Bulan terbelah di langit Amerika #Resensi

image
Malam ini Purnama menghiasi langit Indonesia.  Dan saya berkesempatan nonton “bulan terbelah di langit Amerika”

Wooof! Saya sempat baca pengalaman Acha saat syuting dg hijab di AS.

Setting cerita ‘9-11-2001’ sinisme thdp islam.  Hanum diminta bos buat artikel “Akankah dunia lebih baik tanpa islam?” Disinilah cerita dimulai…

Ok, saya cerita hal menarik di film ini saja, terus terang aja soundtrack filemnya agak ganggu terlalu “songong” (sorry sama yg buat soundtrack). 
#Acha, di film ini menggambarkan sebagai sosok wanita bekerja yg butuh perlindungan dan tergantung pada suami.  Mungkin ini jadi gambaran bagi para muslimah umumnya yg bekerja, kadang ketika kita bekerja gak mandiri2 banget dan acapkali malah ngerepotin suami…hehehe
#Abimana, di film ini digambarkan sbg sosok suami yg melindungi istri tapi menarik keuntungan dari pekerjaan istri, mencuri ide dari apa yg dikerjakan istri.  Dan kayaknya yg begini natural terjadi pada kehidupan suami istri.

Dan kesan saya selama nonton film ini kayak lagi merangkai puzzle.  Frame demi Frame disajikan dan ternyata di ending potongan2 itu jadi sebuah kesatuan utuh.  — Ya, ini mungkin maksud bulan terbelah lalu tersatukan kembali.

Di film ini kita disuguhkan sebuah pesan tentang islam yg membawa kedamaian menghargai perbedaan.  Walaupun pesan yg disampaikan ‘agak memaksakan’ tapi is OK, bagi  yg sudah muslim ini akan memperkuat kecintaan pada islam.  Tapi mungkin logikanya agak susah dipahami dari kacamata non muslim. 

What ever – film ini cukup menghibur kita, paling tidak cocok ditonton saat libur maulud ini. Nabi Muhammad saw telah membawa islam, ISLAM SBG AGAMA RAHMATAN LIL ALAMIN.  Dan akting Acha dan Abi di film ini pun cukup memanjakan mata, jadi tak ada salahnya jika film ini dipilih sbg film tontonan bersama anak2 ABG anda!

NONTON ASLI. Please HINDARI BAJAKAN YA! #YUK KITA BUAT INDONESIA BAGUS!

Mencari Hilal: Merekatkan silaturahmi sesungguhnya… #resensiFilm

Serasa begitu dekat dengan ayah……. dan ….. legaaaaaaa……….

Begitulah kesan usai menonton  FILM “Mencari Hilal” yang akan ditayangkan di Bioskop mulai tanggal 15 Juli nanti.

Hilal? Hilal bukan hal yang asing bagi masyarakat Indonesia.  Hilal selalu dicari dan ditunggu untuk mengawali bulan ramadhan dan mengakhirinya.

Dengan apik  lewat frame demi frame yang kadang menggelitik, Sang Sutradara  menggambarkan Mahmud sebagai sosok ayah yang taat agama, bersih akidahnya dan jujur amalnya.  Semua tindakannya mengikuti amalan Rasulullah saw.  Gambar sikap Mahmud tidak menaikan harga barang dagangan mengikuti kenaikan, dan tetap mendasarkan pada harga stok terdahulu, adalah sebuah gambaran pedagang taat syariat. Konservatif?? Hemmm, Saya sih mah lebih suka menyebutnya orang takwa yang ucap dan langkahnya seiring.

Lalu Hely Sang Anak?? ….dengan pendekatan dialog Sutradara membawa para penonton menemukan sosok Hely.  Dialog-dialog singkat mengambarkan Heli sebagai aktifis kemanusian yang memiliki luka mendalam pada ayahnya.  Kecewa pada ayahnya dan akhirnya memberontak pada agama.

Sebuah relationship  rumit antara ayah dan anak bukan? Namun,  akhirnya mereka dipertemukan untuk menghabiskan perjalanan bersama melakukan nampak tilas Sang Ayah dalam “Mencari Hilal akhir Ramadhan”.  Cerita pun mengalir karena adanya perbedaan  niat, sudut pandang, usia, dan rasa…tak jarang kelucuan, keharuan, dan ternyata pada satu titik mereka pun menemukan kesamaan watak yaitu munculnya sikap “IDEALIS” ketika bertemu shobib sang ayah yang gagal jadi Kepala Daerah.

