Annisa, my little author…

Telepon berdering ketika saya sedang awut awutan di sawah bersama para ikan.

“Bu, ini dari Wahana ada paket alamatnya yg benar blok berapa?”

“Oh iya kami di blok ……. mungkin tak ada orang di rumah, kami sedang ke luar, dititip di pos satpam ya pak!” (Saya merenung, rasanya saya tak memesan barang online dan juga tak ada janji dg kolega kirim dokumen atau barang, suprise dari siapa?)

Wa messeger….

Bu, barangnya sudah saya titip di pos security. Beserta kirim foto barangnya, bersampul hijau. Kiriman dari Annisa…

Annisa ini murid saya ketika mengajar di MI Asih Putera, bakat mengarangnya luar biasa. Saya berhubungan baik dengan keluarganya terutama ibunya, Ibu Ida. Ibu Ida yg mensupport kami ketika kami mengatakan bahwa kami akan membangun MTS sebagai lanjutan MI, kepercayaan Bu Ida dan promosi beliau terhadap sekolah kami membuat kami yg saat itu masih muda2 dan bergelora menjadi kuat dan percaya diri. Annisa, Idham, dan Irfa sangat saya kenal.

Dari bungkusannya saya menebak, isinya adalah buku. Ada rasa senang yg membuncah, ini pasti suprise Annisa membuat buku.

Pulang dari sawah, bersegera saya buka bungkusan, dan tentu tebakkannya benar. BUKU.

Buku berjudul “Menjaring Cahaya: Binaran Hati Ibu Bahagia” Ada 22 penulis yg menulis cerita pendek, dan Annisa penulis ke-2O dengan tulisan berjudul Dia Inspirasiku.

Annisa menceritakan perjuangan ibunya berbagi waktu dan perhatian di sela2 kesibukan karirnya sebagai PNS, yang juga jadi titik balik bagi Annisa untuk menjadi Full Mommy. Saya termasuk yg menyaksikan bagaimana ibu Ida yg senantiasa lembut dan full senyum mendampingi putra-putrinya, juga bagaimana perjuangan beliau menghadapi putri ketiganya Irfa yg saat itu mogok sekolah TK, sampai bikin TK-TK an di rumah agar putrinya bisa beradaptasi. Semuanya saya saksikan, namun ketika Annisa menarasikannya dengan narasi tulis…..sure ini lebih menyentuh hati, tak terasa saya menitikkan air mata juga.

Selamat Annisa sudah menulis dengan baik, semangat terus, saya tak sabar menunggu tulisan selanjutnya.

Logical Fallacy #Obrolanpagi1

Topik obrolan pagi ini dengan suami saya adalah Logical fallacy.  Obrolan berawal dari ‘curhat’ yang dicurhatin antara kita biasalah seputar kerjaan kantor dan tumbuh kembang anak-anak. Mostly sih suami curhat kerjaan kantor.

“Ini saya nugasin seseorang untuk mendaftar menjadi peserta lomba olimpiade guru, lalu dia berkata “Kenapa saya Pak? Kenapa tidak guru kelas 12 saja?” Saya katakan pada ibu tersebut, “Ini karena ibu merupakan guru terbaik yang kami pilih!”. Guru yang ditugaskan menjawab, “Berarti guru kelas 12 itu Jelek dong!

ちょうと。。。seketika pikiran saya mengaitkan dengan fenomena MEDIA SOSIAL terutama GROUP IKATAN ALUMNI yang isinya semua lulusan THE TOP 5 UNIVERSITY IN INDONESIA. Logika seperti itu sering diungkapkan mereka ketika diskusi apapun termasuk masalah politik.

Nah, menarik nih untuk menggali ‘behind the main‘. Kita diskusi dari kasus ini. Tentu saja sisi yang kita ambil adalah sisi logika matematika. Mari kita lihat logika berpikir guru tersebut:

  • Premis 1: Guru yang diutus menjadi peserta olimpiade adalah guru terbaik.
  • Premis 2: Guru kelas XI diutus menjadi peserta olimpiade.
  • Kesimpulan: Guru kelas XII adalah guru yang tidak baik.

Apakah logika guru ini dalam mengambil KESIMPULAN sudah tepat?

Seketika saya teringat logika itu mirip dengan fenomena masyarakat jelang pilpres ini, logika yang dibangunpun sama.

  • Premis 1: Pemimpin Indonesia haruslah orang yang mampu bekerja keras membangun Indonesia menjadi negara yang mandiri dan berdaulat.
  • Premis 2: Presiden Jokowi saat ini terbukti mampu bekerja keras menata Indonesia menjadi lebih baik.
  • Kesimpulan: Capres Prabowo tidak mampu bekerja keras membangun Indonesia.

Logika ini persis sama bukan?

Ini adalah sebuah LOGICAL FALLACY karena seseorang melihat dunia ini sekedar HITAM – PUTIH, dia tidak melihat bahwa diantaranya ada warna MEJIKUHIBUNIU atau warna pelangi. Logika rasional orang-orang ini terbelenggu pada ‘Right or Wrong’. Baginya hanya ada dua hal saja YES or Not. Dalam rasio berpikirnya tidak sampai bahwa fenomena jagat raya ini bisa dibuat ‘skala rating’ dari mulai tidak, kurang, sedang, baik, terbaik….dst. Bahkan dia tidak mampu melihat randomisasi sebuah fenomena. Rasionalisasi holistik berpikir orang seperti ini menjadi sangat lemah sekali.

LOGICAL FALLACY ini pun terjadi karena dia bersikap ‘BLAMING IDEALISM‘ bukan ‘REFLEKTIF FAKTUAL’, ketika mencermati fenomena dia cenderung melihatnya sebagai sesuatu yang idealis kemudian mencari apa atau siapa yang tertuduh, dia bukan orang yang mencermati fakta dan mengambil kesimpulan dari fakta tersebut. Maka jadilah kesimpulan-kesimpulan yang dia hasilkan berupa negasi-negasi seperti contoh di atas.

Bagaimana Kesimpulan jika seseorang melihatnya sebagai seorang yang Reflektif Faktual dan berpikir rasional holistik? Untuk kasus 1:

  • Premis 1: Guru yang diutus menjadi peserta olimpiade adalah guru terbaik.
  • Premis 2: Guru kelas XI diutus menjadi peserta olimpiade.
  • Kesimpulan: Guru kelas XI termasuk salah satu guru terbaik.[Kesimpulan yang dihasilkan bukan negasi dari kesimpulan ini. Bukan guru kelas lain tidak baik, guru kelas lain pun terbaik juga, guru kelas XI salah satunya].

Kesimpulan yang tepat akan melahirkan tindakan tertentu, maka tindakan guru yang logikanya Ok sebagai salah satu guru terbaik di sekolah ini saya berpartisipasi dalam Ikut Olimpiade Guru.  Dia akan ikhlas menjalankannya karena dia berpikir rasionalis holistis tanpa blaming idealis tapi reflektif faktual “oh iya memang saya layak dipilih untuk berpartisipasi dalam lomba”

Untuk kasus 2:

  • Premis 1: Pemimpin Indonesia haruslah orang yang mampu bekerja keras membangun Indonesia menjadi negara yang mandiri dan berdaulat.
  • Premis 2: Presiden Jokowi saat ini terbukti mampu bekerja keras menata Indonesia menjadi lebih baik.
  • Kesimpulan: Presiden Jokowi layak dipilih kembali menjadi pemimpin Indonesia. [kesimpulan yang dihasilkan bukanlah negasi dari kesimpulan ini. Bukan Prabowo tidak bisa bekerja keras, Prabowo pun layak dipilih dengan pertimbangan kerja keras yang sudah dilakukannya untuk Indonesia.]  

Kesimpulan yang tepat akan menghasilkan tindakan tertentu. Berdasarkan kasus 2 maka tindakan yang mungkin dilakukan seseorang adalah “Memilih kembali Pak Jokowi sebagai presiden berikutnya“. Dengan pemikiran yang rasionalis holistik bukan blaming idealis, keputusan ini akan diambil tanpa melakukan HATE SPEECH.

朝話すことが面白いです、でもふくざつなトピクですね。

Hidup bebas atau hidup teratur?

