Bagian 2: Beribroh pada siapa? #Think

Pada bagian sebelumnya sudah dibahas bagaimana perlakukan Rasulullah saw ketika menjadi Pemimpin di Madinah pada pengemis Yahudi yang buta, juga pada Abdullah bin Ubay [Yahudi, yang masuk islam].  Kepada keduanya Rasululloh saw tidak menghukum walaupun “Pengemis Yahudi BODOH ini melakukan penistaan kepada Rasulullah saw dengan kata-katanya, ‘Jangan Mau dibohongi Muhammad‘,  ‘Muhammad orang gila‘ dll“.  Lalu Abdulah Bin Ubay yang melakukan penistaan dengan mengatakan “Kaum mukminin dari kalangan muhajirin sebagai orang hina”.  Pengemis dimaafkan oleh Rasulullah saw, dia menghina karena kebodohannya.  Abdulah bin Ubay walau sering menghina dan menghalangi islam pun tidak dihukum karena jika dihukum akan timbul perpecahan di kalangan Masyarakat Madinah.

Kini kita beribroh pada kasus lainnya.

3.  Kasus Rasulullah saw menghadapi Ka’ab Bin Al Asyraf. [kisahnya ada di Sirah Nabawiyah, mohon maaf ya saya bahasakan ulang dengan gaya kekinian]

Kisahnya terjadi di Madinah, saat hukum Islam berdiri tegak.  Adalah …. Ka’ab Bin Al-Asyraf (ABA) seorang Yahudi Bani Nadhir nan gagah dan tampan seorang ahli syair. Apa dia lakukan?

  1. Dia membuat syair atau puisi yang menghina Rasululloh saw, ummu mukminin, shahabat, islam dan wanita muslimah.
  2. Dia datang ke Quraish, membuat syair menangisi korban perang Badr, menghasut Quraish untuk berperang melawan kaum muslimin dan Nabi Muhammad saw di Madinah. [Syair ABA mengobarkan perang Quraish vs Muslim]
  3. Dia menyiapkan pesta bersama kawan-kawan Yahudinya, dan berencana mengundang Rasulullah SAW, ketika Nabi SAW datang, teman-temannya diminta menjatuhkan Nabi SAW ke pangkuannya. [Ka’ab merencanakan pembunuhan Nabi SAW].

Bukan hanya membuat syair hinaan bagi muslim dan islam, tapi juga menghasut musuh untuk memerangi kaum muslimin dan islam, bahkan bermaksud membunuh Nabi Muhammad SAW. Rasulullah saw pun bersabda, “Siapa yang mau menghukum Ka’ab, sebab dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya”

Adalah Muhammad bin Maslamah (MBM) dkk, yang mengajukan diri memenuhi seruan Rasulullah SAW. MBM menggunakan taktik pura-pura tidak senang terhadap islam.

MBM: Orang itu (Nabi Muhammad SAW) mengharuskan kami bersedakah. Kami berat, boleh gak pinjam uang dari kamu.
ABA: Boleh, tapi harus pakai jaminan.
MBM: Jaminannya apa?
ABA: Serahkan isteri kalian padaku [wuihhh kurang ajar ya?]
MBM: Bagaimana mau menyerahkan padamu, nanti isteri kami tertarik padamu, kamukan gagah dan tampan.
ABA: serahkan anak-anak kalian saja kalau begitu!
MBM: Bagaimana mungkin kami menggadaikan anak-anak kami dengan sekuintal kurma. Gini aja deh, kami gadaikan senjata kami saja.
ABA: Ok, kalau gitu! Malam purnama bawa, saya tunggu di Benteng Bani Nadhir!

Adalah Rasulullah saw, was-was dengan rencana MBM dkk. Kalau gagal, maka MBM dkk lah yang akan terbunuh dan dibunuh oleh Kaab dan pasukan Yahudi di Benteng Bani Nadhir. Oleh karena itu sepanjang jelang rencana dilaksanakan tak hentinya Rasulullah saw bermunajat pada Alloh SWT.

Pada malam purnama, MBM dkk datang membawa senjata untuk digadaikan. ABA keluar rumah dengan rambut yang wangi. Abu Nailah (kawan MBM) berkata, “Wuih…harum banget nih pas Kaab Keluar” Kaab mesem-mesem, “Iya gue pake minyak rambut yang wanita arab pun gak ada yang bakalan punya! [Busyet deh, masih sombong aja ya?]. Abu Nailah membelai rambut Kaab, 1x, 2x dan yang ke-3x merenggut rambutnya keras seraya membekuk tengkuknya….dan terbunuhlah ABA.

#Refleksi: Rasulullah saw memerintah membunuh penista Nabi dan Islam, dikala derajat penistaannya tidak hanya menyangkut pribadi tapi juga membahayakan stabilitas negara bahkan jiwa Nabi Muhammad SAW.

4. Kasus Rasulullah saw menghadapi Abu Lahab

Abu Lahab, kisahnya diabadikan dalam QS. Al Lahab. Dia adalah paman Nabi SAW sendiri. Kisahnya terjadi saat Nabi SAW masih di Mekah, sebelum syariat Islam berdiri di Madinah.

Dia sangat menyangi Muhammad, sampai2 ketika Muhammad keponakannya lahir dia menyembelih dua kambing [Aqikah pertama dlm sejarah dilakukan Abu Lahab] dan membebaskan budak sebagai wujud kegembiraannya. Ketika Muhammad nikah dengan Khadijah, darinya ada dua anak tiri Ruqqayah dan Ummu Kulsum. Saking sayangnya pada keponakannya, dia pun menjodohkan Kedua anaknya dengan anak tiri Muhammad. 

Sikapnya berbalik 180 derajat, ketika Muhammad mengumumkan kenabiannya. Ketika pengumuman kenabian diberitakan pada penduduk Mekah, Abu Lahablah yang mengatakan “Gila, kamu muhammad” Padahal sebelumnya beliau diberi gelar Al Amiin (Orang terpercaya). Seperti diberitakan di QS Al Lahab, adalah Abu Lahab menggalang kekuatan melakukan penistaan berjamaan dengan menyebutkan “Muhammad orang Gila, Muhammad tukang Sihir, Ayat Qur’an itu buatan seorang Pendeta Nasrani bukan Firman Alloh SWT”. Bukan hanya itu isterinya pun Ummu Jamil pada malam hari memanggul kayu yang berduri untuk diletakkan di jalan2 yang biasa dilalui Nabi SAW. Sehingga bila Nabi SAW lewat pada malam hari/subuh akan terinjak kayu yang berduri itu dan terluka. Anaknya yang dijodohkan dengan anak tiri Nabi SAW pun diminta untuk cerai.

