Agama, politik, dan negara: where are we?

Isu ini mengemuka akhir-akhir ini.  #PILKADADKI suka atau tidak suka, secara fakta menjadi pemicu bagi kegegaran agama (islam) dalam tatanan pemerintahan di Indonesia.  Bukan sebuah rahasia lagi pada #PILKADADKI muncul slogan-slogan PEMIMPIN MUSLIM UNTUK JAKARTA BERSYARIAH. #PilkadaDKI menjadi momen kebangkitan NKRI Bersyariah (tentang NKRI BERSYARIAH, telah ditulis sebelumnya). 

Penangkapan Ustadz Muhammad Al Khathath (Gatot Saptono) bukan sekedar karena inisiasi aksi #313 tapi karena memang bukti-bukti dunia maya, untuk ide #NKRIBERSYARIAH yg digulirkan sejak tahun 2012 tertuju pada al ustadz (silahkan Googling, informasi pada media2 resmi yg diterbitkan FUI atau FPI dan juga media2 islam).  Dan juga bukti2 lain  hanya polisi yang tahu.

Jika penangkapan atas kasus makar #212, tidak terkait ideologi, hanya terkait skenario ketidaksetujuan dg pejabat yang memerintah. Maka penangkapan makar #313 lebih ideologis, yaitu mengancam pancasila.

Yes, islam is ideology….

Kami aktifis rohis sewaktu di SMA atau perguruan tinggi, sangat hapal bahwa islam sebagai ideologi khas.  Islam memerlukan negara untuk merealisasikan hukum terkait pidana seperti zina, minum khamar, mencuri, dan membunuh.  Lalu kami juga sangat hapal bahwa dengan sebutan Pemerintahan Thogut atau Pemerintahan Kufar untuk pemerintahannya yg tidak dijalankan berdasarkan syariat islam, pun disematkan pada pemerintahan demokrasi pancasila  Dan kami juga sangat sadar bahwa ide-ide terkait islam ideologi dibawa oleh dua jaringan.  Pertama, jaringan transnasional atau partai internasional seperti Ikhwanul Muslimin (di Indonesia bernama PKS) dan Hizb Tahrir dengan pemimpinan utamanya berada di negara sekitar Arab.  Kedua, jaringan lokal semodel NII atau metamorfosisnya.  Kedua jaringan ini bergerak masuk dlm sistem menjadi partai dan diluar sistem menjadi ORMAS atau ada juga gerakan di bawah tanah.

Jaringan pertama marak sekitar tahun 80-an, seiring gegap gempita REVOLUSI IRAN.  Jika saya masuk SMA tahun 1987, maka sudah lebih dari 30 tahun untuk kelompok pertama melakukan kaderisasi.  Dan tentu saja lebih lama lagi untuk jaringan kelompok lokal, karena NII pun tumbuh dan ada seusia Indonesia berdiri.  Kini kedua jaringan tersebut menyatu dg agenda yang sama menjadikan Indonesia sebagai cikal bakal pendirian Negara Islam.  Jakarta dijadikan target utama, karena seperti kata DN AIDIT DALAM FILM G30S PKI “Jika ingin menguasai Indonesia, kuasai pulau Jawa, jika ingin kuasai Jawa maka kuasai Jakarta”.  Quote DN AIDIT ini ada benarnya, “Aksi 411 dan aksi 212 didatangi oleh muslim di wilayah yang tidak punya kepentingan dengan PILGUB DKI, ada peserta dari Palembang, Padang, Medan, Makasar, selain dari pulau Jawa.  Magnet Jakarta memang cukup besar.  Membludaknya dukungan terhadap aksi 212 dianggap sebagai sinyal positif kerinduan umat akan syariat islam tegak di Indonesia.  Momen sholat  berjama’ah atau peringatan hari besar digunakan untuk memelihara perlunya “umat islam  menjadi pemain dalam percaturan pemerintahan indonesia” “keharusan DKI dipimpin muslim yg bisa menjadi entry masuknya PERDA SYARIAH atau DKI BERSYARIAH” Dan sebetulnya dalam hal ini makna “pemain” bukan sekedar umat islam atau muslimnya, karena 95% yg mengisi birokrasi sekarang ini pun muslim, tapi maknanya IDEOLOGI ISLAM.

Is it logic?

Terus terang aja, saya mah agak bingung.  Apa memungkinkan tertunaikannya DKI BERSYARIAH jika gubernurnya muslim? Lihat saja JABAR gubernurnya Muslim, bahkan diusung oleh partai yg punya cita2 mendirikan negara islam.  Tapi apakah bisa menjadikan JAWABARAT BERSYARIAH? Apakah ada hukum ikhtilat, Liwath, Zina, Qishosh, dll di Jabar???  Begitu pun di Sumbar, adakah SUMBAR BERSYARIAT, pdhl wilayah ini terkenal dg adat bersanding syaro, syaro bersanding kitabulloh? Bisakah? Jadi? Think 2x. Jangan2 ini akal2an saja? Atau memang Jakarta jadi entry point, lalu wilayah lain nanti akan ikutan….seperti paham gerakan ikhwanul muslimin “dari individu, ke keluarga, ke daerah, daerah ke negara, negara2 bersatu jadi khilafah islamiyah…..”?

Pancasila dan NKRI yg ada saat ini disepakai oleh tokoh muslim dari NU, MUHAMMADIYAH, dan MASYUMI.  Dianggap sebagai jalan tengah untuk menakomodasi persatuan Indonesia dari Sabang sampai Meurauke.  Para ulama saat itu harus menahan ambisi mereka mendirikan SYARIAT ISLAM demi mashlahat seluruh rakyat Indonesia.  Apakah ini bentuk kekalahan? Atau bentuk perjuangan yg belum selesai?  Atau ini justeru bentuk kearifan dan kebijaksanaan?

So, where are we?

