Move on #fiksi #Asep

Bagian ke-2: ASEP

“Ayah! Ini ayah seringnya foto sama teman ayah ini ya?”

“Asep!”

Asep, bagi orang sunda ini nama pasaran.  Biasanya karena kelihatan “kasep [tampan]” maka dinamai Asep.  Asep, tampan? Wah, saya tak pernah perhatikan, apa ukuran ketampanan? Diminati banyak dara? Nah, waktu SMA sedikit sekali kaum hawa yang mau ngobrol dan dekat sama Asep.  Kenapa? Hemm orangnya seriuussss, diam, sedikit-sedikit mikir.  “Sep, nonton yuk!” “Nonton apa?” “Film…nih lagi trend..Lupus!”  “Oh … gak ah!”  “Nonton film haram ya Sep?” “Bukan, apa alasan aku harus nonton film itu?” “Ya, rame…cerita pendeknya itu kan seru-seru, kali-kali aja filmnya seru!” “Oh, ini film dari cerita di majalah HAI itu ya?” “Lah, aku setiap minggu nebeng baca ceritanya sama kamu. Ngapain harus nonton, lagian sayang uangnya!”  “Nih, aku traktir deh, Yuk rame-rame kita berangkat!”  “Gini aja, uang traktirannya buat aku beli makan siang, lalu sisanya tak tabung di kencleng mesjid bagaimana?”  Kalau sudah begitu saya tinggal tuh Asep.

Dan…. Besoknya ketika akan sholat Dzuhur dia akan ceramah.  “Abdi, tahu tidak kenapa aku menolak ajakan mu dan teman-teman ke bioskop kemarin? Hidup ini singkat, kita harus tabung banyak pahala buat bekel di akherat yang kekal, setiap waktu yang kita jalani harus kita pikirkan ini nanti nilainya minus, nol, atau plus.  Kamu tahukan surat Wal Ashr? Nah, manusia itu akan merugi kelak kalau gak memanfaatkan waktu buat menabung amal shaleh.

Kalau sudah begitu, mulut saya terkatup, cuma bisa angguk-angguk saja.  Inilah mengapa kaum hawa tidak banyak mendekatinya, takut diceramahi!

Sangat suka menceramahi hal kecil apa saja….tidaklah mengherankan.  Liburan semester saya menyempatkan tidur di kampungnya.  Perjalanan dari Bandung menggunakan ‘elf’ menuju perkampungnya kami harus jalan kaki kurang lebih lima kilo meter, melewati jalan setapak yang kiri dan kanan sawah serta kebun.  Kata Asep, ini jalan pintas, kalau melewati jalan desa lebih jauh dan memutar.

Sampai di suatu desa, semua orang menyapa Asep “liburan Sep?” “Sumuhun ambu!” “Mulih Sep?” “Sumuhun Aki!” kayaknya hampir se-desa itu menyapa Asep dan semua dijawab dengan “sumuhun” oleh Asep.  Ramah sekali.  “Sep, kamu kenal semua orang itu?” Dia menganggukkan kepala.

Masuk di sebuah komplek yang hanya dibatasi dengan bebatuan disusun setinggi 1/2 meter.  Ada dua rumah panggung besar dari bambu, lalu…ini sepertinya sebuah mesjid, karena ada beduk dan mihrab, namun sekilingnya hanyalah panggung bambu.  Berjajar juga rumah panggung dari bilik bambu ada sekitar empat rumah dengan ukuran sama, tampak tepas keempat bangunan itu cukup besar mampu menampung beberapa orang.  Bangunan permanen hanya terlihat empat kelas dengan berplang MTS Kertajadi.

Ini rumahku Di! Itu disana rumah abahku, Tiga rumah disamping itu rumah para guru yang mengajar di sini.  Itu bangunan itu, itu sekolahku dulu.  “Ayo, kita ketemu Abah dulu!”

