O-sōji: Piket membersihkan sekolah di Jepang #SerialPendidikandanKehidupan diJepang

Selama tiga tahun saya mendapat kesempatan bergabung dalam proyek pengembangan kurikulum pendidikan lingkungan bersama Indonesia Education Promoting Foundation (IEPF) Japan didukung oleh Japan Cooperation International Agency (JICA). Kali ini saya akan menggambarkan bagaimana gelaran piket membersihkan sekolah di Sekolah Dasar Jepang. Semoga bermanfaat bagi bapak dan ibu, terutama di Sekolah Dasar.

Sampah! Jika kita lihat kelas di sekolah-sekolah Indonesia saat ini, maka selama proses belajar dan setelah proses belajar, sampah berserakkan di dalam kelas merupakan fenomena biasa. Tapi tenang saja, segerombolan petugas kebersihan sekolah akan serta merta datang setelah usai sekolah, dia akan membersihkan seluruh sekolah.

Dulu, jaman saya sekolah. Setiap hari ada tugas piket. Kita pergi ke sekolah selain membawa buku juga membawa kemoceng, sapu, taplak meja, pas bunga, dll. Sebelum pembelajaran di mulai anak-anak membersihkan kelas, dan setelah selesai belajar juga membersihkannya kembali. Jika ada anak yang tidak piket, kita catat, lalu lapor pada guru wali kelas, biasanya ini jadi salah satu tugas Ketua Murid (KM). Jumlah anak yang piket dibagi berdasarkan hari belajar setiap minggunya. Tapi itu dulu, ketika saya masih menggunakan kurikulum 1975 duduk di bangku SD dan SMP. Ketika SMA saya mulai masuk kurikulum 1984 seingat saya kegiatan kerja bakti hanya dilakukan sekali saja ketika kelas satu, lepas dari itu tidak pernah lagi piket bersih-bersih, semuanya dilakukan oleh petugas kebersihan sekolah. Sekolah pun mulai menggaji banyak petugas kebersihan.

Lalu apa pengaruhnya penghapusan piket kebersihan di sekolah? Pernah dengan keluhan orang tua pada anaknya seperti ini? “Lah! Apa? Kakak disuruh bersih-bersih sekolah? Itukan tugasnya petugas kebersihan, kakak ke sekolah untuk belajar bukan untuk bersih-bersih! Besok ibu akan protes sama sekolah!” Pada diri sebagian anak-anak sekarang kita lihat, bagaimana dengan seenaknya dia berjalan di lantai yang baru dipel oleh petugas kebersihan, dan sepatunya pun kotor. Ketika berada di tengah masyarakat, dengan seenaknya dia melempar sampah ke luar mobil, dan entengnya berkata “Nanti juga ada petugas yang membersihkannya” Ketiga kota tempat tinggalnya kotor, dia akan serta merta menyalahkan Dinas Kebersihan Kota, tak tergerak hatinya untuk turut membantu meringankan beban dinas kebersihan kota. Nah, berat sekali ternyata dampaknya ya?

Piket Membersihkan Sekolah di Jepang

Siapapun yang pernah ke Jepang, akan terkesan dengan kebersihan kotanya. Darimana budaya ini ditanamankan? Sudah banyak diketahui khalayak dan sering kali menjadi viral di media sosial terkait salah satu budaya sekolah Jepang yaitu membersihkan sekolahnya. Aktifitas ini di Jepang dinamakan o-sōji, dilakukan oleh semua sekolah negeri maupun swasta dari tingkat sekolah dasar sampai menengah atas.

Kegiatan ini dilakukan oleh peserta didik setiap hari setelah istirahat makan siang. Ditandai dengan bel, anak-anak bergegas membersihkan seluruh sekolah sesuai tugasnya masing-masing. Pada awal semester sekolah telah membagi anak-anak dalam kelompok-kelompok kebersihan. Satu kelompok kebersihan terdiri dari anak kelas rendah (I,II,III) sampai tinggi (IV, V, VI). Satu kelompok bertugas membersihan bagian tertentu, hampir setiap sudut sekolah ada anak-anak yang menjadi petugas kebersihan. Lantai aula atau lapangan indoor dibersihkan oleh kelompok anak, kaca kelas, ruang kelas, ruang perpustakaan, koridor, toilet, tangga, dan lainnya kecuali ruang guru dan kepala sekolah, semua sudut sekolah dibersihkan peserta didik.

