahwa apa yang dilakukan Ahok buka sebuah penistaan tapi pelanggaran Etika.  Kasus Ahok tentu beda dengan Lia Eiden yang mengaku Nabi/Malaikat atau Musadeq yang mengaku Nabi.  Kasus Ahok bisa disamakan dengan kasus Aswendo dan Permadi ditahun 90-an ketika masih zaman orde baru.  Hanya saja, sekarang zaman sudah sangat beda, tidak lagi otoriter, hanya karena perintah presiden orang bisa ditangkap dan dianggap bersalah, Orde Reformasi menyebabkan ketaatkan semua orang pada jalur hukum, tidak lagi jalur personal.  Jika ada sebagian orang yang anggap itu penistaan ya mangga silahkan saja proses secara hukum.  Namun ada sebagian orang yang anggap itu bukan penistaan ya jangan dicaci apalagi diintimidasi.
  2. Anggapan 2: Ini negara Indonesia tidak berlandaskan SISTEM ISLAM tapi berlandaskan SISTEM KUFUR (Demokrasi pancasila dianggap sebagai sistem kufur).  Pada sistem kufur “Apakah harus juga dipimpin oleh muslim, hanya karena muslim itu mayoritas?” Pada sistem kufur, jelaslah pemimpinnya akan melaksanaan uu dan aturan kufur juga, “Apakah itu harus orang islam juga yang menjalankan UU dan aturan kufur ini?”    Kalau seseorang punya logika begini bagaimana, #Sistem Kufur maka Pemimpinnya Kafir, Sistem Islam pemimpinnya Muslim.  Indonesia wabil khusus DKI  adalah Sistem Kufur, maka pemimpin Indonesia wabil khusus DKI harus muslim#  Nah, gak nyambung kan? Jadi, ini negara berlandaskan sistem DEMOKRASI PANCASILA (mau dibilang sistem kufur gak apa2), negara ini secara UU dan aturan memberi kesempatan pada semua ras, suku, dan agama untuk menjadi pemimpin.  So, secara UU sah seorang china dan kristen mencalonkan diri menjadi kepala daerah. it’s clear ya, ini bukan sistem islam, Non Muslim punya kesempatan untuk dipilih juga.
  3. Siapa yang harus dipilih muslim? Apakah dalam sebuah SISTEM KUFUR muslim harus tetap memilih pemimpin muslim? Sederhana saja, mana yang mau dipakai oleh seorang muslim? “Berdiri atas kepentingan kesamaan agama?” atau “Berdiri atas kepentingan kesamaan pembangunan untuk daerahnya?”

Betul kita berada dalam sebuah sistem kufur (kita gunakan istilah ini untuk menyebut demokrasi pancasila agar mudah dipahami), tapi bukan berarti kita tidak dipimpin oleh siapapun, karena ada 7 juta rakyat yang harus dilayani dan diorganisasikan dengan baik untuk mencapai sebuah tujuan, belum lagi warga sekitar Jakarta yang cari hidup di Jakarta. Bayangkan kalau semua berlepas diri tak mau pilih pemimpin? Bisa kacau semua urusan bukan? Kalau pikiran kita semua egois, biarin aja kita semua Golput agar sistemnya kufurnya nanti rusak, yah gimana kalau berpikir begitu hidup tanpa dipimpin oleh siapapun tentu akan kacau balau, sangat kacau.  Seperti halnya kita yang cuma bertiga melakukan perjalanan, kita memilih Amir Syafar, pemimpin perjalanan. Kalau semua memimpin atau semua tak mau memimpin, kacau perjalanan.  Lalu memilih berdasarkan apa? Ya, mangga yang mau pilih berdasarkan kesamaan agama saja, atau mau berdasarkan kepentingan pembangunan tanpa pandang SARA? Rasanya semuanya sah dipilih karena toh ini sistem kufur menjalankan uu dan aturan kufur, bukan menjalankan uu dan aturan islam.  Kalau menjalankan uu dan aturan islam, saya 100% mengharuskan kalian untuk memilih MUSLIM bukan selain MUSLIM! (Ini berdasarkan logika ijtihad amatiran, tak harus diikuti loh!)