Baik, tentang film ini sendiri Acung jempol buat Sutradarnya. Film ini menyajikan…

  1. Visualisasi.  Kita akan dimanjakan dengan visualisasi alam dan sosial.  Walaupun ada sedikit lebay, ketika Hely berteriak tanpa sebab pada pasukan ormas bermotor… kemudian dinetralisir oleh sang Ayah bahwa itu baik saja mengingatkan orang-orang, kalau niatnya juga baik, tapi itu tak mengurangi keindahan visual lainnya.  Paling menarik adalah visualisasi di awal…digambarkan sangat artisitk tentang “sebuah tas dibawah pohon….”  dan gambaran ini akan terjawab pada 1/6 akhir cerita tergambar… tak perlu banyak berkata, semua visualisasi ini seakan-akan mengatakan….. “aku mulai perjalanan disini…….”  Dan di 1/6 akhir film dengan visualisasi yang sama….. menggambarkan “Diakhiri atau dilanjut semuanya dipasrahkan pada keputusan anaknya” ….. dan ending.  Visualisasi yang apik disajikan frame demi frame di film ini.  Membuat kita tertahan dan betah menyaksikannya.
  2. Pemain.  Saya harus acungkan jempol pada Pak Dedi Sutomo.  Actingnya luar biasa, tak banyak kata, tapi body language menggambarkan semuanya.  Dan saya tidak akan terkejut kalau akhirnya bapak ini mendapatkan piala citra pada FFI nanti.
  3. Alur cerita.  Jalan cerita utamanya adalah perjalanan cinta ayah dan anak.  Selama melakukan perjalanan menemukan realitas sosial dan politik yang dikritik sesuai pesan sponsor, namun semuanya disajikan dengan logis dan tak menganggu alur cerita.  Kalau tidak suka dengan kritik sosial dan politiknya, dilewat saja pun tak akan mengurangi alur cerita.  Misi utama dari film ini ….”Bagaimana merekatkan kembali silaturahmi ayah dan anak lewat sebuah perjalanan…..nostalgia”.  Seperti film produksi mizan umumnya…air mata, tawa, kejutan-kejutan ada di setiap frame yang kita simak.  Misalnya penonton dibuat tertawa ketika Pak Mahmud berniat pergi dengan membawa kopernya,  kopernya kemudian diambil anak perempuannya dan dikembalikan baju2nya ke lemari, tetapi Pak Tua ini tak hilang akal, ia memang punya koper cadangan.  [Maaf, saya teh dari USA (Urang Sunda Asli) ari koper [n] = sejenis tas ditulisna janten kofer atau kover atau koper ya? hehehe].   Kita penonton dipaksa menarik makna dari “frame  sebelum perjalanan di mulai ada dialog Ayah dan anak tentang ajaran Nabi Khidir” dengan mengikuti seluruh frame yang ada sabar dan sampai tuntas baru ngeh maknanya.   Dan…..berkat film ini juga saya jadi cari2 isi Al Kahfi 62-82 yang bercerita tentang nabi khidir. Eh…beberapa ayatnya ternyata menggambarkan bagaimana sang Ayah sedang membelajarkan si anak memang meniru nabi khidir membelajarkan Musa as.

     “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersama-samaku.” (Surah Al-Kahfi : 67)

    Nabi Musa berkata, “Insya Allah tuan akan mendapati diriku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentang tuan dalam sesuatu urusan pun.” (Surah Al-Kahfi : 69)
    Dia (Khidir) selanjutnya mengingatkan, “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun sehingga aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (Surah Al-Kahfi : 70)
  4. Hal yang paling saya suka adalah ending film ini.  Dari ending film….”Ketika Hely membuka paspornya….dan kita semua melihat nama lengkapnya” maka MENCARI HILAL bukan sekedar makna faktual yaitu sebuah tanda awal atau akhir ramadhan tetapi juga makna emosional…tentang kasih sayang, tentang perjalanan SEORANG BAPAK KERAS KEPALA YANG TERNYATA MENYIMPAN CINTA PADA ANAKNYA YANG MEMBENCINYA.

Yap, Hely mungkin termasuk pemuda yang beruntung.  Tidak semua pemuda/pemudi berkonflik ayah-anak berakhir happy ending. 

