Let’s think! Keep the right side!

Pemerintah dzalim, pemerintah pemecah belah umat, .pemerintah mengadudomba umat islam….ungkapan itu sering kita dengar bukan?

Saya mah orangnya gitu, selalu mencari dibalik segala sesuatu itu apa makna tersembunyinya. Gak gampang nelen bulat-bulat segala yang berkecamuk di alam maya. Ya, semoga bermanfaat saja tulisan yang agak berat ini. Sorry-sorry bagi yg tak sependapat, tapi thank you kalau baca sampai selesai.

Bagi yg malang melintang dalam gerakan menjatuhkan pemerintah sah baik gerakan islam maupun gerakan berpaham lainnya, tentu sangat paham apa maksud dan makna tersebut. Dalam dakwah gerakan tahapan gerakkan menggulingkan pemerintah sah melalui jalan umat mengharuskan mereka untuk berperang pemikiran dg umat. Gozwul fiqri dalam pengajian merupakan topik bahasan yg utama dibahas dalam rangka mempersiapkan umat ketika tahap ini digulirkan. Tahap dakwah gerakan islam mengenal tiga tahapan yaitu tasqif, tafaul, tathbiq atau pembinaan, berinteraksi dengan umat, penerapan hukum islam… ada juga yg tahapannya individu (idza bi nafsi), keluarga, masyarakat, negara.

Tahap tasqif atau individu/keluarga merupakan tahap pembinaan, tahap ini dinamakan tahap silent and secretly – tersembunyi dan rahasia tujuannya memperbanyak anggota dan sel-sel baru, umumnya dilakukan dalam bentuk diskusi berupa kelompok kecil yang dilakukan seminggu sekali atau disebut dengan halaqoh/liqo. Pada tahap ini belum terlihat pergolakan ditengah-tengah masyarakat, ide-ide hanya masif dalam kelompok mereka. Banyak gerakan politik islam melakukan tahap ini pada tahun 80-90 an. Mereka yang lahir pada tahun 60-an dan 70-an adalah org2 yang terimbas politik islam ini. Pada tahapan ini dilakukan brainstroming, menggantikan pemikiran yg sebelumnya tertananam, mereka muncul dengan sosok-sosok baru yg militan terhadap ide yg mereka peroleh. Bahkan extrim berprinsip “IDE DILUAR YANG MEREKA KAJI ADALAH KUFUR, PRAKTEK DILUAR YANG MEREKA KAJI ADALAH BID’AH, PEMERINTAH YANG MENAUNGI ADALAH THOGUT DAN KUFUR”. Sosok-sosok ini biasanya mudah dikenali ditengah masyarakat karena menggunakan simbolisme khas dalam berpakaian dan berdandan. Pada tahap ini dimunculkan pribadi-pribadi petarung BERMENTAL BAJA yg siap menjadi martir untuk memulai perang yang mereka sebut sebagai perang pemikiran.

Tahap tafa’ul atau masyarakat menuju negara merupakan tahap memperkenalkan ide masif penerapan islam ketengah-tengah umat. Bila jalur politik yg diambil mereka akan mendaftar sebagai partai politik peserta pemilu atau bisa juga tidak namun benturan ide akan terasa di masyarakat. Untuk menarik simpati umat pencitraan bersih, jujur, profesional terus dibungkus agar umat simpati, jargon-jargon terus dikumandangkan untuk menarik simpati umat dan jargon-jargon, “Khilafah, Kaffah, Syari’, Addien, .… sejalan dengan jargon islami muncul juga jargon cacian seperti pemerintah thogut, Demokrasi Kufur, … tahap ini merupakan kancah perang yg sengaja diciptakan sengaja di-skenario-kan, memang sengaja mereka membuat gejolak ditengah masyarakat dengan cara mengugat pemerintah sah. “APAPUN YG DILAKUKAN PEMERINTAH HARUS TERUS DICARI PELUANG SALAHNYA, contohnya perkara Freeport…. pada pemerintahan sebelumnya mereka berkoar-koar penguasaan asing atas freeport adalah salah, harusnya dimiliki umat. Sekarang ketika pemerintah Jokowi berusaha meraih 51% saham dan mereformulasi kontrak karya, merekapun berteriak penuh prasangka lepas dari asing diberikan pada aseng. Mereka sangat menyadari bahwa tahap tafa’ul tidak akan berhasil jika masyarakat tidak bergejolak, jika masyarakat rukun dan adem, jika masyarakat merasa puas dengan kinerja pemerintahan yg ada, oleh sebab itu mereka ditugaskan menyebarkan opini ditengah masyarakat agar masyarat bergejolak, masyarakat TIDAK PERCAYA PADA PEMERINTAH. Pada tahap yg mereka sebut sebagai gozwul fikri mereka bertugas Memutuskan kepercayaan umat pada pemerintahan sah.

 

nah, sampai disini dulu terjawab sudah mengapa ada ungkapan pemerintah dzalim, tukang adu domba, pemerintah kufur….pemerintah pendukung LGBT (pahadal uu mana yg bolehkan LGBT di Indonesia?), lalu apa tujuan isue itu dilemparkan dan ditujukan pada pemerintah sah?

To be continue

Denpasar, 26 Des 2017

Cukup Tahu! Be carefull!

Fenomena yang terjadi di indonesia saat ini sebetulnya bukan fenomena baru. Pada tahun 1950-1970 an kakek nenek kita pernah merasakan hal yang sama. Di wilayah tertentu seperti Garut misalnya pertarungan antara DII/TII dan pemerintah sah mengorbankan rakyat saat itu. Kalau tidak ada NAHDATUL ULAMA saat itu, saya tak yakin NKRI masih berdiri sampai saat ini. Fenomena terulang kembali saat ini, beberapa komponen partai, ormas, dan komunitas rindu penegakan syariah islam kembali menampakan diri ke permukaan. Sejak tahun 1970-an sampai 1998 mereka dorman, keran reformasi memberi celah untuk angun bahkan membesar, puncak kebangkitan itu adalah 212. Persatuan sebagian umat islam ini telah berhasil meluluh lantakan seorang Ahok, menyeretnya dalam penjara, dan membungkam kemenagannya. Keberhasilan ini tentu membawa angin segar untuk mengoalkan agenda-agenda lain atas nama umat islam di masa depan. Tulisan ini hanyalah sebuah opini saja. Terima kasih sudah sudi membacanya, walau kepanjangan bacaannya.