Inilah sikap Abu Lahab terhadap Baginda Nabi SAW:
1. Ringan tangan menyakiti Rasulullah Saw.
2.Bukan hanya dirinya yang memerangi Rasulullah Saw, ia pun melibatkan istri dan anak-anaknya. Satu keluarga telah terlibat.
3.Siap bekerjasama dengan siapapun demi menghabisi Rasulullah Saw, meski dengan setan sekalipun.
4.Baginya semua remeh dan enteng selagi itu untuk memerangi Rasulullah Saw, meski semua harta harus terbang melayang pergi.

___
Abu Lahab membenci Ajaran Islam yang dibawa Muhammad SAW. tak pernah berhenti memprovokasi masyarakat agar menjauhi Muhammad saw. Apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW pada pamannya ini? Apakah Nabi SAW meminta para pembesar Quraish untuk menghukum Si Abu Lahab? Apakah Nabi mengerahkan para shahabatnya untuk menuntut keadilan terhadap dirinya menggunakan hukum Quraish? Semuanya TIDAK, Nabi Muhammad SAW memilih bersabar tak henti menyadarkan pamannya ini bahkan Nabi SAW pernah memohon secara khusus pada Alloh swt agar menggerakkan hati pamannya ini terhadap Islam. Namun Abu Lahab adalah Abu Lahab….”Suara iman yang mengetuk hatinya diingkari, hanya karena keangkuhan dan kesombongan diri” …Nabi SAW berhenti dakwah pada Abu Lahab……sampai turun QS AL Lahab yang menjelaskan…
.سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.

#Refleksi5:Riwayat ini menjelaskan adalah proses natural jika ada cacian dan hinaan. Sebagai muslim…. sabar, do’akan, dan tetap melakukan yang terbaik, dan tidak berhenti mendakwahinya sampai terjadi kesetimbangan [bhs kimia].

 

Back to kasus Ahok, bagaimana saya harus bersikap? (Namanya juga #refleksi, saya tak hendak mempengaruhi siapapun].  Saya butuh fakta, berikut ini penggalan dari

“Bapak ibu tak usah khawatir, ini pemilihan kan dimajuin jadi kalau saya tidak terpilih pun..ini bapak ibu tak usah khawatir  nanti programnya bubar, tidak saya  berhentinya sampai oktober 2017, jadi kalau program ini dijalankan pun bapak ibu masih sempat panen sama saya.  Jadi saya ingin bapak ibu semangat, jangan nanti ganti gubernur programnya bubar. Enggak saya sampai Oktober 2017.  Jadi jangan percaya sama orang, bisa saja dalam hati kecil bapak ibu gak bisa pilih saya.  Iyakan dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macam-macam itu.  Itu hak Bapak Ibu, jadi kalau bapak ibu perasaan gak bisa pilih saya takut masuk neraka dibodohin gitu gak apa-apa tergantung pribadi bapak ibu, program ini jalan saja.  Jadi bapak ibu gak usah merasa gak enak dalam nuraninya gak bisa pilih Ahok, gak suka sama Ahok, programnya udah terima gak enak dong gue punya hutang budi, jangan nanti gak enak mati pelan-pelan kena stroke…..”

akses lengkap silahkan download disini: https://www.youtube.com/watch?v=N2Bn5JKTGkI

#Refleksi: Sebenarnya Ahok mau bilang, “Bapak Ibu gak pilih saya juga gak apa2 karena saya tahu bapak ibu punya keyakinan yang gak mudah diubah apalagi ini terkait dengan keyakinan terhadap Al Qur’an dan konsekuensinya di akherat.  Gak apa2 jangan merasa hutang budi sama saya

Tapi penyampaianya kasar….sehingga keluar “dibohongi pakai Al Maidah 51, dibodohin masuk neraka” [kata ini menyakitkan hati umat Islam tentu saja, termasuk juga saya].

Senin, 10 Oktober 2016 baca: AHOK MINTA MAAF [baca tribunnews.com, kompas.com]

 “Saya sampaikan kepada semua umat Islam, ataupun orang yang merasa tersinggung, saya sampaikan mohon maaf. Untuk semua pihak yang jadi repot, gaduh gara-gara saya, ya saya sampaikan mohon maaf,”  Balai Kota Jakarta, Senin (10/10/2016).

 

Kesimpulan:

Adalah Nabi Muhammad SAW memaafkan kebodohan pengemis Yahudi Tua.  Mengampuni Abdulah bin Ubay dan Abu Lahab yang terus menyerang Islam dan menyerahkan hukuman bagi mereka pada Alloh swt.  Adalah Nabi Muhammad SAW membunuh Ka’ab bin Asyraf karena syair dan provokasinya, Ka’ab tak pernah jera terus melakukan penghancuran melalui lisan dan provokasinya.  Adalah AHOK sudah meminta maaf pada umat islam, sudah mengakui kekhilafannya, dan menyesali perbuatannya.  Kemudian kita masih bersikeras? Cuma mau mengingatkan diri aja “Jangan sampai kebencian kita terhadap seseorang dan sesuatu kaum, menghalangi kita untuk berlaku adil terhadapnya”.

 

 

 

Negeri Kuali Asia #EduTravelling

um2

Sebenarnya kunjungan ke Malaysia kali ini untuk menghadiri International Conference, bukan untuk bahas sociocultural. Namun sisi sosiocultural Malaysia ternyata asyik juga ditelaah.

Negeri kuali Asia pantas disematkan pada malaysia.  Negara ini punya tiga ras yang saling bahu membahu membangun Malaysia yaitu China, India, dan Melayu.

Kalau kita jalan-jalan di Kualalumpur, kita akan mendengar sebagian cakap bahasa China, bahasa India, bahasa Melayu, dan bahasa Inggris.  Dan… jangan heran kalau Orang India gak bisa bahasa Melayu atau Inggris, dia hanya bisa bahasa India pun begitu dengan orang China.   (Gue bayangin kalau kejadian itu terjadi di Indonesia, orang China tidak bisa bahasa Indonesia, pastilah udah dituduh imigran gelap).

Nah, masuk ke hotel. Ups, hotel2 penuh! Rombongan China membooking kamar-kamar hotel, mereka adalah wisatawan dari China.  Sebenarnya rombongan wisatawan dari China bukan sekali itu saja saya lihat, di Jepang pun mereka banyak sekali.  Sekali memberangkatkan ada 20 orang untuk satu kloter, dan bisa ada 5-10 kloter loh berpapasan dengan kita. (Sekali lagi gue bayangin kalau kejadian ini terjadi di Indonesia, maka mereka akan disangka imigran gelap, punya tujuan tinggal di Indonesia. Ups padahal mereka sumber devisa kita ya?)