Saya sangat memegang teguh filosofi hidup dari ushul fiqh, “Setiap perbuatan terikat kepada hukum syara“.   Inilah yang saya ajarkan pada anak-anak saya, bagaimana EGO mereka berkompromi dengan peraturan baik agama, negara, sekolah, etika, dan adat.  Tidak ada istilah dalam keluarga saya “SEMAU GUE” karena keinginan kita dibatasi dengan keinginan orang lain dan hukum. Tidak ada istilah “BREAKING THE LAW” atau aturan dibuat untuk dilanggar, tapi aturan dibuat untuk kemaslahatan bersama.  Tidak bisa keukeuh mengatakan “HARUSNYA ITU BEGINI” yang ada adalah bagaimana “WIN WIN SOLUTION“.  Jangan pernah keinginan dan rasa idealisme kita menabrak aturan-aturan yang ada.

Sebagai pendidik inilah yang bisa kita lakukan, yaitu mengajarkan betapa pentingnya sebuah aturan yang tentu saja harus dibarengi dengan rasa kemanusiaan.  Hidup tidak EGOIS, namun penuh harmoni sehingga mencapai kedamaian.  Berikut ini adalah petikan cerita moral yang biasa diajarkan pada anak-anak di sekolah.   Mari kita simak, dan pikirkan!

KOTA BEBAS I

bebas.png

Di sebuah negeri terdapat kota yang dinamakan Kota Bebas.   Di kota ini tidak ada “aturan”, siapapun dapat berbuat sesukanya. Mendengar hal tersebut, orang-orang dari kota lain berbondong-bondong pindah ke kota tersebut sehingga kota pun menjadi padat. Pada awalnya semua orang merasa senang karena mereka dapat berbuat seenaknya. Tetapi seiring dengan berjalannyawaktu, berbagai masalah pun terjadi.

Pada suatu ketika….

Dua anak laki-laki bertengkar di pinggir kali.   “Hey, itu adalah ikan yang aku pancing, jangan kamu bawa seenakmu,” kata anak lelaki yang satu. “Gak, di kota ini kita bisa lakukan apapun sesuka kita, kita juga bisa mengambil ikan yang dipancing orang lain,” kata yang anak lelaki satunya lagi.

Di terminal bus juga orang-orang banyak yang bertengkar. Ketika bus yang ditunggu datang, mereka berebut naik bus, terjadilah keributan….“Saya yang menunggu duluan, harusnya saya yang duluan naik, ngantri dong!” “Aduh, jangan dorong-dorong dari belakang dong bahaya! kan masuknya hanya bisa satu-satu,” “Minggir-minggir, aku capek habis kerja, aku pengen cepat naik dan duduk,” Di kota ini kan gak ada aturan, siapapun dapat melakukan apapun, jangan protes! saya naik duluan!”

Di depan rumah juga dua orang ibu-ibu bertengkar satu sama lain. “Tunggu, ibu jangan buang sampah basah di depan rumah saya dong! Itu kan mengganggu.” “Lho memang ada aturan gak boleh buang sampah di depan rumah orang? Sampah basah kan bau, aku buang di depan rumah mu aja, dari pada di depan rumah ku?”

Begitulah di kota itu.  Keributan demi keributan sering terjadi di berbagai tempat!

Bagaimana menurut kalian tentang hidup di Kota Bebas yang tidak punya “aturan” Apa yang ada di benak orang-orang yang bertengkar dalam cerita di atas?

KOTA BEBAS II

bebas3.png

Pada awalnya orang-orang yang tinggal di Kota Bebas sangat senang, mereka berpikir dapat berbuat sesuka hati. Namun mereka sadar bahwa banyak masalah yang timbul karena hal itu. Kemudianmereka pun memohon kepada walikota untuk membuat beberapa aturan. Walikota pun dengan penuh semangat membuat peraturan untuk kotanya. Walikota membuat lima peraturan yang harus ditaati oleh warganya.

Peraturan di Kota Bebas

  1. Orang yang mengambil barang orang lain dihukum satu bulan penjara.
  2.  Orang yang menyalip antrian pada saat menunggu bis didenda 100 ribu Yen.
  3. Orang yang membuang sampah sembarangan dihukum satu bulan penjara.
  4. Orang yang berbohong dihukum satu bulan penjara.
  5. Sarapan pagi harus selesai sampai jam 7 pagi. Orang yang tidak mematuhinya dihukum satu bulan penjara.

Selain aturan-aturan tersebut, Walikota juga membuat berbagai aturan lain, lalu menempelkannya di berbagai tempat di kota itu. Dengan aturan-aturan tersebut, orang-orang pun senang hidup tanpa ada pertengkaran.

Akan tetapi masalah lain kini timbul dan orang-orang merasa terganggu…..

Seorang anak menangis di pinggir jalan. Anak ini membeli makanan ringan ketika pulang sekolah. Anak ini bermaksud membuang bungkus makanan tersebut ke dalam tong sampah, namun karena tertiup angin, bungkus itu keluar dari tong sampah. Tidak jauh dari tempat tersebut seorang anak lain melihatnya dan melaporkan kepada orang dewasa. “Anak ini tidak membuang sampah pada tempatnya, oleh karena itu harus dihukum satu bulan penjara.” Anak yang pertama tadi menangis, “Aku buang bungkus tadi ke dalam tong sampah, tapi karena tertiup angin, bungkus tadi keluar, aku bermaksud mengambilnya dan memasukkan lagi ke dalam tong sampah, masa aku harus dipenjara satu bulan?”

Di depan rumah lain, seorang anak perempuan menangis…. “Pagi ini aku bangun. Karena Ibu sakit dan tertidur, aku cepat-cepat masak menyiapkan sarapan pagi, tetapi keluargaku seisi rumah tidak dapat selesai sarapan sampai jam 7. Keluargaku harus dihukum satu bulan penjara,….hiks hiks…”

 

Di sekolah, anak-anak bertengkar…. “Pensil ini tadi terjatuh di lantai, aku hanya kebetulan memungutnya. Aku tidak mencuri dari siapapun,”  “Gak!, kamu harus masuk penjara satu bulan, karena mengambil barang yang kamu gak tahu siapa pemilikinya, itu sama dengan mencuri” “Tunggu! Dalam aturannya gak tertulis seperti itu. Kamu berbohong. Kamu lah yang harus masuk penjara,”

Sudah capek-capek aturan pun dibuat, tetapi orang-orang di kota itu tetap saja menghadapi berbagai masalah, lama-lama kelamaan mereka merasa kesal juga. “Untuk apa sebenarnya aturan dibuat?”

Bagaimana menurut pendapat kalian tentang hidup di kota seperti ini di mana aturannya sangat lengkap dan rinci? Mengapa masalah terjadi padahal ada aturan Apa yang penting agar hidup kita nyaman?

Cerita Moral 02 #光学校

#Tebarkan Kebaikan#

Kelas yang baru, teman yang baru.  Beberapa teman sekelas Budi adalah teman lama, tetapi banyak juga teman baru. Salah satu teman baru Budi bernama Dimas. Dimas berasal dari kelas Cut Nya Dhien, sedangkan Budi berasal dari Kelas Ngurahrai.  Kini mereka sama-sama berada di kelas Patimura.

Guru  memotong cerita di sini.  Di sekolah Dimas dan Budi, kelas menggunakan nama pahlawan nasional.  Tanyakan pada peserta didik, siapa itu Cut Nyak Dhien, I Gusti Ngurahrai, dan Patimura? Ceritakan pula sedikit kisah mereka pada peserta didik.

Dimas bertubuh gempal.  Pipinya gendut kemerahan seperti buah tomat.  Ada sekelompok anak yang memanggil Dimas dengan julukan “Si Muka Babi”.  Sekelompok anak lainnya di kelas memanggilnya dengan “Kingkong”.

Guru mememotong cerita di sini.  Tanyakan pada peserta didik bagaimana perasaan mereka jika menjadi Dimas?

Budi tetap memanggil Dimas dengan Dimas.  Budi tidak mau ikut-ikutan memanggil dengan nama julukan yang tidak baik.

Guru memotong cerita di sini.  Tanyakan pada peserta didik, bagaimana perasaan mereka terhadap sikap Budi?

“Dimas, aku mau tanya sesuatu!” kata Budi pada Dimas suatu hari.  “Tanya apa Sobat?” Jawab Dimas.

“Gini, kamu senantiasa dipanggil dengan julukan-julukan yang kurang baik.  Perasaan kamu bagaimana?” Tanya Budi.

“Aku sebetulnya sedih, mereka menjulukiku dengan nama-nama bintang.  Tapi kalau aku marah sama mereka nanti aku tak punya teman. Jadi aku memilih membiarkan mereka seperti itu” jawab Dimas.

Guru memotong di sini.  Tanyakan pada peserta didik, “Bagaimana sikap Dimas? Tanyakan juga bagaimana mereka jika teman-teman menjulukinya dengan julukan yang tidak disukai?”

