Agama, politik, dan negara: where are we?

Isu ini mengemuka akhir-akhir ini.  #PILKADADKI suka atau tidak suka, secara fakta menjadi pemicu bagi kegegaran agama (islam) dalam tatanan pemerintahan di Indonesia.  Bukan sebuah rahasia lagi pada #PILKADADKI muncul slogan-slogan PEMIMPIN MUSLIM UNTUK JAKARTA BERSYARIAH. #PilkadaDKI menjadi momen kebangkitan NKRI Bersyariah (tentang NKRI BERSYARIAH, telah ditulis sebelumnya). 

Penangkapan Ustadz Muhammad Al Khathath (Gatot Saptono) bukan sekedar karena inisiasi aksi #313 tapi karena memang bukti-bukti dunia maya, untuk ide #NKRIBERSYARIAH yg digulirkan sejak tahun 2012 tertuju pada al ustadz (silahkan Googling, informasi pada media2 resmi yg diterbitkan FUI atau FPI dan juga media2 islam).  Dan juga bukti2 lain  hanya polisi yang tahu.

Jika penangkapan atas kasus makar #212, tidak terkait ideologi, hanya terkait skenario ketidaksetujuan dg pejabat yang memerintah. Maka penangkapan makar #313 lebih ideologis, yaitu mengancam pancasila.

Yes, islam is ideology….

Kami aktifis rohis sewaktu di SMA atau perguruan tinggi, sangat hapal bahwa islam sebagai ideologi khas.  Islam memerlukan negara untuk merealisasikan hukum terkait pidana seperti zina, minum khamar, mencuri, dan membunuh.  Lalu kami juga sangat hapal bahwa dengan sebutan Pemerintahan Thogut atau Pemerintahan Kufar untuk pemerintahannya yg tidak dijalankan berdasarkan syariat islam, pun disematkan pada pemerintahan demokrasi pancasila  Dan kami juga sangat sadar bahwa ide-ide terkait islam ideologi dibawa oleh dua jaringan.  Pertama, jaringan transnasional atau partai internasional seperti Ikhwanul Muslimin (di Indonesia bernama PKS) dan Hizb Tahrir dengan pemimpinan utamanya berada di negara sekitar Arab.  Kedua, jaringan lokal semodel NII atau metamorfosisnya.  Kedua jaringan ini bergerak masuk dlm sistem menjadi partai dan diluar sistem menjadi ORMAS atau ada juga gerakan di bawah tanah.

Jaringan pertama marak sekitar tahun 80-an, seiring gegap gempita REVOLUSI IRAN.  Jika saya masuk SMA tahun 1987, maka sudah lebih dari 30 tahun untuk kelompok pertama melakukan kaderisasi.  Dan tentu saja lebih lama lagi untuk jaringan kelompok lokal, karena NII pun tumbuh dan ada seusia Indonesia berdiri.  Kini kedua jaringan tersebut menyatu dg agenda yang sama menjadikan Indonesia sebagai cikal bakal pendirian Negara Islam.  Jakarta dijadikan target utama, karena seperti kata DN AIDIT DALAM FILM G30S PKI “Jika ingin menguasai Indonesia, kuasai pulau Jawa, jika ingin kuasai Jawa maka kuasai Jakarta”.  Quote DN AIDIT ini ada benarnya, “Aksi 411 dan aksi 212 didatangi oleh muslim di wilayah yang tidak punya kepentingan dengan PILGUB DKI, ada peserta dari Palembang, Padang, Medan, Makasar, selain dari pulau Jawa.  Magnet Jakarta memang cukup besar.  Membludaknya dukungan terhadap aksi 212 dianggap sebagai sinyal positif kerinduan umat akan syariat islam tegak di Indonesia.  Momen sholat  berjama’ah atau peringatan hari besar digunakan untuk memelihara perlunya “umat islam  menjadi pemain dalam percaturan pemerintahan indonesia” “keharusan DKI dipimpin muslim yg bisa menjadi entry masuknya PERDA SYARIAH atau DKI BERSYARIAH” Dan sebetulnya dalam hal ini makna “pemain” bukan sekedar umat islam atau muslimnya, karena 95% yg mengisi birokrasi sekarang ini pun muslim, tapi maknanya IDEOLOGI ISLAM.

Is it logic?

Terus terang aja, saya mah agak bingung.  Apa memungkinkan tertunaikannya DKI BERSYARIAH jika gubernurnya muslim? Lihat saja JABAR gubernurnya Muslim, bahkan diusung oleh partai yg punya cita2 mendirikan negara islam.  Tapi apakah bisa menjadikan JAWABARAT BERSYARIAH? Apakah ada hukum ikhtilat, Liwath, Zina, Qishosh, dll di Jabar???  Begitu pun di Sumbar, adakah SUMBAR BERSYARIAT, pdhl wilayah ini terkenal dg adat bersanding syaro, syaro bersanding kitabulloh? Bisakah? Jadi? Think 2x. Jangan2 ini akal2an saja? Atau memang Jakarta jadi entry point, lalu wilayah lain nanti akan ikutan….seperti paham gerakan ikhwanul muslimin “dari individu, ke keluarga, ke daerah, daerah ke negara, negara2 bersatu jadi khilafah islamiyah…..”?

Pancasila dan NKRI yg ada saat ini disepakai oleh tokoh muslim dari NU, MUHAMMADIYAH, dan MASYUMI.  Dianggap sebagai jalan tengah untuk menakomodasi persatuan Indonesia dari Sabang sampai Meurauke.  Para ulama saat itu harus menahan ambisi mereka mendirikan SYARIAT ISLAM demi mashlahat seluruh rakyat Indonesia.  Apakah ini bentuk kekalahan? Atau bentuk perjuangan yg belum selesai?  Atau ini justeru bentuk kearifan dan kebijaksanaan?

So, where are we?

Kita muslim, tidak menolak islam dan al quran.  Namun perlu diingat Indonesia yg kita cintai ini adalah buah perjuangan para ulama sampai titik darah pemghabisan.   Pancasila sebagai bentuk kompromi dan perjuangan para ulama harus dihargai, kita hanyalah seorang mutabi atau pengikut ulama.   Jika ada ulama Timur Tengah yg menawarkan KHILAFAH atau NII untuk Indonesia, dan ada ulama Indonesia yg menawarkan hidup berdampingan dg pancasila, maka siapa yg kita pilih? Ulama Timur Tengah mengeluarkan ijtihad dg melihat fakta relevan di negaranya, pun begitu ulama Indonesia.  Khilafah dan NII boleh jadi cocok ditawarkan di negara Timur Tengah, tapi belum tentu cocok untuk negara Indonesia.  Sebagai mutabi, dalam pilihan politik lebih baik bila kita taat pada ulama Indonesia terutama para kyai NU, karena mereka mengikhsas fakta berdasarkan kondisi faktual Indonesia, dan tentu hasil ijtihadnya cocok untuk Indonesia.  MENOLAK #kompromi dan #jalanTengah sesungguhnya bentuk keegoisan, jika ada gerakan yg menolak kompromi dan mendahulukan kepentingan golongannya daripada kepentingan umat yang banyak patutlah kita pertanyakan, “APAKAH MEMNG ISLAM MENGAJARKAN HAL TERSEBUT?” 

Advertisements

Move on #fiksi #Asep

Bagian ke-2: ASEP

“Ayah! Ini ayah seringnya foto sama teman ayah ini ya?”

“Asep!”

Asep, bagi orang sunda ini nama pasaran.  Biasanya karena kelihatan “kasep [tampan]” maka dinamai Asep.  Asep, tampan? Wah, saya tak pernah perhatikan, apa ukuran ketampanan? Diminati banyak dara? Nah, waktu SMA sedikit sekali kaum hawa yang mau ngobrol dan dekat sama Asep.  Kenapa? Hemm orangnya seriuussss, diam, sedikit-sedikit mikir.  “Sep, nonton yuk!” “Nonton apa?” “Film…nih lagi trend..Lupus!”  “Oh … gak ah!”  “Nonton film haram ya Sep?” “Bukan, apa alasan aku harus nonton film itu?” “Ya, rame…cerita pendeknya itu kan seru-seru, kali-kali aja filmnya seru!” “Oh, ini film dari cerita di majalah HAI itu ya?” “Lah, aku setiap minggu nebeng baca ceritanya sama kamu. Ngapain harus nonton, lagian sayang uangnya!”  “Nih, aku traktir deh, Yuk rame-rame kita berangkat!”  “Gini aja, uang traktirannya buat aku beli makan siang, lalu sisanya tak tabung di kencleng mesjid bagaimana?”  Kalau sudah begitu saya tinggal tuh Asep.

