Bagaimana Jepang menciptakan manusia berkarakter dan berbudaya?

08_04_18 13.30 Office Lens.jpg

Bagian I: Fondasi pembangunan karakter di Jepang.

Saya dapat kiriman buku dari sahabat saya Murni Ramli judul bukunya “Menjadi Orang Berkarakter dan Berbudaya di Jepang”  Buku ini menjawab pertanyaan “Bagaimana Jepang menciptakan manusia berkarakter dan berbudaya?”  Tentu saja dengan perspektif sebagai orang indonesia.  Bukunya mengkaji secara lengkap dari mulai fondasi sampai dengan interior didalamnya.

Dua bab pertama dari buku memaparkan fondasi dari penciptaan karakter manusia jepang.  Fondasi dari pembangunan karakter di Jepang itu apa? Penulis memaparkan bahwa pembangunan karakter di Jepang adalah proses panjang dari mulai era Tokugawa (sekitar abad ke 16 M tepatnya 1603-1867).  Setiap jaman pemerintahan Jepang sangat peduli dengan pendidikan moral. Pendidikan moral merupakan sarana membentuk karakter orang-orang Jepang.  Jika zaman Edo sampai dengan Meiji pendidikan moral masyarakat Jepang dipengaruhi oleh Agama yang berkembang di Jepang yaitu Budha Shinto atau Konfusianisme (Kong hu Chu).  Namun setelah perang dunia kedua, dengan masuknya pengaruh AS, pendidikan moral orang di Jepang pun dipengaruhi oleh teori-teori barat tentang moral seperti Piaget, Kohlberg, … Kini pengaruh teori asia timur dan barat disatukan oleh Pakar Pendidikan Moral, dengan rumusan aspek kesadaran moral meliputi empat hal yaitu (1) Kesadaran pribadi, (2) hubungan dengan orang lain, (3) hubungan dnegan masyarakat/kelompok, (4) hubungan dengan alam/dunia.  Pendidikan moral di Jepang setelah perang dunia kedua mempunyai misi “menumbuhkan individu yang akan menjadi masyarakat dan warga negara demokratis dan damai, dengan menghapuskan unsur-unsur perang dan kepatuhan pada Kaisar”.

Sekilas rumusan aspek moral ini sama dengan rumusan dalam islam tentang tugas pokok manusia yaitu: Hambluminnalloh, Hablumminnannas, dan habluminnaalam.  Namun Jepang tidak memasukkan hubungan dengan tuhan sebagai sebuah landasan pendidikan moral.  Ini semua karena pemerintahan Jepang tidak menetapkan satu agama sebagai keyakinan mayoritas penduduknya, agama adalah keyakinan pribadi tidak harus diurusi pemerintah. Kebijakan ini menyebabkan tidak ada data jumlah penduduk beragama tertentu di Jepang.  Dan tentu saja tidak ada kolom agama dalam setiap form identitas di Jepang.  Kebijakan ini membuat masyarakat Jepang tidak fanatik pada agama tertentu, ketika lahir seorang anak akan diadakan upacara sesuai agama Shinto, ketika meninggal dia akan dikremasi sesuai agama budha, beribadah di rumah altar budha dan shinto ditempatkan berdampingan, dan ketika menikah akan merasa keren (Kakoi) dengan menikah di Gereja.  Maka ketika orang-orang jepang di Tanya apa agama kamu? lihat ini: THAT JAPANNESE MAN YUTA . That’s Jepang! Seketika saya pun teringat, lagu John Lenon “imagine no religion…living life in peace!” Tampaknya John Lennon terinspirasi dari Yoko Ono isterinya yang berasal dari Jepang ketika membuat lirik ini.

To be Continue, bagian selanjutnya akan dijelaskan tentang bagian II: Geografi, Sosial Budaya, dan Teknologi di Jepang.

 

Sabtu bersama Bapak 


Walau disajikan buat film lebaran tapi Baru sempet nonton, maklum saya lebaran di kampung gak ada bioskop.  Dan kesannya “Filmnya lebih seru dan asyik!!”

