Hidup bebas atau hidup teratur?

Saya sangat memegang teguh filosofi hidup dari ushul fiqh, “Setiap perbuatan terikat kepada hukum syara“.   Inilah yang saya ajarkan pada anak-anak saya, bagaimana EGO mereka berkompromi dengan peraturan baik agama, negara, sekolah, etika, dan adat.  Tidak ada istilah dalam keluarga saya “SEMAU GUE” karena keinginan kita dibatasi dengan keinginan orang lain dan hukum. Tidak ada istilah “BREAKING THE LAW” atau aturan dibuat untuk dilanggar, tapi aturan dibuat untuk kemaslahatan bersama.  Tidak bisa keukeuh mengatakan “HARUSNYA ITU BEGINI” yang ada adalah bagaimana “WIN WIN SOLUTION“.  Jangan pernah keinginan dan rasa idealisme kita menabrak aturan-aturan yang ada.

Sebagai pendidik inilah yang bisa kita lakukan, yaitu mengajarkan betapa pentingnya sebuah aturan yang tentu saja harus dibarengi dengan rasa kemanusiaan.  Hidup tidak EGOIS, namun penuh harmoni sehingga mencapai kedamaian.  Berikut ini adalah petikan cerita moral yang biasa diajarkan pada anak-anak di sekolah.   Mari kita simak, dan pikirkan!

KOTA BEBAS I

bebas.png

Di sebuah negeri terdapat kota yang dinamakan Kota Bebas.   Di kota ini tidak ada “aturan”, siapapun dapat berbuat sesukanya. Mendengar hal tersebut, orang-orang dari kota lain berbondong-bondong pindah ke kota tersebut sehingga kota pun menjadi padat. Pada awalnya semua orang merasa senang karena mereka dapat berbuat seenaknya. Tetapi seiring dengan berjalannyawaktu, berbagai masalah pun terjadi.

Pada suatu ketika….

Dua anak laki-laki bertengkar di pinggir kali.   “Hey, itu adalah ikan yang aku pancing, jangan kamu bawa seenakmu,” kata anak lelaki yang satu. “Gak, di kota ini kita bisa lakukan apapun sesuka kita, kita juga bisa mengambil ikan yang dipancing orang lain,” kata yang anak lelaki satunya lagi.

Di terminal bus juga orang-orang banyak yang bertengkar. Ketika bus yang ditunggu datang, mereka berebut naik bus, terjadilah keributan….“Saya yang menunggu duluan, harusnya saya yang duluan naik, ngantri dong!” “Aduh, jangan dorong-dorong dari belakang dong bahaya! kan masuknya hanya bisa satu-satu,” “Minggir-minggir, aku capek habis kerja, aku pengen cepat naik dan duduk,” Di kota ini kan gak ada aturan, siapapun dapat melakukan apapun, jangan protes! saya naik duluan!”

Di depan rumah juga dua orang ibu-ibu bertengkar satu sama lain. “Tunggu, ibu jangan buang sampah basah di depan rumah saya dong! Itu kan mengganggu.” “Lho memang ada aturan gak boleh buang sampah di depan rumah orang? Sampah basah kan bau, aku buang di depan rumah mu aja, dari pada di depan rumah ku?”

Begitulah di kota itu.  Keributan demi keributan sering terjadi di berbagai tempat!

Bagaimana menurut kalian tentang hidup di Kota Bebas yang tidak punya “aturan” Apa yang ada di benak orang-orang yang bertengkar dalam cerita di atas?

KOTA BEBAS II

bebas3.png

Pada awalnya orang-orang yang tinggal di Kota Bebas sangat senang, mereka berpikir dapat berbuat sesuka hati. Namun mereka sadar bahwa banyak masalah yang timbul karena hal itu. Kemudianmereka pun memohon kepada walikota untuk membuat beberapa aturan. Walikota pun dengan penuh semangat membuat peraturan untuk kotanya. Walikota membuat lima peraturan yang harus ditaati oleh warganya.