Dan…. Besoknya ketika akan sholat Dzuhur dia akan ceramah.  “Abdi, tahu tidak kenapa aku menolak ajakan mu dan teman-teman ke bioskop kemarin? Hidup ini singkat, kita harus tabung banyak pahala buat bekel di akherat yang kekal, setiap waktu yang kita jalani harus kita pikirkan ini nanti nilainya minus, nol, atau plus.  Kamu tahukan surat Wal Ashr? Nah, manusia itu akan merugi kelak kalau gak memanfaatkan waktu buat menabung amal shaleh.

Kalau sudah begitu, mulut saya terkatup, cuma bisa angguk-angguk saja.  Inilah mengapa kaum hawa tidak banyak mendekatinya, takut diceramahi!

Sangat suka menceramahi hal kecil apa saja….tidaklah mengherankan.  Liburan semester saya menyempatkan tidur di kampungnya.  Perjalanan dari Bandung menggunakan ‘elf’ menuju perkampungnya kami harus jalan kaki kurang lebih lima kilo meter, melewati jalan setapak yang kiri dan kanan sawah serta kebun.  Kata Asep, ini jalan pintas, kalau melewati jalan desa lebih jauh dan memutar.

Sampai di suatu desa, semua orang menyapa Asep “liburan Sep?” “Sumuhun ambu!” “Mulih Sep?” “Sumuhun Aki!” kayaknya hampir se-desa itu menyapa Asep dan semua dijawab dengan “sumuhun” oleh Asep.  Ramah sekali.  “Sep, kamu kenal semua orang itu?” Dia menganggukkan kepala.

Masuk di sebuah komplek yang hanya dibatasi dengan bebatuan disusun setinggi 1/2 meter.  Ada dua rumah panggung besar dari bambu, lalu…ini sepertinya sebuah mesjid, karena ada beduk dan mihrab, namun sekilingnya hanyalah panggung bambu.  Berjajar juga rumah panggung dari bilik bambu ada sekitar empat rumah dengan ukuran sama, tampak tepas keempat bangunan itu cukup besar mampu menampung beberapa orang.  Bangunan permanen hanya terlihat empat kelas dengan berplang MTS Kertajadi.

Ini rumahku Di! Itu disana rumah abahku, Tiga rumah disamping itu rumah para guru yang mengajar di sini.  Itu bangunan itu, itu sekolahku dulu.  “Ayo, kita ketemu Abah dulu!”

“Assalamualaikum!”  “Waalaikum salam warohmatullahi wabarakatuh!” “Abah!” “Asep! Libur? Eh ieu?” “Ieu rerencangan Abah!” “Eh, eta gera…..Ambu….ieu Asep!”  Sebetulnya agak aneh, karena Asep diterima Abahnya laksana tamu saja, duduk…sepertinya ini ruang tamu karena digelar tikar bambu.  Di rumah panggungnya tidak ada barang apa2, pun hiasan hanya ada gambar kabah  satu saja.  Ruangan penuh  rak buku.  Dihitung kamarnya ada tiga.  Wanita yang dipanggil Ambu membawa makanan dan minuman, lalu bergabung dengan kami di ruang tamu itu.  Asep menceritakan semua yang dialaminya di sekolah.  Kemudian dia memberikan rapor pada Abahnya.  Abahnya sejenak ke kamar mengambil bulpen dan menandatangani rapornya, sambil berkata “Ku Abah dido’akeun cita-cita Asep jadi Insinyur Pertanian terkobul, bismillahirahmanirohiim!”  Selepas ngobrol dan bercerita serta menghabiskan sajian, Asep mengajakku istirahat.  Ku pikir ia akan mengajakku masuk salah satu kamar di situ, ternyata bukan.  Ia mengajak aku ke rumah besar.

“Sebagian besar santri lagi mudik Di, kecuali beberapa santri yang sudah tidak punya orang tua!”

“Sep…kita tidur di rumah besar itu?”

“Iya, aku bukan anak kecil lagi.  Sejak aku SMP atau aku baligh, Abah menyuruhku untuk tidur bersama para santri.  Rumah tempat Abah itu hanya untuk abah , ambu, dan anak-anak Abah yang belum baligh atau masih dalam hadonah.”

“Hadonah!”

“Iya, masih kecil, masih harus diasuh ibunya gitu!”

“Terus, di rumah ustadz2 itu?”

“Iya sama, anak mereka kalau sudah balik masuk rumah panjang ini, untuk belajar bersama santri”

Rumah besar dari panggung, isinya hanya tikar dan beberapa lemari berjejer yang menandakan kepemilikan.  Beberapa anak tampak membaca qur’an.

Assalamualaikum! Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.  Anak yang membaca quran berlarian menyalami kami.   Tiba-tiba anak-anak yang sedang melakukan aktifitas itu mengumpul membuat lingkaran dan menyediakan ruang bagi kami untuk duduk.  Asep kemudian mengajakku duduk dalam lingkaran itu.  Asep menceritakan pengalamannya selama di Kota Bandung.  Semua Asep ceritakan, dan anak-anak itu memperhatikan Asep. Sampai berkumandang Adzan Ashar, cerita Asep diakhiri.

“Mereka santri yang tidak punya tempat untuk pulang.  Mereka anak Yatim atau memang terlalu jauh pulangnnya sehingga orang tuanya tidak menjemput mereka.”

Ternyata jamaah sholat ashar cukup banyak, kebanyakan anak-anak usia SMP.

“Mereka itu santri kalong, mereka ikut kajian di pesantren Ashar sampai Magrib atau ada juga yang Magrib sampai Isya.  Umumnya mereka anak-anak di kampung sini.”  Seakan Asep tahu keherananku akan banyaknya jamaah shalat ashar.

Selepas sholat Ashar, Abahnya Asep sambil membuka kitab, dia membaca sebuah paragraf dari kitabnya lalu menceritakan isi kitab itu pada para santri.  Kegiatan dilanjutkan dengan   ustadz lainnya, ustadz mengajarkan cara ceramah, beberapa anak yang menjadi gilirannya hari ini maju menampilkan ceramahnya.

“Beginilah hari-hari disini Di.  Gak ada bioskop, mall, hanya ada sawah, sekolah, dan pesantren”

“Apakah anak-anak disini tidak bosan?”  “Hahahahaha……kita menjalaninya tiap hari, memang begini, ini hidup kita Di”

 

“Kalau Ayah sendiri lebih suka tinggal di Kota atau di Desa?”

“Dimana pun asal bersama kalian!”

“Ahhhhh! Ayah, jago rayu!”

 

 

 

 

 

HOT TOPICS #ahok #pancasila #kapitalis #komunis #khilafah

Udah lama gak nonton TV dan aneka beritanya, hanya denger lewat radio dan baca beranda FB yang di-share beberapa teman saja.  Tampaknya dari media yang saya ikuti, hal yang banyak di-share adalah:

#AHOK

Jelang PILKADA makin memanas, apapun kebijakan Ahok saat ini selalu dijadikan ISU dan digiring opini masyarakat kearah negatif.  Misalnya kebijakan pengurusan KTP tanpa melalui RT dan RW yang bertujuan memangkas jalur administrasi dan juga memangkas pungli dianggap sebagai jalan memuluskan imigran cina menjadi WNI.  Provokasi yang #KOPLAK dan #BODOH kalau menurut saya.  Karena lurah dan pegawai kelurahan sebagai PNS di-sumpah oleh negara untuk mentaati aturan negara.  Lalu muncul grup “GMJ – Gubernur Muslim untuk Jakarta” grup yang aktif mensosialisasi kandidat Muslim dan membuat kampanye negatif untuk rivalnya AHOK.  Lalu seruan remaja untuk tes HIV AIDS diklaim sebagai pelegalan sex bebas, dan ditudinglah AHOK YANG KRISTEN membolehkan SEX BEBAS, begitulah jika NON MUSLIM melegalkan sex bebas.  Kampanye anti “RAS dan AGAMA” tertentu mewarnai beranda facebook saya.

#PANCASILA

1 Juni adalah hari lahir pancasila.  Biasanya yang banyak diperingati dengan upacara kebesaran hari 1 oktober sebagai hari kesaktian pancasila.  Apakah Pancasila tidak begitu sakti lagi? Hemmm…. Mari kita diskusikan!

Kesaktian pancasila akan teruji, jika pancasila DILAHIRKAN sebagai sebuah ideologi negara.  Apakah pancasila sebagai sebuah ideologi?

