Man Call Dad or Ahok?

Setelah sekian lama baru sekarang bisa tulis resensinya. Tembus lebih dari satu juta penonton, jumlah ini mengungguli 212 power of love yg hanya ditonton sekitar 360 ribuan penonton. Antusias penonton menyaksikan film ini cukup tinggi tak lepas dari judul film menyematkan kata AHOK.

Setelah menyaksikan film ini, tampaknya judul yg cocok bagi filmnya adalah A MAN CALL DAD! Mengapa?

1) Daniel Manata tampaknya harus banyak belajar akting lagi. Baik Body language maupun instonasi tak mampu menghadirkan sosok Ahok masuk dalam jiwa kita. Beda dengan akting Chew Kin Wah sebagai Kim Nam (Ayah masa tua Ahok) yg mampu memvisualisasikan dg baik sosok ayah. Hasilnya akting Danial kebanting habis sama Chew Kin Wah. Saat Kim Nam meninggal, tontonan pun menjadi sangat hambar. Pemilihan Daniel memerankan Ahok sangat berani karena Daniel tak pernah beradu akting sebelumnya. Mungkin jika Morgan Oey yg memerankannya akan lain ceritanya.

2) Akting Kim Nam muda oleh Denny Sumargo cukup bagus jika, pada eposide ini sangat menonjol perannya dibandingkan peran Ahok sendiri.

3) Alur cerita sendiri memang lebih banyak cerita, hampir 70% saya kira kalau dianalisis wacana berisi sosok ayah yg memberi inspirasi baik quote maupun tindakan pada anak2nya.

Jadi? Karena ini based on true story, kita jadi tahu bagaimana sosok pemimpin yg peduli rakyat itu bisa lahir. Ternyata sumber kekuatan dari sosok pemimpin peduli rakyat lahir karena niat hatinya INGIN MEMBANTU ORANG LEBIH BANYAK. Jika dia hanya seorg kaya dia hanya bisa bantu beberapa org saja, tapi jika dia menjadi seorang pemimpin dia bisa bantu lebih orang banyak dengan kebijakkannya yang pro rakyat.

Jadi? Jadi ya kita pilih pemimpin yg memang niatnya tulus mau bantu rakyat, bukan sekedar menjadikan rakyat sebagai ajang pencitraan.

Japan Film Festival #Bandung

Nah, Hari Sabtu 22-12-2018, saya nonton tiga film. Ayo simak filmnya!

Film pertama The 8 year engagement. Ceritanya based on true story, Hisashi bertemu Mai pertama kali dalam acara perkenalan yaitu segerombolan pria berbincang dan minum di kedai dengan segerombolan wanita. Acara seperti ini di Jepang lazim dilakukan untuk berkenalan mendapatkan jodoh. Tapi ini bukan ‘blind date‘ karena ada seorang pria yg sudah pacaran dg seorang gadis, dan pria itu mengajak teman2nya yg masih jomblo bertemu dengan teman-teman wanita pacaranya yang juga masih jomblo. Jadi pria dan wanita yg udah pacaran lebih dahulu ingin jadi makcomblang bagi teman-teman lainnya. Seperti itulah…

Nah, film ini benar2 menguras air mata. Bagaimana terharunya kita menyaksikan seorang pria yg setia menemani kekasihnya disaat sakit, masuknya antibodi dari ovarium ke otak membuat kinerja otak error, sehingga beberapa memori terhapus termasuk memory ttg kekasihnya. Bayangkan ketika org yg dicintainya sembuh, dia tidak ingat apapun ttg dirinya. Banyak adegan di film ini yg membuat para wanita baper, “Indah dan adem jika punya pasangan kayak gitu……..”