Budi berpikir keras, “Apa yang bisa dia bantu untuk menolong Dimas?”  Budi ingin teman-temannya tidak memberikan julukan-julukan yang jelek pada Dimas.

Guru memotong cerita sampai di sini.  Tanyakan pada peserta didik, “Ide apa yang mereka pikirkan jika posisi mereka seperti Budi ingin menolong Dimas dan menyadarkan teman-temannya”

Siang itu Budi berkata pada Dimas.  Dimas aku ingin membuat teman-teman kita tidak mengejek kamu lagi.  Besok aku punya sebuah rencana, tapi maaf berdasarkan rencana aku, aku akan menyebutmu “muka babi”,  maafkan aku besok ya!

“Tidak apa-apa Sobat! Jika nanti rencanamu berjalan baik, apakah kamu yakin aku tidak akan diejek oleh mereka lagi?” Kata Dimas.

“Semoga, tidak!” Kata Budi

Esok harinya, Budi membicarakan permasalahan teman-temannya terhadap Dimas pada ibu guru.  Budi pun meminta izin kepada ibu guru untuk melaksanakan rencana yang telah dibuatnya.  Ibu guru menyetujui rencana Budi.

Setelah jam istirat makan, bu guru berkata, “Anak-anak, hari ini ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Budi.  Budi silahkan ke depan!”

Budi maju ke depan.  Teman-teman, bagaimana kalau kita membuat julukan-julukan paling jelek untuk kita masing-masing! Aku tulis ya!  1.  Dimas, julukannya apa ya? Dengan keras Rangga berkata, “Dimas si Muka Babi!”  Teman-teman yang lainnya tertawa terbahak-bahak.  Budi melanjutkan, “Baik aku tulis ya, 1. Dimas – Si Muka Babi.  Terus kalau kamu Rangga apa julukan bagimu?”  Rangga menjawab cepat dan percaya diri, “Aku ya Rangga Si Ganteng!”  Budi berkata, “Tidak bisa harus julukan yang jelek dong!”  Affan berkata, “Bagaimana kalau Rangga Si Kunyuk!”  “Loh, kok aku disebut Kunyuk, Kunyuk itu kan artinya Monyet.  Memang aku kayak Monyet ya?” tanya Rangga.  “Sudah, kita terima aja deh julukannya. 2. Rangga – Si Monyet”  kata Budi sambil menuliskan di papan tulis.  “Kalau Affan apa julukannya?”  Tanya Budi.  “Bagaimana kalau Si Muka Badak!” soalnya Affan orangnya gak tahu diri! Kata seseorang.   Begitulah seterusnya satu kelas mempunyai julukan-julukan yang jelek.  Budi pun berkata, “Mulai besok kita panggil teman-teman kita ini dengan julukan-julukan jelek ini, apa kalian setuju?”

Tiwi mengacungkan tangan tanda sambil berkata, “Budi sebentar aku keberatan dipanggil Nini Genderewo setiap hari.  Kata ibuku dalam nama ada sebuah do’a.  Namaku Kusuma Pertiwi artinya Bunga Bangsa, ibuku berharap aku menjadi orang yang bisa mengharumkan negeriku.  Kalau namaku ganti jadi Nini Genderewo apa artinya? Aku nenek-nenek setan dong! Aku gak suka.  Nama itu seram lagi!”

Budi pun bertanya, “Adakah yang suka dipanggil dengan nama-nama jelek? Sebentar ya! Ini kok banyak nama setan ya, sukakah Tini dipanggil kuntilanak? Maukah Damar dipanggil dengan sebutan Tuyul?”  Semua teman-temannya menggelengkan kepala.  Nah, begitu juga dengan Dimas, dia tidak suka dipanggil dengan panggilan Si Muka Babi atau Kingkong.    Mulai hari ini kita  memanggil teman kita dengan nama yang baik, nama yang mereka senangi, nama yang diberikan orang tuanya.  Bagaimana teman-teman? Janji ya!

Janji!!! Suara teman-teman sekelas berkumandang.

Ibu guru tersenyum dan berkata pada Budi, “Bagus, Budi! Terima kasih ya!”

Guru meminta siswa menuliskan pesan moral dari cerita moral yang dibacakannya dalam beberapa kalimat.

 

 

 

 

Serial Keluarga Kemiri: PERPU.

part one

Enok: Bah, lagi rame PERPU ORMAS di Medsos.

Tole: PERPU sebagai bentuk pemerintah kalah argumen. Pemerintah otoriter eta teh!

Abah : Hemmm, itu karena Tole memandang dari sisi korban. Ari ceuk Abah mah. Ini Abah pakai kacamata pemimpin yg udah disumpah buat jaga pancasila dan NKRI. PERPU itu upaya pemerintah menjaga ideologi bangsa. Jika pemerintah masa bodoh dengan ormas, dan membiarkankan missleading dari kerangka kebangsaan, maka artinya NEGARA ABSEN DALAM MENJAGA IDEOLOGI.

Enok: negara kudu ya Bah, hadir dalam menjaga ideologi bangsa?

Abah: kudu atuh Nok, mun henteu “apa yg akan mendasari persatuan dan kesatuan Indonesia?” Kesamaan Agama? Tidak. Kesamaan suku? Tidak. Yg menjaga kesatuan dari sabang sampai merouke ya ideologi bangsa. Negara haruslah hadir menjaganya.

Enok: Tah, Kang Tole regeupkeun!

Tole : Gandenglah Nok!

Emak: Geus! Udah tong ribut wae adi jeung lanceuk teh, tah kulub sampeu panas keneh.

Abah: Tah! Alhamdulillah masih manggih Kulub sampeu, lain kulub batu.

———-

Part two

Tole : Bener represif, dzlim, otoriter pemerintah sekarang.

Emak: Eh, eta maca koran kukulutus kitu.

Enok: Masih terkait PERPU Kang Tole? Kan udah Abah Jelaskan.  PERPU itu wujud kehadiran pemerintah dalam menjaga ideologi negara.

Tole: Nih, telegram juga udah diblokir!

Emak: Lain diblokir meureunan tapi dinonaktifkan sama pemerintah.  Ya, wajar we atuh, da jaman kiwari saha nu rek make telegram deui? Geus aya email, SMS, jeung handphone.  Mun aya kabar penting teu kudu pake telegram deui.

Abah: Lain telegram kantor pos mak. Ieu mah telegram orang rusia.  Yeuh, Le! Coba kamu pikirkan, “andaikan kita hidup dalam kekhilafahan islamiyah, memerintah berdasarkan syariat islam.  Lalu ada sekelompok orang membuat organisasi menggunakan azas demokrasi liberalisme.  Kira-kira Sang Kholifah akan membiarkan? Lalu ada berbagai aplikasi yang digunakan orang2 untuk menyebarkan isu-isu dan menggalang kekuatan untuk melakukan revolusi atau bughot terhadap sistem khilafah, apakah kholifah akan membiarkannya? Apakah Kholifah akan membiarkan sistem khilafah runtuh?” Sok tah, kamu yang suka ngaji jawab!

Tole: Gak tahu sih Bah.  Yg jelas mah, ya Kholifah akan melakukan segala cara agar sistem khilafah tetap eksis.

Abah: Nah, kan.  Abah mah yakin, Kholifah akan melakukan pelarangan terhadap organisasi demokrasi-liberalisme, bahkan akan menangkap anggota organisasi itu jika tetap bandel, pun blokir terhadap media2 baik cetak, elektronik, atau sosial yang dapat mengurangi keloyalan masyarakat terhadap sistem khilafah.

Enok: jadi maksudna gimana Bah, enok gak ngerti!

Abah: Pemimpin punya tugas menjaga ideologi negara.  Kalau pemimpin mengeluarkan PERPU atau blokir situs atau media sosial, ya jangan dianggap sebagai dzalim-represif dll.  Itu karena mereka sedang menjalankan tugas sebagai pemimpin.  Kalau gak setuju dg tindakan pemerintah, bisa ajukan ke MAHKAMAH KONSTITUSI, jangan sampai provokasi orang ngajak duma demo demi membela kelompoknya.

Enok: Oh gitu, tuh Kang Tole! Tong demo wae, sono bikin banding ke Mahkamah Kontitusi.

Cerita Moral #01 #4HIKARIGAKKO

  • Tujuan umum: Menumbuhkan sikap empati pada teman
  • Tujuan khusus: Menumbuhkan sikap senyum, sapa, dan salam
  • Waktu 1 x 35 menit

Hari ini mulai masuk sekolah.  Semua anak bergembira ria.  Banyak anak yang pergi pagi, mereka ingin lekas bertemu teman-temannya.  “Saya sudah rindu bertemu teman-teman, hampir sebulan kita tidak bertemu” kata Nisa.  Nisa ingin mengetahui wajah teman-temannya yang lama tidak ketemu.  Apakah teman-temannya memotong rambut dengan gaya baru? Setinggi apa teman-temannya, setelah tidak bertemu satu bulan lamanya?