Saya ingat ketika SMA guru PMP SMA saya menyuruh kita membandingkan dalam bentuk tabel antara Pancasila, Liberalisme/Kapitalisme, Komunisme/Sosialisme, dan Islam.

Liberalisme/Kapitalisme mempunyai ciri DEMOKRATIS, saya yang sekolah jaman Mbah Harto gak kebayang demokrasi itu seperti apa.  Tapi kita tahu dari Dunia Dalam Berita setiap pemilihan presiden AS ramai sekali.   Orang boleh milih presiden bukan sekedar partainya.  Jadi demokrasi bermakna adanya “KEBEBASAN MEMILIH”.  Menurut butir pancasila azas demokrasi itu merupakan azas sila yang ke-4 “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”

Komunisme/sosialisme mempunyai ciri “Satu untuk semua semua untu satu” atau adanya keadilan sosial, tidak ada jurang antara si kaya dan miskin, semua diperlakukan dan difasilitasi secara sama.  Menurut pancasila azas keadilan sosial pun ada dalam sila ke-5 yaitu “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Islam: hal yang menjadi ciri penting dari islam adalah “Semua aturan haruslah disandarkan pada Kitabullah yaitu al qur’an dan hadits” tidak boleh satu titik pun aturan yang dirujuk selain dari kekuatan dalil.  Kekuatan akan harus diupayakan untuk mampu berijtihad mengeluarkan produk hukum bagi kemashlahatan dan sumber rujukan untuk ijtihad Al Qur’an, Hadits, Ijma Shahabat, dan Qiyas.  “Ketakwaan sistem” yaitu mengikuti apa yang diperintahkan Alloh swt dan Menjauhi apa yang dilarangNya.  Namun, ternyata ciri ini pun ada dalam pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa”

Jadi, pancasila itu gabungan dari Liberalisme/Kapitalisme ditambah komunisme/sosialisme, dan islam?  Hemm saya bukan pakar untuk menjawabnya yang jelas mah pancasila sebagai sebuah IDEOLOGI mencoba memahami multi-ideologi yang ada dalam benak rakyat indonesia agar bisa hidup secara “kemanusiaan yang beradab” dan bersatu untuk tetap menjaga “Persatuan Indonesia”.   Jadi Pancasila?  Pancasila sebuah ideologi yang KHAS.  Ideologi GADO-GADO, citra rasa gado2 dengan aneka sayuran dan umbian disatukan dengan bumbu kacang….dehh nikmat kan?

Back to Pancasila.  Ok, kesepakan bersama semua rakyat Indonesia termasuk para pendiri saat itu tidak memilih GALUR MURNI dari syariat islam atau sosialisme atau kapitalisme untuk menjaga kepentingan Indonesia yang multikultur multiethnis multiagama.  LOGISKAH? mari kita pikirkan!

Indonesia mayoritas memang beragama muslim 80-90%, namun keberadaan non muslim misalnya kristen dibeberapa propinsi mayoritas.  Misalnya di NTT, Sulsel, Sumut, Papua mayoritas beragama kriten, juga di Bali ya mayoritas beragama Hindu.  Kalau syariat Islam yang diterapkan maka wilayah-wilayah tersebut sudah pasti akan memisahkan diri dari Indonesia.  “PERSATUAN INDONESIA AKAN RETAK???”  Saya pikir bapak2 pendiri Indonesia lebih mengutamakan Persatuan Indonesia dan melunturkan EGO agama mereka demi hidup dalam tatanan KESATUAN INDONESIA.

Back to #Ahok.  Dengan pemilihan ideologi pancasila sebagai ideologi negara indonesia, maka setiap ethnis, agama, dan ras punya kesempatan yang sama untuk dipilih dan memilih.  Termasuk Ahok yang Kristen dan keturunan Cina, karena dia WNI. Tidak ada salah dan tidak bersebrangan dengan pancasila.  Pun begitu warga jakarta punya kebebasan memilih siapa saja tanpa pandang agama dan ras, karena itu legal secara ideologi pancasila.

__

Bagaimana dengan yang muslim? Islam adalah agama sekaligus ideologi.  Islam punya tata aturan yang lengkap pun termasuk dalam memilih pemimpin.  Seorang pemimpin negara islam wajib dipilih dari kalangan muslim, baligh, mujtahid lebih utama, adil, …  Semua syarat ini ada karena dalam negara Islam, seorang pemimpin haruslah menjalankan syariat islam dalam kepemimpinannya.

Sayangnya Indonesia bukan berdasarkan Syariat Islam dan bukan negara Islam, Indonesia hanyalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak, sehingga syarat kepemimpinan sesuai syariat islam ini menjadi tidak ada dan tidak berlaku di Indonesia.  Bagaimana dengan mereka Muslim yang ingin melaksanakan syariat Islam dalam memilih pemimpin? Ya, wong….negaranya aja bukan negara islam, bukan negara berdasarkan syariat islam. Lalu sebagian mengatakan “Dari pada tidak sama sekali, ya minimal adalah dari kita yang muslim yang jadi pemimpin?” — Kalau motif-nya ini ini bukan motif dan dorongan agama bukan motif keridhaan alloh swt, ini motif INGIN BERKUASA dengan memanfaatkan perasaan KESAMAAN AGAMA.  Ini motif “EGOIS” motif “KEPENTINGAN KELOMPOK” bukan motif kepentingan BANGSA DAN NEGARA.

Lalu kalau dasarnya murni islam bukan sekedar NALURI BERKUASA atau PUNYA KEPENTINGAN KELOMPOK & EGO apa yang dilakukan?  Bagaimana pun gak mungkinlah memaksakan islam dalam negara pancasila.  Kalau tetap mau memaksakan islam lebih baik mendirikan dulu negara islamnya.  Dan bagi yang demikian punya cita2 “merelealisasikan syariat islam dalam kehidupan termasuk memilih pemimpin” maka mereka itu lebih baik menyatu dengan mereka yang meyerukan #Khilafah Islamiah, mereka akan berada di luar sistem pemerintahan sah, mereka akan terus melancarkan perang pemikiran [bukan perang fisik dan teror] dengan tujuan agar masyarakat mau dengan sukarela mengadopsi pemikiran mereka.  Ketika ada masyarakat mayoritas di suatu negara punya keinginan “MENGUBAH IDEOLOGI NEGARA-NYA” karena masyarakat sudah rindu dengan keindahan ideologi islam, maka IDEOLOGI INI DITAWARKAN UNTUK DITERAPKAN.  Walaupun tujuan dari dakwah KHILAFAH ini hendak menggeser pancasila dari Indonesia, Saya pikir itu jauh lebih baik, lebih elegan, lebih FAIR FIGHTING dibandingkan dengan mereka yang MASUK KE DALAM SISTEM PEMERINTAHAN PANCASILA, dan mereka punya tujuan MENGOBRAK-ABRIKNYA DARI DALAM.  Mereka yang seperti itu ibarat MUSUH DALAM SELIMUT, muka mereka bisa mendua-mentiga-mengempat….  bagi ideologi sebuah negara, PENYUSUP seperti ini jauh lebih berbahaya daripada mereka yang jelas-jelas berada di luar sistem.  PENYUSUP seperti ini mengacaukan sistem yang ada.

 

#KESIMPULAN

Kesimpulan pribadi saya sih……[terserah anda setuju apa tidak…….bukan untuk diperdebatkan]:

Anda muslim? Anda SELALU ingin dan SENATISA MENGHARUSKAN DIRI dipimpin oleh muslim? Maka pikirkan untuk bergabung dengan gerakkan dakwah yang menyerukan penerapan islam secara kafah, penerapan islam secara kafah hanya bisa terealisasi dengan menerapkan negara Islam/Khilafah Islamiah.  Dirikan dulu negara ISLAM-nya, barulah anda bisa melaksanakan syarat memilih dan dipilih sesuai syariat islam.

Ingatlah jika Anda MUSLIM INDONESIA yang tinggal di Eropa, Singapore, atau Jepang, anda pun merasa damai bukan?  Padahal negara2 itu dipimpin oleh Non Muslim dipimpin oleh ideologi NON ISLAM? Mengapa anda tidak menuntut negara tersebut untuk dipimpin oleh muslim juga? Ini tentu karena kita sadar bahwa negara tersebut menggunakan ideologi Non Islam? Dan Anda pun harus sadar bahwa Indonesia pun menggunakan ideologi NON ISLAM!

