Afternoon 2050

 

Kisah empat sekawan lulusan IPB, mereka hidup dalam suasana cinta dan politik, memperbincangkannya ditemani secangkir kopi….

#UNTUK APA KULIAH?#

Senin, 16.15 empat sekawan ini kongkow di starbuck.  Hanya perlu waktu 15 menit dari kantor mereka menuju kafe ini.  Sampai magrib mereka kongkow, ngobrol ngalor ngidul sebelum mereka pulang ke Bogor.  Menunggu sampai kereta cukup ruang menampung badan mereka.  Toh, mereka tinggal tidur ketika sudah sampai di kos-an atau rumah mereka di Bogor.
“Loe pada udah pada lihat video yg lagi viral di dunia maya, tentang kelakuan adik2 kita melakukan baiat perjuangan menegakkan khilafah islamiyah?” Maman membuka pembicaraan sore itu.

“Gue pikir, itu wajarlah, darah anak muda.  Kita waktu di IPB juga pernah jadi bagiannya kan? Lagian itu mah berita basi taun 2016 kejadiannya, baru booming sekarang, mungkin karena pas situasinya” timpal Wiro.

“Bagi, Ipit sih tak wajar, masuk IPB buat belajar pertanian, membangun bangsa melalui pertanian, kok malah mau dirikan sistem pemerintahan baru.  Seharusnya yg seperti itu dibahas di FISIP bukan di institut pertanian bogor”

“Tenang, Pit, besok IPB buka jurusan baru ILMU POLITIK PERTANIAN.  Alumnus IPB kan udah banyak yang jadi anggota dewan, bahkan ada yang jadi Kepala Daerah dari jalur Parpol”  celetuk Bagus.

“Ah, loe Gus! Tanpa fakultas resmi, singkatan IPB udah banyak, Institut Politik Bogor karena alumninya banyak yang jadi politikus, Institut Pendidikan Bogor karena alumninya banyak yang jadi guru, Institut Perbankan Bogor karena alumninya banyak yang jadi bankir, Institut Penulisan Bogor karena alumni banyak yang jadi wartawan, akhirnya bukan sekedar Institut Pertanian Bogor, tapi Institut Pleksible Banget”

“Balik lagi ke diskusi kita nih, ini video viral itu, juga ditonton oleh para veteran 45.  Komentar mereka bikin gue sedih” Maman mulai memfokuskan pembicaraan.

“Ya, gimana lagi.  Menurut gue sih, zaman itu berubah.  Kali aja suatu saat memang bisa diterima tuh ide khilafah itu”

“Kalau Ipit sih masih agak ngeri terima konsekuensi hidup dalam tatanan kekhilafahan yang dicitakan oleh mereka.  Ingat, kita di IPB dekat dengan aktifitas mereka.  Loe, masih pada ingat nanti akan ada pemisahan yang jelas.  Lelaki dan wanita gak campur.  Baju kita para wanita pakai jilbab yg nutup seluruh badan.  Gue, sebagai perempuan akan dilarang kerja, kerja gue sebagai anak perempuan di rumah.  Pekerjaan di kantoran pasti prioritas buat lekaki.  Tak ada lagi kompetensi berdasarkan kemampuan, tapi utama itu berdasarkan gender.  Kebayang gak sih? Gue gak bisa kongkow bareng Loe pada!”

“Gue sih simple aja, jika ulama NU udah bilang NKRI HARGA MATI, gue ikut aja.  Terus terang gue mah tau diri miskin ilmu agama.  Mendingan Wiro tuh sempet ngaji ama mereka, gue sempet juga liqo bentaran doang setahunan, udah gitu gue kabur.   Gue tuh memang gak suka pengajian kalau udah nyingung2 THOGUT dan SISTEM KAFIR.  Bagi gue sih, NKRI dan pancasila juga buah ijtihad ulama NU, MUHAMDIYAH, dan Masyumi, udah terima aja, taat sama ulama Indonesia.  Gue gak mau repot!”

“Masalahnya itu, ini nama almamater kita! IPB.  Jagat maya sa-nasional memperbincangkannya.  Kampus kita dianggap sebagai sarang pemikiran radikal” Maman kembali membuka diskusi.

“Man, gue pikir itu memag fakta, ada benarnya.  Yg gue tahu sih.  Memang dari Aktifis rohis IPB ide khilafah muncul dan disebarkan ke seluruh kampus universitas negeri di Indonesia melalui jaringan Lembaga Dakwah Kampus.  Itu memang fakta.  Mau diapakan lagi? Dihapus? Ya gak bisa!” Timpal Wiro.

“Lagian menurut Ipit, kita alumni hanya bisa mengamati.  Gak bisa menindak, yg bisa melakukan tindakan ya yg pegang kekuasaan di kampus, Man.  Kalau merasa itu mencemarkan IPB, kampus pasti urus”

“Lagian kayak beginian ini bukan problem IPB semata, tapi problem PTN.  Dari dulu mahasiswa di Indonesia jadi sasaran penyebaran ide-ide entah itu gerakan islam, komunis sosialis, kapitalis, dan ide lainnya. Mahasiswa selalu jadi target untuk membawa bendera revolusi di Indonesia ini.   Pertanyaannya kita kuliah itu mau apa? Jadi agen pelanjut pembangunan yg udah berjalan atau agen revolusi untuk memulai kembali pembangunan dari nol?”

“Gue, suka kalimat loe yang terakhir, “KULIAH UNTUK APA SEBENARNYA? Mau jadi agen pembangunan atau mau jadi agen revolusi? Mau membangun Indonesia Jaya di tengah percaturan dunia atau mau mengubah tatanan dunia dg revolusi jilid berikutnya?”

“Closing, tuh ya Man! Udah adzan, yuk Magriban!”

Mereka bergegas ke mushola basment mall, menunaikan sholat magrib.   Selepas itu, kopraja 19 membawa mereka ke stasiun Sudirman.

Pit, tuh Ndari udah nunggu Loe!

“oh, ya….jumpa besok ya, gue naek gerbong cewe! Dah!”

“See U, Pit!”

Kereta Tanah Abang-Bogor membawa mereka melewati hari itu…..

Advertisements

Membidik Indonesia

“Mencari titik lemah dari pemerintahan sah.  Menjadikan titik lemah sebagai isue yg digoreng. Menyajikan hasil gorengan tersebut pada masyarakat.  Tujuannya agar masyarakat tidak percaya lagi pada pemerintah yg sah”

Seperti itulah gerakan politik yg berusaha mengganti presiden dan sistem suatu negara.  Jadi, kita tak perlu heran bila kebijakan pemerintah terus dibombardir isu.  Yg perlu kita lakukan adalah move on dg pembangunan.   Kita punya pengalaman buruk pada pemerintahan lalu, banyakannya kritikan membuat pemerintahan lalu menjadi stagnan.  Pemerintahan saat itu kayak salah langkah, mundur kena mau kena, akhirnya hanya sedikit melangkah dengan hati-hati sekali.  Tentu kita semua ingin maju, ingin #moveON dari kondisi stagnan tersebut.  Maka saya pada pemerintahan Jokowi, kita gak boleh seperti itu lagi, kalau kita punya cita2 INDONESIA MAJU, INDONESIA BAGUS, INDONESIA HEBAT! Jadi, yuk kita buat Indonesia Bagus, Maju, dan Hebat!

Upaya memutuskan “kepercayaan umat terhadap pemerintah yang sah” dilakukan dengan berbagai dalih yang islami, misalnya JIHAD SYIASI atau MUHASABAH BIL HUKAM.   Bahkan hadits yg mengatakan, “Muslim yg paling baik adalah yg bermuhasabah pada pemimpin, kemudian pemimpin itu memenggal lehernya”. Begitulah berbagai dalil terkait pentingnya menentang pemimpin sah yang disebut mereka sebagai “thogut atau kafir atau komprador” terus dikumandangkan sebagai legitimasi atas tindakan  mereka.  Di sisi lain, ayat2 terkait bughot (menghianati negara) dan hukuman bagi org yg melakukan bughot mereka tutupi.  

Indonesia dibidik oleh gerakan transnasional untuk dijadikan targetan sebagai NEGARA ISLAM INDONESIA ataupun khilafah islamiyah, benarkah? Indonesia dengan potensi muslim terbesar hampir 200 juta dan kekayaan SDA yg memang merupakan wilayah yg empuk.  Semua gerakan sudah dimulai sejak tahun 1980-an.

Lalu darimana harus mulai? Mengambil pola keberhasilan kaum muda dalam kebangkitan Indonesia oleh mahasiswa STOVIA 1908, revolusi 1945 yg diperjuangkan salah satunya mahasiswa ITB yaitu SOEKARNO, dan gerakan 1966 sudah jelas digerakkan para aktifis kampus.  Berdasarkan pengalaman itu,  gerakan transnasional menjadikan kampus sebagai titik tumbuh paham-paham transnasional. Kampus berplat merah menjadi  kawah candradimuka tempat cuci otak  dan kaderisasi gerakan transnasional.  Kini kita saksikan tak ada satu pun kampus plat merah steril dari gerakan transnasional.  Di kampus-kampus plat merah inilah pengkaderan dilakukan…selama kurang lebih 30 tahunan.  Dan tidak hanya menyasar pada kampus plat merah, tapi juga mahasiswa indonesia di luar negeri.  

Gerakan transnasional bekerja di kampus plat merah melalui unit kegiatan mahasiswa resmi dan responsi keagamaan, juga secara tidak resmi dengan membentuk pemgajian terbatas dengan nama liqo atau halaqoh di rumah kos, begitu pula mahasiswa indonesia di luar negeri, dikumpulkan dalam liqo/halaqoh yg terdiri dari 1-4 org dalam kelompok. Begitulah pola-pola gerakan transnasional sejak 30 tahun lamanya mahasiswa Indonesia di perguruan tinggi plat merah dan mahasiswa indonesia di luar negeri menjadi sasaran.  

Bgmn hasilnya? Reformasi adalah salah satunya, ini titik mula memberikan kesempatan pada gerakkan ini untuk menjadi partai dan ormas dengan segala kebebasan  berhimpun dan berkumpul untuk mengeluarkan pendapatan.  Tanpa peduli bahwa pendapat tersebut bertentangan dg ideologi yang dianut bangsa. Semuanya akan berdalih, it’s just opinion.  Pemerintah tidak boleh memenjarakan orang yang hanya beropini.  Perangkat hukum didesain untuk sulit memenjarakan “gerakkan pemikiran”,  memenjarakan gerakan pemikiran berarti REZIM ORBA.  Kini ada sekitaran 8 jutaan org yg cukup loyal dg ide dan gerakan transnasional, bisa dilihat dari partai yg mereka pilih saat pilkada 2014. Itu blm semua, karena ada gerakan transnasional yg “golput”.  Ada 57 juta golputers pada pemilu 2014, anggap 10% dari golputers penyebabnya ideologi, jadi total selama 30 tahun  pengkaderan gerakan transnasional telah menghimpun sekitar 15 juta orang. Bayangkan 15 juta orang, tentu sudah bisa membuat sebuah kota bukan? Jumlah ini akan terus bertambah setiap tahunnya, seiring lembaga pendidikan dan pesantren yang mereka kelola, ditambah tak berbendungnya gerakan masif penyebaran ide2ini terutama di kampus plat merah, yg disokong oleh dosen-dosen yang juga bagian dari gerakan transnasional ini.