 Guru memotong cerita sampai di sini.  Tanyakan pada murid-murid.  Apa yang mereka rindukan saat lama tidak bertemu teman-temannya? Beri kesempatan tiga orang murid untuk menceritakannya secara singkat.

Ada satu orang yang Nisa rindukan.  Namanya Tata.  Ya, Tata adalah teman baik Nisa.  Nisa tidak sabar ingin mendengar kabar liburan Tata.  Tidak sabar melihat senyum manis Tata.  Tidak sabar ingin melihat, potongan rambut Tata yang baru di kelas yang baru. “Pokoknya, aku harus ketemu Tata pertama kali, aku harus datang ke sekolah lebih pagi, agar aku bisa menyambut Tata, akulah yang pertama kali akan mengucapkan ‘Selamat pagi’ untuk Tata.

Guru memotong cerita sampai di sini.  Mintalah murid untuk menuliskan di buku catatan moral mereka, siapa nama teman yang mereka rindukan? Mengapa mereka merindukan teman tersebut?

Benar saja, Tata belum sampai ke sekolah.  Nisa adalah murid pertama yang sampai di sekolah.  Bapak ibu guru telah berdiri di gerbang sekolah menyambut Nisa.  Murid pertama yang datang. “Nisa, selamat pagi! Kamu murid pertama yang datang!”  sapa Pak Dewa. Nisa menunggu teman-temannya di kelas.  Satu persatu temannya datang. “Nisa, kamu akan sebangku dengan siapa di hari pertama sekolah ini?” tanya Ria.  “Aku ingin sebangku dengan Tata” Jawab Nisa mantap.  Lima menit lagi pembelajaran akan dimulai.  Semua bangku telah telah terisi, tinggal bangku untuk Tata.  Tata pun masuk tepat jam 7.30.  Bu guru sudah akan memulai pembelajaran. Tata masuk ke kelas tanpa mengucapkan salam, tanpa senyum.  Dia melihat bangku tersisa tinggal di sebelah Nisa.  Nisa sudah senyum melambaikan tangannya.  Tata tak membalas senyum Nisa.  Dia tertunduk dan langsung duduk.  Nisa menjulurkan tangannya hendak bersalaman sambil mengatakan, “Selamat pagi Tata, bagaimana kabarmu?”.  Tata tidak membalas uluran tangan Nisa, juga sapaan Nisa.  Dia langsung mengeluarkan alat tulisnya di atas meja.  Pelajaran di mulai, sepanjang pelajaran Tata tidak mau berbicara, dia hanya memperhatikan ibu guru saja.  Nisa tak dilirik sama sekali oleh Tata.  Nisa berkata dalam hati, “Padahal aku dan Tata teman baik di kelas sebelumnya, tapi hari ini Tata sombong sekali. Dia tidak tersenyum, menyapa dan memberi salam bahkan dia juga tidak membalas senyum, sapa, dan salamku”

Guru memotong cerita sampai di sini.  Tanyakan pada murid-murid.  Bagaimana sikap Nisa? Bagaimana sikap Tata? Bagaimana perasaanmu kalau kamu sebagai Nisa? Bagaimana perasaanmu kalau kamu sebagai Tata? Mintalah mereka menduga, “Apa kira-kira yang menyebabkan Tata berubah sikapnya?”

Waktunya istirahat…. Nisa sangat senang.  Sekarang aku bisa bertanya sama Tata, “Mengapa ia bersikap seperti itu pada Nisa.  Mengapa ia masuk kelas pun tak senyum, sapa, dan salam.  Padahal senyum, sapa, salam itu harus diucapkan setiap kali kita bertemu dengan siapapun atau masuk ke ruangan yang penuh orang?”  Eh….Tata dimana ya? Tanya Nisa pada teman-temannya.  Semua orang yang ditanya menggelengkan kepala.  Nisa sudah geram pada Tata.  “Dasar Si Tata, udah tahu salah, sekarang kabur tak mau ketemu saya!” dalam hati Nisa marah sekali.  Sekeliling sekolah telah dicari, tapi Tata belum terlihat.  Tiba-tiba pandangan Nisa tertuju pada kantor kepala sekolah.  Di sana berdiri Tata dengan seseorang sedang mengobrol dengan Ibu Kepala Sekolah….”Itu siapanya Tata ya? Bukan ayahnya, tapi siapanya ya?”  Nisa menghampiri kantor kepala sekolah.  Nisa mendekat, tapi tidak berani dekat sekali.  Nisa bisa mendengar percakapan Ibu Kepala Sekolah, Tata, dan Orang itu.

Kepala Sekolah: “Tata, ibu turut sedih dengan apa yang terjadi pada ibu-bapakmu, tapi ibu yakin kamu akan menjadi anak yang kuat.  Tuhan pasti sayang sama ibu-bapakmu, sehingga mereka segera dipanggil ke surga.  Kamu harus tetap semangat dan ceria.  Ibu senang kalau kamu tersenyum, coba ibu mau lihat kamu tersenyum pagi ini!”

Seseorang: Terima kasih Bu, Tata senang bersekolah di sini, Namun saya sebagai Pamannya tak bisa terus mendampingi Tata di sini, terpaksa Tata pindah ikut kami.  Terima kasih sudah mengizinkan Tata masuk kelasnya untuk hari ini….

Nisa menguping semua percakapan itu. Ibu-bapak Tata sudah di surga, berarti…..  Dan itu pamannya? Tata ikut pamannya, berarti….

“Tata!” Seru Nisa.  “Tata aku cari kemana-mana ternyata di sini, ayo! Aku bawa kue keju kita makan bersama!” Nisa berusaha bersikap biasa. Tata tentu saja terkejut, dia seperti akan berlari menjauhi Nisa.  Namun, pamannya mengengam tangan Tata sambil jongkok dia berkata pada Tata, “Temui temanmu, kamu harus berpamitan pada mereka.  Beri kesan yang baik pada temanmu”.   Tata agak ragu, tapi akhirnya dia berlari.  “Nisa!!!!” Tata memeluk Nisa.  “Nisa maafkan aku tadi pagi.  Aku ingin kamu membenci aku, jadi aku bisa cepat pergi dari sekolah ini.  Nisa aku harus pindah sekolah.  Ibu dan bapak aku meninggal karena kecelakaan lalu lintas liburan kemarin.  Aku harus tinggal dengan pamanku sekarang di Kota Bandung.  Maafkan aku Nisa!!!

Guru memotong cerita.  Tanyakan pada para murid.  Bagaimana Nisa dan Bagaimana Tata? Tanyakan apa yang seharusnya Nisa lakukan? Apa yang seharunya Tata lakukan?

Bel istirahat telah selesai.  Nisa dan Tata masuk ke kelas.  Mereka terkejut, guru kelas dan teman-teman lainnya menyiapkan origami bunga. Ibu guru berkata, “Tata, kami sedih mendengar apa yang terjadi pada kedua orang tuamu.  Kami juga sedih berpisah denganmu. Namun walaupun kita berpisah ruang dan tempat, kita masih bisa berkirim kabar denganmu”  Tata dipeluk oleh teman-temannya.  Hari ini mereka melakukan pesta perpisahan untuk Tata.

Guru meminta murid untuk menceritakan lewat tulisan, apa pesan moral dari cerita yang telah dibacakan guru.

“Cerita ini dibuat untuk pembelajaran moral di Sekolah Hikari

Serial Keluarga Kemiri: Pool-itik

Rangkuman serial keluarga kemiri dalam facebook, saya coba rangkum dalam beberapa edisi di blog ini, semoga menikmati, senyam-senyum sendiri aja. Ketiga saya tampilkan topik pikalieureun yaitu Kolam Itik alias POOLITIK.

#17# Lieur ku AADC

Enok: politik teh lieur ya Bah?

Abah: politik adalah seni meraih kekuasaan. 

Enak: pantesan lieur Bah. Nu ngarana seni mah memang sok ngalieurkeun Emak. Emak pernah ninggali pameran lukisan. Lukisanna kawas benang kusut. Harga eta lukisan 150 juta. Emak ge pernah denger nyanyian gogoakan teu pararuguh, teriak2 aja gak nyanyi, sampe telinga Emak budeg. Tah nu kararitu “seni” ceunah Bah! Lieur kan? Seni memang ngalieurkeun!