“Assalamualaikum!”  “Waalaikum salam warohmatullahi wabarakatuh!” “Abah!” “Asep! Libur? Eh ieu?” “Ieu rerencangan Abah!” “Eh, eta gera…..Ambu….ieu Asep!”  Sebetulnya agak aneh, karena Asep diterima Abahnya laksana tamu saja, duduk…sepertinya ini ruang tamu karena digelar tikar bambu.  Di rumah panggungnya tidak ada barang apa2, pun hiasan hanya ada gambar kabah  satu saja.  Ruangan penuh  rak buku.  Dihitung kamarnya ada tiga.  Wanita yang dipanggil Ambu membawa makanan dan minuman, lalu bergabung dengan kami di ruang tamu itu.  Asep menceritakan semua yang dialaminya di sekolah.  Kemudian dia memberikan rapor pada Abahnya.  Abahnya sejenak ke kamar mengambil bulpen dan menandatangani rapornya, sambil berkata “Ku Abah dido’akeun cita-cita Asep jadi Insinyur Pertanian terkobul, bismillahirahmanirohiim!”  Selepas ngobrol dan bercerita serta menghabiskan sajian, Asep mengajakku istirahat.  Ku pikir ia akan mengajakku masuk salah satu kamar di situ, ternyata bukan.  Ia mengajak aku ke rumah besar.

“Sebagian besar santri lagi mudik Di, kecuali beberapa santri yang sudah tidak punya orang tua!”

“Sep…kita tidur di rumah besar itu?”

“Iya, aku bukan anak kecil lagi.  Sejak aku SMP atau aku baligh, Abah menyuruhku untuk tidur bersama para santri.  Rumah tempat Abah itu hanya untuk abah , ambu, dan anak-anak Abah yang belum baligh atau masih dalam hadonah.”

“Hadonah!”

“Iya, masih kecil, masih harus diasuh ibunya gitu!”

“Terus, di rumah ustadz2 itu?”

“Iya sama, anak mereka kalau sudah balik masuk rumah panjang ini, untuk belajar bersama santri”

Rumah besar dari panggung, isinya hanya tikar dan beberapa lemari berjejer yang menandakan kepemilikan.  Beberapa anak tampak membaca qur’an.

Assalamualaikum! Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.  Anak yang membaca quran berlarian menyalami kami.   Tiba-tiba anak-anak yang sedang melakukan aktifitas itu mengumpul membuat lingkaran dan menyediakan ruang bagi kami untuk duduk.  Asep kemudian mengajakku duduk dalam lingkaran itu.  Asep menceritakan pengalamannya selama di Kota Bandung.  Semua Asep ceritakan, dan anak-anak itu memperhatikan Asep. Sampai berkumandang Adzan Ashar, cerita Asep diakhiri.

“Mereka santri yang tidak punya tempat untuk pulang.  Mereka anak Yatim atau memang terlalu jauh pulangnnya sehingga orang tuanya tidak menjemput mereka.”

Ternyata jamaah sholat ashar cukup banyak, kebanyakan anak-anak usia SMP.

“Mereka itu santri kalong, mereka ikut kajian di pesantren Ashar sampai Magrib atau ada juga yang Magrib sampai Isya.  Umumnya mereka anak-anak di kampung sini.”  Seakan Asep tahu keherananku akan banyaknya jamaah shalat ashar.

Selepas sholat Ashar, Abahnya Asep sambil membuka kitab, dia membaca sebuah paragraf dari kitabnya lalu menceritakan isi kitab itu pada para santri.  Kegiatan dilanjutkan dengan   ustadz lainnya, ustadz mengajarkan cara ceramah, beberapa anak yang menjadi gilirannya hari ini maju menampilkan ceramahnya.

“Beginilah hari-hari disini Di.  Gak ada bioskop, mall, hanya ada sawah, sekolah, dan pesantren”

“Apakah anak-anak disini tidak bosan?”  “Hahahahaha……kita menjalaninya tiap hari, memang begini, ini hidup kita Di”

 

“Kalau Ayah sendiri lebih suka tinggal di Kota atau di Desa?”