Begitu “terbukanya dada dan tangan” orang2 Malaysia terhadap China dan India membuat saya kagum.  Kalau YOU pergi ke universitas negeri di Indonesia, coba You hitunglah, berapa ras China yang mengisi jajaran akademik di universitas negeri? Ada 5% itu udah luar biasa, umumnya hanya 1-2 orang saja kan?  Tapi kalau you tenggok malaysia, maka jajaran akademik di universitas negeri maka You akan kaget, China-India memenuhi jajaran akademik universitas2…negeri.  Dan kita mungkin bisa saja berdalih, “Aih, itukan karena ranah akademik yang lebih open, kalau politik, mungkin tidak”.  Nah, silahkan you buka jajaran JAMAAH MENTERI MALAYSIA: KLIK DISINI  you akan lihat 17% anggota jamaah berethis China, dan nama mereka tidak mengalami naturalisasi, sehingga you akan lihat nama2 China macam ONG KA CHUAN, LOW SENG KUAN, SIEW KEONG, LIOW TIONG LAI ,  atau nama India macam S. SUBRAMANIAM.  

Siapa yang menyangkal “keberislaman budaya Malaysia?” Tapi keberislaman mereka ternyata mampu menghargai perbedaan lintas budaya dan mampu berbesar hati menerima kesamaam hak dan kewajiban sebagai WN.

Ok, back to Indonesia.  Akhir-akhir ini sebagian agama dan ras tertentu merasa lebih berhak atas Negara Kesatuan Republik Indonesia, atas Wilayah yang mereka tempati, sehingga mereka menutup peluang bagi beda agama dan ras lain untuk maju menjadi pemimpin daerah atau negera.  Aneka dalil dikeluarkan untuk menyatakan HARAM.  Ya, semua dalil itu memang bersumber pada kitab suci.  Kebenaran dalil dari Al Qur’an adalah benar adanya, sebagai muslim tak boleh membantahnya.  Namun, pertanyaannya, “Apakah konteks penerapan dalil tersebut cocok untuk Indonesia?” Indonesia adalah negara yang mendasarkan dirinya pada Demokrasi Pancasila (atau istilah beberapa kelompok mendasarkan pada SISTEM KUFUR bukan SISTEM ISLAM).  Lalu pertanyaannya, “Apakah pemimpin SISTEM KUFUR pun harus MUSLIM JUGA?”

Disinilah “nalar” kita berperan.  Islam adalah agama agung, namun sebagian orang memanfaatkan islam demi kepentingan politiknya.  Agama dijual demi mendulang suara.  Ketika prestasi lawan tak bisa ditandingi, maka MEMBAWA AGAMA dan ETHIS/RAS menjadi adalah jalan pintas yang digunakan mereka. Mereka melakukannya bukan semata-mata murni karena agama, tapi karena MENTAL MANUSIA KAPITALISME MATERIALISME DAN GILA KEKUASAAN.

Bukan hanya di Indonesia, di USA pun sama kok! Masih ingat kampanye agama/ras pada Obama? Yap, tuduhannya adalah “Obama Muslim, Obama AfroAmerican, gak layak jadi pemimpin USA yang mayoritas kristen dan orang kulit putih/CaucasianAmerica”.   Ok, mirip kan? Mirip sama Lu pada yang mengatakan “Ahok kristen, Ahok ChinaIndonesia” gak layak jadi pemimpin Jakarta yang mayoritas Islam dan MelayuIndonesia

#sekian saja! Let’s Think, daripada Nothing#

HOT TOPICS #ahok #pancasila #kapitalis #komunis #khilafah

Udah lama gak nonton TV dan aneka beritanya, hanya denger lewat radio dan baca beranda FB yang di-share beberapa teman saja.  Tampaknya dari media yang saya ikuti, hal yang banyak di-share adalah:

#AHOK

Jelang PILKADA makin memanas, apapun kebijakan Ahok saat ini selalu dijadikan ISU dan digiring opini masyarakat kearah negatif.  Misalnya kebijakan pengurusan KTP tanpa melalui RT dan RW yang bertujuan memangkas jalur administrasi dan juga memangkas pungli dianggap sebagai jalan memuluskan imigran cina menjadi WNI.  Provokasi yang #KOPLAK dan #BODOH kalau menurut saya.  Karena lurah dan pegawai kelurahan sebagai PNS di-sumpah oleh negara untuk mentaati aturan negara.  Lalu muncul grup “GMJ – Gubernur Muslim untuk Jakarta” grup yang aktif mensosialisasi kandidat Muslim dan membuat kampanye negatif untuk rivalnya AHOK.  Lalu seruan remaja untuk tes HIV AIDS diklaim sebagai pelegalan sex bebas, dan ditudinglah AHOK YANG KRISTEN membolehkan SEX BEBAS, begitulah jika NON MUSLIM melegalkan sex bebas.  Kampanye anti “RAS dan AGAMA” tertentu mewarnai beranda facebook saya.

#PANCASILA

1 Juni adalah hari lahir pancasila.  Biasanya yang banyak diperingati dengan upacara kebesaran hari 1 oktober sebagai hari kesaktian pancasila.  Apakah Pancasila tidak begitu sakti lagi? Hemmm…. Mari kita diskusikan!

Kesaktian pancasila akan teruji, jika pancasila DILAHIRKAN sebagai sebuah ideologi negara.  Apakah pancasila sebagai sebuah ideologi?

Saya ingat ketika SMA guru PMP SMA saya menyuruh kita membandingkan dalam bentuk tabel antara Pancasila, Liberalisme/Kapitalisme, Komunisme/Sosialisme, dan Islam.

Liberalisme/Kapitalisme mempunyai ciri DEMOKRATIS, saya yang sekolah jaman Mbah Harto gak kebayang demokrasi itu seperti apa.  Tapi kita tahu dari Dunia Dalam Berita setiap pemilihan presiden AS ramai sekali.   Orang boleh milih presiden bukan sekedar partainya.  Jadi demokrasi bermakna adanya “KEBEBASAN MEMILIH”.  Menurut butir pancasila azas demokrasi itu merupakan azas sila yang ke-4 “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”

Komunisme/sosialisme mempunyai ciri “Satu untuk semua semua untu satu” atau adanya keadilan sosial, tidak ada jurang antara si kaya dan miskin, semua diperlakukan dan difasilitasi secara sama.  Menurut pancasila azas keadilan sosial pun ada dalam sila ke-5 yaitu “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Islam: hal yang menjadi ciri penting dari islam adalah “Semua aturan haruslah disandarkan pada Kitabullah yaitu al qur’an dan hadits” tidak boleh satu titik pun aturan yang dirujuk selain dari kekuatan dalil.  Kekuatan akan harus diupayakan untuk mampu berijtihad mengeluarkan produk hukum bagi kemashlahatan dan sumber rujukan untuk ijtihad Al Qur’an, Hadits, Ijma Shahabat, dan Qiyas.  “Ketakwaan sistem” yaitu mengikuti apa yang diperintahkan Alloh swt dan Menjauhi apa yang dilarangNya.  Namun, ternyata ciri ini pun ada dalam pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa”

Jadi, pancasila itu gabungan dari Liberalisme/Kapitalisme ditambah komunisme/sosialisme, dan islam?  Hemm saya bukan pakar untuk menjawabnya yang jelas mah pancasila sebagai sebuah IDEOLOGI mencoba memahami multi-ideologi yang ada dalam benak rakyat indonesia agar bisa hidup secara “kemanusiaan yang beradab” dan bersatu untuk tetap menjaga “Persatuan Indonesia”.   Jadi Pancasila?  Pancasila sebuah ideologi yang KHAS.  Ideologi GADO-GADO, citra rasa gado2 dengan aneka sayuran dan umbian disatukan dengan bumbu kacang….dehh nikmat kan?