Lalu Anda muslim? Anda ingin hidup damai dimanapun anda berada? Maka anda harus berdamai dengan Ideologi Negara tersebut. Mulailah melihat sosok yang akan memimpin daerah dan negara dari sisi “KEINDONESIAN DAN KAPASITAS KEPEMIMPINAN” bukan lagi terkotak pada Muslim-Non Muslim.

#Just think and write, although you will think it’s nothing#

 

 

why menolak PKS, and why not?

Official count sudah resmi, tapi perang status dan dukungan serta twitter masih berlangsung.  Ternyata bulan2 ini sampai oktober rakyat dipaksa elit politik agar tdk bisa move on.

Kubu pemenang mulai move on, mengagas koalisi di legislatif dan susunan kabinet.  Dalam rangka itu ada hal menarik, Petisi menolak mengajak pks bergabung dengan jkw-jk.  Sampai saya lihat beberapa waktu lalu pendukungnya ada 4.500. Sedikit tentu saja dibanding pemilih loyal pks yang berjumlah 6 jutaan.

Hal yang membuat saya ingin komentari dari alasan penolakan itu adalah “pks mempunyai agenda terselubung yang membahayakan NKRI yaitu mendirikan daulah khilafah seperti hti”

0k, kita bahas ide daulah khilafah.  Daulah khilafah adalah sistem pemerintahan dalam islam yang meliputi beberapa negeri muslim yang bersatu sehingga wilayahnya luas dengan satu orang pemimpin.  Secara historis sistem ini pernah eksis dari sejak rasulullah saw wafat sampai khilafah Turki usmani dibubarkan 3 maret 1924.  Daulah khilafah dianggap sebagai media melaksanakan hukum islam secara kaffah dalam berbagai bidang kehidupan.  Artinya daulah khilafah adalah wadah menjalankan ideologi islam.

Sejak khilafah dibubarkan (tahun 1924) para ulama mendirikan kelompok dakwah, partai politik, dan gerakan untuk mengembalikan daulah khilafah islamiyah.  Salah duanya adalah Hizbut Tahrir (Hizb) dan Ikhwanul Muslimin.

Jika Hizb terang-terangan dalam perjuangannya, maka ikhwanul muslimin lebih memilih diam2 menyembunyikannya.  Kita akui, istilah khilafah dan daulah serta daulah khilafah islamiyah menjadi brandmarck perjuangan hizb diberbagai negara.  Dalam setiap permaslahan dan kasus yang terjadi Hizb mengopinikan UUD (ujung2nya daulah).

Pertanyaannya apakah hizb ini membahayakan NKRI? hizb adalah partai internasional yg metode gerakkannya adalah dakwah fikriyah, yaitu menyadarkan masyarakat untuk mau dihukumi dg hukum islam.  Dakwah fikriyah artinya menyebarkan pemikiran2 islam.  Jika kita berteman dengan aktifis dakwah hizb, kita bisa lihat status mereka kebanyakan ajakan mengubah paradigma misalnya tentang demokrasi sebagai sistem kufur dan islam punya ideologi sendiri yaitu dalam islam,  Alloh swt pembuat hukum dan uu atau dengan kata lain suara tuhan adalah suara rakyat bukan suara rakyat suara tuhan seperti demokrasi.  Gerakan makar sangat kecil sekali dilakukan hizb apa lagi di indonesia,  Level pemikiran masyarakat Indonesia jauh dari hingar bingar daulah khilafah, masyarakat indonesia tidak pernah merasakan hidup secara langsung dalam tatanan daulah khilafah.   Menghadirkan fakta-fakta itu dalam benak masyarakat indonesia sangatlah sulit, sehingga Indonesia dan juga negara2 eropa bukanlah wilayah yang dijadikan target untuk mendirikan daulah khilafah.  Hizb membidik negara2 arab yg secara historis, kultural, dan pemahaman lebih memungkinkan mendirikan daulah islamiyah.  Jadi hizb membahayakan NKRI? Ah tidak.  Lawan hizb bukan NKRi, lawan hizb sebagai partai internasional adalah internasional juga yaitu Amerika atau ideologi kapitalis yang sedang menghaegomoni  hampir 3/4 dunia pada saat ini.

Lalu bagaimana dg ikhwanul muslimin? Gerakan ini dlm bentuk partai ada di Mesir tapi dengan nama berbeda2 hanya masih satu komando gerakan dan berada diberbagai negara.  Contohnya Hamas di Palestina, PAS di malaysia, dan PKS di Indonesia.  Walaupun punya tujuan sama seperti hti tapi jalan dan metode yang digunakannya berbeda.  Banyak buku yang dikeluarkan oleh pendiri ikhwanul muslimin yg menjelaskan bagaiman metode mereka.  Hasil tulisan saya ini adalah hasil baca dari sejak sma dan pengalaman juga, walau saya tak lama2 ikut gerakkan ini hanya sebentar saja sekitar tahun  1991-1992.  Untuk mencapai daulah islamiyah ikhwanul muslimin memulainya dengan pembinaan individu.  Pada tahap ini setiap individu dibina pengetahuannya dengan liqo/kajian rutin setiap minggu, dicek apakah tiap hari baca qur’an, sholat malam, dan menhapal al qur’an.  Selanjutnya adalah tahapan usroh, atau keluarga.  Pada tahap ini, individu yg sdh matang walaupun berumur muda akan dijodohkan untuk cepat menikah, menikah muda memberikan kesempatan untuk punya anak banyak.  Tahap selanjutnya adalah ke bi’ah atau lingkungan, untuk level lingkungan masyakat maka kita bisa lihat  biasanya mereka membooking satu komplek perumahan sehingga keberadaan mereka di kompleks tsb mayoritas dan memudahkan mengajak simpatisan baru,  mendirikan sekolah islam terpadu untuk menciptakan bi’ah level sekolah, juga menarik simpatisan baru. Lalu selanjutnya tahap negara,  Tahapan ini harus dipastikan bahwa mereka cukup kuat, mereka pun menunjukkan diri dengan nama sebuah partai yang ikut dalam pemilu di setiap negara.  Dengan mengikuti pemilu maka ada kesempatan menjadi kepala daerah dan presiden.  Target awal kepala daerah.  Contoh kasus jika 33 propinsi kepala daerah dipegang, maka akan mudah memuluskan penerapan hukum islam dan juga menggiring masyarakat sesuai opini partai.  Untuk target ini, bisa dilihat pada pilpres kemarin daerah yang kepala daerahnya dari pks mayoritas memenangkan capres no 1, sesuai instruksi amir mereka.  Target selanjutnya tentu saja kepala negara atau presiden.  Di beberapa negara untuk target ini sudah berhasil seperti Mursi di mesir dan Anwar Ibrahim di Malaysia, namun kekuasaannya tak bertahan lama.  Jika banyak negara dipegang oleh mereka, maka negara2 itu nanti dilebur dan disatukan dalam daulah islamiyah.   Membahyakan NKRI? Untuk wilayahnya mungkin tidak. 33 propinsi akan dijaga kesatuannya walau dalam bentuk NII bukan demokrasi pancasila lagi.  Namun membahayakan PERSATUAN INDONESIA, jawbannya Bisa jadi.  Karena mereka tidak memaafkan perbedaan.

Tidak memaafkan perbedaan? Ya, bisa dibaca berbagai kampanye negatif yang dilancarkan selama pilpres dan pileg.  Kita juga bisa baca dari buku2 yg mereka terbitkan.  Misalnya di buku jamiatul islamiyah, dijelaskan bahwa gerakan islam itu harusnya satu.  Oleh karena itu dalam buku itu black campaign dilancarkan pada HIzbut Tahrir, Jamaah Tablig dan gerakan dari timur tengah lainnya.   Untuk konteks Indonesia, sering sekali ulama NU mereka cari2 kesalahannya dan melabelinya dengan sesat, alih2 bekerjasama malahan harus dijauhkan.  Para kader di PKS sangat dilarang mengikuti kajian2 di luar liqo dan ceramah dari ustadz2 mereka, termasuk kajian dari para ulama salaf.  Belum lagi kebencian mereka yg membabi buta terhadap kaum Nasrani (kristen), yahudi, dan agama lainnya.   Kebencian terhadap muslim yang nasionalis pun sering mengemuka….mereka menyebut para muslim ini sebagai Toge (plesetan dari Thougut).

Oh ya upaya kudeta sistemis tidak jarang dilakukan oleh mereka, untuk menduduki kekuasaan.   Bagi aktifis rohis kampus yang punya paham bersebrangan tentu saja pernah merasakan bagaimana kudeta sistemis ini dilakukan, dan membuat mati kutu lawan pemahaman.