Jika ada orang yg kecewa, “Kok, filmnya gak seperti novelnya?” Nah, baru kali ini saya menikmati nonton film setelah baca novelnya.  Kalau gak percaya silahkan aja buktikan sendiri😝.

Ok, dari baca novelnya saya suka ide ceritanya.  “Menghadirkan sosok Ayah dalam mendidik anak”.  Walau sosok ayah telah tiada, tapi petuahnya hadir sepanjang masa, sampai akhir masa melepaskan ke-jomblo-an anaknya.  Sungguh Brilliant ide ceritanya, dan jempol buat Adhit.  Dalam pendidikan keayahbundaan kita semua mafhum bagaimana kehadiran sosok ayah dan ibu tak bisa terganti dengan apapun.  Kondisi single parent akan membuat pincang kepribadian anak.  Nah, ide mem-video-kan petuah2 ayah, diputer tiap sabtu, ini bener2 ide cemerlang.  

Selain alur utama dan ide utama “menghadirkan sosok ayah”, masih ada dua cerita lagi.  Pertama, konflik rumah tangga antara Satya-Risa yang bikin merengut. Kedua,  usaha Cakra mengakhiri ke-jomblo-annya yang bikin ketawa. Menonton film ini kita dihadiahi banyak QUOTE yg membuat kita berfikir keabsahan logika umum selama ini.  Misalnya umumnya menikah itu tujuannya saling melengkapi, pasangan satu menyempurnakan pasangan lainnya. Lewat dialog Cakra pada Ayu justeru “sebelum menikah haruslah mematutkan diri, menyempurnakan diri apakah layak menjadi imam bagi pasangannya?”   

Bagi yang belum nonton, ada baiknya menyiapkan catatan, karena akan banyak quote di film ini, hehehe. Mungkin filmnya jadi terkesan menggurui ya? Namun kesan itu akan pupus dengan kenikmatan akting Cakra, Wati, Firman yang sungguh kocak. Juga kematangan akting Acha dan Ira Wibowo. 

….dari ide cerita juga rangkaian cerita walau tidak didedikasikan sebagai film religi atau film berlabel islami, ini film lebih islami daripada film yang  berlabel islami namun alurnya seputar percintaan segitiga.  Memang cocok banget film ini disajikan di moment lebaran.

Oh ya hal yang menarik dari film ini adalah ….membiarkan gambar yang berbicara.  Tidak ada satupun tokoh yang mengungkapkan apa penyebab kematian ayah Satya-Cakra, tapi dari surat yang diterima kita tahu bahwa apa penyebab kematian ayah mereka.  Lalu tidak perlu mengungkap dengan banyak kata “alasan religius” kenapa Cakra ngebet sama Ayu…cukup dengan menggambarkan dengan sepasang sepatu terongook di rak sepatu Mushola kantor.  

Satu lagi yg bikin jempol…. Setting 1990-an sangat diperhatikan pada film ini.   film tidak abai sama setting perangkat dan teknologi yg melatari tahun kronologis.  Detail penggunaan dari kaset ke flashdisk bukan sekedar perangkat tapi jadi makna sebagai sebuah film bergaya flashback.

Penasarankan? Kalau gitu silahkan menonton!

Bulan terbelah di langit Amerika #Resensi

image
Malam ini Purnama menghiasi langit Indonesia.  Dan saya berkesempatan nonton “bulan terbelah di langit Amerika”

Wooof! Saya sempat baca pengalaman Acha saat syuting dg hijab di AS.

Setting cerita ‘9-11-2001’ sinisme thdp islam.  Hanum diminta bos buat artikel “Akankah dunia lebih baik tanpa islam?” Disinilah cerita dimulai…

Ok, saya cerita hal menarik di film ini saja, terus terang aja soundtrack filemnya agak ganggu terlalu “songong” (sorry sama yg buat soundtrack). 
#Acha, di film ini menggambarkan sebagai sosok wanita bekerja yg butuh perlindungan dan tergantung pada suami.  Mungkin ini jadi gambaran bagi para muslimah umumnya yg bekerja, kadang ketika kita bekerja gak mandiri2 banget dan acapkali malah ngerepotin suami…hehehe
#Abimana, di film ini digambarkan sbg sosok suami yg melindungi istri tapi menarik keuntungan dari pekerjaan istri, mencuri ide dari apa yg dikerjakan istri.  Dan kayaknya yg begini natural terjadi pada kehidupan suami istri.