Efek dari 212 adalah lahirnya PERPU yang kemudian menjadi UU, selain penangkapan inovator 411 dan 212. UU ORMAS ini menjadi tongkat pemukul bagi HTI. Peran opini HTI dalam pilkada Jakarta memang nyata, dimulai dari demo 49 tolak pemimpin kafir di patung kuda (see arsip: https://m.youtube.com/watch?v=O5RC6TDfBCQ Hastag “Tolak pemimpin kafir'” menjadi opini andalan saat itu. Opini #TOLAKPEMIMPINKAFIR telah membuat Ahok pada 279 di kepulauan seribu berpidato “Bapak ibu tak usah khawatir, ini pemilihan kan dimajuin jadi kalau saya tidak terpilih pun..ini bapak ibu tak usah khawatir  nanti programnya bubar, tidak saya  berhentinya sampai oktober 2017, jadi kalau program ini dijalankan pun bapak ibu masih sempat panen sama saya.  Jadi saya ingin bapak ibu semangat, jangan nanti ganti gubernur programnya bubar. Enggak saya sampai Oktober 2017.  Jadi jangan percaya sama orang, bisa saja dalam hati kecil bapak ibu gak bisa pilih saya.  Iyakan dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macam-macam itu.  Itu hak Bapak Ibu, jadi kalau bapak ibu perasaan gak bisa pilih saya takut masuk neraka dibodohin gitu gak apa-apa tergantung pribadi bapak ibu, program ini jalan saja.  Jadi bapak ibu gak usah merasa gak enak dalam nuraninya gak bisa pilih Ahok, gak suka sama Ahok, programnya udah terima gak enak dong gue punya hutang budi, jangan nanti gak enak mati pelan-pelan kena stroke…..”. Pidato Ahok ini menjadi landasan opini berikutnya yaitu #TolakPenistaAgama, Aksi berjilid-jilid pun muncul 411 lalu 212 dg #Tolakpemimpinkafir #tolakPenistaAgama akibat dari masifnya opini umum di mayarakat tidak hanya perang ayat tetapi juga perang mayat serta persekusi. Perang pemikiran berwujud pada aksi dan hukum rimba di masyarakat, opini masyarakat pun terbelah, yang tidak setuju terancam di-bully lewat komentar medsos atau viral medsos atau di-persekusi. HTI sendiri sebetulnya tidak punya kepentingan pada pilkada DKI, karena HTI menolak sistem demokrasi. Sistem demokrasi yg diterapkan termasuk di Indonesia dikatagorikan HTI sebagai sistem kufur. Jika HTI menganggap sistem indonesia kufur, harusnya tak hirau jika pemimpinnya pun kafir, masa muslim mau pimpin sistem kufur? Tapi mengapa HTI di DKI mengambil peran dalam #tolakPemimpinKafir dan para anggota HTI pun GOLPUT dalam pilkada DKI? Memanfaatkan “syuur umat” menguatkan citra hizb. Walaupun aksi 411 dan 212 digerakkan oleh GNFMUI dan FUI, namun peran HTI all out, kadernya dikerahkan sehingga tampak bendera ar rayyah khas HTI mendominasi. Syuur umat islam yg bersatu menjadi target dalam aksi ini. After aksi kajian subuh dan tawaran halaqoh bagi peserta aksi 212 dilakukan untuk menjaga spirit perjuangan islam, after aksi 212 agenda selanjunya adalah “mengelola gerakan syuur menjadi gerakkan pemikiran”. Sangat disadari oleh para TIM THANK GERAKAN ISLAM bahwa 212 adalah gerakan perasaan/syuur semata, org berkumpul karena perasaan yang sama yaitu “tidak setuju terhadap AHOK”. Namun latar belakang org datang pun berbeda-beda yaitu ada yg murni menolak penistaan alquran, ada yg datang krn gubernur pilihannya yang kebetulan muslim ingin menang, dan ada juga agenda DKI BERSYARIAH titik tolak bagi NKRI BERSYARIAH termasuk khilafah. Walaupun umat islam bersatu, namun Ketidaksamaan pemikiran ini akan menjadi batu sandungan bagi agenda jangka panjang yaitu #PILKADA-PILPRES #NKRIBERSYARIAH dan #khilafah. Subuh berjamaah dan halaqoh atau liqo mingguan digunakan sebagai sarana untuk menyatukan pemikiran, selanjutnya reuni dan kumpul2 tetap dijaga untuk menjaga syuur umat, syuur persatuan. Apa yg diharapkan? Terbentuk opini umum. Opini umum apa yang ingin dimajukan 1) pemerintah sekarang adalah pemerintah dzalim atau kufur 2) perlu ganti sistem pemerintahan yg ada bisa diawali dengan mengganti pemimpin pemerintahan yg pro pada agenda mereka. 3) opini 1 dan 2 terus digoreng melalui halaqoh/liqo, opini media, dan opini saat kumpul2 reuni tujuannya untuk menggerakkan massa menuntut revolusi yaitu mengganti sistem pemerintahan, bisa jadi dg terlebih dulu mengganti presiden.

Tim thank 212 kader-kader komunitas, ormas, dan partai yg punya cita-cita menegakan syariah islam di indonesia. Penegakkan syariah islam melalui jalur kekuasaan, direbut melalui jalan umat. Dari bendera yg dibawa tampak bahwa barisan 212 adalah 1) PKS yg punya misi menegakkan syariat islam melalui jalur parlemen dan pilkada, menggunakan isu SARA untuk memenangkan setiap pilkada. Reuni 212 sangat bermanfaat untuk mendukung kemenangan calon yg diusungnya dalam pilkada bahkan mungkin pilpres. 2) FUI FPI punya misi menegakkan NKRI BERSYARIAH, rangkaian demo 411 212 berhasil melambungkan ketokohan HRS, rencana ini sebenarnya sudah lama digagas, sejak 2013 HRS telah dinobatkan sebagai presiden NKRI bersyariah. Flyer dan undangan demo juga reuni demo pada bagian bawah santiasa ada logo #NKRIBERSYARIAH. 3) HTI sebetulnya punya tujuan dan metode yg beda dengan PKS dan FUI dalam mewujudkan khilafah islamiyah, namun ada ‘moment bersatunya umat’ karena distimulus perasaan yang sama yaitu benci Ahok, baik benci karena mau jadi gubenur maupun benci karena menukil al maidah serta benci kafir. Moment ini tak dibiarkan berlalu namum dimanfaatkan untuk turut meraih simpati umat dan meneguhkan ketokohan HTI dikalangan umat.

Semua itu agenda politik berbalut agama? Ya! Jelas ada agenda meraih kekuasaan dalam agenda-agenda yg digulirkan, bukan sekedar agenda ibadah mahdoh. Agenda 212 dan reuni mengandung agenda politik kekuasaan dan ideologi dapat dibaca dari halaman ini: Al Kaffah, khotimah dari bulletin tersebut adalah

Alhasil, sudah seharusnya umat Islam, termasuk para “Alumni 212”, memiliki visi dan misi politik Islam yang jelas dan tegas. Dengan begitu mereka bukan sekadar rajin melakukan aksi “kerumunan massa”. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana mereka terus melakukan gerakan politik Islam. Targetnya tentu bukan sekadar agar kaum Muslim bisa meraih kekuasaan. Yang lebih penting adalah agar Islam benar-benar berkuasa hingga negeri ini sungguh-sungguh bisa diatur dengan syariah Islam secara kâffah dalam institusi Khilafah ‘alâ minhâj an-nubuwwah. Tentu tak ada artinya kaum Muslim berhasil duduk di tampuk kekuasaan, sementara syariah Islam tetap dicampakkan, dan yang diterapkan serta tetap berkuasa adalah sistem sekular seperti sekarang ini. (SUMBER BULLETIN DAKWAH KAFFAH 018: umat, persatuan, dan politik, 8 Desember 2017

Lalu bagaimana posisi kita?

Jika pakai analogi, maka tim thank 212 beserta kader2 dan simpatisan yg sudah di liqo atau halaqoh mingguan atau dibina lewat sekolah/madrasah/pesantren mereka adalah para penikmat kue. Umat islam dan warga indonesia yg dibina dg kurikulum nasionalis atau pengajian salawatan adalah KUE SEDAP. Pemerintahan RI adalah pembuat kue sedap sekaligus penikmat kue. Maka saat ini posisi kita yg tidak tergabung dlm halaqoh atau liqo atau komunitas pengajian yg mendukung agenda 212 laksana kue yg sedang diperebutkan.

