Perkuliahan di masa darurat COVID19: Bagian I. EDMODO

Tak ada yang menyangka kita akan secepat ini memasuki teknologi 4.0. Ketika akreditasi Program Studi, bagi Prodi yang tidak berbasis pembelajaran jarak jauh selalu ditanyakan bagaimana integrasi teknologi informasi dalam perkuliahan? Tentu jawaban kita 90% digunakan untuk mencari literatur dan pemberian tugas baik lewat google clasroom ataupun lewat email. Jika ada matakuliah yang mengintegrasikan dengan edmodo, facebook, dan membuat moodle maka itu adalah riset-riset yang sedang dilakukan oleh dosen. Setelah riset selesai, matakuliah itu berganti dosen pengganti, maka semua perangkat ini mungkin akan sia-sia saja.

Darurat covid19 ini membuat para dosen bekerja keras untuk menggunakan aneka flatform dalam perkuliahan. Untuk perkuliahan masa darurat covid19 platform yang dipilih pun harus benar-benar kita pertimbangkan baik dari sisi efektifitas, efesien, dan kuota. Jika terus menerus menggunakan platform video conference, kuota mahasiswa tentu akan habis. Untuk itu saya sendiri lebih memilih menggunakan platform “EDMODO” dan Google Clasroom+Google Meet pada perkuliahan saya.

Semester ini saya mengampu Gizi Anak Usia Dini di Jurusan PIAUD, di Jurusan Pendidikan Biologi mengampu mata kuliah Telaah Kurikulum Biologi SMA dan Seminar proposal penelitian pendidikan biologi. Untuk mata kuliah Gizi AUDi dan Telaah Kurikulum Biologi SMA saya menggunakan platform EDMODO. Mengapa EDMODO?

  1. Edmodo bisa diunduh secara gratis oleh mahasiswa di handpone berbasis android dan IOS.
  2. Edmodo tidak menghabiskan banyak kuota untuk perkuliahannya, kerena platform berbasis hyperteks.
  3. Edmodo memberikan ruang berinteraksi dan memberikan umpan balik secara teks.
  4. Edmodo menyediakan aplikasi tugas dan kuis yang dapat dinilai dengan gampang oleh guru.
  5. Edmodo gampang diorganisasi.

Kelebihan itulah yang menjadikan saya lebih memilih Edmodo sebagai platform dalam mengajar di masa pandemik ini. Bagaimana mengorganisir pembelajaran melalui Edmodo ini?

Pertemuan dalam kuliah ini adalah 100 menit. Platform kelas online dengan kelas tradisional tentu berbeda. Dalam kelas online kejenuhan lebih mudah terjadi, karena yang kita tatap adalah layar. Jika di kelas biasa yang bisa kita tatap banyak, misalnya senyum sang dosen yang menebar ke seantero kelas, gerak-gerik gebetan, pemandangan papan tulis yang penuh kata-kata kunci yang akan keluar, pemandang layar berisi ppt, sepatu teman yang kayaknya belum dicuci sejak dia beli, bisa juga ngobrol kecil disela-sela break dengan teman kiri dan kanan, dll kegiatan yang berpeluang menggunakan seluruh indra kita. Tentu pemandangan tersaji membawa nikmat bagi indera kita, menjadikan durasi perkuliahan 150 menit pun tak terasa. Hal seperti itu tidak bisa dinikmati jika kita menggunakan EDMODO. Oleh sebab itu untuk menekan kejenuhan belajar ini, maka saya mendesain pembelajaran melalui Edmodo ini hanya satu jam saja (60 menit) dan (60 menit bahkan lebih berikutnya, saya akan memberikan tugas baik bersifat individu ataupun kelompok). Bagaimana sih pelaksanaannya? Penasaran gak? Gak penasaran juga tetap saya kasih tahu caranya, yaitu seperti ini. Kegiatan dibagi menjadi empat, yaitu pendahuluan, kegiatan inti, penutup, dan penugasan.

(1) Kegiatan pendahuluan berupa pengenalan materi dan juga memastikan kehadiran mahasiswa dengan mengisi polling “Bagaimanan perasaanmu hari ini”. Mengapa sih saya pakai polling ini? Bukan sekedar gaya2an tapi ini cara saya memantau mood mereka sebelum perkuliahan dimulai, jangan2 banyak yang bad mood karena dikacangin gebetan atau “大変” karena kuota menipis.

(2) Kegiatan inti, kegiatan pembelajaran dimulai dengan metode tanya jawab. Saya memberikan pertanyaan untuk mereka jawab atau tebak lebih dahulu dilanjutkan dengan penjelasan. Kenapa metode ini digunakan? Agar “chat room” tidak sepi, tidak hanya berisi mahasiswa yang like aja, tapi juga ada kehidupan dengan komentar-komentarnya. Ups! ekplanasi ilmiahnya bukan begitu tentu saja, “Mengajukan pertanyaan diawal sebelum menjelaskan lanjut, memberikan peluang pada para mahasiswa untuk berpikir mengaktifkan dendrit2 di otaknya, inilah yang disebut advance organizer oleh Ausuble, yaitu bagaimana mengkaitkan pengalaman belajar mereka sebelumnya dengan pembelajaran baru yang akan diberikan. Bagaimana sih bentuknya di Edmodo, yuk intip ini.

Setelah pertanyaan-pertanyaan itu, maka mulailah penjelasan dilakukan di sela-sela penjelasan saya pun bertanya-pertanyaan agar tepat fokus pada ppt yang disampaikan. Misalkan seperti berikut.

(3) Penutup, sebelum ditutup saya memberikan kuis. Kuis ini berfungsi untuk mengevaluasi “Sejauh mana mereka memahami materi yang disampaikan?” 10 soal esensial untuk kuis ini, sudah cukup.

(4) Pemberian tugas. Tugas dikerjakan perkelompok atau individu diberikan pada jam ke dua perkuliahan. Tugas ini sebagai sarana ekplorasi bagi mahasiswa untuk memahami lebih lanjut terkait materi, memecahkan masalah terkait dengan kondisi faktual yang sesuai materi, dan juga membuat proyek. Contoh-contohnya adalah sebagai berikut.

Yap, sekian pengalaman saya menggunakan edmodo dalam perkuliahan. Lalu bagaimana respon mahasiswa terhadap penggunaan EDMODO ini, saya coba survei mereka, dan hasilnya adalah sebagai berikut.

Terima kasih sudah membaca. To be continue untuk bagian II. Google meet dan Google Clasroom.