Cerita Moral 02 #光学校

#Tebarkan Kebaikan#

Kelas yang baru, teman yang baru.  Beberapa teman sekelas Budi adalah teman lama, tetapi banyak juga teman baru. Salah satu teman baru Budi bernama Dimas. Dimas berasal dari kelas Cut Nya Dhien, sedangkan Budi berasal dari Kelas Ngurahrai.  Kini mereka sama-sama berada di kelas Patimura.

Guru  memotong cerita di sini.  Di sekolah Dimas dan Budi, kelas menggunakan nama pahlawan nasional.  Tanyakan pada peserta didik, siapa itu Cut Nyak Dhien, I Gusti Ngurahrai, dan Patimura? Ceritakan pula sedikit kisah mereka pada peserta didik.

Dimas bertubuh gempal.  Pipinya gendut kemerahan seperti buah tomat.  Ada sekelompok anak yang memanggil Dimas dengan julukan “Si Muka Babi”.  Sekelompok anak lainnya di kelas memanggilnya dengan “Kingkong”.

Guru mememotong cerita di sini.  Tanyakan pada peserta didik bagaimana perasaan mereka jika menjadi Dimas?

Budi tetap memanggil Dimas dengan Dimas.  Budi tidak mau ikut-ikutan memanggil dengan nama julukan yang tidak baik.

Guru memotong cerita di sini.  Tanyakan pada peserta didik, bagaimana perasaan mereka terhadap sikap Budi?

“Dimas, aku mau tanya sesuatu!” kata Budi pada Dimas suatu hari.  “Tanya apa Sobat?” Jawab Dimas.

“Gini, kamu senantiasa dipanggil dengan julukan-julukan yang kurang baik.  Perasaan kamu bagaimana?” Tanya Budi.

“Aku sebetulnya sedih, mereka menjulukiku dengan nama-nama bintang.  Tapi kalau aku marah sama mereka nanti aku tak punya teman. Jadi aku memilih membiarkan mereka seperti itu” jawab Dimas.

Guru memotong di sini.  Tanyakan pada peserta didik, “Bagaimana sikap Dimas? Tanyakan juga bagaimana mereka jika teman-teman menjulukinya dengan julukan yang tidak disukai?”

Budi berpikir keras, “Apa yang bisa dia bantu untuk menolong Dimas?”  Budi ingin teman-temannya tidak memberikan julukan-julukan yang jelek pada Dimas.

Guru memotong cerita sampai di sini.  Tanyakan pada peserta didik, “Ide apa yang mereka pikirkan jika posisi mereka seperti Budi ingin menolong Dimas dan menyadarkan teman-temannya”

Siang itu Budi berkata pada Dimas.  Dimas aku ingin membuat teman-teman kita tidak mengejek kamu lagi.  Besok aku punya sebuah rencana, tapi maaf berdasarkan rencana aku, aku akan menyebutmu “muka babi”,  maafkan aku besok ya!

“Tidak apa-apa Sobat! Jika nanti rencanamu berjalan baik, apakah kamu yakin aku tidak akan diejek oleh mereka lagi?” Kata Dimas.

“Semoga, tidak!” Kata Budi

Esok harinya, Budi membicarakan permasalahan teman-temannya terhadap Dimas pada ibu guru.  Budi pun meminta izin kepada ibu guru untuk melaksanakan rencana yang telah dibuatnya.  Ibu guru menyetujui rencana Budi.

Setelah jam istirat makan, bu guru berkata, “Anak-anak, hari ini ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Budi.  Budi silahkan ke depan!”

Budi maju ke depan.  Teman-teman, bagaimana kalau kita membuat julukan-julukan paling jelek untuk kita masing-masing! Aku tulis ya!  1.  Dimas, julukannya apa ya? Dengan keras Rangga berkata, “Dimas si Muka Babi!”  Teman-teman yang lainnya tertawa terbahak-bahak.  Budi melanjutkan, “Baik aku tulis ya, 1. Dimas – Si Muka Babi.  Terus kalau kamu Rangga apa julukan bagimu?”  Rangga menjawab cepat dan percaya diri, “Aku ya Rangga Si Ganteng!”  Budi berkata, “Tidak bisa harus julukan yang jelek dong!”  Affan berkata, “Bagaimana kalau Rangga Si Kunyuk!”  “Loh, kok aku disebut Kunyuk, Kunyuk itu kan artinya Monyet.  Memang aku kayak Monyet ya?” tanya Rangga.  “Sudah, kita terima aja deh julukannya. 2. Rangga – Si Monyet”  kata Budi sambil menuliskan di papan tulis.  “Kalau Affan apa julukannya?”  Tanya Budi.  “Bagaimana kalau Si Muka Badak!” soalnya Affan orangnya gak tahu diri! Kata seseorang.   Begitulah seterusnya satu kelas mempunyai julukan-julukan yang jelek.  Budi pun berkata, “Mulai besok kita panggil teman-teman kita ini dengan julukan-julukan jelek ini, apa kalian setuju?”

Tiwi mengacungkan tangan tanda sambil berkata, “Budi sebentar aku keberatan dipanggil Nini Genderewo setiap hari.  Kata ibuku dalam nama ada sebuah do’a.  Namaku Kusuma Pertiwi artinya Bunga Bangsa, ibuku berharap aku menjadi orang yang bisa mengharumkan negeriku.  Kalau namaku ganti jadi Nini Genderewo apa artinya? Aku nenek-nenek setan dong! Aku gak suka.  Nama itu seram lagi!”

Budi pun bertanya, “Adakah yang suka dipanggil dengan nama-nama jelek? Sebentar ya! Ini kok banyak nama setan ya, sukakah Tini dipanggil kuntilanak? Maukah Damar dipanggil dengan sebutan Tuyul?”  Semua teman-temannya menggelengkan kepala.  Nah, begitu juga dengan Dimas, dia tidak suka dipanggil dengan panggilan Si Muka Babi atau Kingkong.    Mulai hari ini kita  memanggil teman kita dengan nama yang baik, nama yang mereka senangi, nama yang diberikan orang tuanya.  Bagaimana teman-teman? Janji ya!

Janji!!! Suara teman-teman sekelas berkumandang.

Ibu guru tersenyum dan berkata pada Budi, “Bagus, Budi! Terima kasih ya!”

Guru meminta siswa menuliskan pesan moral dari cerita moral yang dibacakannya dalam beberapa kalimat.

 

 

 

 

Advertisements

Serial Keluarga Kemiri: PERPU

part one

Enok: Bah, lagi rame PERPU ORMAS di Medsos.

Tole: PERPU sebagai bentuk pemerintah kalah argumen. Pemerintah otoriter eta teh!

Abah : Hemmm, itu karena Tole memandang dari sisi korban. Ari ceuk Abah mah. Ini Abah pakai kacamata pemimpin yg udah disumpah buat jaga pancasila dan NKRI. PERPU itu upaya pemerintah menjaga ideologi bangsa. Jika pemerintah masa bodoh dengan ormas, dan membiarkankan missleading dari kerangka kebangsaan, maka artinya NEGARA ABSEN DALAM MENJAGA IDEOLOGI.

Enok: negara kudu ya Bah, hadir dalam menjaga ideologi bangsa?

Abah: kudu atuh Nok, mun henteu “apa yg akan mendasari persatuan dan kesatuan Indonesia?” Kesamaan Agama? Tidak. Kesamaan suku? Tidak. Yg menjaga kesatuan dari sabang sampai merouke ya ideologi bangsa. Negara haruslah hadir menjaganya.

Enok: Tah, Kang Tole regeupkeun!

Tole : Gandenglah Nok!

Emak: Geus! Udah tong ribut wae adi jeung lanceuk teh, tah kulub sampeu panas keneh.

Abah: Tah! Alhamdulillah masih manggih Kulub sampeu, lain kulub batu.

———-

Part two

Tole : Bener represif, dzlim, otoriter pemerintah sekarang.

Emak: Eh, eta maca koran kukulutus kitu.

Enok: Masih terkait PERPU Kang Tole? Kan udah Abah Jelaskan.  PERPU itu wujud kehadiran pemerintah dalam menjaga ideologi negara.

Tole: Nih, telegram juga udah diblokir!

Emak: Lain diblokir meureunan tapi dinonaktifkan sama pemerintah.  Ya, wajar we atuh, da jaman kiwari saha nu rek make telegram deui? Geus aya email, SMS, jeung handphone.  Mun aya kabar penting teu kudu pake telegram deui.

Abah: Lain telegram kantor pos mak. Ieu mah telegram orang rusia.  Yeuh, Le! Coba kamu pikirkan, “andaikan kita hidup dalam kekhilafahan islamiyah, memerintah berdasarkan syariat islam.  Lalu ada sekelompok orang membuat organisasi menggunakan azas demokrasi liberalisme.  Kira-kira Sang Kholifah akan membiarkan? Lalu ada berbagai aplikasi yang digunakan orang2 untuk menyebarkan isu-isu dan menggalang kekuatan untuk melakukan revolusi atau bughot terhadap sistem khilafah, apakah kholifah akan membiarkannya? Apakah Kholifah akan membiarkan sistem khilafah runtuh?” Sok tah, kamu yang suka ngaji jawab!