Back to Pancasila.  Ok, kesepakan bersama semua rakyat Indonesia termasuk para pendiri saat itu tidak memilih GALUR MURNI dari syariat islam atau sosialisme atau kapitalisme untuk menjaga kepentingan Indonesia yang multikultur multiethnis multiagama.  LOGISKAH? mari kita pikirkan!

Indonesia mayoritas memang beragama muslim 80-90%, namun keberadaan non muslim misalnya kristen dibeberapa propinsi mayoritas.  Misalnya di NTT, Sulsel, Sumut, Papua mayoritas beragama kriten, juga di Bali ya mayoritas beragama Hindu.  Kalau syariat Islam yang diterapkan maka wilayah-wilayah tersebut sudah pasti akan memisahkan diri dari Indonesia.  “PERSATUAN INDONESIA AKAN RETAK???”  Saya pikir bapak2 pendiri Indonesia lebih mengutamakan Persatuan Indonesia dan melunturkan EGO agama mereka demi hidup dalam tatanan KESATUAN INDONESIA.

Back to #Ahok.  Dengan pemilihan ideologi pancasila sebagai ideologi negara indonesia, maka setiap ethnis, agama, dan ras punya kesempatan yang sama untuk dipilih dan memilih.  Termasuk Ahok yang Kristen dan keturunan Cina, karena dia WNI. Tidak ada salah dan tidak bersebrangan dengan pancasila.  Pun begitu warga jakarta punya kebebasan memilih siapa saja tanpa pandang agama dan ras, karena itu legal secara ideologi pancasila.

__

Bagaimana dengan yang muslim? Islam adalah agama sekaligus ideologi.  Islam punya tata aturan yang lengkap pun termasuk dalam memilih pemimpin.  Seorang pemimpin negara islam wajib dipilih dari kalangan muslim, baligh, mujtahid lebih utama, adil, …  Semua syarat ini ada karena dalam negara Islam, seorang pemimpin haruslah menjalankan syariat islam dalam kepemimpinannya.

Sayangnya Indonesia bukan berdasarkan Syariat Islam dan bukan negara Islam, Indonesia hanyalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak, sehingga syarat kepemimpinan sesuai syariat islam ini menjadi tidak ada dan tidak berlaku di Indonesia.  Bagaimana dengan mereka Muslim yang ingin melaksanakan syariat Islam dalam memilih pemimpin? Ya, wong….negaranya aja bukan negara islam, bukan negara berdasarkan syariat islam. Lalu sebagian mengatakan “Dari pada tidak sama sekali, ya minimal adalah dari kita yang muslim yang jadi pemimpin?” — Kalau motif-nya ini ini bukan motif dan dorongan agama bukan motif keridhaan alloh swt, ini motif INGIN BERKUASA dengan memanfaatkan perasaan KESAMAAN AGAMA.  Ini motif “EGOIS” motif “KEPENTINGAN KELOMPOK” bukan motif kepentingan BANGSA DAN NEGARA.

Lalu kalau dasarnya murni islam bukan sekedar NALURI BERKUASA atau PUNYA KEPENTINGAN KELOMPOK & EGO apa yang dilakukan?  Bagaimana pun gak mungkinlah memaksakan islam dalam negara pancasila.  Kalau tetap mau memaksakan islam lebih baik mendirikan dulu negara islamnya.  Dan bagi yang demikian punya cita2 “merelealisasikan syariat islam dalam kehidupan termasuk memilih pemimpin” maka mereka itu lebih baik menyatu dengan mereka yang meyerukan #Khilafah Islamiah, mereka akan berada di luar sistem pemerintahan sah, mereka akan terus melancarkan perang pemikiran [bukan perang fisik dan teror] dengan tujuan agar masyarakat mau dengan sukarela mengadopsi pemikiran mereka.  Ketika ada masyarakat mayoritas di suatu negara punya keinginan “MENGUBAH IDEOLOGI NEGARA-NYA” karena masyarakat sudah rindu dengan keindahan ideologi islam, maka IDEOLOGI INI DITAWARKAN UNTUK DITERAPKAN.  Walaupun tujuan dari dakwah KHILAFAH ini hendak menggeser pancasila dari Indonesia, Saya pikir itu jauh lebih baik, lebih elegan, lebih FAIR FIGHTING dibandingkan dengan mereka yang MASUK KE DALAM SISTEM PEMERINTAHAN PANCASILA, dan mereka punya tujuan MENGOBRAK-ABRIKNYA DARI DALAM.  Mereka yang seperti itu ibarat MUSUH DALAM SELIMUT, muka mereka bisa mendua-mentiga-mengempat….  bagi ideologi sebuah negara, PENYUSUP seperti ini jauh lebih berbahaya daripada mereka yang jelas-jelas berada di luar sistem.  PENYUSUP seperti ini mengacaukan sistem yang ada.

 

#KESIMPULAN

Kesimpulan pribadi saya sih……[terserah anda setuju apa tidak…….bukan untuk diperdebatkan]:

Anda muslim? Anda SELALU ingin dan SENATISA MENGHARUSKAN DIRI dipimpin oleh muslim? Maka pikirkan untuk bergabung dengan gerakkan dakwah yang menyerukan penerapan islam secara kafah, penerapan islam secara kafah hanya bisa terealisasi dengan menerapkan negara Islam/Khilafah Islamiah.  Dirikan dulu negara ISLAM-nya, barulah anda bisa melaksanakan syarat memilih dan dipilih sesuai syariat islam.

Ingatlah jika Anda MUSLIM INDONESIA yang tinggal di Eropa, Singapore, atau Jepang, anda pun merasa damai bukan?  Padahal negara2 itu dipimpin oleh Non Muslim dipimpin oleh ideologi NON ISLAM? Mengapa anda tidak menuntut negara tersebut untuk dipimpin oleh muslim juga? Ini tentu karena kita sadar bahwa negara tersebut menggunakan ideologi Non Islam? Dan Anda pun harus sadar bahwa Indonesia pun menggunakan ideologi NON ISLAM!

