Me and Radicalisme #Part02

Ok, pada tulisan ini saya bahas bagaimana perkenalan saya dengan paham radikalisme di IPB.  Sebelumnya sudah saya ceritakan bahwa pintu masuk pertama radikalisme di IPB pada tahun 90-an adalah responsi agama yang diasuh oleh para assisten agama.  Bagi beberapa orang responsi agama ini sukses menghantarkan mereka pada pengajian lebih khusus, bagi saya yang tidak mudah menerima sebuah paham karena sudah punya paham sebelumnya tentu tidak mudah.

my stories

Namun, jangan anggap jalur formal itu satu-satunya cara.  Ada jalur informal lainnya, yaitu melalui DAURAH dan SANLAT secara informal.  Saya berkenalan dan berliqo dengan gerakkan cabang Ikhwanul Muslimin atau Tarbiyah di IPB melalui daurah yang saya ikuti.  Lalu berkenalan dengan hizbut tahrir pun melalui sanlat yang diadakan.

Perkenalan dengan tarbiyah. Adalah teman saya satu kelompok.  Selepas pembagian transkip tingkat I, dia mengajak saya untuk ikut daurah.  Dia memang lebih dulu kenal dengan kakak kelas, tempat kost-annya memang multi angkatan dan rerata kakak kelas itu berkerudung panjang.  Daurah atau dikenal dengan Mabit itu dilaksanakan di sebuah lembaga pendididkan di Pasir Kuda Ciomas.  Kita ditempatkan disalah satu bangunan.  Selama tiga hari kita dibina oleh mbak-mbak dari UNJ, sepertinya tahun 90 itu belum ada kader akhwat mumpuni dari IPB, sehingga mbak-mbak UNJ yang isi.  Mbak-mbak dari IPB hanya fasilitator saja.  Lepas dari dauroh itu, dibentuk kelompok-kelompok pengajian kecil yang disebut liqo. Liqo dibimbing Murobi (Mentor) kakak kelas angkatan 26 yang juga orang Bandung.  Kegiatan ngajinya seminggu sekali, yang diberikan adalah ma’rifatullah, ma’rifatul rasul, ma’rifatunabi….  mengajinya kalau menurut saya mah membosankan.  Mengapa? Murobi memperkenalkan sedikit materi lalu meminta kita membaca ayat-ayat yang relevan dengan topik tersebut.  Acapkali ayat yang dirujuk maknanya gak nyambung.   [Oh ya, walaupun saya masuk di sini, tapi saya tetap ngaji tafsir Jalalain ba’da subuh di Bapak, karena bahasa arab saya belepotan saya cuma dengerin aja kajiannya, gak berani ikut-ikutan baca hehehe.  Tapi paling tidak karena ngaji sedikit tafsirnya, penjelasan Murobi yang kurang masuk akal jadi tak mudah saya terima].  Murobinya bermuka masam, kalau kita banyak bertanya.  Pada waktu itu, saya berpikir di ‘liqo‘ ini dilarang jadi orang kritis.  Dengan pola pengajian seperti membuat saya ‘bete’ sekaligus khawatir, saya punya prinsip kalau menukil ayat gak boleh sembarangan harus tahu tafsirnya. Kalau sembarangan nanti bisa jatuh sama ta’wil.

Perkenalan dengan Hizbut Tahrir.  Pada saat yang sama setelah saya ikut Daurah, teman saya itu pun ngajak juga saya ikut SANLAT yang diadakan oleh mbak-mbak yang kebanyakan assisten PAI.  Waktu itu dalam hati saya, yeahhh kena lagi nih.  Selepas dari SANLAT itu pun lanjutannya adalah pembentukan kelompok kecil yang mereka sebut halqoh. Halqohdibimbing Musyrifah (Mentor).  Halqoh seminggu sekali, untuk tahap perkenalan ini kami diminta melalukan kupasan isu-isu aktual dengan merujuk pada berbagai sumber bacaan.  Pengemasan halqoh oleh Musyrifah sangat kreatif, melatih daya analisis.  Tak jarang pertanyaan-pertanyaan nyeleneh saya pun ditanggapi dengan serius dan rujukan yang baik.  Pertanyaam tentang banyaknya golongan-golongan yang menyeru pada islam ditanggapi dengan mengupas ‘makna bahasa dari QS Ali Imron 104’.  Cara menukil al quran mirip Kyai yang biasa ngisi kajian tafsir jalalain.  Keterbukaan dan Musyrifah yang tidak alergi dengan pertanyaan2 saya membuat saya lebih tertarik ikut kajian dalam Halqoh daripada Liqo.