Kita muslim, tidak menolak islam dan al quran.  Namun perlu diingat Indonesia yg kita cintai ini adalah buah perjuangan para ulama sampai titik darah pemghabisan.   Pancasila sebagai bentuk kompromi dan perjuangan para ulama harus dihargai, kita hanyalah seorang mutabi atau pengikut ulama.   Jika ada ulama Timur Tengah yg menawarkan KHILAFAH atau NII untuk Indonesia, dan ada ulama Indonesia yg menawarkan hidup berdampingan dg pancasila, maka siapa yg kita pilih? Ulama Timur Tengah mengeluarkan ijtihad dg melihat fakta relevan di negaranya, pun begitu ulama Indonesia.  Khilafah dan NII boleh jadi cocok ditawarkan di negara Timur Tengah, tapi belum tentu cocok untuk negara Indonesia.  Sebagai mutabi, dalam pilihan politik lebih baik bila kita taat pada ulama Indonesia terutama para kyai NU, karena mereka mengikhsas fakta berdasarkan kondisi faktual Indonesia, dan tentu hasil ijtihadnya cocok untuk Indonesia.  MENOLAK #kompromi dan #jalanTengah sesungguhnya bentuk keegoisan, jika ada gerakan yg menolak kompromi dan mendahulukan kepentingan golongannya daripada kepentingan umat yang banyak patutlah kita pertanyakan, “APAKAH MEMNG ISLAM MENGAJARKAN HAL TERSEBUT?” 

Advertisements

It’s Politics, be carefull!

“Andaikan Rasulullah saw hidup pada saat ini, apa yang akan beliau perbuat?”

Itulah yang senantiasa saya tanyakan dalam hati ketika menyikapi berbagai isu yang mengarah pada ajakan aksi.  Bagi orang seperti saya yang terbebas dari partai politik atau dari gerakan dakwah bernuasa politik adalah penting bertanya hal seperti itu sehingga dapat melihat segalanya dengan clear dan mantap dalam bersikap karena kekuatan hujjah.  Belajar kembali menggali “Siroh Nabawiyah” menjadi mutlak dalam kondisi seperti ini.

Bagi mereka yang menjadi anggota dari partai politik atau gerakkan dakwah, kemudian mereka meng-expose ayat2 dan siroh2 yang mendukung dan memperkuat opini mereka, hal itu adalah wajar.  Jika pun mereka mengajak dan mendakwahkan opini mereka dengan cara halus atau paksa, bagi saya adalah wajar-wajar saja, itu sudah menjadi gerakan politik dan dakwah mereka. Apa yang mereka lakukan semoga senantiasa menjadi sebuah kebaikan bagi islam.

Seorang ustadz Syekh Taqiyuddin An Nabhani semoga Alloh swt merahmatinya menuliskan adalah kita harus mampu melihat apa yang ada di balik dinding, adalah kita harus mempunyai kemampuan melihat di atas awan.  Ini bermakna kita harus memiliki sebuah pandangan yang holistik tidak hanya melihat semua makna yang tersurat dan tersirat. Jadi artinya kita memang dituntut memiliki kecerdasan di atas rata-rata untuk memahami semua kondisi.

APAKAH PERSATUAN UMAT ISLAM INDONESIA PERLU DIUJI? Tidak perlu menguji persatuan umat islam Indonesia.  Untuk seruan terkait rukun islam dan rukun iman kita mempunyai kekuatan yang luar biasa.  Berikut ini fakta-fakta umat islam indonesia:

  1. Setiap idul adha, berapa omzet ternak di Indonesia? Tak masalah bagi orang Indonesia ternak saat idul adha naik berlipat-lipat, dan semuanya tetap dibeli, karena alasan “ibadah”.
  2. Haji! Ya, Haji! Berapa rupiah yang harus dikeluarkan oleh seseorang untuk berhaji? 40-60 juta per orang, dan kita Umat Islam Indonesia rela menunggu sampai 10-15 tahun untuk pergi karena quota haji.  Tidak hanya mereka yang berkecukupan yang pergi berhaji, banyak juga mereka yang menyisihkan hasil sedikit usahanya yang tidak seberapa untuk memenuhi panggilan Alloh swt ini.
  3. Pada saat Ramadhan, sumbangan ta’jil dan zakat fitrah ditunaikan dengan baik.  Saat shalat id, berapa banyak ruas jalan dan lapangan yang digunakan karena membludaknya jamaat untuk shalat id?
  4. Hal-hal yang diberi label “halal” dan “syariah” di Indonesia lebih diminati umat islam daripada yang tidak berlabel, walau produknya sama halal-nya atau sama-sama tak melanggar syari’ah.
  5. Dan bagi umat islam indonesia, bersedeqah untuk kepentingan umat dan menolong sesama adalah hal prioritas.  Miliyaran rupiah bisa dikumpulkan umat islam indonesia dalam patungan membangun mesjid di negera Jepang.

Jadi masih perlu lagi menguji persatuan umat islam?

APAKAH DALAM ISLAM SEMUA HAL SELALU BERUJUNG PADA HUKUMAN FISIK…, TIDAK ADAKAH SELA UNTUK DIMAAFKAN? Mari kita ber-tafakur “Andaikan Rasulullah saw, hadir pada saat ini” Lalu terjadilah dialog fiktif seperti ini:

  • Muslim1: Ya, Rasulullah Si Fulan dia mengatakan “Bapak ibu tak usah khawatir, ini pemilihan kan dimajuin jadi kalau saya tidak terpilih pun..ini bapak ibu tak usah khawatir  nanti programnya bubar, tidak saya  berhentinya sampai oktober 2017, jadi kalau program ini dijalankan pun bapak ibu masih sempat panen sama saya.  Jadi saya ingin bapak ibu semangat, jangan nanti ganti gubernur programnya bubar. Enggak saya sampai Oktober 2017.  Jadi jangan percaya sama orang, bisa saja dalam hati kecil bapak ibu gak bisa pilih saya.  Iyakan dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macam-macam itu.  Itu hak Bapak Ibu, jadi kalau bapak ibu perasaan gak bisa pilih saya takut masuk neraka dibodohin gitu gak apa-apa tergantung pribadi bapak ibu, program ini jalan saja.  Jadi bapak ibu gak usah merasa gak enak dalam nuraninya gak bisa pilih Ahok, gak suka sama Ahok, programnya udah terima gak enak dong gue punya hutang budi, jangan nanti gak enak mati pelan-pelan kena stroke…..”
  • Rasulullah saw: lalu apa maksudmu?
  • Muslim1: Dia telah menghina Al Qur’an dengan perkataan yang ini, Iyakan dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macam-macam itu.  Itu hak Bapak Ibu, jadi kalau bapak ibu perasaan gak bisa pilih saya takut masuk neraka dibodohin gitu gak apa-apa tergantung pribadi bapak ibu.
  • Rasulullah saw: Jadi apa maumu?
  • Muslim 1: Aku mau dia dihukum ya Rasulullah saw.  Sungguh dia telah menistakan Al Qur’an.
  • Lalu datanglah muslim2 menghadap Rasulullah saw.  Muslim2: Ya, Rasulullah sesungguhnya dia sudah minta maaf, dia berjanji pada umat islam tidak akan mengulanginya lagi, sesungguhnya perkataannya itu karena kebodohannya semata, karena ketidaktahuannya, karena emosinya.  Tak ada niat dari dia melukai umat islam. Dia sudah mohon maaf.
  • Rasulullah saw: Jadi apa maumu hai muslim2?
  • Muslim2: “Saya mau dia dimaafkan saja…!”
  • Rasulullah saw: “…………………..”

