Mengapa orang tua dan orang dewasa tidak melarangnya?

Kejadiannya kemarin ketika kita meeting di Hotel bilangan Serpong bersama funding progaram dari Jepang.  Hari minggu hotel ada kegiatan wedding.  Ruang meeting di lantai 2 hanya diisi kita, sementara wedding berlangsung di bawah.  Selazimnya acara meeting di sebuah hotel, maka peserta meeting akan disuguhi coffee/tea break para jam 10.00-an.  Pada hari itu, suasana di ruang meeting memang sepi, karena sebagian peserta meeting siang itu belum kembali dari kunjungan ke lokasi sekolah salah satu peserta meeting di bilangan pondok cabe.

Pada hari ini diagendakan acara kunjungan ke sekolah di bilangan Pondok Cabe.  Ada sebagian peserta yang tidak ikut kunjungan, termasuk ketua funding dari Jepang, yang memilih menyelesaikan pekerjaannya di ruang meeting.  Saya termasuk peserta yang ikut menemani sebagian delegasi untuk melihat-lihat sekolah.  Kebetulan mobil yang kami tumpangi terbilang cepat untuk kembali, dan saya pun masih bisa melihat bahwa di koridor meeting kami ada 3 orang anak yang sedang diasuh oleh baby sisternya.  Anak-anak itu berusia antara 4-6 tahun.

Teman kami dari Jepang yang sedari pagi mengerjakan pekerjaannya di ruang meeting, selepas kami beranjak makan siang, melemparkan pertanyaan pada kami “Tadi itu ada anak-anak, dia ambil makanan di koridor ruang meeting yang diperuntukan untuk kita peserta meeting.  Anak-anak itu bolak balik mengambil makanan, Mengapa orang dewasa yang ada di sana tidak melarangnya?”

Saya yang sempat melihat ketiga anak dan baby sisternya mengiyakan ada tiga anak.  Teman Jepang kami mendesak jawaban, mengapa orang dewasa membiarkan mereka.  Jawaban yang muncul dari kami pun bermacam-macam.  Mulai dari analisis bahwa pembantu bersifat permisif….tidak berani larang-larang anak majikan.  Cara mendidik orang tua yang jelek.  Dan teman kami masih bertanya, “mengapa orang dewasanya di sini diam saja, membiarkan anak2 itu mengambil makan yang bukan untuknya, tidak melarangnya?”

Tertegun saya….

Tapi kemudian saya merefleksi, ada KARAKTER BANGSA INDONESIA yang melekat dan ini menjadi KESALAHAN FATAL DALAM PEMBENTUKAN MORAL DAN KARAKTER ANAK, kesalahan tersebut yaitu:

  1. BIARKAN SAJA NAMANYA JUGA ANAK-ANAK! Kita sering sekali memaklumi sikap moral anak-anak yang tidak baik dengan dalih mereka anak-anak.  Misalnya, mereka mengambil makanan yang bukan haknya seperti di ruang meeting itu, tanpa malu tanpa izin maka orang-orang dewasa Indonesia ditempat itu hanya akan berkomentar “Namanya juga masih anak”.   Pendidikan moral akan menjadi karakter ketika ditanamkan sedari dini.  Walaupun mereka anak2, perbuatan mereka mengambil tanpa izin tetaplah perbuatan hina.  Jika anak2 tidak dibiasakan memilih mana barang milik kita yang boleh dimakan atau dipakai kita dan barang milik orang lain yang gak boleh dipakai sebelum meminta izin, maka bagaimana kelak ketika mereka dewasa???
  2. INI ANAK GUE! Orang tua indonesia sering sekali arogan, ketika anaknya melakukan kesalahan ada tetangga yang menegur si anak, maka yang akan sakit hati adalah orang tuanya.  Ini juga yang jadi bahan pertimbangan mengapa banyak orang dewasa membiarkan anak2 orang lain menyimpang dengan alasan “Kalau anaknya diomelin ntar orang tuanya marah2 ama kita, udah biarin aja dari pada konflik”  Padahal jelas sekali “saling menasehati dalam kebjikan dan kebenaran” itu tidak dipilah-pilah pada anak siapa dan usia berapa.  Ketika melihat sebuah kesalahan maka “Ubahlah dengan tangan dan lisan……dan hanya orang-orang lemah yang melakukannya dengan hati-ketidaksetujuan dengan perbuatan tersebut”.  Dan orang tua seyogyanya berterima kasih, bukan malah sebaliknya membenci orang yang menasehati anaknya.  Anak siapapun adalah anak-anak Indonesia yang akan meneruskan Indonesia di masa depan.  Jadi, kenapa harus berpikir EGOSENTRIS.

Dua hal di atas tampaknya menjadi kesalahan terbesar bangsa kita dalam mendidik anak dan memperlakukan anak2.  Tidak ada salahnya kita refleksikan diri untuk memperbaiki kesalahan ini.

Advertisements

Anak sebagai sumber investasi???? #ThinkAgain

Pagi ini saya baca diskusi di posting teman tentang REFLEKSI “haji”, ia menuliskan sebuah kisah:

“Seorang nenek berusia 70 tahun, sebagai IRT ia menggiring anak-anaknya hingga semua bisa sekolah dan dewasa, ibu dan nenek ini tak pernah meminta apapun dari anak-anaknya secara materi.  Ketika ditanya mengapa begitu, “Biarlah pahala membesarkan mereka akan diterima dengan utuh” lama hal itu berjalan, sampai suatu saat  ketika ekonomi anak-anaknya itu telah stabil, anak-anaknya tanpa janjian terlebih dahulu memberikan dana dengan jumlah yang bebeda-beda dan mengatakan pada ibu mereka agar dana itu dapat digunakan untuk naik haji”.  Si nenek bercerita pada ustadazah tempat pengajiannya, saya lihat cucu-cucu saya tumbuh dengan baik. sehat dan shaleh, tahun depan kelihatannya enak jika saya naik haji”

 

komentar yang berdasarkan sebuah kisah itu menyentak hati! Kenapa? karena kita sering menganggap anak sebagai sebuah investasi dan anak dikenai kewajiban “MULANG JASA” (BALAS BUDI).  Sebagai orang tua frame ini lekat sekali, sehingga si ortu menuntut anak untuk mengirimkan biaya bulanan sampai dengan tuntutan menghajikan, terkadang ortu tidak melihat bagian dalam si anak kalau ekonominya masih pas-pasan.  Dan ini kesalahan FATAL dari orang tua!!!

Kita sebagai ortu diamanahi anak-anak sebagai bagian ibadah kita kepada alloh swt, dan ketika kita berhasil membawa anak2 menuju kedewasaan dengan bekal ilmu yg mumpuni untuk hidup mandiri, maka pada saat itu amanah itu tertuntaskan, lalu siapa yang membayar semua pengorbanan harta, waktu, pikiran, dan tenaga untuk anak-anak kita??? BUKAN ANAK KITA YANG HARUS BAYAR, tetapi alloh swt saja yang bayar!

So, sebagai ORTU kita harus punya paradigma “ANAK ADALAH AMANAH ALLOH SWT, BUKAN OBJECT INVESTASI”