Pelan-pelan saya menjauhkan diri dari Liqo dengan jarangnya ikut kajiannya.  Teman se-liqo saya yang tahu gelagat saya. Mulai mengingatkan, “Yan, kamu jangan terlalu banyak ikut pengajian. Nanti kamu pusing!”  Saya hanya tersenyum, dalam hati saya, saya cuma ikut 3 kajian saja liqo yang membuat bete, halqoh yang menantang daya kritis, dan ngaji sama Kyai seperti biasanya kebiasaan di kampung saya dulu juga begitu, yang dikaji juga sama Jalalain.

Masuk semester 4, ketika saya harus pindah kampus dari Baranangsiang ke Dramaga.  Saya pamit sama teman saya [Bukan sama Murobi hehehe], saya keluar dari Liqo.  Namun saya tetap melanjutkan Halqoh.  Pada Halqoh inilah kemudian saya mengkaji aneka kitab gundul keluaran Hizb Tahrir, kitab yang dikaji adalah Nidzomul Islam, Ma’rifatul Hizbut Tahrir, Takatul Hizbi, Nidzomul Ijtimai (Sistem Pergaulan), Nidzomul Ihtisody (Sistem ekonomi), Nidzmul Hukmi (Sistem Pemerintahan), dan Syakhsiyah Islamiyah (Kepribadian Islam).  Untuk sekaliber orang Indonesia yang bahasa arabnya belepotan satu kitab tipis dikaji 1 tahun, maka 1 kitab tebal bisa 2-3 tahunan.  Mungkin bagi orang pesantrenan yang baca kitab dan paham bacaannya lebih baik, bisa lebih cepat.  Apakah isi kitab itu menyimpang dari Islam? Tidak semua kitab itu dirujuk dari sumber-sumber shahih dan bisa dikatakan sebagai sebuah kekayaan pengetahuan islam.

my opinion

Dimana sisi radikal dari kedua gerakkan ini?