Dan……… Rasanya begitu sayang melewatkan film ini, karena film ini bisa mengingatkan kita tentang memori ayah kita.   Banyak tingkah Bapak Mahmud yang membuat kita bernostalgia terhadap sosok bapak yang sudah tua.  [Stttt suami saya yang duduk disebelah berisik ‘Pesis si Eyang’].   Ternyata…..mengajak napak tilas ke momen tertentu yang paling berkesan dalam hidupnya akan mempererat tali silaturahmi  dengan orang tua kita.  Kenapa kita tidak coba tawarkan pada ayah/ibu kita?

Satu lagi, film dengan tema seperti ini jarang sekali ada di Indonesia, sungguh sayang melewatkan film yang syarat makna kaya inspirasi.  Di jamin di Film ini tidak akan ditemui adegan para non-mahrom bekasih-kasihan, jadi kalau nonton sekeluarga termasuk mengajak anak-anak tetaplah aman.

16. #Random: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Dua hari ini RCTI memutar film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.  Novelnya sendiri karya Ulama besar Buya Hamka.  Sewaktu sekolah dasar saya mengenal Buya Hamka sebagai penceramah di TVRI tiap malam jum’at.  Karena satu-satunya tontonan ya saya sering mendengar beliau ceramah, saya paling suka kalau beliau cerita tentang kisah Nabi, itu yang terkenang tentang beliau ketika saya kecil.

Ketika Buya Hamka meninggal usia saya kurang lebih 10 tahun.  Saya baru tahu beliau ulama besar, karena berita TV dan koran waktu itu ramai sekali.  Ternyata Buya Hamka bukan hanya penceramah tetapi ulama besar.

Ketika saya SMP maka saya kenal Buya HAMKA justeru sebagai sastrawan.  Zaman saya SMP dan SMA saya pake kurikulum 1974, bahasa indonesia itu ada dua yaitu Belajar Bahasa dan Belajar Sastra.  Nah, kita akan buta sastra kalau tidak tahu judul novel yang dikarang para sastrawan dan tokoh2 di dalamnya.  Terkadang guru juga memberi tugas untuk meresensi buku sastrawan itu.

Mungkin teman2 saya ada yang meresensi tanpa membaca.  Walau saya juga tidak mengerti mereka dapat dari mana.  Tapi saya termasuk anak baik, ketika mendapat tugas itu saya meresensinya.  “Salah Asuhan” adalah novel pertama yang saya resensi ketika kelas 2 atau 3 SMP.  Bahasanya susah sekali, untuk menemukan alurnya saya harus berulang2 baca.  Ada kepuasan tersendiri ketika saya selesai resensi, dan ternyata dibeberapa buku teks sastra itu ada juga nama tokoh dan alur ceritanya, oh jadi rupanya temen2 saya dapat dari situ.  Tapi tak apalah…biarkan saja.  Saya merasa puas dengan membaca novelnya langsung.  Setelah membaca novel itu, maka menjadi kebiasaan untuk membaca aneka novel karya para punjangga sampai dengan SMA.

Tentang karya Buya Hamka ini.  Waktu jaman sekolah dulu kita hanya mencatat nama tokoh dan isi ceritanya.  Tapi dua hari ini saya melihat filmnya, dan berulang-ulang dikatakan “Ini untuk bangsa saya” maka kata-kata itu baru saya pahami sekarang.

Kenapa?  Menikah beda suku pada jaman itu (1930-1940 an) adalah suatu ketabuan.  Masing-masing suku merasa punya negara sendiri.  Lihat aja sebutannya, Tanah Minang, Tanah Jawa, dst.  Artinya wilayah2 itu merasa dirinya menjadi negara sendiri.  Tak usah heran karena jaman itu masih jaman2 belum merdeka, masih terparadigma hidup dalam kerajaan dengan rajanya masing-masing yang para rajanya mulai kendor kekuasaannya karena kekuasaan Belanda.

Dan ketika indonesia merdeka, tentu tidaklah mudah mengeratkan satu suku dengan suku lain yang memang terbiasa hidup dalam satu raja dengan raja lain.  Sehingga menganggap suku lain berasal dari tanah lain, bisa dikatakan waktu itu bahwa pernikahan antar suku sama dengan pernikahan antar negara.

Lalu relevansinya apa?  Sungguh luar biasa Buya HAMKA ini, sangat dalam apa yang dilakukan oleh Buya pada zamannya, melalui novelnya ini beliau melakukan NASIONALISASI.  Bahwa suku satu dengan suku lain adalah sama, sama-sama mulia dan seharusnya bisa bersatu.