Tole: Gak tahu sih Bah.  Yg jelas mah, ya Kholifah akan melakukan segala cara agar sistem khilafah tetap eksis.

Abah: Nah, kan.  Abah mah yakin, Kholifah akan melakukan pelarangan terhadap organisasi demokrasi-liberalisme, bahkan akan menangkap anggota organisasi itu jika tetap bandel, pun blokir terhadap media2 baik cetak, elektronik, atau sosial yang dapat mengurangi keloyalan masyarakat terhadap sistem khilafah.

Enok: jadi maksudna gimana Bah, enok gak ngerti!

Abah: Pemimpin punya tugas menjaga ideologi negara.  Kalau pemimpin mengeluarkan PERPU atau blokir situs atau media sosial, ya jangan dianggap sebagai dzalim-represif dll.  Itu karena mereka sedang menjalankan tugas sebagai pemimpin.  Kalau gak setuju dg tindakan pemerintah, bisa ajukan ke MAHKAMAH KONSTITUSI, jangan sampai provokasi orang ngajak duma demo demi membela kelompoknya.

Enok: Oh gitu, tuh Kang Tole! Tong demo wae, sono bikin banding ke Mahkamah Kontitusi.

Afternoon 2050

#KEDAI KOPI#

16.15 empat sekawan sudah menenteng kopi mereka.

Wiro : Kalian tahu, isu boikot kopi di kedai kita?

Bagas: Selama mereka ribut di medsos dan tidak nempel tulisan di pintu kedai ini, selama itu kita masih berkopi ria di sini.

Pipit:  Mungkin, Pit egois enggak ya, kalau Pit bilang, anjing mengonggong kafilah berlalu?

Maman : Enggak sih Pit, palingan kamu dicap kafir karena dukung LGBT.

Pipit : Ah, bodo deh, dibilang kafir sama manusia, yang penting Alloh swt gak cap Pit kafir.

Bagas: Pit, lu LGBT gitu?

Pipit : Sebarangan kamu Gas, gue normal!

Bagas : Oh i see, kalau LGBT itu berarti abnormal atau paranormal ya?

Pipit : Terserah apa kata Bagas aja, deh! Yang jelas mah, kucing jantan di rumah gue doyan betina, belum ada cerita kucing gue suka sejenis.

Bagas : Pit, kita lagi ngomongin LGBT bukan kucing, euy!

Wiro : LGBT itu kisahnya setua manusia.  LGBT pertama ya zaman nabi Luth.  Nabi keempat.   Umat samawi sepakat menolak pola hidup ini.  Pola hidup LGBT mendapat tempat di era liberlisme, saat orang benci agama dan memilih jadi atheis atau agnostik.

Maman : kita umat beragama yg terkadang membuat agama jadi tak menarik.  Agama dianggap biang Terorisme dan perang.  Dan seringkali org beragama merasa paling suci paling bener sendiri menapikan aturan komunitas.  Mereka sering kali egois, jika ada sesuatu yang gak sesuai kehendak mereka, mereka melakukan demo, penekan, dan boikot.   Org beragama model gitu ngerusak citra agama mereka sendiri, membuat agama gak menarik.  Jadi wajarlah kalau ada lagu…..imagine no religion……living life in peace…yuhuyyyyyyy…..gitu kata John Lenon.

Pipit : Terus terang, diantara kalian kali Pit yang awam agama.  Nih, Pit tanya ya, tapi jangan pada ketawa, loh!

Bagas : Tar, gue senyum dulu deh…hehehehehe…..sebelum Ipit tanya.

Pipit : Ah loe Gas.  Pertanyaan Pipit, jika pemilik kedai ini seorang gay atau pendukung LGBT, memang haram ya minum kopi di sini?

Wiro : Uhukkkk (tersendak, sambil menahan tawa)

Pipit : Nah, kan…Pit udah bilang jangan diketawakan pertanyaan Pit ini.

Wiro : Gak kok, itu pertanyaan standar Pit.  Cuma gue gak kepikiran seawam itu pikiranmu.

Bagas : Pikiranmu “NDESO” Pit!

Pipit : Lagi tren lagi tuh NDESO, setelah lama Tukul gak bawain acara empat mata.  Ayo, kembali ke lap…..top!

Wiro : Makanan dan minuman yang diharamkan udah jelas. Sebagaimana kita tahu bersama.  Selama tidak mengandung zat yang diharamkan, makanan gak haram.   Dan kita dilarang menharamkan apa yang Alloh swt halalkan.  Adapun boikot, itu masalah politik.  Pernyataan boikot haruslah dikumandangkan oleh pemimpin negara atau presiden atau kholifah atau raja atau sultan atau apapun sebutannya.  Jika ada sekelompok orang atau ormas mengumandangkan boikot, maka itu hanya mengikat anggota mereka.  Kita yang bukan anggota mereka ngapain ikut-ikutan.

Maman : Ada sih Pit, yang menganggap uang yang udah kita bayarkan buat beli kopi ini, akan jadi memperbesar kampanye LGBT.  Tapi itu bukan urusan kita, urusan dia yg menggunakan uang yang dia miliki.

Bagas : Jadi gimana Pit? Mau pindah kedai? Atau kita bikin kedai sendiri?

Pipit : Eh, kalian tahu gak, kenapa Pit suka kopi? Dulu nih ya waktu Pit kecil, kakek tiap minggu pagi ajak Pipit ke kedai kopi, di sana ada kue balok dan kopi.  Kedainya rame bapak-bapak, di situ ada koran, biasanya mereka ngobrol isu kekinian yang ada pada koran.

Maman : Mirip, kita dong! Kalian ingat pertama kali kita ketemu?

Bagas: Ingat dong, karena kita lembur harus masuk kerja di saat org PEMILU.  Dan kedai penuh dengan orang antre gratisan kopi dengan menunjukkan jari tercelup tinta.  Meja kosong jadi sedikit, akhirnya kita satu meja.  Ternyata kita satu almamater, satu angkatan pula.

Wiro : Hahaaha …. biasanya sore gini gue ngabisin waktu di sudut sana tuh! Buka gadget dan medsos.  Sejak peristiwa itu gue lebih suka ngobrol begini ternyata.

Pipit :  Tapi Pit waktu itu dapat gratisan loh, paginya Pit nyoblos dulu baru ke kantor.  Pit juga biasanya di sut sana tuh, sambil buka laptop tulas tulis apa aja.

Maman : Eh balik lagi ke Kedai Kopi, apa gak sebaiknya kita rintis bisnis kedai kopi ya?

Adzan magrib berkumandang, saatnya mereka kembali pulang….

Pembicaraan kita tobe continue ya!

Cerita Moral #01 #4HIKARIGAKKO

  • Tujuan umum: Menumbuhkan sikap empati pada teman
  • Tujuan khusus: Menumbuhkan sikap senyum, sapa, dan salam
  • Waktu 1 x 35 menit

Hari ini mulai masuk sekolah.  Semua anak bergembira ria.  Banyak anak yang pergi pagi, mereka ingin lekas bertemu teman-temannya.  “Saya sudah rindu bertemu teman-teman, hampir sebulan kita tidak bertemu” kata Nisa.  Nisa ingin mengetahui wajah teman-temannya yang lama tidak ketemu.  Apakah teman-temannya memotong rambut dengan gaya baru? Setinggi apa teman-temannya, setelah tidak bertemu satu bulan lamanya?

 Guru memotong cerita sampai di sini.  Tanyakan pada murid-murid.  Apa yang mereka rindukan saat lama tidak bertemu teman-temannya? Beri kesempatan tiga orang murid untuk menceritakannya secara singkat.

Ada satu orang yang Nisa rindukan.  Namanya Tata.  Ya, Tata adalah teman baik Nisa.  Nisa tidak sabar ingin mendengar kabar liburan Tata.  Tidak sabar melihat senyum manis Tata.  Tidak sabar ingin melihat, potongan rambut Tata yang baru di kelas yang baru. “Pokoknya, aku harus ketemu Tata pertama kali, aku harus datang ke sekolah lebih pagi, agar aku bisa menyambut Tata, akulah yang pertama kali akan mengucapkan ‘Selamat pagi’ untuk Tata.

Guru memotong cerita sampai di sini.  Mintalah murid untuk menuliskan di buku catatan moral mereka, siapa nama teman yang mereka rindukan? Mengapa mereka merindukan teman tersebut?

