Bagian III: Menjadi orang berkarakter dan berbudaya di Jepang

08_04_18 13.30 Office Lens

Bagian III dari buku ini karya teman saya Murni Ramli ini membahas tentang teknologi, pendidikan, dan karakter moral.  Bahasan disajikan dalam 10 bab mulai bab 7 sampai dengan bab 17.

Tentang teknologi, hal yang menarik dikemukan oleh penulis adalah “Jepang menyiapkan dahulu budaya sebelum membangun infrastruktur dan teknologi. Pada zaman Edo masyarakat Jepang melakukan revolusi mental menciptakan sosok berdisiplin tinggi dalam penggunaan waktu, kerja keras, dengan karakter seperti ini lahirlah teknologi seperti pedang, keramik porselin, boneka robot dan lainnya. Namun teknologi juga mengubah budaya masyarakat Jepang.  Misalnya bagaimana kehadiran shinkansen telah mengubah pola hidup masyarakat menjadi serba cepat, mengakibatkan pola makan juga serba cepat, waktu makan dipercepat menjadi 10-15 menit agar pada siang hari, pada saat jam kerja tidak mengantuk.  Pola hidup serba cepat memerlukan kepraktisan, berdasarkan kebutuhan ini lahir teknologi baru yaitu makanan serba instan.

Bagaimana warga Jepang bisa menjadi warga negara yang tertib? halaman 202 penulis menuliskan “Tahun 1960-an, awalnya penerapan hukum lalu lintas dilakukan dengan kekerasan misalnya dengan menampar atau memukul warga yang melanggar.  Hukuman keras dihilangkan ketika masyarakat Jepang terbiasa mematuhi aturan.  Kepatuhan atas aturan ini juga dicapai karena proses pendidikan moral dan karakter dimasukan ke sekolah.

Bagaimana pendidikan moral dan karakter dibelajarkan di sekolah? Bagaimana semesta mendukung moral dan karakter peserta didik? Penulis memaparkan sebagai berikut:

  1. Tiga dimensi pendidikan di Jepang: tubuh-jiwa-otak.  Ketiga dimensi diberikan, namun tidak rata, diberikan sesuai tingkatannya. Makin tingkat atas porsi makin besar untuk otak, makin tingkat bawah porsi lebih besar untuk tubuh.  Ini sebabnya di tingkat TK anak-anak lebih banyak bermain olah raga dari mulai naik titian, meloncati penghalang, dan gerak fisik lainnya.
  2. Pendidikan prilaku dilakukan dengan pembiasaan, mengucap sambil mengerjakan,  mengapa dilarang-mengapa harus begini, menempel slogan, life skill… (pada halaman 292-293 penulis menyajikan tabel tema2 pada pelajaran life skill untuk SD), budaya membaca (jangan kaget satu bulan buku siswa Jepang membaca lebih dari 16 buku per bulan).  Buku biografi tokoh merupakan buku yang banyak ditulis untuk membangun karakter.
  3. Karakter di mulai dari orang dewasa.  Orang dewasa menjadi contoh bagi anak-anak.  Anak-anak dan orang dewasa mempunyai pemahaman yang sama.  Pemahaman didasarkan pada manfaat yang mereka rasakan yaitu kenyamanan.  Jika anak dan orang dewasa di Jepang ditanya “mengapa harus antri?” jawaban mereka karena kalau tidak antri akan merugikan orang lain dan suasana menjadi kacau.  Mengapa harus bersih? karena bersih membuat mereka tidak cepat sakit dan sakit membuat mereka menderita karena tidak bisa beraktifitas.  Tidak ada jawaban anak dan orang dewasa yang menyebutkan karena alasan agama atau peraturan, semuanya atas kesadaran dan manfaat yang mereka rasakan.
  4. Fasilitas mendukung pembangunan karakter. Tidak ada fasilitas umum yang dicorat-coret oleh warga, karena di setiap fasilitas dipasang CCTV sehingga pelaku dan perusak fasilitas umum akan mudah dibekuk polisi.  Karakter 3R muncul karena setiap tempat umum disediakan tong sampah 4 jenis.
  5. Sistem kemasyarakatan yang berjalan sangat baik.  Supaya masyarakat antri ketika masuk kereta, maka jalur-jalur penanda antrian dibuat dan kereta berhenti tepat di jalur-jalur tersebut tanpa meleset sedikitpun.
  6. Orang sekampung turut bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak. Ada kegiatan dimana para orang tua membuat komunitas membantu anak-anak agar dapat bersekolah dengan baik.  Misalnya komunitas ini membantu anak yang terlihat kurang sehat di sekolah, ternyata anak tersebut tidak pernah sarapan karena orang tuanya pergi bekerja pagi-pagi sekali.

Halaman 327-347 menceritakan lebih menarik bagaimana studi kasus untuk contoh-contoh pembelajaran karakter ini di sekolah.

Pada persekolahan penulis juga menjelaskan kurikulum di Jepang dan bagaimana rapor di Jepang yang bersifat kualitatif terutama di tingkat dasar, tidak ada nilai-nilai yang berupa angka.  Rasanya membaca sendiri bukunya lebih menarik karena disertai dengan contoh-contoh, sayangnya paparan dari beberapa deskripsi tersaji tersebut akan sulit terbayangkan jika kita sendiri belum pergi ke Jepang dan melihat langsung kehidupan di sana.  SELAMAT MEMBACA DAN MENIKMATINYA!

Serial Kehidupan di Jepang: Bagaimana guru mengajar pendidikan moral?

PIC_0905.jpeg

Dari mana semua sikap dan karakter orang Jepang dibentuk? Salah satunya dari asupan pengetahuan selama di sekolah melalui pembelajaran moral.  Pembelajaran moral diberikan sebanyak satu jam setiap minggu.  Satu jam setara dengan 50 menit.  Bagaimana sekolah mengelola satu jam ini?  Buku moral pegangan peserta didik berupa cerita-cerita moral harian.  Namun bukan sekedar cerita, tetapi cerita yang menimbulkan konflik kognitif.  Guru menyampaikan cerita itu di kelas, bagaimana cara guru menyampaikannya? Inilah pengamatan kami pada pembelajaran moral di SD Afiliansi Toyama University.

Apersepsi: Guru mengingatkan pengalaman pribadi peserta didik.  

Guru :  Pernahkah kalian mengalami berjanji dengan seseorang, dan orang itu melanggarnya? Bagaimana perasaan kita saat itu?

Peserta didik: Sedih, kok bisa gitu!

Guru:  Hari ini kita akan membahas mengenai hal ini.  Silahkan maju ke depan empat orang. Satu orang sebagai narator, satu orang berperan sebagai Kasumi, satu orang berperan sebagai Sakura, dan satu orang berperan sebagai ibu Kasumi.  Guru meminta peserta didik yang telah maju untuk membacakan adegan 1 dari cerita Buku Harian Sakura.  Peserta didik yang lain pun membaca buku masing-masing.

Bagian 1. Buku Harian Sakura

Hari Jumat pulang sekolah janji dengan Kasumi pergi ke festival Yosakoi.

Kasumi : Hari ini kan ada festival.  Temanku ikut menari pada festival Yasokai dari jam enam.  Kita lihat sama-sama Yuk!

Sakura: Ayo…ayo…jam berapa kita ketemu?

Kasumi: Ibuku mungkin harus pergi bekerja, saya akan tanya duli nia, nanti saya telepon ya!

Sakura: Baiklah! saya tunggu telepon ya!