So, can you imagine this “ONCE UPON TIME,  INDONESIA WILL BE A STORY,  just a history, like Majapahit with nusantara……..? And Jokowi dengan pembangunannya akan jadi sejarah seperti Sejarah Syailendra dengan Borobudurnya,  Soekarno-Hatta dengan proklamasinya akan jadi sejarah terlupakan sebagaimana Gajah Mada dengan SUMPAH PALAPAnya.  INDONESIA DOES NOT EXIST! Apakah ini yang kita inginkan? So, let’s think about it!

Agama, politik, dan negara: where are we?

Isu ini mengemuka akhir-akhir ini.  #PILKADADKI suka atau tidak suka, secara fakta menjadi pemicu bagi kegegaran agama (islam) dalam tatanan pemerintahan di Indonesia.  Bukan sebuah rahasia lagi pada #PILKADADKI muncul slogan-slogan PEMIMPIN MUSLIM UNTUK JAKARTA BERSYARIAH. #PilkadaDKI menjadi momen kebangkitan NKRI Bersyariah (tentang NKRI BERSYARIAH, telah ditulis sebelumnya). 

Penangkapan Ustadz Muhammad Al Khathath (Gatot Saptono) bukan sekedar karena inisiasi aksi #313 tapi karena memang bukti-bukti dunia maya, untuk ide #NKRIBERSYARIAH yg digulirkan sejak tahun 2012 tertuju pada al ustadz (silahkan Googling, informasi pada media2 resmi yg diterbitkan FUI atau FPI dan juga media2 islam).  Dan juga bukti2 lain  hanya polisi yang tahu.

Jika penangkapan atas kasus makar #212, tidak terkait ideologi, hanya terkait skenario ketidaksetujuan dg pejabat yang memerintah. Maka penangkapan makar #313 lebih ideologis, yaitu mengancam pancasila.

Yes, islam is ideology….

Kami aktifis rohis sewaktu di SMA atau perguruan tinggi, sangat hapal bahwa islam sebagai ideologi khas.  Islam memerlukan negara untuk merealisasikan hukum terkait pidana seperti zina, minum khamar, mencuri, dan membunuh.  Lalu kami juga sangat hapal bahwa dengan sebutan Pemerintahan Thogut atau Pemerintahan Kufar untuk pemerintahannya yg tidak dijalankan berdasarkan syariat islam, pun disematkan pada pemerintahan demokrasi pancasila  Dan kami juga sangat sadar bahwa ide-ide terkait islam ideologi dibawa oleh dua jaringan.  Pertama, jaringan transnasional atau partai internasional seperti Ikhwanul Muslimin (di Indonesia bernama PKS) dan Hizb Tahrir dengan pemimpinan utamanya berada di negara sekitar Arab.  Kedua, jaringan lokal semodel NII atau metamorfosisnya.  Kedua jaringan ini bergerak masuk dlm sistem menjadi partai dan diluar sistem menjadi ORMAS atau ada juga gerakan di bawah tanah.

Jaringan pertama marak sekitar tahun 80-an, seiring gegap gempita REVOLUSI IRAN.  Jika saya masuk SMA tahun 1987, maka sudah lebih dari 30 tahun untuk kelompok pertama melakukan kaderisasi.  Dan tentu saja lebih lama lagi untuk jaringan kelompok lokal, karena NII pun tumbuh dan ada seusia Indonesia berdiri.  Kini kedua jaringan tersebut menyatu dg agenda yang sama menjadikan Indonesia sebagai cikal bakal pendirian Negara Islam.  Jakarta dijadikan target utama, karena seperti kata DN AIDIT DALAM FILM G30S PKI “Jika ingin menguasai Indonesia, kuasai pulau Jawa, jika ingin kuasai Jawa maka kuasai Jakarta”.  Quote DN AIDIT ini ada benarnya, “Aksi 411 dan aksi 212 didatangi oleh muslim di wilayah yang tidak punya kepentingan dengan PILGUB DKI, ada peserta dari Palembang, Padang, Medan, Makasar, selain dari pulau Jawa.  Magnet Jakarta memang cukup besar.  Membludaknya dukungan terhadap aksi 212 dianggap sebagai sinyal positif kerinduan umat akan syariat islam tegak di Indonesia.  Momen sholat  berjama’ah atau peringatan hari besar digunakan untuk memelihara perlunya “umat islam  menjadi pemain dalam percaturan pemerintahan indonesia” “keharusan DKI dipimpin muslim yg bisa menjadi entry masuknya PERDA SYARIAH atau DKI BERSYARIAH” Dan sebetulnya dalam hal ini makna “pemain” bukan sekedar umat islam atau muslimnya, karena 95% yg mengisi birokrasi sekarang ini pun muslim, tapi maknanya IDEOLOGI ISLAM.

Is it logic?

Terus terang aja, saya mah agak bingung.  Apa memungkinkan tertunaikannya DKI BERSYARIAH jika gubernurnya muslim? Lihat saja JABAR gubernurnya Muslim, bahkan diusung oleh partai yg punya cita2 mendirikan negara islam.  Tapi apakah bisa menjadikan JAWABARAT BERSYARIAH? Apakah ada hukum ikhtilat, Liwath, Zina, Qishosh, dll di Jabar???  Begitu pun di Sumbar, adakah SUMBAR BERSYARIAT, pdhl wilayah ini terkenal dg adat bersanding syaro, syaro bersanding kitabulloh? Bisakah? Jadi? Think 2x. Jangan2 ini akal2an saja? Atau memang Jakarta jadi entry point, lalu wilayah lain nanti akan ikutan….seperti paham gerakan ikhwanul muslimin “dari individu, ke keluarga, ke daerah, daerah ke negara, negara2 bersatu jadi khilafah islamiyah…..”?

Pancasila dan NKRI yg ada saat ini disepakai oleh tokoh muslim dari NU, MUHAMMADIYAH, dan MASYUMI.  Dianggap sebagai jalan tengah untuk menakomodasi persatuan Indonesia dari Sabang sampai Meurauke.  Para ulama saat itu harus menahan ambisi mereka mendirikan SYARIAT ISLAM demi mashlahat seluruh rakyat Indonesia.  Apakah ini bentuk kekalahan? Atau bentuk perjuangan yg belum selesai?  Atau ini justeru bentuk kearifan dan kebijaksanaan?

So, where are we?

Kita muslim, tidak menolak islam dan al quran.  Namun perlu diingat Indonesia yg kita cintai ini adalah buah perjuangan para ulama sampai titik darah pemghabisan.   Pancasila sebagai bentuk kompromi dan perjuangan para ulama harus dihargai, kita hanyalah seorang mutabi atau pengikut ulama.   Jika ada ulama Timur Tengah yg menawarkan KHILAFAH atau NII untuk Indonesia, dan ada ulama Indonesia yg menawarkan hidup berdampingan dg pancasila, maka siapa yg kita pilih? Ulama Timur Tengah mengeluarkan ijtihad dg melihat fakta relevan di negaranya, pun begitu ulama Indonesia.  Khilafah dan NII boleh jadi cocok ditawarkan di negara Timur Tengah, tapi belum tentu cocok untuk negara Indonesia.  Sebagai mutabi, dalam pilihan politik lebih baik bila kita taat pada ulama Indonesia terutama para kyai NU, karena mereka mengikhsas fakta berdasarkan kondisi faktual Indonesia, dan tentu hasil ijtihadnya cocok untuk Indonesia.  MENOLAK #kompromi dan #jalanTengah sesungguhnya bentuk keegoisan, jika ada gerakan yg menolak kompromi dan mendahulukan kepentingan golongannya daripada kepentingan umat yang banyak patutlah kita pertanyakan, “APAKAH MEMNG ISLAM MENGAJARKAN HAL TERSEBUT?” 

Serial Keluarga Kemiri: Pool-itik

Rangkuman serial keluarga kemiri dalam facebook, saya coba rangkum dalam beberapa edisi di blog ini, semoga menikmati, senyam-senyum sendiri aja. Ketiga saya tampilkan topik pikalieureun yaitu Kolam Itik alias POOLITIK.

#17# Lieur ku AADC

Enok: politik teh lieur ya Bah?

Abah: politik adalah seni meraih kekuasaan. 

Enak: pantesan lieur Bah. Nu ngarana seni mah memang sok ngalieurkeun Emak. Emak pernah ninggali pameran lukisan. Lukisanna kawas benang kusut. Harga eta lukisan 150 juta. Emak ge pernah denger nyanyian gogoakan teu pararuguh, teriak2 aja gak nyanyi, sampe telinga Emak budeg. Tah nu kararitu “seni” ceunah Bah! Lieur kan? Seni memang ngalieurkeun!

Tole: PECAHKAN SAJA SEMUA, BIAR GADUH! BIAR RAME! 

Enok: kunaon Kang Tole jadi baca puisi di AADC 1 Dian Sastro!

Tole: Biarkan semuanya gaduh! Gaduh duit!

*gaduh = punya (bhs sunda)

————
#15# Revolusi

Enok: Bah, ari revolusi teh naon?

Abah: Revolusi teh perubahan yang mendadak tak perlu waktu lama. Revolusi kebalikan dari evolusi. Kalau di Biologi mah perubahan mendadak biasanya disebabkan oleh mutasi. 

Tole: Itu tinjauan biologi Bah, kalau tinjauan sosial?

Abah: Pergerakan yang ingin menggantikan sebuah ideologi yang dianut suatu negara dengan ideologi lain atau menginginkan pergantian SISTEM pemerintahan. Misalnya revolusi perancis 1789–1799, menggantikan sistem monarki menjadi kapitalis-liberalis-demokratis. Revolusi Bolshevik Okt 1917 menggantikan sistem pemerintahan kekaisaran di Uni Soviet menjadi Sosialis-Demokrasi. 

Tole: Oh, itu toh maksud Revolusi. Itu sebabnya namanya REFORMASI, karena sistem masih tetap demokrasi-pancasila. Cuma pemilihan presiden aja yang diubah.

Enok: Itu loh Kang Tole, waktu Demo tempo lalu kan ada juga teriakan “REVOLUSI….REVOLUSI…REVOLUSI”

Emak: Tah, Emak setuju memang kita perlu REVOLUSI…penting itu, biar akhlak kita jadi bagus. Tuh lihat, sekarang mah orang gak beban buang sampah, corat-coret dan rusak fasilitas umum, bahkan mengambil hak publik pun tanpa dosa. Perlu revolusi tuh!

Enok: Eta mah REVOLUSI MENTAL atuh Mak!

———–

Enok: Eta mah REVOLUSI MENTAL atuh Mak!