Jika Rasulullah saw hidup pada masa ini, dan menghadapi persoalan seperti itu.  Kira-kira apa yang akan beliau putuskan?

___

back to fakta politik

Alhamdulillah aksi 212 berjalan damai, Pak Jokowi mampu tampil meredam aksi, diskusi ulama dan umaro mampu mengalihkan aksi dari Aksi Demo menjadi do’a bersama, dari gelar sajadah di sepanjang jalan menjadi gelar sajadah terlokalisasi pada area monas dan sekitarnya.  Apresiasi yang sangat tinggi buat umat islam dan para aparat.

Namun tampaknya aksi 212 belum memuaskan, terbukti setelah aksi 212 muncul provokasi seperti di bawah ini: Radio Dakta pada 2 Desember jam 1:59 men-tweet “Aksi 411 seperti thawaf, aksi 212 seperti Wukuf.  Kalau Ahok masih dak ditangkap SELANJUTNYA TINGGAL KITA LEMPAR JUMROH!!!”  dan twiit seperti ini pun menjadi viral.

img_0225img_0226

Bukan hanya itu, setelah aksi muncul juga “Ghirah mendirikan lembaga ibadah, ekonomi dan usaha 212” di sisi lain muncul tuntutan perdata 470M yang mengiringi tuntutan pidana penahanan Ahok, sebelumnya tuntutan hanya 240 juta terkait biaya2 yang sudah dikeluarkan oleh Habib Novel untuk urusan mengadukan Ahok, tapi kemudian membengkak jadi 470M setelah aksi 212.  Berdasarkan dua berita ini kita pun diberi peluang untuk mengkaitkan dua fenomena ini “Apakah mau mendirikan lembaga ibadah, ekonomi, dan usaha 212 dari dana 470M tersebut?”

Sampai di sini apakah kita dibuat puyeng dengan fenomena ini?  ya it’s politics be careful.

Jadi, bagi saya pribadi….sebagai seorang muslim yang tidak berafiliasi dengan partai dan gerakkan dakwah manapun serta tidak punya hajat politik, saya memilih kembali saja pada dunia profesionalisme.  “Belum banyak yang bisa disumbangkan bagi umat dan negara ini?” Jangan-jangan saat ini saya hanya mengerjakan rutinitas saja untuk diri dan keluarga, tanpa memberikan sumbangan berharga pada umat.  Wallohualam bi sawab.

____

Bagian 2: Beribroh pada siapa? #Think

Pada bagian sebelumnya sudah dibahas bagaimana perlakukan Rasulullah saw ketika menjadi Pemimpin di Madinah pada pengemis Yahudi yang buta, juga pada Abdullah bin Ubay [Yahudi, yang masuk islam].  Kepada keduanya Rasululloh saw tidak menghukum walaupun “Pengemis Yahudi BODOH ini melakukan penistaan kepada Rasulullah saw dengan kata-katanya, ‘Jangan Mau dibohongi Muhammad‘,  ‘Muhammad orang gila‘ dll“.  Lalu Abdulah Bin Ubay yang melakukan penistaan dengan mengatakan “Kaum mukminin dari kalangan muhajirin sebagai orang hina”.  Pengemis dimaafkan oleh Rasulullah saw, dia menghina karena kebodohannya.  Abdulah bin Ubay walau sering menghina dan menghalangi islam pun tidak dihukum karena jika dihukum akan timbul perpecahan di kalangan Masyarakat Madinah.

Kini kita beribroh pada kasus lainnya.

3.  Kasus Rasulullah saw menghadapi Ka’ab Bin Al Asyraf. [kisahnya ada di Sirah Nabawiyah, mohon maaf ya saya bahasakan ulang dengan gaya kekinian]

Kisahnya terjadi di Madinah, saat hukum Islam berdiri tegak.  Adalah …. Ka’ab Bin Al-Asyraf (ABA) seorang Yahudi Bani Nadhir nan gagah dan tampan seorang ahli syair. Apa dia lakukan?

  1. Dia membuat syair atau puisi yang menghina Rasululloh saw, ummu mukminin, shahabat, islam dan wanita muslimah.
  2. Dia datang ke Quraish, membuat syair menangisi korban perang Badr, menghasut Quraish untuk berperang melawan kaum muslimin dan Nabi Muhammad saw di Madinah. [Syair ABA mengobarkan perang Quraish vs Muslim]
  3. Dia menyiapkan pesta bersama kawan-kawan Yahudinya, dan berencana mengundang Rasulullah SAW, ketika Nabi SAW datang, teman-temannya diminta menjatuhkan Nabi SAW ke pangkuannya. [Ka’ab merencanakan pembunuhan Nabi SAW].

Bukan hanya membuat syair hinaan bagi muslim dan islam, tapi juga menghasut musuh untuk memerangi kaum muslimin dan islam, bahkan bermaksud membunuh Nabi Muhammad SAW. Rasulullah saw pun bersabda, “Siapa yang mau menghukum Ka’ab, sebab dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya”

Adalah Muhammad bin Maslamah (MBM) dkk, yang mengajukan diri memenuhi seruan Rasulullah SAW. MBM menggunakan taktik pura-pura tidak senang terhadap islam.