Setelah selesai membersihkan sekolah, anak-anak kelas VI sebagai supervisor akan menanyakan pada setiap kelompok yang telah selesai membersihkan dengan pertanyaan: “Tadi sudah membersihkan apa saja? Apakah ada kesulitan dalam membersihkannya?”

Setelah selesai kegiatan o-sōji anak-anak membereskan kembali peralatan kebersihan. Termasuk peralatan kebersihan yang mereka bawa. Setiap anak di sekolah Jepang mempunyai lap yang mereka bawa dari rumah.

Kegiatan o-sōji dilakukan oleh anak-anak di seluruh Jepang setiap hari. Kegiatan ini merupakan program di sekolah-sekolah Jepang baik negeri maupun swasta dari mulai sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Pembiasaan inilah yang menjadikan Jepang sebagai negara bersih. Budaya membersihkan sekolah, bukan sekedar menumbuhkan rasa kepemilikan dan cinta terhadap sekolah, tetapi berdampak pada merasakan cape-nya melakukan tugas kebersihan. Akibatnya jika akan mengotori dan buang sampah sembarangan, maka akan pikir panjang. Kegiatan o-siji pun menumbuhkan rasa empati.

Membelajarkan kebersihan

Anak-anak Jepang tidak mengeluh dan senang hati melakukan o-sōji. Selama observasi kegiatan o-sōji di berbagai sekolah dasar di Jepang, baik sekolah di pegunungan seperti Jinzu Midori Propinsi Toyama maupun di sekolah perkotaan seperti Tokyo, tidak ada satu pun anak yang leha-leha tidak mengerjakan tugasnya. Semuanya bekerja membersihkan sekolah sesuai tugas mereka. Hal ini mereka lakukan karena sadar bersih berarti sehat.

Kebersihan pangkal kesehatan. Slogan ini marak ditempel diberbagai sekolah di Indonesia. Pertanyaannya adalah, “Apakah kita dan anak didik mengerti arti dan maknanya? Di Jepang anak-anak diberikan pengertian bahwa kuman dan hewan pembawa penyakit seperti nyamuk, lalat, kecoa, dan tikus sangat suka hidup di tempat yang kotor. Lalat akan hinggap ditempat yang berbau dan busuk. Kuman adalah mikroorganisme kecil akan menempel pada debu-debu. Jika tidak ingin terkena penyakit, maka bersih dari debu, bau, dan kotor. Bersih dari debu dan kotoran, tentu tidak mengundang hewan-hewan pembawa penyakit untuk datang. Jika sakit, maka banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar rumah sakit, dokter, dan obat. Selain itu sakit membuat badan merasa tidak nyaman, tidak semangat beraktifitas, dan tidak produktif. Sakit membuat diri menjadi sedih dan menyusahkan orang lain di rumah. Tidak ada orang bahagia karena sakit. Sakit pun dapat berakibat pada kematian. Pengetahuan inilah yang ditanamkan sehingga peserta didik paham mengapa ada slogan “Kebersihan pangkal kesehatan, kesehatan pangkal kesejahteraan dan kebahagian

Lalu siapa yang bertanggungjawab terhadap kebersihan? Di Jepang punya prinsip siapa yang mengotori dia yang membersihkan, siapa yang menggunakan dia wajib menjaganya, bahkan ada slogan sampahmu tanggung jawabmu. Jadi tugas kebersihan itu jadi tanggung jawab sendiri bukan tanggung jawab petugas kebersihan. Semua anak di sekolah menggunakan fasilitas sekolah, jadi kebersihan sekolah adalah tanggung jawab bersama.

Dari mulai masuk sekolah, mereka telah menjaga kebersihan sekolah. Tidak membiarkan debu mengotori sekolah, caranya anak-anak di sekolah Jepang mempunyai sepatu khusus selama di sekolah. Sepatu ini di simpan di sekolah, dan dipakai selama di kelas. Sepatunya terbuat dari karet, dan semua sepatu anak lelaki dan perempuan sama. Sepatu yang mereka pakai dari rumah, yang telah menginjak jalan berdebu akan di simpan di loker selama belajar di sekolah, mereka menggunakan kembali sepatu tersebut ketika pulang. Begitu pula para guru, mereka menggunakan dua sepatu. Sepatu khusus untuk di kelas yang tak berdebu dan tak dipakai di luar. Mengapa itu dilakukan? Selain menjaga kebersihan sekolah mereka dari debu yang berterbangan, debu yang dibawa dari luar atau jalanan mengandung kuman yang dapat membuat mereka sakit. Melepas sepatu luar dan mengganti dengan sepatu khusus selama di kelas dan sekolah adalah cara menjaga kebersihan dan kesehatan.

