Radikalisme dan cara berpikir linier kasualitas

Dimana langit dijunjung disitu bumi dipijak, adalah salah satu pribahasa Indonesia, mejadi pesan turun temurun, termasuk oleh WALI SONGO yg menyebarkan islam di Indonesia.

Pada kaum muda (sekarang ada juga kaum tua) yg sedang mencari jati diri, seringkali bertemu kajian yg mengamggap NKRI PANCASILA sebagai THOUGUT atau PRODUK KAFIR.

Kajian seperti ini menanamkan logika linier dan kasualitas yg mengarah pada radikalisme bahkan terorisme, seperti apa itu?

Laa ila ha illaloh, menjadi landasan aqidah ‘ilah’ sesuatu bukan dari Alloh swt dianggap musyrik termasuk pancasila sebagai produk manusia. Karena bukan produk Alloh swt maka org2 yg mengemban dan percaya pada pancasila disebut orang kafir.

Kajian radikal seperti ini akan menggelincirkan pada tindak terorisme, ketika mereka berpikir Orang kafir halal darahnya, maka melakukan bom bunuh diri dg korban masyarakat Indonesia baik muslim atau non muslim dianggap Jihad memerangi org kafir.

Benarkah? NKRI PANCASILA adalah hasil ijmak ulama Indonesia 1945, ulama dari Komponen MUHAMMADIYAH, NU, Masyumi, dll menyepakatinya demi kemashalahatan dan persatuan indonesia. Apakah para ulama tersebut Thougut dan Kafir? Apakah kalian tidak percaya pada ulama?

Tahun 50-70 an, di Indonesia sebagian ulama mencoba kembali mendirikan NII, ingin mengembalikan sila 1 dg ketuhanan yg maha esa sesuai Syariat Islam. Apa yg terjadi saat itu? Pecah perang saudara antara TNI vs TII yg korbannya rakyat. Rakyat ketakutan kena peluru nyasar sampai sembunyi di lubang2. rakyat merugi karena hasil panennya dijarah anggota TII yg kehabisan stok pangan. Perjuangan ini memberikan dhoror pada masyarakat, apakah kemudian kita akan mengulanginya dengan mendengungkan NKRI BERSYARIAH?

Jamiatul Islamiyah adalah pemikrian ulama Ikhwanul Muslimin, pun Khilafah adalah pemikiran ulama Hizbut Tahrir. Mereka berijtihad mengambil fakta2 di wilayah Timteng tempat mereka mukim. Fakta kekhilafahan itu dekat dg mereka. Tentu pendapat mereka para ulama ini adalah pendapat islami.

Bagaimana jika pendapat ini diimport di Indonesia? Dan bergerak mengubah tatanan yg sudah menjadi IJMAK ULAMA 1945? Maka suatu hal yg wajar jika NU bergerak mempertahankan ijmak ulama 45.

Perspektif Jamiatul Muslimin atau Khilafah dapat dipandang sebagai khasanah keilmuan islam, ragam ijtihad para ulama (terutama timur tengah) berdasarkan perspektif ketatanegaraan. Namun ketika melakukan provokasi dan pergerakan TSM (terstruktur, sistemik, masif) sambil meng-kafir2-kan dan men-thougut2-kan juga mem-bid’ah2-kan hasil kesepakatan para ulama 1945. Maka sesungguhnya anda2 inilah yg sedang menabur perpecahan dan mengoyak persatuan Indonesia.

Sebagai bagian dari Warga Negara Indonesia. Mari hargai perjuangan para wali songo dan para ulama yg telah berijmak tahun 1945. Hiduplah dg menjaga persatuan dan perdamaian Indonesia.

Wallohualambisawab

Salam Dua Jari! SALAM DAMAI!

21764960_10212345157257657_5969800519486831942_n

Salam ini bukan untuk dukung PILPRES atau PILKADA, inilah adalah salam universal, SALAM PERDAMAIAN.

Let’s Talk abaout Japan 70 years ago!

Jepang 70 tahun lalu, menghadapi kondisi yang sama dengan Indonesia saat ini.  Film Oshin yg mengambil setting 1912-1950 menggambarkan dengan apik masa-masa suram Jepang. Masa itu anak-anak kecil terpaksa membantu ekonomi keluarga dg menjadi pembantu rumah tangga. Dalam film Oshin tersebut tahun 1912 Oshin yang baru berumur 7 tahun karena kemiskinan harus dijual untuk bekerja ke Saudagar kaya.  Dan 30 tahun kemudian tahun 1942, masa perang dunia II Hatsuko pun mengalami hal yang sama, keluarganya dari Yamagata harus menjualnya ke Tokyo untuk dijadikan pembantu di rumah Bordil, mungkin setelah dia remaja akan menjadi pelayan di rumah ini.  Setelah 30 tahun Jepang tidak lebih baik.  Masa-masa itu adalah masa suram bagi Jepang.  Ekonomi saat itu sangat sulit, kesenjangan antara kaya dan miskin pun lebar menganggga. Makanan serba dijatah bagi rakyat kecil, ekomoni pun tak tumbuh dengan bagus.  Melihat film Oshin akan mengenang masa sulit Jepang.  Itulah Jepang 70 tahun lalu. Persis sama dengan Indonesia saat ini.