Sikap tidak mentolelir perbedaan  dan cara2 kasar dalam meraih kekuasaan, ini memang menakutkan bagi kita.  Konflik horizontal yang akan terjadi membahayakan keberagaman di Indonesia.

PKS di Indonesia lebih banyak berdakwah dengan memperlihatkan akhlak para kadernya, namun miskin dengan dakwah fikriyah – goal apa yg sebenarnya ingin mereka capai banyak yg disembunyikan dan ditampik, walau juga gak bisa menampik karena para ulama ikhwanul muslimin dengan jelas mengarang buku2 yg bisa kita baca.  Apakah mereka menggunakan kekuatanterstruktur untuk meraih kekuasaan di suatu negara? Ya, ada upaya terstruktur untuk meraih kekuasaan di suatu negara.  Untuk peraihan kekuasaan ini, modus yang dilakukan hampir mirip dengan Gerakan DI/TIi dan memang ketua majelis syuro PkS merupakan putra tokoh DI/TII KARTOSUWIYO yaitu Danu Muhammad Hasan.

Jika melihat pengalaman Mursi di Mesir, maka sungguh mengerikan jika terjadi di Indonesia bukan? Konflik horizontal menjadi potensi yg tidak terelakkan, lalu siapa yg akan dikorbankan? Tentu saja rakyat indonesia sendiri, rakyat kecil yang berharap hidup adil dan sejahtera serta aman.

Sebagai muslim, kita yakini bahwa Islam rahmatan lil alamin.  Isi al qur’an harus diimplementasikan, dan harus diperjuangkan untuk diimplementasikan.  Tapi berdasarkan fakta dan pengalaman, kita tentu saja harus memilih metode yang paling baik.  Yaitu metode yang tidak dilakukan dengan black campaign, metode yang tidak akan menimbulkan konflik horizontal, metode yang lebih banyak menumbuhkan kesadaran dari rakyatnya bukan metode yang memaksakan kehendak, serta metode yang menhargai keberagaman secara adil.  Metode yang dibangun oleh para Wali termasuk wali songo di Indonesia, sehingga menjadikan hampir 90%  rakyat indonesia ridho dengan Islam.

Jika islam rahmatan lil alamin, maka tentu saja islam bisa dirasakan rahmatnya tidak hanya oleh muslim tetapi oleh semua penduduk bumi tanpa membedakan ras, agama, suku, dan paham politik.

 

 

Refleksi Pilpres 2014

KPU belum secara resmi mengumuman perolehan suara. Namun, transparansi yang dibuat KPU membuat kita semua bisa menghitung REAL COUNT. Untuk hal ini kita harus angkat topi pada KPU.

Berdasarkan transparansi data KPU itulah, berbagai komponen masyarakat bisa mengawal PEMILU2014, dari sekedar menghitung menggunakan excell sampai membuat website sendiri seperti Kawal Pemilu. atau REKAPDA1.

Selama pemilu, rasanya PILPRES kali ini yang paling istimewa, karena masyarakat turut mengawal, ada people power disitu. Lalu kenapa people power turut bergerak? #jokowiEfect kah? Jawabannya sih harus dianalisis, dan saya gak kompeten menganalisisnya secara makro.

Hanya saja, saya bisa merefleksi pada diri saya sendiri….
Selain PILKADA BOGOR 2014 yang menghantarkan Bima Arya menjadi walikota, maka PILPRES 2014 ini juga yang membuat saya men-tweet, nge-blog, dan membuat status yang menunjukkan ke PRO-an pada salah satu pihak. Lalu kenapa saya berbalik PRO-Jokowi??

Gini ceritanya!
Waktu PILEG, saya gak tahu milih siapa. Saya cuma nyoblos partai dan berharap GERINDRA bisa mengusung PRABOWO jadi presiden. Namun, harapan itu ternyata tak kesampaian. Walaupun berada di posisi ketiga, namun Partai Gerindra tidak mendapat 20% suara, hanya belasan saja, ini agak sulit bagi GERINDRA kecuali berkoalisi.

PDIP dan Jokowi bukanlah calon favorit saya. PDIP, kami tinggal di kota Bandung, dan kader PDIP selalu identik dengan kerusuhan, sehingga keluarga kami tidak pernah bersimpati terhadap partai ini. Walaupun mertua saya, sangat militan dengan partai ini, tapi saya sendiri tidak pernah tertarik untuk memilih partai ini. Jokowi pun bagi saya saat itu tak diperhitungkan.

Saya menunggu aksi GERINDRA selanjutnya! Posisi PDIP aman sekali, 18% ditangan, tinggal menggaet satu atau dua partai sudah bisa mencalonkan presiden secara independent. Namun bagi GERINDRA ini jadi perjuangan, entah deal-deal apa yang terjadi yang jelas pada akhirnya koalisi GERINDRA menjadi koalisi gemuk dengan bergabung berbagai partai yang reputasinya selama tahun 2009-2014 SANGAT MENGKHAWATIRKAN, Gerinda TERPAKSA menggandeng partai hitam yaitu:

PKS – yang tak pernah mengindahkan etika politik, hanya mencari keuntungan untuk kelompok dan partainya, dan terakhir terbelit kasus sapi. Ketua partai – lambang tertinggi kekuasaan di partai justeru terlilit SAPI.

Golkar versi ARB dengan kasus lumpur lapindo – dengan seenaknya menyerahkan kasus ini untuk ditanggung pemerintah, opini publik dibuat …dari lumpur lapindo menjadi lumpur Sidoarjo yang memperlihatkan perubahan tanggung jawab dari lapindo ke pemerintah. ARB – adalah ketua partai yang juga terlilit secara etika dengan lapindo.

Terakhir PPP yang tegabung pun dirundung masalah – pimpinannya terkait sangkaan korupsi dana haji.

Partai Demokrat sendiri tidak perlu banyak cerita. Ketua partainya sedang menjalani serangkaian sidang kasus korupsi.

Hanya PAN yang cukup elegan, sehingga wajar juga kalau akhirnya PAN – “Hatta Rajasa” dipilih sebagai cawapres, karena dibandingkan partai lainnya partai ini relatif lebih bersih.

Dengan peta seperti ini, membuat saya berpikir ulang untuk memilih Prabowo-Hatta. Waktu itu kalkulasi saya adalah “Jika saya memilih Prabowo-Hatta berarti saya memberi jalan bagi berkuasanya kembali mapia-mapia pertanian, sosial, dan IT di pemerintahan. Depatemen agama tempat saya bernaung, tidak akan melakukan reformasi yang berarti untuk perbaikan kinerja birokrasinya. Ngeri sekali, jika kursi kabinet yang seharusnya diisi oleh orang2 profesional ternyata hanya dibagi-bagi untuk kepentingan mereka sendiri. Sebagaimana kita ketahui beberapa partai seperti PKS atau PPP tak punya pendanaan kuat, mereka mengandalkan iuaran kader partai. Hal ini beda dengan beberapa partai yang punya back up finansial seperti Gerindra dan Golkar. Maka bagi partai kecil seperti itu, kabinet adalah mesin uang partai.

Saya mulai mencari2 apa yang ditawarkan oleh Jokowi. Point Jokowi bagi saya naik, ketika memilih JK. Point ini naik kembali manakala PDIP menunjukkan kesungguhan untuk merealisasikan koalisi demi rakyat. Yah, paling tidak ini jadi angin segar, walaupun tidak tahu akan diwujudkan atau tidak setelah terpilih.

Lalu point pada Prabowo bagi saya terus melorot, ketika kader PKS begitu membabi buta melakukan serangan2 black campaign dengan membawa-bawa agama ISLAM, mengajak ulama dan ustadz untuk condong pada rekan koalisinya, tanpa mengindahkan PERSATUAN INDOENSIA. Secara masif dan terstruktur melalui media sosial dan lewat cyber army, PKS menyebarkan black campaign berbau SARA. BLACK CAMPAIGN BERBAU SYARA INI APALAGI DIEMBEL-EMBELI DENGAN JIHAD, MEMBUAT SAYA NGERI, seakan-akan Indonesia mau berperang saja.

Point bagi Jokowi pun naik, makin diterpa isu black campaign makin simpati saya. Black campaign bagi saya adalah sebuah upaya mencegah orang baik untuk berkuasa.

Nah, bagi saya kenapa saya berbalik pilih JOKOWI bukan karena JOKOWI EFECT, tetapi karena MASIfnya Black Campaign pada Jokowi atau Black Campaign Effect.  Black campaign membuat saya tambah mencari informasi, dari berbagai informasi itu, justeru terus menambah point bagi Jokowi-JK.

