Bagian II: Menjadi orang berkarakter dan berbudaya Jepang

08_04_18 13.30 Office Lens

Ini bagian kedua dari tulisan pertama, bagian kedua akan membahas bab 4-6 pada buku karya Murni Ramli.  Bagian ini akan membahas dari aspek geografi dan sosial masyarakat Jepang.

Kita senantiasa berpikir bahwa penduduk Jepang itu cuma sedikit, padahal penduduk jepang itu 1/2 dari penduduk Indonesia loh, yaitu sekitar 127 juta terbagi menjadi 47 prefecture (Indonesia sekitar 250 juta, terbagi dalam 34 Propinsi), dengan 5 pulau besar (Hokaido, Honshu, Shikoku, Kyushu, dan Ryuku) dengan 35.000 pulau kecil (Indonesia punya 14 pulau besar dengan jumlah pulau kecil 17.503).

Ada tiga suku di Jepang yaitu Yamato (dominan), Ainu, dan Ryukyuan.  Kita dulu mengenal orang Jepang orang kate karena pendek2, Murni Ramli pada bukunya halaman 105 menuliskan pada masa sekarang rerata lelaki jepang umur 30 mempunyai tinggi 171,4 cm sedangkan wanitanya 158 cm (Lebih tinggi dari hasil penelitian tinggi lelaki Indonesia tinggi 162,4 cm dan perempuan 151, 3 cm).

Orang Jepang selain karakter fisik yang hampir sama, juga mempunyai karakter sikap yang sama.  Baik berdasarkan opini kebanyakan orang yang bergaul dengan orang Jepang, maupun pada faktanya beberapa sikapnya adalah: jujur, disiplin, detail dalam berkarya, tidak mau merepotkan orang lain, dan pekerja keras.  Pertanyaan kita kemudian apakah ini sikap atau tingkah laku yang lahir secara genetis? Bukan! Penulis memaparkan pada halaman 111 pada zaman Edo, Taisho, dan Meiji orang Jepang ternyata bukanlah komunitas disiplin dalam bekerja, Misthubishi melaporkan tahun 1898 tingkat absensi diperusahannya 21%.  Menghargai waktu,  pada era sebelum perang Jepang juga sama dengan Indonesia, kereta sering terlambat.   Penulis memaparkan disinyalir kebiasaan ini muncul karena pameran tepat waktu dan efesiensi yang silakukan oleh Toyko Educational Museum.  10 juni 1920 ditetapkan secara nasional waktu dalam sehari.  Ada beberapa sifat lain orang Jepang diantaranya adalah tertutup (uchigawa & sotogawa), senioritas, menjaga perasaan lawan bicara … ada hal yang menarik dari sikap orang jepang yaitu:

Mencintai keharmonisan, kondisi damai, dan tidak suka konflik diistilahkan dengan heiwa. Sikap ini menjadikan orang Jepang tidak suka jika dalam suatu tim ada yang merasa lebih unggul dan dia mau menunjukkan diri unggul dengan menganggap teman lainnya saingan atau berkompetisi.  Orang semacam ini akan membahayakan keharmonisan tim, sehingga harus diketok dalam pepatah jepang ada istilah “deru kui wa utare” [paku yang menonjol harus diketok]. Efek dari ‘heiwa’ ini mereka menjadi orang yang rendah hati dan sederhana. Bukan pemandangan aneh para dosen di Jepang menggunakan sepeda ke Kampus, kecuali dosen yang rumahnya berbeda kota. Menggunakan tas yang sudah ditambal berkali-kali karena robek.  Tidak hanya para dosen, sikap sederhana juga ditunjukkan oleh para anggota dewan di Jepang.  Kursi-kursi yang mereka gunakan melapuk dan menua, warna sandaran dan tempat duduk punsudah memudar. Semua dibiarkan saja dari sejak gedung parlemen berdiri, mungkin ini menjadi bukti bahwa mereka benar2 memperjuangkan rakyat.

Tampaklah bahwa sikap bekerja masyarakat Jepang bukan lahir dari genetik, namun sebuah proses yang panjang membentuk sikap tersebut.  Paling tidak sejak revolusi Industri atau perang dunia mereka menginisiasi sikap bekerja disiplin, menghargai waktu, dan bekerja semangat.

Beberapa sikap lainnya lahir dari agama Budha atau ajaran Kong Hu Chu seperti heiwa, hidup sederhana, dan menjaga perasaan orang lain.  Ada juga sikap yang memang lahir secara naluriah misalnya senioritas dan tertutup.

Namun beberapa sikap orang Jepang pada generasi milenia beberapa mulai memudar, misalnya sifat sederhana dan gambarimasu (kerja keras).  Generasi di Jepang pada zaman milenia penulis membaginya menjadi 8 generasi yaitu posmo, ojoman, arubaito, komunitas terpelajar, diam & cuek, konsumtif, otaku, dan neet & Freeter. Tentang kondisi sosial generasi milenia ini diuraikan panjang lebar pada halaman 171-192.

