Logical Fallacy #Obrolanpagi1

Topik obrolan pagi ini dengan suami saya adalah Logical fallacy.  Obrolan berawal dari ‘curhat’ yang dicurhatin antara kita biasalah seputar kerjaan kantor dan tumbuh kembang anak-anak. Mostly sih suami curhat kerjaan kantor.

“Ini saya nugasin seseorang untuk mendaftar menjadi peserta lomba olimpiade guru, lalu dia berkata “Kenapa saya Pak? Kenapa tidak guru kelas 12 saja?” Saya katakan pada ibu tersebut, “Ini karena ibu merupakan guru terbaik yang kami pilih!”. Guru yang ditugaskan menjawab, “Berarti guru kelas 12 itu Jelek dong!

ちょうと。。。seketika pikiran saya mengaitkan dengan fenomena MEDIA SOSIAL terutama GROUP IKATAN ALUMNI yang isinya semua lulusan THE TOP 5 UNIVERSITY IN INDONESIA. Logika seperti itu sering diungkapkan mereka ketika diskusi apapun termasuk masalah politik.

Nah, menarik nih untuk menggali ‘behind the main‘. Kita diskusi dari kasus ini. Tentu saja sisi yang kita ambil adalah sisi logika matematika. Mari kita lihat logika berpikir guru tersebut:

  • Premis 1: Guru yang diutus menjadi peserta olimpiade adalah guru terbaik.
  • Premis 2: Guru kelas XI diutus menjadi peserta olimpiade.
  • Kesimpulan: Guru kelas XII adalah guru yang tidak baik.

Apakah logika guru ini dalam mengambil KESIMPULAN sudah tepat?

Seketika saya teringat logika itu mirip dengan fenomena masyarakat jelang pilpres ini, logika yang dibangunpun sama.

  • Premis 1: Pemimpin Indonesia haruslah orang yang mampu bekerja keras membangun Indonesia menjadi negara yang mandiri dan berdaulat.
  • Premis 2: Presiden Jokowi saat ini terbukti mampu bekerja keras menata Indonesia menjadi lebih baik.
  • Kesimpulan: Capres Prabowo tidak mampu bekerja keras membangun Indonesia.

Logika ini persis sama bukan?

Ini adalah sebuah LOGICAL FALLACY karena seseorang melihat dunia ini sekedar HITAM – PUTIH, dia tidak melihat bahwa diantaranya ada warna MEJIKUHIBUNIU atau warna pelangi. Logika rasional orang-orang ini terbelenggu pada ‘Right or Wrong’. Baginya hanya ada dua hal saja YES or Not. Dalam rasio berpikirnya tidak sampai bahwa fenomena jagat raya ini bisa dibuat ‘skala rating’ dari mulai tidak, kurang, sedang, baik, terbaik….dst. Bahkan dia tidak mampu melihat randomisasi sebuah fenomena. Rasionalisasi holistik berpikir orang seperti ini menjadi sangat lemah sekali.

LOGICAL FALLACY ini pun terjadi karena dia bersikap ‘BLAMING IDEALISM‘ bukan ‘REFLEKTIF FAKTUAL’, ketika mencermati fenomena dia cenderung melihatnya sebagai sesuatu yang idealis kemudian mencari apa atau siapa yang tertuduh, dia bukan orang yang mencermati fakta dan mengambil kesimpulan dari fakta tersebut. Maka jadilah kesimpulan-kesimpulan yang dia hasilkan berupa negasi-negasi seperti contoh di atas.

Bagaimana Kesimpulan jika seseorang melihatnya sebagai seorang yang Reflektif Faktual dan berpikir rasional holistik? Untuk kasus 1:

  • Premis 1: Guru yang diutus menjadi peserta olimpiade adalah guru terbaik.
  • Premis 2: Guru kelas XI diutus menjadi peserta olimpiade.
  • Kesimpulan: Guru kelas XI termasuk salah satu guru terbaik.[Kesimpulan yang dihasilkan bukan negasi dari kesimpulan ini. Bukan guru kelas lain tidak baik, guru kelas lain pun terbaik juga, guru kelas XI salah satunya].