Benar saja, Tata belum sampai ke sekolah.  Nisa adalah murid pertama yang sampai di sekolah.  Bapak ibu guru telah berdiri di gerbang sekolah menyambut Nisa.  Murid pertama yang datang. “Nisa, selamat pagi! Kamu murid pertama yang datang!”  sapa Pak Dewa. Nisa menunggu teman-temannya di kelas.  Satu persatu temannya datang. “Nisa, kamu akan sebangku dengan siapa di hari pertama sekolah ini?” tanya Ria.  “Aku ingin sebangku dengan Tata” Jawab Nisa mantap.  Lima menit lagi pembelajaran akan dimulai.  Semua bangku telah telah terisi, tinggal bangku untuk Tata.  Tata pun masuk tepat jam 7.30.  Bu guru sudah akan memulai pembelajaran. Tata masuk ke kelas tanpa mengucapkan salam, tanpa senyum.  Dia melihat bangku tersisa tinggal di sebelah Nisa.  Nisa sudah senyum melambaikan tangannya.  Tata tak membalas senyum Nisa.  Dia tertunduk dan langsung duduk.  Nisa menjulurkan tangannya hendak bersalaman sambil mengatakan, “Selamat pagi Tata, bagaimana kabarmu?”.  Tata tidak membalas uluran tangan Nisa, juga sapaan Nisa.  Dia langsung mengeluarkan alat tulisnya di atas meja.  Pelajaran di mulai, sepanjang pelajaran Tata tidak mau berbicara, dia hanya memperhatikan ibu guru saja.  Nisa tak dilirik sama sekali oleh Tata.  Nisa berkata dalam hati, “Padahal aku dan Tata teman baik di kelas sebelumnya, tapi hari ini Tata sombong sekali. Dia tidak tersenyum, menyapa dan memberi salam bahkan dia juga tidak membalas senyum, sapa, dan salamku”

Guru memotong cerita sampai di sini.  Tanyakan pada murid-murid.  Bagaimana sikap Nisa? Bagaimana sikap Tata? Bagaimana perasaanmu kalau kamu sebagai Nisa? Bagaimana perasaanmu kalau kamu sebagai Tata? Mintalah mereka menduga, “Apa kira-kira yang menyebabkan Tata berubah sikapnya?”

Waktunya istirahat…. Nisa sangat senang.  Sekarang aku bisa bertanya sama Tata, “Mengapa ia bersikap seperti itu pada Nisa.  Mengapa ia masuk kelas pun tak senyum, sapa, dan salam.  Padahal senyum, sapa, salam itu harus diucapkan setiap kali kita bertemu dengan siapapun atau masuk ke ruangan yang penuh orang?”  Eh….Tata dimana ya? Tanya Nisa pada teman-temannya.  Semua orang yang ditanya menggelengkan kepala.  Nisa sudah geram pada Tata.  “Dasar Si Tata, udah tahu salah, sekarang kabur tak mau ketemu saya!” dalam hati Nisa marah sekali.  Sekeliling sekolah telah dicari, tapi Tata belum terlihat.  Tiba-tiba pandangan Nisa tertuju pada kantor kepala sekolah.  Di sana berdiri Tata dengan seseorang sedang mengobrol dengan Ibu Kepala Sekolah….”Itu siapanya Tata ya? Bukan ayahnya, tapi siapanya ya?”  Nisa menghampiri kantor kepala sekolah.  Nisa mendekat, tapi tidak berani dekat sekali.  Nisa bisa mendengar percakapan Ibu Kepala Sekolah, Tata, dan Orang itu.

Kepala Sekolah: “Tata, ibu turut sedih dengan apa yang terjadi pada ibu-bapakmu, tapi ibu yakin kamu akan menjadi anak yang kuat.  Tuhan pasti sayang sama ibu-bapakmu, sehingga mereka segera dipanggil ke surga.  Kamu harus tetap semangat dan ceria.  Ibu senang kalau kamu tersenyum, coba ibu mau lihat kamu tersenyum pagi ini!”

Seseorang: Terima kasih Bu, Tata senang bersekolah di sini, Namun saya sebagai Pamannya tak bisa terus mendampingi Tata di sini, terpaksa Tata pindah ikut kami.  Terima kasih sudah mengizinkan Tata masuk kelasnya untuk hari ini….

Nisa menguping semua percakapan itu. Ibu-bapak Tata sudah di surga, berarti…..  Dan itu pamannya? Tata ikut pamannya, berarti….

“Tata!” Seru Nisa.  “Tata aku cari kemana-mana ternyata di sini, ayo! Aku bawa kue keju kita makan bersama!” Nisa berusaha bersikap biasa. Tata tentu saja terkejut, dia seperti akan berlari menjauhi Nisa.  Namun, pamannya mengengam tangan Tata sambil jongkok dia berkata pada Tata, “Temui temanmu, kamu harus berpamitan pada mereka.  Beri kesan yang baik pada temanmu”.   Tata agak ragu, tapi akhirnya dia berlari.  “Nisa!!!!” Tata memeluk Nisa.  “Nisa maafkan aku tadi pagi.  Aku ingin kamu membenci aku, jadi aku bisa cepat pergi dari sekolah ini.  Nisa aku harus pindah sekolah.  Ibu dan bapak aku meninggal karena kecelakaan lalu lintas liburan kemarin.  Aku harus tinggal dengan pamanku sekarang di Kota Bandung.  Maafkan aku Nisa!!!

Guru memotong cerita.  Tanyakan pada para murid.  Bagaimana Nisa dan Bagaimana Tata? Tanyakan apa yang seharusnya Nisa lakukan? Apa yang seharunya Tata lakukan?

Bel istirahat telah selesai.  Nisa dan Tata masuk ke kelas.  Mereka terkejut, guru kelas dan teman-teman lainnya menyiapkan origami bunga. Ibu guru berkata, “Tata, kami sedih mendengar apa yang terjadi pada kedua orang tuamu.  Kami juga sedih berpisah denganmu. Namun walaupun kita berpisah ruang dan tempat, kita masih bisa berkirim kabar denganmu”  Tata dipeluk oleh teman-temannya.  Hari ini mereka melakukan pesta perpisahan untuk Tata.

Guru meminta murid untuk menceritakan lewat tulisan, apa pesan moral dari cerita yang telah dibacakan guru.

“Cerita ini dibuat untuk pembelajaran moral di Sekolah Hikari

Afternoon 2050

#Selingkuh#

Selasa, 16.05.  starbuck masih jadi tempat setia buat mereka kumpul. Dengan muka cemberut Pipit duduk, dengan mata menerawang.  

“Tumben, Pit.  Loe duluan datang!” Sapa Maman.

“Deuh, itu muka ditekuk begitu, putus cinta loe Pit?” Canda Wiro

“Putus cinta, sama Loe kali! Pacar juga gak punya gue!” Jawab Pipit.

“Masalah Loe, apa sih Pit? Muka sampai nekuk gitu? Tanya Bagas.

“Hari ini, Pit bener-bener rese.  Kerjaan gue semua out of deadline.  Setengah hari Pit gak kerja apa2.  Hahhh…geram Pipit!” 

“Mau cerita gak? Klu Loe gak mau cerita, gue punya topik bahasan yang lagi in nih, “kedai kopi kita!” Bujuk Wiro.

—-

Gini ya.  Jam istirahat makan, Pit cari makan dong keluar.  Pulang makan, Pit belum juga duduk orang-orang di kantor udah nyapa. “Pit, Loe dicari HRD!” “Pit, satpam bulak-balik cari Loe tuh!” “Pit, loe disuruh ke ruang big bos tuh!”  Dalam hati, Pipit bertanya, ‘Ini gue kayak seleb aja, dicari semua orang’.  Big Bos? Ngapain juga manggil kacung seperti gue, yang bisanya dipanggil kalau kerjaan gue gak bener kan kepala divisi.  Manggil gue kejauhan banget.  Dengan penuh heran, Pit melangkah ke ruang Big Bos.  Belum juga ngetuk pintu, kepala HRD udah bukain pintu.  Duh, banyak orang di ruang Big Bos ada apa? Pintu tertutup rapat, seorang ibu berseru, ‘ini namanya Pipit Andriyani, tukang rebut laki orang’.  Hampir aja muka Pit kena gampar, kalau gak ditangkis oleh Kepala HRD, sambil berseru ‘Sabar, bu!’  Mana bisa sabar saya Pak, lihat sama Bapak bagaimana isi WA dia dan suami saya.  Pit bingung, ya bela diri dong. “WA apaan bu? Suami ibu yang mana?” .  “Tak ada maling yg ngaku.  Kamu selingkuh sama suami saya! Suami saya dia! Sambil nunjuk Big Bos.  Dalam hati Pit, “Kenal juga kagaak sama si big bos, gimana gue mau selingkuh.  “Maaf bu, baru kali ini saya ketemu muka langsung sama Bapak Direktur, saya pun tak pernah komunikasi dengan Bapak apalagi WA, bahkan nomor hp bapak pun saya tak punya” “Masih gak ngaku juga, nih kamu lihat WA kamu sama suami saya, lihat profil kamu, masih gak mau ngaku?”  Reflek Pit ambil HP dari tangan si ibu.  Gue sendiri jijik baca isi WA si Bapak dan orang yg ngaku jadi Pit.  Pipit terkejut foto profil di WA itu memang foto gue.  Tapi nomornya bukan nomor gue.  “Ini foto saya, tapi no telepon bukan punya saya, dan isi WA saya gak pernah nulis kayak gitu”. Pedes banget muka si ibu, “Nah, kan gak ngaku!” .  Bayangin posisi gue saat itu? Gue jadi tertuduh! Gue kasih tuh HP Ke kepala HRD. Jijik pegangnya juga.  Tiba-tiba Kepala Divisi gue ketuk pintu big bos.  Kepala HRD berbicara dengan berbisik-bisik pada Kepala Divisi Pit. Kepala HRD memperlihatkan isi WA.  Kepala Divisi lihat Pipit beberapa kali, dengan mata memelas Pipit bilang, “Please, help me Pak!” .   Kepala Divisi gue, menghela napas panjang…..”Saya, yakin Pipit di sini bukan Pipit anak buah saya.  Pipit tak mungkin secara bersamaan ada di dua tempat.  Misalnya di WA ini kemarin pukul 14.00-16.00 ada janjian makan di sebuah resto.  Padahal kemarin Pipit bersama saya, kami meeting untuk finalisasi proyek satu hati buat bunda.  Kepala divisi menjelaskan beberapa tanggal di WA itu yg tak mungkin gue lakukan.  Gue lirik si Big Bos, dia terdiam tak bergerak di kursi.  Pengen gue tampar mulutnya supaya dia ngomong jujur sama bininya, cuma gue takut  nanti gue yg dipecat.  “Saya bisa memberikan bukti-bukti otentik, bahwa ditanggal-tanggal yg saya sebutkan tadi posisi Pipit ada bersama kami, mengerjakan pekerjaan kantor ini”.  Alhamdulillah, klu gak ada halangan syara sih sudah Pipit peluk tuh kepala divisi. Pit dan Kepala Divisi diminta keluar oleh kepala HRD.   “Pit, Loe balik aja, kerjaan Loe biar besok kita garap rame-rame. Gue yakin, Loe perempuan baik!”   Itu ceritanya kenapa Pit, bisa datang lebih awal di sini.