Tapi ya, sebagai pelajo Bogor-Jakarta everyday gitu harapan saya bagi warga DKI Jakarta yang punya hak pilih, PILIHLAH YANG MEMBERI BUKTI BUKAN SEKEDAR JANJI.  Kenapa? Saya takut jalur LRT dan MRT mangkrak kembali seperti tempo lalu, padahal harapan kami ada disitu buat atasi waktu tempuh yang panjang ke Jakarta dari Bogor.  Kami takut sikap tidak tegas membuat para pengemudi metromini, kopraja, dll kembali ugal-ugalan, kami butuh angkutan umum yang nyaman dan aman selama di Jakarta.  Banjir adalah hal lumrah di Jakarta, tapi bagaimana titik banjir dikurangi dan cepat tanggap terhadap bencana banjir itu yang harus dilakukan setiap pemimpin jakarta, sehingga kami tetap bisa ngantor saat banjir, tetap bisa melalui jalanan menuju SOETTA dalam kondisi hujan parah.  Kami takut para pasukan orange yang selama ini bekerja dengan gaji UMR telah berkontribusi positif terhadap kebersihan kali dan wilayah Jakarta dianggap membebani APBD DKI, dan warga diajak untuk bersihkan secara gotong royong kali dan berbagai fasum DKI.  Padahal saya tahu, banyak warga jakarta tak punya waktu gotong royong dan warga punya keterbatasan tenaga.

Tapi yah, harapan mah tinggal harapan, yang menentukan pilihan itu ya Warga DKI, mau dibawa kemana dan oleh siapa pengemudinya sangat tergantung pada warga DKI.  Cuma bisa pesan saja, “Di saat hukum islam tidak ditegakkan di Indonesia, kalian bisa memilih berdasarkan kepentingan daerah kalian dan bangsa kalian, pilihlah pemimpin yang memberikan mudharat paling kecil bagi daerah kalian”   “Jika kelak hukum islam tertegakkan di Indonesia, maka pesan saya pilihlah muslim, walau bagaimana pun jeleknya, buruknya dan lemahnya jiwa kepemimpinannya, karena hanya muslimlah yang bisa membuat hukum islam tetap tegak

Wallohualam bi sawab, just think and i write it, maybe you think…it’s nothing.

 

It’s Politics, be carefull!

“Andaikan Rasulullah saw hidup pada saat ini, apa yang akan beliau perbuat?”

Itulah yang senantiasa saya tanyakan dalam hati ketika menyikapi berbagai isu yang mengarah pada ajakan aksi.  Bagi orang seperti saya yang terbebas dari partai politik atau dari gerakan dakwah bernuasa politik adalah penting bertanya hal seperti itu sehingga dapat melihat segalanya dengan clear dan mantap dalam bersikap karena kekuatan hujjah.  Belajar kembali menggali “Siroh Nabawiyah” menjadi mutlak dalam kondisi seperti ini.

Bagi mereka yang menjadi anggota dari partai politik atau gerakkan dakwah, kemudian mereka meng-expose ayat2 dan siroh2 yang mendukung dan memperkuat opini mereka, hal itu adalah wajar.  Jika pun mereka mengajak dan mendakwahkan opini mereka dengan cara halus atau paksa, bagi saya adalah wajar-wajar saja, itu sudah menjadi gerakan politik dan dakwah mereka. Apa yang mereka lakukan semoga senantiasa menjadi sebuah kebaikan bagi islam.

Seorang ustadz Syekh Taqiyuddin An Nabhani semoga Alloh swt merahmatinya menuliskan adalah kita harus mampu melihat apa yang ada di balik dinding, adalah kita harus mempunyai kemampuan melihat di atas awan.  Ini bermakna kita harus memiliki sebuah pandangan yang holistik tidak hanya melihat semua makna yang tersurat dan tersirat. Jadi artinya kita memang dituntut memiliki kecerdasan di atas rata-rata untuk memahami semua kondisi.