Apa yg akan terjadi masa depan?

Diantara para penikmat kue siapa yg akan dapat bagian lebih besar? Kue sedap yg akan disantap ternyata bukan benda tapi kue hidup yg punya rasa dan pikiran, kue-kue itu tidak bisa disantap para penikmat begitu saja, kue2 itu justeru yg akan memilih siapa penyantapnya. Masa depan sangat tergantung pada kue sedap, akan pilih siapa? Namun tim thank212 dg basis liqo/halaqoh dan pembinaan melalui sekolah/madrasah/pesantren boleh jadi meningkat tidak sekedar penikmat namun jadi pembuat kue juga. Jika ini terjadi akan ada dua pembuat kue yang bertarung masing2 pembuat akan menikmati kue masing-masing, perang tidak lagi pake ayat atau mayat tetapi perang memperebutkan lahan baik lahan produksi maupun lahan untuk pemasaran. Jika tim thank 212 sudah mampu menjadi pembuat kue, tentu butuh rumah produksi dan toko untuk memasarkan bukan? Jadi perlu lahan. Sementara selama ini semua lahan milik pemerintah, maka pilihannya membeli, bagaimana jika pemerintah tak jual lahan? Akankah Merebut andai pemerintah tak sediakan lahanya?

#refleksi bagi kita

Selayaknya kita berkaca pada Suriah, Dasmaskus kota peradaban yang indah luluh lantak karena perang antara muslim dengan muslim memperebutkan LAHAN DAN KEKUASAAN. Indonesia akan seperti itu jika berdiam diri terhadap syahwat kekuasaan. Betul, mereka dasarnya memperjuangkan islam bahkan syariat islam, namun apakah Nabi Muhammad saw mengajarkan pada kita KHIANAT TERHADAP JANJI? Pada tahun 1945 perwakilan umat islam yang diwakili oleh Ulama dari NU, MUHAMMADIYAH, dan MASYUMI mencapai kesepakatan bersama menata negeri ini dengan PANCASILA dan UUD45. Jika masih percaya pada para ulama dan menghargai mereka, selayaknya kita menghormati hasil musyawarah 1945, jika kita berteriak-teriak bela ulama, maka seyogyanya kita sadari tahun 1945 para ulama indonesia berjuang dan berdebat sengit sampai memperoleh mufakat tidak pakai Piagam Jakarta sebagai dasar negara dan UUD45 pun melepaskan beberapa kata islam. Ulama saat itu lebih menutamakan “persatuan indonesia daripada ambisi politik islam”. Apakah kita rela menghianati perjuangan mereka para ulama terdahulu? Ingat KOMITMEN TERHADAP JANJI ADALAH AKHLAK SEORANG MUSLIM.

Wallohualambisawab

Agama, politik, dan negara: where are we?

Isu ini mengemuka akhir-akhir ini.  #PILKADADKI suka atau tidak suka, secara fakta menjadi pemicu bagi kegegaran agama (islam) dalam tatanan pemerintahan di Indonesia.  Bukan sebuah rahasia lagi pada #PILKADADKI muncul slogan-slogan PEMIMPIN MUSLIM UNTUK JAKARTA BERSYARIAH. #PilkadaDKI menjadi momen kebangkitan NKRI Bersyariah (tentang NKRI BERSYARIAH, telah ditulis sebelumnya). 

Penangkapan Ustadz Muhammad Al Khathath (Gatot Saptono) bukan sekedar karena inisiasi aksi #313 tapi karena memang bukti-bukti dunia maya, untuk ide #NKRIBERSYARIAH yg digulirkan sejak tahun 2012 tertuju pada al ustadz (silahkan Googling, informasi pada media2 resmi yg diterbitkan FUI atau FPI dan juga media2 islam).  Dan juga bukti2 lain  hanya polisi yang tahu.

Jika penangkapan atas kasus makar #212, tidak terkait ideologi, hanya terkait skenario ketidaksetujuan dg pejabat yang memerintah. Maka penangkapan makar #313 lebih ideologis, yaitu mengancam pancasila.

Yes, islam is ideology….

Kami aktifis rohis sewaktu di SMA atau perguruan tinggi, sangat hapal bahwa islam sebagai ideologi khas.  Islam memerlukan negara untuk merealisasikan hukum terkait pidana seperti zina, minum khamar, mencuri, dan membunuh.  Lalu kami juga sangat hapal bahwa dengan sebutan Pemerintahan Thogut atau Pemerintahan Kufar untuk pemerintahannya yg tidak dijalankan berdasarkan syariat islam, pun disematkan pada pemerintahan demokrasi pancasila  Dan kami juga sangat sadar bahwa ide-ide terkait islam ideologi dibawa oleh dua jaringan.  Pertama, jaringan transnasional atau partai internasional seperti Ikhwanul Muslimin (di Indonesia bernama PKS) dan Hizb Tahrir dengan pemimpinan utamanya berada di negara sekitar Arab.  Kedua, jaringan lokal semodel NII atau metamorfosisnya.  Kedua jaringan ini bergerak masuk dlm sistem menjadi partai dan diluar sistem menjadi ORMAS atau ada juga gerakan di bawah tanah.

Jaringan pertama marak sekitar tahun 80-an, seiring gegap gempita REVOLUSI IRAN.  Jika saya masuk SMA tahun 1987, maka sudah lebih dari 30 tahun untuk kelompok pertama melakukan kaderisasi.  Dan tentu saja lebih lama lagi untuk jaringan kelompok lokal, karena NII pun tumbuh dan ada seusia Indonesia berdiri.  Kini kedua jaringan tersebut menyatu dg agenda yang sama menjadikan Indonesia sebagai cikal bakal pendirian Negara Islam.  Jakarta dijadikan target utama, karena seperti kata DN AIDIT DALAM FILM G30S PKI “Jika ingin menguasai Indonesia, kuasai pulau Jawa, jika ingin kuasai Jawa maka kuasai Jakarta”.  Quote DN AIDIT ini ada benarnya, “Aksi 411 dan aksi 212 didatangi oleh muslim di wilayah yang tidak punya kepentingan dengan PILGUB DKI, ada peserta dari Palembang, Padang, Medan, Makasar, selain dari pulau Jawa.  Magnet Jakarta memang cukup besar.  Membludaknya dukungan terhadap aksi 212 dianggap sebagai sinyal positif kerinduan umat akan syariat islam tegak di Indonesia.  Momen sholat  berjama’ah atau peringatan hari besar digunakan untuk memelihara perlunya “umat islam  menjadi pemain dalam percaturan pemerintahan indonesia” “keharusan DKI dipimpin muslim yg bisa menjadi entry masuknya PERDA SYARIAH atau DKI BERSYARIAH” Dan sebetulnya dalam hal ini makna “pemain” bukan sekedar umat islam atau muslimnya, karena 95% yg mengisi birokrasi sekarang ini pun muslim, tapi maknanya IDEOLOGI ISLAM.

Is it logic?