Setelah perang dunia II dan kekalahannya dari Komplotan Sekutu AS, membuat Jepang me-rethinking misi masyarakatnya. Jepang selama era Perang Dunia menyuburkan mental patriotisme ala samurai yang kemana-mana DOYAN PERANG dan MERASA UNGGUL SENDIRI dengan semboyan-semboyan kesombongannya NIPON CAHAYA ASIA. Setelah kekalahan perang, Jepang menyadari bahwa PERANG HANYA MEMBAWA KESENGSARAAN. Tragedi perang dg segala kerugiannya menjadi pelajaran berharga bagi petinggi dan masyarakat Jepang. Oleh karena itu Jepang mengubah masyarakatnya menjadi mental cinta damai, atas dasar CINTA DAMAI JEPANG MEMBANGUN NEGERINYA KINI.  Bagaimana cara membangun masyarakat cinta damai? Jepang melakukannya dengan cara “MENCABUT RASA EGO PALING BENAR PALING HEBAT PALING UNGGUL dari benak masyarakat mengubahnya menjadi TOLERANSI, WIN WIN SOLUTION, KERJASAMA, MEMIKIRKAN PERASAAN ORANG LAIN

And Let’s Go Back to Indonesia!

70 tahun lebih kita merdeka. Perang fisik dg penjajah berakhir sudah, namun perang ideologi berlanjut terus, sampai tahun 1960-an kita sibuk mengatasi PKI (Partai Komunis Indonesia) dan NII (Negara Islam Indonesia).  Tahun 1970-an PKI benar-benar digebuk habis, menyisakan trauma bagi para pengembannya.  Kini PKI sulit berkembang di Indonesia, dan Komunis dunia pun telah hancur.   Bukan berarti Indonesia telah aman dari perang Ideologi, masih ada NEO NII yang terus berkumandang melancarkan PERANG PEMIKIRAN. Masyarakat Indonesia dikondisikan berada dalam kecamuk PERANG PEMIKIRAN atau diistilahkan dengan Gozwul Fikr. Kini kita melihat para anak muda yang ter-shibgoh NEO NII dengan penuh angkara murka memainkan jari jemarinya di media online menyebarkan opini bahkan hoax yg merusak jiwa-jiwa yg cinta damai yang sedang bekerja membangun bangsa Indonesia. Akhirnya energy bangsa habis terkuras meladeni perang ideologi atau perang pemikiran ini. Uniknya acapkali gerakan NEO NII ini menumpang dan didukung barisan sakit hati kalah PEMILU atau menumpang pada PILKADA.  Jika negara tidak bisa di-NII-kan, maka minimalnya Daerah bisa bersyariah, mungkin itu targetnya.

Masyarakat Indonesia kini dikondisikan dalam sebuah PERANG PEMIKIRAN. Jika perang terus apapun namanya mau perang revolusi, perang senjata, bahkan perang pemikiran; maka pertanyaannya KAPAN MAU MENATA INDONESIA? Apapun perangnya termasuk perang pemikiran sekalipun adalah PENGHAMBAT KEMAJUAN.

Disinilah kita harus sadar.  Mari keluar dari medan perang, ciptakan Indonesia yg tentram dg tangan, lisan, dan karya kita!

INGAT!!! INDONESIA dg NKRI PANCASILA adalah kesepakatan bersama semua perwakilan bangsa Indonesia termasuk didalamnya para ulama dari NU Muhammadiyah Sarekat Islam (baca WIKIPEDIA &  TIRTO). Sebuah kesepakatan hasil musyawarah bersama, jika kita tetap egois ingin mendirikan NII, maka betapa EGOIS-nya kita.  Jadi, mari kita bangun Indonesia yg sudah disepakati bersama. Hilangkan EGO, STOP PERANG PEMIKIRAN yang selalu kalian terbarkan pada kaum muslim.  Ayo bersama-sama bangun Indonesia. Indonesia adalah rumah kita bersama, jika ada dari pemerintah yang masih kurang maka jangan mudah PROVOKASI menyatakan PEMERINTAH KAFIR PEMERINTAH DZALIM PEMERINTAH KOMUNIS! Kapitalisme memang mengurita dunia saat ini, namun tetap ada celah untuk membantu keluar dari kapitalisme global sehingga kesenjangan kesejahteraan antara masyarakat tidak terlalu menjulang.  Selalu ada dengan cara yang arif berorientasi “Kesejahteraan Rakyat” yang bisa kita bangun bersama dalam upaya meringankan beban pemerintah. So, Yuk, kita buat Indonesia Bagus! Utamakan PERDAMAIAN DARIPADA PERANG! SALAM DUA JARI! SALAM PERDAMAIAN!