Tole: PECAHKAN SAJA SEMUA, BIAR GADUH! BIAR RAME! 

Enok: kunaon Kang Tole jadi baca puisi di AADC 1 Dian Sastro!

Tole: Biarkan semuanya gaduh! Gaduh duit!

*gaduh = punya (bhs sunda)

————
#15# Revolusi

Enok: Bah, ari revolusi teh naon?

Abah: Revolusi teh perubahan yang mendadak tak perlu waktu lama. Revolusi kebalikan dari evolusi. Kalau di Biologi mah perubahan mendadak biasanya disebabkan oleh mutasi. 

Tole: Itu tinjauan biologi Bah, kalau tinjauan sosial?

Abah: Pergerakan yang ingin menggantikan sebuah ideologi yang dianut suatu negara dengan ideologi lain atau menginginkan pergantian SISTEM pemerintahan. Misalnya revolusi perancis 1789–1799, menggantikan sistem monarki menjadi kapitalis-liberalis-demokratis. Revolusi Bolshevik Okt 1917 menggantikan sistem pemerintahan kekaisaran di Uni Soviet menjadi Sosialis-Demokrasi. 

Tole: Oh, itu toh maksud Revolusi. Itu sebabnya namanya REFORMASI, karena sistem masih tetap demokrasi-pancasila. Cuma pemilihan presiden aja yang diubah.

Enok: Itu loh Kang Tole, waktu Demo tempo lalu kan ada juga teriakan “REVOLUSI….REVOLUSI…REVOLUSI”

Emak: Tah, Emak setuju memang kita perlu REVOLUSI…penting itu, biar akhlak kita jadi bagus. Tuh lihat, sekarang mah orang gak beban buang sampah, corat-coret dan rusak fasilitas umum, bahkan mengambil hak publik pun tanpa dosa. Perlu revolusi tuh!

Enok: Eta mah REVOLUSI MENTAL atuh Mak!

———–

Enok: Eta mah REVOLUSI MENTAL atuh Mak!

KELUARGA KEMIRI
#15# Pake Ka I

Tole: Katanya PeKaIi bangkit lagi Bah?

Abah: Sebagai sebuah partai? Tidak mungkin bisa bangkit dan lolos verifikasi dari kementrian hukum. Semua partai dan ormas di Indonesia seharusnya berazas pancasila.

Tole: Ah, abah. Bukan PKI nya, tapi apanya itu ya? Misalnya nih bah lambang PKI palu arit ada di uang kita, produksi kaos lambang PKI, kayak gitu deh.

Enok: Memangnya adanya simbol PKI menandakan hidup kembalinya PKI Bah?

Abah: Agak susah PKI bangkit di Indonesia, trauma panjang pada pengemban ide komunis, mematikan nafsu mereka untuk membangkitkannya kembali. Saat ini banyak negara sosialis komunis pun sudah berubah menjadi kapitalis, seperti China dan Uni Soviet. Yang terpenting mah, kelakuan kita sekarang jangan seperti orang PKI, “keukeuh peuteukeuh dan egois ingin menang sendiri, ngajak2 massa buat melakukan revolusi”. 

Emak: Dari dapur, emak denger pada bicaraiin “pake kai” naon nu “pake kai” teh?

Enok: pe ka i Mak, lain pake kai!

kai= kayu dalam bahasa sunda

———–

#11#Status

Abah: Ngapain si Emak cemberut gitu?

Emak: Ini loh Bah, temen2 emak statusnya sekarang mah politik, dia update status kritik pemerintah tentang jual-jual pulau sama orang asing. Emak bingung!

Tole: Memang juga kebijakan pemerintah sekarang mah parah, dijualin semuanya sama Asing dan Aseng!

Abah: Le dan Emak! Kita pernah wisata ke KAWASAN EKONOMI KHUSUS (KEK) TANJUNG LESUNG KAN? Siapa yg kembangin itu kawasan? PEMDA kah?

Tole: Bukan Bah, kayaknya swasta!

Abah: Nah, kira2 menurut kalian bagus gak itu wilayah?

Enok: Bagus banget Bah! Wisatanya ditata rapih!

Abah: Itulah, kalian lihat wilayah ujung selat sunda yg terpencil ketika dipercayakan pada investor swasta yg punya modal mereka akan bangun daerah itu dg modal mereka. Kalian lihat daerah itu sekarang? Yg dibangun adalah KEK, pertama swasta membangun kawasan wisata, lalu dibangun SMK Pariwisata untuk menyiapkan tenaga kerja disitu. Di maket kalian lihat pengembangan perumahan sampai nanti ada universitas yg arahnya pada ke jurusan biologi & biodiversity, rumah sakit pun akan dibangunkan. KEK memang dikembangkan oleh swasta. Tapi kalian lihat jalan raya sepanjang KEK pun tumbuh, warung makan…penginapan sederhana yg dibangun masyarakat bagi backpackers yg gak mampu nginap di Tanjung Lesung Cottage berhaga lebih dari 7 juta per malam, tapi tetap mereka bisa menikmati indahnya Tanjung Lesung. Lalu..nelayan. Sekarang para nelayan bisa jual ikan untuk memenuhi kebutuhan KEK, tak perlu mereka jual ke luar KEK. Sumber2 ekonomi tumbuh di daerah situ mengeliatkan ekonomi rakyat kecil di wilayah itu. Hebat kan? Nah! Kalian juga tahu RAJA AMPAT? destinasi prestisius itu pun dikembangkan oleh swasta bahkan Asing. Insyaalloh suatu saat kalau Abah ada rejeki, kita piknik ke Raja Ampat. Sekarang pemerintah ingin menghidupkan wilayah di nusantara seperti Tanjung Lesung dan Raja Ampat. Jangan sampai pulau2 itu nasibnya kayak Sipadan dan Ligitan, jatuh pada negara orang karena pemerintah kita dianggap abai membiarkan pulau itu. Dana pemerintah terbatas buat ngembangin pulau2 yg terpencil, terluar, terjauh…maka diundanglah sektor swasta. Bukan berarti dijual itu. Abah mah jadi ingat hidupnya kegiatan ekonomi di wilayah terpencil dan terjauh itu karena efek menjalan hadits nabi saw ttg “menghidupkan tanah mati”. 

Tole: Tuh…Mak, makanya jadi emak2 jangan suka nyiyir sama pemerintah. Naik motor aja emak2 mah udah bahaya, apalagi masuk ke jurang politik! 

Enok: Tah, Mas Tole juga otaknya kudu banyak piknik biar gak butek!

———-

#17# Jenggotan

Kamis sore, di rumah hanya ada Abah dan Enok. Emak sedang pengajian dan Tole rapat BEM di kampusnya.

Abah; cari apaan Nok di internet?

Enok: googling aksi lingkungan, tapi dikit dapatnya, banyak aksi lainnya. Bah, kenapa ya org2 sekarang mudah sekali KEBAKARAN JENGOT, dikit2 marah, aksi, demo deh….

Abah; mudah KEBAKARAN JENGOT, karena mereka punya jengot, coba kalau cukur jengot, kan gak ada lagi istilah kebakaran jengot,

Enok: @$#%!???!!!?

#13#hoax

Tole: Busyet nih banyak banget pekerja cina ke indonesia. Kasian buruh Indonesia. Ini hoax bukan sih Bah?

Enok: Bah, pegang kepala Tole, demam gak? Soalnya tumben dia gak jugment!

Abah: Ngenye abang mu melulu, Nok! Gini loh Le! Bagi Abah mah, hoax atau bukan, bukan itu masalahnya, juga bukan masalah China atau Walanda atau Arab. Pasar bebas memang di depan mata kita semua. Kelak kalian akan bersaing dg berbagai bangsa untuk memperebutkan pekerjaan di negaramu sendiri, juga buat buka usaha di negaramu sendiri. Era globalisasi meniadakan sekat kesamaan karena suku, bangsa, dan agama….pada zaman itu yg diperlukan adalah kemampuan komunikasi dan kolaborasi, bekerja cepat dan efektif, kreativitas dan inovasi, kritis dan problem solving. Jika kemampuan ini tidak kita miliki maka kita gak bisa bersaing. Oleh sebab itu hard skill dan soft skill kalian harus terus diasah. Sibukkan diri kalian dg prestasi! Manfaatkan waktu dg membaca dan menonton asupan bergizi, yg menambah energi bagi beramal sholeh.

Enok: Tuh, Mas Tole. Reugeupkeun tah! Tong baca wae hoax!

Emak: Ahok lagi Ahok lagi, bosen! Yeuh emak bikin holak! 

