Jokowi Amin atau GOLPUT? #saveNKRI

Jokowi Amin….. (nb. kalau saya membaca frasa ini, serasa do’a berkah untuk sebuah pertanyaan, “Siapa Presiden Indonesia 2019-2024? insyaalloh “Jokowi! Aamiin!”).  Hal yang sama jika Prabowo berpasangan dengan Amien Rais, frasanya menjadi “Prabowo Amien”

Bagi saya pribadi pasangan Jokowi Amin cukup mengagetkan, karena sejak awal saya menduga Pak Mahfud MD yang akan berpasangan dengan Pak Jokowi.  Pak Mahmud MD tidak diragukan lagi keilmuan dalam soal ketatanegaraan dan agama.  Namun gelarnya beliau belum nyampe Kyai atau Ulama.  Partai koalisi Jokowi yang tidak pernah membahas ‘ijmak ulama’ pada akhirnya memilih seorang Kyai seorang ulama untuk mendampingi Jokowi. Sementara partai oposisi yang sudah melakukan Ijmak Ustadz sudah mengeluarkan dua nama Ustadz yang dipilih, pada akhirnya berlabuh pada sosok Pengusaha Muda.

Secara pribadi, saya menghaturkan terima kasih kepada Jokowi dan Partai Koalisinya yang menempatkan kepentingan bangsa Indonesia, bagaimana PILPRES dapat berjalan bukan hanya aman, namun juga damai dan tentram serta gembira.  Terima kasih yang sangat dalam juga untuk Pak Prabowo, Bapak telah menunjukkan secara cermat keluar dari tekanan yang begitu menghimpit demi keutuhan NKRI Pancasila juga. Brovo Jenderal, from the bottom of my heart i salute you

Hal yang menarik adalah pilihan partai koalisi Jokowi terhadap Pak KH. Ma’ruf Amin.  Menyandingkan antara Ulama dan Umaro.  Saya sendiri follower beberapa tokoh yang punya pandangan beragam tentang posisi ulama dan umaro dalam pemerintahan (islam khususnya), dalam diskurs ini paling tidak ada dua pendapat yaitu:

  1. Pemisahan ulama dan umaro.  Umaro atau pemimpin pemerintahan haruslah orang yang ahli dalam manajemen pemerintahan yang dibuktikan dengan pernahnya menjabat di pemerintahan level walikota, gubernur, pada akhirnya presiden.  Adapun ulama posisinya sebagai dewan penasehat umaro, posisi lebih tinggi dari Umaro.  Namun tidak setiap nasehat dari Ulama bisa ditelan mentah-mentah oleh Umaro.  Pemisahan seperti ini terjadi pada pemerintahan Syiah seperti di Iran.  Juga pada sistem monarkhi seperti sistem sultaniyah atau kerajaan.  Termasuk kesultanan-kesultanan di Nusantara seperti Ternate, Jogja, Solo, dan lainnya.
  2. Penyatuan antara ulama dan umaro.  Seorang umaro lebih afdol jika dia seorang mujtahid pada konteks ini maka dia adalah Umaro yg juga Ulama.   Pandangan seperti ini diadopsi oleh sistem khilafah islamiyah atau Negara Islam Indonesia.  Pada zaman kekhilafahan islam ada Umar bin Khatab, Abu Bakar Sidiq, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib….keempatnya adalah Umaro sekaligus Ulama yang dibina langsung oleh Nabi SAW.  Pada konsep #NeoNII unggulan dari calon gubernur selalu dibangkitkan sisi kefakihannya dalam agama, misalnya hafidz quran.  Jika pun tidak maka pasangan wakilnya haruslah unsur umaro-ulama, berdasarkan pandangan ini maka wajar jika kelompok tokoh agama islam pengusung #NEONII melakukan ijmak untuk memilih ustadz yang layak menjadi cawapres.

