Cukup Tahu! Be carefull!

Fenomena yang terjadi di indonesia saat ini sebetulnya bukan fenomena baru. Pada tahun 1950-1970 an kakek nenek kita pernah merasakan hal yang sama. Di wilayah tertentu seperti Garut misalnya pertarungan antara DII/TII dan pemerintah sah mengorbankan rakyat saat itu. Kalau tidak ada NAHDATUL ULAMA saat itu, saya tak yakin NKRI masih berdiri sampai saat ini. Fenomena terulang kembali saat ini, beberapa komponen partai, ormas, dan komunitas rindu penegakan syariah islam kembali menampakan diri ke permukaan. Sejak tahun 1970-an sampai 1998 mereka dorman, keran reformasi memberi celah untuk angun bahkan membesar, puncak kebangkitan itu adalah 212. Persatuan sebagian umat islam ini telah berhasil meluluh lantakan seorang Ahok, menyeretnya dalam penjara, dan membungkam kemenagannya. Keberhasilan ini tentu membawa angin segar untuk mengoalkan agenda-agenda lain atas nama umat islam di masa depan. Tulisan ini hanyalah sebuah opini saja. Terima kasih sudah sudi membacanya, walau kepanjangan bacaannya.

Efek dari 212 adalah lahirnya PERPU yang kemudian menjadi UU, selain penangkapan inovator 411 dan 212. UU ORMAS ini menjadi tongkat pemukul bagi HTI. Peran opini HTI dalam pilkada Jakarta memang nyata, dimulai dari demo 49 tolak pemimpin kafir di patung kuda (see arsip: https://m.youtube.com/watch?v=O5RC6TDfBCQ Hastag “Tolak pemimpin kafir'” menjadi opini andalan saat itu. Opini #TOLAKPEMIMPINKAFIR telah membuat Ahok pada 279 di kepulauan seribu berpidato “Bapak ibu tak usah khawatir, ini pemilihan kan dimajuin jadi kalau saya tidak terpilih pun..ini bapak ibu tak usah khawatir  nanti programnya bubar, tidak saya  berhentinya sampai oktober 2017, jadi kalau program ini dijalankan pun bapak ibu masih sempat panen sama saya.  Jadi saya ingin bapak ibu semangat, jangan nanti ganti gubernur programnya bubar. Enggak saya sampai Oktober 2017.  Jadi jangan percaya sama orang, bisa saja dalam hati kecil bapak ibu gak bisa pilih saya.  Iyakan dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macam-macam itu.  Itu hak Bapak Ibu, jadi kalau bapak ibu perasaan gak bisa pilih saya takut masuk neraka dibodohin gitu gak apa-apa tergantung pribadi bapak ibu, program ini jalan saja.  Jadi bapak ibu gak usah merasa gak enak dalam nuraninya gak bisa pilih Ahok, gak suka sama Ahok, programnya udah terima gak enak dong gue punya hutang budi, jangan nanti gak enak mati pelan-pelan kena stroke…..”. Pidato Ahok ini menjadi landasan opini berikutnya yaitu #TolakPenistaAgama, Aksi berjilid-jilid pun muncul 411 lalu 212 dg #Tolakpemimpinkafir #tolakPenistaAgama akibat dari masifnya opini umum di mayarakat tidak hanya perang ayat tetapi juga perang mayat serta persekusi. Perang pemikiran berwujud pada aksi dan hukum rimba di masyarakat, opini masyarakat pun terbelah, yang tidak setuju terancam di-bully lewat komentar medsos atau viral medsos atau di-persekusi. HTI sendiri sebetulnya tidak punya kepentingan pada pilkada DKI, karena HTI menolak sistem demokrasi. Sistem demokrasi yg diterapkan termasuk di Indonesia dikatagorikan HTI sebagai sistem kufur. Jika HTI menganggap sistem indonesia kufur, harusnya tak hirau jika pemimpinnya pun kafir, masa muslim mau pimpin sistem kufur? Tapi mengapa HTI di DKI mengambil peran dalam #tolakPemimpinKafir dan para anggota HTI pun GOLPUT dalam pilkada DKI? Memanfaatkan “syuur umat” menguatkan citra hizb. Walaupun aksi 411 dan 212 digerakkan oleh GNFMUI dan FUI, namun peran HTI all out, kadernya dikerahkan sehingga tampak bendera ar rayyah khas HTI mendominasi. Syuur umat islam yg bersatu menjadi target dalam aksi ini. After aksi kajian subuh dan tawaran halaqoh bagi peserta aksi 212 dilakukan untuk menjaga spirit perjuangan islam, after aksi 212 agenda selanjunya adalah “mengelola gerakan syuur menjadi gerakkan pemikiran”. Sangat disadari oleh para TIM THANK GERAKAN ISLAM bahwa 212 adalah gerakan perasaan/syuur semata, org berkumpul karena perasaan yang sama yaitu “tidak setuju terhadap AHOK”. Namun latar belakang org datang pun berbeda-beda yaitu ada yg murni menolak penistaan alquran, ada yg datang krn gubernur pilihannya yang kebetulan muslim ingin menang, dan ada juga agenda DKI BERSYARIAH titik tolak bagi NKRI BERSYARIAH termasuk khilafah. Walaupun umat islam bersatu, namun Ketidaksamaan pemikiran ini akan menjadi batu sandungan bagi agenda jangka panjang yaitu #PILKADA-PILPRES #NKRIBERSYARIAH dan #khilafah. Subuh berjamaah dan halaqoh atau liqo mingguan digunakan sebagai sarana untuk menyatukan pemikiran, selanjutnya reuni dan kumpul2 tetap dijaga untuk menjaga syuur umat, syuur persatuan. Apa yg diharapkan? Terbentuk opini umum. Opini umum apa yang ingin dimajukan 1) pemerintah sekarang adalah pemerintah dzalim atau kufur 2) perlu ganti sistem pemerintahan yg ada bisa diawali dengan mengganti pemimpin pemerintahan yg pro pada agenda mereka. 3) opini 1 dan 2 terus digoreng melalui halaqoh/liqo, opini media, dan opini saat kumpul2 reuni tujuannya untuk menggerakkan massa menuntut revolusi yaitu mengganti sistem pemerintahan, bisa jadi dg terlebih dulu mengganti presiden.