Novel dikemas dalam kisah cinta tentu saja akan mudah diterima oleh masyarakat manapun.  Karena cinta bicara perasaan, sedangkan tabu bicara tentang adat atau agama.  Sesuatu yang “tabu” menjadi tersentuh ketika disadingkan dengan “cinta”.

09. #Random: Film Hijab

Beberapa hari ini tampilan facebook, WA, dan BBM saya menampilkan broadcast tentang kritik film Hijab karya Hanung Bramantiyo.  Saya sendiri sampai saat ini belum berkempatan untuk  menonton film ini.  Tadinya sih gak akan nonton film ini, tapi karena derasnya BC jadi kepikiran buat nonton.

ok, beberapa situs ini mengemukakan hal negatif tentang film ini:

Sebetulnya film ini sudah dinobatkan rugi dalam 5 hari pemutarannya, seperti pernyataan Hanung Bramantiyo, karena selama lima hari itu baru mengantongi penonton 13.000.000 saja.  Animo menonton film ini sampai tulisan ini saya tulis  menurut http://filmindonesia.or.id mengantongi penonton film hijab sebanyak 44.732.  Tampaknya kenaikannya lumayan juga, “apakah karena kontroversi yang terjadi sehingga membuat orang penasaran untuk menonton?? Bisa jadi!!! Asalnya kita abai, tapi karena seringnya BC itu dikirim — orang-orang yang berpikir, biasanya penasaran ingin membuktikan benar atau tidaknya opini yang mengkritik tersebut.  Andaikan yang terjadi adalah penasaran dan film terus dilanjutkan masa tayangnya, maka penonton film ini kemungkinan bisa mencapai 50 ribu – 70 ribu, ataubahkan 100.000.  Andaikan sampai menembus 100rb dan harga tiket 50.000, maka jumlah yang didapatkan minimalnya 2,5M  dan maksimalnya jika mencapai 100 ribu penonton adalah 5.000.000.000 (5M).   Kalau terus disebarkan “OPINI KONTROVERSIAL”-nya maka tidak menutup kemungkinan biaya pembuatan film ini tertutupi sudah, artinya sudah balik modal (baca modal pembuatan film hijab disini). LUMAYAN ya?? OMG Business is business!

Ada dua film mengambil tema dari simbol islam walaupun ceritanya yang satu kritik sosial dan lainnya cerita cinta, yaitu Hijab (Film kritik sosial gaya komedi) dan Assalamu’alaikum Beijing (Film Drama Percintaan).  Film Hijab sendiri hadir saat hangat-hangatnya film Assalamu’alaikum Beijing diputar (film ini bisa mengantongi penonton sejumlah 540.890, walau tidak sampai angka 1 juta karena sebagian kader terpecah ada yang mengikuti ustadz partai dan ada yang teguh dengan himbauan dari Dewan Syariah tentang haramnya mendatangi bioskop, serta kehadiran JONRU pada gala priemer film ini, tapi apapun film ini cukup sukses dengan kelas penikmat segmen drama. Dan film HIJAB pun kalah saing dengan film ini.

____

Masih penasaran buat nonton HIJAB mbak? Masih diputer ternyata? Hemmm saya….saya coba pikirkan lagi ya? Kayaknya tidak!! Kenapa? Entahlah, saya nonton karya Hanung 3x yaitu Ayat-ayat cinta (suer saya bosan nontonnya, dan gak bisa menyelesaikan tontonannya), Tanda Tanya (Ini jauh lebih baik mengemasnya daripada AAC, tapi tetep aja HANUNG kasar sekali dalam memindah satu frame ke frame lainnya, ibarat baca cerita antara satu paragaraf dengan paragraf lainnya sok teu nyambung.  Mungkin memang ini gaya dia dalam penyutradaraan — Saya menyebutnya gaya album foto.  Kalau kita punya banyak foto, lalu kita albumkan maka kita acapkali tak mempertimbangkan alur, yang penting semua foto masuk dalam album.  Nah, gaya ini makin terlihat ketika Hanung menyutradarai SANG PENCERAH).  Jadi, dari tiga film yang ditonton — saya tidak terlalu menikmati film karya Hanung.  Untuk nonton lagi karya dia, rasanya males banget.  Saya merasa gak cocok aja kalau nonton film karya Hanung.  Tiga film Hanung yang saya tonton membuat saya ngedumel dan tak terlalu menikmati tontonannya.

Dan….

