O-sōji: Piket membersihkan sekolah di Jepang #SerialPendidikandanKehidupan diJepang

Selama tiga tahun saya mendapat kesempatan bergabung dalam proyek pengembangan kurikulum pendidikan lingkungan bersama Indonesia Education Promoting Foundation (IEPF) Japan didukung oleh Japan Cooperation International Agency (JICA). Kali ini saya akan menggambarkan bagaimana gelaran piket membersihkan sekolah di Sekolah Dasar Jepang. Semoga bermanfaat bagi bapak dan ibu, terutama di Sekolah Dasar.

Sampah! Jika kita lihat kelas di sekolah-sekolah Indonesia saat ini, maka selama proses belajar dan setelah proses belajar, sampah berserakkan di dalam kelas merupakan fenomena biasa. Tapi tenang saja, segerombolan petugas kebersihan sekolah akan serta merta datang setelah usai sekolah, dia akan membersihkan seluruh sekolah.

Dulu, jaman saya sekolah. Setiap hari ada tugas piket. Kita pergi ke sekolah selain membawa buku juga membawa kemoceng, sapu, taplak meja, pas bunga, dll. Sebelum pembelajaran di mulai anak-anak membersihkan kelas, dan setelah selesai belajar juga membersihkannya kembali. Jika ada anak yang tidak piket, kita catat, lalu lapor pada guru wali kelas, biasanya ini jadi salah satu tugas Ketua Murid (KM). Jumlah anak yang piket dibagi berdasarkan hari belajar setiap minggunya. Tapi itu dulu, ketika saya masih menggunakan kurikulum 1975 duduk di bangku SD dan SMP. Ketika SMA saya mulai masuk kurikulum 1984 seingat saya kegiatan kerja bakti hanya dilakukan sekali saja ketika kelas satu, lepas dari itu tidak pernah lagi piket bersih-bersih, semuanya dilakukan oleh petugas kebersihan sekolah. Sekolah pun mulai menggaji banyak petugas kebersihan.

Lalu apa pengaruhnya penghapusan piket kebersihan di sekolah? Pernah dengan keluhan orang tua pada anaknya seperti ini? “Lah! Apa? Kakak disuruh bersih-bersih sekolah? Itukan tugasnya petugas kebersihan, kakak ke sekolah untuk belajar bukan untuk bersih-bersih! Besok ibu akan protes sama sekolah!” Pada diri sebagian anak-anak sekarang kita lihat, bagaimana dengan seenaknya dia berjalan di lantai yang baru dipel oleh petugas kebersihan, dan sepatunya pun kotor. Ketika berada di tengah masyarakat, dengan seenaknya dia melempar sampah ke luar mobil, dan entengnya berkata “Nanti juga ada petugas yang membersihkannya” Ketiga kota tempat tinggalnya kotor, dia akan serta merta menyalahkan Dinas Kebersihan Kota, tak tergerak hatinya untuk turut membantu meringankan beban dinas kebersihan kota. Nah, berat sekali ternyata dampaknya ya?

Piket Membersihkan Sekolah di Jepang

Siapapun yang pernah ke Jepang, akan terkesan dengan kebersihan kotanya. Darimana budaya ini ditanamankan? Sudah banyak diketahui khalayak dan sering kali menjadi viral di media sosial terkait salah satu budaya sekolah Jepang yaitu membersihkan sekolahnya. Aktifitas ini di Jepang dinamakan o-sōji, dilakukan oleh semua sekolah negeri maupun swasta dari tingkat sekolah dasar sampai menengah atas.

Kegiatan ini dilakukan oleh peserta didik setiap hari setelah istirahat makan siang. Ditandai dengan bel, anak-anak bergegas membersihkan seluruh sekolah sesuai tugasnya masing-masing. Pada awal semester sekolah telah membagi anak-anak dalam kelompok-kelompok kebersihan. Satu kelompok kebersihan terdiri dari anak kelas rendah (I,II,III) sampai tinggi (IV, V, VI). Satu kelompok bertugas membersihan bagian tertentu, hampir setiap sudut sekolah ada anak-anak yang menjadi petugas kebersihan. Lantai aula atau lapangan indoor dibersihkan oleh kelompok anak, kaca kelas, ruang kelas, ruang perpustakaan, koridor, toilet, tangga, dan lainnya kecuali ruang guru dan kepala sekolah, semua sudut sekolah dibersihkan peserta didik.

Setelah selesai membersihkan sekolah, anak-anak kelas VI sebagai supervisor akan menanyakan pada setiap kelompok yang telah selesai membersihkan dengan pertanyaan: “Tadi sudah membersihkan apa saja? Apakah ada kesulitan dalam membersihkannya?”