Tiba di rumah pukul 4:30.  Menyelesaikan PR di kamar sampai pukul 5 lebih gak ada telepon dari Kasumi.  Di tanya ke Ibu pun katanya dari tadi telepon tidak berdering. Karena merasa aneh saya telepon ke rumah Kasumi.

Ibu Kasumi: Kasumi sekarang sedang disuruh belanja, seharusnya sudah pulang…

Sakura: Kalau begitu tolong sampaikan bahwa saya menunggu di taman biasa jam 5.30.

Bersiap-siap, kemudian jam 5.30 pergi ke taman, Ksumi tidak datang juga.  Waktu terus berlalu, semakin mendekati jam 6, acara Yosakoi akan dimulai, kalau tidak cepat tidak akan keburu.  

Sakura: Ngapain sih Kasumi, dia sendiri yang ngajak, janji menelepon gak menelepon, datang ke taman juga tidak.

Karena Kasumi tidak datang, akhirnya Sakura memutuskan pergi ke festival sendiri. Di perjalanan ketika melihat para festival, …di sana ada Kasumi.  Kasumi menyapa saya.

Kasumi: Sakura! maaf ya saya ……….!

Sambil pura-pura tidak kenal, saya mengomel dalam hati. 

Sakura: Apaan sih, udah melanggar janji, sekarang mau ngapain lagi. Udah! Saya gak mau ngomong lagi sama Kasumi.

Guru menanyakan kepada peserta didik. “Sakura marah kepada Kasumi, bagaimana menurut anak-anak?”

Peserta didik ada yang menjawab kasihan Sakura,  Kan Kasumi juga punya alasan….

Guru kemudian meminta lagi tiga orang peserta didik untuk maju ke depan.  Tiga orang berperan sebagai narator, Kasumi dan Ibu Kasumi.  Mereka membacakan Buku Harian Kasumi.  

Bagian 2. Buku harian Kasumi.

Hari Jumat pulang sekolah, janji dengan Sakura pergi ke Festival Yasakoi.  Sampai rumah pukul 4.30, pas mau nanya ibu, ibu malah minta tolong saya untuk berbelanja.

Ibu: Kasumi, bisa tidak cepat tolong ibu berbelanja! ibu lagi tanggung, ini tidak bisa ditinggalkan.

Kasumi: Aduh bagaimana ya? Telepon Sakura ah, nanti mungkin agak telat. 

Saya coba telepon Sakura, tapi tidak ada yang mengangkat.  Apa boleh buat saya cepat-cepat pergi berbelanja. Supermarket sangat penuh, ngantri lama di kasir.  Pada saat keluar supermarket, waktu sudah cukup lama berlalu.  Saya cepat-cepat pulang ke rumah.  Sampai rumah ibu bilang….

Ibu:  Wah lama juga ya.  Tadi Sakura telepon, katanya dia menunggu di taman biasa jam 5.30.

Kasumi:  Wah kacau, saya membuat dia menunggu, saya harus cepat-cepat.

Saya lari tergesa-gesa keluar rumah menuju taman, tapi Sakura tidak ada.  

Kasumi: Apa sudah duluan ya? Tetapi kok dia seenaknya menentukan jam ketemuan sendiri secara sepihak.  Saya juga kan udah buru-buru.

Saya menunggu sebentar di Taman, tapi karena waktu parade dimana teman saya ikut menari sudah tiba, saya pergi ke tempat festival.  Di perjalanan bertemu sakura.

Kasumi: Sakura! maaf ya,….saya……!

Saya sudah mencoba untuk minta maaf tapi Sakura malah buang muka. 

Kasumi: Saya juga kan punya alasan datang terlambat. Kan gak ada salahnya dia mendengar alasan saya dulu.  Ya, sudah saya gak mau ngomong lagi sama Sakura.

Guru menanyakan kepada anak-anak, “Bagaimana menurut kalian mengenai tindakan Sakura?”

Peserta didik ada yang menjawab wajar kalau marah, gak betul kalau marah tanpa mendengarkan dulu alasannya.

Guru kemudian menyakan kepada peserta didik, “Bagaimana caranya agar hubungan mereka tidak retak?”

Peserta didik ada yang menjawab menelepon dengan baik, jangan cepat marah dengarkan alasan orang lain.

Guru mengingatkan kembali kehidupan diri sendiri masing-masing, menyadarkan perlunya berdiri di pihak orang lain atau berpikir dari sudut pandang orang lain, dan tenggang rasa.

Guru mennanyakan pada peserta didik, pernah tidak mengalami kejadian serupa? 

Dua orang peserta didik menceritakan pengalaman mereka.

Guru kemudian menanyakan, bagaimana caranya agar tidak terjadi permusuhan seperti cerita Sakura-Kasumi, apa yang sebaiknya dilakukan. Guru meminta peserta didik menuliskan pendapatnya pada buku mereka.  Kemudian mempresentasikan jawaban di depan kelas dan didiskusikan.

Hasil presentasi dan diskusi disimpulkan bagaimana meningkatkan tenggang rasa, jalan cepat marah, berusahan mendengarkan orang lain.

Pembelajaran moral yang disajikan tema: Salah Paham.  

Target: Menumbuhkan prilaku atau hati yang dapat memberikan tenggang rasa, sehingga dapat berpikir atau melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain dengan memikirkan mengapa terjadi kesalahpahaman antara Sakura dan Kasumi.

Keterkaitan dengan kurikulum pembelajaran moral:  Memiliki hati tengang rasa kepada siapapun, berlaku ramah berdiri di pihak orang lain atau memahami sudut pandang orang lain. 

Bagaimana Jepang menciptakan manusia berkarakter dan berbudaya?

08_04_18 13.30 Office Lens.jpg

Bagian I: Fondasi pembangunan karakter di Jepang.

Saya dapat kiriman buku dari sahabat saya Murni Ramli judul bukunya “Menjadi Orang Berkarakter dan Berbudaya di Jepang”  Buku ini menjawab pertanyaan “Bagaimana Jepang menciptakan manusia berkarakter dan berbudaya?”  Tentu saja dengan perspektif sebagai orang indonesia.  Bukunya mengkaji secara lengkap dari mulai fondasi sampai dengan interior didalamnya.

Dua bab pertama dari buku memaparkan fondasi dari penciptaan karakter manusia jepang.  Fondasi dari pembangunan karakter di Jepang itu apa? Penulis memaparkan bahwa pembangunan karakter di Jepang adalah proses panjang dari mulai era Tokugawa (sekitar abad ke 16 M tepatnya 1603-1867).  Setiap jaman pemerintahan Jepang sangat peduli dengan pendidikan moral. Pendidikan moral merupakan sarana membentuk karakter orang-orang Jepang.  Jika zaman Edo sampai dengan Meiji pendidikan moral masyarakat Jepang dipengaruhi oleh Agama yang berkembang di Jepang yaitu Budha Shinto atau Konfusianisme (Kong hu Chu).  Namun setelah perang dunia kedua, dengan masuknya pengaruh AS, pendidikan moral orang di Jepang pun dipengaruhi oleh teori-teori barat tentang moral seperti Piaget, Kohlberg, … Kini pengaruh teori asia timur dan barat disatukan oleh Pakar Pendidikan Moral, dengan rumusan aspek kesadaran moral meliputi empat hal yaitu (1) Kesadaran pribadi, (2) hubungan dengan orang lain, (3) hubungan dnegan masyarakat/kelompok, (4) hubungan dengan alam/dunia.  Pendidikan moral di Jepang setelah perang dunia kedua mempunyai misi “menumbuhkan individu yang akan menjadi masyarakat dan warga negara demokratis dan damai, dengan menghapuskan unsur-unsur perang dan kepatuhan pada Kaisar”.