Ketika koalisi Jokowi menyandingkan Umaro-Ulama maka sesungguhnya pola ini mendekati sistem ideal kekhilafahan islam. Umaro dan ulama sejajar dalam membimbing bangsa Indonesia menuju baldatun toyibatun warobun ghofur.  Dengan masuknya unsur ulama juga ahli ekonomi syariah, saya membanyangkan bergejolaknya ekonomi real dan mulai dibumikannya mata uang berlandaskan emas yang boleh jadi akan menggantikan dominasi dollar.  Pembangunan mental dan spiritual akan makin subur.  Nasionalis religius….menjadi ruh dalam membangun Indonesia.  Ruh jamai’ pasangan Jokowi-Amin adalah islam nusantara, islam  yang toleran terhadap multikultur, multi ethnis, dan multi agama.

Lalu mengapa mereka yang memperjuangkan kekhilafahan islam dan #NeoNII tetap “nyinyir” dengan keputusan ini? Apalagi kelompok #NeoNII sangat paham siapa Kyai Ma’ruf Amin.  Beliau lah yang membuat fatwa sehingga lahir GNFMUI yang berjilid-jilid demo di Monas.  Mengapa setelah digandeng Jokowi cs, kelompok #NeoNII tetap membenci? Ini semata-mata karena Jokowi dan koalisinya yang menyadari bahkan menghalangi mereka bisa bangkit dalam menghimpun kekuatan umat islam untuk melakukan revolusi menggantikan pemerintahan NKRI berdasarkan pancasila menjadi pemerintahan NKRI BERSYARIAH sebagai cikal bakal dari Kekhilafahan islam.  Ini “nyinyir” ideologis.   Beberapa isu yang dimunculkan anggota kelompok Nyinyir ideologis adalah:

  1. KH Ma’ruf Amin sangat mulia, tidak pantas dijadikan pilihan politik.
  2. Jokowi butuh suara umat islam.
  3. Pemilihan KH. Ma’rif Amin sekedar perisai untuk menutupi kedzaliman Jokowi terhadap umat islam.
  4. ……dan isu-isu lainnya yang akan terus diproduksi oleh mereka untuk membuat masyarakat pemilih Jokowi GOLPUT.

Praktek kelompok #nyinyir ideologi ini di lapangan kemudian dibagi menjadi dua:

Kelompok Nyinyir ideologis pertama:  Selain isu yang telah disebutkan di atas, akan dimunculkan juga isu HARAM-nya memilih pemimpin dalam sistem demokrasi kufur, walaupun calonnya itu Seorang Kyai, namun karena sistem yang dibangunnya adalah demokrasi, dan demokrasi sistem kufur, maka memilih Kyai pun tetap haram.  Dengan Nyinyir #ideologis seperti ini mereka berharap masyarakat banyak yang GOLPUT, sehingga pemimpin terpilih nanti tidak menggambarkan legitimasi hukum.

Kelompok Nyinyir ideologis kedua: tidak mengajak golput, namun mengajak memilih koalisi partai yang bisa mereka stir.  Namun tak mudah menyitir calon presiden sekarang!

Sudah jelas koalisi 9 Partai Jokowi sangat solid tidak bisa mereka stir, justeru sebaliknya kelompok ini bisa distir dan dibanting jika bertindak membahayakan NKRI Pancasila.  Bagi kelompok Jokowi Amin sudah sangat jelas “NKRI Pancasila adalah perjuangan para pendiri bangsa termasuk di dalamnya para ulama dari NU.  Mempertahankan NKRI dan Pancasila adalah bentuk ke-tsiqoh-an pada para ulama pendahulu”.   Maka kelompok Jokowi cs karena tidak bisa mereka stir, bahkan jika kelompok #NeoNII ini masuk pada kelompok ini, mereka akan diminta tobat untuk kembali pada Islam Nusantara.  Oleh sebab itu Jokowi cs akan menjadi lawan abadi mereka.  Labeling “pendukung penista agama” walaupun di dalamnya ada Kyai yang menginisiasi gerakan demo berjilid-jilid, tetap akan terus disematkan pada kelompok Jokowi cs untuk memenangkan pertarungan ini.