Peraturan di Kota Bebas

  1. Orang yang mengambil barang orang lain dihukum satu bulan penjara.
  2.  Orang yang menyalip antrian pada saat menunggu bis didenda 100 ribu Yen.
  3. Orang yang membuang sampah sembarangan dihukum satu bulan penjara.
  4. Orang yang berbohong dihukum satu bulan penjara.
  5. Sarapan pagi harus selesai sampai jam 7 pagi. Orang yang tidak mematuhinya dihukum satu bulan penjara.

Selain aturan-aturan tersebut, Walikota juga membuat berbagai aturan lain, lalu menempelkannya di berbagai tempat di kota itu. Dengan aturan-aturan tersebut, orang-orang pun senang hidup tanpa ada pertengkaran.

Akan tetapi masalah lain kini timbul dan orang-orang merasa terganggu…..

Seorang anak menangis di pinggir jalan. Anak ini membeli makanan ringan ketika pulang sekolah. Anak ini bermaksud membuang bungkus makanan tersebut ke dalam tong sampah, namun karena tertiup angin, bungkus itu keluar dari tong sampah. Tidak jauh dari tempat tersebut seorang anak lain melihatnya dan melaporkan kepada orang dewasa. “Anak ini tidak membuang sampah pada tempatnya, oleh karena itu harus dihukum satu bulan penjara.” Anak yang pertama tadi menangis, “Aku buang bungkus tadi ke dalam tong sampah, tapi karena tertiup angin, bungkus tadi keluar, aku bermaksud mengambilnya dan memasukkan lagi ke dalam tong sampah, masa aku harus dipenjara satu bulan?”

Di depan rumah lain, seorang anak perempuan menangis…. “Pagi ini aku bangun. Karena Ibu sakit dan tertidur, aku cepat-cepat masak menyiapkan sarapan pagi, tetapi keluargaku seisi rumah tidak dapat selesai sarapan sampai jam 7. Keluargaku harus dihukum satu bulan penjara,….hiks hiks…”

 

Di sekolah, anak-anak bertengkar…. “Pensil ini tadi terjatuh di lantai, aku hanya kebetulan memungutnya. Aku tidak mencuri dari siapapun,”  “Gak!, kamu harus masuk penjara satu bulan, karena mengambil barang yang kamu gak tahu siapa pemilikinya, itu sama dengan mencuri” “Tunggu! Dalam aturannya gak tertulis seperti itu. Kamu berbohong. Kamu lah yang harus masuk penjara,”

Sudah capek-capek aturan pun dibuat, tetapi orang-orang di kota itu tetap saja menghadapi berbagai masalah, lama-lama kelamaan mereka merasa kesal juga. “Untuk apa sebenarnya aturan dibuat?”

Bagaimana menurut pendapat kalian tentang hidup di kota seperti ini di mana aturannya sangat lengkap dan rinci? Mengapa masalah terjadi padahal ada aturan Apa yang penting agar hidup kita nyaman?

Cerita Moral 02 #光学校

#Tebarkan Kebaikan#

Kelas yang baru, teman yang baru.  Beberapa teman sekelas Budi adalah teman lama, tetapi banyak juga teman baru. Salah satu teman baru Budi bernama Dimas. Dimas berasal dari kelas Cut Nya Dhien, sedangkan Budi berasal dari Kelas Ngurahrai.  Kini mereka sama-sama berada di kelas Patimura.

Guru  memotong cerita di sini.  Di sekolah Dimas dan Budi, kelas menggunakan nama pahlawan nasional.  Tanyakan pada peserta didik, siapa itu Cut Nyak Dhien, I Gusti Ngurahrai, dan Patimura? Ceritakan pula sedikit kisah mereka pada peserta didik.