Film kedua berjudul Colour Me True, bercerita ttg seorang assisten sutradara yg senang menonton film jadul, dan mengagumi pemeran wanita pada film tsb. Pada suatu malam tokoh film itu keluar dari film masuk ke dunia nyata yg sudah penuh warna. Ini kayak film2 Disney dimana mickey mouse yg hitam putih masuk ke dunia donald bebek yg berwarna. Imaginasi saya membayangkan sinematography yg mempertahankan dunia hitam putih dalam dunia warna, tapi ternyata tidak. Ini genre-nya bukan kayak gitu. Ini mah genre film romance ala putri salju atau cinderela. Dimana sang putri diijinkan masuk dari dunia film hitam putih ke dunia berwarna dg satu syarat, “Dia akan menghilang kembali jika disentuh oleh lelaki”

Film ketiga berjudul One Cut of The Dead, Saya pikir ini film horor ternyata????? Film komedi. Cerita bagaimana lucunya proses pembuatan film horor. Hahaha jadi selama ini kita dibohongi! Pembuatan film horornya jauh lebih seru daripada film horonya sendiri, hahaha….

Sebenarnya saya ingin nonton Shoplifters (manbiki kazoku – keluarga penguntil)….juga Perfect world tapi saya harus jalan ke kota lain lagi… それから,ありがとう!秋の空 先生: Merry Sensei, Aulia Sensei, and Teh Chiya…たのしかったね。

Chihayafuru – Musubi (ちはやふるー結び) #JFF2018 #Bandung

Pembukaan JAPAN FILM FESTIVAL di Bandung menampilkan Film Chihayafuru, filmnya berkisah tentang Chihaya seorang siswa SMA kelas 3 yg sejak kecil terobsesi bermain Karuta.

Karuta? Diadopsi dari kata Carta atau Card. Ya, film ini mengenalkan budaya Karuta pada kita penontonnya. Saya sendiri baru tahu tentang karuta ini. (Klik Karuta jika ingin tahu ttg karuta ini).

Dalam memelihara budaya, nah Jepang memang jagonya. Dalam permainan karuta para pemain mencocokan antara kartu dg puisi yg dibacakan. Puisi dikumandangkan, kemudian mereka harus memilih kartu yg cocok dg isi puisi itu. Kurang lebih begitu. Indera mendengar dan melihat serta kecepatan pikiran mengolahnya itulah yg diperlihatkan pada permainan ini.

Konon permainan ini sudah ada sejak zaman Heian sekitar 794-1185 (abad ke-8) bayangkan? Tradisi ini sudah sangat tua, dan tetap terpelihara sampai kini, masuk abad 21. Keluarga Jepang biasa memainkannya pada perayaan tahun baru. Kartu puisi penuh huruf kanji, tapi kartu yg dimainkan hurufnya hiragana jadi anak2 kecil pun bisa main. Bayangkan permainan ini sudah 13 abad atau 1.300 tahun? Puisi yg sama? Pantas saja para pemain dalam Chihayafuru berkata “membuat puisi yg bisa bertahan sampai 1.000 tahun”

Filmnya? Jika bicara tentang “alur” atau istilah kita “keramean dari filmnya” …..ini ya film anak2 SMA sebuah klub ekstrakurikuler yg bekerja keras masuk ke kompetensi nasional ditambah lagi ancaman tutupnya klub karena peminatnya makin sedikit. Halangan memenangkan kompetensi nasional muncul juga karena urusan HATI “cemburu” jika melihat alur saja.

Namun film ini sesungguhnya memperkenalkan BUDAYA KARUTA budaya yg usianya sudah 1.000 tahun. Terus terang saya takjub, permainan ini bisa mempertahankan budaya puisi Jepang. Tadi saya agak khawatir ini nyambung gak ya tetiba nonton part-3. Ternyata nyambung juga, karena saya lebih tertarik pada budaya yg ada di dalamnya, dibandingkan alurnya. Saya menganggumi “kok bisa ya kepikiran membuat permainan ini sehingga puisi bisa bertahan lama sampai 1.000 tahunan.

Jadi ingat, sebagai org sunda buhun kita punya banyak pupuh yg syarat dg banyak makna. Dan budaya pupuh ini makin meluntur… salah satu pupuh favorit waktu saya kecil adalah….