Saya sendiri gak terlalu suka film  KRITIK SOSIAL, karena nonton film tujuannya untuk memotivasi bukan membuat dahi berkerut.  Kalau membuat dahi berkerut mah gak usah nonton film, dalam realita sehari-hari banyak di lihat.  Misalnya “Wanita berhijab merokok di area publik sering saya saksikan di Resto dan cafe coffee, mereka tidak malu lagi dengan hijabnya“.  “Lalu wanita berhijab pegangan tangan dengan non mahrom juga banyak dilihat di mall-mall“.  “Bahkan saya saksikan juga pagi berhijab malam pun berubah menggunakan rok mini sekedar menjadi sales rokok atau bahkan sampai menjadi sexy dancer, demi rupiah“.  Ini wanita berhijab??? Ya!!! Itu secara nyata ada di sekitar saya, gak perlu nonton khayalan di film segala.  Dan di beberapa universitas berlabel islam, beberapa mahasiswanya hanya menggunakan hijab ketika ke kampus, diluar kampus …you can see…lah! (Kalau kata emak saya mah, baju —yukensi— itu baju dengan tanpa lengan).  Jadi, sebenarnya siapa yang harus dimarahi dan dikritik habis-habisan bahkan dibenahi? Sutradara yang mengangkat realita atau realita masyarakat kita?

–Kalau saya sih lebih milih menasehati para hijabers untuk kokoh dalam hijabnya, karena kami pada tahun 1990-an berjuang luar bisa untuk dapat memakai hijab di sekolah dan di kampus umum, bahkan untuk bisa diterima di keluarga dengan hijab yang kita pakai itu gak mudah.  Bayangkan “Pedihnya dirimu ketika ibumu yang berbaju YOU CAN SEE menolak  jalan sama kamu yang berhijab??” — HIJAB adalah perjuangan bagi saya dan beberapa rekan lainnya.  Tapi saya juga tak boleh menutup mata, bahwa sekarang HIJAB jadi kewajiban bahkan trend.  Saya juga sadar — ketika hijab itu sebuah kewajiban — maka hijab tidak lagi menutupi aurat orang shalehah, tetapi menutup semua orang dengan berbagai sifatnya, dan ketika itu terjadi jangan heran kalau kita temui peragai beberapa orang berhijab  jauh dari syari’ dan kesan wanita shalehah.

Jadi? Jadi saya gak akan nonton, karena Hanung bukan sutradara favorit saya.  Dan saya sudah muak dan greget lihat realita sosial, gak usahlah saya nonton lagi di layar lebar cukup di dunia nyata aja saya saksikannya.  Nonton mah yang asyik-asyik aja deh, yang gak nguras otak, kan nonton buat refresing.  COMIC 8 sukses mengantongi lebih dari 1,6 juta penonton karena asyik!

____

Bagi yang suka nonton film, ada 3 sutradara yang asyik dalam membesut cerita: 1) Benni Setiawan dengan filmnya 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta.  2) Ifa Isfansyah juga recomended untuk ditonton, saya suka cara memindahkan frame demi framenya.  3) Riri Riza ini favorit saya — Dan saya belum sempat nonton TONGKAT EMAS, sekarang udah habis masa tayangnya.  Hiks hiks hiks.

 

La tanza – 99 Cahaya Islam di Eropa

Tiga hari berturut-turut RCTI muter film 99 cahaya di langit eropa part 1 dan 2 lalu diakhiri dengan Latanza.

Terus terang aja, saya gak terlalu suka membaca novel2 yang setting-nya di luar negeri. Saya sih mah lebih suka baca novel yang membumi aja dengan setting cerita gak pake Mesir, Jepang, atau Eropa atau negara luar lainnya. Kenapa gak suka? Ya itu…kadang novel2 model beginian hanya menjual DESKRIPSI NEGERI MIMPI atau NEGERI YANG DIIMPIKAN BUAT DIKUNJUNGI.

Ok, setelah nonton film 99 cahaya di langit Eropa buatan putri Amin Rais ternyata… ceritanya bukan novel romatis tetapi lebih mirip cerita detektif mengungkap kebesaran islam di Eropa berdasarkan inspirasi dari temannya Fatma dan motivasi dari Aisyah. Karena saya gak baca novel aslinya, maka saya hanya menikmati cerita dan aktingnya Acha Septiansah. Dan saya harus berkata, akting Acha ini nikmat banget… juga peran Abimana kuat sekali.. Di film-nya sih lebih ke perjuangan suami isteri ini meraih cita-citanya, jalan ceritanya lebih ke unsur DRAMA and mellowwww. Ceritanya pokoknya 80% drama more and hanya sedikit porsi aja untuk menjelaskan bagaimana menemukan jejak islam di eropa. Meskipun [sepertinya, karena saya gak baca novelnya] ada perubahan alur dan titik tekan cerita dari mengungkap jejak ke unsur drama more… menonton film ini tetap saja mengasyikkan. Asyik, karena akting para pemainnya yang membuat tokoh2 yang diperankannya begitu hidup.

