Move ON #fiksi #PandawaLima

Ini hanyalah sebuah kisah fiksi, jika ada kesamaan nama, sifat, tempat, atau prilaku, semuanya hanyalah kebetulan semata.  Jadi, jangan BAPER ya!

Bagian 1. Pandawa Lima

Jakarta, 1 Januari 2017

Usiaku akan mencapai kepala lima sekarang, setengah abad sudah aku mengarungi dunia ini.  Aku bergelut dalam politik relligi hampir 3/5 umurku. Sampai kini aku belum bisa move ON”

“Ayah! Cepat, mobilnya sudah panas, nih!” Seruan anak sulungku memaksaku beranjak meninggalkan buku catatanku.

“Yeah! Semuanya ready to go? Tak ada yang ketinggalan? Yuk, Bismillahitawakaltu a’llohu laahaulawalaakuata illa billah, bismillahimajrehawamursaha inna robbi lagofururohim.

“Yah, yang kita kunjungi itu temen lama ayah ya? Kok, dia tak pernah ke rumah kita, gak kayak temen ayah lainnya”

“Shahabat baik ayah, Ini lihat foto-foto jadul Ayah!”

“Hihihi ayah masih kurus-kurus, kok gak seperti ayah ya?”

Anak-anak tertidur, mobil melaju memberikan jalan bagi kenangan masa lalu, kini ia kembali terbentang di hadapan.

Angan terbawa pada masa silam, 1984.  Ini bukan SMA Negeri terbaik di Kota Bandung, tapi paling dekat dengan lokasi rumahku.  Semua anak bercelana kodok warna biru, kecuali satu murid yang bercelana panjang warna hijau pula.  Agak aneh bagiku.

“Hai! Namaku Abdi, kamu?”

“Saya teh Asep ti MTS Cianjur”

“em te es?”

Madrasah Tsanawiyah, Madrasah hartina sakola, Tsanawiyah kerena mah secondary hehehe.

“Oh, Madrasah, pantasan pake celana panjang”

Perkenalan pertama dengan Asep, Aseplah yang sering mengajakku sholat dzuhur bersama di sekolah.  Sholat yang sebelumnya jarang kulakukan.  Dan Asep pulalah yang mengajakku aktif dalam kegiatan rohis SMA.

“Sep, sebetulnya saya lebih suka ikutan Basket ketimbang ekskul Rohis”

“Agama itu lebih wajib kita dalami Abdi, Basket kita masih bisa mainkan sama-sama pada hari libur”

Siapa yang bisa menolak wajah lugu Si Asep.  Asep yang punya cita-cita sederhana, ingin membangun pertanian di daerahnya dimana pesantren Abahnya berdiri di sana.

“Aku ini Di, anak dusun, Abahku memilih menyekolahkan ku di Kota ini, masuk SMA yang kata beberapa kakakku sekolah sekuler dengan satu harapan, aku bisa masuk IPB, dan memajukan pertanian di pesantren.  Banyak masyarakat dan para santri bergantung pada hasil pertanian, tetapi kita belum bisa mengolah hasilnya menjadi lebih baik.  Abah ingin aku jadi sarjana pertanian”

Bagai anak bebek aku mengikuti apa yang Asep sarankan.  Lugu penuh karisma, mungkin karena dia anak Kyai, sehingga semua tutur dan sikapnya senantiasa terjaga. Dan inilah yang membuat aku tak kuasa menolak.

Ikhwan dan akhwat semua, saya perkenalkan pengisi materi kita pertama adalah Kang Irfan, Kang Irfan ini mahasiswa dari UNPAD jurusan Jurnalistik.  Pemateri kedua adalah Kang Daud, kang Daud ini mahasiswa Teknik Elektro dari ITB, silahkan akang-akang memberikan materi.

Pertemuan pertama, kedua, ketiga, bulan pertama, kedua, dan ketiga tak ada yang aneh dengan materi.  Ma’rifatullloh, ma’rifatul islam, ma’rifatul Rasulullah, ma’rifatul kitabullah…. Di sini pertama kalinya saya memahami makna Laa Ilaha Ilalloh, bukan sekedar tiada tuhan selain alloh seperti yang sering diucapkan, tetapi lebih jauh lagi yaitu melepaskan dari segala penghambaan pada siapapun dan apapun kecuali pada Alloh swt, apa yang menjadi perintah Alloh menjadi wajib untuk dilaksanakan apapun itu!