Budak leutik bisa ngapung
Babaku ngapungna peuting
Ngalayang kakalayangan
Neangan nu amis-amis
Sarupaning bungbuahan
Naon bae nu kapanggih

Ari beurang ngagarantung
Eunteup dina tangkal kai
Disada kokoreakan
Cing hempek ku hidep pikir
Nu kitu naon ngaranna
Lolong lamun teu kapanggih

Namun sayang pupuh kesayangan ini sekarang bisa dirusak oleh situasi PILPRES! Karena jawaban pupuh itu adalah ………

SEBAGAI CATATAN AKHIR SAYA BENCI HIRUK PIKUK PILPRES SAAT INI, dimana kaum gerakan politik ideologi islam transnasional bersatu dengan gerakan2 NEO NII, mengobrak-abrik hati dan pikiran generasi muda Indonesia sehingga generasi muda terbius dalam gerakkan #gantiPresiden #gantiSistem #antiPancasila yg pada akhirnya destruktif terhadap pembangunan Indonesia. Generasi muda yg terbius aliran ini #gahar dan #emoh terhadap budaya Bangsa sendiri. Maka tepatlah ungkapan dari Chelsa Islan “SAYA BERPESAN PADA GENERASI MUDA UNTUK TETAP MERAWAT BUDAYA INDONESIA DAN MENJAGA DNA INDONESIA YG MENGHARGAI KEBINEKAAN”

Jadi, sederhana Indonesia sudah merdeka, mari berbahagia dg mengisi kemerdekaan dan merawatnya, tunjukkan prestasi. Mari berbahagia dan hidup secara damai di Indonesia tercinta.

Bulan terbelah di langit Amerika #Resensi

image
Malam ini Purnama menghiasi langit Indonesia.  Dan saya berkesempatan nonton “bulan terbelah di langit Amerika”

Wooof! Saya sempat baca pengalaman Acha saat syuting dg hijab di AS.

Setting cerita ‘9-11-2001’ sinisme thdp islam.  Hanum diminta bos buat artikel “Akankah dunia lebih baik tanpa islam?” Disinilah cerita dimulai…

Ok, saya cerita hal menarik di film ini saja, terus terang aja soundtrack filemnya agak ganggu terlalu “songong” (sorry sama yg buat soundtrack). 
#Acha, di film ini menggambarkan sebagai sosok wanita bekerja yg butuh perlindungan dan tergantung pada suami.  Mungkin ini jadi gambaran bagi para muslimah umumnya yg bekerja, kadang ketika kita bekerja gak mandiri2 banget dan acapkali malah ngerepotin suami…hehehe
#Abimana, di film ini digambarkan sbg sosok suami yg melindungi istri tapi menarik keuntungan dari pekerjaan istri, mencuri ide dari apa yg dikerjakan istri.  Dan kayaknya yg begini natural terjadi pada kehidupan suami istri.

Dan kesan saya selama nonton film ini kayak lagi merangkai puzzle.  Frame demi Frame disajikan dan ternyata di ending potongan2 itu jadi sebuah kesatuan utuh.  — Ya, ini mungkin maksud bulan terbelah lalu tersatukan kembali.

Di film ini kita disuguhkan sebuah pesan tentang islam yg membawa kedamaian menghargai perbedaan.  Walaupun pesan yg disampaikan ‘agak memaksakan’ tapi is OK, bagi  yg sudah muslim ini akan memperkuat kecintaan pada islam.  Tapi mungkin logikanya agak susah dipahami dari kacamata non muslim. 

What ever – film ini cukup menghibur kita, paling tidak cocok ditonton saat libur maulud ini. Nabi Muhammad saw telah membawa islam, ISLAM SBG AGAMA RAHMATAN LIL ALAMIN.  Dan akting Acha dan Abi di film ini pun cukup memanjakan mata, jadi tak ada salahnya jika film ini dipilih sbg film tontonan bersama anak2 ABG anda!

NONTON ASLI. Please HINDARI BAJAKAN YA! #YUK KITA BUAT INDONESIA BAGUS!