Lalu Anda muslim? Anda ingin hidup damai dimanapun anda berada? Maka anda harus berdamai dengan Ideologi Negara tersebut. Mulailah melihat sosok yang akan memimpin daerah dan negara dari sisi “KEINDONESIAN DAN KAPASITAS KEPEMIMPINAN” bukan lagi terkotak pada Muslim-Non Muslim.

#Just think and write, although you will think it’s nothing#

 

 

It’s not Project! It’s #Pengabdian

 

Dia mungkin saja seorang “atheis”. Yap, karena lingkungannya tidak mengenalkan pada Tuhan.  Tapi dia sangat percaya bahwa “berbagi dengan sesama adalah sebuah kebaikan yang harus terus digulirkan”.   Diantara kesibukannya mengelola bisnis, dia mencurahkan waktunya untuk menggarap #project #kebaikan. Tidak ada tuntutan bagi seorang bisnisman untuk melakukan PENGABDIAN MASYARAKAT. Tetapi dia melakukannya….satu prinsipnya “Dia ingin melihat kehidupan di sekitarnya menjadi lebih baik”  ….. Dia ingin berbagi kebaikan.

Satu lagi juga seorang dosen.  Baginya manusia jika sudah mati, maka matilah.  Tak kenal dengan hari hisab atau padang masyar dan tak percaya ada kehidupan setelah kematian.  Selain mengajar di Perguruan Tinggi, setiap malam rabu, dia menyempatkan membawa onigiri dan teh untuk dibagi-bagikan pada para orang tua Tuna Wisma.  Dia mengajak ngobrol mereka dalam obrolan santai menanyakan kabarnya minggu ini.  Dia merogoh sakunya sendiri untuk aktifitas ini.  Dia memilih aktifitasnya ini sebagai “pengabdian masyarakat” tak ada yang membayarnya untuk pengabdian ini tapi dia melakukannya hanya satu tujuannya “BERBAGI KEBAIKAN”.

Masih terkait dengan dosen yang juga tak pernah berpikir tentang malaikat Rokib dan Atid. Dia tidak pernah tahu ada makna IKHLAS.  Bahkan dia tidak pernah belajar bagaimana menjadi seorang muslim, mum’min, dan mukhlis.  Dia merelakan dirinya 14 jam di pesawat terbang menuju negara berkembang.  Membagikan ilmunya di sana.  Waktu dan tenaganya tentu saja lebih besar habisnya dibandingkan dengan dana pengabdian pada masyarakat yang didapatkannya.  Bahkan dia harus merogoh sakunya sendiri untuk kegiatannya ini.  Tapi dia tak pernah merasa susah, dia merasa bahagia.  Baginya …..”KEBAHAGIAAN ADALAH MANAKALA ILMU DAN KEPAKARANNYA BERMANFAAT BAGI ORANG BANYAK”

Lalu bagaimana dengan kita? Yang muslim, mu’min, dan berusaha menjadi mukhlis? Yang percaya pada Alloh swt, pada malaikat, dan pada hari akhir?

*tentu saja harusnya lebih baik, namun apa yang terjadi?

“Saya kapok melakukan pengabdian masyakat dengan A, capenya doang, uangnya mah gak seberapa!”

“Mengerjakan proyek ini, bayarannya berapa?” [Padahal ini proyek pengabdian masyarakat, bukan proyek bikin gedung]

“Ini ada uang sakunya, enggak?”

“Eh, aku gak mau ya! ngeluarin sedikit pun dari uang aku untuk program ini!”

___

Inikah seorang muslim yang beriman kepada hari akhir? yang percaya bahwa “balasan” di akherat jauh lebih baik daripada harta dunia?

Semua pengalaman ini menjadikan saya merenung: “SUNGGUH DI YAUMIL AKHIR SAYA SEBAGAI SEORANG DOSEN AKAN DITANYA TENTANG TRIDARMA PERGURUAN TINGGI:

  1. Ilmu apa yang kau miliki?
  2. Apakah kamu memperoleh ilmu itu dengan cara yang halal?
  3. Dengan ilmumu itu apa yang sudah kau lakukan?
  4. Apakah orang sudah merasakan manfaat dari ilmumu?

 

Kira-kira di Yaumul Akhir Malaikat akan nanya, “Berapa rupiah yang kau dapatkankan dari membagikan ilmumu itu?” 

___

Semua apa yang saya amati dan alami, menjadikan sebuah bekal bagi saya untuk lebih baik. Kita memang memerlukan uang, tapi kita tak boleh cari uang dari sebuah kegiatan yang bernama “PENGABDIAN MASYARAKAT”. Because it’s not project, it’s pengabdian.

Hidup bukanlah “project” oriented.  Bukan pula “money” oriented.  Namun bagaimana “membagikan apa yang kita miliki untuk umat”

Islam tidak mengajarkan kita menjadi seorang kapitalis juga materialis yang mengukur kebahagian dari materi dan money.  Tapi islam mengajarkan kita BISA BERBAHAGIA KETIKA KITA BERBAGI ILMU DAN HARTA UNTUK KEBAIKAN UMAT.

#SELAMAT SHOLAT SHUBUH! #RENUNGAN SUBUH#

 

Mengapa orang tua dan orang dewasa tidak melarangnya?

Kejadiannya kemarin ketika kita meeting di Hotel bilangan Serpong bersama funding progaram dari Jepang.  Hari minggu hotel ada kegiatan wedding.  Ruang meeting di lantai 2 hanya diisi kita, sementara wedding berlangsung di bawah.  Selazimnya acara meeting di sebuah hotel, maka peserta meeting akan disuguhi coffee/tea break para jam 10.00-an.  Pada hari itu, suasana di ruang meeting memang sepi, karena sebagian peserta meeting siang itu belum kembali dari kunjungan ke lokasi sekolah salah satu peserta meeting di bilangan pondok cabe.

Pada hari ini diagendakan acara kunjungan ke sekolah di bilangan Pondok Cabe.  Ada sebagian peserta yang tidak ikut kunjungan, termasuk ketua funding dari Jepang, yang memilih menyelesaikan pekerjaannya di ruang meeting.  Saya termasuk peserta yang ikut menemani sebagian delegasi untuk melihat-lihat sekolah.  Kebetulan mobil yang kami tumpangi terbilang cepat untuk kembali, dan saya pun masih bisa melihat bahwa di koridor meeting kami ada 3 orang anak yang sedang diasuh oleh baby sisternya.  Anak-anak itu berusia antara 4-6 tahun.

Teman kami dari Jepang yang sedari pagi mengerjakan pekerjaannya di ruang meeting, selepas kami beranjak makan siang, melemparkan pertanyaan pada kami “Tadi itu ada anak-anak, dia ambil makanan di koridor ruang meeting yang diperuntukan untuk kita peserta meeting.  Anak-anak itu bolak balik mengambil makanan, Mengapa orang dewasa yang ada di sana tidak melarangnya?”