Film kedua adalah “Latanza” baru nyaho kalau film ini juga ternyata film drama. Cerita sepasang kekasih yang terobsesi dengan negara Jepang. Sampai 3/4 cerita di film ini sangat menarik disimak dan diikuti. Tapi ending-nya, benar-benar mengecewakan! Endingnya kayak sinetron aja. Padahal ini ending bisa lebih menarik, jika Viona dan Yamada melanjutkan untuk berislam…kemudian menikah….dan bagaimana Yamada bersungguh2 dengan keislamannya melalui bimbingan viona. Semua bisa digambarkan dengan gambaran kilas. Viona tak pernah membuka hadiah dari Hasan, baru beberapa tahun kemudian setelah mempunnyai anak ia membuka hadiah yang diberikan Hasan. Ini lebih dramatis dan gak kacangan…
Akting para pemain di film ini juga kuat dan bisa dinikmati…jadi ya, terobati endingnya dengan akting para pemainnya.

Dan sajian film-nya selesai besök diputer kembali sinetron #CHSI – Catatan Hanna Sebagai Isteri

THE VIRGIN #ResensioldFilm

Ini film lama, tahun 2004 (Wow 10 tahun lalu nih film), pemerannya aja masih pada SMA.  Pernah jadi kontroversi juga nih film di tahun itu, sampai akhirnya lolos karena hanya boleh ditonton oleh 21+.  Di puter di MNCTV lepas jam 12+ malam, masih kebayang memang ini tontotan orang dewasa.

Fenomena remaja2 di virgin itu bukan fenomena baru.  Cathy, anak SMA dari keluarga miskin yang bergaul dengan Stela dari keluarga gedongan yang punya kehidupan bebas, dan Biyan dari Keluarga Menengah atas yang mengalami DISHARMONIS KELUARGA, ibunya gila karena ayahnya doyan main perempuan.

Cathy adalah fenomena anak remaja dari keluarga miskin, yang bergaya seperti keluarga gedongan..baju & HP bermerk.  Untuk mengejar gaya, ya apalagi kalau gak melacurkan diri.  Fenomena “Cathy” adalah fenomena yg banyak terjadi di sekitar kita.  Tahun 80-90-an, waktu saya remaja, anak SMA kayak gitu dikenal dengan perek.  Sekarang kita kenalnya dengan cabe-cabean.  Fenomena remaja seperti ini banyak di SMA, gampang sih mendeteksinya, kelihatan juga dari gaya-gayanya….”body language” gak bisa bohong….

Surely, dari semua cerita yang disajikan…film ini gak banyak pesan moral yang bisa dicerna.  Anak2 SMA yang berkeliaran dengan kehidupan malamnya, minum2-an keras, pesta, dan free-sex.  Hal yang menarik adalah setting yaitu kesetiakawanan…

Ceritanya sendiri banyak loncat-loncat…banyak cerita gak selesai, loss focus juga….alurnya belok2 beriak…gak enak nontonnya, peralihan antar frame juga kasar, nontonnya jadi gak nikmat.

Akhir cerita, baru ketangkap bahwa ini cerita tentang perjuangan “mempertahankan keperawaanan” semua karena LOSS FOCUS.  Sayang sebetulnya, isi ceritanya cukup bagus cuma….mengalurkannya yang tergesa-gesa, sepertinya si pembuat skenario gak cukup sabar …….

 

Film ini memang cocok untuk 21+ ke atas, kalau ditonton remaja putri tampaknya harus hati2, jangan sampai ini menjadi sebuah pelegalan, it’s ok dengan kehidupan tersebut, karena dalam film ini tidak tampak penyesalan dari para tokoh yang terlanjur berbuat free-sex, seakan2 semua legal.  Kedewasaan menonton diperlukan dalam hal ini.

Oshin: The Legend #Film

image

Siapa org Indonesia era 1980-an yang tidak kenal Oshin??
Serial TV dari NHK Japan yg diputar TVRI menjadi legenda yg tak terkalahkan oleh film jepang lainnya.  Now Oshin The Movie is coming, cuma Filmnya hanya diputar di Blitzmegaplex sejak 29 Januari lalu.