Dan kesan saya selama nonton film ini kayak lagi merangkai puzzle.  Frame demi Frame disajikan dan ternyata di ending potongan2 itu jadi sebuah kesatuan utuh.  — Ya, ini mungkin maksud bulan terbelah lalu tersatukan kembali.

Di film ini kita disuguhkan sebuah pesan tentang islam yg membawa kedamaian menghargai perbedaan.  Walaupun pesan yg disampaikan ‘agak memaksakan’ tapi is OK, bagi  yg sudah muslim ini akan memperkuat kecintaan pada islam.  Tapi mungkin logikanya agak susah dipahami dari kacamata non muslim. 

What ever – film ini cukup menghibur kita, paling tidak cocok ditonton saat libur maulud ini. Nabi Muhammad saw telah membawa islam, ISLAM SBG AGAMA RAHMATAN LIL ALAMIN.  Dan akting Acha dan Abi di film ini pun cukup memanjakan mata, jadi tak ada salahnya jika film ini dipilih sbg film tontonan bersama anak2 ABG anda!

NONTON ASLI. Please HINDARI BAJAKAN YA! #YUK KITA BUAT INDONESIA BAGUS!

Mencari Hilal: Merekatkan silaturahmi sesungguhnya… #resensiFilm

Serasa begitu dekat dengan ayah……. dan ….. legaaaaaaa……….

Begitulah kesan usai menonton  FILM “Mencari Hilal” yang akan ditayangkan di Bioskop mulai tanggal 15 Juli nanti.

Hilal? Hilal bukan hal yang asing bagi masyarakat Indonesia.  Hilal selalu dicari dan ditunggu untuk mengawali bulan ramadhan dan mengakhirinya.

Dengan apik  lewat frame demi frame yang kadang menggelitik, Sang Sutradara  menggambarkan Mahmud sebagai sosok ayah yang taat agama, bersih akidahnya dan jujur amalnya.  Semua tindakannya mengikuti amalan Rasulullah saw.  Gambar sikap Mahmud tidak menaikan harga barang dagangan mengikuti kenaikan, dan tetap mendasarkan pada harga stok terdahulu, adalah sebuah gambaran pedagang taat syariat. Konservatif?? Hemmm, Saya sih mah lebih suka menyebutnya orang takwa yang ucap dan langkahnya seiring.

Lalu Hely Sang Anak?? ….dengan pendekatan dialog Sutradara membawa para penonton menemukan sosok Hely.  Dialog-dialog singkat mengambarkan Heli sebagai aktifis kemanusian yang memiliki luka mendalam pada ayahnya.  Kecewa pada ayahnya dan akhirnya memberontak pada agama.

Sebuah relationship  rumit antara ayah dan anak bukan? Namun,  akhirnya mereka dipertemukan untuk menghabiskan perjalanan bersama melakukan nampak tilas Sang Ayah dalam “Mencari Hilal akhir Ramadhan”.  Cerita pun mengalir karena adanya perbedaan  niat, sudut pandang, usia, dan rasa…tak jarang kelucuan, keharuan, dan ternyata pada satu titik mereka pun menemukan kesamaan watak yaitu munculnya sikap “IDEALIS” ketika bertemu shobib sang ayah yang gagal jadi Kepala Daerah.