Bulan ke enam, teman-teman menjuluki kami Pandawa Lima, kami berlima, aku, Asep, Ferry, Danu, dan Hamdan.  Kami berlimalah yang paling rajin datang ke acara Rohis, ringan kaki dan tangan kami, selalu siap membantu.

Selain mengadakan kajian Islam, Akang-akan dari beberapa PTN di Bandung itu menyediakan layanan bimbel gratis, bahkan mereka mengundang kami belajar lebih jauh ditempat-tempat yang mereka janjikan selain aktifitas seminggu sekali, acara rohis sekolah.

Ferry si kutu buku yang bercita-cita menjadi Einsten jilid II.  Danu hapalan al qurannya banyak sekali, Imam andalan.  Dan Hamdan dikenal dengan suara mengajinya yang bagus sekali, dia pernah jadi juara lomba MTQ.

Bulan ke tujuh, mulailah Akang-akang becerita tentang keterpurukan dunia islam, dan tentang kebangkitan islam.  Pada saat itu dunia dikuasai oleh dua kekuatan yaitu Amerika serikat dengan demokrasi liberalnya dan Uni Soviet dengan sosialismenya. Kita Indonesia dengan pancasila, katanya Indonesia juga negara demokrasi, tapi demokrasinya pancasila, dan nama demokrasi pun tertutup dengan kebesaran nama pancasila.  Indonesia khas pancasila, begitulah guru dan buku Pendidikan Moral Pancasila mengajarkan kami semua.

“Kalian tahu, ini coba kalian perhatikan peta ini.  Ini adalah Jazirah Arab dimana Mekah dan Madinah ada di sini, dan ini ini adalah Persia, lalu ini ini adalah Rum atau Rumawi. Ar Rum ayatnya ada di Al Qur’an.  Perhatikanlah Persia sama dengan Amerika saat ini, lalu Rumawi sama dengan Uni Soviet saat ini, dan perhatikanlah…. posisi Indonesia persis sama dengan Jajirah Arab.  Pada Abad ke-7 kebangkitan islam itu munculnya di Mekah dan bangkit di Madinah, dari tempat ini islam kemudian menyebar ke seluruh bagian dunia hambir 2/3 dunia dan menaklukkan Persia kemudia Romawi,  Konstantinopel direbut Al Fatih beserta Mujahid Islam, lalu runtuhlah Romawi. Ini perhatikan! berdasarkan kesamaan posisi, Indonesia adalah the next land bagi kebangkitan Islam, jadi disinilah kita harus berjuang menegakkan Islam.  Laa ilaha illalloh, kalimat tauhid itu harus didirikan.

Suatu hari Asep menyampaikan sesuatu padaku “Abdi, kayaknya kita harus lebih berhati-hati ikut kajian di Rohis!”

“Ada apa? Bukankah yang mereka sampaikan itu Islam?”

“Iya, islam! tapi…..sudahlah suatu saat aku akan mengajakmu liburan di Cianjur, kita ngaji sama Abah ya!”

Bulan ke-11

“Di, Rohis ngadain Mabit.  Kita akan Mabit di Padalarang, Sabtu-Minggu!” Pesan dari Kang Irfan dan Kang Daud, Pandawa Lima kudu ikutan.

“Ikhwan dan Akwat sekalian, kalian adalah orang-orang terpilih, yang dipilih Alloh swt, umat terbaik.  Pernah kalian dengar tentang baiat?  Kita akan bahas tentang baiat itu.  Baiat itu adalah pernyataan janji dan setia pada islam.  Para shahabat dulu berbaiat pada Rasulullah saw, menyatakan “Laa ilaha illalloh muhammadu Rasulullah” bukan sembarang janji, tetapi juga pernyataan pengorbanan.  Kerelaan berjuang di jalan islam.   Bagi orang muslim cuma ada dua jalan HIDUP MULIA atau MATI SYAHID.  Dan kalian semua pernahkah berucap syahadat? Belum dikatakan berislam seseorang jika belum bersyahadat”

Ferry mengacungkan tangan, “Loh, setiap sholat kita mengucapkan shahadat!”

“Ikhwan dan Akhwat sekalian, rukun islam itu yang pertama syahadat, bukan shalat.  Jadi haruslah syahadat dulu baru sholat”

Danu juga menyanggah, “Kak pada ayat Al Araf 172 sudah dikatakan seperti ini:

 وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Terjemah :
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata- kan: Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).