09. #Random: Film Hijab

Beberapa hari ini tampilan facebook, WA, dan BBM saya menampilkan broadcast tentang kritik film Hijab karya Hanung Bramantiyo.  Saya sendiri sampai saat ini belum berkempatan untuk  menonton film ini.  Tadinya sih gak akan nonton film ini, tapi karena derasnya BC jadi kepikiran buat nonton.

ok, beberapa situs ini mengemukakan hal negatif tentang film ini:

Sebetulnya film ini sudah dinobatkan rugi dalam 5 hari pemutarannya, seperti pernyataan Hanung Bramantiyo, karena selama lima hari itu baru mengantongi penonton 13.000.000 saja.  Animo menonton film ini sampai tulisan ini saya tulis  menurut http://filmindonesia.or.id mengantongi penonton film hijab sebanyak 44.732.  Tampaknya kenaikannya lumayan juga, “apakah karena kontroversi yang terjadi sehingga membuat orang penasaran untuk menonton?? Bisa jadi!!! Asalnya kita abai, tapi karena seringnya BC itu dikirim — orang-orang yang berpikir, biasanya penasaran ingin membuktikan benar atau tidaknya opini yang mengkritik tersebut.  Andaikan yang terjadi adalah penasaran dan film terus dilanjutkan masa tayangnya, maka penonton film ini kemungkinan bisa mencapai 50 ribu – 70 ribu, ataubahkan 100.000.  Andaikan sampai menembus 100rb dan harga tiket 50.000, maka jumlah yang didapatkan minimalnya 2,5M  dan maksimalnya jika mencapai 100 ribu penonton adalah 5.000.000.000 (5M).   Kalau terus disebarkan “OPINI KONTROVERSIAL”-nya maka tidak menutup kemungkinan biaya pembuatan film ini tertutupi sudah, artinya sudah balik modal (baca modal pembuatan film hijab disini). LUMAYAN ya?? OMG Business is business!

Ada dua film mengambil tema dari simbol islam walaupun ceritanya yang satu kritik sosial dan lainnya cerita cinta, yaitu Hijab (Film kritik sosial gaya komedi) dan Assalamu’alaikum Beijing (Film Drama Percintaan).  Film Hijab sendiri hadir saat hangat-hangatnya film Assalamu’alaikum Beijing diputar (film ini bisa mengantongi penonton sejumlah 540.890, walau tidak sampai angka 1 juta karena sebagian kader terpecah ada yang mengikuti ustadz partai dan ada yang teguh dengan himbauan dari Dewan Syariah tentang haramnya mendatangi bioskop, serta kehadiran JONRU pada gala priemer film ini, tapi apapun film ini cukup sukses dengan kelas penikmat segmen drama. Dan film HIJAB pun kalah saing dengan film ini.

____

Masih penasaran buat nonton HIJAB mbak? Masih diputer ternyata? Hemmm saya….saya coba pikirkan lagi ya? Kayaknya tidak!! Kenapa? Entahlah, saya nonton karya Hanung 3x yaitu Ayat-ayat cinta (suer saya bosan nontonnya, dan gak bisa menyelesaikan tontonannya), Tanda Tanya (Ini jauh lebih baik mengemasnya daripada AAC, tapi tetep aja HANUNG kasar sekali dalam memindah satu frame ke frame lainnya, ibarat baca cerita antara satu paragaraf dengan paragraf lainnya sok teu nyambung.  Mungkin memang ini gaya dia dalam penyutradaraan — Saya menyebutnya gaya album foto.  Kalau kita punya banyak foto, lalu kita albumkan maka kita acapkali tak mempertimbangkan alur, yang penting semua foto masuk dalam album.  Nah, gaya ini makin terlihat ketika Hanung menyutradarai SANG PENCERAH).  Jadi, dari tiga film yang ditonton — saya tidak terlalu menikmati film karya Hanung.  Untuk nonton lagi karya dia, rasanya males banget.  Saya merasa gak cocok aja kalau nonton film karya Hanung.  Tiga film Hanung yang saya tonton membuat saya ngedumel dan tak terlalu menikmati tontonannya.

Dan….