To be continue ke bagian III tentang Teknologi dan Pendidikan di Jepang.

 

 

 

19. A little note from JICA Field Study

JICA Field Study, rangkaian dari JICA Youth Leadership yang diadakan JICA untuk para pemuda Jepang yang berminat dalam hubungan kerjasama internasional.  Indonesia dijadikan sasaran setelah sebelumnya program yang sama dilakukan di Vietnam.  Saya hanya memfasilitasi program dengan menyediakan lima mahasiswa UIN Jakarta yang terlibat sebagai fasilitator selama program.  Ada 4 kelompok, dan 20 presentator yang mempresentasikan temuannya pada kami.  Ok, ini sekedar catatan ringan dari yang tercecer dan tertinggal, semoga menjadi bahan pembelajaran.

#1.  Saya harus bilang bahwa mereka cukup efektif dalam menggali berbagai data yang diinginkan dalam 3 hari survei  mereka bisa mengumpulkan rata-rata 30 orang, bahkan ada yang mengumpulkan data dari wawancara sampai 70-82 orang.  Efektif bukan?

#2.  Metode yang mereka gunakan dalam survei ini adalah kuantitatif dan kualitatif serta ada yang menggunakan keduanya.  Instrumen yang digunakan adalah wawancara dan observasi.  Apapun metode pengumpulan data saya sangat apresiasi terhadap mahasiswa yang umurnya berkisar 18-23 tahun ini, analisisnya tajam, mereka dapat mengkorelasikan antara satu fakta yang ditemuinya dengan fakta-fakta lainnya, serta tentu saja dengan informasi yang mereka peroleh sebelumnya (Sebelum mereka ke Indonesia, mereka punya waktu 3 hari untuk pembekalan tentang Indonesia, sehingga ketika mereka ke Indonesia mereka sudah punya informasi tentang Indonesia dan tentang tempat serta berbagai hal untuk wilayah yang mereka kunjungi).

#3.  Tentang inkuiri informasi yang mereka lakukan, sangat terlihat dari 3 pertanyaan yang ditanyakan ketika kunjungan mereka ke UIN Jakarta.  Mereka tidak menanyakan hal-hal yang sepele dan hal-hal yang sudah ada di website UIN Jakarta, tetapi mereka menggali lebih lanjut apa yang tidak ada informasinya, tetapi mereka menanyakan “Tuition fee” “subsidi” “perbedaan UIN dibawah MORA dengan MONE”.

#4. Tentang análisis yang tajam:  Observasi dan wawancara mereka dapat menyimpulkan bahwa KESADARAN LINGKUNGAN DI INDONESIA DIPACU OLEH DUA HAL yaitu Pengetahuan dan Uang.  Beberapa masyarakat sadar akan lingkungan karena pengetahuan — maka muncul BANK SAMPAH.  Namun beberapa komponen masyarakat lain kesadaran tersebut justeru terbentuk karena UANG, mereka merasakan benefit ketika menjual botol, plastik, dll ke Bank Sampah dan mereka mendapatkan uang dari situ.

#5. Analisis yang tajam juga ditunjukan oleh peserta dari kelompok Goverment, ketika memaparkan relasi antara pemerintah, perusahaan daur ulang, dan TPA.

#6. Solusi solutif bagi masyarakat bawah untuk perduli pada sampah ditawarkan oleh salah satu mahasiswa yaitu dengan menghubungkan sampah dengan air tanah.  Solusi yang dihasilkan dari analisis bahwa sebagian masyarakat di desa Setu menggunakan air tanah dan mereka pun membuang sampah ditumpuk dilahan kosong, yang tanpa disadari oleh mereka bahwa sampah yang menumpuk itu akan menganggu kondisi air tanah penduduk sekitar.

#7. Solusi solutif juga ditawarkan ketika seorang peserta membahas relasi antara Bank Sampah dan TPS.  TPS adalah pola pengangkutan sampah diberbagai perumahan, yang tentu saja ada kontribusi kebersihannya.  Dengan cerdas mahasiswa ini mengatakan bahwa pola ini tidak menguntungkan bagi masyarakat kelas bawah yang tidak bisa membayar, dan akhirnya membuang sampah sembarangan.  Lalu dia pun memaparkan bahwa Bank Sampah umumnya dikelola oleh mereka yang level ekonomi-nya atas, tapi masyarakat bawah bisa memanfaatkan.  Pola menggabungkan antara Bank Sampah-TPS ini bisa dijadikan solusi.

Yap, 20 hasil análisis, 20 ide kreatif dari mereka, ini sungguh luar biasa.  Dan mereka melakukannya dalam 6 hari saja.  3 hari untuk pendalaman materi yang dilakukan di Jepang, dan 3 hari dilakukan di Indonesia.  –SEMOGA 5 MAHASISWA P. BIO (QUMILALILA, ALVIAN, RISTA, LATIFA, IAN) YANG TERLIBAT DALAM PROGRAM INI BISA BELAJAR BANYAK DARI PROGRAM INI DAN DARI INTERAKSI YANG TERJADI SELAMA PROGRAM!