Baik, tentang film ini sendiri Acung jempol buat Sutradarnya. Film ini menyajikan…

  1. Visualisasi.  Kita akan dimanjakan dengan visualisasi alam dan sosial.  Walaupun ada sedikit lebay, ketika Hely berteriak tanpa sebab pada pasukan ormas bermotor… kemudian dinetralisir oleh sang Ayah bahwa itu baik saja mengingatkan orang-orang, kalau niatnya juga baik, tapi itu tak mengurangi keindahan visual lainnya.  Paling menarik adalah visualisasi di awal…digambarkan sangat artisitk tentang “sebuah tas dibawah pohon….”  dan gambaran ini akan terjawab pada 1/6 akhir cerita tergambar… tak perlu banyak berkata, semua visualisasi ini seakan-akan mengatakan….. “aku mulai perjalanan disini…….”  Dan di 1/6 akhir film dengan visualisasi yang sama….. menggambarkan “Diakhiri atau dilanjut semuanya dipasrahkan pada keputusan anaknya” ….. dan ending.  Visualisasi yang apik disajikan frame demi frame di film ini.  Membuat kita tertahan dan betah menyaksikannya.
  2. Pemain.  Saya harus acungkan jempol pada Pak Dedi Sutomo.  Actingnya luar biasa, tak banyak kata, tapi body language menggambarkan semuanya.  Dan saya tidak akan terkejut kalau akhirnya bapak ini mendapatkan piala citra pada FFI nanti.
  3. Alur cerita.  Jalan cerita utamanya adalah perjalanan cinta ayah dan anak.  Selama melakukan perjalanan menemukan realitas sosial dan politik yang dikritik sesuai pesan sponsor, namun semuanya disajikan dengan logis dan tak menganggu alur cerita.  Kalau tidak suka dengan kritik sosial dan politiknya, dilewat saja pun tak akan mengurangi alur cerita.  Misi utama dari film ini ….”Bagaimana merekatkan kembali silaturahmi ayah dan anak lewat sebuah perjalanan…..nostalgia”.  Seperti film produksi mizan umumnya…air mata, tawa, kejutan-kejutan ada di setiap frame yang kita simak.  Misalnya penonton dibuat tertawa ketika Pak Mahmud berniat pergi dengan membawa kopernya,  kopernya kemudian diambil anak perempuannya dan dikembalikan baju2nya ke lemari, tetapi Pak Tua ini tak hilang akal, ia memang punya koper cadangan.  [Maaf, saya teh dari USA (Urang Sunda Asli) ari koper [n] = sejenis tas ditulisna janten kofer atau kover atau koper ya? hehehe].   Kita penonton dipaksa menarik makna dari “frame  sebelum perjalanan di mulai ada dialog Ayah dan anak tentang ajaran Nabi Khidir” dengan mengikuti seluruh frame yang ada sabar dan sampai tuntas baru ngeh maknanya.   Dan…..berkat film ini juga saya jadi cari2 isi Al Kahfi 62-82 yang bercerita tentang nabi khidir. Eh…beberapa ayatnya ternyata menggambarkan bagaimana sang Ayah sedang membelajarkan si anak memang meniru nabi khidir membelajarkan Musa as.

     “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersama-samaku.” (Surah Al-Kahfi : 67)

    Nabi Musa berkata, “Insya Allah tuan akan mendapati diriku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentang tuan dalam sesuatu urusan pun.” (Surah Al-Kahfi : 69)
    Dia (Khidir) selanjutnya mengingatkan, “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun sehingga aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (Surah Al-Kahfi : 70)
  4. Hal yang paling saya suka adalah ending film ini.  Dari ending film….”Ketika Hely membuka paspornya….dan kita semua melihat nama lengkapnya” maka MENCARI HILAL bukan sekedar makna faktual yaitu sebuah tanda awal atau akhir ramadhan tetapi juga makna emosional…tentang kasih sayang, tentang perjalanan SEORANG BAPAK KERAS KEPALA YANG TERNYATA MENYIMPAN CINTA PADA ANAKNYA YANG MEMBENCINYA.

Yap, Hely mungkin termasuk pemuda yang beruntung.  Tidak semua pemuda/pemudi berkonflik ayah-anak berakhir happy ending. 

Dan……… Rasanya begitu sayang melewatkan film ini, karena film ini bisa mengingatkan kita tentang memori ayah kita.   Banyak tingkah Bapak Mahmud yang membuat kita bernostalgia terhadap sosok bapak yang sudah tua.  [Stttt suami saya yang duduk disebelah berisik ‘Pesis si Eyang’].   Ternyata…..mengajak napak tilas ke momen tertentu yang paling berkesan dalam hidupnya akan mempererat tali silaturahmi  dengan orang tua kita.  Kenapa kita tidak coba tawarkan pada ayah/ibu kita?