Sekilas rumusan aspek moral ini sama dengan rumusan dalam islam tentang tugas pokok manusia yaitu: Hambluminnalloh, Hablumminnannas, dan habluminnaalam.  Namun Jepang tidak memasukkan hubungan dengan tuhan sebagai sebuah landasan pendidikan moral.  Ini semua karena pemerintahan Jepang tidak menetapkan satu agama sebagai keyakinan mayoritas penduduknya, agama adalah keyakinan pribadi tidak harus diurusi pemerintah. Kebijakan ini menyebabkan tidak ada data jumlah penduduk beragama tertentu di Jepang.  Dan tentu saja tidak ada kolom agama dalam setiap form identitas di Jepang.  Kebijakan ini membuat masyarakat Jepang tidak fanatik pada agama tertentu, ketika lahir seorang anak akan diadakan upacara sesuai agama Shinto, ketika meninggal dia akan dikremasi sesuai agama budha, beribadah di rumah altar budha dan shinto ditempatkan berdampingan, dan ketika menikah akan merasa keren (Kakoi) dengan menikah di Gereja.  Maka ketika orang-orang jepang di Tanya apa agama kamu? lihat ini: THAT JAPANNESE MAN YUTA . That’s Jepang! Seketika saya pun teringat, lagu John Lenon “imagine no religion…living life in peace!” Tampaknya John Lennon terinspirasi dari Yoko Ono isterinya yang berasal dari Jepang ketika membuat lirik ini.

To be Continue, bagian selanjutnya akan dijelaskan tentang bagian II: Geografi, Sosial Budaya, dan Teknologi di Jepang.

 

Pengalaman 3R Jepang: Jalan Panjang Bagi Kota-kota Indonesia!

Hari sabtu kemarin saya arisan di Komplek Depok, berita sedih saya dapatkan adalah “AKTIFITAS BANK SAMPAH DIBERHENTIKAN“.  Komplek kami kecil, berisi 52 rumah tangga, beberapa bulan ini ibu-ibu giat berperan serta dalam 3R melalui Bank Sampah, bekerjasama dengan sebuah Bank Sampah di Tangerang Selatan.  Ibu-ibu semangat menjalani kegiatan 3R, karena ada buku tabungan.  Pendapatan dari mulai 1.000, 25.000, sampai 90.000 untuk tabungan mereka.  Namun selama menjalani aktifitas bank sampah terjadi kendala yaitu keterlambatan petugas bank sampah mengangkut sampah dari komplek, sehingga sampah menumpuk di rumah dan menjadi sarang tikus.  Semangat 3R yang masih menggebu tidak melunturkan semangat 3R, ide-ide pun keluar.  Sudah kita tetap kumpulkan panggil aja tukang rongsokan! Dijual sama dia? Ah, gak seberapa udah dikasihkan aja! Sekarang saya udah gak ngumpulin lagi, soalnya jadi sarang tikus di rumah.  Udah kita sediakan saja wadah khusus, tapi dimana nampungnya?”

Jepang adalah negara yang benar-benar memperhatikan 3R dalam pengelolaan lingkungannya.  Salah satu kota yang mendapat julukan eco-town adalah Toyama.  Saya hendak menceritakan bagaimana pengelolaan sampah di kota ini.

1) Pemerintah daerah Prefecture Toyama menyebarkan brosur pada penduduk (1) brosur cara memilah sampah.  (2) Brosur jadwal pembuangan sampah.  Tampak pada brosur pertama bagaimana setiap sampah dipilah berdasarkan jenisnya ada sampah kaleng, sampah kertas, sampah plastik, bekas makanan dll.  Pada brosur kedua tertera jadwal pengangkutan sampah tiap jenis.  Misalnya hari rabu untuk sampah daur ulang.

Gambar 1 (Kiri).  Cara memilah sampah di Kota Toyama.  Gambar 2 (kanan).  Jadwal pembuangan sampah sesuai jenisnya.

2) Setiap rumah melakukan pemilahan sampah seperti yang sudah ditentukan oleh pemerintah daerah, di setiap RT disediakan tempat pembuangan sampah sementara.  Masyarakat membuang sampah di tempat pembuangan sampah sementara sesuai jadwal. Bagaimana kalau masyarakat salah dalam memilah? atau sampah yang dibuang tidak sesuai jadwal.  Sampah tersebut akan ditandai, dan dikembalikan pada si-empu-nya.

Gambar 4 (kiri).  Tempat pembuangan sampah sementara (TPS), setiap RT satu TPS diletakkan di tepi jalan raya, agar mudah dijangkau truk pengangkut.  Gambar 5 (Kanan).  Sampah yang tidak sesuai cara pemilahannya atau tidak sesuai dengan jadwal pembuangan akan diberi tanda peringatan dan dikembalikan pada yang membuangnya.

3) Truk-turk sampah akan membawa sampah sesuai jadwal.

Gambar 5.  Truk sampah mengambil sampah di TPS sesuai jadwal pembuangan.  Pada saat pengamatan jadwal sampah yang dibuang adalah sampah daur ulang (kertas).

4) Sampah daur ulang (masih bisa dikomersilkan) oleh truk akan dibawa ke Toyama Ecotown Park.  Toyama Ecotown Park adalah pusat daur ulang sampah kering, disini sampah yang berasal dari plastik, kayu, kertas, di daur ulang kembali menjadi bahan baku yang bisa dipakai untuk beragam kebutuhan.

Gambar 6.  Eco-town Park tempat daur ulang sampah kertas, kayu, plastik

5) Adapun sampah gado-gado yang tidak dapat didaur ulang dibawa oleh truk ke tempat pembakaran sampah.  Tempat pembakaran sampah Toyama menampung sampah dari lima prefektur.  Disini sampah di bakar, abu sampah kemudian dipilah lagi menjadi abu-abu sampah yang mengandung logam dan abu sampah umumnya.  Abu sampah ini dimanfaatkan menjadi batu bata dan bahan bangunan rumah juga aspal jalanan.

Screen Shot 2017-12-10 at 13.46.39

Gambar 7. Truk-truk yang membawa sampah  tidak dapat didaur ulang mengirimkannya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).  Disini sampah dibakar. Energi panas yang dihasilkan dari pembakaran digunakan untuk pemanas air (onsen), abu sisa pembakaran dijadikan bahan bangunan.   

Nah, Tampak sekali pengelolaan sampah di Toyama ini ZERO WASTE bukan?

Di sekolah, anak-anak pun dibiasakan untuk melakukan 3R, jadi ketika mereka membantu orang tuanya di rumah anak-anak ini sudah paham.

DSC_0111

Gambar 8. 3R di sekolah: Bekas susu dilipat, dipisahkan dengan sampah lainnya.  

Dan banyak juga para orang tua (terutama Non Warga Jepang) yang paham cara 3R di dari anak-anak mereka yang bersekolah.  Apa yang diajarkan di sekolah, penerapannya di Masyarakat dan lingkungannya, ini namanya SEMESTAKUNG dalam pendidikan.  Terjadi kesamaan antara kebijakan pemerintah dalam 3R (Regulasi dan penyediaan fasilitas), budaya masyarakat 3R, dan pendidikan 3R di sekolah. = SEMESTA MENDUKUNG!

Indonesia kapan bisa seperti ini? YAp, saatnya kita bekerja bersama. Kita dorong pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan 3R sekaligus fasilitasnya, kita ‘suluh’ masyarakat agar mau melakukan 3R, dan kita didik anak-anak melalui kurikulum 3R di sekolah! Mari ikut berpartisipasi, #Yuk,Kita Buat Indonesia Bagus!