Adapun Gerindra dan Demokrat juga bukan partai yang gampang distir, sudah terbukti dari keputusan Pak Prabowo memilih Sandiaga Uno.   Demokrat dan Gerindra sebagai partai nasionalis saya yakin menjaga NKRI Pancasila.  Bagi Gerindra/Demokrat bergabungnya orang-orang kelompok #NeoNII ini ke partai mereka bisa dianggap sebagai simbiosis komensalisme.  Militansi dan kesolidan mereka bisa dimanfaatkan untuk kampanye mendulang suara.  Walaupun kampanye mereka penuh hujatan SARA dan politik identitas, namun selama keberadaan mereka menguntungkan dan tidak merugikan mengapa tidak? Toh secara pribadi  Prabowo-Gerindra dan SBY-Demokrat bukan orang atau kelompok yang mudah di-stir oleh kemauan mereka.  Ideologi Gerindra dan Demokrat jelas ‘Nasionalis Pancasila’, tinggal kekuatan keduanya untuk tetap istiqomah ditengah gempuran pihak-pihak #NeoNII.

Tadinya saya berhadap PILPRES kali ini dengan berpasangannya Jokowi dengan Ulama bisa dijalani oleh warganet dengan nyaman dan damai, namun rasanya nyamannya hanya sesaat saja.  Sehari setelah deklarasi capres-cawapres keributan mulai kembali.  Ya, sudahlah kita tutup toko aja selama PILPRES.

 

Refleksi PILEG 2014

Pestanya demokrasi usai sudah! Walau hasil pasti belum diperoleh, namun quick count menunjukkan 3 besar berada di tangan PDI-P, Golkar, dan Gerindra.  Ada sih partai yang masih berharap menjadi tiga besar dan pada saat ini sedang terus memburu formulir C1, partai yang dari awal yakin dengan target 3 besar, kebetulan juga partainya no 3.   Tapi tampaknya data-data berbicara, hasil quick count berbagai lembaga survey menunjukkan partai ini terlontar dari 5 besar!!!

Jika PDI-P dan Golkar perolehan suaranya melesat! Kita tidak perlu heran, karena kedua partai ini pemain tangguh di kancah politik Indonesia.  PDI-P pernah diguncang di ORDE BARU, partai ini pun keluar dari PDI mendirikan PDI-P dan sempet memperoleh 33% pada PEMILU REFORMASI, ketangguhannya terbukti.  GOLKAR pun begitu, berbagai petingginya menciptakan partai2 baru mulai dari HANURA, PD, NASDEM, GERINDRA, dan PKPI…namun suaranya tetap bertengger dan tetap kokoh dalam berbagai goncangan.  Kasus korupsi di partai ini banyak tentu saja, namun korupsinya tidak sampai melibatkan ketua partai, sehingga efeknya pada masyarakat tidak begitu besar, karena kronco2 yang melakukan korupsi bukan para elitnya.

Suara yang terjun bebas dialami oleh Partai Demokrat.  Kegagalan SBY bersikap tegas dan terlalu lambat dalam mengambil sikap, serta korupsi yang membelit kader juga ketua partainya disinyalir menjadi sebab menurunnya simpati rakyat.  Ditambah lagi, kegagahan dan kegantengan SBY makin memudar, membuat ibu2 yang awalnya mengidolakannya menjadi surut pada masa kini (#justJoke but Real).  Partai ini susah MOVE ON….  tampaknya, #sebaSalah…

