Anak sebagai sumber investasi???? #ThinkAgain

Pagi ini saya baca diskusi di posting teman tentang REFLEKSI “haji”, ia menuliskan sebuah kisah:

“Seorang nenek berusia 70 tahun, sebagai IRT ia menggiring anak-anaknya hingga semua bisa sekolah dan dewasa, ibu dan nenek ini tak pernah meminta apapun dari anak-anaknya secara materi.  Ketika ditanya mengapa begitu, “Biarlah pahala membesarkan mereka akan diterima dengan utuh” lama hal itu berjalan, sampai suatu saat  ketika ekonomi anak-anaknya itu telah stabil, anak-anaknya tanpa janjian terlebih dahulu memberikan dana dengan jumlah yang bebeda-beda dan mengatakan pada ibu mereka agar dana itu dapat digunakan untuk naik haji”.  Si nenek bercerita pada ustadazah tempat pengajiannya, saya lihat cucu-cucu saya tumbuh dengan baik. sehat dan shaleh, tahun depan kelihatannya enak jika saya naik haji”

 

komentar yang berdasarkan sebuah kisah itu menyentak hati! Kenapa? karena kita sering menganggap anak sebagai sebuah investasi dan anak dikenai kewajiban “MULANG JASA” (BALAS BUDI).  Sebagai orang tua frame ini lekat sekali, sehingga si ortu menuntut anak untuk mengirimkan biaya bulanan sampai dengan tuntutan menghajikan, terkadang ortu tidak melihat bagian dalam si anak kalau ekonominya masih pas-pasan.  Dan ini kesalahan FATAL dari orang tua!!!

Kita sebagai ortu diamanahi anak-anak sebagai bagian ibadah kita kepada alloh swt, dan ketika kita berhasil membawa anak2 menuju kedewasaan dengan bekal ilmu yg mumpuni untuk hidup mandiri, maka pada saat itu amanah itu tertuntaskan, lalu siapa yang membayar semua pengorbanan harta, waktu, pikiran, dan tenaga untuk anak-anak kita??? BUKAN ANAK KITA YANG HARUS BAYAR, tetapi alloh swt saja yang bayar!

So, sebagai ORTU kita harus punya paradigma “ANAK ADALAH AMANAH ALLOH SWT, BUKAN OBJECT INVESTASI”

 

Rukun Islam dan multidimensional efek

Pernah berefleksi tidak, bahwa ternyata rukun islam itu punya efek besar tdk sekedar ruhiyah tapi juga ekonomi, sosial, bahkan budaya. Coba kita sadari:
1. Syahadat >> konsekuensi sbg muslim.  Secara verikal sdh tentu terikat pd perintahNya.  Konsekuensi ini akan berpengaruh pd budaya seseorg.  Seorg muslim hrs mau hidup dg budaya islam (pakaian, makanan, minuman, bahkan tidur pun ada aturan dlm islam yg ajan jadi budaya)

2. Shalat.  Selain dimensi vertikal/ruhiyah, juga menimbulkan dimensi sosial kemasyarakatan.  Apalagi dg tumbuhnya mesjid.

3. Zakat.  Ini lagi…jelas terlihat dimensi sosial humanisme selain dimensi vertikal.

4. Puasa, nah walaupun tujuannya sangat vertikal.  Tapi komersialisme romadhan membuat dimensinya bergeser ke ekonomi bisnis…apalagi dg penutup hari raya.

5.  Haji.  Ini yg plg terlihat dimensi ekonominya.  Haji tlh membuat arab  kaya raya dg devisa haji dan umrah.  Haji menggerakkan dimensi ekonomi mulai dari penjual tas, baju haji, oleh2 haji, katering, maskapai penerbangan sampai hotel dan penginapan.

Sungguh ibadah yg punya efek multidimensional….mensejahterakan dan menghumaniskan…manusia.