Bagaimana dengan sekolah di Indonesia? Apakah sekolah akan bertahan dengan memperbanyak petugas kebersihan yang digaji sekolah? atau memberdayakan kembali peserta didik untuk membersihkan sekolah dan menjaga kebersihannya? Mari kita pikirkan! #Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus#

 

Advertisements

Hari olah raga di Sekolah Dasar Jepang #Serial Pendidikan&KehidupandiJepang

Selama tiga tahun saya mendapat kesempatan bergabung dalam proyek pengembangan kurikulum pendidikan lingkungan bersama Indonesia Education Promoting Foundation (IEPF) Japan didukung oleh Japan Cooperation International Agency (JICA). Kali ini saya akan menggambarkan bagaimana gelaran hari olah raga(Sport Day) di Sekolah Dasar Jepang. Semoga bermanfaat bagi bapak dan ibu, terutama di Sekolah Dasar.

Standar sarana dan prasarana sekolah dasar di Jepang baik sekolah negeri maupun swasta sama semua. Setiap sekolah harus mempunyai lapangan olah raga outdoor yang cukup luas untuk bermain sepak bola dengan pinggirannya untuk lari. Dengan ukuran lapangan outdoor seperti itu maka selain bermain sepak bola dan lari, juga bisa digunakan untuk permainan base ball. Sekolah juga harus melengkapi dengan lapangan indoor dimana di ruang ini anak bisa bermain bulu tangkis untuk dua lapangan dan bola basket dan senam, ruang indoor ini sekaligus bisa difungsikan untuk hall konser kesenian. Selain itu setiap sekolah harus juga melengkapi dengan kolam renang.

 

Setiap tahun, semua sekolah di Jepang merayakan hari olah raga (Sport Day). Dengan fasilitas seperti di atas, kompetensi olah raga apa yang di selenggarakan di sekolah? Tentunya kita semua membayangkan bahwa pada hari olah raga setiap sekolah akan menyelenggarakan kompetensi bola basket, renang, futsal, base ball, dan olah raga keren lainnya bukan? Bayangan kita mungkin sama yaitu sekolah Jepang akan menyelenggarkan olah raga semodel O2SN (Olimpiade Olah raga Sains Nasional) yang biasa dilakukan di tingkat kecamatan.

Kami mengamati Hari Olah Raga yang diselenggarakan oleh Toyama University Affliated School (Sekolah Laboratorium Universitas Toyama) dan gelaran olah raga model seperti ini berlaku umum di sekolah Jepang lainnya.

Hari olah raga di sekolah, mirip acara kenaikan kelas. Para orang tua di undang untuk menyaksikan acara. Seperti sedang piknik, mereka menggelar tikar dengan tertib di pinggir lapangan yang telah disediakan sekolah. Setiap penonton dibagikan jadwal acara sport day. Upacara pembukaan digelar resmi, pemimpin upacara adalah kepala sekolah. peserta dan petugas upacara berbaris rapi. Tidak ada ‘event organizer khusus’ yang mengelola acara ini, semua komponen sekolah yang terlibat yaitu para guru dan siswa. Guru mengatur loba dan siswa sebagai pembawa acara secara bergantian. Kurang lebih 5 menit upacara di buka, bendera diserahkan petugas upacara pada pemimpin upacara. Pemimpin upacara (kepala sekolah) mengingatkan pada para siswa bahwa mereka telah berlatih keras, dan berhati-hati saat bertanding, agar tidak celaka, dan diakhiri dengan sumpah jujur sebelum kompetisi dimulai.

Inilah hebatnya. Jangan bayangkan olah raga yang digelar adalah olah raga basket, volley, anggar, senam, base ball, renang, atau futsal…walau sarana dan prasarana memadai. Tapi kompetisi yang digelar adalah olah raga jamaah atau olah raga rakyat.

