Bagaimana Praktek Pengenalan Lapangan Persekolah di Jepang? #edutraveling

9-17 September 2018 kami melakukan perjalan dalam rangka The Project for Establishing the Subject ‘Environment’ in Junior High Schools and Disseminating Environmental Education yang disponsori oleh JICA pathership dengan IEPF (Indonesian Education Promoting Foundation).  Apa yang saya paparkan di bawah ini adalah side effect dari kunjungan (Kata orang islam mah BERKAH BANGET ini mah).  Pada saat kami kunjungan ke sekolah pembelajaran yang dilakukan bertepatan dengan keberadaan mahasiswa on job training di sekolah tersebut. Berikut hal-hal yang bisa kita ambil, yang sangat bermanfaat bagi perbaikan matakuliah Pengenalan Praktek Lapangan Persekolahan di universitas kita.

Di Jepang, setiap lulusan perguruan tinggi dari jurusan manapun bisa menjadi guru dengan syarat mengikuti program lisensi guru selama satu tahun.  Universitas tertentu juga mempunyai fakultas keguruan yang bertujuan mencetak sarjana pendidikan.  Salah satu universitas tersebut adalah universitas Toyama.  Universitas Toyama mempunyai Fakultas Ilmu Pendidikan tempat mencetak calon guru nama fakultasnya Fakultas Human Development.

Tentang  mata kuliah on job training(Pengenalan Lapangan Persekolahan dalam kurikulum Indonesia) di Jepang:

Menurut penuturan Prof. Negishi Sensei:  Pada semester 5 dan 7 atau tahun ke-3 dan ke-4 mahasiswa melakukan on job training (disingkat OJT) selama 3 minggu dengan 10 kali penampilan di kelas.   Sebelum melakukan on job training mahasiswa mendapatkan pelatihan membuat RPP, cara mengajar, membuat media, dan evaluasi.  Para mahasiswa praktik mengajar di sekolah (OJT) juga mengikuti semua aktifitas yang ada di sekolah misalnya osouji (waktu bersih-bersih sekolah), makan bersama anak-anak, pokoknya kegiatan yang dilaksanakan di sekolah selama tiga minggu waktu OJT diikuti semua oleh mahasiswa keguruan ini.

Observasi OJT di Toyama Chougakko dan Shougakko

Pada tanggal 11-12 September 2018 saya berkesempatan melakukan observasi aktifitas mahasiswa on job trainingdi SD dan SMP Fuzoku sebuah sekolah afiliasi dengan universitas Toyama.  Di sekolah ini ada 70 mahasiswa OJT dari berbagai jurusan seperti PGSD, Sains SMP (Rika), IPS SMP (Sakai), bahasa, musik dan seni, dan lain sebagainya. Kami berkesempatan menyaksikan tampilan dari mahasiswa OTJ bidang studi rika dan sakai di SMP.  Kami menyaksikan tiga pembelajaran terkait sains dan satu pembelajaran terkait IPS.  Di Jepang satu jam pembelajaran berlangsung selama 50 menit.  Pengamatan kali ini juga berlangsung selama 50 menit.

1) Pengamatan pada pembelajaran sains: 

Pembelajaran dilakukan di laboratorium,  Siswa sudah duduk secara berkelompok di meja masing-masing, satu kelompok terdiri dari 4 orang dengan proporsi gender yang seimbang yaitu dua lelaki dan dua perempuan. Ada 9 kelompok siswa SMP di laboratorium (36 orang siswa).  Ada empat orang gakusai daigaku (mahasiswa OJT)), satu orang berperan sebagai guru model dan tiga orang berperan sebagai observer juga membantu secara teknis pada saat pembelajaran.  Guru sains hadir di kelas tersebut melakukan observasi jalannya OJT

Pada sesi ini mahasiswa OJT menjelaskan prosedur yang akan dilakukan di laboratorium, dan membimbing siswa melakukan praktikum.  Praktikum di kelas sains yang kami amati adalah:

  • Kelompok 1 mahasiswa OJT terdiri dari 4 orang: Praktikum memprediksi zat berdasarkan sifatnya. Mahasiswa OJT menyediakan empat bubuk yaitu gula, garam, tepung kentang, dan satu bubuk X [rahasia].  Keempat bubuk tersebut secara acak diberi huruf A, B, C, D.  Peserta didik memprediksi bubuk apa yang ada dalam A, B, C, dan D berdasarkan sifat-sifatnya ketika diberi empat perlakukan yaitu dipanasi, …..,……,…… (pas pengamatan itu kurang terperhatikan perlakuannya apa saja maaf).
  • Kelompok 2 Mahasiswa OJT terdiri dari 4 orang: Praktikum mengamati karakteristik organ manusia. Mahasiswa OJT membawa organ dari babi yang strukturnya mirip manusia.  Dengan cara demonstrasi mahasiswa memperlihatkan organ jantung dan paru-paru yang dipompa sampai mengelembung.  Selanjutnya organ lainnya seperti hati, ginjal, tenggorokan, jantung diberikan kepada setiap kelompok untuk melakukan pengamatan.
  • Kelompok 3 OJT terdiri dari 3 orang: Praktikum mengamati reaksi enzim gelatin pada buah kiwi.Buah kiwi dipisahkan menjadi tiga bagian: pusat, lingkaran tengah, dan lingkaran luar.

Gambar 1.  Pembelajaran sains oleh mahasiswa on job training satu mahasiswa berperan sebagai guru model.  Mahasiswa lainnya membantu teknis ketika pengajaran dilakukan. [Dokumentasi foto dari IEPF2018 Taken by Yanti Herlanti]

2) Pengamatan pembelajaran sakai (IPS):

Kelompok 1 OJT Sakai terdiri dari 4 orang: Topik yang dibahas adalah tentang hukum pidana.  Mahasiswa OJT mengambil topik popular untuk dibahas di kelas yaitu “Pro Kontra Terhadap Hukuman Mati bagi Kasus Terorisme di Jepang”. Kasus ini sedang menjadi pembahasan di Jepang,  sekelompok pelaku terorisme pada 13 tahun lalu, pengadilan memutuskan beberapa waktu lalu hukuman mati bagi para pelaku.  Mahasiswa OJT memberikan potongan berita korannya.  Selanjutnya menampilkan video beberapa narasumber yang pro maupun kontra terhadap hukuman mati.  Peserta didik juga diberikan resume tentang hukuman mati di Jepang oleh mahasiswa OJT.  Peserta didik secara individu selanjutnya diminta untuk menentukan posisi pro atau kontra beserta alasannya.  Alasannya harus didukung dengan sumber-sumber referensi yang ada.  Walhasil para siswa merujuk beberapa referensi selain rujukan para ahli yang tampil di video mereka pun membuka buku enslikopedia IPS yang membahas tentang hukuman mati tersebut.  Sebagai catatan buku enslikopedia ini dimiliki oleh para siswa sebagai buku referensi tambahan selain buku teks, maka saat mereka ada pelajaran IPS, buku enslikopedia ini selalu menemani.  Buku enslikopedia ini diperbaharui setiap lima tahun sekali. Pembelajaran selama 50 menit berakhir dengan menuangkan pendapat tiap individu, menurut pendapat mahasiswa OJT, mereka akan melanjukan dengan diskusi pada pertemuan selanjutnya.

Gambar 2.  Pembelajaran IPS oleh mahasiswa on job training dengan topik isu sosiosaintifik. [Dokumentasi foto dari IEPF2018 Taken by Yanti Herlanti]

 3) REFLEKSI dengan guru pamong

Setelah mahasiswa OJT melaksanakan pengajaran di kelas, guru pamong berdiskusi dengan mereka berempat.  Pada saat itu kami mengikuti sesi refleksi yang berlangsung dari jam 10.51 – 11.31 (kurang lebih 40 menit waktu yang diperlukan untuk refleksi).  Pada refleksi ini guru pamong mengawali dengan menanyakan perasaan guru model dan refleksi kekurangan saat mengajar tadi, selanjutnya menanyakan hal yang sama dari teman-teman yang mengobservasinya.  Guru pamong kemudian memaparkan catatan pengamatannya selama observasi guru model, dan juga menyampaikan tips-tips diantara tips itu adalah “Jangan jadi BAPER pada saat pembelajaran ditonton banyak orang, karena pada kondisi nyata itu akan terjadi setiap saat”  [Maklum para mahasiswa OJT cukup shock ketika mengajar diperhatikan kami, ini suatu yang alamiah tentu saja].