Satu lagi, film dengan tema seperti ini jarang sekali ada di Indonesia, sungguh sayang melewatkan film yang syarat makna kaya inspirasi.  Di jamin di Film ini tidak akan ditemui adegan para non-mahrom bekasih-kasihan, jadi kalau nonton sekeluarga termasuk mengajak anak-anak tetaplah aman.

THE VIRGIN #ResensioldFilm

Ini film lama, tahun 2004 (Wow 10 tahun lalu nih film), pemerannya aja masih pada SMA.  Pernah jadi kontroversi juga nih film di tahun itu, sampai akhirnya lolos karena hanya boleh ditonton oleh 21+.  Di puter di MNCTV lepas jam 12+ malam, masih kebayang memang ini tontotan orang dewasa.

Fenomena remaja2 di virgin itu bukan fenomena baru.  Cathy, anak SMA dari keluarga miskin yang bergaul dengan Stela dari keluarga gedongan yang punya kehidupan bebas, dan Biyan dari Keluarga Menengah atas yang mengalami DISHARMONIS KELUARGA, ibunya gila karena ayahnya doyan main perempuan.

Cathy adalah fenomena anak remaja dari keluarga miskin, yang bergaya seperti keluarga gedongan..baju & HP bermerk.  Untuk mengejar gaya, ya apalagi kalau gak melacurkan diri.  Fenomena “Cathy” adalah fenomena yg banyak terjadi di sekitar kita.  Tahun 80-90-an, waktu saya remaja, anak SMA kayak gitu dikenal dengan perek.  Sekarang kita kenalnya dengan cabe-cabean.  Fenomena remaja seperti ini banyak di SMA, gampang sih mendeteksinya, kelihatan juga dari gaya-gayanya….”body language” gak bisa bohong….

Surely, dari semua cerita yang disajikan…film ini gak banyak pesan moral yang bisa dicerna.  Anak2 SMA yang berkeliaran dengan kehidupan malamnya, minum2-an keras, pesta, dan free-sex.  Hal yang menarik adalah setting yaitu kesetiakawanan…

Ceritanya sendiri banyak loncat-loncat…banyak cerita gak selesai, loss focus juga….alurnya belok2 beriak…gak enak nontonnya, peralihan antar frame juga kasar, nontonnya jadi gak nikmat.

Akhir cerita, baru ketangkap bahwa ini cerita tentang perjuangan “mempertahankan keperawaanan” semua karena LOSS FOCUS.  Sayang sebetulnya, isi ceritanya cukup bagus cuma….mengalurkannya yang tergesa-gesa, sepertinya si pembuat skenario gak cukup sabar …….

 

Film ini memang cocok untuk 21+ ke atas, kalau ditonton remaja putri tampaknya harus hati2, jangan sampai ini menjadi sebuah pelegalan, it’s ok dengan kehidupan tersebut, karena dalam film ini tidak tampak penyesalan dari para tokoh yang terlanjur berbuat free-sex, seakan2 semua legal.  Kedewasaan menonton diperlukan dalam hal ini.

Oshin: The Legend #Film

image

Siapa org Indonesia era 1980-an yang tidak kenal Oshin??
Serial TV dari NHK Japan yg diputar TVRI menjadi legenda yg tak terkalahkan oleh film jepang lainnya.  Now Oshin The Movie is coming, cuma Filmnya hanya diputar di Blitzmegaplex sejak 29 Januari lalu.

Hari ini gue nonton filmnya di Blitzmegaplex Paris Van Java Bandung.  Blitz memang gak disetiap kota ada, gak seperti 21Cinemaplex atau Cinema XXI. Cek dimana aja adanya disini: https://www.blitzmegaplex.com

Setelah nonton selama 2 jam saya harus akui bahwa film ini bagus banget!  Saking menikmati alur ceritanya air mata saya terkuras abis!