KELUARGA KEMIRI
#15# Pake Ka I

Tole: Katanya PeKaIi bangkit lagi Bah?

Abah: Sebagai sebuah partai? Tidak mungkin bisa bangkit dan lolos verifikasi dari kementrian hukum. Semua partai dan ormas di Indonesia seharusnya berazas pancasila.

Tole: Ah, abah. Bukan PKI nya, tapi apanya itu ya? Misalnya nih bah lambang PKI palu arit ada di uang kita, produksi kaos lambang PKI, kayak gitu deh.

Enok: Memangnya adanya simbol PKI menandakan hidup kembalinya PKI Bah?

Abah: Agak susah PKI bangkit di Indonesia, trauma panjang pada pengemban ide komunis, mematikan nafsu mereka untuk membangkitkannya kembali. Saat ini banyak negara sosialis komunis pun sudah berubah menjadi kapitalis, seperti China dan Uni Soviet. Yang terpenting mah, kelakuan kita sekarang jangan seperti orang PKI, “keukeuh peuteukeuh dan egois ingin menang sendiri, ngajak2 massa buat melakukan revolusi”. 

Emak: Dari dapur, emak denger pada bicaraiin “pake kai” naon nu “pake kai” teh?

Enok: pe ka i Mak, lain pake kai!

kai= kayu dalam bahasa sunda

———–

#11#Status

Abah: Ngapain si Emak cemberut gitu?

Emak: Ini loh Bah, temen2 emak statusnya sekarang mah politik, dia update status kritik pemerintah tentang jual-jual pulau sama orang asing. Emak bingung!

Tole: Memang juga kebijakan pemerintah sekarang mah parah, dijualin semuanya sama Asing dan Aseng!

Abah: Le dan Emak! Kita pernah wisata ke KAWASAN EKONOMI KHUSUS (KEK) TANJUNG LESUNG KAN? Siapa yg kembangin itu kawasan? PEMDA kah?

Tole: Bukan Bah, kayaknya swasta!

Abah: Nah, kira2 menurut kalian bagus gak itu wilayah?

Enok: Bagus banget Bah! Wisatanya ditata rapih!

Abah: Itulah, kalian lihat wilayah ujung selat sunda yg terpencil ketika dipercayakan pada investor swasta yg punya modal mereka akan bangun daerah itu dg modal mereka. Kalian lihat daerah itu sekarang? Yg dibangun adalah KEK, pertama swasta membangun kawasan wisata, lalu dibangun SMK Pariwisata untuk menyiapkan tenaga kerja disitu. Di maket kalian lihat pengembangan perumahan sampai nanti ada universitas yg arahnya pada ke jurusan biologi & biodiversity, rumah sakit pun akan dibangunkan. KEK memang dikembangkan oleh swasta. Tapi kalian lihat jalan raya sepanjang KEK pun tumbuh, warung makan…penginapan sederhana yg dibangun masyarakat bagi backpackers yg gak mampu nginap di Tanjung Lesung Cottage berhaga lebih dari 7 juta per malam, tapi tetap mereka bisa menikmati indahnya Tanjung Lesung. Lalu..nelayan. Sekarang para nelayan bisa jual ikan untuk memenuhi kebutuhan KEK, tak perlu mereka jual ke luar KEK. Sumber2 ekonomi tumbuh di daerah situ mengeliatkan ekonomi rakyat kecil di wilayah itu. Hebat kan? Nah! Kalian juga tahu RAJA AMPAT? destinasi prestisius itu pun dikembangkan oleh swasta bahkan Asing. Insyaalloh suatu saat kalau Abah ada rejeki, kita piknik ke Raja Ampat. Sekarang pemerintah ingin menghidupkan wilayah di nusantara seperti Tanjung Lesung dan Raja Ampat. Jangan sampai pulau2 itu nasibnya kayak Sipadan dan Ligitan, jatuh pada negara orang karena pemerintah kita dianggap abai membiarkan pulau itu. Dana pemerintah terbatas buat ngembangin pulau2 yg terpencil, terluar, terjauh…maka diundanglah sektor swasta. Bukan berarti dijual itu. Abah mah jadi ingat hidupnya kegiatan ekonomi di wilayah terpencil dan terjauh itu karena efek menjalan hadits nabi saw ttg “menghidupkan tanah mati”. 

Tole: Tuh…Mak, makanya jadi emak2 jangan suka nyiyir sama pemerintah. Naik motor aja emak2 mah udah bahaya, apalagi masuk ke jurang politik! 

Enok: Tah, Mas Tole juga otaknya kudu banyak piknik biar gak butek!

———-

#17# Jenggotan

Kamis sore, di rumah hanya ada Abah dan Enok. Emak sedang pengajian dan Tole rapat BEM di kampusnya.

Abah; cari apaan Nok di internet?

Enok: googling aksi lingkungan, tapi dikit dapatnya, banyak aksi lainnya. Bah, kenapa ya org2 sekarang mudah sekali KEBAKARAN JENGOT, dikit2 marah, aksi, demo deh….

Abah; mudah KEBAKARAN JENGOT, karena mereka punya jengot, coba kalau cukur jengot, kan gak ada lagi istilah kebakaran jengot,

Enok: @$#%!???!!!?

#13#hoax

Tole: Busyet nih banyak banget pekerja cina ke indonesia. Kasian buruh Indonesia. Ini hoax bukan sih Bah?

Enok: Bah, pegang kepala Tole, demam gak? Soalnya tumben dia gak jugment!

Abah: Ngenye abang mu melulu, Nok! Gini loh Le! Bagi Abah mah, hoax atau bukan, bukan itu masalahnya, juga bukan masalah China atau Walanda atau Arab. Pasar bebas memang di depan mata kita semua. Kelak kalian akan bersaing dg berbagai bangsa untuk memperebutkan pekerjaan di negaramu sendiri, juga buat buka usaha di negaramu sendiri. Era globalisasi meniadakan sekat kesamaan karena suku, bangsa, dan agama….pada zaman itu yg diperlukan adalah kemampuan komunikasi dan kolaborasi, bekerja cepat dan efektif, kreativitas dan inovasi, kritis dan problem solving. Jika kemampuan ini tidak kita miliki maka kita gak bisa bersaing. Oleh sebab itu hard skill dan soft skill kalian harus terus diasah. Sibukkan diri kalian dg prestasi! Manfaatkan waktu dg membaca dan menonton asupan bergizi, yg menambah energi bagi beramal sholeh.

Enok: Tuh, Mas Tole. Reugeupkeun tah! Tong baca wae hoax!

Emak: Ahok lagi Ahok lagi, bosen! Yeuh emak bikin holak! 

Tole: Kita lagi bahas hoax Mak! Bukan Ahok!

———

#08#Malaikat

Emak: Duh lieur emak mah, dua orang ini kayaknya diharuskan jadi malaikat, sedikit2 dilaporkan. Naha jadi kieu?

Tole: ya Emak, keduanya itu pan tokoh. Presiden Jakarta dan Presiden NKRI bersyariah, harus jaga diri dong. Jaga ngomongan tong salah!

Enok: Ah si kang Tole mah lebay meuni jadi presiden gitu. Ari enok mah lieur ku jamaah baper, lain mareuman seuneu nu keur berkobar, malah ikutan niup eta api jadi we beuki gede. 

Abah: Nah, sebagai rakyat kita nu kudu jadi rakyat produktif. Abah teh PNS lamun istilahna keren mah ‘civil servant’ tugasna melayani rakyat, nah Abah dosen ukur jago teori ukur bisa ngajak massa facebookers dan twitter berpikir. Berpikir agar jadi warga konstruktif dan produktif Jika abah share berita HOAX atau berita provokasi, maka abah bukan lg pelayan massa walaupun abah tetap PNS – Pro Negative Sharing. 

Enok: Si Abah mah! Aya-aya wae PNS mah ya PNS wae kerenna CIVIL SERVANT OF GOVERMENT, PEGAWAI NEGERI SIPIL.

Serial Keluarga Kemiri: Serba-serbu Emak

 

Rangkuman serial keluarga kemiri dalam facebook, saya coba rangkum dalam beberapa edisi di blog ini, semoga menikmati, senyam-senyum sendiri aja. Kedua saya tampilkan topik yang HOT bagi emak-emak, yaitu POLIGAMI dan topik lainnya.

#28# Poligami

Enok: Mak, hadir di pengajian ustadz Aa. Apanan dia Poligami. Harusnya emak solider boikot pengajiannya.

Emak: Aih Si Enok, meuni gagabah. Poligami mah hukumna mubah atau boleh atau halal. Jangan mengharamkan yg Alloh udah Halalkan.

Abah: Wah, jadi poligami teh boleh ya Emak.

Emak: Boleh, bah! Asal tong suami Emak alias Abah nu poligami atawa Anak Emak alias si Tole. Ari nu lain mah,  Silahkan aja.

Abah: Si Emak mah isteri binangkit, lah!

Tole: Hahaha kena getahnya Aku!

—————
#27# Pangeran Arab

Enok: Mak, gak upload foto pangeran arab. Itu temen2 Emak pada upload di status facebooknya?

Emak: Bagi emak mah nu paling cakep dan hebat mah si Abah. Abah yg telah merelakan dirinya memimpin dan menanggung hidup emak, nemenin emak selama hidup. Tah, lalaki jiga kitu yg cakep dan hebat mah.

Abah: i love you, Emak!!!

Tole: suittt suittt!

————-

#25# Kepompong

Hari minggu Enok dan Tole tak di rumah. Di rumah hanya ada Abah dan Emak.

Emak: Nih, Bah baca kewajiban abah teh nyuci baju, potong kuku emak, sama nyediakan pembantu bagi emak. Selain nafkah Bah! Hadits nih Bah!

Abah: Terus emak kewajibannya apa di rumah?

Emak: ehhh sebentar emak baca beres artikelnya. Kewajiban emak hadonah, ngurus anak2 aja Bah!

Abah: Lah si enok dan si Tole udah bukan masa hadonah, jadi emak ngapain udah itu?

Emak: Berarti emak bisa jalan-jalan shoping shoping, minta uangnya dong Bah!

Abah: Emak!!! cing atuh. Regepkeun ya! Kehidupan suami isteri dlm rumah tangga itu kayak dua org sahabat bukan kayak mitra kerja ada MOU yg jelas, bukan juga kayak majikan sama pegawai pake ada jobdesk yg kaku. Kayak sahabat Mak!

Emak: kayak kepompong dong bah?

Abah: Maksudnya?

Emak: persahabatan kayak kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu….nananana dudududu….

Abah: ヘヘヘ

Serial keluarga kemiri: Serba-serbi PILKADA DKI

Rangkuman serial keluarga kemiri dalam facebook, saya coba rangkum dalam beberapa edisi di blog ini, semoga menikmati, senyam-senyum sendiri aja. Pertama saya tampilkan topik yang HOT yaitu SERBA-SERBI PILKADA DKI yang Baru lalu.