Semua siswa satu sekolah dibagi ke dalam empat tim yaitu tim biru, putih, merah, dan kuning. Satu tim terdiri dari kelas 1-6. Salah seorang anak kelas enam ditunjuk sebagai pemimpin yang memegang bendera tim dan menyemangati teman-temannya yang bertandaing dalam setiap rangkaian olah raga. Olah raga yang dilombakan adalah: lari estafet 60 m untuk kelas 1-2, 80 m untuk kelas 3-4, dan lari 100 m untuk kelas 5-6, serta permainan tradisional dan modifikasi untuk kelas 1-4. Misalnya kelas 1-2 bermain memasukkan bola ke keranjang, lomba ketangkasan tradisonal, dan karena shinkazen saat itu baru melewati kota Toyama maka ada permainan kereta shinkazen menggunakan papan beroda. [Jadwal acara lihat gambar].

Sport day di Jepang. Satu tim terdiri dari kelas 1-6. Jenis lomba dibagi menjadi jenis lomba untuk kelas 1-2, 3-4, 5, dan 6. Skor dihitung sebagai kemenangan tim bukan kemenangan perorangan atau kelompok. Olahraga yang disajikan adalah olah raga umum tidak membutuhkan skill dan bakat khusus, sehingga tidak ada anak yang menjadi penonton, semuanya bermain, karena olah raga yang digelar bisa dimainkan oleh semua orang. Semua anak bisa mengikutinya dengan riang gembira. Hal yang dipentingkan dari gelar hari olah raga ini adalah semua anak bermain, semua anak bahagia, dan semua anak bisa merasakan kemenangan. Orang tua bangga pada anaknya masing, bahagia melihat anaknya bisa bersemangat bertanding untuk timnya. Rasa KOOPERATIF DAN KOLABORATIF atau istilah Indonesia GOTONG ROYONG DAN KEBERSAMAAN itulah yang dipupuk dalam hari olah raga di Jepang bukan kompetisi individualis. Hebat bukan gelaran olah raga yang digelar negara maju, justeru sangat merakyat, yang dipentingkan adalah gerak fisik agar sehat, kompak, kebersamaan, yang tua (kelas 5-6) menyemangati dan membimbing yang muda kelas 1-4, semua berperan aktif mengikuti lomba tidak ada yang jadi penonton. Selain kebersamaan, gotong royong, ada juga kepemimpinan, kemadirian, dan kompetisi. Hari olah raga dijadikan wadah membangun karakter bangsa Jepang di masa akan datang.

Berbeda sekali dengan kompetisi O2SN di Indonesia bukan? Atau dengan PORSENI (pekan olah raga dan seni) yang biasa digelar sekolah di tingkat SMP/SMA pasca Ujian Akhir Sekolah? Kedua gelaran olah raga di sekolah Indonesia lebih memupuk pada kompetisi individual, hanya orang yang punya skill dan bakat yang bisa mengikutinya, sementara anak lainnya menjadi penonton pasif. Mungkin sebaiknya kita mulai memikirkan ulang (re-thinking) bagaimana semangat GOTONG ROYONG DAN KEBERSAMAAN yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia ditumbuhkembangkan kembali, dan hal itu bisa dilakukan lewat kegiatan PORSENI sekolah. Menjadikan ajang PORSENI sebagai wadah membangun karakter GOTONG ROYONG, KEBERSAMAAN, dan KEPEMIMPINAN. Bukankah Indonesia kayak dengan permainan dan olah raga tradional yang bersifat gotong royong? Dan pastinya modifikasi permainan tradisional ini dapat dimainkan oleh semua anak. Mengapa itu tidak kita mulai memikirkan membangun karakter anak Indonesia masa depan? Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus![YH]

This slideshow requires JavaScript.

Sport Day bukan gelar olah raga penuh keterampilan bersifat kompetisi individual tetapi menggelar olah raga dalam permainan kebersamaan dan menyenangkan, semua anak bisa melakukannya semua anak berpeluang menjadi juara

Serial Pendidikan dan Kehidupan di Jepang: Cara Guru Jepang Mengoptimalkan Papan Tulis dalam Proses Argumentasi di Kelas

Oleh Yanti Herlanti

Tulisan ini telah dimuat di Tabloid Aksara No 109 September 2016

Selama tiga tahun saya mendapat kesempatan bergabung dalam proyek pengembangan kurikulum pendidikan lingkungan bersama Indonesia Education Promoting Foundation (IEPF) Japan didukung oleh Japan Cooperation International Agency (JICA). Kali ini saya akan menggambarkan pemanfaatan papan tulis oleh guru di Jepang. Semoga bermanfaat bagi bapak dan ibu, terutama di Sekolah Dasar.