Hari ini gue nonton filmnya di Blitzmegaplex Paris Van Java Bandung.  Blitz memang gak disetiap kota ada, gak seperti 21Cinemaplex atau Cinema XXI. Cek dimana aja adanya disini: https://www.blitzmegaplex.com

Setelah nonton selama 2 jam saya harus akui bahwa film ini bagus banget!  Saking menikmati alur ceritanya air mata saya terkuras abis!

Ok, let me say about alur! Semua sudah tahu alur panjang dari serial Oshin dari kecil sampe nenek2. Nah, alur cerita di film ini sangat cerdas dan tak rakus.  Acapkali film biografi terjebak pada sifat “rakus” kenapa saya bilang rakus? Krn film2 itu memborong semua kisah hidup dari kecil sampai dewasa bahkan mati…hingga esensi cerita yg mau disampaikan hilang dan film2 itu terjebak pada sebuah riwayat dan perjalanan saja! Film Oshin tak begitu! Sepenggal kisah saat Oshin berumur 7 tahun cukup mewakili perjuangannya.  Ekaplorasi perjuangan disegmen ini yg detail bercerita. Jadi nontonnya pun nikmat ga pake terpotong2.

Let me tell about moral of film! Nah, selalu saya ajak semua untuk nonton film yg punya nilai moral tinggi.  Nonton film Oshin bukan sekedar hiburan tapi penuh pesan moral.  Kejujuran dan komitmen menjadi ruh film ini! Sebuah nilai moral yg langka di negeri ini.  Lingkungan dan keluarga yg menjaga tinggi nilai moral ini.

Let me describe about character! Tahu dong film indonesia kalau udah antagonis selamanya antagonis, dan protagonis jadi menderita terus.  Hingga kita menyengit2 “ini di dunia nyata kejadian kayak gini?”  Di film Oshin…manusia adalah manusia bukan malaikat atau syaitan. Kayo yg antagonis berubah menjadi baik… pada majikan sebelumnya Oshin yg dituduh mencuri belakangan uangnya dikembalikan.   sebuah film yg manusiawi dan nyata dalam kehidupan. Rasanya film2 Indonesia harus belajar pada film Jepang bagaimana mengemas nilai moral tanpa mengurui dan tetap memposisikan sebagai hubungan antar manusia bukan hubungan antara malaikat dan syetan.

I just knew, Oshin talk about ecofeminism!!
Nah ini menariknya! Waktu serial film ini diputar di TVRI saya gak terlalu ngerti pesan mendalamnya, yang saya tahu tentang kegigihan dan perjuangan Oshin dari keluarga miskin sehingga sukses menjadi pedagang.  Sekarang saya lihat Oshin the Movie dg persepsi lain, persepsi sebagai seorang dewasa dengan banyak ilmu pengetahuan.  Dan saya melihat hal lain, sesungguhnya ini cerita tentang wanita!!! Sangat feminisme tapi bukan feminisme liberal.  Lebih pada ecofeminisme yaitu posisi wanita dalam keluarga yang sangat sentral sebagai ibu dengan naluri keibuannya dan isteri dengan keinginannya mematuhi dan mengabdi pada suami.  Pengabdiannya pada keluarga dan suami, terkadang harus mengorbankan perasaan dan harga dirinya.   Sangat menyentuh sekali saat Ibu Kuni mengatakan “wanita bekerja untuk dirinya, keluarganya, dan anak2nya
Dikatakan begitu saat Oshin kecil kecewa melihat pekerjaan ibunya menjadi menghibur pria mabuk.  Perkataan Ibu Kuni ini menyebabkan Oshin sadar…dan tidak kecewa dengan apa yang dilakukan ibunya, walau dalam pandangan kemasyarakatan ‘wanita penghibur’ kotor tentu saja.  Sangat NICE, tidak men-judge…tapi mencoba memahami.  EMPATI….!!! That’s it!

It’s about children labour but so touched!!! Pekerja anak!! Oshin adalah gambaran pekerja anak2 kalau konteks zaman sekarang ilegal. Tapi itu fakta yg banyak dijumpai pada keluarga miskin. Terpaksa mempekerjakan anaknya karena tuntutan ekonomi.  Menariknya film ini menggambar secara apik ttg metamorfosis persepsi Oshin kecil “Awalnya Oshin melakukannya dg terpaksa krn tuntutan ekonomi, pada kali kedua ia bekerja untuk menjaga wibawa keluarga….sebuah aib sebelum selesai masa kontrak telah kabur dari pekerjaan…dan kali ketiga ia berangkat dengan sukarela krn perubahan persepsi ttg wanita…” Sebuah gambaran yg sangat bagus…perubahan persepsi yg menyebabkan kegigihannya bekerja digambarkan apik….sekali.