—–

“Yah, Pit! Cerita Loe gak rame, coba kalau ditambahin bumbu jambak-jambakan gitu!” Seloroh Bagas.

“Gue sih penasaran “ending” nya sih Pit.  Kenapa Loe gak nguping, kali aja Pipit ASPAL di WA itu tokoh imajiner ciptaan si Big Bos untuk mengetes cinta isterinya” canda Maman.

“Eh, Pit, ternyata Loe itu oke dan terkenal juga, sampai-sampai ada edisi ASPAL-nya!”

“Hahaha….dasar Loe pada ya, komentar Loe pada itu lebih parah dari penderitaan Pit hari ini!”

“Udah, yang penting Loe udah adem sekarang.  Yuk, magriban dulu, biar lebih adem.  Pasrahkan aja sama Alloh, GUSTI ALLOH MBOTEN SARE, Pit!” 

Kopraja 19 mengantar mereka sampai di Stasiun Sudirman.  

“Pit, naik gerbong campur bareng kita?” tawar Wiro.  

“Gue, biasa aja sama Ndari!”

“Kali aja, Pit nanti Loe nangis, bisa bersandar di bahu gue.  Bahu gue lebih kuat dari bahu Ndari loh!” Canda Bagas.

“Bray! Thank you, gue udah gak apa2 kok!”

“Besok, kalau masalah Loe masih berlanjut, Kita semua ke kantor Loe.  Kita jelasin, Loe gak mungkin selingkuh sama Om-Om apalagi Bapak-bapak.  Kita jelasin ke mereka, kalau selera Loe itu artis Korea.  Kita aja yg ganteng gini gak dipilih Loe, apalagi Om2 dan Bapak2!”

“Hahaha, makin kacau dah kalau Loe, pada datang.  Tapi gue pasti telepon Loe pada Bray, kalau gue butuh tukang Pukul!”

“Nah, cocok! Siap terima telepon.  Hati-hati ya, Pit! Ketemu besok!”

Langkah kaki Pipit dan Ndari menuju ke peron gerbong wanita.  Gerbong TanahAbang – Bogor memisahkan Pipit dari tiga kawanannya. Hari ini, Pipit sadar “Masalah besar jadi ringan, jika dibagi dan dihibur”

Afternoon 2050

 

Kisah empat sekawan lulusan IPB, mereka hidup dalam suasana cinta dan politik, memperbincangkannya ditemani secangkir kopi….

#UNTUK APA KULIAH?#

Senin, 16.15 empat sekawan ini kongkow di starbuck.  Hanya perlu waktu 15 menit dari kantor mereka menuju kafe ini.  Sampai magrib mereka kongkow, ngobrol ngalor ngidul sebelum mereka pulang ke Bogor.  Menunggu sampai kereta cukup ruang menampung badan mereka.  Toh, mereka tinggal tidur ketika sudah sampai di kos-an atau rumah mereka di Bogor.
“Loe pada udah pada lihat video yg lagi viral di dunia maya, tentang kelakuan adik2 kita melakukan baiat perjuangan menegakkan khilafah islamiyah?” Maman membuka pembicaraan sore itu.

“Gue pikir, itu wajarlah, darah anak muda.  Kita waktu di IPB juga pernah jadi bagiannya kan? Lagian itu mah berita basi taun 2016 kejadiannya, baru booming sekarang, mungkin karena pas situasinya” timpal Wiro.

“Bagi, Ipit sih tak wajar, masuk IPB buat belajar pertanian, membangun bangsa melalui pertanian, kok malah mau dirikan sistem pemerintahan baru.  Seharusnya yg seperti itu dibahas di FISIP bukan di institut pertanian bogor”

“Tenang, Pit, besok IPB buka jurusan baru ILMU POLITIK PERTANIAN.  Alumnus IPB kan udah banyak yang jadi anggota dewan, bahkan ada yang jadi Kepala Daerah dari jalur Parpol”  celetuk Bagus.

“Ah, loe Gus! Tanpa fakultas resmi, singkatan IPB udah banyak, Institut Politik Bogor karena alumninya banyak yang jadi politikus, Institut Pendidikan Bogor karena alumninya banyak yang jadi guru, Institut Perbankan Bogor karena alumninya banyak yang jadi bankir, Institut Penulisan Bogor karena alumni banyak yang jadi wartawan, akhirnya bukan sekedar Institut Pertanian Bogor, tapi Institut Pleksible Banget”

“Balik lagi ke diskusi kita nih, ini video viral itu, juga ditonton oleh para veteran 45.  Komentar mereka bikin gue sedih” Maman mulai memfokuskan pembicaraan.

“Ya, gimana lagi.  Menurut gue sih, zaman itu berubah.  Kali aja suatu saat memang bisa diterima tuh ide khilafah itu”

“Kalau Ipit sih masih agak ngeri terima konsekuensi hidup dalam tatanan kekhilafahan yang dicitakan oleh mereka.  Ingat, kita di IPB dekat dengan aktifitas mereka.  Loe, masih pada ingat nanti akan ada pemisahan yang jelas.  Lelaki dan wanita gak campur.  Baju kita para wanita pakai jilbab yg nutup seluruh badan.  Gue, sebagai perempuan akan dilarang kerja, kerja gue sebagai anak perempuan di rumah.  Pekerjaan di kantoran pasti prioritas buat lekaki.  Tak ada lagi kompetensi berdasarkan kemampuan, tapi utama itu berdasarkan gender.  Kebayang gak sih? Gue gak bisa kongkow bareng Loe pada!”

“Gue sih simple aja, jika ulama NU udah bilang NKRI HARGA MATI, gue ikut aja.  Terus terang gue mah tau diri miskin ilmu agama.  Mendingan Wiro tuh sempet ngaji ama mereka, gue sempet juga liqo bentaran doang setahunan, udah gitu gue kabur.   Gue tuh memang gak suka pengajian kalau udah nyingung2 THOGUT dan SISTEM KAFIR.  Bagi gue sih, NKRI dan pancasila juga buah ijtihad ulama NU, MUHAMDIYAH, dan Masyumi, udah terima aja, taat sama ulama Indonesia.  Gue gak mau repot!”

“Masalahnya itu, ini nama almamater kita! IPB.  Jagat maya sa-nasional memperbincangkannya.  Kampus kita dianggap sebagai sarang pemikiran radikal” Maman kembali membuka diskusi.

“Man, gue pikir itu memag fakta, ada benarnya.  Yg gue tahu sih.  Memang dari Aktifis rohis IPB ide khilafah muncul dan disebarkan ke seluruh kampus universitas negeri di Indonesia melalui jaringan Lembaga Dakwah Kampus.  Itu memang fakta.  Mau diapakan lagi? Dihapus? Ya gak bisa!” Timpal Wiro.

“Lagian menurut Ipit, kita alumni hanya bisa mengamati.  Gak bisa menindak, yg bisa melakukan tindakan ya yg pegang kekuasaan di kampus, Man.  Kalau merasa itu mencemarkan IPB, kampus pasti urus”

“Lagian kayak beginian ini bukan problem IPB semata, tapi problem PTN.  Dari dulu mahasiswa di Indonesia jadi sasaran penyebaran ide-ide entah itu gerakan islam, komunis sosialis, kapitalis, dan ide lainnya. Mahasiswa selalu jadi target untuk membawa bendera revolusi di Indonesia ini.   Pertanyaannya kita kuliah itu mau apa? Jadi agen pelanjut pembangunan yg udah berjalan atau agen revolusi untuk memulai kembali pembangunan dari nol?”