Kesimpulan yang tepat akan melahirkan tindakan tertentu, maka tindakan guru yang logikanya Ok sebagai salah satu guru terbaik di sekolah ini saya berpartisipasi dalam Ikut Olimpiade Guru.  Dia akan ikhlas menjalankannya karena dia berpikir rasionalis holistis tanpa blaming idealis tapi reflektif faktual “oh iya memang saya layak dipilih untuk berpartisipasi dalam lomba”

Untuk kasus 2:

  • Premis 1: Pemimpin Indonesia haruslah orang yang mampu bekerja keras membangun Indonesia menjadi negara yang mandiri dan berdaulat.
  • Premis 2: Presiden Jokowi saat ini terbukti mampu bekerja keras menata Indonesia menjadi lebih baik.
  • Kesimpulan: Presiden Jokowi layak dipilih kembali menjadi pemimpin Indonesia. [kesimpulan yang dihasilkan bukanlah negasi dari kesimpulan ini. Bukan Prabowo tidak bisa bekerja keras, Prabowo pun layak dipilih dengan pertimbangan kerja keras yang sudah dilakukannya untuk Indonesia.]  

Kesimpulan yang tepat akan menghasilkan tindakan tertentu. Berdasarkan kasus 2 maka tindakan yang mungkin dilakukan seseorang adalah “Memilih kembali Pak Jokowi sebagai presiden berikutnya“. Dengan pemikiran yang rasionalis holistik bukan blaming idealis, keputusan ini akan diambil tanpa melakukan HATE SPEECH.

朝話すことが面白いです、でもふくざつなトピクですね。

Satu atau Dua?

Satu atau dua?  

Saya pilih tiga anak! Ehhh, ini bukan nego dengan calon suami dulu tentang berapa anak yang akan dilahirkan.  

Tapi pertanyaan itu tentang PILPRES 2014.

Nah, bagi saya sendiri (dibold sengaja untuk memberi titik tekan bahwa ini MAUNYA SAYA WAE) kedua CAPRES bukanlah yang ideal.  Yang ideal itu menurut keinginan saya:

  1. Si Capres mau menerapkan syariah islam secara kaffah. Karena saya selalu ingat buaian puisi Iqbal dan nostalgia cerita zaman2 1001 malam apalagi masa Cordoba “Masa yang paling indah adalah masa hidup dalam kejayaan Islam, dunia dikendalikan oleh peradaban islam
  2. Atau paling tidak sang calon presiden mau mengganti mata uang yang ada dengan DINAR dan DIRHAM, karena saya cape terus menerus ditekan dengan ketidakpastian nilai tukar rupiah terhadap dollar.  Dan saya pikir penerapan DINAR dan DIRHAM akan menjadi titik tolak Indonesia menuju negara mandiri lepas dari haegomoni AS, paling tidak secara ekonomi dulu lah.

Tapi apa daya MAUNYA SAYA itu tidak sesuai dengan maunya 63% penduduk dewasa di Indonesia (baca posting saya sebelumnya tentang Presiden Kita dan Kamu).  Mayoritas rakyat Indonesia masih nyaman dengan status DEMOKRASI.  Walaupun masih banyak yang tidak memahami apa makna dan konsekuensi demokrasi itu.   Menghina sekulerisme, pluralisme, dan multikulurisme….tetapi ingin disebut sebagai partai islam paling demokrat, ini ANEH.  Karena konsekuensi menyatakan diri setuju dengan demokrasi maka dengan otomatis harus menerima sekularisme, pluralisme, liberalisme, dan multikulturisme.