“Dimana pun asal bersama kalian!”

“Ahhhhh! Ayah, jago rayu!”

 

 

 

 

 

Move ON #fiksi #PandawaLima

Ini hanyalah sebuah kisah fiksi, jika ada kesamaan nama, sifat, tempat, atau prilaku, semuanya hanyalah kebetulan semata.  Jadi, jangan BAPER ya!

Bagian 1. Pandawa Lima

Jakarta, 1 Januari 2017

Usiaku akan mencapai kepala lima sekarang, setengah abad sudah aku mengarungi dunia ini.  Aku bergelut dalam politik relligi hampir 3/5 umurku. Sampai kini aku belum bisa move ON”

“Ayah! Cepat, mobilnya sudah panas, nih!” Seruan anak sulungku memaksaku beranjak meninggalkan buku catatanku.

“Yeah! Semuanya ready to go? Tak ada yang ketinggalan? Yuk, Bismillahitawakaltu a’llohu laahaulawalaakuata illa billah, bismillahimajrehawamursaha inna robbi lagofururohim.

“Yah, yang kita kunjungi itu temen lama ayah ya? Kok, dia tak pernah ke rumah kita, gak kayak temen ayah lainnya”

“Shahabat baik ayah, Ini lihat foto-foto jadul Ayah!”

“Hihihi ayah masih kurus-kurus, kok gak seperti ayah ya?”

Anak-anak tertidur, mobil melaju memberikan jalan bagi kenangan masa lalu, kini ia kembali terbentang di hadapan.

Angan terbawa pada masa silam, 1984.  Ini bukan SMA Negeri terbaik di Kota Bandung, tapi paling dekat dengan lokasi rumahku.  Semua anak bercelana kodok warna biru, kecuali satu murid yang bercelana panjang warna hijau pula.  Agak aneh bagiku.

“Hai! Namaku Abdi, kamu?”

“Saya teh Asep ti MTS Cianjur”

“em te es?”

Madrasah Tsanawiyah, Madrasah hartina sakola, Tsanawiyah kerena mah secondary hehehe.

“Oh, Madrasah, pantasan pake celana panjang”

Perkenalan pertama dengan Asep, Aseplah yang sering mengajakku sholat dzuhur bersama di sekolah.  Sholat yang sebelumnya jarang kulakukan.  Dan Asep pulalah yang mengajakku aktif dalam kegiatan rohis SMA.

“Sep, sebetulnya saya lebih suka ikutan Basket ketimbang ekskul Rohis”

“Agama itu lebih wajib kita dalami Abdi, Basket kita masih bisa mainkan sama-sama pada hari libur”

Siapa yang bisa menolak wajah lugu Si Asep.  Asep yang punya cita-cita sederhana, ingin membangun pertanian di daerahnya dimana pesantren Abahnya berdiri di sana.

“Aku ini Di, anak dusun, Abahku memilih menyekolahkan ku di Kota ini, masuk SMA yang kata beberapa kakakku sekolah sekuler dengan satu harapan, aku bisa masuk IPB, dan memajukan pertanian di pesantren.  Banyak masyarakat dan para santri bergantung pada hasil pertanian, tetapi kita belum bisa mengolah hasilnya menjadi lebih baik.  Abah ingin aku jadi sarjana pertanian”

Bagai anak bebek aku mengikuti apa yang Asep sarankan.  Lugu penuh karisma, mungkin karena dia anak Kyai, sehingga semua tutur dan sikapnya senantiasa terjaga. Dan inilah yang membuat aku tak kuasa menolak.

Ikhwan dan akhwat semua, saya perkenalkan pengisi materi kita pertama adalah Kang Irfan, Kang Irfan ini mahasiswa dari UNPAD jurusan Jurnalistik.  Pemateri kedua adalah Kang Daud, kang Daud ini mahasiswa Teknik Elektro dari ITB, silahkan akang-akang memberikan materi.