#Kiriman bunga#

Enok: hihihihi

Abah: Angger kamu mah, Nok! Seuserian bari nyoo Hape.

Enok: ieu Bah tinggali, orang gagal move on pada kirim kembang. Pikaserieun kata2na, kreatif orang mah.

Tole: Ah, eta mah sok hayang ka puji wae. Teknik politik palsu, memecah belah persatuan dan kesatuan. Haram perbuatan setan, mubajir.

Enok: Kang Tole, sinis banget dah. Mana ada ngirim bunga memecah persatuan, bunga mah merekatkan tali kasih. Ya, bah?

Abah: Nok, ari perkara bunga mah tergantung suasana hati dan pikiran Nok. Kalau hati lagi bagus pikiran jernih maka lihat bunga ya hati ikut senang berbunga2. Mun hatena keur rarungsing pikiran bete, ninggali bunga teh asa ngalelewe bisa di duruk tah kembang. Kadang2 mah ninggali bunga tergantung kondisi saku.

Emak: Maksud Abah? Bunga bisa tidak diselip di baju tergantung model saku baju?

Abah: Bukan, mak. Maksudna mun saku keur boke, bunga di tabungan oge dikuras habis.

Emak: ??!!???!!??!

———————————–

#Tanda-tanda keur M#

Enok: Bah! Eta stasiun nu dicarekan. Kieu caritana, aya calon pemimpin marah sama wartawan, anda media tertua, harusnya anda …bla bla gitu deh Bah! Baru calon loh Bah, blm beneran jadi pemimpin.

Abah: Tong mikiran kalakuan batur. Enok ge ari keur M mah sok sensi.

Tole: Berarti calon pemimpin itu lagi M tuh, Nok!

Enok: Lalaki kok M sih?

Abah: Geus tong Ribut! Tuh Raisa nyanyi di samping Jokowi. Ademmmm lihatnya!

Emak: Abahhhhh! Lihat emak aja, tong molotan Raisa!

Abah: Abah mah molotan Tipi Mak!

Emak: Abah!!!! arrrggghhh

——–

#Korelasi Negatif#

Enok lagi ngerjakan PR matematika, cari contoh2 korelasi positif dan negatif dari media massa.

Enok: Bah, ieu bisa jadi contoh korelasi negatif ya? “Tingkat kepuasaan terhadap Petahana DKI tinggi namun elektabikitas rendah”

Tole: ya iyalah, walaupun respon banjir cepat, sungai bersih, pelayanan administrasi dipermudah, mrt lrt gak mangkrak lagi, tapi da loba kasieun milihna. Sieun jadi masuk golongan kafir atawa munafik, tah tempatna di neraka nu paling bawah! Hag siah….

Abah: Tong ribut urusan daerah batur Le, Tong moyokan atawa mapanas, era! Urang mah ukur nempo warga jakarta milih saha? Cagub Anu ngumbar bukti atau janji? Nikmat jeung hanjakal nu ngarasakeun warga DKI. Geus urang mah jempe tong loba komentar lah!

Enok: Ah, malahka raribut, hapus contona. Conto nu jiga kieu mah piributin geuning. Tah ieu we ya Bah “Harga cabe meningkat, permintaan terhadap cabe menurun”

Emak: Tah, mun bisa mah stok cabe ditingkatkeun supaya harga cabe teu tinggi teuing!

Tole: Distribusi ge jalurna kudu diperbaiki….

Enok: ARGHHHHH sagala dikomentaran, geus enok ngerjain PR na di kamar, moal beres2 ari kieu mah!

———–

#Sholat Jenazah#

Enok : Bah ini lihat ada sebaran salah satu DKM menolak mengurus jenazah pendukung Ahok!

Tole: Alus atuh! Kudu kitu!

Abah: Eh…. regepkeun yeuh ya ku hidep sadayana! Ari ngurus jenazah teh pardu kipayah keunana kanu hirup lain kanu paeh. Lamun aya DKM anu nolak ngurus jenazah, dosana lain keur ka eta mayit, tapi keur urang nu hirup.

Emak: Ih, enya ya Bah. Sangeuk teuing ah, jadi dosa. Paralun Emak mah. Sieun ku Alloh swt. Astagfirullah.

#QUICK COUNT – PHP#

Enok: Bah, DKI walau Ahok yg menang, kok putaran 2 sih? Daerah lain mah heunteu.

Abah : Ada aturan beda Nok, karena itu DKI, Ada hurup K tuh! Khusus.

Tole: Ah itu buatan manusia Bah, aturan mah bisa diakal-akalin. Nu rame mah, ceunah real count satu putaran, bisa teu Bah?

Abah: Ari harapan mah gitu, supaya energi umat jeung dana bisa move on. Tapi pan data quick count lain. Margin error paling gede diklaim 2,5% artina moal jauh ti sakitu. Lembaga survei kredible, lain pesenan. Tong percaya isu dan harapan palsu! Baheula keur PILPRES ge penyebar harapan palsu mah selalu beropini hasil realcount dan form C3 NO 1. meunang, partaina masuk 3 besar. Pas kenyataanna mah teu bisa dibuktikeun.

Emak: Emak oge resep ka Abah karena Abah bukan segolongan orang-orang PHP. (Pemberi harapan palsu). I love you, Abah!

Tole dan Enok: Cie cie ….

————-

#Nyoblos#

Paling pagi Keluarga Kemiri datang ke TPS, alasan si Abah sederhana, biar segera bisa jalan-jalan.

Tole: Nok, milih nomor sabaraha?

Enok: Rahasia atuh, pokokna antara nomor 1 jeung 2.

Abah: Pokokna mah, mana wae nu meunang urang dukung! Tong sampai masuk PGMO (Persatuan Gagal Move On)!

Emak: Emak teh Bingung, kamari ceunah coblos pecina, Emak lihat digambar calon gubernur wilayah urang mah nomor 1 jeung 2 parake peci kabeh. Emak sih sreg ka Calon Gubernur no 1, tapi hayang emak mah wakil gubernurna no 2, jadi Emak coblos peci gubernur nomor 1 dan peci wakil gubernur nomor 2. Tunai sudah “COBLOS PECINA”

Tole & Enok: Emakkk! Eta mah nyoblos sakadaek sorangan!

———-

#Meuli Cengek#

Enok: mbah kurang lebih nih ya tiga calon menghabiskan dana kampanye 170 M.

Emak: Euleuh geuningan? Mun dibelikeun cengek 189.000.000 kg, cengek masih mahal lain?

Tole: Lada meureun Mak! Eh, Bah, sampai hari ini banyak temen Tole can bayar SPP kuliah semester genap.

Abah: Saya Prihatin….

Enok: Ih kitu wungkul Bah???!!!!!????

———-

#Dana Kampanye#

Abah: 9,1 M + 40,2 M +35 M sama dengan 84,3 miliyar.

Tole: Lagi ngitung keuntungan proyek penelitian ya Bah?

Abah: Bukan tapi dana kampanye DKI.

Enok: Eh geuningan pilgub teh mahal ya Bah?

Abah: Itu tandanya Indonesia ‘makmur, jaya, sentosa, kaya raya, pendapatanna edun2’ bisa tah pesta rakyat oge nepi ka 84,3 M.

Emak: Bah, 84,3M teh duit?

Tole: Jigana mah daun Mak! Tinggal metik kan? Tongkat dan batu kan di Indonesia mah jadi tanaman. Tah daun ge jadi duit.

#Rindu Ira Kusno#

Enok: Bah, final “the bat” pilkada DKI jam tujuh.

Abah: Saha moderatorna?

Tole: ceunah Alvito

Abah: Lain Ira Kusno, pareuman wae!

Emak: Abahhh sakali deui nyebut “Ira Kusno”, moal dibere kopi dangdut.

#Nu Meunang PILKADA DKI ngarana A#

Enok: Bah, rame lagi nih sidang Ahok!

Tole: cieee, tiap sidang juga rame aja kali Nok!

Enok: yg ini lebih rame, nih coba baca!

Tole: ah yg udah2 sidang 1-7 itu juga rame!

Enok: ramean sidang ke 8 lah!

Tole: semua rame….

Abah: Eleh eleh, kunaon jadi kalian yang rame kitu! Jadi debat kusir kalian teh!

Emak: Enya, geus tong raribut pilkada DKI, da urang mah moal nyoblos. Kudu tenang geus dipastikeun nu meunag jadi gubernur DKI ngarana bakal berawalan A.

————–

#Debat 2 Tina Talisa#

Enok: Sistem transportasi seperti peredaran darah. Harus menjangkau seluruh sudut wilayah. Nanti ada angkot, mini bus, bus trans, mrt, lrt, krl…

Emak: Naon eta teh Nok?

Enok: Itu Mak, kata debat pilkada. Terus nih Mak, ‘Pemimpin itu harusnya merangkul bukan memukul, kalau mendorong ya boleh….’

Tole: Filosofis banget sih Nok!

Enok: Enok cuma ngutip kok, Kang Tole!

Abah: Yah, ari kata Abah mah. Nu penting mah, tinggali wae, cagub mau gawe teu? Da tugas Gubernur melayani rakyat. Udah ah, abah mah mau tidur.

Tole: Yeh, kunaon Bah?
Moderatorna mencrang pisan, Tina Talisa.

Abah: She is not a single. Abah gak punya kesempatan.

Emak: Abahhhh awas ya!!!!!

———–

#Ganti Rugi Demo 470M#

Tole: Wah piye iki? Gak rame gak ada sidang lanjutan dong!
Abah: Ada apa sih Le?
Tole: ini abah! (sambil memperlihatkan berita online di Telepon pintarnya)
Abah: Baguslah itu Le!
Enok: Tuh, Si Tole gak seneng ya ada kedamaian?
Tole: hus…hati2 ndas mu, Nok!
Abah: ya 470M gak perlu lagi toh? Umat islam udah urunan bikin koperasi. Semoga berkah, jaya, makmur, subur, lancar, dan umat islam ekonominya maju berkat koperasi itu. Dan Ahok bisa fokus di pilkada, kalau sedikit2 dilaporkan, digugat, energi umat ini habis buat berpolemik, ujung2na ‘parebut pepesan kosong’
Emak: ieu yeh, sok emak bikin pepes naga sari, masih keneh panas jeung bajigur yeuh!

————-
#Debat Dosen#

Enok: Bah, nih debat kemarin ada dosen2 yang tersinggung sama ucapan Pak Ahok. Sebagai Dosen, Abah gak tersinggung?

Tole: Kayak yg gak tahu Abah aja, Abah kan orangnya GAK BAPER, dibawa asyik aja lagi, ya gak Bah?

Abah: Hahahaha….. iya, kalau sedikit2 tersinggung, sedikit2 sakit hati….hidup kita jadi susah.

Enok: Apa ya Bah tujuannya orang menyebar2 dan ngajak BAPER berjamaah?