  1. Tarbiyah, sebagai cabang dari Ikhwanul Muslimin yang ingin mendirikan Jamiah Islamiyah (mirip Khilafah Islamiyah yaitu Negara Islam Internasional yang satu) dengan terlebih dahulu mendirikan negara Islam termasuk di Indonesia.  Dakwah dimulai dengan keluarga (untuk membentuk keluarga, secepatnya para anggota pengajian dijodohkan dengan anggota pengajian lainnya), lalu bi’ah [lingkungan masyarakat yang islami di suatu perumahan mereka akan melakukan dominasi], dan terus ke negara-negara melalui partisipasi politik sebagai partai, kalau presiden sudah dari golongan mereka begitupula negara lainnya maka akan disatukan menjadi jamiah islamiah.  Disinilah letak bahaya ideologinya.  Selain itu sikap #NO-Cooperative dengan yang tidak sekelompok menjadi bahaya tersendiri terhadap multikulturisme.  Kebencian mereka terhadap kaum Nasrani dan Yahudi menurut saya sudah keterlaluan.  Ayat yang dijadikan rujukan adalah QS Al Baqoroh “Wa lan tardo anka Yahudi wa Nasrani hatta tatabia milatahum” “walladzinaa kafaruu aliyauhum thoguutu. Lalu semua produk dari mulai KFC, A&W, McDonald ….pokoknya yang dianggap produk Nasrani atau Yahudi sepertinya dianggap nazis yang tidak boleh disetuh.  Disentuh aja gak boleh apalagi diajak kerjasama.  Muslim yang kerjasama dengan Non muslim mereka sebut Thogut. Dulu teman saya sepengajian liqo, dengan seenaknya mengejek teman Nasrani dan sekelompok teman muslim bersamanya dengan sebutan ‘tauge’.   Terus terang, ketika saya mendengar ungkapan ‘tauge’ saya langsung risih.  Sebagai anak yang besar dari keluarga nasionalis, yang dari kecil diajarkan untuk menghargai perbedaan suku dan agama demi persatuan Indonesia.  Ini menggelitik kalbu saya.  Panggilan “Ukhti wa Akhi” hanya disematkan pada golongan pengajian mereka.  Ketika kita di luar atau sudah keluar dari pengajian itu, panggilan itu tidak berlaku lagi.  Pemerintahan yang berkuasa jika pemimpinnya bukan dari kalangan mereka, akan disematkan sebagai pemerintahan Thogut.  TERTUTUP TIDAK MAU MENERIMA PENDAPAT ULAMA LAIN, BAHKAN mereka alergi pada ULAMA NU.  “Semua salah kecuali kelompok saya [paham ini bisa dibaca dari buku Menuju Jamiah Islamiyah]”  Maka saya tidak heran kalau diantara teman saya ini menyebutkan Golkar, PDIP, atau partai nasionalis lainnya dengan sebutan partai tauge.  Lalu menyebut NU sebagai ahlul bid’ah, Hizbut Tahrir sebagai gerakan sesat, ….. “Semua salah, kelompok saya yang benar…. kalau ada hadits Umat Islam terbagi menjadi 73 golongan dan yang benar adalah 1 saja, maka kelompok inilah yang ngaku 1 itu”   –   Kelompok yang tidak memahami esensi dari Ali Imron: 104, dalam ayat ini siapa saja yang menyeru pada al khoir, u’laikahumul (mereka-mereka semua itu, jama’) adalah beruntung.
  2. Hizbut tahrir. HT itu gerakan politik yang bertujuan mendirikan khilafah islamiyah, deklarasi 2012 sangat nyata Ustadz Labib Rahmat sebagai pimpinan HTI menyatakan Indonesia bisa dijadikan  titik tolak berdirinya Khilafah Islamiyah, potensinya ada 73% masayarakt berdasarkan hasil survei PPIM UIN Jakarta ingin syariat islam diterapkan.  Kitab-kitab HTI itu bagus-bagus isinya, namun jika menginginkan pengajian untuk menguasai kitab-kitab itu, HTI hanya membuka kajian untuk mereka yang mau berjuang mendirikan khilafah.  HT bukan lembaga ta’lim tapi gerakkan politik untuk memperbaharui sistem kafir [sebutan buat sistem bukan islam].  Melayani mereka yang hanya ingin mengkaji kitabnya saja, hanya ingin ta’lim saja, hanya buang-buang waktu.  Yang lebih diinginkan adalah orang-orang yang mau bersama-sama memperjuangkan khilafah islamiyah baik sebagai anggota (syabab) atau penolong dakwah mereka.  Memperjuangkan khilafah islamiyah inilah yang disebut dakwah.  Dan salah satu sifat yang ditekan dalam gerak hizbut tahrir adalah #NOCOMPROMAISE, tidak ada kompromi dan tidak berkompromi.  Mereka mengatakan orang-orang muslim yang mau berkompromi sebagai munafik atau komprador.

Ada jutaan kebaikan ketika kita mengaji di Tarbiyah dan HTI, kita termotivasi beribadah secara rajin, berakhlaktul karimah, dan berpegang teguh pada syariat islam. Namun keduanya adalah gerakan politik dan ideologi. Gerakan yg punya tujuan menggantikan pancasila dan NKRI sebagai dasar dan bentuk negara. Sifat sebagai gerakan politik ideologi inilah yg berbahaya. Jamiah islam atau khilafah islamiyah bagi mereka bukan sekedar knowledge namun cita-cita perjuangan.