Tole: Kita lagi bahas hoax Mak! Bukan Ahok!

———

#08#Malaikat

Emak: Duh lieur emak mah, dua orang ini kayaknya diharuskan jadi malaikat, sedikit2 dilaporkan. Naha jadi kieu?

Tole: ya Emak, keduanya itu pan tokoh. Presiden Jakarta dan Presiden NKRI bersyariah, harus jaga diri dong. Jaga ngomongan tong salah!

Enok: Ah si kang Tole mah lebay meuni jadi presiden gitu. Ari enok mah lieur ku jamaah baper, lain mareuman seuneu nu keur berkobar, malah ikutan niup eta api jadi we beuki gede. 

Abah: Nah, sebagai rakyat kita nu kudu jadi rakyat produktif. Abah teh PNS lamun istilahna keren mah ‘civil servant’ tugasna melayani rakyat, nah Abah dosen ukur jago teori ukur bisa ngajak massa facebookers dan twitter berpikir. Berpikir agar jadi warga konstruktif dan produktif Jika abah share berita HOAX atau berita provokasi, maka abah bukan lg pelayan massa walaupun abah tetap PNS – Pro Negative Sharing. 

Enok: Si Abah mah! Aya-aya wae PNS mah ya PNS wae kerenna CIVIL SERVANT OF GOVERMENT, PEGAWAI NEGERI SIPIL.

Serial Keluarga Kemiri: Serba-serbu Emak

 

Rangkuman serial keluarga kemiri dalam facebook, saya coba rangkum dalam beberapa edisi di blog ini, semoga menikmati, senyam-senyum sendiri aja. Kedua saya tampilkan topik yang HOT bagi emak-emak, yaitu POLIGAMI dan topik lainnya.

#28# Poligami

Enok: Mak, hadir di pengajian ustadz Aa. Apanan dia Poligami. Harusnya emak solider boikot pengajiannya.

Emak: Aih Si Enok, meuni gagabah. Poligami mah hukumna mubah atau boleh atau halal. Jangan mengharamkan yg Alloh udah Halalkan.

Abah: Wah, jadi poligami teh boleh ya Emak.

Emak: Boleh, bah! Asal tong suami Emak alias Abah nu poligami atawa Anak Emak alias si Tole. Ari nu lain mah,  Silahkan aja.

Abah: Si Emak mah isteri binangkit, lah!

Tole: Hahaha kena getahnya Aku!

—————
#27# Pangeran Arab

Enok: Mak, gak upload foto pangeran arab. Itu temen2 Emak pada upload di status facebooknya?

Emak: Bagi emak mah nu paling cakep dan hebat mah si Abah. Abah yg telah merelakan dirinya memimpin dan menanggung hidup emak, nemenin emak selama hidup. Tah, lalaki jiga kitu yg cakep dan hebat mah.

Abah: i love you, Emak!!!

Tole: suittt suittt!

————-

#25# Kepompong

Hari minggu Enok dan Tole tak di rumah. Di rumah hanya ada Abah dan Emak.

Emak: Nih, Bah baca kewajiban abah teh nyuci baju, potong kuku emak, sama nyediakan pembantu bagi emak. Selain nafkah Bah! Hadits nih Bah!

Abah: Terus emak kewajibannya apa di rumah?

Emak: ehhh sebentar emak baca beres artikelnya. Kewajiban emak hadonah, ngurus anak2 aja Bah!

Abah: Lah si enok dan si Tole udah bukan masa hadonah, jadi emak ngapain udah itu?

Emak: Berarti emak bisa jalan-jalan shoping shoping, minta uangnya dong Bah!

Abah: Emak!!! cing atuh. Regepkeun ya! Kehidupan suami isteri dlm rumah tangga itu kayak dua org sahabat bukan kayak mitra kerja ada MOU yg jelas, bukan juga kayak majikan sama pegawai pake ada jobdesk yg kaku. Kayak sahabat Mak!

Emak: kayak kepompong dong bah?

Abah: Maksudnya?

Emak: persahabatan kayak kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu….nananana dudududu….

Abah: ヘヘヘ

Serial keluarga kemiri: Serba-serbi PILKADA DKI

Rangkuman serial keluarga kemiri dalam facebook, saya coba rangkum dalam beberapa edisi di blog ini, semoga menikmati, senyam-senyum sendiri aja. Pertama saya tampilkan topik yang HOT yaitu SERBA-SERBI PILKADA DKI yang Baru lalu.

#Kiriman bunga#

Enok: hihihihi

Abah: Angger kamu mah, Nok! Seuserian bari nyoo Hape.

Enok: ieu Bah tinggali, orang gagal move on pada kirim kembang. Pikaserieun kata2na, kreatif orang mah.

Tole: Ah, eta mah sok hayang ka puji wae. Teknik politik palsu, memecah belah persatuan dan kesatuan. Haram perbuatan setan, mubajir.

Enok: Kang Tole, sinis banget dah. Mana ada ngirim bunga memecah persatuan, bunga mah merekatkan tali kasih. Ya, bah?

Abah: Nok, ari perkara bunga mah tergantung suasana hati dan pikiran Nok. Kalau hati lagi bagus pikiran jernih maka lihat bunga ya hati ikut senang berbunga2. Mun hatena keur rarungsing pikiran bete, ninggali bunga teh asa ngalelewe bisa di duruk tah kembang. Kadang2 mah ninggali bunga tergantung kondisi saku.

Emak: Maksud Abah? Bunga bisa tidak diselip di baju tergantung model saku baju?

Abah: Bukan, mak. Maksudna mun saku keur boke, bunga di tabungan oge dikuras habis.

Emak: ??!!???!!??!

———————————–

#Tanda-tanda keur M#

Enok: Bah! Eta stasiun nu dicarekan. Kieu caritana, aya calon pemimpin marah sama wartawan, anda media tertua, harusnya anda …bla bla gitu deh Bah! Baru calon loh Bah, blm beneran jadi pemimpin.

Abah: Tong mikiran kalakuan batur. Enok ge ari keur M mah sok sensi.

Tole: Berarti calon pemimpin itu lagi M tuh, Nok!

Enok: Lalaki kok M sih?

Abah: Geus tong Ribut! Tuh Raisa nyanyi di samping Jokowi. Ademmmm lihatnya!

Emak: Abahhhhh! Lihat emak aja, tong molotan Raisa!

Abah: Abah mah molotan Tipi Mak!

Emak: Abah!!!! arrrggghhh

——–

#Korelasi Negatif#

Enok lagi ngerjakan PR matematika, cari contoh2 korelasi positif dan negatif dari media massa.

Enok: Bah, ieu bisa jadi contoh korelasi negatif ya? “Tingkat kepuasaan terhadap Petahana DKI tinggi namun elektabikitas rendah”

Tole: ya iyalah, walaupun respon banjir cepat, sungai bersih, pelayanan administrasi dipermudah, mrt lrt gak mangkrak lagi, tapi da loba kasieun milihna. Sieun jadi masuk golongan kafir atawa munafik, tah tempatna di neraka nu paling bawah! Hag siah….

Abah: Tong ribut urusan daerah batur Le, Tong moyokan atawa mapanas, era! Urang mah ukur nempo warga jakarta milih saha? Cagub Anu ngumbar bukti atau janji? Nikmat jeung hanjakal nu ngarasakeun warga DKI. Geus urang mah jempe tong loba komentar lah!

Enok: Ah, malahka raribut, hapus contona. Conto nu jiga kieu mah piributin geuning. Tah ieu we ya Bah “Harga cabe meningkat, permintaan terhadap cabe menurun”

Emak: Tah, mun bisa mah stok cabe ditingkatkeun supaya harga cabe teu tinggi teuing!

Tole: Distribusi ge jalurna kudu diperbaiki….

Enok: ARGHHHHH sagala dikomentaran, geus enok ngerjain PR na di kamar, moal beres2 ari kieu mah!

———–

#Sholat Jenazah#

Enok : Bah ini lihat ada sebaran salah satu DKM menolak mengurus jenazah pendukung Ahok!

Tole: Alus atuh! Kudu kitu!

Abah: Eh…. regepkeun yeuh ya ku hidep sadayana! Ari ngurus jenazah teh pardu kipayah keunana kanu hirup lain kanu paeh. Lamun aya DKM anu nolak ngurus jenazah, dosana lain keur ka eta mayit, tapi keur urang nu hirup.

Emak: Ih, enya ya Bah. Sangeuk teuing ah, jadi dosa. Paralun Emak mah. Sieun ku Alloh swt. Astagfirullah.