Saya yang sempat melihat ketiga anak dan baby sisternya mengiyakan ada tiga anak.  Teman Jepang kami mendesak jawaban, mengapa orang dewasa membiarkan mereka.  Jawaban yang muncul dari kami pun bermacam-macam.  Mulai dari analisis bahwa pembantu bersifat permisif….tidak berani larang-larang anak majikan.  Cara mendidik orang tua yang jelek.  Dan teman kami masih bertanya, “mengapa orang dewasanya di sini diam saja, membiarkan anak2 itu mengambil makan yang bukan untuknya, tidak melarangnya?”

Tertegun saya….

Tapi kemudian saya merefleksi, ada KARAKTER BANGSA INDONESIA yang melekat dan ini menjadi KESALAHAN FATAL DALAM PEMBENTUKAN MORAL DAN KARAKTER ANAK, kesalahan tersebut yaitu:

  1. BIARKAN SAJA NAMANYA JUGA ANAK-ANAK! Kita sering sekali memaklumi sikap moral anak-anak yang tidak baik dengan dalih mereka anak-anak.  Misalnya, mereka mengambil makanan yang bukan haknya seperti di ruang meeting itu, tanpa malu tanpa izin maka orang-orang dewasa Indonesia ditempat itu hanya akan berkomentar “Namanya juga masih anak”.   Pendidikan moral akan menjadi karakter ketika ditanamkan sedari dini.  Walaupun mereka anak2, perbuatan mereka mengambil tanpa izin tetaplah perbuatan hina.  Jika anak2 tidak dibiasakan memilih mana barang milik kita yang boleh dimakan atau dipakai kita dan barang milik orang lain yang gak boleh dipakai sebelum meminta izin, maka bagaimana kelak ketika mereka dewasa???
  2. INI ANAK GUE! Orang tua indonesia sering sekali arogan, ketika anaknya melakukan kesalahan ada tetangga yang menegur si anak, maka yang akan sakit hati adalah orang tuanya.  Ini juga yang jadi bahan pertimbangan mengapa banyak orang dewasa membiarkan anak2 orang lain menyimpang dengan alasan “Kalau anaknya diomelin ntar orang tuanya marah2 ama kita, udah biarin aja dari pada konflik”  Padahal jelas sekali “saling menasehati dalam kebjikan dan kebenaran” itu tidak dipilah-pilah pada anak siapa dan usia berapa.  Ketika melihat sebuah kesalahan maka “Ubahlah dengan tangan dan lisan……dan hanya orang-orang lemah yang melakukannya dengan hati-ketidaksetujuan dengan perbuatan tersebut”.  Dan orang tua seyogyanya berterima kasih, bukan malah sebaliknya membenci orang yang menasehati anaknya.  Anak siapapun adalah anak-anak Indonesia yang akan meneruskan Indonesia di masa depan.  Jadi, kenapa harus berpikir EGOSENTRIS.

Dua hal di atas tampaknya menjadi kesalahan terbesar bangsa kita dalam mendidik anak dan memperlakukan anak2.  Tidak ada salahnya kita refleksikan diri untuk memperbaiki kesalahan ini.

PRESIDEN KITA DAN KAMU!

Sudah lama ingin nulis ini, akhirnya dapat juga kesempatan buat nulis, alhamdulillah.

Pemilihan CAPRES makin memanas, para cyber armny bertebaran menggunakan berbagai media sosial untuk menyebarkan kampanye termasuk kampanye hitam yang bawa-bawa agama.   Prihatin sekali! Apalagi itu dilakukan oleh mereka yang kadar keislamannya mendekati militan, artinya keislaman mereka dalam tataran ritual dan muamalah serta akhlak lebih tinggi levelnya dari pada islam abangan atau islam moderat.

Isu syiah, liberalisasi, dan sekulerisasi serta deislamisasi ditujukan pada capres nomor dua, oleh pendukung capres nomor satu. Adapun capres nomor dua dilemparkan isu terkait HAM oleh para pendukung capres nomor dua.

Bagi saya sih, isu HAM itu sudah finish.  Prabowo sudah menjalani hukuman atas tindakannya tersebut.  Dan pada saat itu dia melakukan segala kegiatan atas instruksi.  Hanya saja yang harus diselidiki siapa yang melakukan instrksinya.   Kalau yang melakukan panglima tertinggi, mau apa lagi Sang Panglima yaitu Pak Harto sudah meninggal.  Dan saya pikir juga sah2 saja, sebuah rezim mempertahankan kekuasaannya, dalam islam pun para pembangkang atau Bughot-ers dihukum dengan hukuman yang keras, dibunuh dan dipancung.  Itu semua untuk menjaga eksistensi ideologi islam.  Begitu juga ORBA saat itu, untuk menjaga pancasila dan UUD 1945, maka setiap pembangkang dibumihanguskan.  Revolusi dan Reformasi memang senantiasa membawa korban, dan itu konsekuensi perjuangan.  Jadi masalah HAM sudah finish!

Lalu isu syiah, liberalisasi, sekulerisasi, dan deislamisasi bagaimana?  Isu ini KONYOL BANGET gak pake nalar dan gak lihat fakta serta gak holistik memandang masalah.  SETELAH REFORMASI INI KITA MENGANUT DEMOKRASI KAN? DAN DEMOKRASI ADALAH IDE YANG DIPERJUANGKAN SEHINGGA TUMBANGLAH REZIM ORBA.  Lalu dari mana asal usul demokrasi? siapa negara pengusung ideologi demokrasi saat ini?  Ide-ide Demokrasi memang lahir sejak zaman Yunani Kuno, ide ini marak seiring LIBERALISASI yang dilakukan di PARIS dengan melahirkan TRIAS POLITIKA (Eksekutif, Yudikatif, dan Legislatif) menumbang sistem MONARKHI dan KATERDAL yang berkuasa saat itu.  Demokrasi juga mengiringi semangat LIBERALISASI para Migran di Amerika yang kemudian mendirikan Negara Amerika Serikat di tanah para Indian.  Perancis dan Amerika Serikat merupakan motor dan acuan BERDEMOKRASI.  Demokrasi menganggap suara rakyat adalah suara tuhan, memisahkan antara wilayah tuhan hanya ada pada ritual ibadah, sementara politik adalah kesepakatan rakyat dan mayoritas.  JADI SANGAT KONYOL JIKA MENUDUH CAPRES NO 2 PENGUSUNG LIBERALISME DAN SEKULARISME,  karena siapapun PRESIDEN INDONESIA selama dia menyepakati konstitusi yang dijalankan adalah konstitusi raykat-suara tuhan suara rakyat, maka liberalisme dan sekularisme adalah konsekuensi.  Bagai mata uang liberalisme, sekularisme, dan demokrasi adalah satu kesatuan utuh.

