Cerita Moral 02 #光学校

#Tebarkan Kebaikan#

Kelas yang baru, teman yang baru.  Beberapa teman sekelas Budi adalah teman lama, tetapi banyak juga teman baru. Salah satu teman baru Budi bernama Dimas. Dimas berasal dari kelas Cut Nya Dhien, sedangkan Budi berasal dari Kelas Ngurahrai.  Kini mereka sama-sama berada di kelas Patimura.

Guru  memotong cerita di sini.  Di sekolah Dimas dan Budi, kelas menggunakan nama pahlawan nasional.  Tanyakan pada peserta didik, siapa itu Cut Nyak Dhien, I Gusti Ngurahrai, dan Patimura? Ceritakan pula sedikit kisah mereka pada peserta didik.

Dimas bertubuh gempal.  Pipinya gendut kemerahan seperti buah tomat.  Ada sekelompok anak yang memanggil Dimas dengan julukan “Si Muka Babi”.  Sekelompok anak lainnya di kelas memanggilnya dengan “Kingkong”.

Guru mememotong cerita di sini.  Tanyakan pada peserta didik bagaimana perasaan mereka jika menjadi Dimas?

Budi tetap memanggil Dimas dengan Dimas.  Budi tidak mau ikut-ikutan memanggil dengan nama julukan yang tidak baik.

Guru memotong cerita di sini.  Tanyakan pada peserta didik, bagaimana perasaan mereka terhadap sikap Budi?

“Dimas, aku mau tanya sesuatu!” kata Budi pada Dimas suatu hari.  “Tanya apa Sobat?” Jawab Dimas.

“Gini, kamu senantiasa dipanggil dengan julukan-julukan yang kurang baik.  Perasaan kamu bagaimana?” Tanya Budi.

“Aku sebetulnya sedih, mereka menjulukiku dengan nama-nama bintang.  Tapi kalau aku marah sama mereka nanti aku tak punya teman. Jadi aku memilih membiarkan mereka seperti itu” jawab Dimas.

Guru memotong di sini.  Tanyakan pada peserta didik, “Bagaimana sikap Dimas? Tanyakan juga bagaimana mereka jika teman-teman menjulukinya dengan julukan yang tidak disukai?”

Budi berpikir keras, “Apa yang bisa dia bantu untuk menolong Dimas?”  Budi ingin teman-temannya tidak memberikan julukan-julukan yang jelek pada Dimas.

Guru memotong cerita sampai di sini.  Tanyakan pada peserta didik, “Ide apa yang mereka pikirkan jika posisi mereka seperti Budi ingin menolong Dimas dan menyadarkan teman-temannya”

Siang itu Budi berkata pada Dimas.  Dimas aku ingin membuat teman-teman kita tidak mengejek kamu lagi.  Besok aku punya sebuah rencana, tapi maaf berdasarkan rencana aku, aku akan menyebutmu “muka babi”,  maafkan aku besok ya!

“Tidak apa-apa Sobat! Jika nanti rencanamu berjalan baik, apakah kamu yakin aku tidak akan diejek oleh mereka lagi?” Kata Dimas.

“Semoga, tidak!” Kata Budi

Esok harinya, Budi membicarakan permasalahan teman-temannya terhadap Dimas pada ibu guru.  Budi pun meminta izin kepada ibu guru untuk melaksanakan rencana yang telah dibuatnya.  Ibu guru menyetujui rencana Budi.

Setelah jam istirat makan, bu guru berkata, “Anak-anak, hari ini ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Budi.  Budi silahkan ke depan!”

Budi maju ke depan.  Teman-teman, bagaimana kalau kita membuat julukan-julukan paling jelek untuk kita masing-masing! Aku tulis ya!  1.  Dimas, julukannya apa ya? Dengan keras Rangga berkata, “Dimas si Muka Babi!”  Teman-teman yang lainnya tertawa terbahak-bahak.  Budi melanjutkan, “Baik aku tulis ya, 1. Dimas – Si Muka Babi.  Terus kalau kamu Rangga apa julukan bagimu?”  Rangga menjawab cepat dan percaya diri, “Aku ya Rangga Si Ganteng!”  Budi berkata, “Tidak bisa harus julukan yang jelek dong!”  Affan berkata, “Bagaimana kalau Rangga Si Kunyuk!”  “Loh, kok aku disebut Kunyuk, Kunyuk itu kan artinya Monyet.  Memang aku kayak Monyet ya?” tanya Rangga.  “Sudah, kita terima aja deh julukannya. 2. Rangga – Si Monyet”  kata Budi sambil menuliskan di papan tulis.  “Kalau Affan apa julukannya?”  Tanya Budi.  “Bagaimana kalau Si Muka Badak!” soalnya Affan orangnya gak tahu diri! Kata seseorang.   Begitulah seterusnya satu kelas mempunyai julukan-julukan yang jelek.  Budi pun berkata, “Mulai besok kita panggil teman-teman kita ini dengan julukan-julukan jelek ini, apa kalian setuju?”

Tiwi mengacungkan tangan tanda sambil berkata, “Budi sebentar aku keberatan dipanggil Nini Genderewo setiap hari.  Kata ibuku dalam nama ada sebuah do’a.  Namaku Kusuma Pertiwi artinya Bunga Bangsa, ibuku berharap aku menjadi orang yang bisa mengharumkan negeriku.  Kalau namaku ganti jadi Nini Genderewo apa artinya? Aku nenek-nenek setan dong! Aku gak suka.  Nama itu seram lagi!”

Budi pun bertanya, “Adakah yang suka dipanggil dengan nama-nama jelek? Sebentar ya! Ini kok banyak nama setan ya, sukakah Tini dipanggil kuntilanak? Maukah Damar dipanggil dengan sebutan Tuyul?”  Semua teman-temannya menggelengkan kepala.  Nah, begitu juga dengan Dimas, dia tidak suka dipanggil dengan panggilan Si Muka Babi atau Kingkong.    Mulai hari ini kita  memanggil teman kita dengan nama yang baik, nama yang mereka senangi, nama yang diberikan orang tuanya.  Bagaimana teman-teman? Janji ya!

Janji!!! Suara teman-teman sekelas berkumandang.

Ibu guru tersenyum dan berkata pada Budi, “Bagus, Budi! Terima kasih ya!”

Guru meminta siswa menuliskan pesan moral dari cerita moral yang dibacakannya dalam beberapa kalimat.