Japan Film Festival #Bandung

Nah, Hari Sabtu 22-12-2018, saya nonton tiga film. Ayo simak filmnya!

Film pertama The 8 year engagement. Ceritanya based on true story, Hisashi bertemu Mai pertama kali dalam acara perkenalan yaitu segerombolan pria berbincang dan minum di kedai dengan segerombolan wanita. Acara seperti ini di Jepang lazim dilakukan untuk berkenalan mendapatkan jodoh. Tapi ini bukan ‘blind date‘ karena ada seorang pria yg sudah pacaran dg seorang gadis, dan pria itu mengajak teman2nya yg masih jomblo bertemu dengan teman-teman wanita pacaranya yang juga masih jomblo. Jadi pria dan wanita yg udah pacaran lebih dahulu ingin jadi makcomblang bagi teman-teman lainnya. Seperti itulah…

Nah, film ini benar2 menguras air mata. Bagaimana terharunya kita menyaksikan seorang pria yg setia menemani kekasihnya disaat sakit, masuknya antibodi dari ovarium ke otak membuat kinerja otak error, sehingga beberapa memori terhapus termasuk memory ttg kekasihnya. Bayangkan ketika org yg dicintainya sembuh, dia tidak ingat apapun ttg dirinya. Banyak adegan di film ini yg membuat para wanita baper, “Indah dan adem jika punya pasangan kayak gitu……..”

Film kedua berjudul Colour Me True, bercerita ttg seorang assisten sutradara yg senang menonton film jadul, dan mengagumi pemeran wanita pada film tsb. Pada suatu malam tokoh film itu keluar dari film masuk ke dunia nyata yg sudah penuh warna. Ini kayak film2 Disney dimana mickey mouse yg hitam putih masuk ke dunia donald bebek yg berwarna. Imaginasi saya membayangkan sinematography yg mempertahankan dunia hitam putih dalam dunia warna, tapi ternyata tidak. Ini genre-nya bukan kayak gitu. Ini mah genre film romance ala putri salju atau cinderela. Dimana sang putri diijinkan masuk dari dunia film hitam putih ke dunia berwarna dg satu syarat, “Dia akan menghilang kembali jika disentuh oleh lelaki”

Film ketiga berjudul One Cut of The Dead, Saya pikir ini film horor ternyata????? Film komedi. Cerita bagaimana lucunya proses pembuatan film horor. Hahaha jadi selama ini kita dibohongi! Pembuatan film horornya jauh lebih seru daripada film horonya sendiri, hahaha….

Sebenarnya saya ingin nonton Shoplifters (manbiki kazoku – keluarga penguntil)….juga Perfect world tapi saya harus jalan ke kota lain lagi… それから,ありがとう!秋の空 先生: Merry Sensei, Aulia Sensei, and Teh Chiya…たのしかったね。

Chihayafuru – Musubi (ちはやふるー結び) #JFF2018 #Bandung

Pembukaan JAPAN FILM FESTIVAL di Bandung menampilkan Film Chihayafuru, filmnya berkisah tentang Chihaya seorang siswa SMA kelas 3 yg sejak kecil terobsesi bermain Karuta.

Karuta? Diadopsi dari kata Carta atau Card. Ya, film ini mengenalkan budaya Karuta pada kita penontonnya. Saya sendiri baru tahu tentang karuta ini. (Klik Karuta jika ingin tahu ttg karuta ini).

Dalam memelihara budaya, nah Jepang memang jagonya. Dalam permainan karuta para pemain mencocokan antara kartu dg puisi yg dibacakan. Puisi dikumandangkan, kemudian mereka harus memilih kartu yg cocok dg isi puisi itu. Kurang lebih begitu. Indera mendengar dan melihat serta kecepatan pikiran mengolahnya itulah yg diperlihatkan pada permainan ini.

Konon permainan ini sudah ada sejak zaman Heian sekitar 794-1185 (abad ke-8) bayangkan? Tradisi ini sudah sangat tua, dan tetap terpelihara sampai kini, masuk abad 21. Keluarga Jepang biasa memainkannya pada perayaan tahun baru. Kartu puisi penuh huruf kanji, tapi kartu yg dimainkan hurufnya hiragana jadi anak2 kecil pun bisa main. Bayangkan permainan ini sudah 13 abad atau 1.300 tahun? Puisi yg sama? Pantas saja para pemain dalam Chihayafuru berkata “membuat puisi yg bisa bertahan sampai 1.000 tahun”

Filmnya? Jika bicara tentang “alur” atau istilah kita “keramean dari filmnya” …..ini ya film anak2 SMA sebuah klub ekstrakurikuler yg bekerja keras masuk ke kompetensi nasional ditambah lagi ancaman tutupnya klub karena peminatnya makin sedikit. Halangan memenangkan kompetensi nasional muncul juga karena urusan HATI “cemburu” jika melihat alur saja.

Namun film ini sesungguhnya memperkenalkan BUDAYA KARUTA budaya yg usianya sudah 1.000 tahun. Terus terang saya takjub, permainan ini bisa mempertahankan budaya puisi Jepang. Tadi saya agak khawatir ini nyambung gak ya tetiba nonton part-3. Ternyata nyambung juga, karena saya lebih tertarik pada budaya yg ada di dalamnya, dibandingkan alurnya. Saya menganggumi “kok bisa ya kepikiran membuat permainan ini sehingga puisi bisa bertahan lama sampai 1.000 tahunan.

Jadi ingat, sebagai org sunda buhun kita punya banyak pupuh yg syarat dg banyak makna. Dan budaya pupuh ini makin meluntur… salah satu pupuh favorit waktu saya kecil adalah….

Budak leutik bisa ngapung
Babaku ngapungna peuting
Ngalayang kakalayangan
Neangan nu amis-amis
Sarupaning bungbuahan
Naon bae nu kapanggih

Ari beurang ngagarantung
Eunteup dina tangkal kai
Disada kokoreakan
Cing hempek ku hidep pikir
Nu kitu naon ngaranna
Lolong lamun teu kapanggih

Namun sayang pupuh kesayangan ini sekarang bisa dirusak oleh situasi PILPRES! Karena jawaban pupuh itu adalah ………

SEBAGAI CATATAN AKHIR SAYA BENCI HIRUK PIKUK PILPRES SAAT INI, dimana kaum gerakan politik ideologi islam transnasional bersatu dengan gerakan2 NEO NII, mengobrak-abrik hati dan pikiran generasi muda Indonesia sehingga generasi muda terbius dalam gerakkan #gantiPresiden #gantiSistem #antiPancasila yg pada akhirnya destruktif terhadap pembangunan Indonesia. Generasi muda yg terbius aliran ini #gahar dan #emoh terhadap budaya Bangsa sendiri. Maka tepatlah ungkapan dari Chelsa Islan “SAYA BERPESAN PADA GENERASI MUDA UNTUK TETAP MERAWAT BUDAYA INDONESIA DAN MENJAGA DNA INDONESIA YG MENGHARGAI KEBINEKAAN”

Jadi, sederhana Indonesia sudah merdeka, mari berbahagia dg mengisi kemerdekaan dan merawatnya, tunjukkan prestasi. Mari berbahagia dan hidup secara damai di Indonesia tercinta.