MBM: Orang itu (Nabi Muhammad SAW) mengharuskan kami bersedakah. Kami berat, boleh gak pinjam uang dari kamu.
ABA: Boleh, tapi harus pakai jaminan.
MBM: Jaminannya apa?
ABA: Serahkan isteri kalian padaku [wuihhh kurang ajar ya?]
MBM: Bagaimana mau menyerahkan padamu, nanti isteri kami tertarik padamu, kamukan gagah dan tampan.
ABA: serahkan anak-anak kalian saja kalau begitu!
MBM: Bagaimana mungkin kami menggadaikan anak-anak kami dengan sekuintal kurma. Gini aja deh, kami gadaikan senjata kami saja.
ABA: Ok, kalau gitu! Malam purnama bawa, saya tunggu di Benteng Bani Nadhir!

Adalah Rasulullah saw, was-was dengan rencana MBM dkk. Kalau gagal, maka MBM dkk lah yang akan terbunuh dan dibunuh oleh Kaab dan pasukan Yahudi di Benteng Bani Nadhir. Oleh karena itu sepanjang jelang rencana dilaksanakan tak hentinya Rasulullah saw bermunajat pada Alloh SWT.

Pada malam purnama, MBM dkk datang membawa senjata untuk digadaikan. ABA keluar rumah dengan rambut yang wangi. Abu Nailah (kawan MBM) berkata, “Wuih…harum banget nih pas Kaab Keluar” Kaab mesem-mesem, “Iya gue pake minyak rambut yang wanita arab pun gak ada yang bakalan punya! [Busyet deh, masih sombong aja ya?]. Abu Nailah membelai rambut Kaab, 1x, 2x dan yang ke-3x merenggut rambutnya keras seraya membekuk tengkuknya….dan terbunuhlah ABA.

#Refleksi: Rasulullah saw memerintah membunuh penista Nabi dan Islam, dikala derajat penistaannya tidak hanya menyangkut pribadi tapi juga membahayakan stabilitas negara bahkan jiwa Nabi Muhammad SAW.

4. Kasus Rasulullah saw menghadapi Abu Lahab

Abu Lahab, kisahnya diabadikan dalam QS. Al Lahab. Dia adalah paman Nabi SAW sendiri. Kisahnya terjadi saat Nabi SAW masih di Mekah, sebelum syariat Islam berdiri di Madinah.

Dia sangat menyangi Muhammad, sampai2 ketika Muhammad keponakannya lahir dia menyembelih dua kambing [Aqikah pertama dlm sejarah dilakukan Abu Lahab] dan membebaskan budak sebagai wujud kegembiraannya. Ketika Muhammad nikah dengan Khadijah, darinya ada dua anak tiri Ruqqayah dan Ummu Kulsum. Saking sayangnya pada keponakannya, dia pun menjodohkan Kedua anaknya dengan anak tiri Muhammad. 

Sikapnya berbalik 180 derajat, ketika Muhammad mengumumkan kenabiannya. Ketika pengumuman kenabian diberitakan pada penduduk Mekah, Abu Lahablah yang mengatakan “Gila, kamu muhammad” Padahal sebelumnya beliau diberi gelar Al Amiin (Orang terpercaya). Seperti diberitakan di QS Al Lahab, adalah Abu Lahab menggalang kekuatan melakukan penistaan berjamaan dengan menyebutkan “Muhammad orang Gila, Muhammad tukang Sihir, Ayat Qur’an itu buatan seorang Pendeta Nasrani bukan Firman Alloh SWT”. Bukan hanya itu isterinya pun Ummu Jamil pada malam hari memanggul kayu yang berduri untuk diletakkan di jalan2 yang biasa dilalui Nabi SAW. Sehingga bila Nabi SAW lewat pada malam hari/subuh akan terinjak kayu yang berduri itu dan terluka. Anaknya yang dijodohkan dengan anak tiri Nabi SAW pun diminta untuk cerai.

Inilah sikap Abu Lahab terhadap Baginda Nabi SAW:
1. Ringan tangan menyakiti Rasulullah Saw.
2.Bukan hanya dirinya yang memerangi Rasulullah Saw, ia pun melibatkan istri dan anak-anaknya. Satu keluarga telah terlibat.
3.Siap bekerjasama dengan siapapun demi menghabisi Rasulullah Saw, meski dengan setan sekalipun.
4.Baginya semua remeh dan enteng selagi itu untuk memerangi Rasulullah Saw, meski semua harta harus terbang melayang pergi.

___
Abu Lahab membenci Ajaran Islam yang dibawa Muhammad SAW. tak pernah berhenti memprovokasi masyarakat agar menjauhi Muhammad saw. Apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW pada pamannya ini? Apakah Nabi SAW meminta para pembesar Quraish untuk menghukum Si Abu Lahab? Apakah Nabi mengerahkan para shahabatnya untuk menuntut keadilan terhadap dirinya menggunakan hukum Quraish? Semuanya TIDAK, Nabi Muhammad SAW memilih bersabar tak henti menyadarkan pamannya ini bahkan Nabi SAW pernah memohon secara khusus pada Alloh swt agar menggerakkan hati pamannya ini terhadap Islam. Namun Abu Lahab adalah Abu Lahab….”Suara iman yang mengetuk hatinya diingkari, hanya karena keangkuhan dan kesombongan diri” …Nabi SAW berhenti dakwah pada Abu Lahab……sampai turun QS AL Lahab yang menjelaskan…
.سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.

#Refleksi5:Riwayat ini menjelaskan adalah proses natural jika ada cacian dan hinaan. Sebagai muslim…. sabar, do’akan, dan tetap melakukan yang terbaik, dan tidak berhenti mendakwahinya sampai terjadi kesetimbangan [bhs kimia].