Ok, kita berbicara aja maunya mayoritas rakyat Indonesia!!  Maunya rakyat Indonesia pilpres diselenggarakan langsung.  Dan semakin terlihat sejak REFORMASI sistem negara kita makin demokrasi dan sangat ketara sekali makin menyamai AS.  Karena memang pemegang lisesnsi DEMOKRASI DUNIA saat ini adalah AS. Yah, mau dikatakan apalagi INI SUDAH MAUNYA MAYORITAS RAKYAT.  Kalaupun memilih, maka kita memilih bukan untuk dipertanggungjawabkan pada Alloh swt, karena Alloh swt menginginkan kita hidup di bawah keridhoannya dengan melaksanakan hukum2 bernegara seperti yang ada pada al qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah saw di Madinah.   Kita memilih itu demi rakyat saja, bukan demi ridho alloh swt. #IronisYA?

Lalu kembali pada milih capres 1 atau 2?  Ini agak sulit dijawab, bagi saya:

  1. Saya tak ragu dengan pribadi Prabowo, saya yakin beliau bisa mempimpin negeri ini.  Beliau juga tulus mempersembahkan harta dan jiwanya pada negara.  Beliau menjaga nama baik korps, dan ketika dikeluarkan dari ABRI tak pernah berkicau-kicau gak jelas.  Komitmennya jelas terhadap Bangsa Indonesia.  Saya tak ragu dengan kapaasitas kepemimpinannya. loyalitas untuk negara.  Namun, kerikil tajam di Prabowo adalah partai2 koalisinya.  Partai-partai koalisi terlibat dalam berbagai MAFIA PROYEK untuk memperkaya partai bukan untuk rakyat Indonesia.  Track record partai koalisi dalam etika berpolitik dan penerapan demokrasi sudah banyak dipaparkan media…tak perlu diulang2, kita pun sudah tahu bersama.  SAYA RAGU partai2 ini tulus mengusung Prabowo, kalau tulus pasti tidak akan minta deal2 politik.  Pastinya akan menerapkan koalisi tanpa syarat.  Walaupun dibalut dengan kata kerjasama antara partai atau berbagi porsi dll tetap saja itu bahasa halus partai2 koalisi minta jatah.  Simpati saya juga terkikis terus dengan berbagai propaganda yang disebarkan oleh timses No 1.  Dari mulai FB sampai BC BBM semuanya sama kampanye negatif kalau tidak black campaign.   Model kampanyenya sangat menakutkan…”Saya ditakut-takuti oleh kader2 yang merupakan bagian TIMSES capres no 1 dengan penguasaan SYIAH, JIL, KRISTEN. dan CHINA jika si no 2 yang terpilih”.    Terus terang gaya kampanye ini memuakkan.  Lalu saya jadi berpikir begini, “WADUH MENGERIKAN JIKA CAPRES NO 1 MENANG BERARTI AKAN ADA PERTUMPAHAN DARAH UNTUK PELARANGAN bahkan bumi hangsus terhadap SYIAH, JIL, KRISTEN, CHINA, DLL…..Kejadian SAMPANG, Parung, POSO, AMBON, bahkan JAKARTA 1999 dan bentrokan berdarah lainnya akan terjadi lagi”.  Oh, come on ini Indonesia dimana bhineka tunggal ika adalah bagian mutlak yang ada di negara kita selama bertahun2 sejak Indonesia berdiri.
  2. Saya ragu dengan Jokowi.  Jokowi bagus dalam tataran praktis.  Tetapi seorang presiden perlu langkah2 strategis juga.  Jokowi memang belajar banyak untuk mengasah kemampuan strategisnya, JK melengkapi kekurangan Jokowi.  Jokowi memang bukan presiden sempurna, tetapi Ia dibawah Tim Suksesnya ingin mengembalikan DEMOKRASI pada RULE-nya dengan melakukan REVOLUSI MENTAL.  Revolusi mental diawali dengan pembenahan sistem.  Jokowi dan TIMSES menawarkan DEMOKRASI SEJATI sebagai sebuah ideologi yang diperjuangkan.   16 Tahun reformasi, Indonesia berusaha menjadi negara DEMOKRASI, namun gagal memberikan dampak kesejahteraan pada rakyat, karena MENTAL KORUP dan MEMENTINGKAN PARTAI & KELOMPOKNYA,  Begitu menurut TIM CAPRES no 2, sehingga Demokrasi dan revolusi mental menjadi PROGRAM UNGGULAN CAPRES ini.  Memang ini janji dan retorika kampanye.  Namun, ini realistis dan pragmatis! Revolusi mental dimulai dengan memilih koalisi, sebuah koalisi tanpa syarat, koalisi tanpa syarat.