Sampai disini, saya masih berpikir2, ini film ceritanya sarat moral, tapi kok gak ngebosenin.  Sampai2 saya nahan pipis demi menuntaskan frame by frame tanpa ketinggalan.  Gambar dan pengambilan anglenya pun menarik.  Gak usah terlalu banyak ngomong, tapi body language dan sorot mata udah bicara.  Jempol deh!!  Gak usah cerita bahwa ayahnya dibalik kerasnya mencintai Oshin! Cukup dengan menggambarkan adegan menghantarkan Oshin untuk bekerja.   Gak usah adu mulut untuk memperlihatkan Oshin kecewa dengan pekerjaan ibunya, cukup dengan dia terduduk dan menangis.  Gak usah mengatakan I Love U ribuan kali, cukup binar mata yang bicara.  Wah!!! berapa jempol harus diacungkan nih???

Pokoknya gak rugi kalau nonton.  So! Mengapa gak buru2 nonton??Keburu gak diputar lagi loh! Karena apa? Penontonnya sedikit.  Saat saya nonton pun ruangan blitzmegaplex hanya berisi 11 orang, 9 orang Indonesia dan 2 orang lagi seorang ibu dan anak kecilnya warga Jepang.  Ini tontonan SU jadi ajak kakek nenek ibu ayah dan anak2 untuk bernostalgia.  Sungguh saya lebih memaknai film ini ketimbang waktu kecil saya rajin nonton serialnya.  #Stoppiracy-Nontonlah di Bioskop!!

Edensor: friendship memang sip! #resensiFilm

image

Malam tahun baru kemarin abis bimbingan disertasi, saya mampir nonton Edensor.
Udah lama banget gak nonton di bioskop…disertasi menyita privasi…hahaha

Ini film trilogi, sebelumnya ada Laskar Pelangi dan sang pemimpi.  Cerita film ini lanjutan perjuangan meraih mimpi Arai dan Ikal di Paris. 

Thanks God! Yg jadi Arai gak jadi Ariel.  Klu Arai dimainkan Ariel duh…..pastinya males banget nonton film ini.  Nah, Ikal diperankan oleh Lukman Sardi….walaupun terus terang kayaknya Lukman ketuaan memerankan Ikal….tapi bagaimana lagi…susah kali ya nyari tokoh berwajah pas2an dengan akting bagus…hehehe 

Ok! Gak ada yg harus dicela dg akting Ikal. Arai yg penuh semangat pun diperankan dg baik…. body language di setiap akting bisa dinikmati dg indah…

Lalu ceritanya??
True friendship!!! Jadi pesen dari film ini. 
Nah…seperti film Produksi Mizan…ciri khasnya….perasaan kita akan diaduk2…dari humor seger dan orsinil yg bikin terpingkal, terharu, juga dibuat mengerutkan dahi karena kritik2 sosial ……asli deh kita tidak hanya terhibur dg nonton film ini, tapi sarat makna juga kata….banyak quote yg bisa diambil dr film ini. Boleh jg siapin catatan tuh!

Film ini bisa jadi…tontonan yg bisa dinikmati anda dan para abg-ers buah hati anda.  Jarang loh ada tontonan yg bisa dinikmati sekeluarga….

Saya paling suka dialog super lucu antara “Rhoma Irama dan Adam Smith…”
Perasaan kita akan diharubirukan saat Arai yg berusaha mengingatkan dan terus memompa semangat Ikal…..haru banget IT’S TRUE FRIENDSHIP…..

Nah, ini bisa jadi contoh bagi para remaja labil tentang arti sahabat sesungguhnya! Bahwa sahabat sejati itu ada dikala susah…memompa semangat dikala lemah….mengingatkan dikala salah langkah…

Film ini bukan film islami! Tapi nilai2 dan alurnya SANGAT ISLAMI bahkan LEBIH ISLAMI dibandingkan film yang MENGAKU FILM ISLAMI. Betul??? Kalau gak percaya tonton aja!

Saking menikmati film ini, ketika berakhir….kita bilang “What???? Kok udahan sih!!!