 

Back to kasus Ahok, bagaimana saya harus bersikap? (Namanya juga #refleksi, saya tak hendak mempengaruhi siapapun].  Saya butuh fakta, berikut ini penggalan dari

“Bapak ibu tak usah khawatir, ini pemilihan kan dimajuin jadi kalau saya tidak terpilih pun..ini bapak ibu tak usah khawatir  nanti programnya bubar, tidak saya  berhentinya sampai oktober 2017, jadi kalau program ini dijalankan pun bapak ibu masih sempat panen sama saya.  Jadi saya ingin bapak ibu semangat, jangan nanti ganti gubernur programnya bubar. Enggak saya sampai Oktober 2017.  Jadi jangan percaya sama orang, bisa saja dalam hati kecil bapak ibu gak bisa pilih saya.  Iyakan dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macam-macam itu.  Itu hak Bapak Ibu, jadi kalau bapak ibu perasaan gak bisa pilih saya takut masuk neraka dibodohin gitu gak apa-apa tergantung pribadi bapak ibu, program ini jalan saja.  Jadi bapak ibu gak usah merasa gak enak dalam nuraninya gak bisa pilih Ahok, gak suka sama Ahok, programnya udah terima gak enak dong gue punya hutang budi, jangan nanti gak enak mati pelan-pelan kena stroke…..”

akses lengkap silahkan download disini: https://www.youtube.com/watch?v=N2Bn5JKTGkI

#Refleksi: Sebenarnya Ahok mau bilang, “Bapak Ibu gak pilih saya juga gak apa2 karena saya tahu bapak ibu punya keyakinan yang gak mudah diubah apalagi ini terkait dengan keyakinan terhadap Al Qur’an dan konsekuensinya di akherat.  Gak apa2 jangan merasa hutang budi sama saya

Tapi penyampaianya kasar….sehingga keluar “dibohongi pakai Al Maidah 51, dibodohin masuk neraka” [kata ini menyakitkan hati umat Islam tentu saja, termasuk juga saya].

Senin, 10 Oktober 2016 baca: AHOK MINTA MAAF [baca tribunnews.com, kompas.com]

 “Saya sampaikan kepada semua umat Islam, ataupun orang yang merasa tersinggung, saya sampaikan mohon maaf. Untuk semua pihak yang jadi repot, gaduh gara-gara saya, ya saya sampaikan mohon maaf,”  Balai Kota Jakarta, Senin (10/10/2016).

 

Kesimpulan:

Adalah Nabi Muhammad SAW memaafkan kebodohan pengemis Yahudi Tua.  Mengampuni Abdulah bin Ubay dan Abu Lahab yang terus menyerang Islam dan menyerahkan hukuman bagi mereka pada Alloh swt.  Adalah Nabi Muhammad SAW membunuh Ka’ab bin Asyraf karena syair dan provokasinya, Ka’ab tak pernah jera terus melakukan penghancuran melalui lisan dan provokasinya.  Adalah AHOK sudah meminta maaf pada umat islam, sudah mengakui kekhilafannya, dan menyesali perbuatannya.  Kemudian kita masih bersikeras? Cuma mau mengingatkan diri aja “Jangan sampai kebencian kita terhadap seseorang dan sesuatu kaum, menghalangi kita untuk berlaku adil terhadapnya”.

 

 

 

Bagian2: Beribroh pada siapa? #Think

Hiruk pikuk dunia perpolitikan mempengaruhi juga emosi umat islam.  Adalah demokrasi menjadikan pendapat mayoritas sebagai sebuah kebenaran sehingga kita lupa untuk merujuknya pada sumber hakiki.

Saya hanyalah sebagai seorang pembelajar yang mencoba mencari apakah kasus serupa yang dilakukan Ahok dengan mulut kotornya pernah terjadi di masa Rasulullah saw, dan bagaimana cara Rasulullah saw pada masa pemerintahannya atau pada masa beliau menjadi kepala negara di Madinah mengatasi masalah-masalah ini?

Kasus 1.  Menghadapi Abdulah Bin Ubay. 

ABDULAH BIN UBAY (ABU)” – Pada masa itu …dia adalah provokator, pernah memfitnah Ummu Mukminin Aisyah, dan mulutnya pun kotor menyebut kaum mu’min dengan orang hina, bukan hanya itu dia juga acapkali menjadi musuh dalam selimut bagi kaum muslimin, bershahabat tapi tujuannya menghancurkan kaum muslimin. [Catat: ABU ini adalah seorang publik figur.  Hampir saja dia menjadi Pemimpin di Madinah, ABU adalah seorang Yahudi yang pintar, sehingga masyarakat Yatrib percaya mampu menjadi pemimpin mereka, namun detik-detik terakhir pengangkatan gagal…. karena beberapa pemuka Yatrib (Madinah) bertemu Rasulullah saw dan memastikan bahwa Rasulullah saw adalah karakter yang cocok untuk memimpin kota mereka. ABU kemudian masuk islam, tapi…….munafik].

Umar bin Khattab mengatakan, “Ya Rasulullah kupenggal saja orang yang mengatakan ‘Akan kukeluarkan orang hina itu (orang mukmin) dari Madinah”

Rasululloh saw menjawab: “Tidak wahai Umar. Nanti apa kata orang bahwa Muhammad membunuh sahabatnya. Demi Allah tidak.”

Abdulah bin Abdullah bin Ubay pun menghadap Rasulullah saw “Jika engkau memang ingin membunuh ayahku ya Rasulullah. utus aku… utus aku sendiri… Betapapun aku mencintai ayahku.. tapi Allah dan Rasul-Nya lebih layak aku cintai daripada ayahku sendiri…”

Rasululloh saw menjawab, “Baiklah, berbaktilah kepada orang tuamu, ia tidak melihat darimu kecuali kebaikan.”

Tahulah Sang Anak bahwa Rasulullah saw memaafkan ayahnya.

Ketika Abdulah bin Ubay mati, anaknya Abdulllah minta menyolatkan ayahnya.  Umar melarang, tapi  sikap Rasulullah saw tetap baik, sampai2 menyetujui untuk mensholatkan jenazahnya, namun Alloh swt melarangnya dengan firmannya,

وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.

#Refleksi: Jadi seperti itulah Rasululloh saw memperlakukan publik figur yang memusuhi islam di dunia. Adapun diakherat terserah Alloh swt. 

Kasus 2:  Cara Rasulullah saw menghadapi pengemis yang selalu menghina beliau

Di sudut Pasar Madinah Al Munawarah ada seorang Pengemis Yahudi buta yg setiap hari selalu mengumpat,menghina, menjelekkan dan memaki Nabi Muhammad SAW dan apabila ada orang yg mendekatinya si pengemis selalu berkata :
“Wahai Saudaraku, kamu jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, DIA ITU PEMBOHONG, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya”

Namun setiap pagi Rasulullah SAW mendatangi si Pengemis dan tanpa berkata sepatah kata pun. menyuapkan makanan yg dibawanya. Nabi SAW melakukan perbuatan mulia itu kepada si Pengemis Yahudi buta hingga menjelang wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW TAK ada lagi orang yg membawakan makanan kepada si Pengemis buta itu.