Terus terang aja, saya mah agak bingung.  Apa memungkinkan tertunaikannya DKI BERSYARIAH jika gubernurnya muslim? Lihat saja JABAR gubernurnya Muslim, bahkan diusung oleh partai yg punya cita2 mendirikan negara islam.  Tapi apakah bisa menjadikan JAWABARAT BERSYARIAH? Apakah ada hukum ikhtilat, Liwath, Zina, Qishosh, dll di Jabar???  Begitu pun di Sumbar, adakah SUMBAR BERSYARIAT, pdhl wilayah ini terkenal dg adat bersanding syaro, syaro bersanding kitabulloh? Bisakah? Jadi? Think 2x. Jangan2 ini akal2an saja? Atau memang Jakarta jadi entry point, lalu wilayah lain nanti akan ikutan….seperti paham gerakan ikhwanul muslimin “dari individu, ke keluarga, ke daerah, daerah ke negara, negara2 bersatu jadi khilafah islamiyah…..”?

Pancasila dan NKRI yg ada saat ini disepakai oleh tokoh muslim dari NU, MUHAMMADIYAH, dan MASYUMI.  Dianggap sebagai jalan tengah untuk menakomodasi persatuan Indonesia dari Sabang sampai Meurauke.  Para ulama saat itu harus menahan ambisi mereka mendirikan SYARIAT ISLAM demi mashlahat seluruh rakyat Indonesia.  Apakah ini bentuk kekalahan? Atau bentuk perjuangan yg belum selesai?  Atau ini justeru bentuk kearifan dan kebijaksanaan?

So, where are we?

Kita muslim, tidak menolak islam dan al quran.  Namun perlu diingat Indonesia yg kita cintai ini adalah buah perjuangan para ulama sampai titik darah pemghabisan.   Pancasila sebagai bentuk kompromi dan perjuangan para ulama harus dihargai, kita hanyalah seorang mutabi atau pengikut ulama.   Jika ada ulama Timur Tengah yg menawarkan KHILAFAH atau NII untuk Indonesia, dan ada ulama Indonesia yg menawarkan hidup berdampingan dg pancasila, maka siapa yg kita pilih? Ulama Timur Tengah mengeluarkan ijtihad dg melihat fakta relevan di negaranya, pun begitu ulama Indonesia.  Khilafah dan NII boleh jadi cocok ditawarkan di negara Timur Tengah, tapi belum tentu cocok untuk negara Indonesia.  Sebagai mutabi, dalam pilihan politik lebih baik bila kita taat pada ulama Indonesia terutama para kyai NU, karena mereka mengikhsas fakta berdasarkan kondisi faktual Indonesia, dan tentu hasil ijtihadnya cocok untuk Indonesia.  MENOLAK #kompromi dan #jalanTengah sesungguhnya bentuk keegoisan, jika ada gerakan yg menolak kompromi dan mendahulukan kepentingan golongannya daripada kepentingan umat yang banyak patutlah kita pertanyakan, “APAKAH MEMNG ISLAM MENGAJARKAN HAL TERSEBUT?” 

Bagian2: Beribroh pada siapa? #Think

Hiruk pikuk dunia perpolitikan mempengaruhi juga emosi umat islam.  Adalah demokrasi menjadikan pendapat mayoritas sebagai sebuah kebenaran sehingga kita lupa untuk merujuknya pada sumber hakiki.

Saya hanyalah sebagai seorang pembelajar yang mencoba mencari apakah kasus serupa yang dilakukan Ahok dengan mulut kotornya pernah terjadi di masa Rasulullah saw, dan bagaimana cara Rasulullah saw pada masa pemerintahannya atau pada masa beliau menjadi kepala negara di Madinah mengatasi masalah-masalah ini?

Kasus 1.  Menghadapi Abdulah Bin Ubay. 

ABDULAH BIN UBAY (ABU)” – Pada masa itu …dia adalah provokator, pernah memfitnah Ummu Mukminin Aisyah, dan mulutnya pun kotor menyebut kaum mu’min dengan orang hina, bukan hanya itu dia juga acapkali menjadi musuh dalam selimut bagi kaum muslimin, bershahabat tapi tujuannya menghancurkan kaum muslimin. [Catat: ABU ini adalah seorang publik figur.  Hampir saja dia menjadi Pemimpin di Madinah, ABU adalah seorang Yahudi yang pintar, sehingga masyarakat Yatrib percaya mampu menjadi pemimpin mereka, namun detik-detik terakhir pengangkatan gagal…. karena beberapa pemuka Yatrib (Madinah) bertemu Rasulullah saw dan memastikan bahwa Rasulullah saw adalah karakter yang cocok untuk memimpin kota mereka. ABU kemudian masuk islam, tapi…….munafik].

Umar bin Khattab mengatakan, “Ya Rasulullah kupenggal saja orang yang mengatakan ‘Akan kukeluarkan orang hina itu (orang mukmin) dari Madinah”

Rasululloh saw menjawab: “Tidak wahai Umar. Nanti apa kata orang bahwa Muhammad membunuh sahabatnya. Demi Allah tidak.”

Abdulah bin Abdullah bin Ubay pun menghadap Rasulullah saw “Jika engkau memang ingin membunuh ayahku ya Rasulullah. utus aku… utus aku sendiri… Betapapun aku mencintai ayahku.. tapi Allah dan Rasul-Nya lebih layak aku cintai daripada ayahku sendiri…”

Rasululloh saw menjawab, “Baiklah, berbaktilah kepada orang tuamu, ia tidak melihat darimu kecuali kebaikan.”

Tahulah Sang Anak bahwa Rasulullah saw memaafkan ayahnya.

Ketika Abdulah bin Ubay mati, anaknya Abdulllah minta menyolatkan ayahnya.  Umar melarang, tapi  sikap Rasulullah saw tetap baik, sampai2 menyetujui untuk mensholatkan jenazahnya, namun Alloh swt melarangnya dengan firmannya,

وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.

#Refleksi: Jadi seperti itulah Rasululloh saw memperlakukan publik figur yang memusuhi islam di dunia. Adapun diakherat terserah Alloh swt. 

Kasus 2:  Cara Rasulullah saw menghadapi pengemis yang selalu menghina beliau

Di sudut Pasar Madinah Al Munawarah ada seorang Pengemis Yahudi buta yg setiap hari selalu mengumpat,menghina, menjelekkan dan memaki Nabi Muhammad SAW dan apabila ada orang yg mendekatinya si pengemis selalu berkata :
“Wahai Saudaraku, kamu jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, DIA ITU PEMBOHONG, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya”

Namun setiap pagi Rasulullah SAW mendatangi si Pengemis dan tanpa berkata sepatah kata pun. menyuapkan makanan yg dibawanya. Nabi SAW melakukan perbuatan mulia itu kepada si Pengemis Yahudi buta hingga menjelang wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW TAK ada lagi orang yg membawakan makanan kepada si Pengemis buta itu.

Suatu hari Abu Bakar r.a. berkunjung ke rumah Aisyah, “Anakku, adakah sunnah Rasulullah yg belum aku kerjakan ?”.
Aisya menjawab: “Wahai Ayahanda…Engkau adalah seorang ahli sunnah, Hampir tdk ada satu sunnah pun yg belum Ayahanda lakukan, kecuali satu saja”. “Apakah itu, Aisyah ?”

“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar Madinah dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi yg buta yg berada disana” kata Aisyah.