Dimas bertubuh gempal.  Pipinya gendut kemerahan seperti buah tomat.  Ada sekelompok anak yang memanggil Dimas dengan julukan “Si Muka Babi”.  Sekelompok anak lainnya di kelas memanggilnya dengan “Kingkong”.

Guru mememotong cerita di sini.  Tanyakan pada peserta didik bagaimana perasaan mereka jika menjadi Dimas?

Budi tetap memanggil Dimas dengan Dimas.  Budi tidak mau ikut-ikutan memanggil dengan nama julukan yang tidak baik.

Guru memotong cerita di sini.  Tanyakan pada peserta didik, bagaimana perasaan mereka terhadap sikap Budi?

“Dimas, aku mau tanya sesuatu!” kata Budi pada Dimas suatu hari.  “Tanya apa Sobat?” Jawab Dimas.

“Gini, kamu senantiasa dipanggil dengan julukan-julukan yang kurang baik.  Perasaan kamu bagaimana?” Tanya Budi.

“Aku sebetulnya sedih, mereka menjulukiku dengan nama-nama bintang.  Tapi kalau aku marah sama mereka nanti aku tak punya teman. Jadi aku memilih membiarkan mereka seperti itu” jawab Dimas.

Guru memotong di sini.  Tanyakan pada peserta didik, “Bagaimana sikap Dimas? Tanyakan juga bagaimana mereka jika teman-teman menjulukinya dengan julukan yang tidak disukai?”

Budi berpikir keras, “Apa yang bisa dia bantu untuk menolong Dimas?”  Budi ingin teman-temannya tidak memberikan julukan-julukan yang jelek pada Dimas.

Guru memotong cerita sampai di sini.  Tanyakan pada peserta didik, “Ide apa yang mereka pikirkan jika posisi mereka seperti Budi ingin menolong Dimas dan menyadarkan teman-temannya”

Siang itu Budi berkata pada Dimas.  Dimas aku ingin membuat teman-teman kita tidak mengejek kamu lagi.  Besok aku punya sebuah rencana, tapi maaf berdasarkan rencana aku, aku akan menyebutmu “muka babi”,  maafkan aku besok ya!

“Tidak apa-apa Sobat! Jika nanti rencanamu berjalan baik, apakah kamu yakin aku tidak akan diejek oleh mereka lagi?” Kata Dimas.

“Semoga, tidak!” Kata Budi

Esok harinya, Budi membicarakan permasalahan teman-temannya terhadap Dimas pada ibu guru.  Budi pun meminta izin kepada ibu guru untuk melaksanakan rencana yang telah dibuatnya.  Ibu guru menyetujui rencana Budi.

Setelah jam istirat makan, bu guru berkata, “Anak-anak, hari ini ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Budi.  Budi silahkan ke depan!”

Budi maju ke depan.  Teman-teman, bagaimana kalau kita membuat julukan-julukan paling jelek untuk kita masing-masing! Aku tulis ya!  1.  Dimas, julukannya apa ya? Dengan keras Rangga berkata, “Dimas si Muka Babi!”  Teman-teman yang lainnya tertawa terbahak-bahak.  Budi melanjutkan, “Baik aku tulis ya, 1. Dimas – Si Muka Babi.  Terus kalau kamu Rangga apa julukan bagimu?”  Rangga menjawab cepat dan percaya diri, “Aku ya Rangga Si Ganteng!”  Budi berkata, “Tidak bisa harus julukan yang jelek dong!”  Affan berkata, “Bagaimana kalau Rangga Si Kunyuk!”  “Loh, kok aku disebut Kunyuk, Kunyuk itu kan artinya Monyet.  Memang aku kayak Monyet ya?” tanya Rangga.  “Sudah, kita terima aja deh julukannya. 2. Rangga – Si Monyet”  kata Budi sambil menuliskan di papan tulis.  “Kalau Affan apa julukannya?”  Tanya Budi.  “Bagaimana kalau Si Muka Badak!” soalnya Affan orangnya gak tahu diri! Kata seseorang.   Begitulah seterusnya satu kelas mempunyai julukan-julukan yang jelek.  Budi pun berkata, “Mulai besok kita panggil teman-teman kita ini dengan julukan-julukan jelek ini, apa kalian setuju?”