Abah: hemmm ada dua tujuan yaitu tujuan politik praktis dan ideologi. Politik praktis tujuannya ya menjatuhkan lawan politiknya. Sekecil apapun potensi khilaf, salah, atau kepeleset bisa dimanfaatkan untuk menjatuhkan lawan politik. Tujuannya menumbuhkan kebencian orang2. Kebencian itu sejanta ampuh menurunkan elektabilitas. Politik praktis ini umumnya dilakukan oleh kader, simpatisan, dan pendukung fanatik, serta tim sukses seorang cagub.

Enok: oh, maksud abah “tujuannya biar menang di pilkada”

Abah: Ya, singkatnya begitu. Tujuan kedua ini sifatnya ideologi. Ada atau tidaknya tujuan ideologi bisa dideteksi dengan mudah oleh orang yang memposisikan diri terbang ke atas awan, sehingga bisa melihat segala soal dengan holistik. Tujuan ideologi hanya mampu dilihat oleh orang yg punya kemampuan melihat di balik dinding, atau tembus pandang, semua soal biasa dilihat arahnya mau kemana. Orang2 yg punya kemampuan melihat tujuan ideologi, haruslah orang2 yang paham tentang jenis ideologi yg ada di dunia, perbedaannya, sejarahnya, gerakkannya dalam membangkitkan kembali ideologi itu. Orang-orang ini harus punya pemahaman politik. Kadang kita lihat memunculkan “isu yang sama” tapi tujuannya mereka bukan sekedar politik praktis, tapi sebenarnya sangat ideologis. Pemahaman itu hanya bisa didapatkan oleh orang yang belajar, belajar politik terutama pembentukan partai politik.

Enok: Oh…orang awam mah susah lihat tujuan ideologi, hanya org yg udah belajar yang bisa ya Bah?

Abah: that’s right.

Tole: Abah ini memang dosen tulen, penjelasan panjang lebar banget, berteori.

Abah: Le, kalau Abah gak bisa berteori ya Abah gak akan bisa lulus DOKTOR. Dulu waktu Abah disertasi, Abah ditanya sama dosen Abah, “Teori baru yang akan kamu hasilkan apa?”

Tole: ini sebabnya Dosen jago teori ya Bah?

Abah: Iya dosen mah ada 16 SKS 12:2:2 (ngajar:neliti:pengabdian masyarakat). Jadi 75% ngajarin teori, 12,5% meneliti menghasilkan teori baru; 12,5% ngajarin masyarakat aplikasikan teori.

Emak: Ayooo….tahu bulat digoreng dadakan….gurih gurih enyoy….!

Saya, IPB, Pancasila, dan Indonesia

Pancasila sebagai dasar negara, sejak kecil saya tahu. Saya hapal banget tanggal 1 Juni hari lahir Pancasila. Waktu kecil sih, setiap tahun keluarga kami tumpengan memperingatinya, ya tentu saja, karena hari lahir pancasila bertepatan dengan hari lahir bapak saya, sama-sama 1 juni hehehe.

Pancasila, sebagai dasar negera mulai dipertanyakan ketika saya aktif di rohis SMA. Kebetulan pengisi rohis saat itu dari kakak2 UNPAD, mereka memberikan pemahaman tentang islam dan pancasila, yang intinya pancasila itu tidak sakral dan bukan satu-satunya ideologi negara. Walhasil anak2 SMA yang ikut rohis saat itu jadi penentang guru PMP di kelas. Hingga akhirnya kakak2 UNPAD dilarang manggung lagi di sekolah. Beberapa teman tetap melanjutkan aktifitas kajian dengan kakak UNPAD yang belakangan saya tahu alirannya adalah Jamaa’ah kerosulan. Dan saya memilih tak ikut-ikutan, lebih memilih aktif di KARISMA ITB dan tetap bercita-cita jadi ilmuwan yang bisa membangun bangsa ini.

IPB. Saya diterima di IPB, ketika gagal masuk pilihan pertama kedokteran UNPAD. SMA tempat saya besekolah ada dilingkungan ABRI, teman saya kebanyakan adalah anak ABRI kalau tidak polisi. Salah satu sahabat saya mengingatkan saya, “Yanti, masuk IPB ya? hati-hati disana di Bogor itu banyak aliran-aliran. Jangan ngaji sembarangan”.

Saya tak mengerti banyak apa yang sahabat saya katakan. Ah, mungkin karena sahabat saya ini anak seorang polisi, dia tahu banyak tentang peta masyarakat. Tapi tetap saya tak paham.

Sampai akhirnya saya merasakan …. sendiri. IPB merupakan tempat berkembang dan bertumbuh ragam aliran islam. Ragam aliran ini bisa masuk secara formal melalui responsi agama dan unit kegiatan mahasiswa, maka siapapun mahasiswa IPB tentulah bersinggungan secara langsung dan tanpa disadari paling tidak dengan dua aliran yaitu Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin (masih banyak aliran lain di IPB tapi tidak terlalu banyak massa-nya karena tidak ada dalam lembaga formal kampus, tidak seperti dua gerakkan ini yang memegang lembaga formal di kampus), dua aliran keagamaan yang berasal dari Timur Tengah yaitu Yordania dan Mesir, dua aliran yang secara resmi bisa masuk di kampus IPB. Hizbut Tahrir saja namanya dulu, tapi kini Hizbut Tahrir Indonesia, adapun Ihwanul muslimin ini dulu kami sebut POKJA atau Kelompok Jakarta, karena kebanyakan anak-anak jakarta yang liqo di kelompok ini. Kemudian berubah nama lagi menjadi Tarbiyah dan sekarang PKS. Kok, bisa ya masuk ke IPB? Sejarahnya panjang sehingga kedua gerakan ini bisa bersemanyam secara formal di kampus, namun kunci yang membuat kedua gerakkan ini bisa langgeng melakukan pengkaderan di IPB adalah “kesungguhan dan jiwa tanpa pamrih” menyebarkan ide-idenya. Tanpa dibayar, tanpa minta bayaran, tanpa lelah mereka menyebarkan opini dan merekrut kader-kader di kampus.

Pancasila? Kami dapatkan pada saat p4 selama satu bulan. Yang saya ingat selama satu bulan itu saya dapat makan siang gratis. Sebagai anak kos, lumayan banget. Setelah itu ada matakuliah kewiraan yang membosankan. Jadi, belajar pancasila pun menjadi tidak menarik, lebih menarik hati mengetahui ide-ide khilafah ala HTI atau pemerintahan thogut ala ikhwanul muslimin. Apakah para mahasiswa bersalah? Saya pikir tidak! itu adalah masa mencari jati diri.

Kedua gerakan ini bersifat ideologis? Yap, mahasiswa yang mengikuti kajian di kedua gerakan itu sangat sadar, bahwa kedua gerakan tersebut mempunyai cita-cita untuk menerapkan syariat islam dalam bentuk konstitusi dan menggeser ideologi yang selama ini diemban oleh negera Indonesia yaitu pancasila dan UUD 1945. Pola gerakannya saja yang berbeda HTI tidak menggunakan jalur parlementer, lebih memilih parlementer jalanan yaitu politik menggerakkan massa di luar sistem, adapun ikhwanul muslimin bergerak melalui parlementer menjadi partai politik dan memiliki cita-cita terpendam untuk menjadikan islam sebagai sistem di suatu negara melalui gerakan politik dalam sistem. Istilah DEMOKRASI SISTEM KUFUR atau SISTEM THOGUT, merupakan istilah biasa yang sering terdengar bagi kami mahasiswa IPB.

Walaupun bergerak di kampus, tapi semua aktifitas ada garis koordinasi dengan gerakan di level dunia, bergerak atas arahan langsung dari para Amir di Timur Tengah. Ini sebabnya disebut sebagai gerakan transnasional.

Pancasila, bagi sebagian mahasiswa IPB pada akhirnya terdengar sayup2 saja. Jika mahasiswa IPB menjadi inisiator “Sumpah terhadap Penegakkan Khilafah Islamiyah” kami alumni IPB tidaklah heran. Jika alumni Teknologi Benih IPB semodel Muhammad Al Khotot atau Gatot Saptono ditangkap karena tuduhan makar, kami juga tak heran. Dan kini Bang Sambo alumni Matematika 26 IPB sebagai presedium 212 berapi-api mau menurunkan Jokowi atau konstitusi Indonesia, kami gak heran. Dari tahun 1980-an sampai kini IPB dan juga kampus-kampus lainnya menjadi kawah candradimuka untuk mengkader anak-anak terbaik Indonesia dalam menentang sistem demokrasi dan pancasila di Indonesia.

Tak mungkin masuk IPB kalau gak pintar loh! Rata-rata anak IPB itu juara2 di sekolahnya. Anak-anak itu kemudian memilih untuk menentang sistem yang dianut oleh negara Indonesia? How can?

Abaikan semuanya, karena saya yakin IPB dan Kemenristekdikti pun berpikir keras untuk memecahkan persoalan ini. Saya lebih suka ngobril aja…

“Islam bagi saya bukan sekedar ritual itu betul. Islam mengisyaratkan kehilafahan itu juga betul karena Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Muawiyah, ….tercatat sebagai kholifah dalam kehilafahan islam. Tak bisa ditampikan bahwa sistem khilafah diwariskan oleh para shahabat. Fakta sejarah. Apakah sistem ini perlu dibangkitkan pada saat ini di Indonesia? Sistem ini bisa menjadi solusi atas aneka masalah yang ada di Indonesia?”

“Mari kita lihat Indonesia. Pancasila, adalah ideologi yang didalamnya memuat unsur religiusme, humanisme, nasionalisme, demokrasi-liberalisme, dan sosialisme.  Adalah pancasila menjadi jalan tengah bagi semua “isme” yang ada di indonesia saat itu. Indonesia dengan keberagaman penduduknya melahirkan sebuah jalan tengah yang disepakati oleh Ulama saat itu dari NU, Muhammadiyah, Masyumi juga dari kubu nasionalisme, humanisme, liberalisme, dan sosialisme. Terlihat sekali sila-sila dari pancasila menggambarkan keberagaman ini. Adakah IDEOLOGI lain yang bisa menggantikan pancasila di Indonesia pada saat ini? Cobalah tanya pada masyarakat Indonesia, apakah mereka mau hidup di bawah naungan kekhilafahan islam atau mau hidup di bawah pancasila?” Tanya pada semua rakyat Indonesia tanpa membedakan ras, agaama, dan bangsa. Jika jawaban semua agama, ras, dan bangsa yang ada di Indonesia adalah khlafah islamiah, maka pancasila memang sudah usang. Namun jika jawabannya pancasila, maka pancasila menjadi ideologi yang tepat bagi bangsa indonesia yang berbhineka”.