Abubakar r.a. pergi ke pasar Madinah dengan membawa makanan.
Ketika Abubakar mulai menyuapinya, si Pengemis Yahudi buta itu marah sambil berteriak, “Siapakah kamu? Bukan…engkau bukan orang yg biasa mendatangiku dan menyuapi aku makan. Orang yg biasa mendatangiku dan menyuapi aku makan, apabila dia datang kepadaku, tidak susah tanganku ini memegang dan tidak susah mulutku ini mengunyah makanan. Orang yg biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tetapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya dan setelah itu diberikan dan disuapkannya kepadaku”

Abubakar tidak dapat menahan air matanya, Abubakar menangis sambil berkata kepada Pengemis Yahudi buta itu: “Aku memang bukan orang yg biasa datang padamu, aku adalah salah seorang dari Sahabatnya. Ketahuilah wahai Pengemis bahwa orang yg baik dan mulia itu kini telah tiada, orang yg mulia itu telah wafat. Orang yg baik dan mulia itu adalah Rasulullah Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam.

#Refleksi: Pengemis ini bermulut kotor, miskin, kafir pula.  Tapi adalah Rasulullah saw tidak menjebloskannya ke penjara, padahal pada saat itu Rasulullah saw kuasa untuk menjebloskan PENISTA RASULULLAH SAW ke penjara atau menghukumnya dengan hukuman cambuk atau hukum rajam atau hukum lainnya.  Yang Rasulullah saw lakukan adalah memaafkannya dan mengasihinya.

Begitulah cara Rasulullah saw memperlakukan orang-orang yang menghinanya baik dari kalangan publik figur maupun masyarakat biasa, baik dari kalangan kaum muslim (munafik) maupun dari kalangan kafir (Yahudi) . Dan ini adalah af’al Rasulullah saw, apakah kita berani mengingkari PERBUATAN RASULULLAH SAW?

Demikian saja, semoga kita menjadi orang-orang yang terus belajar, TONG KABAWA KU SAKABA-KABA, cek dan ricek, Tauladan yang paling baik adalah NABI MUHAMMAD SAW. Wallohualambisawab.

What is Dajjal? #I_just_saw @mozaikislam

Abis isya tidur, bangun jam 11.  Gak bisa tidur lagi.  Jam 1.42 ternyata masih ada acara Mozaik Islam di TransTV, isinya mengupas tentang Dajjal.  Bahkan hadits riwayat Daud menyebutkan pertemuan sekelompok pelaut dengan Dhajal yang terikat dan tidak bisa keluar karena di larangan Alloh swt.  Konon katanya nanti Dajjal itu akan keluar dalam 40 hari bisa masuk ke seluruh bagian dunia ini kecuali dua kota yaitu Mekah dan Maddinah, karena kedua negara itu dijaga oleh malaikat.  Ternyata sebelumnya cirinya juga sudah ada di khazanah Trans7.

Dajjal diriwayatkan dalam hadist ahad HR Bukhari dan HR Daud.  Hadits tersebut bercerita tentang kemunculan dan tempat dhajal.  Lain dengan Muhammad Isa ahli jin yang menyatakan Dajjal akan muncul di Segitiga Bermuda, Hadits ahad merujuk dhajal akan muncul di timur di sekitar Yaman dan Syam, petunjuk dari hadits ahad itu menunjukkan pada sebuah pulau indah di Yaman bernama Pulau Socotra yang merupakan pulau terpencil bagian dari Propinsi Aden Yaman.

Saya sendiri sih bertanya, apakah Dajjal itu SOSOK FISIK atau sebenarnya hanya SIFAT MANUSIA?

Saya pernah diajarkan dalam beriman kepada Alloh swt berpedoman pada sumber-sumber mutawatir saja, adapun untuk sumber2 ahad, kita hanya sampai pada wallohualam bi sawab dan tidak membahasnya lagi.  Sumber-sumber mutawatir merujuk bahwa beriman fokus pada RUKUN IMAN YANG ENAM.  Adapun hal lainnya yang sifatnya ghaib ini….kita hanya bilang wallohualam bi sawab dan tak perlu membahasnya lebih lanjut karena pembahasan terkait dengan itu menjadikan iman kita tidak produktif.

Hari ini setelah nonton @mozaikislam saya menyadari benar apa yang pernah diajarkan oleh Syekh Taquddin An Nabhani tentang iman yang produktif.  Pembahasan tentang dajjal membuat tuduhan Pulau Socotra, sebuah pulau yang unik dan UNESCO mellindunginya karena keragaman hayati yang ada di dalamnya.  Saya sih kebayang aja, jika hal terkait dengan dajjal ini menjadi sebuah pembahasan instens di kalangan muslim, lalu dajjal ini mengarah pada SOSOK atau SESEORANG dan menempati sebuah pulau di belahan bumi ini, maka seorang penguasa muslim yang memiliki pemahaman serta kepercayaan terkait dajjal seperti ini, mungkin akan serta merta dia menghancurkan suatu pulau.  Jika itu terjadi pada Pulau Socotra, maka musnahlah salah satu ‘heritage’ dunia. HUHHH BARBAR bukan? Ini akan jadi Kublai Khan atau Jengis Khan jilid II yang banyak menghancurkan heritage dunia.

Pada era bioteknologi seperti sekarang, sosok dajjal yang digambarkan bermata satu, bertubuh besar, berbulu tebal, dan berambut ikal akan mudah diciptakan melalui proses mutasi atau rekayasa lainnya.  Tentu saja para ahli rekayasa genetika masih menahan diri melakukan rekayasa genetika pada manusia, terkait BIOETIKA.  Namun, bukan hal yang tidak mungkin rekayasa genetika pada manusia dilakukan secara diam-diam dan boleh jadi Dajjal adalah kegagalan fisik rekayasa genetika, tapi memiliki keunggulan dari sisi kemampuan lainnya.

Tapi what ever lah asumsi-asumsi tentang dajjal itu, idealnya umat tidak disibukkan dengan pembahasan hadits2 ahad terkait hal ghaib dan asumsi gaib masa depan, karena untuk hal tersebut kita hanya diberikan ilmu sedikit.  Lebih produktif jika yang dibahas BAGAIMANA IMPLEMENTASI SYARIAT ISLAM DALAM KEHIDUPAN KITA SEHARI-HARI, APA YANG SUDAH KITA SIAPKAN UNTUK BEKAL DI HARI PENGHISABAN KELAK? APAKAH KITA TELAH MEWARISKAN BUDAYA HIDUP MADANI PADA ANAK CUCU KITA KELAK? itu lebih produktif dibandingkan dengan berpikir hal2 ghaib yang kita hanya diberi pengetahuan sedikit saja.

Bogor, 3 Ramadhan #JustThink, Write what i think although it’s nothing#

 

 

 

 

 

 

HOT TOPICS #ahok #pancasila #kapitalis #komunis #khilafah

Udah lama gak nonton TV dan aneka beritanya, hanya denger lewat radio dan baca beranda FB yang di-share beberapa teman saja.  Tampaknya dari media yang saya ikuti, hal yang banyak di-share adalah:

#AHOK

Jelang PILKADA makin memanas, apapun kebijakan Ahok saat ini selalu dijadikan ISU dan digiring opini masyarakat kearah negatif.  Misalnya kebijakan pengurusan KTP tanpa melalui RT dan RW yang bertujuan memangkas jalur administrasi dan juga memangkas pungli dianggap sebagai jalan memuluskan imigran cina menjadi WNI.  Provokasi yang #KOPLAK dan #BODOH kalau menurut saya.  Karena lurah dan pegawai kelurahan sebagai PNS di-sumpah oleh negara untuk mentaati aturan negara.  Lalu muncul grup “GMJ – Gubernur Muslim untuk Jakarta” grup yang aktif mensosialisasi kandidat Muslim dan membuat kampanye negatif untuk rivalnya AHOK.  Lalu seruan remaja untuk tes HIV AIDS diklaim sebagai pelegalan sex bebas, dan ditudinglah AHOK YANG KRISTEN membolehkan SEX BEBAS, begitulah jika NON MUSLIM melegalkan sex bebas.  Kampanye anti “RAS dan AGAMA” tertentu mewarnai beranda facebook saya.