Tiwi mengacungkan tangan tanda sambil berkata, “Budi sebentar aku keberatan dipanggil Nini Genderewo setiap hari.  Kata ibuku dalam nama ada sebuah do’a.  Namaku Kusuma Pertiwi artinya Bunga Bangsa, ibuku berharap aku menjadi orang yang bisa mengharumkan negeriku.  Kalau namaku ganti jadi Nini Genderewo apa artinya? Aku nenek-nenek setan dong! Aku gak suka.  Nama itu seram lagi!”

Budi pun bertanya, “Adakah yang suka dipanggil dengan nama-nama jelek? Sebentar ya! Ini kok banyak nama setan ya, sukakah Tini dipanggil kuntilanak? Maukah Damar dipanggil dengan sebutan Tuyul?”  Semua teman-temannya menggelengkan kepala.  Nah, begitu juga dengan Dimas, dia tidak suka dipanggil dengan panggilan Si Muka Babi atau Kingkong.    Mulai hari ini kita  memanggil teman kita dengan nama yang baik, nama yang mereka senangi, nama yang diberikan orang tuanya.  Bagaimana teman-teman? Janji ya!

Janji!!! Suara teman-teman sekelas berkumandang.

Ibu guru tersenyum dan berkata pada Budi, “Bagus, Budi! Terima kasih ya!”

Guru meminta siswa menuliskan pesan moral dari cerita moral yang dibacakannya dalam beberapa kalimat.

 

 

 

 

Cerita Moral #01 #4HIKARIGAKKO

  • Tujuan umum: Menumbuhkan sikap empati pada teman
  • Tujuan khusus: Menumbuhkan sikap senyum, sapa, dan salam
  • Waktu 1 x 35 menit

Hari ini mulai masuk sekolah.  Semua anak bergembira ria.  Banyak anak yang pergi pagi, mereka ingin lekas bertemu teman-temannya.  “Saya sudah rindu bertemu teman-teman, hampir sebulan kita tidak bertemu” kata Nisa.  Nisa ingin mengetahui wajah teman-temannya yang lama tidak ketemu.  Apakah teman-temannya memotong rambut dengan gaya baru? Setinggi apa teman-temannya, setelah tidak bertemu satu bulan lamanya?

 Guru memotong cerita sampai di sini.  Tanyakan pada murid-murid.  Apa yang mereka rindukan saat lama tidak bertemu teman-temannya? Beri kesempatan tiga orang murid untuk menceritakannya secara singkat.

Ada satu orang yang Nisa rindukan.  Namanya Tata.  Ya, Tata adalah teman baik Nisa.  Nisa tidak sabar ingin mendengar kabar liburan Tata.  Tidak sabar melihat senyum manis Tata.  Tidak sabar ingin melihat, potongan rambut Tata yang baru di kelas yang baru. “Pokoknya, aku harus ketemu Tata pertama kali, aku harus datang ke sekolah lebih pagi, agar aku bisa menyambut Tata, akulah yang pertama kali akan mengucapkan ‘Selamat pagi’ untuk Tata.

Guru memotong cerita sampai di sini.  Mintalah murid untuk menuliskan di buku catatan moral mereka, siapa nama teman yang mereka rindukan? Mengapa mereka merindukan teman tersebut?