Khilafah, sangat tidak tergambar dalam benak masyarakat nusantara. Beda dengan masyarakat Arab dan Turki, dimana Khilafah adalah bagian dari sejarah mereka. Memperjuangkan khilafah di Indonesia ibarat mengkondisikan Indonesia pada jaman Arab Quraish. Benturan budaya akan banyak terjadi di Indonesia, yang membahayakan kebhinekaan Indonesia dan islam nusantara. Khilafah tidak dirindukan oleh masyarakat Indonesia, beda dengan masyarakat di Jazirah Arab dan Turki yang pernah merakan hidup dalam zaman itu, tentulah mereka mempunyai rasa merindukan kekhilafahan. Dibandingkan khilafah, kemungkinan besar masyarakat Indonesia akan lebih merindu rezim Suharto yang kukuh melakukan PANCASILA VERSI ORDE BARU yaitu KESTABILAN KEAMANAN.

Negara Islam digambarkan oleh masyarakat Indonesia sebagai NII/DII. Traumatik mendalam dialami oleh bangsa Indonesia pada saat konflik NKRI vs NII/DII. Rakyat sangat hapal pasukan mujahid atau TII (Tentara Islam Indonesia) tak lebih dari para gerombolan yang merampok dan menjarah hasil panen dan persediaan pangan mereka. Ini sebabnya NII tidak laku di Indonesia. Selain PKI masyarakat Indonesia pun menjadi anti dengan NII. Keduanya dianggap sebagai laten ideologi yang berbahaya bagi bangsa Indonesia.

Tapi bukan berarti kemudian Indonesia anti Islam dan anti kerakyatan, dengan menganggap ideologi islam dan komunis sebagai ancaman. Pancasila mengakomodasi umat beragama untuk menjalankan agamanya masing-masing dalam segi ritual ibadah dan muamalah, namun membatasi tidak dalam tatanan pemerintahan.

Jadi? Mari kita kembali pada tabiat nusantara. Bukan berarti kita tak mau islam tegak, tapi jika itu digenjot di bumi nusantara ini maka saksikanlah saat ini “perpecahan antara umat islam terjadi”. Sungguh mulia pendiri HT yaitu Taqyuddin Annabhani yang menyatakan bahwa perjuangan khilafah dilokalisasi di wilayah Arab, karena wilayah ini punya garis historis yang kuat. Menjadian Arab sebagai titik bangkit kekuatan khilafah islamiyah dan tidak menjadi nusantara sebagai target ADALAH PILIHAN BIJAK. Terlalu ambisius jika nusantara yang kita cintai ini dijadikan target oleh sekelompok orang untuk mendirikan NKRI BERSYARIAH atau KHILAFAH ISLAMIYAH. Jika hal itu dilakukan maka rakyat indonesia akan membayar mahal untuk sebuah KENYAMANAN, KEAMANAN, DAN KEMAJUAN.

Pancasila teruji sudah menjadi perekat kebhinekaan di Indonesia. Kita harus berpikir bijaksana untuk menghargai pilihan mayoritas masyarakat indonesia ini, jangan sampai EGOIS ingin mendirikan NKRI BERSYARIAH atau KEKHILAFAHAN ISLAM pada saat kondisi rakyat Indonesia masih cinta Pancasila. Saya teringat bagaimana Rasulullah saw meyakinkan bahwa masyarakat Madinah memang menginginkan islam tegak di Madinah. Rasulullah saw meyakinkan dengan baiat aqobah 1, baiat aqobah 2, dan mengutus Mushab bin Umair. Semuanya untuk memastikan bagaimana syuur masyarakat terhadap kerinduan ditegakkannya islam. Rasulullah saw tidak memaksakan kehendak pada masyarakat Quraish dalam mendirikan islam, Rasulullah saw membaca peta masyarakat, menghindari bentrokkan antar massa. MENJAGA PERDAMAIAN JAUH LEBIH UTAMA DARIPADA “EGOISME” PRIBADI DAN KELOMPOK.

I JUST WRITE, WHAT I THINK EVEN YOU THINK IT’S NOTHING

NKRI Bersyariah = NII Reborn [?]

Zaman keterbukaan seperti sekarang ini kita jadi lebih mudah mengakses apapun, termasuk dengan pergerakan-pergerakan yang biasanya di bawah tanah, salah satunya NKRI bersyariah yang dideklarasikan 1 September 2012 pada ulang tahun FPI (baca disini untuk jejak: NKRI BERSYARIAH.  Pasca deklarasi masif ide ini digulirkan seperti pada Khutbah Iedul Fitri dan melalui peluncuran buku (2013), juga terkait ide CAPRES NKRI BERSYARIAH).  Tampaknya gerakan-gerakan menggulirkan ide NKRI bersyariah sangat terencana, berikut ini beberapa berita terkait, dengan NKRI bersyariah (ini murni hasil googling berita):

1.Deklarasi NKRI Bersyariah, 1 September 2012.

1) Bertekad dan berjuang dengan mengorbankan harta dan nyawa untuk menghabisi seluruh kemaksiatan, korupsi, aliran sesat dan kezaliman dari bumi Indonesia. 2) Bertekad dan berjuang dengan mengorbankan harta dan nyawa untuk terwujudnya NKRI bersyariah, guna menggantikan NKRI bermaksiat. 3) Bertekad dan berjuang dengan mengorbankan harta dan nyawa untuk mengangkat Al Habib Muhammad Rizieq Syihab dan para pejuang Islam lainnya untuk menjadi presiden dan pejabat dalam kabinet NKRI Bersyariah.

2. Peluncuran dan bedah buku “Wawasan Kebangsaan Menuju NKRI Bersyariah” Karya Habib Rizieq Syihab pada 10 Febuari 2013 KLIK DI SINI. Pernyataannya adalah sebagai berikut:

NKRI bersyariah harus direbut dengan jalan revolusi” Revolusi damai dengan jalan dakwah, akan tetapi bila ternyata usaha itu dihadapi dengan kekuatan fisik, terpaksa dilakukan dengan perlawanan.  Negara yang ada saat ini tidak perlu dihancurkan. Cukup penguasa yang tidak pro syariat Islam saja yang disingkirkan dan diganti dengan penguasa Islam.

3.  September 2013, terjadi penjaringan calon presiden NKRI bersyariah.  Jubir HTI menolak ketika dicalonkan (BACA DI SINI).  Ustdz Arifin Islam menawarkan Habib Rizieq sebagai Kandidat Presiden NKRI bersyariah (BACA DI SINI).

4. Pada tahun 2014, mulai memasuki jalur PILEG untuk menuju NKRI BERSYARIAH. Forum Caleg Syariah pun dideklarasikan (BACA DI SINI).

5. Pada tahun 2015, setelah sebagian besar Caleg Syariah gagal melenggang ke senayan, bukan berarti perjuangan berhenti.  Perang ide terus digulirkan dengan pemerintah yang sudah dipilih rakyat, salah satunya adalah membenturkan ISLAM NUSANTRA dengan NKRI Bersyariah (BACA DI SINI).

Umat Islam tinggal memilih : Ikut Habib Rizieq yang mengusung NKRI BERSYARIAH atau ikut Presiden Jokowi yang mengusung ISLAM NUSANTARA … ?

Pada 19 November tahun 2015, perjuangan dilajutkan dengan Muzakarah Alim Ulama, Habaib dan Cendekiawan Muslim  telah berhasil membentuk Majelis Tinggi DKI Jakarta Bersyariah (BACA DI SINI).  PILGUB JAKARTA dianggap sebagai ENTRI POINT MENUJU NKRI BERSYARIAH.

6. Pada 17 Agustus 2016 dalam milad FPI ke-18, kembali menegaskan perjuangan NKRI BERSYARIAH (BACA DI SINI). Dan pada tahun 2016 juga ada dua aksi 411 dan 212 yang berhasil menarik simpati jutaan muslim di Indonesia, menjadikan Habib Rizieq sebagai MAN OF THE YEAR versi MUSTI (Muslim Tionghoa) pimpinan Jusuf HAMKA (Baca di sini).

7. Kriminalisasi terus mendera Habieb Rizieq dengan kasus-kasusnya lawasnya.  Sekjen FUI pun bereaksi dengan kasus yang menimpa MAN OF THE YEAR 2016.  Pada hari selasa 10 bulan 1 tahun 2017 Habib Rizieq Shihab dibaiat sebagai Imam Umat Islam (BACA DI SINI).

Kita tidak tahu ke depan mau jadi seperti apa. Itulah sebabnya kita baiat Habib Rizieq sebagaai imam umat Islam karena Habib Rizieq tidak tunduk dengan RRC dan Amerika. Kalau Habib Rizieq ditangkap, maka umat Islam siap untuk ditangkap. Kalau Habib Rizieq ditembak, kami siap ditembak, menyongsong kematian. Ingatlah tipu daya orang-orang kafir itu seperti sarang laba-laba. “Sesungguhnya rumah atau sarang paling lemah adalah sarang laba-laba.”

KH. Muhammad Al Khaththath

Apakah NKRI Bersyariah sebagai NEW NII atau NII Reborn? Patut diketahui bahwa Islam sebagai ideologi memerlukan tempat untuk tumbuh dan berkembang menegakkan hukum-hukum publik, sehingga adalah sebuah hal yang wajar jika ide-ide NII pun muncul kembali pada masa kini dan masa yang akan datang.  Namanya ‘ideologi’ akan tetap tumbuh dan berkembang serta diwariskan dari generasi ke generasi. Gerakan dan nama gerakan bahkan pola gerakan akan terus dimofikasi dan dimetamorfosis menyesuaikan kondisi kontekstual.  Ini adalah hal wajar bagi semua ideologi.

Berkaca pada sejarah…..

NII (Negara Islam Indonesia) tak perlu diceritakan kembali bagaimana diperjuangkan oleh Bapak Kartosuwiryo dan bagaimana penderitaan rakyat sipil atas peristiwa ini (SILAHKAN BACA DI SINI).

#REFLEKSI

Pertanyaan pada kita bersama, “Apakah kita pada saat ini merasa sudah FINISH berada dalam NKRI Pancasila dan UUD 45? atau kita merasa memang harus memperjuangkan NII REBORN?

Tak perlu cerita panjang lebar, yang jelas ketika Jepang membentuk BPUPKI (Dokuritsu Junbi Cosakai) yang kemudian diganti nama setelah merdeka menjadi PPKI pada barisan itu ada para tokoh islam atau para Kyai.  Seperti dari Masyumi (Kiai Haji Mas Mansoer), NU (Kiai Haji Masjkur, Haji Abdul Wahid Hasyim), dan Muhammadiyah (Ki Bagus Hadikusumo).  Tentu saja selain itu ada dari tokoh kedaerahan, china, dan nasional (silahkan LIHAT DI SINI!).  Berdasarkan rembug bersama para FOUNDING FATHER, maka NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dianggap sebagai dasar yang ideal bagi tumbuh kembangnya keragaman di Indonesia.  Jika membaca sejarah, bagaimana para tokoh islam mengesampingkan ego dan idealisme mereka dalam menegakkan syariat islam, demi kesatuan bangsa indonesia dari Sabang sampai Meurauke. “KEPENTINGAN BANGSA DAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA mereka letakkan di atas kepentingan dan ego kelompok”

Jika sebagaian pemikir menganggap apa yang dilakukan para FOUNDING FATHER sebagai jalan tengah, tidak pro islam, dan kekalahan muslim.  Maka kita bisa menengok sejarah beberapa upaya penegakkan NII telah gagal, alih-alih membuat rakyat KAGUM, sebaliknya malah membuat rakyat menjadi TAKUT.  Para pejuang NII yaitu DII/TII disebut oleh masyarakat di Jawa Barat sebagai Gerombolan, karena mereka suka bergerombol ketika merampok pangan yang ditanam  rakyat sipil.  Pun begitu dalam NKRI Bersyariah,  entry point pada PILGUB DKI menjadi ajang SARA, perang ayat bahkan sampai pada perang mayat. Akibatnya umat kehilangan sosok Islam yang RAHMATAN LIL ALAMIN.

