Bagian III: Menjadi orang berkarakter dan berbudaya di Jepang

08_04_18 13.30 Office Lens

Bagian III dari buku ini karya teman saya Murni Ramli ini membahas tentang teknologi, pendidikan, dan karakter moral.  Bahasan disajikan dalam 10 bab mulai bab 7 sampai dengan bab 17.

Tentang teknologi, hal yang menarik dikemukan oleh penulis adalah “Jepang menyiapkan dahulu budaya sebelum membangun infrastruktur dan teknologi. Pada zaman Edo masyarakat Jepang melakukan revolusi mental menciptakan sosok berdisiplin tinggi dalam penggunaan waktu, kerja keras, dengan karakter seperti ini lahirlah teknologi seperti pedang, keramik porselin, boneka robot dan lainnya. Namun teknologi juga mengubah budaya masyarakat Jepang.  Misalnya bagaimana kehadiran shinkansen telah mengubah pola hidup masyarakat menjadi serba cepat, mengakibatkan pola makan juga serba cepat, waktu makan dipercepat menjadi 10-15 menit agar pada siang hari, pada saat jam kerja tidak mengantuk.  Pola hidup serba cepat memerlukan kepraktisan, berdasarkan kebutuhan ini lahir teknologi baru yaitu makanan serba instan.

Bagaimana warga Jepang bisa menjadi warga negara yang tertib? halaman 202 penulis menuliskan “Tahun 1960-an, awalnya penerapan hukum lalu lintas dilakukan dengan kekerasan misalnya dengan menampar atau memukul warga yang melanggar.  Hukuman keras dihilangkan ketika masyarakat Jepang terbiasa mematuhi aturan.  Kepatuhan atas aturan ini juga dicapai karena proses pendidikan moral dan karakter dimasukan ke sekolah.

Bagaimana pendidikan moral dan karakter dibelajarkan di sekolah? Bagaimana semesta mendukung moral dan karakter peserta didik? Penulis memaparkan sebagai berikut:

  1. Tiga dimensi pendidikan di Jepang: tubuh-jiwa-otak.  Ketiga dimensi diberikan, namun tidak rata, diberikan sesuai tingkatannya. Makin tingkat atas porsi makin besar untuk otak, makin tingkat bawah porsi lebih besar untuk tubuh.  Ini sebabnya di tingkat TK anak-anak lebih banyak bermain olah raga dari mulai naik titian, meloncati penghalang, dan gerak fisik lainnya.
  2. Pendidikan prilaku dilakukan dengan pembiasaan, mengucap sambil mengerjakan,  mengapa dilarang-mengapa harus begini, menempel slogan, life skill… (pada halaman 292-293 penulis menyajikan tabel tema2 pada pelajaran life skill untuk SD), budaya membaca (jangan kaget satu bulan buku siswa Jepang membaca lebih dari 16 buku per bulan).  Buku biografi tokoh merupakan buku yang banyak ditulis untuk membangun karakter.
  3. Karakter di mulai dari orang dewasa.  Orang dewasa menjadi contoh bagi anak-anak.  Anak-anak dan orang dewasa mempunyai pemahaman yang sama.  Pemahaman didasarkan pada manfaat yang mereka rasakan yaitu kenyamanan.  Jika anak dan orang dewasa di Jepang ditanya “mengapa harus antri?” jawaban mereka karena kalau tidak antri akan merugikan orang lain dan suasana menjadi kacau.  Mengapa harus bersih? karena bersih membuat mereka tidak cepat sakit dan sakit membuat mereka menderita karena tidak bisa beraktifitas.  Tidak ada jawaban anak dan orang dewasa yang menyebutkan karena alasan agama atau peraturan, semuanya atas kesadaran dan manfaat yang mereka rasakan.
  4. Fasilitas mendukung pembangunan karakter. Tidak ada fasilitas umum yang dicorat-coret oleh warga, karena di setiap fasilitas dipasang CCTV sehingga pelaku dan perusak fasilitas umum akan mudah dibekuk polisi.  Karakter 3R muncul karena setiap tempat umum disediakan tong sampah 4 jenis.
  5. Sistem kemasyarakatan yang berjalan sangat baik.  Supaya masyarakat antri ketika masuk kereta, maka jalur-jalur penanda antrian dibuat dan kereta berhenti tepat di jalur-jalur tersebut tanpa meleset sedikitpun.
  6. Orang sekampung turut bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak. Ada kegiatan dimana para orang tua membuat komunitas membantu anak-anak agar dapat bersekolah dengan baik.  Misalnya komunitas ini membantu anak yang terlihat kurang sehat di sekolah, ternyata anak tersebut tidak pernah sarapan karena orang tuanya pergi bekerja pagi-pagi sekali.

Halaman 327-347 menceritakan lebih menarik bagaimana studi kasus untuk contoh-contoh pembelajaran karakter ini di sekolah.

Pada persekolahan penulis juga menjelaskan kurikulum di Jepang dan bagaimana rapor di Jepang yang bersifat kualitatif terutama di tingkat dasar, tidak ada nilai-nilai yang berupa angka.  Rasanya membaca sendiri bukunya lebih menarik karena disertai dengan contoh-contoh, sayangnya paparan dari beberapa deskripsi tersaji tersebut akan sulit terbayangkan jika kita sendiri belum pergi ke Jepang dan melihat langsung kehidupan di sana.  SELAMAT MEMBACA DAN MENIKMATINYA!