#QUICK COUNT – PHP#

Enok: Bah, DKI walau Ahok yg menang, kok putaran 2 sih? Daerah lain mah heunteu.

Abah : Ada aturan beda Nok, karena itu DKI, Ada hurup K tuh! Khusus.

Tole: Ah itu buatan manusia Bah, aturan mah bisa diakal-akalin. Nu rame mah, ceunah real count satu putaran, bisa teu Bah?

Abah: Ari harapan mah gitu, supaya energi umat jeung dana bisa move on. Tapi pan data quick count lain. Margin error paling gede diklaim 2,5% artina moal jauh ti sakitu. Lembaga survei kredible, lain pesenan. Tong percaya isu dan harapan palsu! Baheula keur PILPRES ge penyebar harapan palsu mah selalu beropini hasil realcount dan form C3 NO 1. meunang, partaina masuk 3 besar. Pas kenyataanna mah teu bisa dibuktikeun.

Emak: Emak oge resep ka Abah karena Abah bukan segolongan orang-orang PHP. (Pemberi harapan palsu). I love you, Abah!

Tole dan Enok: Cie cie ….

————-

#Nyoblos#

Paling pagi Keluarga Kemiri datang ke TPS, alasan si Abah sederhana, biar segera bisa jalan-jalan.

Tole: Nok, milih nomor sabaraha?

Enok: Rahasia atuh, pokokna antara nomor 1 jeung 2.

Abah: Pokokna mah, mana wae nu meunang urang dukung! Tong sampai masuk PGMO (Persatuan Gagal Move On)!

Emak: Emak teh Bingung, kamari ceunah coblos pecina, Emak lihat digambar calon gubernur wilayah urang mah nomor 1 jeung 2 parake peci kabeh. Emak sih sreg ka Calon Gubernur no 1, tapi hayang emak mah wakil gubernurna no 2, jadi Emak coblos peci gubernur nomor 1 dan peci wakil gubernur nomor 2. Tunai sudah “COBLOS PECINA”

Tole & Enok: Emakkk! Eta mah nyoblos sakadaek sorangan!

———-

#Meuli Cengek#

Enok: mbah kurang lebih nih ya tiga calon menghabiskan dana kampanye 170 M.

Emak: Euleuh geuningan? Mun dibelikeun cengek 189.000.000 kg, cengek masih mahal lain?

Tole: Lada meureun Mak! Eh, Bah, sampai hari ini banyak temen Tole can bayar SPP kuliah semester genap.

Abah: Saya Prihatin….

Enok: Ih kitu wungkul Bah???!!!!!????

———-

#Dana Kampanye#

Abah: 9,1 M + 40,2 M +35 M sama dengan 84,3 miliyar.

Tole: Lagi ngitung keuntungan proyek penelitian ya Bah?

Abah: Bukan tapi dana kampanye DKI.

Enok: Eh geuningan pilgub teh mahal ya Bah?

Abah: Itu tandanya Indonesia ‘makmur, jaya, sentosa, kaya raya, pendapatanna edun2’ bisa tah pesta rakyat oge nepi ka 84,3 M.

Emak: Bah, 84,3M teh duit?

Tole: Jigana mah daun Mak! Tinggal metik kan? Tongkat dan batu kan di Indonesia mah jadi tanaman. Tah daun ge jadi duit.

#Rindu Ira Kusno#

Enok: Bah, final “the bat” pilkada DKI jam tujuh.

Abah: Saha moderatorna?

Tole: ceunah Alvito

Abah: Lain Ira Kusno, pareuman wae!

Emak: Abahhh sakali deui nyebut “Ira Kusno”, moal dibere kopi dangdut.

#Nu Meunang PILKADA DKI ngarana A#

Enok: Bah, rame lagi nih sidang Ahok!

Tole: cieee, tiap sidang juga rame aja kali Nok!

Enok: yg ini lebih rame, nih coba baca!

Tole: ah yg udah2 sidang 1-7 itu juga rame!

Enok: ramean sidang ke 8 lah!

Tole: semua rame….

Abah: Eleh eleh, kunaon jadi kalian yang rame kitu! Jadi debat kusir kalian teh!

Emak: Enya, geus tong raribut pilkada DKI, da urang mah moal nyoblos. Kudu tenang geus dipastikeun nu meunag jadi gubernur DKI ngarana bakal berawalan A.

————–

#Debat 2 Tina Talisa#

Enok: Sistem transportasi seperti peredaran darah. Harus menjangkau seluruh sudut wilayah. Nanti ada angkot, mini bus, bus trans, mrt, lrt, krl…

Emak: Naon eta teh Nok?

Enok: Itu Mak, kata debat pilkada. Terus nih Mak, ‘Pemimpin itu harusnya merangkul bukan memukul, kalau mendorong ya boleh….’

Tole: Filosofis banget sih Nok!

Enok: Enok cuma ngutip kok, Kang Tole!

Abah: Yah, ari kata Abah mah. Nu penting mah, tinggali wae, cagub mau gawe teu? Da tugas Gubernur melayani rakyat. Udah ah, abah mah mau tidur.

Tole: Yeh, kunaon Bah?
Moderatorna mencrang pisan, Tina Talisa.

Abah: She is not a single. Abah gak punya kesempatan.

Emak: Abahhhh awas ya!!!!!

———–

#Ganti Rugi Demo 470M#

Tole: Wah piye iki? Gak rame gak ada sidang lanjutan dong!
Abah: Ada apa sih Le?
Tole: ini abah! (sambil memperlihatkan berita online di Telepon pintarnya)
Abah: Baguslah itu Le!
Enok: Tuh, Si Tole gak seneng ya ada kedamaian?
Tole: hus…hati2 ndas mu, Nok!
Abah: ya 470M gak perlu lagi toh? Umat islam udah urunan bikin koperasi. Semoga berkah, jaya, makmur, subur, lancar, dan umat islam ekonominya maju berkat koperasi itu. Dan Ahok bisa fokus di pilkada, kalau sedikit2 dilaporkan, digugat, energi umat ini habis buat berpolemik, ujung2na ‘parebut pepesan kosong’
Emak: ieu yeh, sok emak bikin pepes naga sari, masih keneh panas jeung bajigur yeuh!

————-
#Debat Dosen#

Enok: Bah, nih debat kemarin ada dosen2 yang tersinggung sama ucapan Pak Ahok. Sebagai Dosen, Abah gak tersinggung?

Tole: Kayak yg gak tahu Abah aja, Abah kan orangnya GAK BAPER, dibawa asyik aja lagi, ya gak Bah?

Abah: Hahahaha….. iya, kalau sedikit2 tersinggung, sedikit2 sakit hati….hidup kita jadi susah.

Enok: Apa ya Bah tujuannya orang menyebar2 dan ngajak BAPER berjamaah?

Abah: hemmm ada dua tujuan yaitu tujuan politik praktis dan ideologi. Politik praktis tujuannya ya menjatuhkan lawan politiknya. Sekecil apapun potensi khilaf, salah, atau kepeleset bisa dimanfaatkan untuk menjatuhkan lawan politik. Tujuannya menumbuhkan kebencian orang2. Kebencian itu sejanta ampuh menurunkan elektabilitas. Politik praktis ini umumnya dilakukan oleh kader, simpatisan, dan pendukung fanatik, serta tim sukses seorang cagub.

Enok: oh, maksud abah “tujuannya biar menang di pilkada”

Abah: Ya, singkatnya begitu. Tujuan kedua ini sifatnya ideologi. Ada atau tidaknya tujuan ideologi bisa dideteksi dengan mudah oleh orang yang memposisikan diri terbang ke atas awan, sehingga bisa melihat segala soal dengan holistik. Tujuan ideologi hanya mampu dilihat oleh orang yg punya kemampuan melihat di balik dinding, atau tembus pandang, semua soal biasa dilihat arahnya mau kemana. Orang2 yg punya kemampuan melihat tujuan ideologi, haruslah orang2 yang paham tentang jenis ideologi yg ada di dunia, perbedaannya, sejarahnya, gerakkannya dalam membangkitkan kembali ideologi itu. Orang-orang ini harus punya pemahaman politik. Kadang kita lihat memunculkan “isu yang sama” tapi tujuannya mereka bukan sekedar politik praktis, tapi sebenarnya sangat ideologis. Pemahaman itu hanya bisa didapatkan oleh orang yang belajar, belajar politik terutama pembentukan partai politik.

Enok: Oh…orang awam mah susah lihat tujuan ideologi, hanya org yg udah belajar yang bisa ya Bah?

Abah: that’s right.

Tole: Abah ini memang dosen tulen, penjelasan panjang lebar banget, berteori.