#Note:

Islam adalah agama mulia, memperjuangkannya memerlukan kesabaran bukan PEMAKSAAN KEHENDAK.  Jika para pejuang islam tidak sabaran, maka kalian kalah sama orang-orang Yahudi.  Para Yahudi itu luar biasa sabar perjuangannya, sejak awal Islam berdiri di Madinah (Abad ke-7 M) tidak pernah lelah berjuang untuk menghancurkannya, sampai akhirnya hancur pada Abad 20, artinya perjuangan mereka lakukan selama 13 Abad tanpa henti terus mengeluarkan pemikiran-pemikiran dibalut dengan akademisi dan ekonomi ribawi yang kuat, sejengkal demi sejengkal PEMIKIRAN UMAT ISLAM dikuasi, sehingga ketika SULTANIYAH atau Khilafah  dihancurkan 1924 secara akademik dan ekonomi tiada satupun kerajaan atau negera bagian khilafah islamiyah merasa kehilangan.  Kecuali sebagian para ulama yang menangis karena mereka memahami bahwa tiada akan tegak islam tanpa khilafah/sultaniyah.

Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, bagaimana aktifitas muslim dengan penerapan syariat islamnya baik oleh individu maupun komunitas seharusnya dapat memberikan TAULADAN, SOLUSI, dan KETENTRAMAN serta UKUWAH, bukan cari-cari masalah menggunakan ayat2 Alloh swt lantas meng-kafir-kan atau me-munafik-an orang yang tidak sependapat dari sisi pengambilan ayat2 tersebut, alih-alih berkontribusi positif pada tatanan masyarakat, malahan membuat masyarakat menjadi galau dan TERBELAH.

Wallohualam bi sawab.  Semoga bisa memberikan wawasan bagi yang masih “awam” dengan situasi dan kondisi yang terjadi, yg terkadang bingung harus berposisi dimana dan seperti apa?  SEMOGA BERMANFAAT.

Jakarta dan Harapan para Pelajo

Ini tulisan iseng, tapi bisa dianggap serius. Sebenarnya pengen nulis buat warga DKI yang punya hak memilih pengen nitip sesuatu….tapi jadinya #random aja deh.alias bakal ngalor ngidul nih tulisan.

Pasca PILGUB DKI Chapter I, apa yang didapatkan? Sebagian terbengong,  kok Ahok masih menang?

#Analisis amatiran pertama: Ini gegara kaum golputers tunduhan #gazebo ini termaktub dalam status sebagian neitizen.  Ngapain ikut aksi 411 212 dan aksi lainnya, kalau akhirnya dia golput? Patut dipahami sebagian umat islam memang memandang bahwa MEMILIH PEMIMPIN DALAM SISTEM KUFUR (sistem bukan islam, termasuk sistem demokrasi pancasila) SIAPAPUN CALON PEMIMPINNYA MUSLIM ATAU BUKAN adalah HARAM.  Ketika sekelompok orang konsisten dengan pendapatnya ini, saya bilang itu bagus, itu namanya KONSISTEN. Lalu jika ada sebagian mencemoohnya, maka saya MENGELUS DADA aja bagi yang mencemoohnya, #shameONyou kamu gak ngerti cara memahami keyakinan orang lain. Sesungguhnya aksi GOLPUT mereka lebih mulia, karena memperlihatkan bahwa dukungan aksi mereka adalah murni karena kesatuan islam, bukan karena politik.  Sebaliknya yang harus malu itu partai yang secara hukum membolehkan memilih pemimpin non muslim bahkan di wilayah papua, maluku, dan kalimantan partai ini mengusung non muslim, tapi partai ini mengharamkan pemimpin non muslim untuk DKI JAKARTA.  Ini namanya inkonsistensi, demi kemenangan dalil haram bisa jadi halal, dalil halal bisa jadi haram.  Jadi #ShameOnYou again.

#Analisis amatiran kedua: Ini gegara sebagian kaum muslimin adalah para munafikun, udah jelas ahok menistakan qur’an masih aja dipilih, apa namanya kalau gak munafik. Yah, manusia udah ngaku tuhan sekarang.  Nabi Muhammad saw saja ketika diminta anak Abdullah bin Ubay menyolatkan ayahnya, Nabi SAW mau, sampai Alloh swt melarangnya karena dia tergolong munafik.  Predikat munafik itu ditentukan oleh Alloh swt, manusia dilarang menyebut seseorang muslim lainnya dengan munafik.  Nabi Muhammad saw jungjungan kita semua “suri tauladan” yang harus diikuti lahir dan bathin, posisi beliau di atas sabda para ulama.  Lihatlah Beliau, Rasulullah saw sangat hati-hati bersikap pada Muslim, dan kita terkadang sangat ponggah menganggap diri kita AL HAKIM bagi muslim lainnya.  Hanya karena #PILKADADKI kita kemudian mencap muslim lainnya dengan MUNAFIK.  #istigfar

Mengapa sebagian muslim yang masih memilih AHOK?

  1. Anggapan 1: Apa yang dilakukan Ahok  bukan penistaan.  Penistaan Al Qur’an itu bagaimana? Penista Al Qur’an itu adalah orang yang mengartikan al qur’an semaunya saja dan sangat bertentangan dengan Al Qur’an.  MISALNYA “DIA MENGKLAIM BAHWA MINUM KHAMAR ITU BOLEH, MABUK-MABUKAN ITU HALAL SELAMA TIDAK SHOLAT, Lalu dia mengutip ayat al qur’an QS. Annissa 43.  Ini baru namanya penistaan al qur’an.  Penista Al Qur’an itu adalah orang-orang yang sudah jelas diperintahkan untuk sholat dan zakat, tapi dia menentang sholat dan zakat.  Penista Al Qur’an itu adalah orang yang menganggap Al Qur’an adalah syair semata bukan sebuah kitab suci kaum muslimin.  Berdasarkan hal ini maka jelaslah bahwa Ahok cuma kepeleset lidah saja.  Memang Ahok tidak pantas secara etika, belum waktu kampanye sudah kampanye, bukan muslim tapi menyetir ayat al qur’an, dosanya hanya sisi ETIKA saja, bukan sebuah dosa maha besar sehingga menggolongkan Ahok pada sebutan PENISTA AL QUR’AN. So, it’s clear bahwa apa yang dilakukan Ahok buka sebuah penistaan tapi pelanggaran Etika.  Kasus Ahok tentu beda dengan Lia Eiden yang mengaku Nabi/Malaikat atau Musadeq yang mengaku Nabi.  Kasus Ahok bisa disamakan dengan kasus Aswendo dan Permadi ditahun 90-an ketika masih zaman orde baru.  Hanya saja, sekarang zaman sudah sangat beda, tidak lagi otoriter, hanya karena perintah presiden orang bisa ditangkap dan dianggap bersalah, Orde Reformasi menyebabkan ketaatkan semua orang pada jalur hukum, tidak lagi jalur personal.  Jika ada sebagian orang yang anggap itu penistaan ya mangga silahkan saja proses secara hukum.  Namun ada sebagian orang yang anggap itu bukan penistaan ya jangan dicaci apalagi diintimidasi.
  2. Anggapan 2: Ini negara Indonesia tidak berlandaskan SISTEM ISLAM tapi berlandaskan SISTEM KUFUR (Demokrasi pancasila dianggap sebagai sistem kufur).  Pada sistem kufur “Apakah harus juga dipimpin oleh muslim, hanya karena muslim itu mayoritas?” Pada sistem kufur, jelaslah pemimpinnya akan melaksanaan uu dan aturan kufur juga, “Apakah itu harus orang islam juga yang menjalankan UU dan aturan kufur ini?”    Kalau seseorang punya logika begini bagaimana, #Sistem Kufur maka Pemimpinnya Kafir, Sistem Islam pemimpinnya Muslim.  Indonesia wabil khusus DKI  adalah Sistem Kufur, maka pemimpin Indonesia wabil khusus DKI harus muslim#  Nah, gak nyambung kan? Jadi, ini negara berlandaskan sistem DEMOKRASI PANCASILA (mau dibilang sistem kufur gak apa2), negara ini secara UU dan aturan memberi kesempatan pada semua ras, suku, dan agama untuk menjadi pemimpin.  So, secara UU sah seorang china dan kristen mencalonkan diri menjadi kepala daerah. it’s clear ya, ini bukan sistem islam, Non Muslim punya kesempatan untuk dipilih juga.
  3. Siapa yang harus dipilih muslim? Apakah dalam sebuah SISTEM KUFUR muslim harus tetap memilih pemimpin muslim? Sederhana saja, mana yang mau dipakai oleh seorang muslim? “Berdiri atas kepentingan kesamaan agama?” atau “Berdiri atas kepentingan kesamaan pembangunan untuk daerahnya?”

Betul kita berada dalam sebuah sistem kufur (kita gunakan istilah ini untuk menyebut demokrasi pancasila agar mudah dipahami), tapi bukan berarti kita tidak dipimpin oleh siapapun, karena ada 7 juta rakyat yang harus dilayani dan diorganisasikan dengan baik untuk mencapai sebuah tujuan, belum lagi warga sekitar Jakarta yang cari hidup di Jakarta. Bayangkan kalau semua berlepas diri tak mau pilih pemimpin? Bisa kacau semua urusan bukan? Kalau pikiran kita semua egois, biarin aja kita semua Golput agar sistemnya kufurnya nanti rusak, yah gimana kalau berpikir begitu hidup tanpa dipimpin oleh siapapun tentu akan kacau balau, sangat kacau.  Seperti halnya kita yang cuma bertiga melakukan perjalanan, kita memilih Amir Syafar, pemimpin perjalanan. Kalau semua memimpin atau semua tak mau memimpin, kacau perjalanan.  Lalu memilih berdasarkan apa? Ya, mangga yang mau pilih berdasarkan kesamaan agama saja, atau mau berdasarkan kepentingan pembangunan tanpa pandang SARA? Rasanya semuanya sah dipilih karena toh ini sistem kufur menjalankan uu dan aturan kufur, bukan menjalankan uu dan aturan islam.  Kalau menjalankan uu dan aturan islam, saya 100% mengharuskan kalian untuk memilih MUSLIM bukan selain MUSLIM! (Ini berdasarkan logika ijtihad amatiran, tak harus diikuti loh!)