APAKAH PERSATUAN UMAT ISLAM INDONESIA PERLU DIUJI? Tidak perlu menguji persatuan umat islam Indonesia.  Untuk seruan terkait rukun islam dan rukun iman kita mempunyai kekuatan yang luar biasa.  Berikut ini fakta-fakta umat islam indonesia:

  1. Setiap idul adha, berapa omzet ternak di Indonesia? Tak masalah bagi orang Indonesia ternak saat idul adha naik berlipat-lipat, dan semuanya tetap dibeli, karena alasan “ibadah”.
  2. Haji! Ya, Haji! Berapa rupiah yang harus dikeluarkan oleh seseorang untuk berhaji? 40-60 juta per orang, dan kita Umat Islam Indonesia rela menunggu sampai 10-15 tahun untuk pergi karena quota haji.  Tidak hanya mereka yang berkecukupan yang pergi berhaji, banyak juga mereka yang menyisihkan hasil sedikit usahanya yang tidak seberapa untuk memenuhi panggilan Alloh swt ini.
  3. Pada saat Ramadhan, sumbangan ta’jil dan zakat fitrah ditunaikan dengan baik.  Saat shalat id, berapa banyak ruas jalan dan lapangan yang digunakan karena membludaknya jamaat untuk shalat id?
  4. Hal-hal yang diberi label “halal” dan “syariah” di Indonesia lebih diminati umat islam daripada yang tidak berlabel, walau produknya sama halal-nya atau sama-sama tak melanggar syari’ah.
  5. Dan bagi umat islam indonesia, bersedeqah untuk kepentingan umat dan menolong sesama adalah hal prioritas.  Miliyaran rupiah bisa dikumpulkan umat islam indonesia dalam patungan membangun mesjid di negera Jepang.

Jadi masih perlu lagi menguji persatuan umat islam?

APAKAH DALAM ISLAM SEMUA HAL SELALU BERUJUNG PADA HUKUMAN FISIK…, TIDAK ADAKAH SELA UNTUK DIMAAFKAN? Mari kita ber-tafakur “Andaikan Rasulullah saw, hadir pada saat ini” Lalu terjadilah dialog fiktif seperti ini:

  • Muslim1: Ya, Rasulullah Si Fulan dia mengatakan “Bapak ibu tak usah khawatir, ini pemilihan kan dimajuin jadi kalau saya tidak terpilih pun..ini bapak ibu tak usah khawatir  nanti programnya bubar, tidak saya  berhentinya sampai oktober 2017, jadi kalau program ini dijalankan pun bapak ibu masih sempat panen sama saya.  Jadi saya ingin bapak ibu semangat, jangan nanti ganti gubernur programnya bubar. Enggak saya sampai Oktober 2017.  Jadi jangan percaya sama orang, bisa saja dalam hati kecil bapak ibu gak bisa pilih saya.  Iyakan dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macam-macam itu.  Itu hak Bapak Ibu, jadi kalau bapak ibu perasaan gak bisa pilih saya takut masuk neraka dibodohin gitu gak apa-apa tergantung pribadi bapak ibu, program ini jalan saja.  Jadi bapak ibu gak usah merasa gak enak dalam nuraninya gak bisa pilih Ahok, gak suka sama Ahok, programnya udah terima gak enak dong gue punya hutang budi, jangan nanti gak enak mati pelan-pelan kena stroke…..”
  • Rasulullah saw: lalu apa maksudmu?
  • Muslim1: Dia telah menghina Al Qur’an dengan perkataan yang ini, Iyakan dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macam-macam itu.  Itu hak Bapak Ibu, jadi kalau bapak ibu perasaan gak bisa pilih saya takut masuk neraka dibodohin gitu gak apa-apa tergantung pribadi bapak ibu.
  • Rasulullah saw: Jadi apa maumu?
  • Muslim 1: Aku mau dia dihukum ya Rasulullah saw.  Sungguh dia telah menistakan Al Qur’an.
  • Lalu datanglah muslim2 menghadap Rasulullah saw.  Muslim2: Ya, Rasulullah sesungguhnya dia sudah minta maaf, dia berjanji pada umat islam tidak akan mengulanginya lagi, sesungguhnya perkataannya itu karena kebodohannya semata, karena ketidaktahuannya, karena emosinya.  Tak ada niat dari dia melukai umat islam. Dia sudah mohon maaf.
  • Rasulullah saw: Jadi apa maumu hai muslim2?
  • Muslim2: “Saya mau dia dimaafkan saja…!”
  • Rasulullah saw: “…………………..”