Saya sendiri gak terlalu suka film  KRITIK SOSIAL, karena nonton film tujuannya untuk memotivasi bukan membuat dahi berkerut.  Kalau membuat dahi berkerut mah gak usah nonton film, dalam realita sehari-hari banyak di lihat.  Misalnya “Wanita berhijab merokok di area publik sering saya saksikan di Resto dan cafe coffee, mereka tidak malu lagi dengan hijabnya“.  “Lalu wanita berhijab pegangan tangan dengan non mahrom juga banyak dilihat di mall-mall“.  “Bahkan saya saksikan juga pagi berhijab malam pun berubah menggunakan rok mini sekedar menjadi sales rokok atau bahkan sampai menjadi sexy dancer, demi rupiah“.  Ini wanita berhijab??? Ya!!! Itu secara nyata ada di sekitar saya, gak perlu nonton khayalan di film segala.  Dan di beberapa universitas berlabel islam, beberapa mahasiswanya hanya menggunakan hijab ketika ke kampus, diluar kampus …you can see…lah! (Kalau kata emak saya mah, baju —yukensi— itu baju dengan tanpa lengan).  Jadi, sebenarnya siapa yang harus dimarahi dan dikritik habis-habisan bahkan dibenahi? Sutradara yang mengangkat realita atau realita masyarakat kita?

–Kalau saya sih lebih milih menasehati para hijabers untuk kokoh dalam hijabnya, karena kami pada tahun 1990-an berjuang luar bisa untuk dapat memakai hijab di sekolah dan di kampus umum, bahkan untuk bisa diterima di keluarga dengan hijab yang kita pakai itu gak mudah.  Bayangkan “Pedihnya dirimu ketika ibumu yang berbaju YOU CAN SEE menolak  jalan sama kamu yang berhijab??” — HIJAB adalah perjuangan bagi saya dan beberapa rekan lainnya.  Tapi saya juga tak boleh menutup mata, bahwa sekarang HIJAB jadi kewajiban bahkan trend.  Saya juga sadar — ketika hijab itu sebuah kewajiban — maka hijab tidak lagi menutupi aurat orang shalehah, tetapi menutup semua orang dengan berbagai sifatnya, dan ketika itu terjadi jangan heran kalau kita temui peragai beberapa orang berhijab  jauh dari syari’ dan kesan wanita shalehah.

Jadi? Jadi saya gak akan nonton, karena Hanung bukan sutradara favorit saya.  Dan saya sudah muak dan greget lihat realita sosial, gak usahlah saya nonton lagi di layar lebar cukup di dunia nyata aja saya saksikannya.  Nonton mah yang asyik-asyik aja deh, yang gak nguras otak, kan nonton buat refresing.  COMIC 8 sukses mengantongi lebih dari 1,6 juta penonton karena asyik!

____

Bagi yang suka nonton film, ada 3 sutradara yang asyik dalam membesut cerita: 1) Benni Setiawan dengan filmnya 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta.  2) Ifa Isfansyah juga recomended untuk ditonton, saya suka cara memindahkan frame demi framenya.  3) Riri Riza ini favorit saya — Dan saya belum sempat nonton TONGKAT EMAS, sekarang udah habis masa tayangnya.  Hiks hiks hiks.

 

THE VIRGIN #ResensioldFilm

Ini film lama, tahun 2004 (Wow 10 tahun lalu nih film), pemerannya aja masih pada SMA.  Pernah jadi kontroversi juga nih film di tahun itu, sampai akhirnya lolos karena hanya boleh ditonton oleh 21+.  Di puter di MNCTV lepas jam 12+ malam, masih kebayang memang ini tontotan orang dewasa.

Fenomena remaja2 di virgin itu bukan fenomena baru.  Cathy, anak SMA dari keluarga miskin yang bergaul dengan Stela dari keluarga gedongan yang punya kehidupan bebas, dan Biyan dari Keluarga Menengah atas yang mengalami DISHARMONIS KELUARGA, ibunya gila karena ayahnya doyan main perempuan.

Cathy adalah fenomena anak remaja dari keluarga miskin, yang bergaya seperti keluarga gedongan..baju & HP bermerk.  Untuk mengejar gaya, ya apalagi kalau gak melacurkan diri.  Fenomena “Cathy” adalah fenomena yg banyak terjadi di sekitar kita.  Tahun 80-90-an, waktu saya remaja, anak SMA kayak gitu dikenal dengan perek.  Sekarang kita kenalnya dengan cabe-cabean.  Fenomena remaja seperti ini banyak di SMA, gampang sih mendeteksinya, kelihatan juga dari gaya-gayanya….”body language” gak bisa bohong….