Itu artinya kita sudah syahadat sejak dalam kandungan, kita sudah islam.

“Tidak bisa begitu, pada shahabat rasulullah saw juga bersyahadat ulang sama Nabi saw.  Jadi syhahadat itu harus dilakukan!”

Hamdan dengan bersemangat berkata, “Kita bersyahadat saja lagi kalau begitu sekarang, gampangkan kak, dan semua jadi saksinya!”

“Tidak bisa kita bersyahadat pada sembarang orang, yang mensyahadati kita haruslah orang yang sudh pernah bersyahadat pada Rasulullah saw”

Suasana mulai gaduh, semua berbisik mana ada orang seperti itu pada saat sekarang.  Jarak Rasulullah saw dengan kita hampir 14 Abad.

“Ikhwan dan Akhwat yang dimuliakan Alloh swt, jangan heran.  Syahadat tetap dilakukan dari jaman ke jaman, dari manusia pertama bersyahadat sama Nabi Muhammad SAW, ada orang yang tidak putus.  Pada orang itulah kita bersyahadat, kita berbaiat”

Asep dengan kalem akhirnya bertanya, “Maaf nih Kang Irfan, kalau menurut Kang Irfan, artinya status kita sekarang belum Islam karena belum bersyahadat?”

“Betul sekali Asep! Kalian tahu Abu Lahab? Dia percaya tuhan! Dia percaya Muhammad saw itu Nabi, dia percaya, artinya dia beriman.  Tapi dia tak pernah mau bersyahadat, maka dia bukan muslim dia bukan islam”

Aku sendiri saat itu tidak paham sama sekali, aku bukan Asep yang terbiasa mengkaji islam, Aku bukan Danu yang banyak hapal ayat al qur’an,  Aku hanya Aku seorang awam anak seorang anggota TNI AU yang hanya kenal islam sangat sedikit.

Menjelang tidur, Asep berkata padaku, “Abdi, aku yang mengajakmu ikut ekskul Rohis, aku juga yang akan meminta kamu untuk berhenti di ekskul ini.  Nanti kelas II kita berhenti di Rohis ini, jika islam yang kau tuju, maka kita cari pengajian lain saja jangan yang ini.

“Memang kenapa, Sep?”

“Syahadat ulang itu, ajaran yang aneh.  Abahku gak pernah mengajarkan aku tentang syahadat ulang”

Pandawa Lima pun bubar, Aku dan Asep memilih pindah pengajian di Salman ITB juga kajian subuh di beberapa mesjid kota Bandung.  Danu pun tak ikut kajian di Rohis lagi, Danu penghapal Qur’an ini tak terima dikatakan bukan muslim.  Hanya Hamdan yang masih setia mengurus rohis di SMA kami, aku tak tahu apakah Hamdan pada akhirnya berbaiat atau tidak.  Ferry, dia pun lebih memilih menekuni dunia Fisikanya.

“Ayah, sudah sampai mana kita?”

Baru masuk tol Jagorawi Nak!

22. Anak hebat jago sains dan bahasa? #Random

DSC_0076-2

“Saya mau jadi penulis novel! Saya mau pilih jurusan bahasa di SMA nanti”

Teg, tersentak ya! Orang tuanya jurusan sains dan matematika namun anaknya lebih tertarik pada jurusan bahasa. Saya coba telaah, memang nilai bahasa Inggris dan Bahasa Indonesianya lebih bagus dari mapel sains dan matematika. Secara otodidak dia belajar bahasa jepang lewat lagu-lagu anime dan nonton anime.  Saya pun pernah melihat beberapa karangan cerita dan puisinya, imajinasi dan gaya pengungkapannya NOT SO BAD untuk anak seumur itu.

Orang tua, kadang selalu berpikir anak hebat adalah anak-anak yang jago sains dan matematika. Tak heran jika kemudian latihan2 untuk jadi juara olimpiade matematika dan sains lebih diminati orang tua.