Suatu hari Abu Bakar r.a. berkunjung ke rumah Aisyah, “Anakku, adakah sunnah Rasulullah yg belum aku kerjakan ?”.
Aisya menjawab: “Wahai Ayahanda…Engkau adalah seorang ahli sunnah, Hampir tdk ada satu sunnah pun yg belum Ayahanda lakukan, kecuali satu saja”. “Apakah itu, Aisyah ?”

“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar Madinah dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi yg buta yg berada disana” kata Aisyah.

Abubakar r.a. pergi ke pasar Madinah dengan membawa makanan.
Ketika Abubakar mulai menyuapinya, si Pengemis Yahudi buta itu marah sambil berteriak, “Siapakah kamu? Bukan…engkau bukan orang yg biasa mendatangiku dan menyuapi aku makan. Orang yg biasa mendatangiku dan menyuapi aku makan, apabila dia datang kepadaku, tidak susah tanganku ini memegang dan tidak susah mulutku ini mengunyah makanan. Orang yg biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tetapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya dan setelah itu diberikan dan disuapkannya kepadaku”

Abubakar tidak dapat menahan air matanya, Abubakar menangis sambil berkata kepada Pengemis Yahudi buta itu: “Aku memang bukan orang yg biasa datang padamu, aku adalah salah seorang dari Sahabatnya. Ketahuilah wahai Pengemis bahwa orang yg baik dan mulia itu kini telah tiada, orang yg mulia itu telah wafat. Orang yg baik dan mulia itu adalah Rasulullah Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam.

#Refleksi: Pengemis ini bermulut kotor, miskin, kafir pula.  Tapi adalah Rasulullah saw tidak menjebloskannya ke penjara, padahal pada saat itu Rasulullah saw kuasa untuk menjebloskan PENISTA RASULULLAH SAW ke penjara atau menghukumnya dengan hukuman cambuk atau hukum rajam atau hukum lainnya.  Yang Rasulullah saw lakukan adalah memaafkannya dan mengasihinya.

Begitulah cara Rasulullah saw memperlakukan orang-orang yang menghinanya baik dari kalangan publik figur maupun masyarakat biasa, baik dari kalangan kaum muslim (munafik) maupun dari kalangan kafir (Yahudi) . Dan ini adalah af’al Rasulullah saw, apakah kita berani mengingkari PERBUATAN RASULULLAH SAW?

Demikian saja, semoga kita menjadi orang-orang yang terus belajar, TONG KABAWA KU SAKABA-KABA, cek dan ricek, Tauladan yang paling baik adalah NABI MUHAMMAD SAW. Wallohualambisawab.

Negeri Kuali Asia #EduTravelling

um2

Sebenarnya kunjungan ke Malaysia kali ini untuk menghadiri International Conference, bukan untuk bahas sociocultural. Namun sisi sosiocultural Malaysia ternyata asyik juga ditelaah.

Negeri kuali Asia pantas disematkan pada malaysia.  Negara ini punya tiga ras yang saling bahu membahu membangun Malaysia yaitu China, India, dan Melayu.

Kalau kita jalan-jalan di Kualalumpur, kita akan mendengar sebagian cakap bahasa China, bahasa India, bahasa Melayu, dan bahasa Inggris.  Dan… jangan heran kalau Orang India gak bisa bahasa Melayu atau Inggris, dia hanya bisa bahasa India pun begitu dengan orang China.   (Gue bayangin kalau kejadian itu terjadi di Indonesia, orang China tidak bisa bahasa Indonesia, pastilah udah dituduh imigran gelap).

Nah, masuk ke hotel. Ups, hotel2 penuh! Rombongan China membooking kamar-kamar hotel, mereka adalah wisatawan dari China.  Sebenarnya rombongan wisatawan dari China bukan sekali itu saja saya lihat, di Jepang pun mereka banyak sekali.  Sekali memberangkatkan ada 20 orang untuk satu kloter, dan bisa ada 5-10 kloter loh berpapasan dengan kita. (Sekali lagi gue bayangin kalau kejadian ini terjadi di Indonesia, maka mereka akan disangka imigran gelap, punya tujuan tinggal di Indonesia. Ups padahal mereka sumber devisa kita ya?)

Begitu “terbukanya dada dan tangan” orang2 Malaysia terhadap China dan India membuat saya kagum.  Kalau YOU pergi ke universitas negeri di Indonesia, coba You hitunglah, berapa ras China yang mengisi jajaran akademik di universitas negeri? Ada 5% itu udah luar biasa, umumnya hanya 1-2 orang saja kan?  Tapi kalau you tenggok malaysia, maka jajaran akademik di universitas negeri maka You akan kaget, China-India memenuhi jajaran akademik universitas2…negeri.  Dan kita mungkin bisa saja berdalih, “Aih, itukan karena ranah akademik yang lebih open, kalau politik, mungkin tidak”.  Nah, silahkan you buka jajaran JAMAAH MENTERI MALAYSIA: KLIK DISINI  you akan lihat 17% anggota jamaah berethis China, dan nama mereka tidak mengalami naturalisasi, sehingga you akan lihat nama2 China macam ONG KA CHUAN, LOW SENG KUAN, SIEW KEONG, LIOW TIONG LAI ,  atau nama India macam S. SUBRAMANIAM.  

Siapa yang menyangkal “keberislaman budaya Malaysia?” Tapi keberislaman mereka ternyata mampu menghargai perbedaan lintas budaya dan mampu berbesar hati menerima kesamaam hak dan kewajiban sebagai WN.