Image

Gambar 3.  Guru Pamong dan Mahasiswa On Job Training sedang melakukan refleksi [Foto IEPF2018 taken by Yanti Herlanti]

Beberapa pertanyaan

Beberapa pertanyaan kami sampaikan, karena hal ini tidak kita lihat saat observasi.  Misalnya bagaimana para mahasiswa OJT ini mempersiapkan lesson plan.  Jawabannya mereka sendiri yang mempersiapkan lesson plan –nya secara kelompok. Mereka berdiskusi dengan tuntutan silabus yang ada bagaimana merepresentasikannya, topik apa yang dipilih, bagaimana mengajarkannya dan lain-lain.  Mahasiswa OJT kemudian mengkonsultasikanlesson plandengan guru pamong.  Guru pamong memberikan masukan-masukan pada lesson planyang dibuat. Katanya satu lesson planbisa didiskusikan 3-5 kali dengan guru pamongnya.  Lalu bagaimana pembagian pengajaran?  Satu kelompok sebanyak empat orang tersebut berbagi peran pada saat pengajaran.  Mereka memilih secara bergiliran siapa yang akan menjadi guru model.  Saya membayangkan jika satu kelompok 10 kali tampil, maka satu orang akan tampil mengajar 2-3 saja.

Berdasarkan wawancara, penjelasan Prof. Negishi, dan observasi pelaksanaan OJT di Toyama Shougakko, maka dapat disimpulkan POLA yang diberlakukan oleh Universitas Toyama dalam matakuliah OJT (Indonesia PLP II) adalah “LESSON STUDY”.

  • PLAN: Sekelompok mahasiswa (4 orang satu kelompok) membuat satu RPP (lesson plan) bersama-sama.
  • DO : Sekelompok mahasiswa memilih satu orang yang akan tampil menjadi di depan kelas.  Sisa mahasiswa lainnya menjadi observer.
  • SEE: Mahasiswa lainnya sebagai observer berbekal lesson plan mengamati aktifitas peserta didik dan juga membantu secara teknis hal-hal yang diperlukan seperti bimbingan kelompok saat praktikum.  Guru pamong pun mengamati pengajaran dan pembelajaran yang dilakukan oleh mahasiswa OJT.
  • REFLEKSI: Pada akhir penampilan, guru pamong dan sekelompok mahasiswa OJT melakukan refleksi terhadap kegiatan pengajaran di kelas saat itu.

Inspirasi bagi Indonesia:

Semua Fakultas Pendidikan di Indonesia pada saat ini sedang melakukan reformasi kurikulum terutama pada matakuliah On Job Trainingatau di Indonesia dikenal dengan matakuliah Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP). Kementerian Pendidikan Tinggi Indonesia sudah memberikan panduan tentang PLP I dan PLP II bagi strata S1 (level 6). Namun secara teknis bagaimana membedakan dengan On Job Traning yang dilakukan pada Program Sertifikasi Profesi Guru (level 7).   PLP II bagi masiswa S1 (level 6) dibeberapa universitas, termasuk universitas saya masih sama dengan Praktek Mengajar mahasiswa program profesi (level 7) yaitu secara invidual mahasiswa mengajar di kelas sebanyak 10-12 kali pertemuan.  [Bandingkan dengan pengalaman saya di Jepang, setiap individu hanya mengajar 2-3 saja dengan pola lesson study.  Beban mahasiswa S1 Indonesia tentu menjadi lebih berat bukan? Padahal mereka belum masuk pada profesi guru].  Berdasarkan pengalaman ini, teknik PLP II di Indonesia dapat mengadopsi pola lesson studi di Jepang ini.  Namun untuk sampai pada pola di Jepang, kita punya pekerjaan rumah yang penting baik bagi perguruan tinggi maupun bagi dinas pendidikan setempat.

  • Perguruan tinggi harus memetakan guru-guru yang berkualitas dari sisi keterampilan pedagogi, personal, sosial, dan konten. Pemetaan para guru yang punya kemampuan professional dalam membimbing para mahasiswa PLP dengan sepenuh hati.
  • Sekolah dan Dinas Pendidikan Daerah harus mampu mempersiapkan guru-guru super dengan kemampuan mumpuni dalam pedagogi, personal, sosial, dan konten, serta mempunyai integritas tinggi membantu para juniornya melakukan akselerasi kemampuan mengajar.

Bogor, 21 September 2018