Bagaimana dengan isu syiah dan deislamisasi?  Indonesia memang dihuni oleh mayoritas muslim sunni.  Tapi ingat sistem negara kita bukan berdasarkan syariah islam.  Kenapa? Karena memang rakyatnya tidak menginginkan syariat islam.  Lihat saya partai yang mengusung azas syariat islam seperti PBB (matan Masyumi) perolehan suaranya Jeblok (1.41%).  Jika dilakukan kalkulasi pada PILEG Kemarin,  Dari 124.972.491 pemilih (Jumlah penduduk berdasarkan SENSUS 2010 BPS 237.641.326 — 77% punya hak pilih–68% menggunakan hak pilih)  didapatkan hasil partai nasionalis (PDIP, Nasdem, PD, Golkar, Gerindra, Hanura, PKPI) mendapatkan suara 68,95%.  Ini artinya sebanyak 47% rakyat Indonesia yang punya hak pilih setuju Indonesia dikendalikan oleh PARTAI NASIONAL yang mengusung DEMOKRASI.  Ada 32% Golput dengan beragam alasan, dan sisanya 22% saja rakyat indonesia yang menyukai partai berbaju islam partai ini terbelah menjadi Mengusung Islam Nasional-Setuju Demokrasi (PAN, PKB, dan PPP) jumlahya 16% penduduk dan partai yang punya tujuan mendirikan syariat Islam secara hidden agenda (PKS dan PBB).  Jadi kalau dihitung dengan yang memilih partai islam tetapi dukungannya terhadap penerapan ideologi DEMOKRASI maka jumlah yang setuju dengan Demokrasi adalah 63% rakyat Indoensia.  JADI INGAT MAYORITAS RAKYAT INDONESIA (63%) MEMILIH PARA ANGGOTA LEGISLATIF UNTUK MEMPERTAHANKAN DEMOKRASI.  Dan konsekuensi dari demokrasi adalah liberalisasi –  artinya orang bebas mau beragama apapun, berpaham apapun, …negara menjamin hak-hak sipil ini dan memberikan kesempatan yang sama pada semua ras, agama, dan paham apapun dalam berpolitik.  Mau syiah, sunni, ahmadiyah, bahkan atheis atau gay bebas memilih dan dipilih, partai konstentan pemilu dilarang menolak anggota hanya karena syiah, sunni, atheis, atau gay/lesbi….INI KONSEKUENSI DEMOKRASI.  Lalu konsekuensi yang lainnya adalah sekularisme –  “Agama tidak masuk dalam ranah politik, ekonomi, sosial dan budaya.  Agama hanya berbicara tataran ritual aja…” tawaran SYARIAH ISLAM akan serta merta ditolak, karena ini mencedarai sekularisme yang merupakan salah satu azas demokrasi.  JADI ISU SYIAH DAN DEISLAMISASI MERUPAKAN ISU KONYOL!!! Siapapun PRESIDEN INDONESIA selama dia berdiri pada sistem DEMOKRASI maka ia harus MENGHARGAI DAN MELINDUNGI HAK WARGA NEGARANYA APAPUN PILIHAN PEMAHAMANNYA MAU SYIAH, SUNNI yang dianut oleh mayoritas rakyat Indonesia, AHMADIYAH DLL. De-Islami-sasi, ya ilahhh….DEMOKRASI (suara rakyat, suara tuhan. Tuhan istirahat dalam kehidupan sosial politik makhluknya.  Berikan kesempatan manusia mengatur kehidupannya, tuhan gak usah ikut campur)  ANTITESA DARI SISTEM TEOKRASI (Tuhan Pembuat Undang-undang melalui Kitab yang diturunkan, manusia menjalankan kitab tsb).

Dalam PILPRES 2014 ada sebagaian kader partai tertentu yang sering broadcast tentang isu2 syiah, deislamisasi, liberalisme, dan sekularisme pada CAPRES NO 2.  Sesungguhnya, saya harus bertanya pada mereka dimana letak nalarnya? SEMUA CAPRES SUDAH TEKEN KONTRAK MENERAPKAN DEMOKRASI TIDAK MEMBERI RUANG BAGI SYARIAT ISLAM DAN MELINDUNGI HAK WARGANEGARA APAPUN PEMAHAMANNYA.

Jika memang anda bersikukuh mau menerapkan syariat islam, maka yang harus dilakukan adalah menggerser pemikiran dari 46% pemilih yang selama ini loyal atau bersimpati dengan partai Nasional. Dengan cara apa?

  1. Sentuhlan hatinya —> raih simpati.  Ini bisa dilakukan oleh partai yang ikut demokrasi.  Bagaimana rakyat mau simpati, jika mereka yang mengusung Syariah islam secara hidden atau terang-terangan menunjukkan sikap arogran, menumpuk harta, dan wanita.  Harga jam tangannya aja 70 juta, lalu dalam waktu 2 periode menjadi anggota DPR/MPR kekayaannya dari 900 juta meningkat jadi 12,1 Miliyar.  Ketika kader melakukan kesalahan, dibela habis-habisan dan menuduh sistem atau lembaga pemerintah serta orang-orang yang ada didalam lembaga tersebut sebagai agen ZIONIS dan melakukan konsfirasi, padahal jelas-jelas terbukti secara hukum menerima SUAP.  Simpati rakyatpun menguap…partai islam yang punya hidden agenda menerapkan syariat islam, ternyata hidupnya sangat jauh dari syariat islam.  Dirinya sendiri saja tidak menerapkan syariat bahkan jauh dari syariat islam, jadi gak usah bicara lagi tentang syariat islam bagi negara. Belum lagi kasus wanita idaman lain yang ada dikeliling para ketua partai islam itu.  POLIGAMI, menikah lagi dan menceraikan isteri pertamanya, serta menikahi ras kuda putih adalah fakta-fakta disekitar ketua-ketua partai islam yang punya agenda syariah islam, yang bikin luntur IZAH partai islam militan.
  2. Sentuh pemikirannya —> ubah paradigma dan mindset dengan melakukan diskusi, debat, dan syiar yang bisa mengubah mindset RIDHO DIHUKUMI DENGAN HUKUM ALLOH TIDAK MERASA GENGSI dan MERASA WAJIB MENERAPKANNYA. Sayangnya partai islam di parlemen tidak bisa diharapkan untuk mengubah mindset ini, mereka hanya kampanye jor-joran dengan janji-janji manis untuk SEKEDAR PILIH PARTAINYA.

Jika menang anda menghormati keputusan mayoritas rakyat indonesia (63%) atas pilihan ideologi mereka SAAT INI, maka HENTIKAN membodohi mereka dengan isu-isu KONYOL ANDA, mari hidup berdampingan secara damai di negara DEMOKRASI INDONESIA.  HARGAI JUGA PERBEDAAN, dengan menghargai perbedaan anda bisa hidup berdampingan,   Pandang orang lain dengan hak yang sama dengan anda, termasuk hak mendapatkan surga.   Jangan serasa andalah yang berhak memperoleh surga, sementara diluar anda  masuk neraka semua (MEMANGNYA SURGA ANDA YANG PUNYA ya?).  Dan terlebih lagi, jangan anda mengobok-obok perasaan dan pikiran rakyat dengan isu-isu SARA yang anda TWEET, UPDATE, dan BROADCAST.