Jika Rasulullah saw hidup pada masa ini, dan menghadapi persoalan seperti itu.  Kira-kira apa yang akan beliau putuskan?

___

back to fakta politik

Alhamdulillah aksi 212 berjalan damai, Pak Jokowi mampu tampil meredam aksi, diskusi ulama dan umaro mampu mengalihkan aksi dari Aksi Demo menjadi do’a bersama, dari gelar sajadah di sepanjang jalan menjadi gelar sajadah terlokalisasi pada area monas dan sekitarnya.  Apresiasi yang sangat tinggi buat umat islam dan para aparat.

Namun tampaknya aksi 212 belum memuaskan, terbukti setelah aksi 212 muncul provokasi seperti di bawah ini: Radio Dakta pada 2 Desember jam 1:59 men-tweet “Aksi 411 seperti thawaf, aksi 212 seperti Wukuf.  Kalau Ahok masih dak ditangkap SELANJUTNYA TINGGAL KITA LEMPAR JUMROH!!!”  dan twiit seperti ini pun menjadi viral.

img_0225img_0226

Bukan hanya itu, setelah aksi muncul juga “Ghirah mendirikan lembaga ibadah, ekonomi dan usaha 212” di sisi lain muncul tuntutan perdata 470M yang mengiringi tuntutan pidana penahanan Ahok, sebelumnya tuntutan hanya 240 juta terkait biaya2 yang sudah dikeluarkan oleh Habib Novel untuk urusan mengadukan Ahok, tapi kemudian membengkak jadi 470M setelah aksi 212.  Berdasarkan dua berita ini kita pun diberi peluang untuk mengkaitkan dua fenomena ini “Apakah mau mendirikan lembaga ibadah, ekonomi, dan usaha 212 dari dana 470M tersebut?”

Sampai di sini apakah kita dibuat puyeng dengan fenomena ini?  ya it’s politics be careful.

Jadi, bagi saya pribadi….sebagai seorang muslim yang tidak berafiliasi dengan partai dan gerakkan dakwah manapun serta tidak punya hajat politik, saya memilih kembali saja pada dunia profesionalisme.  “Belum banyak yang bisa disumbangkan bagi umat dan negara ini?” Jangan-jangan saat ini saya hanya mengerjakan rutinitas saja untuk diri dan keluarga, tanpa memberikan sumbangan berharga pada umat.  Wallohualam bi sawab.

____

Bagian 2: Beribroh pada siapa? #Think

Pada bagian sebelumnya sudah dibahas bagaimana perlakukan Rasulullah saw ketika menjadi Pemimpin di Madinah pada pengemis Yahudi yang buta, juga pada Abdullah bin Ubay [Yahudi, yang masuk islam].  Kepada keduanya Rasululloh saw tidak menghukum walaupun “Pengemis Yahudi BODOH ini melakukan penistaan kepada Rasulullah saw dengan kata-katanya, ‘Jangan Mau dibohongi Muhammad‘,  ‘Muhammad orang gila‘ dll“.  Lalu Abdulah Bin Ubay yang melakukan penistaan dengan mengatakan “Kaum mukminin dari kalangan muhajirin sebagai orang hina”.  Pengemis dimaafkan oleh Rasulullah saw, dia menghina karena kebodohannya.  Abdulah bin Ubay walau sering menghina dan menghalangi islam pun tidak dihukum karena jika dihukum akan timbul perpecahan di kalangan Masyarakat Madinah.

Kini kita beribroh pada kasus lainnya.

3.  Kasus Rasulullah saw menghadapi Ka’ab Bin Al Asyraf. [kisahnya ada di Sirah Nabawiyah, mohon maaf ya saya bahasakan ulang dengan gaya kekinian]

Kisahnya terjadi di Madinah, saat hukum Islam berdiri tegak.  Adalah …. Ka’ab Bin Al-Asyraf (ABA) seorang Yahudi Bani Nadhir nan gagah dan tampan seorang ahli syair. Apa dia lakukan?