#PANCASILA

1 Juni adalah hari lahir pancasila.  Biasanya yang banyak diperingati dengan upacara kebesaran hari 1 oktober sebagai hari kesaktian pancasila.  Apakah Pancasila tidak begitu sakti lagi? Hemmm…. Mari kita diskusikan!

Kesaktian pancasila akan teruji, jika pancasila DILAHIRKAN sebagai sebuah ideologi negara.  Apakah pancasila sebagai sebuah ideologi?

Saya ingat ketika SMA guru PMP SMA saya menyuruh kita membandingkan dalam bentuk tabel antara Pancasila, Liberalisme/Kapitalisme, Komunisme/Sosialisme, dan Islam.

Liberalisme/Kapitalisme mempunyai ciri DEMOKRATIS, saya yang sekolah jaman Mbah Harto gak kebayang demokrasi itu seperti apa.  Tapi kita tahu dari Dunia Dalam Berita setiap pemilihan presiden AS ramai sekali.   Orang boleh milih presiden bukan sekedar partainya.  Jadi demokrasi bermakna adanya “KEBEBASAN MEMILIH”.  Menurut butir pancasila azas demokrasi itu merupakan azas sila yang ke-4 “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”

Komunisme/sosialisme mempunyai ciri “Satu untuk semua semua untu satu” atau adanya keadilan sosial, tidak ada jurang antara si kaya dan miskin, semua diperlakukan dan difasilitasi secara sama.  Menurut pancasila azas keadilan sosial pun ada dalam sila ke-5 yaitu “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Islam: hal yang menjadi ciri penting dari islam adalah “Semua aturan haruslah disandarkan pada Kitabullah yaitu al qur’an dan hadits” tidak boleh satu titik pun aturan yang dirujuk selain dari kekuatan dalil.  Kekuatan akan harus diupayakan untuk mampu berijtihad mengeluarkan produk hukum bagi kemashlahatan dan sumber rujukan untuk ijtihad Al Qur’an, Hadits, Ijma Shahabat, dan Qiyas.  “Ketakwaan sistem” yaitu mengikuti apa yang diperintahkan Alloh swt dan Menjauhi apa yang dilarangNya.  Namun, ternyata ciri ini pun ada dalam pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa”

Jadi, pancasila itu gabungan dari Liberalisme/Kapitalisme ditambah komunisme/sosialisme, dan islam?  Hemm saya bukan pakar untuk menjawabnya yang jelas mah pancasila sebagai sebuah IDEOLOGI mencoba memahami multi-ideologi yang ada dalam benak rakyat indonesia agar bisa hidup secara “kemanusiaan yang beradab” dan bersatu untuk tetap menjaga “Persatuan Indonesia”.   Jadi Pancasila?  Pancasila sebuah ideologi yang KHAS.  Ideologi GADO-GADO, citra rasa gado2 dengan aneka sayuran dan umbian disatukan dengan bumbu kacang….dehh nikmat kan?

Back to Pancasila.  Ok, kesepakan bersama semua rakyat Indonesia termasuk para pendiri saat itu tidak memilih GALUR MURNI dari syariat islam atau sosialisme atau kapitalisme untuk menjaga kepentingan Indonesia yang multikultur multiethnis multiagama.  LOGISKAH? mari kita pikirkan!

Indonesia mayoritas memang beragama muslim 80-90%, namun keberadaan non muslim misalnya kristen dibeberapa propinsi mayoritas.  Misalnya di NTT, Sulsel, Sumut, Papua mayoritas beragama kriten, juga di Bali ya mayoritas beragama Hindu.  Kalau syariat Islam yang diterapkan maka wilayah-wilayah tersebut sudah pasti akan memisahkan diri dari Indonesia.  “PERSATUAN INDONESIA AKAN RETAK???”  Saya pikir bapak2 pendiri Indonesia lebih mengutamakan Persatuan Indonesia dan melunturkan EGO agama mereka demi hidup dalam tatanan KESATUAN INDONESIA.

Back to #Ahok.  Dengan pemilihan ideologi pancasila sebagai ideologi negara indonesia, maka setiap ethnis, agama, dan ras punya kesempatan yang sama untuk dipilih dan memilih.  Termasuk Ahok yang Kristen dan keturunan Cina, karena dia WNI. Tidak ada salah dan tidak bersebrangan dengan pancasila.  Pun begitu warga jakarta punya kebebasan memilih siapa saja tanpa pandang agama dan ras, karena itu legal secara ideologi pancasila.

__

Bagaimana dengan yang muslim? Islam adalah agama sekaligus ideologi.  Islam punya tata aturan yang lengkap pun termasuk dalam memilih pemimpin.  Seorang pemimpin negara islam wajib dipilih dari kalangan muslim, baligh, mujtahid lebih utama, adil, …  Semua syarat ini ada karena dalam negara Islam, seorang pemimpin haruslah menjalankan syariat islam dalam kepemimpinannya.

Sayangnya Indonesia bukan berdasarkan Syariat Islam dan bukan negara Islam, Indonesia hanyalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak, sehingga syarat kepemimpinan sesuai syariat islam ini menjadi tidak ada dan tidak berlaku di Indonesia.  Bagaimana dengan mereka Muslim yang ingin melaksanakan syariat Islam dalam memilih pemimpin? Ya, wong….negaranya aja bukan negara islam, bukan negara berdasarkan syariat islam. Lalu sebagian mengatakan “Dari pada tidak sama sekali, ya minimal adalah dari kita yang muslim yang jadi pemimpin?” — Kalau motif-nya ini ini bukan motif dan dorongan agama bukan motif keridhaan alloh swt, ini motif INGIN BERKUASA dengan memanfaatkan perasaan KESAMAAN AGAMA.  Ini motif “EGOIS” motif “KEPENTINGAN KELOMPOK” bukan motif kepentingan BANGSA DAN NEGARA.