Media pembelajaran apa yang paling banyak digunakan oleh guru SD di kelas? Papan tulis! Ya, papan tulis merupakan media pembelajaran utama di kelas.

Papan tulis merupakan salah satu penemuan revolusioner dalam dunia. Dahulu papan tulis digunakan para pelajar Babilionia dan Sumeria kuno serta juga ditemukan di India berbentuk batu sabak. Abad ke-18 di Eropa batu sabak digantikan dengan papan, karena lebih murah dari kertas dan tinta. Walaupun terjadi perdebatan siapa yang punya ide papan tulis pertama, namun diketahui tahun 1801 James Pillans seorang kepala sekolah dan guru geografi dari Old High School in Edinburgh, Scotland pertama kali menggunakan papan tulis besar yang digantungkan di dinding yang kemudian secara massif pada tahun 1960-an digunakan sebagai standar yang harus ada di setiap kelas.

Bagaimana sebagaian besar guru di Indonesia memanfaatkan papan tulis?

Ada beberapa tindakan guru dalam memanfaatkan diantaranya adalah:

Tipe pertama, Guru menuliskan hari dan tanggal lalu menuliskan tujuan pembelajaran di papan tulis. Selanjutnya guru memanfaatkan media presentasi seperti LCD proyektor atau mengintruksikan siswa membuka buku/LKS dan sama-sama membaca dan mengerjakan LKS. Papan tulis pun bersih tak terlihat tulisan apapun.

Tipe kedua, Guru menuliskan atau meminta siswa menuliskan setiap kata dari materi dari buku atau ringkasan materi ataupun contoh soal yang sudah dibuat guru di papan tulis. Peserta didik diminta menulis kembali seperti yang tertera di papan tulis di buku tulis masing-masing. Setelah papan tulis penuh, guru menjelaskan maksud dari yang ditulis, kemudian setelah selesai menjelaskan dan tak ada pertanyaan, tulisan dihapus untuk diganti tulisan lanjutan. Seterusnya seperti itu. Walhasil papan tulis pun penuh dengan tulisan.

Tipe ketiga, Guru menuliskan tujuan pembelajaran di papan tulis. Lalu menjelaskan materi melalui berbagai media, dan setiap point penting dari penjelasannya dituliskan dipapan tulis. Walhasil kita akan melihat resume pada papan tulis berupa point-point penting pembelajaran hari itu.

Seperti halnya di Indonesia, pakar pendidikan di Jepang pun menyadari peran vital dari papan tulis. Lalu bagaimana guru di Jepang memanfaatkan papan tulis?

Di Jepang satu jam pelajaran setara 50 menit. Setiap guru mata pelajaran akan menyampaikan materi di kelas selama 50 menit yang meliputi pembukaan sampai penutupan. Apa saja yang disampaikan oleh guru selama 50 menit tersebut dapat dilihat di papan tulis. Papan tulis dimanfaatkan secara optimal sebagai media pembelajaran. Gambar 1 memperlihatkan sekitar pukul 13.50 guru menempelkan selembar kertas berisi sebuah pertanyaan di papan tulis. “Ada peristiwa apa di Hokaido setiap hari selasa ke-4 pada bulan oktober?” Beberapa siswa menjawab dan guru menuliskan jawaban siswa menggunakan kapur tulis. Selama kurang lebih lima menit, siswa diminta menebak jawaban pertanyaan tersebut.

Gambar 1.

Gambar 1. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menempelkan pertanyaan di papan tulis dan menuliskan jawaban dari siswanya [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University].

Gambar 2 memperlihatkan guru menggunakan kapur berwarna putih untuk menuliskan jawaban siswa. Penggunaan warna kapur merah digunakan untuk menandai kata-kata kunci yang mengarah pada jawaban. Guru menandai dengan kapur merah bahwa jawaban yang benar terkait dengan “rusa” dan “makan”. Anak menebak bahwa “Selasa ke-4 bulan Oktober sebagai hari dimana masyarakat Hokaido dilarang makan rusa!” namun jawabanya salah ternyata sebaliknya yaitu “Hari bebas makan daging rusa sepuasnya. Guru pun menuliskan dengan menggunakan kapur warna kuning sebagai jawaban yang tepat. Lalu guru menempelkan selembar kertas lagi bergambar kesukaan anak-anak terhadap daging rusa. Guru menggambarkan dari muka tersenyum sampai cemberut untuk meunjukkan kesukaan sampai ketidaksukaan terhadap daging rusa.