  1. Dia membuat syair atau puisi yang menghina Rasululloh saw, ummu mukminin, shahabat, islam dan wanita muslimah.
  2. Dia datang ke Quraish, membuat syair menangisi korban perang Badr, menghasut Quraish untuk berperang melawan kaum muslimin dan Nabi Muhammad saw di Madinah. [Syair ABA mengobarkan perang Quraish vs Muslim]
  3. Dia menyiapkan pesta bersama kawan-kawan Yahudinya, dan berencana mengundang Rasulullah SAW, ketika Nabi SAW datang, teman-temannya diminta menjatuhkan Nabi SAW ke pangkuannya. [Ka’ab merencanakan pembunuhan Nabi SAW].

Bukan hanya membuat syair hinaan bagi muslim dan islam, tapi juga menghasut musuh untuk memerangi kaum muslimin dan islam, bahkan bermaksud membunuh Nabi Muhammad SAW. Rasulullah saw pun bersabda, “Siapa yang mau menghukum Ka’ab, sebab dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya”

Adalah Muhammad bin Maslamah (MBM) dkk, yang mengajukan diri memenuhi seruan Rasulullah SAW. MBM menggunakan taktik pura-pura tidak senang terhadap islam.

MBM: Orang itu (Nabi Muhammad SAW) mengharuskan kami bersedakah. Kami berat, boleh gak pinjam uang dari kamu.
ABA: Boleh, tapi harus pakai jaminan.
MBM: Jaminannya apa?
ABA: Serahkan isteri kalian padaku [wuihhh kurang ajar ya?]
MBM: Bagaimana mau menyerahkan padamu, nanti isteri kami tertarik padamu, kamukan gagah dan tampan.
ABA: serahkan anak-anak kalian saja kalau begitu!
MBM: Bagaimana mungkin kami menggadaikan anak-anak kami dengan sekuintal kurma. Gini aja deh, kami gadaikan senjata kami saja.
ABA: Ok, kalau gitu! Malam purnama bawa, saya tunggu di Benteng Bani Nadhir!

Adalah Rasulullah saw, was-was dengan rencana MBM dkk. Kalau gagal, maka MBM dkk lah yang akan terbunuh dan dibunuh oleh Kaab dan pasukan Yahudi di Benteng Bani Nadhir. Oleh karena itu sepanjang jelang rencana dilaksanakan tak hentinya Rasulullah saw bermunajat pada Alloh SWT.

Pada malam purnama, MBM dkk datang membawa senjata untuk digadaikan. ABA keluar rumah dengan rambut yang wangi. Abu Nailah (kawan MBM) berkata, “Wuih…harum banget nih pas Kaab Keluar” Kaab mesem-mesem, “Iya gue pake minyak rambut yang wanita arab pun gak ada yang bakalan punya! [Busyet deh, masih sombong aja ya?]. Abu Nailah membelai rambut Kaab, 1x, 2x dan yang ke-3x merenggut rambutnya keras seraya membekuk tengkuknya….dan terbunuhlah ABA.

#Refleksi: Rasulullah saw memerintah membunuh penista Nabi dan Islam, dikala derajat penistaannya tidak hanya menyangkut pribadi tapi juga membahayakan stabilitas negara bahkan jiwa Nabi Muhammad SAW.

4. Kasus Rasulullah saw menghadapi Abu Lahab

Abu Lahab, kisahnya diabadikan dalam QS. Al Lahab. Dia adalah paman Nabi SAW sendiri. Kisahnya terjadi saat Nabi SAW masih di Mekah, sebelum syariat Islam berdiri di Madinah.

Dia sangat menyangi Muhammad, sampai2 ketika Muhammad keponakannya lahir dia menyembelih dua kambing [Aqikah pertama dlm sejarah dilakukan Abu Lahab] dan membebaskan budak sebagai wujud kegembiraannya. Ketika Muhammad nikah dengan Khadijah, darinya ada dua anak tiri Ruqqayah dan Ummu Kulsum. Saking sayangnya pada keponakannya, dia pun menjodohkan Kedua anaknya dengan anak tiri Muhammad. 