PRESIDEN KITA DAN KAMU!

Sudah lama ingin nulis ini, akhirnya dapat juga kesempatan buat nulis, alhamdulillah.

Pemilihan CAPRES makin memanas, para cyber armny bertebaran menggunakan berbagai media sosial untuk menyebarkan kampanye termasuk kampanye hitam yang bawa-bawa agama.   Prihatin sekali! Apalagi itu dilakukan oleh mereka yang kadar keislamannya mendekati militan, artinya keislaman mereka dalam tataran ritual dan muamalah serta akhlak lebih tinggi levelnya dari pada islam abangan atau islam moderat.

Isu syiah, liberalisasi, dan sekulerisasi serta deislamisasi ditujukan pada capres nomor dua, oleh pendukung capres nomor satu. Adapun capres nomor dua dilemparkan isu terkait HAM oleh para pendukung capres nomor dua.

Bagi saya sih, isu HAM itu sudah finish.  Prabowo sudah menjalani hukuman atas tindakannya tersebut.  Dan pada saat itu dia melakukan segala kegiatan atas instruksi.  Hanya saja yang harus diselidiki siapa yang melakukan instrksinya.   Kalau yang melakukan panglima tertinggi, mau apa lagi Sang Panglima yaitu Pak Harto sudah meninggal.  Dan saya pikir juga sah2 saja, sebuah rezim mempertahankan kekuasaannya, dalam islam pun para pembangkang atau Bughot-ers dihukum dengan hukuman yang keras, dibunuh dan dipancung.  Itu semua untuk menjaga eksistensi ideologi islam.  Begitu juga ORBA saat itu, untuk menjaga pancasila dan UUD 1945, maka setiap pembangkang dibumihanguskan.  Revolusi dan Reformasi memang senantiasa membawa korban, dan itu konsekuensi perjuangan.  Jadi masalah HAM sudah finish!

Lalu isu syiah, liberalisasi, sekulerisasi, dan deislamisasi bagaimana?  Isu ini KONYOL BANGET gak pake nalar dan gak lihat fakta serta gak holistik memandang masalah.  SETELAH REFORMASI INI KITA MENGANUT DEMOKRASI KAN? DAN DEMOKRASI ADALAH IDE YANG DIPERJUANGKAN SEHINGGA TUMBANGLAH REZIM ORBA.  Lalu dari mana asal usul demokrasi? siapa negara pengusung ideologi demokrasi saat ini?  Ide-ide Demokrasi memang lahir sejak zaman Yunani Kuno, ide ini marak seiring LIBERALISASI yang dilakukan di PARIS dengan melahirkan TRIAS POLITIKA (Eksekutif, Yudikatif, dan Legislatif) menumbang sistem MONARKHI dan KATERDAL yang berkuasa saat itu.  Demokrasi juga mengiringi semangat LIBERALISASI para Migran di Amerika yang kemudian mendirikan Negara Amerika Serikat di tanah para Indian.  Perancis dan Amerika Serikat merupakan motor dan acuan BERDEMOKRASI.  Demokrasi menganggap suara rakyat adalah suara tuhan, memisahkan antara wilayah tuhan hanya ada pada ritual ibadah, sementara politik adalah kesepakatan rakyat dan mayoritas.  JADI SANGAT KONYOL JIKA MENUDUH CAPRES NO 2 PENGUSUNG LIBERALISME DAN SEKULARISME,  karena siapapun PRESIDEN INDONESIA selama dia menyepakati konstitusi yang dijalankan adalah konstitusi raykat-suara tuhan suara rakyat, maka liberalisme dan sekularisme adalah konsekuensi.  Bagai mata uang liberalisme, sekularisme, dan demokrasi adalah satu kesatuan utuh.

Bagaimana dengan isu syiah dan deislamisasi?  Indonesia memang dihuni oleh mayoritas muslim sunni.  Tapi ingat sistem negara kita bukan berdasarkan syariah islam.  Kenapa? Karena memang rakyatnya tidak menginginkan syariat islam.  Lihat saya partai yang mengusung azas syariat islam seperti PBB (matan Masyumi) perolehan suaranya Jeblok (1.41%).  Jika dilakukan kalkulasi pada PILEG Kemarin,  Dari 124.972.491 pemilih (Jumlah penduduk berdasarkan SENSUS 2010 BPS 237.641.326 — 77% punya hak pilih–68% menggunakan hak pilih)  didapatkan hasil partai nasionalis (PDIP, Nasdem, PD, Golkar, Gerindra, Hanura, PKPI) mendapatkan suara 68,95%.  Ini artinya sebanyak 47% rakyat Indonesia yang punya hak pilih setuju Indonesia dikendalikan oleh PARTAI NASIONAL yang mengusung DEMOKRASI.  Ada 32% Golput dengan beragam alasan, dan sisanya 22% saja rakyat indonesia yang menyukai partai berbaju islam partai ini terbelah menjadi Mengusung Islam Nasional-Setuju Demokrasi (PAN, PKB, dan PPP) jumlahya 16% penduduk dan partai yang punya tujuan mendirikan syariat Islam secara hidden agenda (PKS dan PBB).  Jadi kalau dihitung dengan yang memilih partai islam tetapi dukungannya terhadap penerapan ideologi DEMOKRASI maka jumlah yang setuju dengan Demokrasi adalah 63% rakyat Indoensia.  JADI INGAT MAYORITAS RAKYAT INDONESIA (63%) MEMILIH PARA ANGGOTA LEGISLATIF UNTUK MEMPERTAHANKAN DEMOKRASI.  Dan konsekuensi dari demokrasi adalah liberalisasi –  artinya orang bebas mau beragama apapun, berpaham apapun, …negara menjamin hak-hak sipil ini dan memberikan kesempatan yang sama pada semua ras, agama, dan paham apapun dalam berpolitik.  Mau syiah, sunni, ahmadiyah, bahkan atheis atau gay bebas memilih dan dipilih, partai konstentan pemilu dilarang menolak anggota hanya karena syiah, sunni, atheis, atau gay/lesbi….INI KONSEKUENSI DEMOKRASI.  Lalu konsekuensi yang lainnya adalah sekularisme –  “Agama tidak masuk dalam ranah politik, ekonomi, sosial dan budaya.  Agama hanya berbicara tataran ritual aja…” tawaran SYARIAH ISLAM akan serta merta ditolak, karena ini mencedarai sekularisme yang merupakan salah satu azas demokrasi.  JADI ISU SYIAH DAN DEISLAMISASI MERUPAKAN ISU KONYOL!!! Siapapun PRESIDEN INDONESIA selama dia berdiri pada sistem DEMOKRASI maka ia harus MENGHARGAI DAN MELINDUNGI HAK WARGA NEGARANYA APAPUN PILIHAN PEMAHAMANNYA MAU SYIAH, SUNNI yang dianut oleh mayoritas rakyat Indonesia, AHMADIYAH DLL. De-Islami-sasi, ya ilahhh….DEMOKRASI (suara rakyat, suara tuhan. Tuhan istirahat dalam kehidupan sosial politik makhluknya.  Berikan kesempatan manusia mengatur kehidupannya, tuhan gak usah ikut campur)  ANTITESA DARI SISTEM TEOKRASI (Tuhan Pembuat Undang-undang melalui Kitab yang diturunkan, manusia menjalankan kitab tsb).

Dalam PILPRES 2014 ada sebagaian kader partai tertentu yang sering broadcast tentang isu2 syiah, deislamisasi, liberalisme, dan sekularisme pada CAPRES NO 2.  Sesungguhnya, saya harus bertanya pada mereka dimana letak nalarnya? SEMUA CAPRES SUDAH TEKEN KONTRAK MENERAPKAN DEMOKRASI TIDAK MEMBERI RUANG BAGI SYARIAT ISLAM DAN MELINDUNGI HAK WARGANEGARA APAPUN PEMAHAMANNYA.

Jika memang anda bersikukuh mau menerapkan syariat islam, maka yang harus dilakukan adalah menggerser pemikiran dari 46% pemilih yang selama ini loyal atau bersimpati dengan partai Nasional. Dengan cara apa?