Ok, let me say about alur! Semua sudah tahu alur panjang dari serial Oshin dari kecil sampe nenek2. Nah, alur cerita di film ini sangat cerdas dan tak rakus.  Acapkali film biografi terjebak pada sifat “rakus” kenapa saya bilang rakus? Krn film2 itu memborong semua kisah hidup dari kecil sampai dewasa bahkan mati…hingga esensi cerita yg mau disampaikan hilang dan film2 itu terjebak pada sebuah riwayat dan perjalanan saja! Film Oshin tak begitu! Sepenggal kisah saat Oshin berumur 7 tahun cukup mewakili perjuangannya.  Ekaplorasi perjuangan disegmen ini yg detail bercerita. Jadi nontonnya pun nikmat ga pake terpotong2.

Let me tell about moral of film! Nah, selalu saya ajak semua untuk nonton film yg punya nilai moral tinggi.  Nonton film Oshin bukan sekedar hiburan tapi penuh pesan moral.  Kejujuran dan komitmen menjadi ruh film ini! Sebuah nilai moral yg langka di negeri ini.  Lingkungan dan keluarga yg menjaga tinggi nilai moral ini.

Let me describe about character! Tahu dong film indonesia kalau udah antagonis selamanya antagonis, dan protagonis jadi menderita terus.  Hingga kita menyengit2 “ini di dunia nyata kejadian kayak gini?”  Di film Oshin…manusia adalah manusia bukan malaikat atau syaitan. Kayo yg antagonis berubah menjadi baik… pada majikan sebelumnya Oshin yg dituduh mencuri belakangan uangnya dikembalikan.   sebuah film yg manusiawi dan nyata dalam kehidupan. Rasanya film2 Indonesia harus belajar pada film Jepang bagaimana mengemas nilai moral tanpa mengurui dan tetap memposisikan sebagai hubungan antar manusia bukan hubungan antara malaikat dan syetan.

I just knew, Oshin talk about ecofeminism!!
Nah ini menariknya! Waktu serial film ini diputar di TVRI saya gak terlalu ngerti pesan mendalamnya, yang saya tahu tentang kegigihan dan perjuangan Oshin dari keluarga miskin sehingga sukses menjadi pedagang.  Sekarang saya lihat Oshin the Movie dg persepsi lain, persepsi sebagai seorang dewasa dengan banyak ilmu pengetahuan.  Dan saya melihat hal lain, sesungguhnya ini cerita tentang wanita!!! Sangat feminisme tapi bukan feminisme liberal.  Lebih pada ecofeminisme yaitu posisi wanita dalam keluarga yang sangat sentral sebagai ibu dengan naluri keibuannya dan isteri dengan keinginannya mematuhi dan mengabdi pada suami.  Pengabdiannya pada keluarga dan suami, terkadang harus mengorbankan perasaan dan harga dirinya.   Sangat menyentuh sekali saat Ibu Kuni mengatakan “wanita bekerja untuk dirinya, keluarganya, dan anak2nya
Dikatakan begitu saat Oshin kecil kecewa melihat pekerjaan ibunya menjadi menghibur pria mabuk.  Perkataan Ibu Kuni ini menyebabkan Oshin sadar…dan tidak kecewa dengan apa yang dilakukan ibunya, walau dalam pandangan kemasyarakatan ‘wanita penghibur’ kotor tentu saja.  Sangat NICE, tidak men-judge…tapi mencoba memahami.  EMPATI….!!! That’s it!

It’s about children labour but so touched!!! Pekerja anak!! Oshin adalah gambaran pekerja anak2 kalau konteks zaman sekarang ilegal. Tapi itu fakta yg banyak dijumpai pada keluarga miskin. Terpaksa mempekerjakan anaknya karena tuntutan ekonomi.  Menariknya film ini menggambar secara apik ttg metamorfosis persepsi Oshin kecil “Awalnya Oshin melakukannya dg terpaksa krn tuntutan ekonomi, pada kali kedua ia bekerja untuk menjaga wibawa keluarga….sebuah aib sebelum selesai masa kontrak telah kabur dari pekerjaan…dan kali ketiga ia berangkat dengan sukarela krn perubahan persepsi ttg wanita…” Sebuah gambaran yg sangat bagus…perubahan persepsi yg menyebabkan kegigihannya bekerja digambarkan apik….sekali.