Sikapnya berbalik 180 derajat, ketika Muhammad mengumumkan kenabiannya. Ketika pengumuman kenabian diberitakan pada penduduk Mekah, Abu Lahablah yang mengatakan “Gila, kamu muhammad” Padahal sebelumnya beliau diberi gelar Al Amiin (Orang terpercaya). Seperti diberitakan di QS Al Lahab, adalah Abu Lahab menggalang kekuatan melakukan penistaan berjamaan dengan menyebutkan “Muhammad orang Gila, Muhammad tukang Sihir, Ayat Qur’an itu buatan seorang Pendeta Nasrani bukan Firman Alloh SWT”. Bukan hanya itu isterinya pun Ummu Jamil pada malam hari memanggul kayu yang berduri untuk diletakkan di jalan2 yang biasa dilalui Nabi SAW. Sehingga bila Nabi SAW lewat pada malam hari/subuh akan terinjak kayu yang berduri itu dan terluka. Anaknya yang dijodohkan dengan anak tiri Nabi SAW pun diminta untuk cerai.

Inilah sikap Abu Lahab terhadap Baginda Nabi SAW:
1. Ringan tangan menyakiti Rasulullah Saw.
2.Bukan hanya dirinya yang memerangi Rasulullah Saw, ia pun melibatkan istri dan anak-anaknya. Satu keluarga telah terlibat.
3.Siap bekerjasama dengan siapapun demi menghabisi Rasulullah Saw, meski dengan setan sekalipun.
4.Baginya semua remeh dan enteng selagi itu untuk memerangi Rasulullah Saw, meski semua harta harus terbang melayang pergi.

___
Abu Lahab membenci Ajaran Islam yang dibawa Muhammad SAW. tak pernah berhenti memprovokasi masyarakat agar menjauhi Muhammad saw. Apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW pada pamannya ini? Apakah Nabi SAW meminta para pembesar Quraish untuk menghukum Si Abu Lahab? Apakah Nabi mengerahkan para shahabatnya untuk menuntut keadilan terhadap dirinya menggunakan hukum Quraish? Semuanya TIDAK, Nabi Muhammad SAW memilih bersabar tak henti menyadarkan pamannya ini bahkan Nabi SAW pernah memohon secara khusus pada Alloh swt agar menggerakkan hati pamannya ini terhadap Islam. Namun Abu Lahab adalah Abu Lahab….”Suara iman yang mengetuk hatinya diingkari, hanya karena keangkuhan dan kesombongan diri” …Nabi SAW berhenti dakwah pada Abu Lahab……sampai turun QS AL Lahab yang menjelaskan…
.سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.

#Refleksi5:Riwayat ini menjelaskan adalah proses natural jika ada cacian dan hinaan. Sebagai muslim…. sabar, do’akan, dan tetap melakukan yang terbaik, dan tidak berhenti mendakwahinya sampai terjadi kesetimbangan [bhs kimia].

 

Back to kasus Ahok, bagaimana saya harus bersikap? (Namanya juga #refleksi, saya tak hendak mempengaruhi siapapun].  Saya butuh fakta, berikut ini penggalan dari

“Bapak ibu tak usah khawatir, ini pemilihan kan dimajuin jadi kalau saya tidak terpilih pun..ini bapak ibu tak usah khawatir  nanti programnya bubar, tidak saya  berhentinya sampai oktober 2017, jadi kalau program ini dijalankan pun bapak ibu masih sempat panen sama saya.  Jadi saya ingin bapak ibu semangat, jangan nanti ganti gubernur programnya bubar. Enggak saya sampai Oktober 2017.  Jadi jangan percaya sama orang, bisa saja dalam hati kecil bapak ibu gak bisa pilih saya.  Iyakan dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macam-macam itu.  Itu hak Bapak Ibu, jadi kalau bapak ibu perasaan gak bisa pilih saya takut masuk neraka dibodohin gitu gak apa-apa tergantung pribadi bapak ibu, program ini jalan saja.  Jadi bapak ibu gak usah merasa gak enak dalam nuraninya gak bisa pilih Ahok, gak suka sama Ahok, programnya udah terima gak enak dong gue punya hutang budi, jangan nanti gak enak mati pelan-pelan kena stroke…..”

akses lengkap silahkan download disini: https://www.youtube.com/watch?v=N2Bn5JKTGkI

#Refleksi: Sebenarnya Ahok mau bilang, “Bapak Ibu gak pilih saya juga gak apa2 karena saya tahu bapak ibu punya keyakinan yang gak mudah diubah apalagi ini terkait dengan keyakinan terhadap Al Qur’an dan konsekuensinya di akherat.  Gak apa2 jangan merasa hutang budi sama saya

Tapi penyampaianya kasar….sehingga keluar “dibohongi pakai Al Maidah 51, dibodohin masuk neraka” [kata ini menyakitkan hati umat Islam tentu saja, termasuk juga saya].