Tim thank 212 kader-kader komunitas, ormas, dan partai yg punya cita-cita menegakan syariah islam di indonesia. Penegakkan syariah islam melalui jalur kekuasaan, direbut melalui jalan umat. Dari bendera yg dibawa tampak bahwa barisan 212 adalah 1) PKS yg punya misi menegakkan syariat islam melalui jalur parlemen dan pilkada, menggunakan isu SARA untuk memenangkan setiap pilkada. Reuni 212 sangat bermanfaat untuk mendukung kemenangan calon yg diusungnya dalam pilkada bahkan mungkin pilpres. 2) FUI FPI punya misi menegakkan NKRI BERSYARIAH, rangkaian demo 411 212 berhasil melambungkan ketokohan HRS, rencana ini sebenarnya sudah lama digagas, sejak 2013 HRS telah dinobatkan sebagai presiden NKRI bersyariah. Flyer dan undangan demo juga reuni demo pada bagian bawah santiasa ada logo #NKRIBERSYARIAH. 3) HTI sebetulnya punya tujuan dan metode yg beda dengan PKS dan FUI dalam mewujudkan khilafah islamiyah, namun ada ‘moment bersatunya umat’ karena distimulus perasaan yang sama yaitu benci Ahok, baik benci karena mau jadi gubenur maupun benci karena menukil al maidah serta benci kafir. Moment ini tak dibiarkan berlalu namum dimanfaatkan untuk turut meraih simpati umat dan meneguhkan ketokohan HTI dikalangan umat.