  1. Sentuhlan hatinya —> raih simpati.  Ini bisa dilakukan oleh partai yang ikut demokrasi.  Bagaimana rakyat mau simpati, jika mereka yang mengusung Syariah islam secara hidden atau terang-terangan menunjukkan sikap arogran, menumpuk harta, dan wanita.  Harga jam tangannya aja 70 juta, lalu dalam waktu 2 periode menjadi anggota DPR/MPR kekayaannya dari 900 juta meningkat jadi 12,1 Miliyar.  Ketika kader melakukan kesalahan, dibela habis-habisan dan menuduh sistem atau lembaga pemerintah serta orang-orang yang ada didalam lembaga tersebut sebagai agen ZIONIS dan melakukan konsfirasi, padahal jelas-jelas terbukti secara hukum menerima SUAP.  Simpati rakyatpun menguap…partai islam yang punya hidden agenda menerapkan syariat islam, ternyata hidupnya sangat jauh dari syariat islam.  Dirinya sendiri saja tidak menerapkan syariat bahkan jauh dari syariat islam, jadi gak usah bicara lagi tentang syariat islam bagi negara. Belum lagi kasus wanita idaman lain yang ada dikeliling para ketua partai islam itu.  POLIGAMI, menikah lagi dan menceraikan isteri pertamanya, serta menikahi ras kuda putih adalah fakta-fakta disekitar ketua-ketua partai islam yang punya agenda syariah islam, yang bikin luntur IZAH partai islam militan.
  2. Sentuh pemikirannya —> ubah paradigma dan mindset dengan melakukan diskusi, debat, dan syiar yang bisa mengubah mindset RIDHO DIHUKUMI DENGAN HUKUM ALLOH TIDAK MERASA GENGSI dan MERASA WAJIB MENERAPKANNYA. Sayangnya partai islam di parlemen tidak bisa diharapkan untuk mengubah mindset ini, mereka hanya kampanye jor-joran dengan janji-janji manis untuk SEKEDAR PILIH PARTAINYA.

Jika menang anda menghormati keputusan mayoritas rakyat indonesia (63%) atas pilihan ideologi mereka SAAT INI, maka HENTIKAN membodohi mereka dengan isu-isu KONYOL ANDA, mari hidup berdampingan secara damai di negara DEMOKRASI INDONESIA.  HARGAI JUGA PERBEDAAN, dengan menghargai perbedaan anda bisa hidup berdampingan,   Pandang orang lain dengan hak yang sama dengan anda, termasuk hak mendapatkan surga.   Jangan serasa andalah yang berhak memperoleh surga, sementara diluar anda  masuk neraka semua (MEMANGNYA SURGA ANDA YANG PUNYA ya?).  Dan terlebih lagi, jangan anda mengobok-obok perasaan dan pikiran rakyat dengan isu-isu SARA yang anda TWEET, UPDATE, dan BROADCAST.

 

Refleksi pileg 2014: #PKS

Pileg ini paling tidak pks akan mendapatkan suara sekitar 7%, kalau dari urutan memang terjungkal, paling berada di 5 besar bawah.  Tetapi dari perolehan suara tidak terlalu buruk, paling turun 1-2% dari pileg 2009.  Tampaknya 7% itu merupakan kekuatan real pks, yaitu kader, simpatisan, dan para militan.

Sementara  sebagian masyarakat ilmiah yg dulu memilih pks sepertinya tahun ini pindah ke lain hati.  Indikator (walau sempit dan kasusistik) bisa dilihat pada sebuah kompleks perumahan dari sebuah lembaga riset, 2009 pks mayoritas, 2014 ini Gerindra pemenangnya.

7% dari 150 juta-an pemilih, itu bukan angka kecil loh!!  Paling tidak ada 10,5 juta kekuatan pks (dari aktifis sampai simpatisan loyal).  Mengapa PKS bisa mengumpulkan massa yg begitu banyak dan loyal??? Analisis saya adalah:
1.  Dorongan yg mendasari para aktifis pks adalah dorongan ruhiyah.  Mereka terdorong “pahala akherat” bukan sekedar duniawi, JIHAD dlm bahasa umumnya.  Inilah yg membuat para aktifis getol berkampanye dimana2 tanpa lelah dan mengajak org2 untuk ngaji dalam LIQO.  Yakin Alloh swt yg mengupah mereka.

2.  Kaderisasi dari sejak dini dalam bentuk LIQO.  LIQO adalah pengajian yg terdiri dari 4-6 org.  Liqo dilakuan sejak SMA.  Bahkan SMP atau SD sudah dibidik.  Jika anak kita sekolah di sekolah islam terpadu maka mereka kaderisasi dimulai ketika mereka sd.   Bibit2 potensial dibidik untuk mengikuti liqo.  Siapa bibit potensial yg bisa diajak LIQO? Umumnya yg dibidik adalah orang2 pendiam dan tidak terlalu banyak tanya.  Pengkaderan juga terjadi di sekolah menengah umum (SMAN/SMKN) melalui kegiatan Rohis.  Begitu pula di tingkat Perguruan Tinggi aktifitas LEMBAGA DAKWAH KAMPUS atau DKM Mesjid Kampus diisi oleh aktifis PKS, klu pun di dlm kampus PT tidak menyediakan ruang bagi aktifis PKs, maka mereka bergerak secara underground menggunakan KAMMI.  Para mentor atau dikenal dengan murobi menjadi pengisi LIQO, mereka merupakan guru2 yg ikhlas, tanpa bayaran mereka memberikan kajian sekaligus ikatan pada partai.   Pelajar dan mahasiswa termasuk komponen yg memenuhi gelora bung karno untuk kampanye akbar tanpa dibayar.  Uswah keikhlasan para murobi mereka menjadi cermin.   Sublimasi dorongan ruhiyah terus digelorakan dan ditanamkan. 
3. Dogma ini partai terbaik dan paling benar.  Jika kita sudah masuk pada liqo PKS, maka akan diikat dg dogma partai ini paling benar, perjuangan paling sesuai dengan sirah rasulullah saw.  Paling tidak ada buku2 yg dikarang oleh ustadz2 mereka di Timur Tengah yang membeberkan keburukan2 harokah lain yg bersifat Transnasional seperti Salafy-jamaah tablig-Ht-dll, begitupun ormas islam dan lembaga formal kumpulan ulama di indonesia tdk akan lepas dari kritikan.  Untuk lebih mengikat, maka para kader/simpatisan yg sudah liqo pelan2 akan dilarang mengkaji islam dari sumber lain, sekalipun dari sumber ulama/ustadz di pesantren salaf.   Akibatnya, mereka yg liqo hanya tsiqoh pada murobinya, membaca buku2 karangan internal dan media internal.   Sumber2 eksternal tdk dipercayai krn isu Yahudi dan sesat.  Inilah yg membunuh pelan2 sikap OPEN MIND dan keterampilan berpikir KRITIS, serta menumbuhkan WALA dan KeTSIQOHan pada PKS. Slogan tepatnya  “RIGHT OR WRONG, PKS is the best”. 

Paling tidak, 3 faktor itulah yg utama yg menjadi jawaban, mengapa suara PKS tetap tidak melorot setelah ditimpa berbagai kasus: Suap daging sapi, koleksi futsun, dan hobby intip situs/gambar pornografi.

Refleksi PILEG 2014

Pestanya demokrasi usai sudah! Walau hasil pasti belum diperoleh, namun quick count menunjukkan 3 besar berada di tangan PDI-P, Golkar, dan Gerindra.  Ada sih partai yang masih berharap menjadi tiga besar dan pada saat ini sedang terus memburu formulir C1, partai yang dari awal yakin dengan target 3 besar, kebetulan juga partainya no 3.   Tapi tampaknya data-data berbicara, hasil quick count berbagai lembaga survey menunjukkan partai ini terlontar dari 5 besar!!!

Jika PDI-P dan Golkar perolehan suaranya melesat! Kita tidak perlu heran, karena kedua partai ini pemain tangguh di kancah politik Indonesia.  PDI-P pernah diguncang di ORDE BARU, partai ini pun keluar dari PDI mendirikan PDI-P dan sempet memperoleh 33% pada PEMILU REFORMASI, ketangguhannya terbukti.  GOLKAR pun begitu, berbagai petingginya menciptakan partai2 baru mulai dari HANURA, PD, NASDEM, GERINDRA, dan PKPI…namun suaranya tetap bertengger dan tetap kokoh dalam berbagai goncangan.  Kasus korupsi di partai ini banyak tentu saja, namun korupsinya tidak sampai melibatkan ketua partai, sehingga efeknya pada masyarakat tidak begitu besar, karena kronco2 yang melakukan korupsi bukan para elitnya.