Surely, dari semua cerita yang disajikan…film ini gak banyak pesan moral yang bisa dicerna.  Anak2 SMA yang berkeliaran dengan kehidupan malamnya, minum2-an keras, pesta, dan free-sex.  Hal yang menarik adalah setting yaitu kesetiakawanan…

Ceritanya sendiri banyak loncat-loncat…banyak cerita gak selesai, loss focus juga….alurnya belok2 beriak…gak enak nontonnya, peralihan antar frame juga kasar, nontonnya jadi gak nikmat.

Akhir cerita, baru ketangkap bahwa ini cerita tentang perjuangan “mempertahankan keperawaanan” semua karena LOSS FOCUS.  Sayang sebetulnya, isi ceritanya cukup bagus cuma….mengalurkannya yang tergesa-gesa, sepertinya si pembuat skenario gak cukup sabar …….

 

Film ini memang cocok untuk 21+ ke atas, kalau ditonton remaja putri tampaknya harus hati2, jangan sampai ini menjadi sebuah pelegalan, it’s ok dengan kehidupan tersebut, karena dalam film ini tidak tampak penyesalan dari para tokoh yang terlanjur berbuat free-sex, seakan2 semua legal.  Kedewasaan menonton diperlukan dalam hal ini.

Edensor: friendship memang sip! #resensiFilm

image

Malam tahun baru kemarin abis bimbingan disertasi, saya mampir nonton Edensor.
Udah lama banget gak nonton di bioskop…disertasi menyita privasi…hahaha

Ini film trilogi, sebelumnya ada Laskar Pelangi dan sang pemimpi.  Cerita film ini lanjutan perjuangan meraih mimpi Arai dan Ikal di Paris. 

Thanks God! Yg jadi Arai gak jadi Ariel.  Klu Arai dimainkan Ariel duh…..pastinya males banget nonton film ini.  Nah, Ikal diperankan oleh Lukman Sardi….walaupun terus terang kayaknya Lukman ketuaan memerankan Ikal….tapi bagaimana lagi…susah kali ya nyari tokoh berwajah pas2an dengan akting bagus…hehehe 

Ok! Gak ada yg harus dicela dg akting Ikal. Arai yg penuh semangat pun diperankan dg baik…. body language di setiap akting bisa dinikmati dg indah…

Lalu ceritanya??
True friendship!!! Jadi pesen dari film ini. 
Nah…seperti film Produksi Mizan…ciri khasnya….perasaan kita akan diaduk2…dari humor seger dan orsinil yg bikin terpingkal, terharu, juga dibuat mengerutkan dahi karena kritik2 sosial ……asli deh kita tidak hanya terhibur dg nonton film ini, tapi sarat makna juga kata….banyak quote yg bisa diambil dr film ini. Boleh jg siapin catatan tuh!

Film ini bisa jadi…tontonan yg bisa dinikmati anda dan para abg-ers buah hati anda.  Jarang loh ada tontonan yg bisa dinikmati sekeluarga….

Saya paling suka dialog super lucu antara “Rhoma Irama dan Adam Smith…”
Perasaan kita akan diharubirukan saat Arai yg berusaha mengingatkan dan terus memompa semangat Ikal…..haru banget IT’S TRUE FRIENDSHIP…..

Nah, ini bisa jadi contoh bagi para remaja labil tentang arti sahabat sesungguhnya! Bahwa sahabat sejati itu ada dikala susah…memompa semangat dikala lemah….mengingatkan dikala salah langkah…

Film ini bukan film islami! Tapi nilai2 dan alurnya SANGAT ISLAMI bahkan LEBIH ISLAMI dibandingkan film yang MENGAKU FILM ISLAMI. Betul??? Kalau gak percaya tonton aja!

Saking menikmati film ini, ketika berakhir….kita bilang “What???? Kok udahan sih!!!