Pertemuan pertama, kedua, ketiga, bulan pertama, kedua, dan ketiga tak ada yang aneh dengan materi.  Ma’rifatullloh, ma’rifatul islam, ma’rifatul Rasulullah, ma’rifatul kitabullah…. Di sini pertama kalinya saya memahami makna Laa Ilaha Ilalloh, bukan sekedar tiada tuhan selain alloh seperti yang sering diucapkan, tetapi lebih jauh lagi yaitu melepaskan dari segala penghambaan pada siapapun dan apapun kecuali pada Alloh swt, apa yang menjadi perintah Alloh menjadi wajib untuk dilaksanakan apapun itu!

Bulan ke enam, teman-teman menjuluki kami Pandawa Lima, kami berlima, aku, Asep, Ferry, Danu, dan Hamdan.  Kami berlimalah yang paling rajin datang ke acara Rohis, ringan kaki dan tangan kami, selalu siap membantu.

Selain mengadakan kajian Islam, Akang-akan dari beberapa PTN di Bandung itu menyediakan layanan bimbel gratis, bahkan mereka mengundang kami belajar lebih jauh ditempat-tempat yang mereka janjikan selain aktifitas seminggu sekali, acara rohis sekolah.

Ferry si kutu buku yang bercita-cita menjadi Einsten jilid II.  Danu hapalan al qurannya banyak sekali, Imam andalan.  Dan Hamdan dikenal dengan suara mengajinya yang bagus sekali, dia pernah jadi juara lomba MTQ.

Bulan ke tujuh, mulailah Akang-akang becerita tentang keterpurukan dunia islam, dan tentang kebangkitan islam.  Pada saat itu dunia dikuasai oleh dua kekuatan yaitu Amerika serikat dengan demokrasi liberalnya dan Uni Soviet dengan sosialismenya. Kita Indonesia dengan pancasila, katanya Indonesia juga negara demokrasi, tapi demokrasinya pancasila, dan nama demokrasi pun tertutup dengan kebesaran nama pancasila.  Indonesia khas pancasila, begitulah guru dan buku Pendidikan Moral Pancasila mengajarkan kami semua.

“Kalian tahu, ini coba kalian perhatikan peta ini.  Ini adalah Jazirah Arab dimana Mekah dan Madinah ada di sini, dan ini ini adalah Persia, lalu ini ini adalah Rum atau Rumawi. Ar Rum ayatnya ada di Al Qur’an.  Perhatikanlah Persia sama dengan Amerika saat ini, lalu Rumawi sama dengan Uni Soviet saat ini, dan perhatikanlah…. posisi Indonesia persis sama dengan Jajirah Arab.  Pada Abad ke-7 kebangkitan islam itu munculnya di Mekah dan bangkit di Madinah, dari tempat ini islam kemudian menyebar ke seluruh bagian dunia hambir 2/3 dunia dan menaklukkan Persia kemudia Romawi,  Konstantinopel direbut Al Fatih beserta Mujahid Islam, lalu runtuhlah Romawi. Ini perhatikan! berdasarkan kesamaan posisi, Indonesia adalah the next land bagi kebangkitan Islam, jadi disinilah kita harus berjuang menegakkan Islam.  Laa ilaha illalloh, kalimat tauhid itu harus didirikan.

Suatu hari Asep menyampaikan sesuatu padaku “Abdi, kayaknya kita harus lebih berhati-hati ikut kajian di Rohis!”

“Ada apa? Bukankah yang mereka sampaikan itu Islam?”

“Iya, islam! tapi…..sudahlah suatu saat aku akan mengajakmu liburan di Cianjur, kita ngaji sama Abah ya!”

Bulan ke-11

“Di, Rohis ngadain Mabit.  Kita akan Mabit di Padalarang, Sabtu-Minggu!” Pesan dari Kang Irfan dan Kang Daud, Pandawa Lima kudu ikutan.