Abah: Le, kalau Abah gak bisa berteori ya Abah gak akan bisa lulus DOKTOR. Dulu waktu Abah disertasi, Abah ditanya sama dosen Abah, “Teori baru yang akan kamu hasilkan apa?”

Tole: ini sebabnya Dosen jago teori ya Bah?

Abah: Iya dosen mah ada 16 SKS 12:2:2 (ngajar:neliti:pengabdian masyarakat). Jadi 75% ngajarin teori, 12,5% meneliti menghasilkan teori baru; 12,5% ngajarin masyarakat aplikasikan teori.

Emak: Ayooo….tahu bulat digoreng dadakan….gurih gurih enyoy….!

Move on #fiksi #Asep

Bagian ke-2: ASEP

“Ayah! Ini ayah seringnya foto sama teman ayah ini ya?”

“Asep!”

Asep, bagi orang sunda ini nama pasaran.  Biasanya karena kelihatan “kasep [tampan]” maka dinamai Asep.  Asep, tampan? Wah, saya tak pernah perhatikan, apa ukuran ketampanan? Diminati banyak dara? Nah, waktu SMA sedikit sekali kaum hawa yang mau ngobrol dan dekat sama Asep.  Kenapa? Hemm orangnya seriuussss, diam, sedikit-sedikit mikir.  “Sep, nonton yuk!” “Nonton apa?” “Film…nih lagi trend..Lupus!”  “Oh … gak ah!”  “Nonton film haram ya Sep?” “Bukan, apa alasan aku harus nonton film itu?” “Ya, rame…cerita pendeknya itu kan seru-seru, kali-kali aja filmnya seru!” “Oh, ini film dari cerita di majalah HAI itu ya?” “Lah, aku setiap minggu nebeng baca ceritanya sama kamu. Ngapain harus nonton, lagian sayang uangnya!”  “Nih, aku traktir deh, Yuk rame-rame kita berangkat!”  “Gini aja, uang traktirannya buat aku beli makan siang, lalu sisanya tak tabung di kencleng mesjid bagaimana?”  Kalau sudah begitu saya tinggal tuh Asep.

Dan…. Besoknya ketika akan sholat Dzuhur dia akan ceramah.  “Abdi, tahu tidak kenapa aku menolak ajakan mu dan teman-teman ke bioskop kemarin? Hidup ini singkat, kita harus tabung banyak pahala buat bekel di akherat yang kekal, setiap waktu yang kita jalani harus kita pikirkan ini nanti nilainya minus, nol, atau plus.  Kamu tahukan surat Wal Ashr? Nah, manusia itu akan merugi kelak kalau gak memanfaatkan waktu buat menabung amal shaleh.

Kalau sudah begitu, mulut saya terkatup, cuma bisa angguk-angguk saja.  Inilah mengapa kaum hawa tidak banyak mendekatinya, takut diceramahi!

Sangat suka menceramahi hal kecil apa saja….tidaklah mengherankan.  Liburan semester saya menyempatkan tidur di kampungnya.  Perjalanan dari Bandung menggunakan ‘elf’ menuju perkampungnya kami harus jalan kaki kurang lebih lima kilo meter, melewati jalan setapak yang kiri dan kanan sawah serta kebun.  Kata Asep, ini jalan pintas, kalau melewati jalan desa lebih jauh dan memutar.

Sampai di suatu desa, semua orang menyapa Asep “liburan Sep?” “Sumuhun ambu!” “Mulih Sep?” “Sumuhun Aki!” kayaknya hampir se-desa itu menyapa Asep dan semua dijawab dengan “sumuhun” oleh Asep.  Ramah sekali.  “Sep, kamu kenal semua orang itu?” Dia menganggukkan kepala.

Masuk di sebuah komplek yang hanya dibatasi dengan bebatuan disusun setinggi 1/2 meter.  Ada dua rumah panggung besar dari bambu, lalu…ini sepertinya sebuah mesjid, karena ada beduk dan mihrab, namun sekilingnya hanyalah panggung bambu.  Berjajar juga rumah panggung dari bilik bambu ada sekitar empat rumah dengan ukuran sama, tampak tepas keempat bangunan itu cukup besar mampu menampung beberapa orang.  Bangunan permanen hanya terlihat empat kelas dengan berplang MTS Kertajadi.

Ini rumahku Di! Itu disana rumah abahku, Tiga rumah disamping itu rumah para guru yang mengajar di sini.  Itu bangunan itu, itu sekolahku dulu.  “Ayo, kita ketemu Abah dulu!”

“Assalamualaikum!”  “Waalaikum salam warohmatullahi wabarakatuh!” “Abah!” “Asep! Libur? Eh ieu?” “Ieu rerencangan Abah!” “Eh, eta gera…..Ambu….ieu Asep!”  Sebetulnya agak aneh, karena Asep diterima Abahnya laksana tamu saja, duduk…sepertinya ini ruang tamu karena digelar tikar bambu.  Di rumah panggungnya tidak ada barang apa2, pun hiasan hanya ada gambar kabah  satu saja.  Ruangan penuh  rak buku.  Dihitung kamarnya ada tiga.  Wanita yang dipanggil Ambu membawa makanan dan minuman, lalu bergabung dengan kami di ruang tamu itu.  Asep menceritakan semua yang dialaminya di sekolah.  Kemudian dia memberikan rapor pada Abahnya.  Abahnya sejenak ke kamar mengambil bulpen dan menandatangani rapornya, sambil berkata “Ku Abah dido’akeun cita-cita Asep jadi Insinyur Pertanian terkobul, bismillahirahmanirohiim!”  Selepas ngobrol dan bercerita serta menghabiskan sajian, Asep mengajakku istirahat.  Ku pikir ia akan mengajakku masuk salah satu kamar di situ, ternyata bukan.  Ia mengajak aku ke rumah besar.

“Sebagian besar santri lagi mudik Di, kecuali beberapa santri yang sudah tidak punya orang tua!”

“Sep…kita tidur di rumah besar itu?”

“Iya, aku bukan anak kecil lagi.  Sejak aku SMP atau aku baligh, Abah menyuruhku untuk tidur bersama para santri.  Rumah tempat Abah itu hanya untuk abah , ambu, dan anak-anak Abah yang belum baligh atau masih dalam hadonah.”

“Hadonah!”

“Iya, masih kecil, masih harus diasuh ibunya gitu!”

“Terus, di rumah ustadz2 itu?”

“Iya sama, anak mereka kalau sudah balik masuk rumah panjang ini, untuk belajar bersama santri”

Rumah besar dari panggung, isinya hanya tikar dan beberapa lemari berjejer yang menandakan kepemilikan.  Beberapa anak tampak membaca qur’an.

Assalamualaikum! Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.  Anak yang membaca quran berlarian menyalami kami.   Tiba-tiba anak-anak yang sedang melakukan aktifitas itu mengumpul membuat lingkaran dan menyediakan ruang bagi kami untuk duduk.  Asep kemudian mengajakku duduk dalam lingkaran itu.  Asep menceritakan pengalamannya selama di Kota Bandung.  Semua Asep ceritakan, dan anak-anak itu memperhatikan Asep. Sampai berkumandang Adzan Ashar, cerita Asep diakhiri.

“Mereka santri yang tidak punya tempat untuk pulang.  Mereka anak Yatim atau memang terlalu jauh pulangnnya sehingga orang tuanya tidak menjemput mereka.”

Ternyata jamaah sholat ashar cukup banyak, kebanyakan anak-anak usia SMP.

“Mereka itu santri kalong, mereka ikut kajian di pesantren Ashar sampai Magrib atau ada juga yang Magrib sampai Isya.  Umumnya mereka anak-anak di kampung sini.”  Seakan Asep tahu keherananku akan banyaknya jamaah shalat ashar.

Selepas sholat Ashar, Abahnya Asep sambil membuka kitab, dia membaca sebuah paragraf dari kitabnya lalu menceritakan isi kitab itu pada para santri.  Kegiatan dilanjutkan dengan   ustadz lainnya, ustadz mengajarkan cara ceramah, beberapa anak yang menjadi gilirannya hari ini maju menampilkan ceramahnya.

“Beginilah hari-hari disini Di.  Gak ada bioskop, mall, hanya ada sawah, sekolah, dan pesantren”

“Apakah anak-anak disini tidak bosan?”  “Hahahahaha……kita menjalaninya tiap hari, memang begini, ini hidup kita Di”

 

“Kalau Ayah sendiri lebih suka tinggal di Kota atau di Desa?”

“Dimana pun asal bersama kalian!”

“Ahhhhh! Ayah, jago rayu!”