Satu partai lagi yang ketua partainya terlibat urusan dengan KPK karena kasus suap daging sapi adalah PKS.  Suara partai ini pun melorot sekitar 1-2% saja, memang gak se-tragis PD yang terjun bebas, tapi tetap saja gagal menempati 3 besar bahkan 5 besar hasil quick count, mungkin tinggal menununggu keajaiaban hasil real count, tapi tampaknya juga imposible bisa 3-5 besar, jika melihat margin error quick count 1-2%.  Usaha partai ini untuk jadi terbuka dengan menerima caleg non muslim, caleg syiah, dan caleg pendeta tampaknya gagal mendongkrak suara.   Begitu juga pasukan cyber army yang disiapkan untuk mempengaruhi para aktifis sosial media tampaknya juga gagal bertarung, bahkan acapkali para cyber army ini membuat BLUNDER!!!  Para cyber army ini menciptakan data-data hoax, sumpah serapah pada para golputers termasuk bersabda “al goputers ikhwanusysyaiton” juga pada para lawan potilik terutama JOKOWI dan PDIP.  Tapi usaha para 500 ribu cyber Army (see: detik.com)  Gagal mempengaruhi massa media sosial, bahkan sebaliknya acap kali menjadi blunder.  Usaha cyber Army ini sangat kontra produktif,  bukan jualan program yang ada malah menangkis citra negatif partai dan menyerang PDIP & Golputers.  Akiibatnya apa? Boro2 menarik para golputers buat milih nih partai, malahan pemilih yg pernah bersimpati pun emoh milih lagi partai ini.  Jika tahun ini PKS mendapatkan suara 6-7%, maka tampaknya itu angka yang FIX yang terdiri dari simpatisan dan para kader serta keluarganya yang loyal pada PKS, juga para pemilih pemula yaitu mahasiswa dan pelajar yang ikut pengajian tabiyah/PKS (sebagaimana diketahui PKS masuk ke universitas lewat LDK/Lembaga Dakwah Kampus, dan masuk ke SMAN2 lewat ROHIS serta mendirikan berbagai SMA IT termasuk lembaga2 Zakat )

Sebagaian golputers lari kemana (Golput turun 5% baca: detik.com)? Ke Gerindra! Kenapa? karena walaupun diserang berbagai black campaign, partai ini konsisten menawarkan program, termasuk program ekonomi kerakyatannya, dan berjanji melepaskan Indonesia dari gurita IMF.  Internalisasi partai terus dilakukan, para pemilih pun mendapat informasi2 apa yang dilakukan partai ini melalui twitter dan facebook.

Selain Gerindra, PKB juga menunjukkan fenomena menarik.  Isu perpecahan yang santer pada 2009 mulai meredup.  Cak Imin bisa mengkondisikan warga nahdiyin untuk come back melalui figur Mahfud MD dan Rhoma Irama serta konsolidasi yang terus dilakukan.  Warga nahdiyin di PPP pun tampaknya mulai berpaling ke PKB, begitu juga warga nahdiyin di PD juga pulang kampung.  Sepertinya PKB bekerja keras untuk melakukan konsolidasi internal, dan hasilnya cukup menggembirakan.

Boleh dikatakan pemenang PILEG 2014 adalah Gerindra dan PKB,  kenaikan suaranya hampir 100%,  rahasianya apa??? Rahasianya adalah mereka bekerja keras untuk konsolidasi memperbaiki internal partai dan mereka jualan program.  Maka merekalah pemenangnya.

Nasib menyedihkan ada pada 2 partai yang tidak lolos PT.  Terutama PBB, partai ini pernah bersinar pada tahun 1999 dengan tokohnya bapak Yusril, tetapi kemudian meredup perolehan kursinya seiring dengan intrik kawin lagi yang melanda figuritas Yusril.  Tahun 2014 partai ini menawarkan format Ideologi Masyumi yaitu memperjuangkan syariah, tetapi tampaknya tidak populer bagi rakyat Indonesia.  Satu hal yang bisa dibaca dari kekagagalan PBB dengan tawaran syariat islamnya adalah masyarakat indonesia masih dilanda PHOBIA SYARIAT ISLAM dan lebih memilih partai yang tidak terlalu ekstrim memperjuangkan syariat seperti PKB atau PPP.  Untuk partai yang konsisten memperjuangkan syariat ISLAM tampaknya perjuangnya bukan mengikutikan partai ke PESTA DEMOKRASI, tapi bagaimana mengubah presepsi masyarakat muslim agar TIDAK ALERGI PADA SYARIAT ISLAM.  Bgaimana agar semua kalangan baik muslim maupun non muslim bisa menerima konsep syariat islam dalam tatanan negara, tentu saja perlu dakwah yang elegan, bukan ingin mendapatkan kursi di parlemen untuk mengubah UUD menjadi bersyariat, tetapi lebih pada menyiapkan rakyat untuk bersyariat.   Salah satu indikator rakyat taat syariat adalah “MENOLAK MONEY POLITICS” selama rakyat masih mau menerima money politics,  selama itu pula sulit menerapkan keinginan indonesia bersyariah.