Jadi pilih 1 atau 2? Jika meletakkan diri sebagai seorang yang berideologi DEMOKRASI dan ingin menjaga negara Indonesia dalam suasana DEMOKRATIS yaitu memberi ruang kebhinekaan tanpa melihat perbedaan suku, aliran, ras, agama (SARA)….serta mempersembahkan satu suara untuk kepentingan rakyat, maka memililih no 2 adalah keputusan logis.

 

Namun….

Jika  suka dengan situasi sekarang.  Sekarang Presiden sukar begerak karena tuntutan partai koalisai, Presiden harus terus merasa malu, karena ulah para partai koalisi yang melakukan aksi mendulang materi demi berjalannya mesin partai.   Negara kita susah move on, karena partai2 koalisi menjadi bola kusut dalam rantai demokrasi.  Maka silahkan memilih no satu.

 

Pada suatu ketika, ketika no 2 sudah terpilih.  Ternyata kesejahteraan tidak tercapai-capai juga.  Maka mari kita rethinking, mungkin demokrasi ala AS yang diterapkan di Indonesia tidak cocok??? Rethinking pada sejarah nasional, sistema apa yang cocok dengan karakter masyarakat Indonesia.  Walau bagaimana pun masyarakat Indonesia beda dengan masyarakat AS.  Masyarakat AS FREE DOM dan LIBERALIS, namun masyarakat Indonesia terbiasa FEODALIS.

Jokowi-Kalla atau Prabowo-Hatta

Setelah pengumuman Capres-Cawapres bersyukur cuma ada 2 calon, krn kita gak usah ngabisin anggaran negara yg berasal dari pajak kita. Kabarnya reaksi positif juga ditunjukkan pasar, dollar menguat walau di posisi 11.5xx gak bisa masuk ke level 9.8xx lagi atau bahkan ke 7.xxx seperti jaman Habiebie. 

Dan saya agak berat harus memilih siapa? Awal pileg kemarin saya optimis dg Prabowo, namun seiring koalisi yg dibangun saya pesimis banget.  Pesimis karena koalisi yg dibangun pamrih, koalisi ini mirip dg koalisi indonesia bersatu SBY, bagi2 jabatan mentri dan bancakan proyek.  Setegas2nya Prabowo, saya gak yakin bisa mengatasi kehausan kekuasaan.  Paling tidak posisi strategis dan basah seperti pertanian, sosial, kehutanan, dan agama tampaknya akan diminta partai terdahulu.  Profesionalisme kementrian menjadi tanda tanya.  Jika jadi, maka kepemimpinan Prabowo-Hatta tidak akan membawa dampak perubahan yg berarti  “koalisi penuh pamrih menjadi sandungan kuat”.  Terus terang, saya kecewa.  Tapi juga sangat paham, pilihan ini rasional bagi Gerindra krn suaranya gak nyampai 20%. 

Jokowi-Kalla? Jokowi memang banyak kekurangan.  Namun, PDIP sedang membangun sistem “koalisi tanpa syarat”  Artinya beberapa jabatan strategis dan basah ditentukan secara profesional dan berdasarkan kepentingan.  Janji bahwa menteri gak gemuk kayak sekarang.  Pemilihan Kalla sebagai Wapres menjadi penyulam kekurangan Jokowi.  Gak sempurna sih, tapi saya pengen banget lihat perubahan yg dijanjikan dg sistem KOALISI TANPA SYARAT yg sedang mereka bangun.  Mereka menyebutnya sebagai  REVOLUSI MENTAL. 

So, let’s see next.