 

O-sōji: Piket membersihkan sekolah di Jepang #SerialPendidikandanKehidupan diJepang

Selama tiga tahun saya mendapat kesempatan bergabung dalam proyek pengembangan kurikulum pendidikan lingkungan bersama Indonesia Education Promoting Foundation (IEPF) Japan didukung oleh Japan Cooperation International Agency (JICA). Kali ini saya akan menggambarkan bagaimana gelaran piket membersihkan sekolah di Sekolah Dasar Jepang. Semoga bermanfaat bagi bapak dan ibu, terutama di Sekolah Dasar.

Sampah! Jika kita lihat kelas di sekolah-sekolah Indonesia saat ini, maka selama proses belajar dan setelah proses belajar, sampah berserakkan di dalam kelas merupakan fenomena biasa. Tapi tenang saja, segerombolan petugas kebersihan sekolah akan serta merta datang setelah usai sekolah, dia akan membersihkan seluruh sekolah.

Dulu, jaman saya sekolah. Setiap hari ada tugas piket. Kita pergi ke sekolah selain membawa buku juga membawa kemoceng, sapu, taplak meja, pas bunga, dll. Sebelum pembelajaran di mulai anak-anak membersihkan kelas, dan setelah selesai belajar juga membersihkannya kembali. Jika ada anak yang tidak piket, kita catat, lalu lapor pada guru wali kelas, biasanya ini jadi salah satu tugas Ketua Murid (KM). Jumlah anak yang piket dibagi berdasarkan hari belajar setiap minggunya. Tapi itu dulu, ketika saya masih menggunakan kurikulum 1975 duduk di bangku SD dan SMP. Ketika SMA saya mulai masuk kurikulum 1984 seingat saya kegiatan kerja bakti hanya dilakukan sekali saja ketika kelas satu, lepas dari itu tidak pernah lagi piket bersih-bersih, semuanya dilakukan oleh petugas kebersihan sekolah. Sekolah pun mulai menggaji banyak petugas kebersihan.

Lalu apa pengaruhnya penghapusan piket kebersihan di sekolah? Pernah dengan keluhan orang tua pada anaknya seperti ini? “Lah! Apa? Kakak disuruh bersih-bersih sekolah? Itukan tugasnya petugas kebersihan, kakak ke sekolah untuk belajar bukan untuk bersih-bersih! Besok ibu akan protes sama sekolah!” Pada diri sebagian anak-anak sekarang kita lihat, bagaimana dengan seenaknya dia berjalan di lantai yang baru dipel oleh petugas kebersihan, dan sepatunya pun kotor. Ketika berada di tengah masyarakat, dengan seenaknya dia melempar sampah ke luar mobil, dan entengnya berkata “Nanti juga ada petugas yang membersihkannya” Ketiga kota tempat tinggalnya kotor, dia akan serta merta menyalahkan Dinas Kebersihan Kota, tak tergerak hatinya untuk turut membantu meringankan beban dinas kebersihan kota. Nah, berat sekali ternyata dampaknya ya?

Piket Membersihkan Sekolah di Jepang

Siapapun yang pernah ke Jepang, akan terkesan dengan kebersihan kotanya. Darimana budaya ini ditanamankan? Sudah banyak diketahui khalayak dan sering kali menjadi viral di media sosial terkait salah satu budaya sekolah Jepang yaitu membersihkan sekolahnya. Aktifitas ini di Jepang dinamakan o-sōji, dilakukan oleh semua sekolah negeri maupun swasta dari tingkat sekolah dasar sampai menengah atas.

Kegiatan ini dilakukan oleh peserta didik setiap hari setelah istirahat makan siang. Ditandai dengan bel, anak-anak bergegas membersihkan seluruh sekolah sesuai tugasnya masing-masing. Pada awal semester sekolah telah membagi anak-anak dalam kelompok-kelompok kebersihan. Satu kelompok kebersihan terdiri dari anak kelas rendah (I,II,III) sampai tinggi (IV, V, VI). Satu kelompok bertugas membersihan bagian tertentu, hampir setiap sudut sekolah ada anak-anak yang menjadi petugas kebersihan. Lantai aula atau lapangan indoor dibersihkan oleh kelompok anak, kaca kelas, ruang kelas, ruang perpustakaan, koridor, toilet, tangga, dan lainnya kecuali ruang guru dan kepala sekolah, semua sudut sekolah dibersihkan peserta didik.

Setelah selesai membersihkan sekolah, anak-anak kelas VI sebagai supervisor akan menanyakan pada setiap kelompok yang telah selesai membersihkan dengan pertanyaan: “Tadi sudah membersihkan apa saja? Apakah ada kesulitan dalam membersihkannya?”

Setelah selesai kegiatan o-sōji anak-anak membereskan kembali peralatan kebersihan. Termasuk peralatan kebersihan yang mereka bawa. Setiap anak di sekolah Jepang mempunyai lap yang mereka bawa dari rumah.

Kegiatan o-sōji dilakukan oleh anak-anak di seluruh Jepang setiap hari. Kegiatan ini merupakan program di sekolah-sekolah Jepang baik negeri maupun swasta dari mulai sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Pembiasaan inilah yang menjadikan Jepang sebagai negara bersih. Budaya membersihkan sekolah, bukan sekedar menumbuhkan rasa kepemilikan dan cinta terhadap sekolah, tetapi berdampak pada merasakan cape-nya melakukan tugas kebersihan. Akibatnya jika akan mengotori dan buang sampah sembarangan, maka akan pikir panjang. Kegiatan o-siji pun menumbuhkan rasa empati.

Membelajarkan kebersihan

Anak-anak Jepang tidak mengeluh dan senang hati melakukan o-sōji. Selama observasi kegiatan o-sōji di berbagai sekolah dasar di Jepang, baik sekolah di pegunungan seperti Jinzu Midori Propinsi Toyama maupun di sekolah perkotaan seperti Tokyo, tidak ada satu pun anak yang leha-leha tidak mengerjakan tugasnya. Semuanya bekerja membersihkan sekolah sesuai tugas mereka. Hal ini mereka lakukan karena sadar bersih berarti sehat.

Kebersihan pangkal kesehatan. Slogan ini marak ditempel diberbagai sekolah di Indonesia. Pertanyaannya adalah, “Apakah kita dan anak didik mengerti arti dan maknanya? Di Jepang anak-anak diberikan pengertian bahwa kuman dan hewan pembawa penyakit seperti nyamuk, lalat, kecoa, dan tikus sangat suka hidup di tempat yang kotor. Lalat akan hinggap ditempat yang berbau dan busuk. Kuman adalah mikroorganisme kecil akan menempel pada debu-debu. Jika tidak ingin terkena penyakit, maka bersih dari debu, bau, dan kotor. Bersih dari debu dan kotoran, tentu tidak mengundang hewan-hewan pembawa penyakit untuk datang. Jika sakit, maka banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar rumah sakit, dokter, dan obat. Selain itu sakit membuat badan merasa tidak nyaman, tidak semangat beraktifitas, dan tidak produktif. Sakit membuat diri menjadi sedih dan menyusahkan orang lain di rumah. Tidak ada orang bahagia karena sakit. Sakit pun dapat berakibat pada kematian. Pengetahuan inilah yang ditanamkan sehingga peserta didik paham mengapa ada slogan “Kebersihan pangkal kesehatan, kesehatan pangkal kesejahteraan dan kebahagian

Lalu siapa yang bertanggungjawab terhadap kebersihan? Di Jepang punya prinsip siapa yang mengotori dia yang membersihkan, siapa yang menggunakan dia wajib menjaganya, bahkan ada slogan sampahmu tanggung jawabmu. Jadi tugas kebersihan itu jadi tanggung jawab sendiri bukan tanggung jawab petugas kebersihan. Semua anak di sekolah menggunakan fasilitas sekolah, jadi kebersihan sekolah adalah tanggung jawab bersama.