Semua itu agenda politik berbalut agama? Ya! Jelas ada agenda meraih kekuasaan dalam agenda-agenda yg digulirkan, bukan sekedar agenda ibadah mahdoh. Agenda 212 dan reuni mengandung agenda politik kekuasaan dan ideologi dapat dibaca dari halaman ini: Al Kaffah, khotimah dari bulletin tersebut adalah

Alhasil, sudah seharusnya umat Islam, termasuk para “Alumni 212”, memiliki visi dan misi politik Islam yang jelas dan tegas. Dengan begitu mereka bukan sekadar rajin melakukan aksi “kerumunan massa”. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana mereka terus melakukan gerakan politik Islam. Targetnya tentu bukan sekadar agar kaum Muslim bisa meraih kekuasaan. Yang lebih penting adalah agar Islam benar-benar berkuasa hingga negeri ini sungguh-sungguh bisa diatur dengan syariah Islam secara kâffah dalam institusi Khilafah ‘alâ minhâj an-nubuwwah. Tentu tak ada artinya kaum Muslim berhasil duduk di tampuk kekuasaan, sementara syariah Islam tetap dicampakkan, dan yang diterapkan serta tetap berkuasa adalah sistem sekular seperti sekarang ini. (SUMBER BULLETIN DAKWAH KAFFAH 018: umat, persatuan, dan politik, 8 Desember 2017

Lalu bagaimana posisi kita?

Jika pakai analogi, maka tim thank 212 beserta kader2 dan simpatisan yg sudah di liqo atau halaqoh mingguan atau dibina lewat sekolah/madrasah/pesantren mereka adalah para penikmat kue. Umat islam dan warga indonesia yg dibina dg kurikulum nasionalis atau pengajian salawatan adalah KUE SEDAP. Pemerintahan RI adalah pembuat kue sedap sekaligus penikmat kue. Maka saat ini posisi kita yg tidak tergabung dlm halaqoh atau liqo atau komunitas pengajian yg mendukung agenda 212 laksana kue yg sedang diperebutkan.

Apa yg akan terjadi masa depan?

Diantara para penikmat kue siapa yg akan dapat bagian lebih besar? Kue sedap yg akan disantap ternyata bukan benda tapi kue hidup yg punya rasa dan pikiran, kue-kue itu tidak bisa disantap para penikmat begitu saja, kue2 itu justeru yg akan memilih siapa penyantapnya. Masa depan sangat tergantung pada kue sedap, akan pilih siapa? Namun tim thank212 dg basis liqo/halaqoh dan pembinaan melalui sekolah/madrasah/pesantren boleh jadi meningkat tidak sekedar penikmat namun jadi pembuat kue juga. Jika ini terjadi akan ada dua pembuat kue yang bertarung masing2 pembuat akan menikmati kue masing-masing, perang tidak lagi pake ayat atau mayat tetapi perang memperebutkan lahan baik lahan produksi maupun lahan untuk pemasaran. Jika tim thank 212 sudah mampu menjadi pembuat kue, tentu butuh rumah produksi dan toko untuk memasarkan bukan? Jadi perlu lahan. Sementara selama ini semua lahan milik pemerintah, maka pilihannya membeli, bagaimana jika pemerintah tak jual lahan? Akankah Merebut andai pemerintah tak sediakan lahanya?

#refleksi bagi kita

Selayaknya kita berkaca pada Suriah, Dasmaskus kota peradaban yang indah luluh lantak karena perang antara muslim dengan muslim memperebutkan LAHAN DAN KEKUASAAN. Indonesia akan seperti itu jika berdiam diri terhadap syahwat kekuasaan. Betul, mereka dasarnya memperjuangkan islam bahkan syariat islam, namun apakah Nabi Muhammad saw mengajarkan pada kita KHIANAT TERHADAP JANJI? Pada tahun 1945 perwakilan umat islam yang diwakili oleh Ulama dari NU, MUHAMMADIYAH, dan MASYUMI mencapai kesepakatan bersama menata negeri ini dengan PANCASILA dan UUD45. Jika masih percaya pada para ulama dan menghargai mereka, selayaknya kita menghormati hasil musyawarah 1945, jika kita berteriak-teriak bela ulama, maka seyogyanya kita sadari tahun 1945 para ulama indonesia berjuang dan berdebat sengit sampai memperoleh mufakat tidak pakai Piagam Jakarta sebagai dasar negara dan UUD45 pun melepaskan beberapa kata islam. Ulama saat itu lebih menutamakan “persatuan indonesia daripada ambisi politik islam”. Apakah kita rela menghianati perjuangan mereka para ulama terdahulu? Ingat KOMITMEN TERHADAP JANJI ADALAH AKHLAK SEORANG MUSLIM.

Wallohualambisawab