“Gue, suka kalimat loe yang terakhir, “KULIAH UNTUK APA SEBENARNYA? Mau jadi agen pembangunan atau mau jadi agen revolusi? Mau membangun Indonesia Jaya di tengah percaturan dunia atau mau mengubah tatanan dunia dg revolusi jilid berikutnya?”

“Closing, tuh ya Man! Udah adzan, yuk Magriban!”

Mereka bergegas ke mushola basment mall, menunaikan sholat magrib.   Selepas itu, kopraja 19 membawa mereka ke stasiun Sudirman.

Pit, tuh Ndari udah nunggu Loe!

“oh, ya….jumpa besok ya, gue naek gerbong cewe! Dah!”

“See U, Pit!”

Kereta Tanah Abang-Bogor membawa mereka melewati hari itu…..

Serial Keluarga Kemiri: Pool-itik

Rangkuman serial keluarga kemiri dalam facebook, saya coba rangkum dalam beberapa edisi di blog ini, semoga menikmati, senyam-senyum sendiri aja. Ketiga saya tampilkan topik pikalieureun yaitu Kolam Itik alias POOLITIK.

#17# Lieur ku AADC

Enok: politik teh lieur ya Bah?

Abah: politik adalah seni meraih kekuasaan. 

Enak: pantesan lieur Bah. Nu ngarana seni mah memang sok ngalieurkeun Emak. Emak pernah ninggali pameran lukisan. Lukisanna kawas benang kusut. Harga eta lukisan 150 juta. Emak ge pernah denger nyanyian gogoakan teu pararuguh, teriak2 aja gak nyanyi, sampe telinga Emak budeg. Tah nu kararitu “seni” ceunah Bah! Lieur kan? Seni memang ngalieurkeun!

Tole: PECAHKAN SAJA SEMUA, BIAR GADUH! BIAR RAME! 

Enok: kunaon Kang Tole jadi baca puisi di AADC 1 Dian Sastro!

Tole: Biarkan semuanya gaduh! Gaduh duit!

*gaduh = punya (bhs sunda)

————
#15# Revolusi

Enok: Bah, ari revolusi teh naon?

Abah: Revolusi teh perubahan yang mendadak tak perlu waktu lama. Revolusi kebalikan dari evolusi. Kalau di Biologi mah perubahan mendadak biasanya disebabkan oleh mutasi. 

Tole: Itu tinjauan biologi Bah, kalau tinjauan sosial?

Abah: Pergerakan yang ingin menggantikan sebuah ideologi yang dianut suatu negara dengan ideologi lain atau menginginkan pergantian SISTEM pemerintahan. Misalnya revolusi perancis 1789–1799, menggantikan sistem monarki menjadi kapitalis-liberalis-demokratis. Revolusi Bolshevik Okt 1917 menggantikan sistem pemerintahan kekaisaran di Uni Soviet menjadi Sosialis-Demokrasi. 

Tole: Oh, itu toh maksud Revolusi. Itu sebabnya namanya REFORMASI, karena sistem masih tetap demokrasi-pancasila. Cuma pemilihan presiden aja yang diubah.

Enok: Itu loh Kang Tole, waktu Demo tempo lalu kan ada juga teriakan “REVOLUSI….REVOLUSI…REVOLUSI”

Emak: Tah, Emak setuju memang kita perlu REVOLUSI…penting itu, biar akhlak kita jadi bagus. Tuh lihat, sekarang mah orang gak beban buang sampah, corat-coret dan rusak fasilitas umum, bahkan mengambil hak publik pun tanpa dosa. Perlu revolusi tuh!

Enok: Eta mah REVOLUSI MENTAL atuh Mak!

———–

Enok: Eta mah REVOLUSI MENTAL atuh Mak!

KELUARGA KEMIRI
#15# Pake Ka I

Tole: Katanya PeKaIi bangkit lagi Bah?

Abah: Sebagai sebuah partai? Tidak mungkin bisa bangkit dan lolos verifikasi dari kementrian hukum. Semua partai dan ormas di Indonesia seharusnya berazas pancasila.

Tole: Ah, abah. Bukan PKI nya, tapi apanya itu ya? Misalnya nih bah lambang PKI palu arit ada di uang kita, produksi kaos lambang PKI, kayak gitu deh.

Enok: Memangnya adanya simbol PKI menandakan hidup kembalinya PKI Bah?

Abah: Agak susah PKI bangkit di Indonesia, trauma panjang pada pengemban ide komunis, mematikan nafsu mereka untuk membangkitkannya kembali. Saat ini banyak negara sosialis komunis pun sudah berubah menjadi kapitalis, seperti China dan Uni Soviet. Yang terpenting mah, kelakuan kita sekarang jangan seperti orang PKI, “keukeuh peuteukeuh dan egois ingin menang sendiri, ngajak2 massa buat melakukan revolusi”. 

Emak: Dari dapur, emak denger pada bicaraiin “pake kai” naon nu “pake kai” teh?

Enok: pe ka i Mak, lain pake kai!

kai= kayu dalam bahasa sunda

———–

#11#Status

Abah: Ngapain si Emak cemberut gitu?

Emak: Ini loh Bah, temen2 emak statusnya sekarang mah politik, dia update status kritik pemerintah tentang jual-jual pulau sama orang asing. Emak bingung!

Tole: Memang juga kebijakan pemerintah sekarang mah parah, dijualin semuanya sama Asing dan Aseng!

Abah: Le dan Emak! Kita pernah wisata ke KAWASAN EKONOMI KHUSUS (KEK) TANJUNG LESUNG KAN? Siapa yg kembangin itu kawasan? PEMDA kah?

Tole: Bukan Bah, kayaknya swasta!

Abah: Nah, kira2 menurut kalian bagus gak itu wilayah?

Enok: Bagus banget Bah! Wisatanya ditata rapih!

Abah: Itulah, kalian lihat wilayah ujung selat sunda yg terpencil ketika dipercayakan pada investor swasta yg punya modal mereka akan bangun daerah itu dg modal mereka. Kalian lihat daerah itu sekarang? Yg dibangun adalah KEK, pertama swasta membangun kawasan wisata, lalu dibangun SMK Pariwisata untuk menyiapkan tenaga kerja disitu. Di maket kalian lihat pengembangan perumahan sampai nanti ada universitas yg arahnya pada ke jurusan biologi & biodiversity, rumah sakit pun akan dibangunkan. KEK memang dikembangkan oleh swasta. Tapi kalian lihat jalan raya sepanjang KEK pun tumbuh, warung makan…penginapan sederhana yg dibangun masyarakat bagi backpackers yg gak mampu nginap di Tanjung Lesung Cottage berhaga lebih dari 7 juta per malam, tapi tetap mereka bisa menikmati indahnya Tanjung Lesung. Lalu..nelayan. Sekarang para nelayan bisa jual ikan untuk memenuhi kebutuhan KEK, tak perlu mereka jual ke luar KEK. Sumber2 ekonomi tumbuh di daerah situ mengeliatkan ekonomi rakyat kecil di wilayah itu. Hebat kan? Nah! Kalian juga tahu RAJA AMPAT? destinasi prestisius itu pun dikembangkan oleh swasta bahkan Asing. Insyaalloh suatu saat kalau Abah ada rejeki, kita piknik ke Raja Ampat. Sekarang pemerintah ingin menghidupkan wilayah di nusantara seperti Tanjung Lesung dan Raja Ampat. Jangan sampai pulau2 itu nasibnya kayak Sipadan dan Ligitan, jatuh pada negara orang karena pemerintah kita dianggap abai membiarkan pulau itu. Dana pemerintah terbatas buat ngembangin pulau2 yg terpencil, terluar, terjauh…maka diundanglah sektor swasta. Bukan berarti dijual itu. Abah mah jadi ingat hidupnya kegiatan ekonomi di wilayah terpencil dan terjauh itu karena efek menjalan hadits nabi saw ttg “menghidupkan tanah mati”. 

Tole: Tuh…Mak, makanya jadi emak2 jangan suka nyiyir sama pemerintah. Naik motor aja emak2 mah udah bahaya, apalagi masuk ke jurang politik! 

Enok: Tah, Mas Tole juga otaknya kudu banyak piknik biar gak butek!

———-

#17# Jenggotan

Kamis sore, di rumah hanya ada Abah dan Enok. Emak sedang pengajian dan Tole rapat BEM di kampusnya.

Abah; cari apaan Nok di internet?

Enok: googling aksi lingkungan, tapi dikit dapatnya, banyak aksi lainnya. Bah, kenapa ya org2 sekarang mudah sekali KEBAKARAN JENGOT, dikit2 marah, aksi, demo deh….

Abah; mudah KEBAKARAN JENGOT, karena mereka punya jengot, coba kalau cukur jengot, kan gak ada lagi istilah kebakaran jengot,

Enok: @$#%!???!!!?