Lalu kalau dasarnya murni islam bukan sekedar NALURI BERKUASA atau PUNYA KEPENTINGAN KELOMPOK & EGO apa yang dilakukan?  Bagaimana pun gak mungkinlah memaksakan islam dalam negara pancasila.  Kalau tetap mau memaksakan islam lebih baik mendirikan dulu negara islamnya.  Dan bagi yang demikian punya cita2 “merelealisasikan syariat islam dalam kehidupan termasuk memilih pemimpin” maka mereka itu lebih baik menyatu dengan mereka yang meyerukan #Khilafah Islamiah, mereka akan berada di luar sistem pemerintahan sah, mereka akan terus melancarkan perang pemikiran [bukan perang fisik dan teror] dengan tujuan agar masyarakat mau dengan sukarela mengadopsi pemikiran mereka.  Ketika ada masyarakat mayoritas di suatu negara punya keinginan “MENGUBAH IDEOLOGI NEGARA-NYA” karena masyarakat sudah rindu dengan keindahan ideologi islam, maka IDEOLOGI INI DITAWARKAN UNTUK DITERAPKAN.  Walaupun tujuan dari dakwah KHILAFAH ini hendak menggeser pancasila dari Indonesia, Saya pikir itu jauh lebih baik, lebih elegan, lebih FAIR FIGHTING dibandingkan dengan mereka yang MASUK KE DALAM SISTEM PEMERINTAHAN PANCASILA, dan mereka punya tujuan MENGOBRAK-ABRIKNYA DARI DALAM.  Mereka yang seperti itu ibarat MUSUH DALAM SELIMUT, muka mereka bisa mendua-mentiga-mengempat….  bagi ideologi sebuah negara, PENYUSUP seperti ini jauh lebih berbahaya daripada mereka yang jelas-jelas berada di luar sistem.  PENYUSUP seperti ini mengacaukan sistem yang ada.

 

#KESIMPULAN

Kesimpulan pribadi saya sih……[terserah anda setuju apa tidak…….bukan untuk diperdebatkan]:

Anda muslim? Anda SELALU ingin dan SENATISA MENGHARUSKAN DIRI dipimpin oleh muslim? Maka pikirkan untuk bergabung dengan gerakkan dakwah yang menyerukan penerapan islam secara kafah, penerapan islam secara kafah hanya bisa terealisasi dengan menerapkan negara Islam/Khilafah Islamiah.  Dirikan dulu negara ISLAM-nya, barulah anda bisa melaksanakan syarat memilih dan dipilih sesuai syariat islam.

Ingatlah jika Anda MUSLIM INDONESIA yang tinggal di Eropa, Singapore, atau Jepang, anda pun merasa damai bukan?  Padahal negara2 itu dipimpin oleh Non Muslim dipimpin oleh ideologi NON ISLAM? Mengapa anda tidak menuntut negara tersebut untuk dipimpin oleh muslim juga? Ini tentu karena kita sadar bahwa negara tersebut menggunakan ideologi Non Islam? Dan Anda pun harus sadar bahwa Indonesia pun menggunakan ideologi NON ISLAM!

Lalu Anda muslim? Anda ingin hidup damai dimanapun anda berada? Maka anda harus berdamai dengan Ideologi Negara tersebut. Mulailah melihat sosok yang akan memimpin daerah dan negara dari sisi “KEINDONESIAN DAN KAPASITAS KEPEMIMPINAN” bukan lagi terkotak pada Muslim-Non Muslim.

#Just think and write, although you will think it’s nothing#

 

 

why menolak PKS, and why not?

Official count sudah resmi, tapi perang status dan dukungan serta twitter masih berlangsung.  Ternyata bulan2 ini sampai oktober rakyat dipaksa elit politik agar tdk bisa move on.

Kubu pemenang mulai move on, mengagas koalisi di legislatif dan susunan kabinet.  Dalam rangka itu ada hal menarik, Petisi menolak mengajak pks bergabung dengan jkw-jk.  Sampai saya lihat beberapa waktu lalu pendukungnya ada 4.500. Sedikit tentu saja dibanding pemilih loyal pks yang berjumlah 6 jutaan.

Hal yang membuat saya ingin komentari dari alasan penolakan itu adalah “pks mempunyai agenda terselubung yang membahayakan NKRI yaitu mendirikan daulah khilafah seperti hti”

0k, kita bahas ide daulah khilafah.  Daulah khilafah adalah sistem pemerintahan dalam islam yang meliputi beberapa negeri muslim yang bersatu sehingga wilayahnya luas dengan satu orang pemimpin.  Secara historis sistem ini pernah eksis dari sejak rasulullah saw wafat sampai khilafah Turki usmani dibubarkan 3 maret 1924.  Daulah khilafah dianggap sebagai media melaksanakan hukum islam secara kaffah dalam berbagai bidang kehidupan.  Artinya daulah khilafah adalah wadah menjalankan ideologi islam.

Sejak khilafah dibubarkan (tahun 1924) para ulama mendirikan kelompok dakwah, partai politik, dan gerakan untuk mengembalikan daulah khilafah islamiyah.  Salah duanya adalah Hizbut Tahrir (Hizb) dan Ikhwanul Muslimin.

Jika Hizb terang-terangan dalam perjuangannya, maka ikhwanul muslimin lebih memilih diam2 menyembunyikannya.  Kita akui, istilah khilafah dan daulah serta daulah khilafah islamiyah menjadi brandmarck perjuangan hizb diberbagai negara.  Dalam setiap permaslahan dan kasus yang terjadi Hizb mengopinikan UUD (ujung2nya daulah).

Pertanyaannya apakah hizb ini membahayakan NKRI? hizb adalah partai internasional yg metode gerakkannya adalah dakwah fikriyah, yaitu menyadarkan masyarakat untuk mau dihukumi dg hukum islam.  Dakwah fikriyah artinya menyebarkan pemikiran2 islam.  Jika kita berteman dengan aktifis dakwah hizb, kita bisa lihat status mereka kebanyakan ajakan mengubah paradigma misalnya tentang demokrasi sebagai sistem kufur dan islam punya ideologi sendiri yaitu dalam islam,  Alloh swt pembuat hukum dan uu atau dengan kata lain suara tuhan adalah suara rakyat bukan suara rakyat suara tuhan seperti demokrasi.  Gerakan makar sangat kecil sekali dilakukan hizb apa lagi di indonesia,  Level pemikiran masyarakat Indonesia jauh dari hingar bingar daulah khilafah, masyarakat indonesia tidak pernah merasakan hidup secara langsung dalam tatanan daulah khilafah.   Menghadirkan fakta-fakta itu dalam benak masyarakat indonesia sangatlah sulit, sehingga Indonesia dan juga negara2 eropa bukanlah wilayah yang dijadikan target untuk mendirikan daulah khilafah.  Hizb membidik negara2 arab yg secara historis, kultural, dan pemahaman lebih memungkinkan mendirikan daulah islamiyah.  Jadi hizb membahayakan NKRI? Ah tidak.  Lawan hizb bukan NKRi, lawan hizb sebagai partai internasional adalah internasional juga yaitu Amerika atau ideologi kapitalis yang sedang menghaegomoni  hampir 3/4 dunia pada saat ini.