 

40 Tahun lalu – Japan & Indonesia

Ketika saya berkunjung ke Jepang dan kagum dg pranata fisik yg sederhana namun bersih, selain pranata sosial dan moral, temen Jepang saya bilang “40 tahun yg lalu Jepang juga seperti Indonesia”  perkataan ini tentu saja perkataan semangat bahwa untuk buat Indonesia Bagus itu mungkin saja dilakukan, usaha dari sekarang dan komitmen serta semangat.  Jepang melakukan itu, dan sekarang tinhkat sanitary dan hiegenis orang jepang tinggi.  Konon 40 tahun yang lalu mereka pun jorok spt di Indonesia pada zaman kini.

Nah, anehnya saya malah mikirin Indonesia 40 tahun yg lalu.  Tahun 1970-an, bagaimana rupa kampung saya?
1)  40 tahun yg lalu: alan2 lebar karena orang2 membiarkan halaman tumah mereka tak berpagar, kalau pun di pagar mereka menggunakan tanaman perdu.  Kini: kampung saya termasuk kampung kumuh di kota Bandung.  Jalan sempit, gang hanya 1/2 meter saja, cuma cukup 1 motor. Rumah2 dibangun tinggi sampai batas jalan, bahkan genting2 mereka menutupi gang2 sempit itu, akibatnya kampung saya miskin paparan matahari.  Dan ketika saya pindah ke komplek yg taraf pendidikannya bagus…Patok kuning dipasang developer, selokan adalah milik umum bukan bagian kepunyaan mereka, selokan sebagai bahu jalan tapi apa yg terjadi tetangga2? Mereka bangun pagar sampai selokan, selokan pin ditutup rapat.  Jalan komplek yg sudah ditata rapi dan luas dengan sirkulasi selokan akhirnya menjadi sempit.  Pembersihan selokan yg mendangkal pun sulit dilakukan.  KUDETA MILIK UMUM menjadi sah ketika mereka merasa membeli fasilitas tsb (ck ck ck….).   Jadi, saya kok jadi mikir 40 tahun yg lalu sarana fisik kita sdh rapi dan bagus. 

2) 40 tahun yang lalu: pagi2 bahkan subuh2 ibu2 selalu membersihkan jalan umum, menyapu dari sampah bahkan “nyebor” jika udara panas.  Sehingga jalan umum tsb tetap bersih dan segar.   Kini:  merasa itu milik umum, jarang lagi tampak ibu2 memberaihkan jalanan.  Membiarkan petugas kebersihan membersihkannya. Dulu: Gak ada corat coret di tembok2, milik umum semua bersih dan tertata rapi.  Para pedagang kaki lima pun turut bersih2 di lokasi jualannya.  Kini: vandalisme dan abai terhadap kebersihan kota adalah pemandangan biasa. 
Jadi, 40 tahun yang lalu SETIAP INDIVIDU PUNYA SENSE OF BELONGING TERHADAP MILIK UMUM.

3) kenapa moral generasi sekarang payah? Padahal 40 tahun yg lalu kita punya kesadaran moral yg tinggi sbg warga negara? Dulu:  #kurikulum di Indonesia memuat pelajaran etika dan moral, walau dogma tapi setiap anak indonesia mengetahui mana yg baik, jelek, dan salah.  Kini: #kurikulum indonesia memandang pembelajaran moral cukup diintegrasikan seperlunya saja dan sekemampuan guru, paradignya NILAI UN TINGGI LEBIH UTAMA DARI PADA MORAL (JUJUR DAN RAJIN)”

4) satu lagi mata pelajaran yg dihapuskan dan berimbas pd kufe skill dan kemandirian.  Dulu : ada pelajaran PKK (HOME ECONOMICS) memberi bekal dan pengetahuan agar tdk konsumtif, apa yg bisa dibuat sendiri spt makanan atau pakaian “home made” lbh baik dibuat.  Maka kita lihat makanan jajan waktu itu gak banyak, ibu2 lebih banyak bikin pangganan di rumah.  Anak2 laki2 dan perempuan waktu itu bisa masak, nyetrika, dan jahit…. #kini: mata pelajaran PKK dihapus, anak2 tergantung pada pembantu.  Ngurus diri sendiri aja gak becus, apalagi jaga fasilitas umum.  Mereka gak pernah merasakan keringetan nyapu jalanan, maka seenaknya buat kotor dan buang sampah. 

So, saya harus berkata 40 TAHUN YANG LALU INDONESIA SUDAH SEPERTI JEPANG MASA KINI. NAMUN KINI, INDONESIA SEPERTI JEPANG PADA 40 TAHUN YANG LALU. #miris

Menulis Jurnal Internasional

Tulisan ini merupakan catatan dari pelatihan bersama bapak Yaya Rukayadi terkait penulisan jurnal internasional.

Continue reading

EduTraveling – Thailand

Pendidikan lingkungan di Indonesia sudah ada sejak tahun 1986, Pendidikan lingkungan adalah penyokong utama dari Education Sustainable Development [ESD],  Pendidikan Lingkungan di Indonesia beragam tergantung wilayah, ada yang memasukkannya sebagai muatan lokal yang dibelajarkan seperti mata pelajaran umumnya, misalnya di Propinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.   Selain itu, ada sekolah2 tertentu dari tingkat SD-SMA yang dilabeli dengan Green School.   Misalnya SDN 2 Ambon, SMPN 7 Bandung, dan SMAN 9 Tangsel.  Bagaimana “Green School di Indonesia  ini menyelenggarakan pendidikan lingkungan, bisa dibaca pada tulisan saya di EduTraveling: Indonesia: Ambon & Jogja atau see this video SDN2Ambon.   Nah, kali ini kami melakukan studi banding ke Thailand, untuk sharing pendidikan lingkungan di Thailand.

Continue reading

EduTraveling – Malaysia

Pendidikan lingkungan di Indonesia sudah ada sejak tahun 1986, Pendidikan lingkungan adalah penyokong utama dari Education for Sustainable Development [ESD],  Pendidikan Lingkungan di Indonesia beragam tergantung wilayah, ada yang memasukkannya sebagai muatan lokal yang dibelajarkan seperti mata pelajaran umumnya, misalnya di Propinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.   Selain itu, ada sekolah2 tertentu dari tingkat SD-SMA yang dilabeli dengan Green School.   Nah, kali ini kami melakukan studi banding ke Thailand dan Malaysia, untuk sharing pendidikan lingkungan.  Now, we are sharing, what we got  in  Malaysia.

Continue reading