Dari mulai masuk sekolah, mereka telah menjaga kebersihan sekolah. Tidak membiarkan debu mengotori sekolah, caranya anak-anak di sekolah Jepang mempunyai sepatu khusus selama di sekolah. Sepatu ini di simpan di sekolah, dan dipakai selama di kelas. Sepatunya terbuat dari karet, dan semua sepatu anak lelaki dan perempuan sama. Sepatu yang mereka pakai dari rumah, yang telah menginjak jalan berdebu akan di simpan di loker selama belajar di sekolah, mereka menggunakan kembali sepatu tersebut ketika pulang. Begitu pula para guru, mereka menggunakan dua sepatu. Sepatu khusus untuk di kelas yang tak berdebu dan tak dipakai di luar. Mengapa itu dilakukan? Selain menjaga kebersihan sekolah mereka dari debu yang berterbangan, debu yang dibawa dari luar atau jalanan mengandung kuman yang dapat membuat mereka sakit. Melepas sepatu luar dan mengganti dengan sepatu khusus selama di kelas dan sekolah adalah cara menjaga kebersihan dan kesehatan.

Bagaimana dengan sekolah di Indonesia? Apakah sekolah akan bertahan dengan memperbanyak petugas kebersihan yang digaji sekolah? atau memberdayakan kembali peserta didik untuk membersihkan sekolah dan menjaga kebersihannya? Mari kita pikirkan! #Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus#

 

Hari olah raga di Sekolah Dasar Jepang #Serial Pendidikan&KehidupandiJepang

Selama tiga tahun saya mendapat kesempatan bergabung dalam proyek pengembangan kurikulum pendidikan lingkungan bersama Indonesia Education Promoting Foundation (IEPF) Japan didukung oleh Japan Cooperation International Agency (JICA). Kali ini saya akan menggambarkan bagaimana gelaran hari olah raga(Sport Day) di Sekolah Dasar Jepang. Semoga bermanfaat bagi bapak dan ibu, terutama di Sekolah Dasar.

Standar sarana dan prasarana sekolah dasar di Jepang baik sekolah negeri maupun swasta sama semua. Setiap sekolah harus mempunyai lapangan olah raga outdoor yang cukup luas untuk bermain sepak bola dengan pinggirannya untuk lari. Dengan ukuran lapangan outdoor seperti itu maka selain bermain sepak bola dan lari, juga bisa digunakan untuk permainan base ball. Sekolah juga harus melengkapi dengan lapangan indoor dimana di ruang ini anak bisa bermain bulu tangkis untuk dua lapangan dan bola basket dan senam, ruang indoor ini sekaligus bisa difungsikan untuk hall konser kesenian. Selain itu setiap sekolah harus juga melengkapi dengan kolam renang.

 

Setiap tahun, semua sekolah di Jepang merayakan hari olah raga (Sport Day). Dengan fasilitas seperti di atas, kompetensi olah raga apa yang di selenggarakan di sekolah? Tentunya kita semua membayangkan bahwa pada hari olah raga setiap sekolah akan menyelenggarakan kompetensi bola basket, renang, futsal, base ball, dan olah raga keren lainnya bukan? Bayangan kita mungkin sama yaitu sekolah Jepang akan menyelenggarkan olah raga semodel O2SN (Olimpiade Olah raga Sains Nasional) yang biasa dilakukan di tingkat kecamatan.

Kami mengamati Hari Olah Raga yang diselenggarakan oleh Toyama University Affliated School (Sekolah Laboratorium Universitas Toyama) dan gelaran olah raga model seperti ini berlaku umum di sekolah Jepang lainnya.

Hari olah raga di sekolah, mirip acara kenaikan kelas. Para orang tua di undang untuk menyaksikan acara. Seperti sedang piknik, mereka menggelar tikar dengan tertib di pinggir lapangan yang telah disediakan sekolah. Setiap penonton dibagikan jadwal acara sport day. Upacara pembukaan digelar resmi, pemimpin upacara adalah kepala sekolah. peserta dan petugas upacara berbaris rapi. Tidak ada ‘event organizer khusus’ yang mengelola acara ini, semua komponen sekolah yang terlibat yaitu para guru dan siswa. Guru mengatur loba dan siswa sebagai pembawa acara secara bergantian. Kurang lebih 5 menit upacara di buka, bendera diserahkan petugas upacara pada pemimpin upacara. Pemimpin upacara (kepala sekolah) mengingatkan pada para siswa bahwa mereka telah berlatih keras, dan berhati-hati saat bertanding, agar tidak celaka, dan diakhiri dengan sumpah jujur sebelum kompetisi dimulai.

Inilah hebatnya. Jangan bayangkan olah raga yang digelar adalah olah raga basket, volley, anggar, senam, base ball, renang, atau futsal…walau sarana dan prasarana memadai. Tapi kompetisi yang digelar adalah olah raga jamaah atau olah raga rakyat.

Semua siswa satu sekolah dibagi ke dalam empat tim yaitu tim biru, putih, merah, dan kuning. Satu tim terdiri dari kelas 1-6. Salah seorang anak kelas enam ditunjuk sebagai pemimpin yang memegang bendera tim dan menyemangati teman-temannya yang bertandaing dalam setiap rangkaian olah raga. Olah raga yang dilombakan adalah: lari estafet 60 m untuk kelas 1-2, 80 m untuk kelas 3-4, dan lari 100 m untuk kelas 5-6, serta permainan tradisional dan modifikasi untuk kelas 1-4. Misalnya kelas 1-2 bermain memasukkan bola ke keranjang, lomba ketangkasan tradisonal, dan karena shinkazen saat itu baru melewati kota Toyama maka ada permainan kereta shinkazen menggunakan papan beroda. [Jadwal acara lihat gambar].

Sport day di Jepang. Satu tim terdiri dari kelas 1-6. Jenis lomba dibagi menjadi jenis lomba untuk kelas 1-2, 3-4, 5, dan 6. Skor dihitung sebagai kemenangan tim bukan kemenangan perorangan atau kelompok. Olahraga yang disajikan adalah olah raga umum tidak membutuhkan skill dan bakat khusus, sehingga tidak ada anak yang menjadi penonton, semuanya bermain, karena olah raga yang digelar bisa dimainkan oleh semua orang. Semua anak bisa mengikutinya dengan riang gembira. Hal yang dipentingkan dari gelar hari olah raga ini adalah semua anak bermain, semua anak bahagia, dan semua anak bisa merasakan kemenangan. Orang tua bangga pada anaknya masing, bahagia melihat anaknya bisa bersemangat bertanding untuk timnya. Rasa KOOPERATIF DAN KOLABORATIF atau istilah Indonesia GOTONG ROYONG DAN KEBERSAMAAN itulah yang dipupuk dalam hari olah raga di Jepang bukan kompetisi individualis. Hebat bukan gelaran olah raga yang digelar negara maju, justeru sangat merakyat, yang dipentingkan adalah gerak fisik agar sehat, kompak, kebersamaan, yang tua (kelas 5-6) menyemangati dan membimbing yang muda kelas 1-4, semua berperan aktif mengikuti lomba tidak ada yang jadi penonton. Selain kebersamaan, gotong royong, ada juga kepemimpinan, kemadirian, dan kompetisi. Hari olah raga dijadikan wadah membangun karakter bangsa Jepang di masa akan datang.