#13#hoax

Tole: Busyet nih banyak banget pekerja cina ke indonesia. Kasian buruh Indonesia. Ini hoax bukan sih Bah?

Enok: Bah, pegang kepala Tole, demam gak? Soalnya tumben dia gak jugment!

Abah: Ngenye abang mu melulu, Nok! Gini loh Le! Bagi Abah mah, hoax atau bukan, bukan itu masalahnya, juga bukan masalah China atau Walanda atau Arab. Pasar bebas memang di depan mata kita semua. Kelak kalian akan bersaing dg berbagai bangsa untuk memperebutkan pekerjaan di negaramu sendiri, juga buat buka usaha di negaramu sendiri. Era globalisasi meniadakan sekat kesamaan karena suku, bangsa, dan agama….pada zaman itu yg diperlukan adalah kemampuan komunikasi dan kolaborasi, bekerja cepat dan efektif, kreativitas dan inovasi, kritis dan problem solving. Jika kemampuan ini tidak kita miliki maka kita gak bisa bersaing. Oleh sebab itu hard skill dan soft skill kalian harus terus diasah. Sibukkan diri kalian dg prestasi! Manfaatkan waktu dg membaca dan menonton asupan bergizi, yg menambah energi bagi beramal sholeh.

Enok: Tuh, Mas Tole. Reugeupkeun tah! Tong baca wae hoax!

Emak: Ahok lagi Ahok lagi, bosen! Yeuh emak bikin holak! 

Tole: Kita lagi bahas hoax Mak! Bukan Ahok!

———

#08#Malaikat

Emak: Duh lieur emak mah, dua orang ini kayaknya diharuskan jadi malaikat, sedikit2 dilaporkan. Naha jadi kieu?

Tole: ya Emak, keduanya itu pan tokoh. Presiden Jakarta dan Presiden NKRI bersyariah, harus jaga diri dong. Jaga ngomongan tong salah!

Enok: Ah si kang Tole mah lebay meuni jadi presiden gitu. Ari enok mah lieur ku jamaah baper, lain mareuman seuneu nu keur berkobar, malah ikutan niup eta api jadi we beuki gede. 

Abah: Nah, sebagai rakyat kita nu kudu jadi rakyat produktif. Abah teh PNS lamun istilahna keren mah ‘civil servant’ tugasna melayani rakyat, nah Abah dosen ukur jago teori ukur bisa ngajak massa facebookers dan twitter berpikir. Berpikir agar jadi warga konstruktif dan produktif Jika abah share berita HOAX atau berita provokasi, maka abah bukan lg pelayan massa walaupun abah tetap PNS – Pro Negative Sharing. 

Enok: Si Abah mah! Aya-aya wae PNS mah ya PNS wae kerenna CIVIL SERVANT OF GOVERMENT, PEGAWAI NEGERI SIPIL.

Serial Keluarga Kemiri: Serba-serbu Emak

 

Rangkuman serial keluarga kemiri dalam facebook, saya coba rangkum dalam beberapa edisi di blog ini, semoga menikmati, senyam-senyum sendiri aja. Kedua saya tampilkan topik yang HOT bagi emak-emak, yaitu POLIGAMI dan topik lainnya.

#28# Poligami

Enok: Mak, hadir di pengajian ustadz Aa. Apanan dia Poligami. Harusnya emak solider boikot pengajiannya.

Emak: Aih Si Enok, meuni gagabah. Poligami mah hukumna mubah atau boleh atau halal. Jangan mengharamkan yg Alloh udah Halalkan.

Abah: Wah, jadi poligami teh boleh ya Emak.

Emak: Boleh, bah! Asal tong suami Emak alias Abah nu poligami atawa Anak Emak alias si Tole. Ari nu lain mah,  Silahkan aja.

Abah: Si Emak mah isteri binangkit, lah!

Tole: Hahaha kena getahnya Aku!

—————
#27# Pangeran Arab

Enok: Mak, gak upload foto pangeran arab. Itu temen2 Emak pada upload di status facebooknya?

Emak: Bagi emak mah nu paling cakep dan hebat mah si Abah. Abah yg telah merelakan dirinya memimpin dan menanggung hidup emak, nemenin emak selama hidup. Tah, lalaki jiga kitu yg cakep dan hebat mah.

Abah: i love you, Emak!!!

Tole: suittt suittt!

————-

#25# Kepompong

Hari minggu Enok dan Tole tak di rumah. Di rumah hanya ada Abah dan Emak.

Emak: Nih, Bah baca kewajiban abah teh nyuci baju, potong kuku emak, sama nyediakan pembantu bagi emak. Selain nafkah Bah! Hadits nih Bah!

Abah: Terus emak kewajibannya apa di rumah?

Emak: ehhh sebentar emak baca beres artikelnya. Kewajiban emak hadonah, ngurus anak2 aja Bah!

Abah: Lah si enok dan si Tole udah bukan masa hadonah, jadi emak ngapain udah itu?

Emak: Berarti emak bisa jalan-jalan shoping shoping, minta uangnya dong Bah!

Abah: Emak!!! cing atuh. Regepkeun ya! Kehidupan suami isteri dlm rumah tangga itu kayak dua org sahabat bukan kayak mitra kerja ada MOU yg jelas, bukan juga kayak majikan sama pegawai pake ada jobdesk yg kaku. Kayak sahabat Mak!

Emak: kayak kepompong dong bah?

Abah: Maksudnya?

Emak: persahabatan kayak kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu….nananana dudududu….

Abah: ヘヘヘ

Serial keluarga kemiri: Serba-serbi PILKADA DKI

Rangkuman serial keluarga kemiri dalam facebook, saya coba rangkum dalam beberapa edisi di blog ini, semoga menikmati, senyam-senyum sendiri aja. Pertama saya tampilkan topik yang HOT yaitu SERBA-SERBI PILKADA DKI yang Baru lalu.

#Kiriman bunga#

Enok: hihihihi

Abah: Angger kamu mah, Nok! Seuserian bari nyoo Hape.

Enok: ieu Bah tinggali, orang gagal move on pada kirim kembang. Pikaserieun kata2na, kreatif orang mah.

Tole: Ah, eta mah sok hayang ka puji wae. Teknik politik palsu, memecah belah persatuan dan kesatuan. Haram perbuatan setan, mubajir.

Enok: Kang Tole, sinis banget dah. Mana ada ngirim bunga memecah persatuan, bunga mah merekatkan tali kasih. Ya, bah?

Abah: Nok, ari perkara bunga mah tergantung suasana hati dan pikiran Nok. Kalau hati lagi bagus pikiran jernih maka lihat bunga ya hati ikut senang berbunga2. Mun hatena keur rarungsing pikiran bete, ninggali bunga teh asa ngalelewe bisa di duruk tah kembang. Kadang2 mah ninggali bunga tergantung kondisi saku.

Emak: Maksud Abah? Bunga bisa tidak diselip di baju tergantung model saku baju?

Abah: Bukan, mak. Maksudna mun saku keur boke, bunga di tabungan oge dikuras habis.

Emak: ??!!???!!??!

———————————–

#Tanda-tanda keur M#

Enok: Bah! Eta stasiun nu dicarekan. Kieu caritana, aya calon pemimpin marah sama wartawan, anda media tertua, harusnya anda …bla bla gitu deh Bah! Baru calon loh Bah, blm beneran jadi pemimpin.

Abah: Tong mikiran kalakuan batur. Enok ge ari keur M mah sok sensi.

Tole: Berarti calon pemimpin itu lagi M tuh, Nok!

Enok: Lalaki kok M sih?

Abah: Geus tong Ribut! Tuh Raisa nyanyi di samping Jokowi. Ademmmm lihatnya!

Emak: Abahhhhh! Lihat emak aja, tong molotan Raisa!

Abah: Abah mah molotan Tipi Mak!

Emak: Abah!!!! arrrggghhh

——–

#Korelasi Negatif#

Enok lagi ngerjakan PR matematika, cari contoh2 korelasi positif dan negatif dari media massa.

Enok: Bah, ieu bisa jadi contoh korelasi negatif ya? “Tingkat kepuasaan terhadap Petahana DKI tinggi namun elektabikitas rendah”

Tole: ya iyalah, walaupun respon banjir cepat, sungai bersih, pelayanan administrasi dipermudah, mrt lrt gak mangkrak lagi, tapi da loba kasieun milihna. Sieun jadi masuk golongan kafir atawa munafik, tah tempatna di neraka nu paling bawah! Hag siah….

Abah: Tong ribut urusan daerah batur Le, Tong moyokan atawa mapanas, era! Urang mah ukur nempo warga jakarta milih saha? Cagub Anu ngumbar bukti atau janji? Nikmat jeung hanjakal nu ngarasakeun warga DKI. Geus urang mah jempe tong loba komentar lah!

Enok: Ah, malahka raribut, hapus contona. Conto nu jiga kieu mah piributin geuning. Tah ieu we ya Bah “Harga cabe meningkat, permintaan terhadap cabe menurun”

Emak: Tah, mun bisa mah stok cabe ditingkatkeun supaya harga cabe teu tinggi teuing!