 

Ok, ini sih hanya sekedar refleksi di 1/3 malam.  “I just write what i think, even you think nothing”

 

 

Golput or Golhit?

9 April 2014 mulai memanas. Bukan sekedar perang survei dan klaim siapa yang bisa menduduki kursi nomor 3, tetapi juga sebagaian partai meributkan golput.  Beberapa politisi menggunakan jalur hukum, menghendaki adanya hukuman bagi orang yang golput (bukan sekedar mereka yang menyerukan golput ya?).  Beberapa politisi minta fatwa pada ulama agar golput dihukumi haram, ada juga yang minta pada pendeta untuk menghimbau umatnya tidak golput.  Bahkan sebagian politisi dan partai menakut-nakuti masyarakat agar tidak golput dengan alasan SARA (padahal ini gak boleh hukumnya ya?), misalnya kalau golput parlemen akan dikuasi agama X, aliran X, dsb.

Golput cukup meresahkan? Ya, betapa tidak golput pemenang di setiap pilkada, mereka menduduki hampir 40% suara.  Media massa juga melasir partai sosial media (Media Sosial Addict) lebih cenderung golput.  Berbagai alasan golput, dari masalah teknis (PEMILU dilaksanakan pada jam kerja),  masalah pilihan (PEMILU menawarkan calon2 yang tidak mewakili aspirasinya), dan masalah ideologi.

Bahayakah GOLPUT??

GOLPUT bagian dari demokrasi.  Jika GOLPUT dilarang, dipenjarakan, dan diberangus, maka bisa dipastikan negara ini bukanlah negara demokrasi.  Jika memang MENDEKLARASIKAN DIRI SEBAGAI BAGIAN DARI DEMOKRASI, harus juga memiliki sikap DEMOKRAT yaitu menghargai dan respect terhadap perbedaan….”GOLPUT adalah buah perbedaan pikiran”.   GOLPUT bukan sebuah bahaya justeru penyeimbang.  Dulu ada Blok Barat dan Blok Timur, nah Indonesia memilih menjadi NON BLOK, Indonesia dan NON BLOKnya menjadi blok tersendiri sebagai penyeimbang peta politics dunia.

Menurut saya GOLPUT menjadi sebuah kekuatan OPOSISI yang paling jujur dan tidak pamrih.  Mereka bekerja mengawasi jalannya pemerintahan, mengkritik, dan beraksi jika ada yang salah. Nah, lihatlah berapa banyak UU yang dibatalkan oleh gerakan massa ini?  Partai dan kadernya yang duduk di SENAYAN tak mungkin ikut berdemo dan melakukan class action untuk membatalkan UU bukan?  Jadi kalau dikatakan berbahaya, pada kenyataannya mereka justeru menjadi PENYEIMBANG opini dan aksi yang paling jujur untuk membela rakyat.

Golongan putih adalah antitesa dari golongan hitam.  Jika semua dipaksa menjadi golongan hitam dengan FATWA NERAKA dan PENJARA, maka kita tidak akan pernah kenal warna putih.  Jadi mau jadi golput atau golhit biarkan saja itu kan pilihan setiap orang.  Sumbangan terhadap negeri tidak hanya melalui jalur politik, tetapi juga ada bidang lainnya sosial, budaya, keamanan…dll.   Selama mereka yang golput tetap bayar pajak, ikut aturan negara termasuk aturan lalu lintas, dan berpartisipasi membangun negara….GAK MASALAH BUKAN?? dan bukan suatu aib, yang tidak boleh dilakukan adalah menjadi teroris dan melakukan kekerasan!