Berbeda sekali dengan kompetisi O2SN di Indonesia bukan? Atau dengan PORSENI (pekan olah raga dan seni) yang biasa digelar sekolah di tingkat SMP/SMA pasca Ujian Akhir Sekolah? Kedua gelaran olah raga di sekolah Indonesia lebih memupuk pada kompetisi individual, hanya orang yang punya skill dan bakat yang bisa mengikutinya, sementara anak lainnya menjadi penonton pasif. Mungkin sebaiknya kita mulai memikirkan ulang (re-thinking) bagaimana semangat GOTONG ROYONG DAN KEBERSAMAAN yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia ditumbuhkembangkan kembali, dan hal itu bisa dilakukan lewat kegiatan PORSENI sekolah. Menjadikan ajang PORSENI sebagai wadah membangun karakter GOTONG ROYONG, KEBERSAMAAN, dan KEPEMIMPINAN. Bukankah Indonesia kayak dengan permainan dan olah raga tradional yang bersifat gotong royong? Dan pastinya modifikasi permainan tradisional ini dapat dimainkan oleh semua anak. Mengapa itu tidak kita mulai memikirkan membangun karakter anak Indonesia masa depan? Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus![YH]

This slideshow requires JavaScript.

Sport Day bukan gelar olah raga penuh keterampilan bersifat kompetisi individual tetapi menggelar olah raga dalam permainan kebersamaan dan menyenangkan, semua anak bisa melakukannya semua anak berpeluang menjadi juara

Salam Dua Jari! SALAM DAMAI!

21764960_10212345157257657_5969800519486831942_n

Salam ini bukan untuk dukung PILPRES atau PILKADA, inilah adalah salam universal, SALAM PERDAMAIAN.

Let’s Talk abaout Japan 70 years ago!

Jepang 70 tahun lalu, menghadapi kondisi yang sama dengan Indonesia saat ini.  Film Oshin yg mengambil setting 1912-1950 menggambarkan dengan apik masa-masa suram Jepang. Masa itu anak-anak kecil terpaksa membantu ekonomi keluarga dg menjadi pembantu rumah tangga. Dalam film Oshin tersebut tahun 1912 Oshin yang baru berumur 7 tahun karena kemiskinan harus dijual untuk bekerja ke Saudagar kaya.  Dan 30 tahun kemudian tahun 1942, masa perang dunia II Hatsuko pun mengalami hal yang sama, keluarganya dari Yamagata harus menjualnya ke Tokyo untuk dijadikan pembantu di rumah Bordil, mungkin setelah dia remaja akan menjadi pelayan di rumah ini.  Setelah 30 tahun Jepang tidak lebih baik.  Masa-masa itu adalah masa suram bagi Jepang.  Ekonomi saat itu sangat sulit, kesenjangan antara kaya dan miskin pun lebar menganggga. Makanan serba dijatah bagi rakyat kecil, ekomoni pun tak tumbuh dengan bagus.  Melihat film Oshin akan mengenang masa sulit Jepang.  Itulah Jepang 70 tahun lalu. Persis sama dengan Indonesia saat ini.

Setelah perang dunia II dan kekalahannya dari Komplotan Sekutu AS, membuat Jepang me-rethinking misi masyarakatnya. Jepang selama era Perang Dunia menyuburkan mental patriotisme ala samurai yang kemana-mana DOYAN PERANG dan MERASA UNGGUL SENDIRI dengan semboyan-semboyan kesombongannya NIPON CAHAYA ASIA. Setelah kekalahan perang, Jepang menyadari bahwa PERANG HANYA MEMBAWA KESENGSARAAN. Tragedi perang dg segala kerugiannya menjadi pelajaran berharga bagi petinggi dan masyarakat Jepang. Oleh karena itu Jepang mengubah masyarakatnya menjadi mental cinta damai, atas dasar CINTA DAMAI JEPANG MEMBANGUN NEGERINYA KINI.  Bagaimana cara membangun masyarakat cinta damai? Jepang melakukannya dengan cara “MENCABUT RASA EGO PALING BENAR PALING HEBAT PALING UNGGUL dari benak masyarakat mengubahnya menjadi TOLERANSI, WIN WIN SOLUTION, KERJASAMA, MEMIKIRKAN PERASAAN ORANG LAIN

And Let’s Go Back to Indonesia!

70 tahun lebih kita merdeka. Perang fisik dg penjajah berakhir sudah, namun perang ideologi berlanjut terus, sampai tahun 1960-an kita sibuk mengatasi PKI (Partai Komunis Indonesia) dan NII (Negara Islam Indonesia).  Tahun 1970-an PKI benar-benar digebuk habis, menyisakan trauma bagi para pengembannya.  Kini PKI sulit berkembang di Indonesia, dan Komunis dunia pun telah hancur.   Bukan berarti Indonesia telah aman dari perang Ideologi, masih ada NEO NII yang terus berkumandang melancarkan PERANG PEMIKIRAN. Masyarakat Indonesia dikondisikan berada dalam kecamuk PERANG PEMIKIRAN atau diistilahkan dengan Gozwul Fikr. Kini kita melihat para anak muda yang ter-shibgoh NEO NII dengan penuh angkara murka memainkan jari jemarinya di media online menyebarkan opini bahkan hoax yg merusak jiwa-jiwa yg cinta damai yang sedang bekerja membangun bangsa Indonesia. Akhirnya energy bangsa habis terkuras meladeni perang ideologi atau perang pemikiran ini. Uniknya acapkali gerakan NEO NII ini menumpang dan didukung barisan sakit hati kalah PEMILU atau menumpang pada PILKADA.  Jika negara tidak bisa di-NII-kan, maka minimalnya Daerah bisa bersyariah, mungkin itu targetnya.

Masyarakat Indonesia kini dikondisikan dalam sebuah PERANG PEMIKIRAN. Jika perang terus apapun namanya mau perang revolusi, perang senjata, bahkan perang pemikiran; maka pertanyaannya KAPAN MAU MENATA INDONESIA? Apapun perangnya termasuk perang pemikiran sekalipun adalah PENGHAMBAT KEMAJUAN.

Disinilah kita harus sadar.  Mari keluar dari medan perang, ciptakan Indonesia yg tentram dg tangan, lisan, dan karya kita!

INGAT!!! INDONESIA dg NKRI PANCASILA adalah kesepakatan bersama semua perwakilan bangsa Indonesia termasuk didalamnya para ulama dari NU Muhammadiyah Sarekat Islam (baca WIKIPEDIA &  TIRTO). Sebuah kesepakatan hasil musyawarah bersama, jika kita tetap egois ingin mendirikan NII, maka betapa EGOIS-nya kita.  Jadi, mari kita bangun Indonesia yg sudah disepakati bersama. Hilangkan EGO, STOP PERANG PEMIKIRAN yang selalu kalian terbarkan pada kaum muslim.  Ayo bersama-sama bangun Indonesia. Indonesia adalah rumah kita bersama, jika ada dari pemerintah yang masih kurang maka jangan mudah PROVOKASI menyatakan PEMERINTAH KAFIR PEMERINTAH DZALIM PEMERINTAH KOMUNIS! Kapitalisme memang mengurita dunia saat ini, namun tetap ada celah untuk membantu keluar dari kapitalisme global sehingga kesenjangan kesejahteraan antara masyarakat tidak terlalu menjulang.  Selalu ada dengan cara yang arif berorientasi “Kesejahteraan Rakyat” yang bisa kita bangun bersama dalam upaya meringankan beban pemerintah. So, Yuk, kita buat Indonesia Bagus! Utamakan PERDAMAIAN DARIPADA PERANG! SALAM DUA JARI! SALAM PERDAMAIAN!