Tapi ya, sebagai pelajo Bogor-Jakarta everyday gitu harapan saya bagi warga DKI Jakarta yang punya hak pilih, PILIHLAH YANG MEMBERI BUKTI BUKAN SEKEDAR JANJI.  Kenapa? Saya takut jalur LRT dan MRT mangkrak kembali seperti tempo lalu, padahal harapan kami ada disitu buat atasi waktu tempuh yang panjang ke Jakarta dari Bogor.  Kami takut sikap tidak tegas membuat para pengemudi metromini, kopraja, dll kembali ugal-ugalan, kami butuh angkutan umum yang nyaman dan aman selama di Jakarta.  Banjir adalah hal lumrah di Jakarta, tapi bagaimana titik banjir dikurangi dan cepat tanggap terhadap bencana banjir itu yang harus dilakukan setiap pemimpin jakarta, sehingga kami tetap bisa ngantor saat banjir, tetap bisa melalui jalanan menuju SOETTA dalam kondisi hujan parah.  Kami takut para pasukan orange yang selama ini bekerja dengan gaji UMR telah berkontribusi positif terhadap kebersihan kali dan wilayah Jakarta dianggap membebani APBD DKI, dan warga diajak untuk bersihkan secara gotong royong kali dan berbagai fasum DKI.  Padahal saya tahu, banyak warga jakarta tak punya waktu gotong royong dan warga punya keterbatasan tenaga.

Tapi yah, harapan mah tinggal harapan, yang menentukan pilihan itu ya Warga DKI, mau dibawa kemana dan oleh siapa pengemudinya sangat tergantung pada warga DKI.  Cuma bisa pesan saja, “Di saat hukum islam tidak ditegakkan di Indonesia, kalian bisa memilih berdasarkan kepentingan daerah kalian dan bangsa kalian, pilihlah pemimpin yang memberikan mudharat paling kecil bagi daerah kalian”   “Jika kelak hukum islam tertegakkan di Indonesia, maka pesan saya pilihlah muslim, walau bagaimana pun jeleknya, buruknya dan lemahnya jiwa kepemimpinannya, karena hanya muslimlah yang bisa membuat hukum islam tetap tegak

Wallohualam bi sawab, just think and i write it, maybe you think…it’s nothing.

 

Teman Jadi Lawan #it’s politics!

Minggu-minggu kemarin itu, minggu yang menguras perasaan saya banget deh! Betapa tidak? Karena keseringan komen dan diskusi di salah satu grup FB alumni institusi saya waktu S1, teman-teman  punya multitafsir, bukannya dikonfirmasi malah mereka berasumsi sendiri melalui diskusi-diskusi menjurus pada ghibah dan fitnah, kebayang aja…laiknya cyber army mereka meng-capture komentar-komentar saya, lalu memperbincangkannya dengan asumsinya.  Ironisnya buzzer-nya adalah para kader dan aktifivis sebuah partai dakwah. (Duh jadinya makin gak simpati gue sama nih parte).

Kebetulah mereka berdiskusi di grup WA, dan saya founder grup WA Majelis Ta’lim tersebut tetapi saya mengeluarkan diri dari grup WA.  Udah lama saya keluar dari grup itu mungkin tahun lalu…sebelum heboh pilkada AHOK.  Alasan saya keluar dari grup itu karena sebal dengan kelakuan mereka menghina ulama.  Pertama-tama mereka menghina Quraish Shihab saya luruskan adab terhadap ulama.  Bapak Quraish Shihab di UIN Jakarta adalah guru besar, ahli tafsir, ilmu kita gak kesampaian dengan ilmu beliau, jika ada beberapa yang tidak sependapat, maka laiknya kita hargai perbedaan, pilih saja ikuti atau tidak, boleh jadi itu adalah karena kebodohan kita yang ilmunya gak sampai seperti beliau.  Tapi yah…mereka ngotot, ngotot tetap melakukan penuduhan pada Bapak Quraish Shihab.  Dan yang membuat saya keluar adalah ketika terjadi lagi….mendeskriditkan Bapak Nasaruddin Umar ketika terpilih sebagai Imam Mesjid Istiqlal.  Saya tekankan pada mereka bahwa Bapak Nasaruddin di UIN Jakarta sangat dihormati kepakarannya, dan beliau termasuk salah satu pendiri IIQ, sebuah institusi yang mengkader pada hafidz al qur’an menjadi intlektual muslim.  Tentu saja saya dan semua di grup itu bukan apa2 jika dibandingkan dengan beliau dari sisi agama, kok ya kita berani caci maki dan tuduh “ulama” yang bukan-bukan.  Alih-alih diskusi sehat, saya malah dituduh liberal.  Sudahlah….saya masih waras untuk ngalah, daripada terlibat diskusi gak karuan lebih baik saya LEAVE GROUP.

Setahun setelah “leave group” ternyata mereka melakukan GHIBAH dan FITNAH dasyhat sama saya. Ck ck ck ck, kurang kerjaan amat.  Mungkin saya tokoh atau seleb? sehingga pantas dijadikan ajang gosip.  Uniknya ketika saya japri, mereka sama sekali gak ngerasa DOSA.  Malah minta konfirmasi sana sini sama saya, sepertinya saya sebagai tertuduh! COME ON!! Are u crazy or am i stupid for understand you?

Saya sih sangat yakin bahwa pengkaderan di sebuah kelompok dakwah itu akan menghasilkan individu-individu yang bersyaksyiah khas.  Ini beda banget antara yang satu dengan yang lain.

  1. Teman saya di kelompok parte ono nyerang dan menuduh…..walau akhirnya dia bilang oh berarti kita salah tafsir, dan dia tak ada minta maaf atas kesalahan yang dia buat karena mungkin dia merasa tidak bersalah, boleh jadi ini karena parte ono mengajarkan SELALU BENAR.
  2. Teman saya di kelompok gerakan ini, dia hati-hati sekali memilih kata, lembut dan mengatakan bahwa dia hendak tabayun dan tidak rela teman-teman lain melakukan ghibah atau fitnah, gerakan ini mengajarkan menghargai perbedaan mementingkan kesatuan.

Syaksiyah yang ditunjukkan merupakan hasil pembinaan, terlihat sekali pada saat mereka mem-feed back  komentar di status saya.

Saya sih gak mainan politik, gak berafiliansi dengan partai politik tertentu, tapi saya paham.  Saya cuma bisa paham kemana arah gerakan-gerakan pada akhirnya bermuara.  Saya paham apa yang sesungguhnya sedang diperjuangkan.  Sebagai individu, saya punya prinsip kapan saya akan mendukung dan kapan tidak.  Saya berpegang teguh pada cara Rasulullah saw berdakwah dan beramal.  Walaupun mungkin saya tidak memperhitungkan -fiqih syiasi- dalam kalkulasi saya, saya pikir memang tak mampu perhitungkan ini, karena saya bukan anggota partai atau gerakan politik yang punya tujuan politik.

Ok, saya belain Ahok? Saya gak punya kepentingan politik buat bela Ahok, saya tak ber-KTP Jakarta.  Kalau tidak membela kenapa kamu tidak menghujat Ahok? Loh! terkejut saya dengan ungkapan itu! Saya tak biasa menghujat, yang punya hak menentukan salah dan benar itu ada dua yaitu HAKIM dan TUHAN.  Saya hanya punya kewajiban IQRA dan MENENTUKAN AMAL YANG HARUS SAYA AMBIL.

Kajian saya terhadap Af’al Rasulullah saw terhadap Abu Lahab, Abdulah bin Ubay, dan Kaab bin Asyraf, cukup bagi saya untuk memaafkan AHOK yang terpeleset lidah.  Ditambah ayat Al Qur’an yang melarang saya berlaku tidak adil terhadap kaum yang kita benci.  Makin menguatkan saya untuk tidak mempermasalahkannya.  [Dan dengan sikap saya ini kemudian, kalian mengatakan saya MUNAFIK? Saya harus bilang SHAME ON YOU.  Landasan pengambilan sikap saya atas hal ini berdasarkan dalil loh!]

Lalu saya, tak menghitung ‘alasan politik’ ya, karena saya tak punya kepentingan politik apapun terhadap pilkada.  Jadi saya tak hitung hal itu.  Saya warga negara yang tidak ‘berpolitik’. ANDA KEBERATAN? Anda katakan harusnya jadi “semut ibrahim” – No!!!  Bagi saya, itu urusan mereka yang terlibat di partai dan gerakan politik, jangan libatkan saya sebagai rakyat sipil untuk ikut2an, dan saya pun tak mau terlibat untuk sebuah agenda yang saya sendiri tak punya pengetahuan pasti terhadap agenda itu.  Saya ingat benar pesan Alloh swt “Jangan mengikuti sesuatu yang kita tidak memiliki pengetahuan terhadapnya”

Bagi saya kalkulasi jelas, jika perjuangan ‘beribroh pada cara-cara Rasulullah saw’ menegakkan Dien di Madinah, dan cara-cara Wali Songo mengislamkan 80% nusantara, maka saya turun jadi semut ibrahim.

Saya sendiri tidak pernah setuju dengan pesta demokrasi, bayangkan untuk PILKADA DKI, dana kampaye yang dibutuhkan lebih dari 80 M. Kalau uang 100.000 yang berdimensi 0,5 cm dijejerkan, maka 80M itu panjangnya adalah 80.000.000.000 cm, atau 40.000 km.  Tahu tidak uang yang dijejerkan itu akan sepanjang apa? Jakarta surabaya saja jaraknya 700 km.  Jarak Sabang ke Meurauke 8.514 km.  Jarak dari Jakarta ke Mekah itu 15.000 km.  Jadi kebayang sejauh apa uang 100.000 rupiah jika dibariskan? Dan setinggi apa jika ditumpuk?  Artinya itu uang banyak sekali! 80 M biasa buat banyak hal dalam pembangunan pendidikan di Indonesia.  Uang sebanyak itu “menguap” dalam sebuah pesta demokrasi.  Betapa KAYA RAYA nya Indonesia, uang dibuang-buang dalam pesta rakyat seperti itu.  Jadi jangan pernah bilang “Indonesia negara miskin, perlu bantuan.  Lah….itu pesta demokrasi aja bisa sampai 80 M loh, masa masih ngaku miskin?”

Saya hanya berpijak, pada yang Alloh swt karuniakan, yaitu Dalil Naqli dan Akal.  Saya tak mau jadi orang-orang yang ikut-ikutan tanpa pengetahuan, artinya sebelum semuanya jelas, logis, dan rasional, saya akan menahan diri.  Saya bukan seekor kerbau yang dicocok hidungnya, dan gak mau jadi bagian dari 7 orang buta yang sedang mendeskripsikan gajah.   Karena sesungguhnya di Akherat kelak, Alloh swt akan menanyakan tentang Amal Saya mengapa saya melakukan amal tersebut? Jadi saya harus pikir baik-baik, gak bisa sembarangan.  Ini #nyunah atau #tidakNyunah?

Kayumanis, Bogor: I am just writing  what i think, although you will say it’s nothing