Tole: Distribusi ge jalurna kudu diperbaiki….

Enok: ARGHHHHH sagala dikomentaran, geus enok ngerjain PR na di kamar, moal beres2 ari kieu mah!

———–

#Sholat Jenazah#

Enok : Bah ini lihat ada sebaran salah satu DKM menolak mengurus jenazah pendukung Ahok!

Tole: Alus atuh! Kudu kitu!

Abah: Eh…. regepkeun yeuh ya ku hidep sadayana! Ari ngurus jenazah teh pardu kipayah keunana kanu hirup lain kanu paeh. Lamun aya DKM anu nolak ngurus jenazah, dosana lain keur ka eta mayit, tapi keur urang nu hirup.

Emak: Ih, enya ya Bah. Sangeuk teuing ah, jadi dosa. Paralun Emak mah. Sieun ku Alloh swt. Astagfirullah.

#QUICK COUNT – PHP#

Enok: Bah, DKI walau Ahok yg menang, kok putaran 2 sih? Daerah lain mah heunteu.

Abah : Ada aturan beda Nok, karena itu DKI, Ada hurup K tuh! Khusus.

Tole: Ah itu buatan manusia Bah, aturan mah bisa diakal-akalin. Nu rame mah, ceunah real count satu putaran, bisa teu Bah?

Abah: Ari harapan mah gitu, supaya energi umat jeung dana bisa move on. Tapi pan data quick count lain. Margin error paling gede diklaim 2,5% artina moal jauh ti sakitu. Lembaga survei kredible, lain pesenan. Tong percaya isu dan harapan palsu! Baheula keur PILPRES ge penyebar harapan palsu mah selalu beropini hasil realcount dan form C3 NO 1. meunang, partaina masuk 3 besar. Pas kenyataanna mah teu bisa dibuktikeun.

Emak: Emak oge resep ka Abah karena Abah bukan segolongan orang-orang PHP. (Pemberi harapan palsu). I love you, Abah!

Tole dan Enok: Cie cie ….

————-

#Nyoblos#

Paling pagi Keluarga Kemiri datang ke TPS, alasan si Abah sederhana, biar segera bisa jalan-jalan.

Tole: Nok, milih nomor sabaraha?

Enok: Rahasia atuh, pokokna antara nomor 1 jeung 2.

Abah: Pokokna mah, mana wae nu meunang urang dukung! Tong sampai masuk PGMO (Persatuan Gagal Move On)!

Emak: Emak teh Bingung, kamari ceunah coblos pecina, Emak lihat digambar calon gubernur wilayah urang mah nomor 1 jeung 2 parake peci kabeh. Emak sih sreg ka Calon Gubernur no 1, tapi hayang emak mah wakil gubernurna no 2, jadi Emak coblos peci gubernur nomor 1 dan peci wakil gubernur nomor 2. Tunai sudah “COBLOS PECINA”

Tole & Enok: Emakkk! Eta mah nyoblos sakadaek sorangan!

———-

#Meuli Cengek#

Enok: mbah kurang lebih nih ya tiga calon menghabiskan dana kampanye 170 M.

Emak: Euleuh geuningan? Mun dibelikeun cengek 189.000.000 kg, cengek masih mahal lain?

Tole: Lada meureun Mak! Eh, Bah, sampai hari ini banyak temen Tole can bayar SPP kuliah semester genap.

Abah: Saya Prihatin….

Enok: Ih kitu wungkul Bah???!!!!!????

———-

#Dana Kampanye#

Abah: 9,1 M + 40,2 M +35 M sama dengan 84,3 miliyar.

Tole: Lagi ngitung keuntungan proyek penelitian ya Bah?

Abah: Bukan tapi dana kampanye DKI.

Enok: Eh geuningan pilgub teh mahal ya Bah?

Abah: Itu tandanya Indonesia ‘makmur, jaya, sentosa, kaya raya, pendapatanna edun2’ bisa tah pesta rakyat oge nepi ka 84,3 M.

Emak: Bah, 84,3M teh duit?

Tole: Jigana mah daun Mak! Tinggal metik kan? Tongkat dan batu kan di Indonesia mah jadi tanaman. Tah daun ge jadi duit.

#Rindu Ira Kusno#

Enok: Bah, final “the bat” pilkada DKI jam tujuh.

Abah: Saha moderatorna?

Tole: ceunah Alvito

Abah: Lain Ira Kusno, pareuman wae!

Emak: Abahhh sakali deui nyebut “Ira Kusno”, moal dibere kopi dangdut.

#Nu Meunang PILKADA DKI ngarana A#

Enok: Bah, rame lagi nih sidang Ahok!

Tole: cieee, tiap sidang juga rame aja kali Nok!

Enok: yg ini lebih rame, nih coba baca!

Tole: ah yg udah2 sidang 1-7 itu juga rame!

Enok: ramean sidang ke 8 lah!

Tole: semua rame….

Abah: Eleh eleh, kunaon jadi kalian yang rame kitu! Jadi debat kusir kalian teh!

Emak: Enya, geus tong raribut pilkada DKI, da urang mah moal nyoblos. Kudu tenang geus dipastikeun nu meunag jadi gubernur DKI ngarana bakal berawalan A.

————–

#Debat 2 Tina Talisa#

Enok: Sistem transportasi seperti peredaran darah. Harus menjangkau seluruh sudut wilayah. Nanti ada angkot, mini bus, bus trans, mrt, lrt, krl…

Emak: Naon eta teh Nok?

Enok: Itu Mak, kata debat pilkada. Terus nih Mak, ‘Pemimpin itu harusnya merangkul bukan memukul, kalau mendorong ya boleh….’

Tole: Filosofis banget sih Nok!

Enok: Enok cuma ngutip kok, Kang Tole!

Abah: Yah, ari kata Abah mah. Nu penting mah, tinggali wae, cagub mau gawe teu? Da tugas Gubernur melayani rakyat. Udah ah, abah mah mau tidur.

Tole: Yeh, kunaon Bah?
Moderatorna mencrang pisan, Tina Talisa.

Abah: She is not a single. Abah gak punya kesempatan.

Emak: Abahhhh awas ya!!!!!

———–

#Ganti Rugi Demo 470M#

Tole: Wah piye iki? Gak rame gak ada sidang lanjutan dong!
Abah: Ada apa sih Le?
Tole: ini abah! (sambil memperlihatkan berita online di Telepon pintarnya)
Abah: Baguslah itu Le!
Enok: Tuh, Si Tole gak seneng ya ada kedamaian?
Tole: hus…hati2 ndas mu, Nok!
Abah: ya 470M gak perlu lagi toh? Umat islam udah urunan bikin koperasi. Semoga berkah, jaya, makmur, subur, lancar, dan umat islam ekonominya maju berkat koperasi itu. Dan Ahok bisa fokus di pilkada, kalau sedikit2 dilaporkan, digugat, energi umat ini habis buat berpolemik, ujung2na ‘parebut pepesan kosong’
Emak: ieu yeh, sok emak bikin pepes naga sari, masih keneh panas jeung bajigur yeuh!

————-
#Debat Dosen#

Enok: Bah, nih debat kemarin ada dosen2 yang tersinggung sama ucapan Pak Ahok. Sebagai Dosen, Abah gak tersinggung?

Tole: Kayak yg gak tahu Abah aja, Abah kan orangnya GAK BAPER, dibawa asyik aja lagi, ya gak Bah?

Abah: Hahahaha….. iya, kalau sedikit2 tersinggung, sedikit2 sakit hati….hidup kita jadi susah.

Enok: Apa ya Bah tujuannya orang menyebar2 dan ngajak BAPER berjamaah?

Abah: hemmm ada dua tujuan yaitu tujuan politik praktis dan ideologi. Politik praktis tujuannya ya menjatuhkan lawan politiknya. Sekecil apapun potensi khilaf, salah, atau kepeleset bisa dimanfaatkan untuk menjatuhkan lawan politik. Tujuannya menumbuhkan kebencian orang2. Kebencian itu sejanta ampuh menurunkan elektabilitas. Politik praktis ini umumnya dilakukan oleh kader, simpatisan, dan pendukung fanatik, serta tim sukses seorang cagub.

Enok: oh, maksud abah “tujuannya biar menang di pilkada”

Abah: Ya, singkatnya begitu. Tujuan kedua ini sifatnya ideologi. Ada atau tidaknya tujuan ideologi bisa dideteksi dengan mudah oleh orang yang memposisikan diri terbang ke atas awan, sehingga bisa melihat segala soal dengan holistik. Tujuan ideologi hanya mampu dilihat oleh orang yg punya kemampuan melihat di balik dinding, atau tembus pandang, semua soal biasa dilihat arahnya mau kemana. Orang2 yg punya kemampuan melihat tujuan ideologi, haruslah orang2 yang paham tentang jenis ideologi yg ada di dunia, perbedaannya, sejarahnya, gerakkannya dalam membangkitkan kembali ideologi itu. Orang-orang ini harus punya pemahaman politik. Kadang kita lihat memunculkan “isu yang sama” tapi tujuannya mereka bukan sekedar politik praktis, tapi sebenarnya sangat ideologis. Pemahaman itu hanya bisa didapatkan oleh orang yang belajar, belajar politik terutama pembentukan partai politik.