Senin, 10 Oktober 2016 baca: AHOK MINTA MAAF [baca tribunnews.com, kompas.com]

 “Saya sampaikan kepada semua umat Islam, ataupun orang yang merasa tersinggung, saya sampaikan mohon maaf. Untuk semua pihak yang jadi repot, gaduh gara-gara saya, ya saya sampaikan mohon maaf,”  Balai Kota Jakarta, Senin (10/10/2016).

 

Kesimpulan:

Adalah Nabi Muhammad SAW memaafkan kebodohan pengemis Yahudi Tua.  Mengampuni Abdulah bin Ubay dan Abu Lahab yang terus menyerang Islam dan menyerahkan hukuman bagi mereka pada Alloh swt.  Adalah Nabi Muhammad SAW membunuh Ka’ab bin Asyraf karena syair dan provokasinya, Ka’ab tak pernah jera terus melakukan penghancuran melalui lisan dan provokasinya.  Adalah AHOK sudah meminta maaf pada umat islam, sudah mengakui kekhilafannya, dan menyesali perbuatannya.  Kemudian kita masih bersikeras? Cuma mau mengingatkan diri aja “Jangan sampai kebencian kita terhadap seseorang dan sesuatu kaum, menghalangi kita untuk berlaku adil terhadapnya”.

 

 

 

Bagian2: Beribroh pada siapa? #Think

Hiruk pikuk dunia perpolitikan mempengaruhi juga emosi umat islam.  Adalah demokrasi menjadikan pendapat mayoritas sebagai sebuah kebenaran sehingga kita lupa untuk merujuknya pada sumber hakiki.

Saya hanyalah sebagai seorang pembelajar yang mencoba mencari apakah kasus serupa yang dilakukan Ahok dengan mulut kotornya pernah terjadi di masa Rasulullah saw, dan bagaimana cara Rasulullah saw pada masa pemerintahannya atau pada masa beliau menjadi kepala negara di Madinah mengatasi masalah-masalah ini?

Kasus 1.  Menghadapi Abdulah Bin Ubay. 

ABDULAH BIN UBAY (ABU)” – Pada masa itu …dia adalah provokator, pernah memfitnah Ummu Mukminin Aisyah, dan mulutnya pun kotor menyebut kaum mu’min dengan orang hina, bukan hanya itu dia juga acapkali menjadi musuh dalam selimut bagi kaum muslimin, bershahabat tapi tujuannya menghancurkan kaum muslimin. [Catat: ABU ini adalah seorang publik figur.  Hampir saja dia menjadi Pemimpin di Madinah, ABU adalah seorang Yahudi yang pintar, sehingga masyarakat Yatrib percaya mampu menjadi pemimpin mereka, namun detik-detik terakhir pengangkatan gagal…. karena beberapa pemuka Yatrib (Madinah) bertemu Rasulullah saw dan memastikan bahwa Rasulullah saw adalah karakter yang cocok untuk memimpin kota mereka. ABU kemudian masuk islam, tapi…….munafik].

Umar bin Khattab mengatakan, “Ya Rasulullah kupenggal saja orang yang mengatakan ‘Akan kukeluarkan orang hina itu (orang mukmin) dari Madinah”

Rasululloh saw menjawab: “Tidak wahai Umar. Nanti apa kata orang bahwa Muhammad membunuh sahabatnya. Demi Allah tidak.”

Abdulah bin Abdullah bin Ubay pun menghadap Rasulullah saw “Jika engkau memang ingin membunuh ayahku ya Rasulullah. utus aku… utus aku sendiri… Betapapun aku mencintai ayahku.. tapi Allah dan Rasul-Nya lebih layak aku cintai daripada ayahku sendiri…”

Rasululloh saw menjawab, “Baiklah, berbaktilah kepada orang tuamu, ia tidak melihat darimu kecuali kebaikan.”