Serial Pendidikan dan Kehidupan di Jepang: Cara Guru Jepang Mengoptimalkan Papan Tulis dalam Proses Argumentasi di Kelas

Oleh Yanti Herlanti

Tulisan ini telah dimuat di Tabloid Aksara No 109 September 2016

Selama tiga tahun saya mendapat kesempatan bergabung dalam proyek pengembangan kurikulum pendidikan lingkungan bersama Indonesia Education Promoting Foundation (IEPF) Japan didukung oleh Japan Cooperation International Agency (JICA). Kali ini saya akan menggambarkan pemanfaatan papan tulis oleh guru di Jepang. Semoga bermanfaat bagi bapak dan ibu, terutama di Sekolah Dasar.

Media pembelajaran apa yang paling banyak digunakan oleh guru SD di kelas? Papan tulis! Ya, papan tulis merupakan media pembelajaran utama di kelas.

Papan tulis merupakan salah satu penemuan revolusioner dalam dunia. Dahulu papan tulis digunakan para pelajar Babilionia dan Sumeria kuno serta juga ditemukan di India berbentuk batu sabak. Abad ke-18 di Eropa batu sabak digantikan dengan papan, karena lebih murah dari kertas dan tinta. Walaupun terjadi perdebatan siapa yang punya ide papan tulis pertama, namun diketahui tahun 1801 James Pillans seorang kepala sekolah dan guru geografi dari Old High School in Edinburgh, Scotland pertama kali menggunakan papan tulis besar yang digantungkan di dinding yang kemudian secara massif pada tahun 1960-an digunakan sebagai standar yang harus ada di setiap kelas.

Bagaimana sebagaian besar guru di Indonesia memanfaatkan papan tulis?

Ada beberapa tindakan guru dalam memanfaatkan diantaranya adalah:

Tipe pertama, Guru menuliskan hari dan tanggal lalu menuliskan tujuan pembelajaran di papan tulis. Selanjutnya guru memanfaatkan media presentasi seperti LCD proyektor atau mengintruksikan siswa membuka buku/LKS dan sama-sama membaca dan mengerjakan LKS. Papan tulis pun bersih tak terlihat tulisan apapun.

Tipe kedua, Guru menuliskan atau meminta siswa menuliskan setiap kata dari materi dari buku atau ringkasan materi ataupun contoh soal yang sudah dibuat guru di papan tulis. Peserta didik diminta menulis kembali seperti yang tertera di papan tulis di buku tulis masing-masing. Setelah papan tulis penuh, guru menjelaskan maksud dari yang ditulis, kemudian setelah selesai menjelaskan dan tak ada pertanyaan, tulisan dihapus untuk diganti tulisan lanjutan. Seterusnya seperti itu. Walhasil papan tulis pun penuh dengan tulisan.

Tipe ketiga, Guru menuliskan tujuan pembelajaran di papan tulis. Lalu menjelaskan materi melalui berbagai media, dan setiap point penting dari penjelasannya dituliskan dipapan tulis. Walhasil kita akan melihat resume pada papan tulis berupa point-point penting pembelajaran hari itu.

Seperti halnya di Indonesia, pakar pendidikan di Jepang pun menyadari peran vital dari papan tulis. Lalu bagaimana guru di Jepang memanfaatkan papan tulis?

Di Jepang satu jam pelajaran setara 50 menit. Setiap guru mata pelajaran akan menyampaikan materi di kelas selama 50 menit yang meliputi pembukaan sampai penutupan. Apa saja yang disampaikan oleh guru selama 50 menit tersebut dapat dilihat di papan tulis. Papan tulis dimanfaatkan secara optimal sebagai media pembelajaran. Gambar 1 memperlihatkan sekitar pukul 13.50 guru menempelkan selembar kertas berisi sebuah pertanyaan di papan tulis. “Ada peristiwa apa di Hokaido setiap hari selasa ke-4 pada bulan oktober?” Beberapa siswa menjawab dan guru menuliskan jawaban siswa menggunakan kapur tulis. Selama kurang lebih lima menit, siswa diminta menebak jawaban pertanyaan tersebut.

Gambar 1.

Gambar 1. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menempelkan pertanyaan di papan tulis dan menuliskan jawaban dari siswanya [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University].

Gambar 2 memperlihatkan guru menggunakan kapur berwarna putih untuk menuliskan jawaban siswa. Penggunaan warna kapur merah digunakan untuk menandai kata-kata kunci yang mengarah pada jawaban. Guru menandai dengan kapur merah bahwa jawaban yang benar terkait dengan “rusa” dan “makan”. Anak menebak bahwa “Selasa ke-4 bulan Oktober sebagai hari dimana masyarakat Hokaido dilarang makan rusa!” namun jawabanya salah ternyata sebaliknya yaitu “Hari bebas makan daging rusa sepuasnya. Guru pun menuliskan dengan menggunakan kapur warna kuning sebagai jawaban yang tepat. Lalu guru menempelkan selembar kertas lagi bergambar kesukaan anak-anak terhadap daging rusa. Guru menggambarkan dari muka tersenyum sampai cemberut untuk meunjukkan kesukaan sampai ketidaksukaan terhadap daging rusa.

 

gambar 2

Gambar 2. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menuliskan jawaban para siswa, kapur berwarna digunakan untuk menandai kata-kata kunci yang mengarah pada jawaban dan jawaban terhadap jawaban [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University].  

            Gambar 3 menunjukkan guru menuliskan alasan peserta didik mengapa tidak suka dan suka terhadap daging rusa. Alasan bermacam-macam misalnya tak tega karena lucu, nanti rusanya habis, dan lainnya. Lalu guru membawa daging rusa yang dibelinya di Hokaido. Peserta didik diminta mencobanya, parameter kesukaan pun ditempelkan kembali untuk menjaring perubahan kesukaan setelah peserta didik mencicipi daging rusa. Tampak di papan tulis terjadi perubahan, peserta didik yang sangat menyukai daging rusa bertambah dari 7 menjadi 21.

 

gambar 3

Gambar 3. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menuliskan jumlah siswa yang menyukai sampai yang tidak menyukai daging rusa dan menuliskan alasan peserta didik mengapa menyukai dan tidak menyukai [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University].