Bagian II: Menjadi orang berkarakter dan berbudaya Jepang

08_04_18 13.30 Office Lens

Ini bagian kedua dari tulisan pertama, bagian kedua akan membahas bab 4-6 pada buku karya Murni Ramli.  Bagian ini akan membahas dari aspek geografi dan sosial masyarakat Jepang.

Kita senantiasa berpikir bahwa penduduk Jepang itu cuma sedikit, padahal penduduk jepang itu 1/2 dari penduduk Indonesia loh, yaitu sekitar 127 juta terbagi menjadi 47 prefecture (Indonesia sekitar 250 juta, terbagi dalam 34 Propinsi), dengan 5 pulau besar (Hokaido, Honshu, Shikoku, Kyushu, dan Ryuku) dengan 35.000 pulau kecil (Indonesia punya 14 pulau besar dengan jumlah pulau kecil 17.503).

Ada tiga suku di Jepang yaitu Yamato (dominan), Ainu, dan Ryukyuan.  Kita dulu mengenal orang Jepang orang kate karena pendek2, Murni Ramli pada bukunya halaman 105 menuliskan pada masa sekarang rerata lelaki jepang umur 30 mempunyai tinggi 171,4 cm sedangkan wanitanya 158 cm (Lebih tinggi dari hasil penelitian tinggi lelaki Indonesia tinggi 162,4 cm dan perempuan 151, 3 cm).

Orang Jepang selain karakter fisik yang hampir sama, juga mempunyai karakter sikap yang sama.  Baik berdasarkan opini kebanyakan orang yang bergaul dengan orang Jepang, maupun pada faktanya beberapa sikapnya adalah: jujur, disiplin, detail dalam berkarya, tidak mau merepotkan orang lain, dan pekerja keras.  Pertanyaan kita kemudian apakah ini sikap atau tingkah laku yang lahir secara genetis? Bukan! Penulis memaparkan pada halaman 111 pada zaman Edo, Taisho, dan Meiji orang Jepang ternyata bukanlah komunitas disiplin dalam bekerja, Misthubishi melaporkan tahun 1898 tingkat absensi diperusahannya 21%.  Menghargai waktu,  pada era sebelum perang Jepang juga sama dengan Indonesia, kereta sering terlambat.   Penulis memaparkan disinyalir kebiasaan ini muncul karena pameran tepat waktu dan efesiensi yang silakukan oleh Toyko Educational Museum.  10 juni 1920 ditetapkan secara nasional waktu dalam sehari.  Ada beberapa sifat lain orang Jepang diantaranya adalah tertutup (uchigawa & sotogawa), senioritas, menjaga perasaan lawan bicara … ada hal yang menarik dari sikap orang jepang yaitu:

Mencintai keharmonisan, kondisi damai, dan tidak suka konflik diistilahkan dengan heiwa. Sikap ini menjadikan orang Jepang tidak suka jika dalam suatu tim ada yang merasa lebih unggul dan dia mau menunjukkan diri unggul dengan menganggap teman lainnya saingan atau berkompetisi.  Orang semacam ini akan membahayakan keharmonisan tim, sehingga harus diketok dalam pepatah jepang ada istilah “deru kui wa utare” [paku yang menonjol harus diketok]. Efek dari ‘heiwa’ ini mereka menjadi orang yang rendah hati dan sederhana. Bukan pemandangan aneh para dosen di Jepang menggunakan sepeda ke Kampus, kecuali dosen yang rumahnya berbeda kota. Menggunakan tas yang sudah ditambal berkali-kali karena robek.  Tidak hanya para dosen, sikap sederhana juga ditunjukkan oleh para anggota dewan di Jepang.  Kursi-kursi yang mereka gunakan melapuk dan menua, warna sandaran dan tempat duduk punsudah memudar. Semua dibiarkan saja dari sejak gedung parlemen berdiri, mungkin ini menjadi bukti bahwa mereka benar2 memperjuangkan rakyat.

Tampaklah bahwa sikap bekerja masyarakat Jepang bukan lahir dari genetik, namun sebuah proses yang panjang membentuk sikap tersebut.  Paling tidak sejak revolusi Industri atau perang dunia mereka menginisiasi sikap bekerja disiplin, menghargai waktu, dan bekerja semangat.

Beberapa sikap lainnya lahir dari agama Budha atau ajaran Kong Hu Chu seperti heiwa, hidup sederhana, dan menjaga perasaan orang lain.  Ada juga sikap yang memang lahir secara naluriah misalnya senioritas dan tertutup.

Namun beberapa sikap orang Jepang pada generasi milenia beberapa mulai memudar, misalnya sifat sederhana dan gambarimasu (kerja keras).  Generasi di Jepang pada zaman milenia penulis membaginya menjadi 8 generasi yaitu posmo, ojoman, arubaito, komunitas terpelajar, diam & cuek, konsumtif, otaku, dan neet & Freeter. Tentang kondisi sosial generasi milenia ini diuraikan panjang lebar pada halaman 171-192.

To be continue ke bagian III tentang Teknologi dan Pendidikan di Jepang.