Bagi saya anak hebat itu adalah anak yang bisa mengukur bagaimana potensi dirinya dan menentukan mau jadi apa dia, serta bertanggung jawab terhadap pilihannya, Berjuang untuk cita-cita tersebut!
Orang tua hebat itu bukan menyuruh anak harus ini atau itu, tetapi bagaimana mengakomodasi potensi dan keinginan anak…… Mungkin bagi keumuman orang tua bahkan juga guru jadinya ANEH dan NYELENEH, karena kita selalu beranggapan anak pintar adalah jago matematika dan sains, tapi bagi orang tua hebat akan berpikir….TAK MUNGKIN DUNIA INI HANYA DIISI OLEH JAGO MATEMATIKA DAN SAINS SAJA…. diversity itulah salah satu keindahan yang diberikan Alloh swt bentuk MAHA ADIL dari sang pencipta.

16. #Random: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Dua hari ini RCTI memutar film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.  Novelnya sendiri karya Ulama besar Buya Hamka.  Sewaktu sekolah dasar saya mengenal Buya Hamka sebagai penceramah di TVRI tiap malam jum’at.  Karena satu-satunya tontonan ya saya sering mendengar beliau ceramah, saya paling suka kalau beliau cerita tentang kisah Nabi, itu yang terkenang tentang beliau ketika saya kecil.

Ketika Buya Hamka meninggal usia saya kurang lebih 10 tahun.  Saya baru tahu beliau ulama besar, karena berita TV dan koran waktu itu ramai sekali.  Ternyata Buya Hamka bukan hanya penceramah tetapi ulama besar.

Ketika saya SMP maka saya kenal Buya HAMKA justeru sebagai sastrawan.  Zaman saya SMP dan SMA saya pake kurikulum 1974, bahasa indonesia itu ada dua yaitu Belajar Bahasa dan Belajar Sastra.  Nah, kita akan buta sastra kalau tidak tahu judul novel yang dikarang para sastrawan dan tokoh2 di dalamnya.  Terkadang guru juga memberi tugas untuk meresensi buku sastrawan itu.

Mungkin teman2 saya ada yang meresensi tanpa membaca.  Walau saya juga tidak mengerti mereka dapat dari mana.  Tapi saya termasuk anak baik, ketika mendapat tugas itu saya meresensinya.  “Salah Asuhan” adalah novel pertama yang saya resensi ketika kelas 2 atau 3 SMP.  Bahasanya susah sekali, untuk menemukan alurnya saya harus berulang2 baca.  Ada kepuasan tersendiri ketika saya selesai resensi, dan ternyata dibeberapa buku teks sastra itu ada juga nama tokoh dan alur ceritanya, oh jadi rupanya temen2 saya dapat dari situ.  Tapi tak apalah…biarkan saja.  Saya merasa puas dengan membaca novelnya langsung.  Setelah membaca novel itu, maka menjadi kebiasaan untuk membaca aneka novel karya para punjangga sampai dengan SMA.

Tentang karya Buya Hamka ini.  Waktu jaman sekolah dulu kita hanya mencatat nama tokoh dan isi ceritanya.  Tapi dua hari ini saya melihat filmnya, dan berulang-ulang dikatakan “Ini untuk bangsa saya” maka kata-kata itu baru saya pahami sekarang.

Kenapa?  Menikah beda suku pada jaman itu (1930-1940 an) adalah suatu ketabuan.  Masing-masing suku merasa punya negara sendiri.  Lihat aja sebutannya, Tanah Minang, Tanah Jawa, dst.  Artinya wilayah2 itu merasa dirinya menjadi negara sendiri.  Tak usah heran karena jaman itu masih jaman2 belum merdeka, masih terparadigma hidup dalam kerajaan dengan rajanya masing-masing yang para rajanya mulai kendor kekuasaannya karena kekuasaan Belanda.

Dan ketika indonesia merdeka, tentu tidaklah mudah mengeratkan satu suku dengan suku lain yang memang terbiasa hidup dalam satu raja dengan raja lain.  Sehingga menganggap suku lain berasal dari tanah lain, bisa dikatakan waktu itu bahwa pernikahan antar suku sama dengan pernikahan antar negara.

Lalu relevansinya apa?  Sungguh luar biasa Buya HAMKA ini, sangat dalam apa yang dilakukan oleh Buya pada zamannya, melalui novelnya ini beliau melakukan NASIONALISASI.  Bahwa suku satu dengan suku lain adalah sama, sama-sama mulia dan seharusnya bisa bersatu.

Novel dikemas dalam kisah cinta tentu saja akan mudah diterima oleh masyarakat manapun.  Karena cinta bicara perasaan, sedangkan tabu bicara tentang adat atau agama.  Sesuatu yang “tabu” menjadi tersentuh ketika disadingkan dengan “cinta”.