Sampai disini, saya masih berpikir2, ini film ceritanya sarat moral, tapi kok gak ngebosenin.  Sampai2 saya nahan pipis demi menuntaskan frame by frame tanpa ketinggalan.  Gambar dan pengambilan anglenya pun menarik.  Gak usah terlalu banyak ngomong, tapi body language dan sorot mata udah bicara.  Jempol deh!!  Gak usah cerita bahwa ayahnya dibalik kerasnya mencintai Oshin! Cukup dengan menggambarkan adegan menghantarkan Oshin untuk bekerja.   Gak usah adu mulut untuk memperlihatkan Oshin kecewa dengan pekerjaan ibunya, cukup dengan dia terduduk dan menangis.  Gak usah mengatakan I Love U ribuan kali, cukup binar mata yang bicara.  Wah!!! berapa jempol harus diacungkan nih???

Pokoknya gak rugi kalau nonton.  So! Mengapa gak buru2 nonton??Keburu gak diputar lagi loh! Karena apa? Penontonnya sedikit.  Saat saya nonton pun ruangan blitzmegaplex hanya berisi 11 orang, 9 orang Indonesia dan 2 orang lagi seorang ibu dan anak kecilnya warga Jepang.  Ini tontonan SU jadi ajak kakek nenek ibu ayah dan anak2 untuk bernostalgia.  Sungguh saya lebih memaknai film ini ketimbang waktu kecil saya rajin nonton serialnya.  #Stoppiracy-Nontonlah di Bioskop!!

Edensor: friendship memang sip! #resensiFilm

image

Malam tahun baru kemarin abis bimbingan disertasi, saya mampir nonton Edensor.
Udah lama banget gak nonton di bioskop…disertasi menyita privasi…hahaha

Ini film trilogi, sebelumnya ada Laskar Pelangi dan sang pemimpi.  Cerita film ini lanjutan perjuangan meraih mimpi Arai dan Ikal di Paris. 

Thanks God! Yg jadi Arai gak jadi Ariel.  Klu Arai dimainkan Ariel duh…..pastinya males banget nonton film ini.  Nah, Ikal diperankan oleh Lukman Sardi….walaupun terus terang kayaknya Lukman ketuaan memerankan Ikal….tapi bagaimana lagi…susah kali ya nyari tokoh berwajah pas2an dengan akting bagus…hehehe 

Ok! Gak ada yg harus dicela dg akting Ikal. Arai yg penuh semangat pun diperankan dg baik…. body language di setiap akting bisa dinikmati dg indah…

Lalu ceritanya??
True friendship!!! Jadi pesen dari film ini. 
Nah…seperti film Produksi Mizan…ciri khasnya….perasaan kita akan diaduk2…dari humor seger dan orsinil yg bikin terpingkal, terharu, juga dibuat mengerutkan dahi karena kritik2 sosial ……asli deh kita tidak hanya terhibur dg nonton film ini, tapi sarat makna juga kata….banyak quote yg bisa diambil dr film ini. Boleh jg siapin catatan tuh!

Film ini bisa jadi…tontonan yg bisa dinikmati anda dan para abg-ers buah hati anda.  Jarang loh ada tontonan yg bisa dinikmati sekeluarga….

Saya paling suka dialog super lucu antara “Rhoma Irama dan Adam Smith…”
Perasaan kita akan diharubirukan saat Arai yg berusaha mengingatkan dan terus memompa semangat Ikal…..haru banget IT’S TRUE FRIENDSHIP…..

Nah, ini bisa jadi contoh bagi para remaja labil tentang arti sahabat sesungguhnya! Bahwa sahabat sejati itu ada dikala susah…memompa semangat dikala lemah….mengingatkan dikala salah langkah…

Film ini bukan film islami! Tapi nilai2 dan alurnya SANGAT ISLAMI bahkan LEBIH ISLAMI dibandingkan film yang MENGAKU FILM ISLAMI. Betul??? Kalau gak percaya tonton aja!

Saking menikmati film ini, ketika berakhir….kita bilang “What???? Kok udahan sih!!!