Ok, back to Indonesia.  Akhir-akhir ini sebagian agama dan ras tertentu merasa lebih berhak atas Negara Kesatuan Republik Indonesia, atas Wilayah yang mereka tempati, sehingga mereka menutup peluang bagi beda agama dan ras lain untuk maju menjadi pemimpin daerah atau negera.  Aneka dalil dikeluarkan untuk menyatakan HARAM.  Ya, semua dalil itu memang bersumber pada kitab suci.  Kebenaran dalil dari Al Qur’an adalah benar adanya, sebagai muslim tak boleh membantahnya.  Namun, pertanyaannya, “Apakah konteks penerapan dalil tersebut cocok untuk Indonesia?” Indonesia adalah negara yang mendasarkan dirinya pada Demokrasi Pancasila (atau istilah beberapa kelompok mendasarkan pada SISTEM KUFUR bukan SISTEM ISLAM).  Lalu pertanyaannya, “Apakah pemimpin SISTEM KUFUR pun harus MUSLIM JUGA?”

Disinilah “nalar” kita berperan.  Islam adalah agama agung, namun sebagian orang memanfaatkan islam demi kepentingan politiknya.  Agama dijual demi mendulang suara.  Ketika prestasi lawan tak bisa ditandingi, maka MEMBAWA AGAMA dan ETHIS/RAS menjadi adalah jalan pintas yang digunakan mereka. Mereka melakukannya bukan semata-mata murni karena agama, tapi karena MENTAL MANUSIA KAPITALISME MATERIALISME DAN GILA KEKUASAAN.

Bukan hanya di Indonesia, di USA pun sama kok! Masih ingat kampanye agama/ras pada Obama? Yap, tuduhannya adalah “Obama Muslim, Obama AfroAmerican, gak layak jadi pemimpin USA yang mayoritas kristen dan orang kulit putih/CaucasianAmerica”.   Ok, mirip kan? Mirip sama Lu pada yang mengatakan “Ahok kristen, Ahok ChinaIndonesia” gak layak jadi pemimpin Jakarta yang mayoritas Islam dan MelayuIndonesia

#sekian saja! Let’s Think, daripada Nothing#

HOT TOPICS #ahok #pancasila #kapitalis #komunis #khilafah

Udah lama gak nonton TV dan aneka beritanya, hanya denger lewat radio dan baca beranda FB yang di-share beberapa teman saja.  Tampaknya dari media yang saya ikuti, hal yang banyak di-share adalah:

#AHOK

Jelang PILKADA makin memanas, apapun kebijakan Ahok saat ini selalu dijadikan ISU dan digiring opini masyarakat kearah negatif.  Misalnya kebijakan pengurusan KTP tanpa melalui RT dan RW yang bertujuan memangkas jalur administrasi dan juga memangkas pungli dianggap sebagai jalan memuluskan imigran cina menjadi WNI.  Provokasi yang #KOPLAK dan #BODOH kalau menurut saya.  Karena lurah dan pegawai kelurahan sebagai PNS di-sumpah oleh negara untuk mentaati aturan negara.  Lalu muncul grup “GMJ – Gubernur Muslim untuk Jakarta” grup yang aktif mensosialisasi kandidat Muslim dan membuat kampanye negatif untuk rivalnya AHOK.  Lalu seruan remaja untuk tes HIV AIDS diklaim sebagai pelegalan sex bebas, dan ditudinglah AHOK YANG KRISTEN membolehkan SEX BEBAS, begitulah jika NON MUSLIM melegalkan sex bebas.  Kampanye anti “RAS dan AGAMA” tertentu mewarnai beranda facebook saya.

#PANCASILA

1 Juni adalah hari lahir pancasila.  Biasanya yang banyak diperingati dengan upacara kebesaran hari 1 oktober sebagai hari kesaktian pancasila.  Apakah Pancasila tidak begitu sakti lagi? Hemmm…. Mari kita diskusikan!

Kesaktian pancasila akan teruji, jika pancasila DILAHIRKAN sebagai sebuah ideologi negara.  Apakah pancasila sebagai sebuah ideologi?

Saya ingat ketika SMA guru PMP SMA saya menyuruh kita membandingkan dalam bentuk tabel antara Pancasila, Liberalisme/Kapitalisme, Komunisme/Sosialisme, dan Islam.

Liberalisme/Kapitalisme mempunyai ciri DEMOKRATIS, saya yang sekolah jaman Mbah Harto gak kebayang demokrasi itu seperti apa.  Tapi kita tahu dari Dunia Dalam Berita setiap pemilihan presiden AS ramai sekali.   Orang boleh milih presiden bukan sekedar partainya.  Jadi demokrasi bermakna adanya “KEBEBASAN MEMILIH”.  Menurut butir pancasila azas demokrasi itu merupakan azas sila yang ke-4 “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”

Komunisme/sosialisme mempunyai ciri “Satu untuk semua semua untu satu” atau adanya keadilan sosial, tidak ada jurang antara si kaya dan miskin, semua diperlakukan dan difasilitasi secara sama.  Menurut pancasila azas keadilan sosial pun ada dalam sila ke-5 yaitu “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Islam: hal yang menjadi ciri penting dari islam adalah “Semua aturan haruslah disandarkan pada Kitabullah yaitu al qur’an dan hadits” tidak boleh satu titik pun aturan yang dirujuk selain dari kekuatan dalil.  Kekuatan akan harus diupayakan untuk mampu berijtihad mengeluarkan produk hukum bagi kemashlahatan dan sumber rujukan untuk ijtihad Al Qur’an, Hadits, Ijma Shahabat, dan Qiyas.  “Ketakwaan sistem” yaitu mengikuti apa yang diperintahkan Alloh swt dan Menjauhi apa yang dilarangNya.  Namun, ternyata ciri ini pun ada dalam pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa”

Jadi, pancasila itu gabungan dari Liberalisme/Kapitalisme ditambah komunisme/sosialisme, dan islam?  Hemm saya bukan pakar untuk menjawabnya yang jelas mah pancasila sebagai sebuah IDEOLOGI mencoba memahami multi-ideologi yang ada dalam benak rakyat indonesia agar bisa hidup secara “kemanusiaan yang beradab” dan bersatu untuk tetap menjaga “Persatuan Indonesia”.   Jadi Pancasila?  Pancasila sebuah ideologi yang KHAS.  Ideologi GADO-GADO, citra rasa gado2 dengan aneka sayuran dan umbian disatukan dengan bumbu kacang….dehh nikmat kan?

Back to Pancasila.  Ok, kesepakan bersama semua rakyat Indonesia termasuk para pendiri saat itu tidak memilih GALUR MURNI dari syariat islam atau sosialisme atau kapitalisme untuk menjaga kepentingan Indonesia yang multikultur multiethnis multiagama.  LOGISKAH? mari kita pikirkan!