Tahulah Sang Anak bahwa Rasulullah saw memaafkan ayahnya.

Ketika Abdulah bin Ubay mati, anaknya Abdulllah minta menyolatkan ayahnya.  Umar melarang, tapi  sikap Rasulullah saw tetap baik, sampai2 menyetujui untuk mensholatkan jenazahnya, namun Alloh swt melarangnya dengan firmannya,

وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.

#Refleksi: Jadi seperti itulah Rasululloh saw memperlakukan publik figur yang memusuhi islam di dunia. Adapun diakherat terserah Alloh swt. 

Kasus 2:  Cara Rasulullah saw menghadapi pengemis yang selalu menghina beliau

Di sudut Pasar Madinah Al Munawarah ada seorang Pengemis Yahudi buta yg setiap hari selalu mengumpat,menghina, menjelekkan dan memaki Nabi Muhammad SAW dan apabila ada orang yg mendekatinya si pengemis selalu berkata :
“Wahai Saudaraku, kamu jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, DIA ITU PEMBOHONG, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya”

Namun setiap pagi Rasulullah SAW mendatangi si Pengemis dan tanpa berkata sepatah kata pun. menyuapkan makanan yg dibawanya. Nabi SAW melakukan perbuatan mulia itu kepada si Pengemis Yahudi buta hingga menjelang wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW TAK ada lagi orang yg membawakan makanan kepada si Pengemis buta itu.

Suatu hari Abu Bakar r.a. berkunjung ke rumah Aisyah, “Anakku, adakah sunnah Rasulullah yg belum aku kerjakan ?”.
Aisya menjawab: “Wahai Ayahanda…Engkau adalah seorang ahli sunnah, Hampir tdk ada satu sunnah pun yg belum Ayahanda lakukan, kecuali satu saja”. “Apakah itu, Aisyah ?”

“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar Madinah dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi yg buta yg berada disana” kata Aisyah.

Abubakar r.a. pergi ke pasar Madinah dengan membawa makanan.
Ketika Abubakar mulai menyuapinya, si Pengemis Yahudi buta itu marah sambil berteriak, “Siapakah kamu? Bukan…engkau bukan orang yg biasa mendatangiku dan menyuapi aku makan. Orang yg biasa mendatangiku dan menyuapi aku makan, apabila dia datang kepadaku, tidak susah tanganku ini memegang dan tidak susah mulutku ini mengunyah makanan. Orang yg biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tetapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya dan setelah itu diberikan dan disuapkannya kepadaku”

Abubakar tidak dapat menahan air matanya, Abubakar menangis sambil berkata kepada Pengemis Yahudi buta itu: “Aku memang bukan orang yg biasa datang padamu, aku adalah salah seorang dari Sahabatnya. Ketahuilah wahai Pengemis bahwa orang yg baik dan mulia itu kini telah tiada, orang yg mulia itu telah wafat. Orang yg baik dan mulia itu adalah Rasulullah Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam.

#Refleksi: Pengemis ini bermulut kotor, miskin, kafir pula.  Tapi adalah Rasulullah saw tidak menjebloskannya ke penjara, padahal pada saat itu Rasulullah saw kuasa untuk menjebloskan PENISTA RASULULLAH SAW ke penjara atau menghukumnya dengan hukuman cambuk atau hukum rajam atau hukum lainnya.  Yang Rasulullah saw lakukan adalah memaafkannya dan mengasihinya.

Begitulah cara Rasulullah saw memperlakukan orang-orang yang menghinanya baik dari kalangan publik figur maupun masyarakat biasa, baik dari kalangan kaum muslim (munafik) maupun dari kalangan kafir (Yahudi) . Dan ini adalah af’al Rasulullah saw, apakah kita berani mengingkari PERBUATAN RASULULLAH SAW?

Demikian saja, semoga kita menjadi orang-orang yang terus belajar, TONG KABAWA KU SAKABA-KABA, cek dan ricek, Tauladan yang paling baik adalah NABI MUHAMMAD SAW. Wallohualambisawab.