“Ikhwan dan Akwat sekalian, kalian adalah orang-orang terpilih, yang dipilih Alloh swt, umat terbaik.  Pernah kalian dengar tentang baiat?  Kita akan bahas tentang baiat itu.  Baiat itu adalah pernyataan janji dan setia pada islam.  Para shahabat dulu berbaiat pada Rasulullah saw, menyatakan “Laa ilaha illalloh muhammadu Rasulullah” bukan sembarang janji, tetapi juga pernyataan pengorbanan.  Kerelaan berjuang di jalan islam.   Bagi orang muslim cuma ada dua jalan HIDUP MULIA atau MATI SYAHID.  Dan kalian semua pernahkah berucap syahadat? Belum dikatakan berislam seseorang jika belum bersyahadat”

Ferry mengacungkan tangan, “Loh, setiap sholat kita mengucapkan shahadat!”

“Ikhwan dan Akhwat sekalian, rukun islam itu yang pertama syahadat, bukan shalat.  Jadi haruslah syahadat dulu baru sholat”

Danu juga menyanggah, “Kak pada ayat Al Araf 172 sudah dikatakan seperti ini:

 وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Terjemah :
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata- kan: Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).

Itu artinya kita sudah syahadat sejak dalam kandungan, kita sudah islam.

“Tidak bisa begitu, pada shahabat rasulullah saw juga bersyahadat ulang sama Nabi saw.  Jadi syhahadat itu harus dilakukan!”

Hamdan dengan bersemangat berkata, “Kita bersyahadat saja lagi kalau begitu sekarang, gampangkan kak, dan semua jadi saksinya!”

“Tidak bisa kita bersyahadat pada sembarang orang, yang mensyahadati kita haruslah orang yang sudh pernah bersyahadat pada Rasulullah saw”

Suasana mulai gaduh, semua berbisik mana ada orang seperti itu pada saat sekarang.  Jarak Rasulullah saw dengan kita hampir 14 Abad.

“Ikhwan dan Akhwat yang dimuliakan Alloh swt, jangan heran.  Syahadat tetap dilakukan dari jaman ke jaman, dari manusia pertama bersyahadat sama Nabi Muhammad SAW, ada orang yang tidak putus.  Pada orang itulah kita bersyahadat, kita berbaiat”

Asep dengan kalem akhirnya bertanya, “Maaf nih Kang Irfan, kalau menurut Kang Irfan, artinya status kita sekarang belum Islam karena belum bersyahadat?”

“Betul sekali Asep! Kalian tahu Abu Lahab? Dia percaya tuhan! Dia percaya Muhammad saw itu Nabi, dia percaya, artinya dia beriman.  Tapi dia tak pernah mau bersyahadat, maka dia bukan muslim dia bukan islam”

Aku sendiri saat itu tidak paham sama sekali, aku bukan Asep yang terbiasa mengkaji islam, Aku bukan Danu yang banyak hapal ayat al qur’an,  Aku hanya Aku seorang awam anak seorang anggota TNI AU yang hanya kenal islam sangat sedikit.

Menjelang tidur, Asep berkata padaku, “Abdi, aku yang mengajakmu ikut ekskul Rohis, aku juga yang akan meminta kamu untuk berhenti di ekskul ini.  Nanti kelas II kita berhenti di Rohis ini, jika islam yang kau tuju, maka kita cari pengajian lain saja jangan yang ini.

“Memang kenapa, Sep?”

“Syahadat ulang itu, ajaran yang aneh.  Abahku gak pernah mengajarkan aku tentang syahadat ulang”

Pandawa Lima pun bubar, Aku dan Asep memilih pindah pengajian di Salman ITB juga kajian subuh di beberapa mesjid kota Bandung.  Danu pun tak ikut kajian di Rohis lagi, Danu penghapal Qur’an ini tak terima dikatakan bukan muslim.  Hanya Hamdan yang masih setia mengurus rohis di SMA kami, aku tak tahu apakah Hamdan pada akhirnya berbaiat atau tidak.  Ferry, dia pun lebih memilih menekuni dunia Fisikanya.

“Ayah, sudah sampai mana kita?”

Baru masuk tol Jagorawi Nak!