Indonesia mayoritas memang beragama muslim 80-90%, namun keberadaan non muslim misalnya kristen dibeberapa propinsi mayoritas.  Misalnya di NTT, Sulsel, Sumut, Papua mayoritas beragama kriten, juga di Bali ya mayoritas beragama Hindu.  Kalau syariat Islam yang diterapkan maka wilayah-wilayah tersebut sudah pasti akan memisahkan diri dari Indonesia.  “PERSATUAN INDONESIA AKAN RETAK???”  Saya pikir bapak2 pendiri Indonesia lebih mengutamakan Persatuan Indonesia dan melunturkan EGO agama mereka demi hidup dalam tatanan KESATUAN INDONESIA.

Back to #Ahok.  Dengan pemilihan ideologi pancasila sebagai ideologi negara indonesia, maka setiap ethnis, agama, dan ras punya kesempatan yang sama untuk dipilih dan memilih.  Termasuk Ahok yang Kristen dan keturunan Cina, karena dia WNI. Tidak ada salah dan tidak bersebrangan dengan pancasila.  Pun begitu warga jakarta punya kebebasan memilih siapa saja tanpa pandang agama dan ras, karena itu legal secara ideologi pancasila.

__

Bagaimana dengan yang muslim? Islam adalah agama sekaligus ideologi.  Islam punya tata aturan yang lengkap pun termasuk dalam memilih pemimpin.  Seorang pemimpin negara islam wajib dipilih dari kalangan muslim, baligh, mujtahid lebih utama, adil, …  Semua syarat ini ada karena dalam negara Islam, seorang pemimpin haruslah menjalankan syariat islam dalam kepemimpinannya.

Sayangnya Indonesia bukan berdasarkan Syariat Islam dan bukan negara Islam, Indonesia hanyalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak, sehingga syarat kepemimpinan sesuai syariat islam ini menjadi tidak ada dan tidak berlaku di Indonesia.  Bagaimana dengan mereka Muslim yang ingin melaksanakan syariat Islam dalam memilih pemimpin? Ya, wong….negaranya aja bukan negara islam, bukan negara berdasarkan syariat islam. Lalu sebagian mengatakan “Dari pada tidak sama sekali, ya minimal adalah dari kita yang muslim yang jadi pemimpin?” — Kalau motif-nya ini ini bukan motif dan dorongan agama bukan motif keridhaan alloh swt, ini motif INGIN BERKUASA dengan memanfaatkan perasaan KESAMAAN AGAMA.  Ini motif “EGOIS” motif “KEPENTINGAN KELOMPOK” bukan motif kepentingan BANGSA DAN NEGARA.

Lalu kalau dasarnya murni islam bukan sekedar NALURI BERKUASA atau PUNYA KEPENTINGAN KELOMPOK & EGO apa yang dilakukan?  Bagaimana pun gak mungkinlah memaksakan islam dalam negara pancasila.  Kalau tetap mau memaksakan islam lebih baik mendirikan dulu negara islamnya.  Dan bagi yang demikian punya cita2 “merelealisasikan syariat islam dalam kehidupan termasuk memilih pemimpin” maka mereka itu lebih baik menyatu dengan mereka yang meyerukan #Khilafah Islamiah, mereka akan berada di luar sistem pemerintahan sah, mereka akan terus melancarkan perang pemikiran [bukan perang fisik dan teror] dengan tujuan agar masyarakat mau dengan sukarela mengadopsi pemikiran mereka.  Ketika ada masyarakat mayoritas di suatu negara punya keinginan “MENGUBAH IDEOLOGI NEGARA-NYA” karena masyarakat sudah rindu dengan keindahan ideologi islam, maka IDEOLOGI INI DITAWARKAN UNTUK DITERAPKAN.  Walaupun tujuan dari dakwah KHILAFAH ini hendak menggeser pancasila dari Indonesia, Saya pikir itu jauh lebih baik, lebih elegan, lebih FAIR FIGHTING dibandingkan dengan mereka yang MASUK KE DALAM SISTEM PEMERINTAHAN PANCASILA, dan mereka punya tujuan MENGOBRAK-ABRIKNYA DARI DALAM.  Mereka yang seperti itu ibarat MUSUH DALAM SELIMUT, muka mereka bisa mendua-mentiga-mengempat….  bagi ideologi sebuah negara, PENYUSUP seperti ini jauh lebih berbahaya daripada mereka yang jelas-jelas berada di luar sistem.  PENYUSUP seperti ini mengacaukan sistem yang ada.

 

#KESIMPULAN

Kesimpulan pribadi saya sih……[terserah anda setuju apa tidak…….bukan untuk diperdebatkan]:

Anda muslim? Anda SELALU ingin dan SENATISA MENGHARUSKAN DIRI dipimpin oleh muslim? Maka pikirkan untuk bergabung dengan gerakkan dakwah yang menyerukan penerapan islam secara kafah, penerapan islam secara kafah hanya bisa terealisasi dengan menerapkan negara Islam/Khilafah Islamiah.  Dirikan dulu negara ISLAM-nya, barulah anda bisa melaksanakan syarat memilih dan dipilih sesuai syariat islam.

Ingatlah jika Anda MUSLIM INDONESIA yang tinggal di Eropa, Singapore, atau Jepang, anda pun merasa damai bukan?  Padahal negara2 itu dipimpin oleh Non Muslim dipimpin oleh ideologi NON ISLAM? Mengapa anda tidak menuntut negara tersebut untuk dipimpin oleh muslim juga? Ini tentu karena kita sadar bahwa negara tersebut menggunakan ideologi Non Islam? Dan Anda pun harus sadar bahwa Indonesia pun menggunakan ideologi NON ISLAM!

Lalu Anda muslim? Anda ingin hidup damai dimanapun anda berada? Maka anda harus berdamai dengan Ideologi Negara tersebut. Mulailah melihat sosok yang akan memimpin daerah dan negara dari sisi “KEINDONESIAN DAN KAPASITAS KEPEMIMPINAN” bukan lagi terkotak pada Muslim-Non Muslim.

#Just think and write, although you will think it’s nothing#