Refleksi

Untuk kasus IPB secara formal gerakkan radikalisme ini masuk secara formal melalui Responsi Agama Islam oleh DKM Al Huriyah/Al Ghifari  dan Unit Kegiatan Mahasiswa Badan Kerohanian Islam.  Bahkan dari IPB pulalah Hizb Tahrir tersebar ke semua Lembaga Dakwah Kampus di Indonesia melalui Forum Silaturahmi LDK.

Secara tidak formal melalui interaksi aktivis Hizb Tahrir atau ikhwanul muslimin di rumah kos dengan anggota kos terutama adik kelas.  Ada diantara rumah kos dijadikan sebagai rumah binaan.   Jika seseorang  masuk ke rumah kos seperti ini maka 90% akan menjadi kader masa depan aktivis gerakkan ini.  Selain itu kegiatan daurah atau sanlat (pesantren kilat) pada saat liburan atau bulan ramadhan menjadi pintu masuk pengkaderan.

Berdasarkan hal ini, maka IPB memang dapat melakukan restrukturisasi Pendidikan Agama Islam, DKM Al Huriyah/Al Ghifari, dan BKIM IPB untuk mengurangi tumbuhnya paham radikalisme di kampus.  Namun tampaknya jalur non formal yaitu aktifitas di rumah kos dan kegiatan daurah – sanlat yang diselenggarakan pada saat liburan atau ramadhan di luar wewenang IPB.

IPB perlu memberikan penguatan wawasan Pancasila dan NKRI pada para mahasiswa.  Pemberian wawsan kebangsaan haruslah dikaitkan dg esensi syariah islam dengan mengundangan ulama-ulama NU. Misalnya perlu penekanan bahwa sumber syariat islam ada empat 1) al qur’an 2) as sunah 3) qiyas 4) Ijma para ulama.  Mengingkari ijma ulama akan membawa kebahayaan bagi bangsa Indonesia.  Ulama dari NU, Muhammadiyah, SI, Al Arsyad… adalah para wakil umat islam pada BPUPKI dan PPKI, ulama berijma pada 1945 untuk menerima pancasila dan NKRI sebagai dasar dan bentuk negara Indonesia.  Menghianati pancasila dan NKRI merupakan bentuk ketidakpercayaan kita terhadap para Ulama.  Padahal #BelaUlama pernah dilakukan berjilid-jilid oleh sebagian umat muslim.  Tentu #belaUlama haruslah konsisten dilakukan, bukan hanya membela satu pernyataan yg menguntung gerakan politik islam radikal saja tapi juga bela pancasila dan NKRI buah perjuangan para ulama indonesia. Halaqoh kebangsaan di IPB perlu dihidupkan untuk meminimalisir radikalisme.

Sebagai anak yg lahir dari keluarga nasionalis terbisa dg hidup multiethis dan keluarga yg kuat dalam memegang teguh toleransi. Berada di IPB memang tak nyaman, pada awal perkuliahan tempat duduk lelaki dan perempuan wajib terpisah kiri dan kanan. Muslim berkumpul dg muslim pun begitu non muslim, keduanya saling mencurigai. Mahasiswa muslim yg berkawan baik dg non muslim akan dipandang dg pandangan hina. Pelajaran PAI makin menguatkan eksklusifisme antara muslim vs non muslim. UKM yg menampung multietnis seperti UKM SENI DAN OLAH RAGA sangat minim. Maka wajar jika pada jaman saya halqoh dan liqo lah yg marak dijalani mahasiswa IPB. IPB pada era 90-an menjadi lingkungan yg tidak sehat bagi tumbuhnya multikulturisme dan toleransi, semoga pada saat ini berubah menjadi lebih baik.

Kajian DKM Al Huriyah perlu diubah, melibatkan para Kyai NU yang banyak di sekitar kampus IPB untuk mengisi kajian Tafsir Jalalain atau Ibnu Katsir tiap subuh.  Kajian ihya ulumuddin ba’da magrib juga akan sangat bagus untuk mengimbangi pikiran radikalisme yang marak di kampus.  Sebagai catatan pada tahun 90-an, para mahasiswa/i yang rajin ngalong bersama para Kyai di pesantren sekitar kampus mempunyai daya retensi yang tinggi terhadap radikalisme di kampus.

Wallohualam bi sawab.