Enok: Oh…orang awam mah susah lihat tujuan ideologi, hanya org yg udah belajar yang bisa ya Bah?

Abah: that’s right.

Tole: Abah ini memang dosen tulen, penjelasan panjang lebar banget, berteori.

Abah: Le, kalau Abah gak bisa berteori ya Abah gak akan bisa lulus DOKTOR. Dulu waktu Abah disertasi, Abah ditanya sama dosen Abah, “Teori baru yang akan kamu hasilkan apa?”

Tole: ini sebabnya Dosen jago teori ya Bah?

Abah: Iya dosen mah ada 16 SKS 12:2:2 (ngajar:neliti:pengabdian masyarakat). Jadi 75% ngajarin teori, 12,5% meneliti menghasilkan teori baru; 12,5% ngajarin masyarakat aplikasikan teori.

Emak: Ayooo….tahu bulat digoreng dadakan….gurih gurih enyoy….!

Move on #fiksi #Asep

Bagian ke-2: ASEP

“Ayah! Ini ayah seringnya foto sama teman ayah ini ya?”

“Asep!”

Asep, bagi orang sunda ini nama pasaran.  Biasanya karena kelihatan “kasep [tampan]” maka dinamai Asep.  Asep, tampan? Wah, saya tak pernah perhatikan, apa ukuran ketampanan? Diminati banyak dara? Nah, waktu SMA sedikit sekali kaum hawa yang mau ngobrol dan dekat sama Asep.  Kenapa? Hemm orangnya seriuussss, diam, sedikit-sedikit mikir.  “Sep, nonton yuk!” “Nonton apa?” “Film…nih lagi trend..Lupus!”  “Oh … gak ah!”  “Nonton film haram ya Sep?” “Bukan, apa alasan aku harus nonton film itu?” “Ya, rame…cerita pendeknya itu kan seru-seru, kali-kali aja filmnya seru!” “Oh, ini film dari cerita di majalah HAI itu ya?” “Lah, aku setiap minggu nebeng baca ceritanya sama kamu. Ngapain harus nonton, lagian sayang uangnya!”  “Nih, aku traktir deh, Yuk rame-rame kita berangkat!”  “Gini aja, uang traktirannya buat aku beli makan siang, lalu sisanya tak tabung di kencleng mesjid bagaimana?”  Kalau sudah begitu saya tinggal tuh Asep.

Dan…. Besoknya ketika akan sholat Dzuhur dia akan ceramah.  “Abdi, tahu tidak kenapa aku menolak ajakan mu dan teman-teman ke bioskop kemarin? Hidup ini singkat, kita harus tabung banyak pahala buat bekel di akherat yang kekal, setiap waktu yang kita jalani harus kita pikirkan ini nanti nilainya minus, nol, atau plus.  Kamu tahukan surat Wal Ashr? Nah, manusia itu akan merugi kelak kalau gak memanfaatkan waktu buat menabung amal shaleh.

Kalau sudah begitu, mulut saya terkatup, cuma bisa angguk-angguk saja.  Inilah mengapa kaum hawa tidak banyak mendekatinya, takut diceramahi!

Sangat suka menceramahi hal kecil apa saja….tidaklah mengherankan.  Liburan semester saya menyempatkan tidur di kampungnya.  Perjalanan dari Bandung menggunakan ‘elf’ menuju perkampungnya kami harus jalan kaki kurang lebih lima kilo meter, melewati jalan setapak yang kiri dan kanan sawah serta kebun.  Kata Asep, ini jalan pintas, kalau melewati jalan desa lebih jauh dan memutar.

Sampai di suatu desa, semua orang menyapa Asep “liburan Sep?” “Sumuhun ambu!” “Mulih Sep?” “Sumuhun Aki!” kayaknya hampir se-desa itu menyapa Asep dan semua dijawab dengan “sumuhun” oleh Asep.  Ramah sekali.  “Sep, kamu kenal semua orang itu?” Dia menganggukkan kepala.

Masuk di sebuah komplek yang hanya dibatasi dengan bebatuan disusun setinggi 1/2 meter.  Ada dua rumah panggung besar dari bambu, lalu…ini sepertinya sebuah mesjid, karena ada beduk dan mihrab, namun sekilingnya hanyalah panggung bambu.  Berjajar juga rumah panggung dari bilik bambu ada sekitar empat rumah dengan ukuran sama, tampak tepas keempat bangunan itu cukup besar mampu menampung beberapa orang.  Bangunan permanen hanya terlihat empat kelas dengan berplang MTS Kertajadi.

Ini rumahku Di! Itu disana rumah abahku, Tiga rumah disamping itu rumah para guru yang mengajar di sini.  Itu bangunan itu, itu sekolahku dulu.  “Ayo, kita ketemu Abah dulu!”

“Assalamualaikum!”  “Waalaikum salam warohmatullahi wabarakatuh!” “Abah!” “Asep! Libur? Eh ieu?” “Ieu rerencangan Abah!” “Eh, eta gera…..Ambu….ieu Asep!”  Sebetulnya agak aneh, karena Asep diterima Abahnya laksana tamu saja, duduk…sepertinya ini ruang tamu karena digelar tikar bambu.  Di rumah panggungnya tidak ada barang apa2, pun hiasan hanya ada gambar kabah  satu saja.  Ruangan penuh  rak buku.  Dihitung kamarnya ada tiga.  Wanita yang dipanggil Ambu membawa makanan dan minuman, lalu bergabung dengan kami di ruang tamu itu.  Asep menceritakan semua yang dialaminya di sekolah.  Kemudian dia memberikan rapor pada Abahnya.  Abahnya sejenak ke kamar mengambil bulpen dan menandatangani rapornya, sambil berkata “Ku Abah dido’akeun cita-cita Asep jadi Insinyur Pertanian terkobul, bismillahirahmanirohiim!”  Selepas ngobrol dan bercerita serta menghabiskan sajian, Asep mengajakku istirahat.  Ku pikir ia akan mengajakku masuk salah satu kamar di situ, ternyata bukan.  Ia mengajak aku ke rumah besar.

“Sebagian besar santri lagi mudik Di, kecuali beberapa santri yang sudah tidak punya orang tua!”

“Sep…kita tidur di rumah besar itu?”

“Iya, aku bukan anak kecil lagi.  Sejak aku SMP atau aku baligh, Abah menyuruhku untuk tidur bersama para santri.  Rumah tempat Abah itu hanya untuk abah , ambu, dan anak-anak Abah yang belum baligh atau masih dalam hadonah.”

“Hadonah!”

“Iya, masih kecil, masih harus diasuh ibunya gitu!”

“Terus, di rumah ustadz2 itu?”

“Iya sama, anak mereka kalau sudah balik masuk rumah panjang ini, untuk belajar bersama santri”

Rumah besar dari panggung, isinya hanya tikar dan beberapa lemari berjejer yang menandakan kepemilikan.  Beberapa anak tampak membaca qur’an.

Assalamualaikum! Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.  Anak yang membaca quran berlarian menyalami kami.   Tiba-tiba anak-anak yang sedang melakukan aktifitas itu mengumpul membuat lingkaran dan menyediakan ruang bagi kami untuk duduk.  Asep kemudian mengajakku duduk dalam lingkaran itu.  Asep menceritakan pengalamannya selama di Kota Bandung.  Semua Asep ceritakan, dan anak-anak itu memperhatikan Asep. Sampai berkumandang Adzan Ashar, cerita Asep diakhiri.

“Mereka santri yang tidak punya tempat untuk pulang.  Mereka anak Yatim atau memang terlalu jauh pulangnnya sehingga orang tuanya tidak menjemput mereka.”

Ternyata jamaah sholat ashar cukup banyak, kebanyakan anak-anak usia SMP.

“Mereka itu santri kalong, mereka ikut kajian di pesantren Ashar sampai Magrib atau ada juga yang Magrib sampai Isya.  Umumnya mereka anak-anak di kampung sini.”  Seakan Asep tahu keherananku akan banyaknya jamaah shalat ashar.

Selepas sholat Ashar, Abahnya Asep sambil membuka kitab, dia membaca sebuah paragraf dari kitabnya lalu menceritakan isi kitab itu pada para santri.  Kegiatan dilanjutkan dengan   ustadz lainnya, ustadz mengajarkan cara ceramah, beberapa anak yang menjadi gilirannya hari ini maju menampilkan ceramahnya.

“Beginilah hari-hari disini Di.  Gak ada bioskop, mall, hanya ada sawah, sekolah, dan pesantren”

“Apakah anak-anak disini tidak bosan?”  “Hahahahaha……kita menjalaninya tiap hari, memang begini, ini hidup kita Di”

 

“Kalau Ayah sendiri lebih suka tinggal di Kota atau di Desa?”

“Dimana pun asal bersama kalian!”

“Ahhhhh! Ayah, jago rayu!”