 

gambar 2

Gambar 2. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menuliskan jawaban para siswa, kapur berwarna digunakan untuk menandai kata-kata kunci yang mengarah pada jawaban dan jawaban terhadap jawaban [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University].  

            Gambar 3 menunjukkan guru menuliskan alasan peserta didik mengapa tidak suka dan suka terhadap daging rusa. Alasan bermacam-macam misalnya tak tega karena lucu, nanti rusanya habis, dan lainnya. Lalu guru membawa daging rusa yang dibelinya di Hokaido. Peserta didik diminta mencobanya, parameter kesukaan pun ditempelkan kembali untuk menjaring perubahan kesukaan setelah peserta didik mencicipi daging rusa. Tampak di papan tulis terjadi perubahan, peserta didik yang sangat menyukai daging rusa bertambah dari 7 menjadi 21.

 

gambar 3

Gambar 3. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menuliskan jumlah siswa yang menyukai sampai yang tidak menyukai daging rusa dan menuliskan alasan peserta didik mengapa menyukai dan tidak menyukai [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University].

 

Gambar 4 memperlihatkan guru menggali mengapa ada perubahan persepsi? Siswa mengemukakan alasannya, dan guru menuliskan alasan di papan tulis. Alasan peserta didik yang berubah dari tidak suka menjadi suka karena ternyata setelah dicicipi daging rusanya enak. Ada juga yang bertahan tidak menyukainya karena alasan rusa bisa habis padahal harusnya dilindungi. Lalu guru menempelkan grafik yang dibuat sendiri dari kertas karton. Grafik kerusakan lahan pertanian di Hokaido dari tahun ke tahun.

gambar 4

Gambar 4. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menuliskan alasan perubahan pendapat siswa dan menempelkan grafik kerusakan lahan pertanian di Hokaido [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University]

 

Gambar 5 menunjukkan guru menempelkan satu grafik lagi yaitu pertumbuhan rusa di Hokaido dari tahun ke tahun. Siswa memikirkan hubungan antara grafik kerusakan lahan pertanian dari tahun ke tahun dan pertumbuhan rusa pada tahun yang sama di Hokaido. Dari dua grafik ini guru meminta para siswa memikirkan alasan mengapa Hokaido masyarakat beramai-ramai memakan daging rusa tiap selasa keempat bulan Oktober.

gambar 5

Gambar 5. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menempelkan grafik kedua yaitu pertumbuhan rusa di Hokaido [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University]

 

Gambar 6 menunjukkan kegiatan inti berlangsung selama 40 menit. Kita bisa melihat rangkaian kegiatan selama 40 menit di papan tulis dari kanan ke kiri. Apa yang dibelajarkan guru dan bagaimana proses argumentasi yang terjadi di kelas terlihat di papan tulis.

gambar 6

Gambar 6. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menempelkan kesimpulan dan pada pukul 14.30 kegiatan inti pembelajaran berakhir. Seluruh pembelajaran yang dilakukan terlihat di papan tulis [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University]

 

Tidak hanya Guru Hasimoto, hampir semua guru di Toyama Jepang mempunyai pola yang sama. Sebuah topik pembelajaran yang diberikan guru selama satu jam pelajaran di kelas dapat dilihat pada papan tulis. Gambar 6 memperlihatkan selembar pertanyaan yang diberika guru dan proses argumentasi yang terjadi selama pembelajaran di kelas. Warna kuning yang ditempelkan adalah nama peserta didik yang memberikan pendapat. Garis panah menunjukkan kaitan antara pendapat siswa yang satu dengan yang lain.

diskus

Gambar 7. Papan Tulis di sebuah kelas SD Jinzu Midori Jepang memuat apa yang telah dibelajaran selama satu jam pembelajaran [Foto Dokumen Penulis].

Guru Jepang telah memanfaatkan papan tulis sebagai media pembelajaran secara optimal. Selepas pembelajaran papan tulis dapat dipotret, dijadikan sebagai bahan refleksi. Bagaimana Guru Indonesia? Mari kita mulai mengoptimalkan papan tulis sebagai media pembelajaran di kelas! #Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus! [YH].