Lalu bagaimana dg ikhwanul muslimin? Gerakan ini dlm bentuk partai ada di Mesir tapi dengan nama berbeda2 hanya masih satu komando gerakan dan berada diberbagai negara.  Contohnya Hamas di Palestina, PAS di malaysia, dan PKS di Indonesia.  Walaupun punya tujuan sama seperti hti tapi jalan dan metode yang digunakannya berbeda.  Banyak buku yang dikeluarkan oleh pendiri ikhwanul muslimin yg menjelaskan bagaiman metode mereka.  Hasil tulisan saya ini adalah hasil baca dari sejak sma dan pengalaman juga, walau saya tak lama2 ikut gerakkan ini hanya sebentar saja sekitar tahun  1991-1992.  Untuk mencapai daulah islamiyah ikhwanul muslimin memulainya dengan pembinaan individu.  Pada tahap ini setiap individu dibina pengetahuannya dengan liqo/kajian rutin setiap minggu, dicek apakah tiap hari baca qur’an, sholat malam, dan menhapal al qur’an.  Selanjutnya adalah tahapan usroh, atau keluarga.  Pada tahap ini, individu yg sdh matang walaupun berumur muda akan dijodohkan untuk cepat menikah, menikah muda memberikan kesempatan untuk punya anak banyak.  Tahap selanjutnya adalah ke bi’ah atau lingkungan, untuk level lingkungan masyakat maka kita bisa lihat  biasanya mereka membooking satu komplek perumahan sehingga keberadaan mereka di kompleks tsb mayoritas dan memudahkan mengajak simpatisan baru,  mendirikan sekolah islam terpadu untuk menciptakan bi’ah level sekolah, juga menarik simpatisan baru. Lalu selanjutnya tahap negara,  Tahapan ini harus dipastikan bahwa mereka cukup kuat, mereka pun menunjukkan diri dengan nama sebuah partai yang ikut dalam pemilu di setiap negara.  Dengan mengikuti pemilu maka ada kesempatan menjadi kepala daerah dan presiden.  Target awal kepala daerah.  Contoh kasus jika 33 propinsi kepala daerah dipegang, maka akan mudah memuluskan penerapan hukum islam dan juga menggiring masyarakat sesuai opini partai.  Untuk target ini, bisa dilihat pada pilpres kemarin daerah yang kepala daerahnya dari pks mayoritas memenangkan capres no 1, sesuai instruksi amir mereka.  Target selanjutnya tentu saja kepala negara atau presiden.  Di beberapa negara untuk target ini sudah berhasil seperti Mursi di mesir dan Anwar Ibrahim di Malaysia, namun kekuasaannya tak bertahan lama.  Jika banyak negara dipegang oleh mereka, maka negara2 itu nanti dilebur dan disatukan dalam daulah islamiyah.   Membahyakan NKRI? Untuk wilayahnya mungkin tidak. 33 propinsi akan dijaga kesatuannya walau dalam bentuk NII bukan demokrasi pancasila lagi.  Namun membahayakan PERSATUAN INDONESIA, jawbannya Bisa jadi.  Karena mereka tidak memaafkan perbedaan.

Tidak memaafkan perbedaan? Ya, bisa dibaca berbagai kampanye negatif yang dilancarkan selama pilpres dan pileg.  Kita juga bisa baca dari buku2 yg mereka terbitkan.  Misalnya di buku jamiatul islamiyah, dijelaskan bahwa gerakan islam itu harusnya satu.  Oleh karena itu dalam buku itu black campaign dilancarkan pada HIzbut Tahrir, Jamaah Tablig dan gerakan dari timur tengah lainnya.   Untuk konteks Indonesia, sering sekali ulama NU mereka cari2 kesalahannya dan melabelinya dengan sesat, alih2 bekerjasama malahan harus dijauhkan.  Para kader di PKS sangat dilarang mengikuti kajian2 di luar liqo dan ceramah dari ustadz2 mereka, termasuk kajian dari para ulama salaf.  Belum lagi kebencian mereka yg membabi buta terhadap kaum Nasrani (kristen), yahudi, dan agama lainnya.   Kebencian terhadap muslim yang nasionalis pun sering mengemuka….mereka menyebut para muslim ini sebagai Toge (plesetan dari Thougut).

Oh ya upaya kudeta sistemis tidak jarang dilakukan oleh mereka, untuk menduduki kekuasaan.   Bagi aktifis rohis kampus yang punya paham bersebrangan tentu saja pernah merasakan bagaimana kudeta sistemis ini dilakukan, dan membuat mati kutu lawan pemahaman.

Sikap tidak mentolelir perbedaan  dan cara2 kasar dalam meraih kekuasaan, ini memang menakutkan bagi kita.  Konflik horizontal yang akan terjadi membahayakan keberagaman di Indonesia.

PKS di Indonesia lebih banyak berdakwah dengan memperlihatkan akhlak para kadernya, namun miskin dengan dakwah fikriyah – goal apa yg sebenarnya ingin mereka capai banyak yg disembunyikan dan ditampik, walau juga gak bisa menampik karena para ulama ikhwanul muslimin dengan jelas mengarang buku2 yg bisa kita baca.  Apakah mereka menggunakan kekuatanterstruktur untuk meraih kekuasaan di suatu negara? Ya, ada upaya terstruktur untuk meraih kekuasaan di suatu negara.  Untuk peraihan kekuasaan ini, modus yang dilakukan hampir mirip dengan Gerakan DI/TIi dan memang ketua majelis syuro PkS merupakan putra tokoh DI/TII KARTOSUWIYO yaitu Danu Muhammad Hasan.

Jika melihat pengalaman Mursi di Mesir, maka sungguh mengerikan jika terjadi di Indonesia bukan? Konflik horizontal menjadi potensi yg tidak terelakkan, lalu siapa yg akan dikorbankan? Tentu saja rakyat indonesia sendiri, rakyat kecil yang berharap hidup adil dan sejahtera serta aman.

Sebagai muslim, kita yakini bahwa Islam rahmatan lil alamin.  Isi al qur’an harus diimplementasikan, dan harus diperjuangkan untuk diimplementasikan.  Tapi berdasarkan fakta dan pengalaman, kita tentu saja harus memilih metode yang paling baik.  Yaitu metode yang tidak dilakukan dengan black campaign, metode yang tidak akan menimbulkan konflik horizontal, metode yang lebih banyak menumbuhkan kesadaran dari rakyatnya bukan metode yang memaksakan kehendak, serta metode yang menhargai keberagaman secara adil.  Metode yang dibangun oleh para Wali termasuk wali songo di Indonesia, sehingga menjadikan hampir 90%  rakyat indonesia ridho dengan Islam.

Jika islam rahmatan lil alamin, maka tentu saja islam bisa dirasakan rahmatnya tidak hanya oleh muslim tetapi oleh semua penduduk bumi tanpa membedakan ras, agama, suku, dan paham politik.

 

 

Rukun Islam dan multidimensional efek

Pernah berefleksi tidak, bahwa ternyata rukun islam itu punya efek besar tdk sekedar ruhiyah tapi juga ekonomi, sosial, bahkan budaya. Coba kita sadari:
1. Syahadat >> konsekuensi sbg muslim.  Secara verikal sdh tentu terikat pd perintahNya.  Konsekuensi ini akan berpengaruh pd budaya seseorg.  Seorg muslim hrs mau hidup dg budaya islam (pakaian, makanan, minuman, bahkan tidur pun ada aturan dlm islam yg ajan jadi budaya)

2. Shalat.  Selain dimensi vertikal/ruhiyah, juga menimbulkan dimensi sosial kemasyarakatan.  Apalagi dg tumbuhnya mesjid.

3. Zakat.  Ini lagi…jelas terlihat dimensi sosial humanisme selain dimensi vertikal.

4. Puasa, nah walaupun tujuannya sangat vertikal.  Tapi komersialisme romadhan membuat dimensinya bergeser ke ekonomi bisnis…apalagi dg penutup hari raya.

5.  Haji.  Ini yg plg terlihat dimensi ekonominya.  Haji tlh membuat arab  kaya raya dg devisa haji dan umrah.  Haji menggerakkan dimensi ekonomi mulai dari penjual tas, baju haji, oleh2 haji, katering, maskapai penerbangan sampai hotel dan penginapan.

Sungguh ibadah yg punya efek multidimensional….mensejahterakan dan menghumaniskan…manusia.