 

Gambar 4 memperlihatkan guru menggali mengapa ada perubahan persepsi? Siswa mengemukakan alasannya, dan guru menuliskan alasan di papan tulis. Alasan peserta didik yang berubah dari tidak suka menjadi suka karena ternyata setelah dicicipi daging rusanya enak. Ada juga yang bertahan tidak menyukainya karena alasan rusa bisa habis padahal harusnya dilindungi. Lalu guru menempelkan grafik yang dibuat sendiri dari kertas karton. Grafik kerusakan lahan pertanian di Hokaido dari tahun ke tahun.

gambar 4

Gambar 4. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menuliskan alasan perubahan pendapat siswa dan menempelkan grafik kerusakan lahan pertanian di Hokaido [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University]

 

Gambar 5 menunjukkan guru menempelkan satu grafik lagi yaitu pertumbuhan rusa di Hokaido dari tahun ke tahun. Siswa memikirkan hubungan antara grafik kerusakan lahan pertanian dari tahun ke tahun dan pertumbuhan rusa pada tahun yang sama di Hokaido. Dari dua grafik ini guru meminta para siswa memikirkan alasan mengapa Hokaido masyarakat beramai-ramai memakan daging rusa tiap selasa keempat bulan Oktober.

gambar 5

Gambar 5. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menempelkan grafik kedua yaitu pertumbuhan rusa di Hokaido [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University]

 

Gambar 6 menunjukkan kegiatan inti berlangsung selama 40 menit. Kita bisa melihat rangkaian kegiatan selama 40 menit di papan tulis dari kanan ke kiri. Apa yang dibelajarkan guru dan bagaimana proses argumentasi yang terjadi di kelas terlihat di papan tulis.

gambar 6

Gambar 6. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menempelkan kesimpulan dan pada pukul 14.30 kegiatan inti pembelajaran berakhir. Seluruh pembelajaran yang dilakukan terlihat di papan tulis [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University]

 

Tidak hanya Guru Hasimoto, hampir semua guru di Toyama Jepang mempunyai pola yang sama. Sebuah topik pembelajaran yang diberikan guru selama satu jam pelajaran di kelas dapat dilihat pada papan tulis. Gambar 6 memperlihatkan selembar pertanyaan yang diberika guru dan proses argumentasi yang terjadi selama pembelajaran di kelas. Warna kuning yang ditempelkan adalah nama peserta didik yang memberikan pendapat. Garis panah menunjukkan kaitan antara pendapat siswa yang satu dengan yang lain.

diskus

Gambar 7. Papan Tulis di sebuah kelas SD Jinzu Midori Jepang memuat apa yang telah dibelajaran selama satu jam pembelajaran [Foto Dokumen Penulis].

Guru Jepang telah memanfaatkan papan tulis sebagai media pembelajaran secara optimal. Selepas pembelajaran papan tulis dapat dipotret, dijadikan sebagai bahan refleksi. Bagaimana Guru Indonesia? Mari kita mulai mengoptimalkan papan tulis sebagai media pembelajaran di kelas! #Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus! [YH].

Edutraveling Japan Sesion II

4-15 Oktober 2014, saya kembali berkesempatan mengunjungi kota Toyama dan Tokyo untuk keperluan pembuatan buku pendidikan lingkungan.  Pada kesempatan itu saya mengabadi beberapa hal yang unik dan khas di Jepang, Konon katanya “GAMBAR BANYAK BICARA daripada KATA” jadi silahkan menikmati hasil jepretan yang terarsipkan dalam instagram YANTI HERLANTI.  Melalui koleksi jepretan ini kita bisa melihat bagaimana manajemen kota di Tokyo/Toyama, hal yang sama dan beda antara Indonesia dan Jepang. SEMOGA BERMANFAAT.

Harajuku in the rain, i haven't seen the anime costplay

A post shared by Yanti Herlanti Tjahja (@yantiherlanti) on

40 Tahun lalu – Japan & Indonesia

Ketika saya berkunjung ke Jepang dan kagum dg pranata fisik yg sederhana namun bersih, selain pranata sosial dan moral, temen Jepang saya bilang “40 tahun yg lalu Jepang juga seperti Indonesia”  perkataan ini tentu saja perkataan semangat bahwa untuk buat Indonesia Bagus itu mungkin saja dilakukan, usaha dari sekarang dan komitmen serta semangat.  Jepang melakukan itu, dan sekarang tinhkat sanitary dan hiegenis orang jepang tinggi.  Konon 40 tahun yang lalu mereka pun jorok spt di Indonesia pada zaman kini.

Nah, anehnya saya malah mikirin Indonesia 40 tahun yg lalu.  Tahun 1970-an, bagaimana rupa kampung saya?
1)  40 tahun yg lalu: alan2 lebar karena orang2 membiarkan halaman tumah mereka tak berpagar, kalau pun di pagar mereka menggunakan tanaman perdu.  Kini: kampung saya termasuk kampung kumuh di kota Bandung.  Jalan sempit, gang hanya 1/2 meter saja, cuma cukup 1 motor. Rumah2 dibangun tinggi sampai batas jalan, bahkan genting2 mereka menutupi gang2 sempit itu, akibatnya kampung saya miskin paparan matahari.  Dan ketika saya pindah ke komplek yg taraf pendidikannya bagus…Patok kuning dipasang developer, selokan adalah milik umum bukan bagian kepunyaan mereka, selokan sebagai bahu jalan tapi apa yg terjadi tetangga2? Mereka bangun pagar sampai selokan, selokan pin ditutup rapat.  Jalan komplek yg sudah ditata rapi dan luas dengan sirkulasi selokan akhirnya menjadi sempit.  Pembersihan selokan yg mendangkal pun sulit dilakukan.  KUDETA MILIK UMUM menjadi sah ketika mereka merasa membeli fasilitas tsb (ck ck ck….).   Jadi, saya kok jadi mikir 40 tahun yg lalu sarana fisik kita sdh rapi dan bagus. 

2) 40 tahun yang lalu: pagi2 bahkan subuh2 ibu2 selalu membersihkan jalan umum, menyapu dari sampah bahkan “nyebor” jika udara panas.  Sehingga jalan umum tsb tetap bersih dan segar.   Kini:  merasa itu milik umum, jarang lagi tampak ibu2 memberaihkan jalanan.  Membiarkan petugas kebersihan membersihkannya. Dulu: Gak ada corat coret di tembok2, milik umum semua bersih dan tertata rapi.  Para pedagang kaki lima pun turut bersih2 di lokasi jualannya.  Kini: vandalisme dan abai terhadap kebersihan kota adalah pemandangan biasa. 
Jadi, 40 tahun yang lalu SETIAP INDIVIDU PUNYA SENSE OF BELONGING TERHADAP MILIK UMUM.

3) kenapa moral generasi sekarang payah? Padahal 40 tahun yg lalu kita punya kesadaran moral yg tinggi sbg warga negara? Dulu:  #kurikulum di Indonesia memuat pelajaran etika dan moral, walau dogma tapi setiap anak indonesia mengetahui mana yg baik, jelek, dan salah.  Kini: #kurikulum indonesia memandang pembelajaran moral cukup diintegrasikan seperlunya saja dan sekemampuan guru, paradignya NILAI UN TINGGI LEBIH UTAMA DARI PADA MORAL (JUJUR DAN RAJIN)”

4) satu lagi mata pelajaran yg dihapuskan dan berimbas pd kufe skill dan kemandirian.  Dulu : ada pelajaran PKK (HOME ECONOMICS) memberi bekal dan pengetahuan agar tdk konsumtif, apa yg bisa dibuat sendiri spt makanan atau pakaian “home made” lbh baik dibuat.  Maka kita lihat makanan jajan waktu itu gak banyak, ibu2 lebih banyak bikin pangganan di rumah.  Anak2 laki2 dan perempuan waktu itu bisa masak, nyetrika, dan jahit…. #kini: mata pelajaran PKK dihapus, anak2 tergantung pada pembantu.  Ngurus diri sendiri aja gak becus, apalagi jaga fasilitas umum.  Mereka gak pernah merasakan keringetan nyapu jalanan, maka seenaknya buat kotor dan buang sampah. 

So, saya harus berkata 40 TAHUN YANG LALU INDONESIA SUDAH SEPERTI JEPANG MASA KINI. NAMUN KINI, INDONESIA SEPERTI JEPANG PADA 40 TAHUN YANG LALU. #miris