16. Kuliah tanpa beasiswa (The Power of Spirit)

Ok, Bapak dan ayahnya selalu punya tekad bahwa pendidikan anak-anaknya harus lebih tinggi dari bapaknya.  Bapak saya cuma lulusan sekolah teknik dan ibu saya lulusan sekolah keterampilan keputrian (sekarang SMK).  Maka mereka berharap kami anak-anaknya bisa sekolah sampai perguruan tinggi.

Namun…. kondisinya, Ayah saya hanyalah seorang ABRI yang pangkatnya saat itu PELTU bukan Letnan atau perwira.  Dan bisnis  UKM yang maju mundur.  Ibu saya hanya ibu rumah tangga.  Seingat saya penghasilan tetap ayah saya waktu itu tahun 1990-an 300.000 per bulan.

Beberapa orang di keluarga begitu nyinyir terhadap keinginan ayah membuat anak2nya jadi sarjana.  Alasannya tentu saja biaya. Namun, kenyinyiran itu kami anggap tantangan.  Ok, biaya! Masalah ini sepertinya dapat diatasi dengan cara kita semua masuk ke PTN bukan PTS.

Sebagai perbandingan pada tahun 1990, masuk PTN cuma disuruh bayar 120.000/semester lainnya tidak ada pungutan.  Sementara kalau masuk UNISBA kami harus membayar uang bangunan sebesar 1 jutaan dan SPP 750/semester.  Bapak saya bilang, “Kalau sekolah ke negeri kamu bisa jadi sarjana, kalau ke swasta berat” … Bayangkan saja “gaji bapak saya kan cuma 300 rb”

Ok, diterima di PTN luar kota pun jadi beban tersendiri.  Karena biaya makan saya 100.000 per bulan, biaya kos 250-300 ribu pertahun, ini tentu saja akan memakan 1/2 gaji bapak saya.  Tapi bapak selalu mengatakan TUGAS KAMU SEKOLAH, tugas BAPAK cari duit-nya.

Terus terang saya merasa beruntung berada dalam keluarga yang FULL SUPPORTING, saya tidak harus seperti sebagian teman saya yang terpaksa mencari uang kuliah sendiri karena orang tua mereka sudah ‘give up‘.

Nah, sarjana tanpa beasiswa? Ya…selama menempuh S1 saya tidak dapat beasiswa dari manapun.  Saya anak Kota, maksudnya dari Kota Bandung, di IPB entah mengapa yang diprioritaskan mendapatkan beasiswa anak daerah, dan ‘sebalnya’ beberapa teman saya berbohong tentang kondisi keuangnya.  Mereka anak orang kaya di daerahnya, dan ini terlihat dari dimana tempat kos dan gaya hidup mereka.  Namun mereka menjadi prioritas mendapatkan beasiswa.  What ever-lah! Peristiwa ketidakadilan dalam urusan beasiswa ini membuat saya males ngurusin dapat beasiswa lagi.

Kok bisa ya dari keluarga menengah bawah dan tidak ada beasiswa sekolah sampai tinggi begitu? BISA!! Saya belajar dari orang tua saya satu hal “CAPAILAH CITA-CITA, TUNJUKKAN KEMAUAN, RIZKI MAH MENGIKUTI”

Jadi saya paling sebel kalau ada orang tua yang bilang sama anaknya “Udahan sekolahnya Bapak/Ibu udah gak punya duit!”  karena apa??? Ternyata yang menentukan RIZKI itu adalah KEMAUAN ….the power of spirit.  Kalau gak ada kemauan ya Rizkinya mentok di situ, kalau ada ikhtiar untuk mencapai cita-cita ya Allloh akan bukakan pintu rizki-nya.

 

Milih PT buat Anak #Sekolah

Masa-masa milih sekolah tingkat dasar dan menengah lewat sudah bagi si Aa.  Now, saatnya milih universitas.  Gak boleh sembarang pilih.  Mentang2 TOP dan mahal main masukin aja.  Kudu selektif karena masa depan dia ada di tangan PT.  Salah2 milih PT berakibat susah kerja.  Misalnya kalau mau daftar PNS, minimal PT terakreditasi B.  Kenapa??? Karena mutu PT dijamin di situ.

Rencananya kalau IPB atau UI atau UNDIP gak lolos…cadangannya tentu saja swasta.  Trettt mata tertuju pada Psikologi BINUS.  Hitung-hitungan paling tidak saya harus sedia 50 juta nih buat masuk kesana! But…cek akreditasi di web BINUS.  Duh, ini akreditasinya cuma C.  Lalu beralih ke Psikologi Gunadarma…hitung2 harus sedia 20 juta untuk masuk.  And…akreditasi pernah A tapi sekarang turun jadi B.  Wah mendingan milih GUNADARMA dong!!!  Murah dan akreditasi B.

Eh, tapi PTN juga gak jamin akreditasi B atau A loh! Tergantung kinerja dan kualitas dosen serta  komitmen prodi PTN itu dalam penjaminan mutu perkuliahan.  Banyak PTN yang akreditasi mentok di C, saya sarankan gak pilih Prodi di PTN kalau akreditasinya babak belur.

Untuk mengetahui akreditasi prodi-prodi di PTN sebaiknya cek di sini:  http://ban-pt.kemdiknas.go.id/direktori.php

Si Sulung sih gak ada rencana buat nyekolahin di Luar Negeri, selain selama sekolah dasar dan menengah males2an Les Bahasa Inggrisnya, karena dia sendiri enjoy di Indonesia.  Tapi, bagi Emak2 yang minat nyekolahin ke luar negeri juga kudu hati-hati, tidak semua universitas di luar negeri bisa disetarain ijazahnya.  Untuk cek universitas luar yang direkomendasikan DIKTI tengok2lah di sini:  http://ijazahln.dikti.go.id/rekap_per_pt.php

SELEKTIF PILIH PERGURUAN TINGGI, SEHINGGA MASA DEPAN ANAK KITA GAK TERGADAI!