Suara yang terjun bebas dialami oleh Partai Demokrat.  Kegagalan SBY bersikap tegas dan terlalu lambat dalam mengambil sikap, serta korupsi yang membelit kader juga ketua partainya disinyalir menjadi sebab menurunnya simpati rakyat.  Ditambah lagi, kegagahan dan kegantengan SBY makin memudar, membuat ibu2 yang awalnya mengidolakannya menjadi surut pada masa kini (#justJoke but Real).  Partai ini susah MOVE ON….  tampaknya, #sebaSalah…

Satu partai lagi yang ketua partainya terlibat urusan dengan KPK karena kasus suap daging sapi adalah PKS.  Suara partai ini pun melorot sekitar 1-2% saja, memang gak se-tragis PD yang terjun bebas, tapi tetap saja gagal menempati 3 besar bahkan 5 besar hasil quick count, mungkin tinggal menununggu keajaiaban hasil real count, tapi tampaknya juga imposible bisa 3-5 besar, jika melihat margin error quick count 1-2%.  Usaha partai ini untuk jadi terbuka dengan menerima caleg non muslim, caleg syiah, dan caleg pendeta tampaknya gagal mendongkrak suara.   Begitu juga pasukan cyber army yang disiapkan untuk mempengaruhi para aktifis sosial media tampaknya juga gagal bertarung, bahkan acapkali para cyber army ini membuat BLUNDER!!!  Para cyber army ini menciptakan data-data hoax, sumpah serapah pada para golputers termasuk bersabda “al goputers ikhwanusysyaiton” juga pada para lawan potilik terutama JOKOWI dan PDIP.  Tapi usaha para 500 ribu cyber Army (see: detik.com)  Gagal mempengaruhi massa media sosial, bahkan sebaliknya acap kali menjadi blunder.  Usaha cyber Army ini sangat kontra produktif,  bukan jualan program yang ada malah menangkis citra negatif partai dan menyerang PDIP & Golputers.  Akiibatnya apa? Boro2 menarik para golputers buat milih nih partai, malahan pemilih yg pernah bersimpati pun emoh milih lagi partai ini.  Jika tahun ini PKS mendapatkan suara 6-7%, maka tampaknya itu angka yang FIX yang terdiri dari simpatisan dan para kader serta keluarganya yang loyal pada PKS, juga para pemilih pemula yaitu mahasiswa dan pelajar yang ikut pengajian tabiyah/PKS (sebagaimana diketahui PKS masuk ke universitas lewat LDK/Lembaga Dakwah Kampus, dan masuk ke SMAN2 lewat ROHIS serta mendirikan berbagai SMA IT termasuk lembaga2 Zakat )

Sebagaian golputers lari kemana (Golput turun 5% baca: detik.com)? Ke Gerindra! Kenapa? karena walaupun diserang berbagai black campaign, partai ini konsisten menawarkan program, termasuk program ekonomi kerakyatannya, dan berjanji melepaskan Indonesia dari gurita IMF.  Internalisasi partai terus dilakukan, para pemilih pun mendapat informasi2 apa yang dilakukan partai ini melalui twitter dan facebook.

Selain Gerindra, PKB juga menunjukkan fenomena menarik.  Isu perpecahan yang santer pada 2009 mulai meredup.  Cak Imin bisa mengkondisikan warga nahdiyin untuk come back melalui figur Mahfud MD dan Rhoma Irama serta konsolidasi yang terus dilakukan.  Warga nahdiyin di PPP pun tampaknya mulai berpaling ke PKB, begitu juga warga nahdiyin di PD juga pulang kampung.  Sepertinya PKB bekerja keras untuk melakukan konsolidasi internal, dan hasilnya cukup menggembirakan.

Boleh dikatakan pemenang PILEG 2014 adalah Gerindra dan PKB,  kenaikan suaranya hampir 100%,  rahasianya apa??? Rahasianya adalah mereka bekerja keras untuk konsolidasi memperbaiki internal partai dan mereka jualan program.  Maka merekalah pemenangnya.

Nasib menyedihkan ada pada 2 partai yang tidak lolos PT.  Terutama PBB, partai ini pernah bersinar pada tahun 1999 dengan tokohnya bapak Yusril, tetapi kemudian meredup perolehan kursinya seiring dengan intrik kawin lagi yang melanda figuritas Yusril.  Tahun 2014 partai ini menawarkan format Ideologi Masyumi yaitu memperjuangkan syariah, tetapi tampaknya tidak populer bagi rakyat Indonesia.  Satu hal yang bisa dibaca dari kekagagalan PBB dengan tawaran syariat islamnya adalah masyarakat indonesia masih dilanda PHOBIA SYARIAT ISLAM dan lebih memilih partai yang tidak terlalu ekstrim memperjuangkan syariat seperti PKB atau PPP.  Untuk partai yang konsisten memperjuangkan syariat ISLAM tampaknya perjuangnya bukan mengikutikan partai ke PESTA DEMOKRASI, tapi bagaimana mengubah presepsi masyarakat muslim agar TIDAK ALERGI PADA SYARIAT ISLAM.  Bgaimana agar semua kalangan baik muslim maupun non muslim bisa menerima konsep syariat islam dalam tatanan negara, tentu saja perlu dakwah yang elegan, bukan ingin mendapatkan kursi di parlemen untuk mengubah UUD menjadi bersyariat, tetapi lebih pada menyiapkan rakyat untuk bersyariat.   Salah satu indikator rakyat taat syariat adalah “MENOLAK MONEY POLITICS” selama rakyat masih mau menerima money politics,  selama itu pula sulit menerapkan keinginan indonesia bersyariah.

 

Ok, ini sih hanya sekedar refleksi di 1/3 malam.  “I just write what i think, even you think nothing”

 

 

Reformasi atau Revolusi atau Restorasi???

Bayang2 tahun 1993 selalu melekat, saat itu AMIN RAIS melontarkan gagasan NEGARA FEDERASI bagi Indonesia. Saya masih ingat, sesama mahasiswa mengkritisi gagasan Amin Rais yang absrud ini. Diskusi antar mahasiswa menyimpulkan “bahaya gagasan AMIN terhadap NKRI”. Lama kemudian kumpul2 politik ini berhenti ketika saya jadi guru. 1997 krisis moneter, 1988 tuntutan Soeharto turun. Waktu itu keinginan mahasiswa dan rakyat sederhana “Soeharto turun, karena rakyat jenuh 32 tahun dipimpin oleh pemimpin yang sama” namun ternyata AMIN punya pandangan lain. Momen 1998 ini yang dimanfaatkan beliau untuk MEMFEDERASIKAN INDONESIA dengan istilah yang lain tentu saja yaitu OTONOMI.

Pada saat ini saya jadi sadar, mengapa Amin memilih tetap jadi MPR bukan millih jadi presiden, karena MPR saat itu merupakan lembaga tinggi yg kekuasaannya di atas presiden. Amin ternyata mengawal terus tercapainya negara federasi seperti yang pernah dilontarkannya di awal tahun 1990-an. Boleh jadi suara rakyat saat itu hanya sampai ganti presiden saja, tapi Amin??? REFORMASI BIROKRASI dianggap sebagai akar masalahnya bukan sekedar SOEHARTO (Alm).

Maka reformasi besar2 terhadap UUD dan BIROKRASI dilakukan. Apa yang terjadi di Indonesia saat ini mirip dengan AS, duplikasi. Fatalnya AS dengan otonomi atau federasi lahir dari sosiokultur mereka, Indonesia dengan otonominya memaksakan diri mengikuti sosiokultur AS. Sebenarnya tahun 1950-an kita pernah menerapkan RIS (Republik Indonesia Serikat) tapi gagal akhirnya dektrit presiden 1959 mengembalikan lagi ke UUD 1945. Sekarang??? Kegagalan-kegagalan reformasi mulai tampak, dollar terus naik melampaui 12.000. Sebagaian besar mungkin menyalahkan SBY yang lamban, benarkan hanya karena kapabilitas presiden saja???? atau krn sistem yang tidak sesuai fitrah dan sosiokultural???

Revolusi: ….kita sudah lakukan saat mengambil Indonesia dari tangan Belanda

Reformasi: Kita sudah lakukan…UUD 1945 dan pancasila yang dianggap sakti mantra guna, diamandemen dirombak…jadilah seperti sekarang…. beban utang meninggi….ekonomi labil…politik berbiaya tinggi…birokrat & partai saling berlomba mendulang korupsi…

Kita adalah saksi atas sejarah pergantian sistem….bagaimana ke depan?? 2014 SUKSES DENGAN LANJUTKAN REFORMASI, atau malah akan terjadi REVOLUSI atau SEKEDAR RESTORASI??? mari kita jadi saksi sejarah!!