Setelah selesai kegiatan o-sōji anak-anak membereskan kembali peralatan kebersihan. Termasuk peralatan kebersihan yang mereka bawa. Setiap anak di sekolah Jepang mempunyai lap yang mereka bawa dari rumah.

Kegiatan o-sōji dilakukan oleh anak-anak di seluruh Jepang setiap hari. Kegiatan ini merupakan program di sekolah-sekolah Jepang baik negeri maupun swasta dari mulai sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Pembiasaan inilah yang menjadikan Jepang sebagai negara bersih. Budaya membersihkan sekolah, bukan sekedar menumbuhkan rasa kepemilikan dan cinta terhadap sekolah, tetapi berdampak pada merasakan cape-nya melakukan tugas kebersihan. Akibatnya jika akan mengotori dan buang sampah sembarangan, maka akan pikir panjang. Kegiatan o-siji pun menumbuhkan rasa empati.

Membelajarkan kebersihan

Anak-anak Jepang tidak mengeluh dan senang hati melakukan o-sōji. Selama observasi kegiatan o-sōji di berbagai sekolah dasar di Jepang, baik sekolah di pegunungan seperti Jinzu Midori Propinsi Toyama maupun di sekolah perkotaan seperti Tokyo, tidak ada satu pun anak yang leha-leha tidak mengerjakan tugasnya. Semuanya bekerja membersihkan sekolah sesuai tugas mereka. Hal ini mereka lakukan karena sadar bersih berarti sehat.

Kebersihan pangkal kesehatan. Slogan ini marak ditempel diberbagai sekolah di Indonesia. Pertanyaannya adalah, “Apakah kita dan anak didik mengerti arti dan maknanya? Di Jepang anak-anak diberikan pengertian bahwa kuman dan hewan pembawa penyakit seperti nyamuk, lalat, kecoa, dan tikus sangat suka hidup di tempat yang kotor. Lalat akan hinggap ditempat yang berbau dan busuk. Kuman adalah mikroorganisme kecil akan menempel pada debu-debu. Jika tidak ingin terkena penyakit, maka bersih dari debu, bau, dan kotor. Bersih dari debu dan kotoran, tentu tidak mengundang hewan-hewan pembawa penyakit untuk datang. Jika sakit, maka banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar rumah sakit, dokter, dan obat. Selain itu sakit membuat badan merasa tidak nyaman, tidak semangat beraktifitas, dan tidak produktif. Sakit membuat diri menjadi sedih dan menyusahkan orang lain di rumah. Tidak ada orang bahagia karena sakit. Sakit pun dapat berakibat pada kematian. Pengetahuan inilah yang ditanamkan sehingga peserta didik paham mengapa ada slogan “Kebersihan pangkal kesehatan, kesehatan pangkal kesejahteraan dan kebahagian

Lalu siapa yang bertanggungjawab terhadap kebersihan? Di Jepang punya prinsip siapa yang mengotori dia yang membersihkan, siapa yang menggunakan dia wajib menjaganya, bahkan ada slogan sampahmu tanggung jawabmu. Jadi tugas kebersihan itu jadi tanggung jawab sendiri bukan tanggung jawab petugas kebersihan. Semua anak di sekolah menggunakan fasilitas sekolah, jadi kebersihan sekolah adalah tanggung jawab bersama.

Dari mulai masuk sekolah, mereka telah menjaga kebersihan sekolah. Tidak membiarkan debu mengotori sekolah, caranya anak-anak di sekolah Jepang mempunyai sepatu khusus selama di sekolah. Sepatu ini di simpan di sekolah, dan dipakai selama di kelas. Sepatunya terbuat dari karet, dan semua sepatu anak lelaki dan perempuan sama. Sepatu yang mereka pakai dari rumah, yang telah menginjak jalan berdebu akan di simpan di loker selama belajar di sekolah, mereka menggunakan kembali sepatu tersebut ketika pulang. Begitu pula para guru, mereka menggunakan dua sepatu. Sepatu khusus untuk di kelas yang tak berdebu dan tak dipakai di luar. Mengapa itu dilakukan? Selain menjaga kebersihan sekolah mereka dari debu yang berterbangan, debu yang dibawa dari luar atau jalanan mengandung kuman yang dapat membuat mereka sakit. Melepas sepatu luar dan mengganti dengan sepatu khusus selama di kelas dan sekolah adalah cara menjaga kebersihan dan kesehatan.

Bagaimana dengan sekolah di Indonesia? Apakah sekolah akan bertahan dengan memperbanyak petugas kebersihan yang digaji sekolah? atau memberdayakan kembali peserta didik untuk membersihkan sekolah dan menjaga kebersihannya? Mari kita pikirkan! #Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus#

 

Advertisements