Benar saja, Tata belum sampai ke sekolah.  Nisa adalah murid pertama yang sampai di sekolah.  Bapak ibu guru telah berdiri di gerbang sekolah menyambut Nisa.  Murid pertama yang datang. “Nisa, selamat pagi! Kamu murid pertama yang datang!”  sapa Pak Dewa. Nisa menunggu teman-temannya di kelas.  Satu persatu temannya datang. “Nisa, kamu akan sebangku dengan siapa di hari pertama sekolah ini?” tanya Ria.  “Aku ingin sebangku dengan Tata” Jawab Nisa mantap.  Lima menit lagi pembelajaran akan dimulai.  Semua bangku telah telah terisi, tinggal bangku untuk Tata.  Tata pun masuk tepat jam 7.30.  Bu guru sudah akan memulai pembelajaran. Tata masuk ke kelas tanpa mengucapkan salam, tanpa senyum.  Dia melihat bangku tersisa tinggal di sebelah Nisa.  Nisa sudah senyum melambaikan tangannya.  Tata tak membalas senyum Nisa.  Dia tertunduk dan langsung duduk.  Nisa menjulurkan tangannya hendak bersalaman sambil mengatakan, “Selamat pagi Tata, bagaimana kabarmu?”.  Tata tidak membalas uluran tangan Nisa, juga sapaan Nisa.  Dia langsung mengeluarkan alat tulisnya di atas meja.  Pelajaran di mulai, sepanjang pelajaran Tata tidak mau berbicara, dia hanya memperhatikan ibu guru saja.  Nisa tak dilirik sama sekali oleh Tata.  Nisa berkata dalam hati, “Padahal aku dan Tata teman baik di kelas sebelumnya, tapi hari ini Tata sombong sekali. Dia tidak tersenyum, menyapa dan memberi salam bahkan dia juga tidak membalas senyum, sapa, dan salamku”

Guru memotong cerita sampai di sini.  Tanyakan pada murid-murid.  Bagaimana sikap Nisa? Bagaimana sikap Tata? Bagaimana perasaanmu kalau kamu sebagai Nisa? Bagaimana perasaanmu kalau kamu sebagai Tata? Mintalah mereka menduga, “Apa kira-kira yang menyebabkan Tata berubah sikapnya?”

Waktunya istirahat…. Nisa sangat senang.  Sekarang aku bisa bertanya sama Tata, “Mengapa ia bersikap seperti itu pada Nisa.  Mengapa ia masuk kelas pun tak senyum, sapa, dan salam.  Padahal senyum, sapa, salam itu harus diucapkan setiap kali kita bertemu dengan siapapun atau masuk ke ruangan yang penuh orang?”  Eh….Tata dimana ya? Tanya Nisa pada teman-temannya.  Semua orang yang ditanya menggelengkan kepala.  Nisa sudah geram pada Tata.  “Dasar Si Tata, udah tahu salah, sekarang kabur tak mau ketemu saya!” dalam hati Nisa marah sekali.  Sekeliling sekolah telah dicari, tapi Tata belum terlihat.  Tiba-tiba pandangan Nisa tertuju pada kantor kepala sekolah.  Di sana berdiri Tata dengan seseorang sedang mengobrol dengan Ibu Kepala Sekolah….”Itu siapanya Tata ya? Bukan ayahnya, tapi siapanya ya?”  Nisa menghampiri kantor kepala sekolah.  Nisa mendekat, tapi tidak berani dekat sekali.  Nisa bisa mendengar percakapan Ibu Kepala Sekolah, Tata, dan Orang itu.

Kepala Sekolah: “Tata, ibu turut sedih dengan apa yang terjadi pada ibu-bapakmu, tapi ibu yakin kamu akan menjadi anak yang kuat.  Tuhan pasti sayang sama ibu-bapakmu, sehingga mereka segera dipanggil ke surga.  Kamu harus tetap semangat dan ceria.  Ibu senang kalau kamu tersenyum, coba ibu mau lihat kamu tersenyum pagi ini!”

Seseorang: Terima kasih Bu, Tata senang bersekolah di sini, Namun saya sebagai Pamannya tak bisa terus mendampingi Tata di sini, terpaksa Tata pindah ikut kami.  Terima kasih sudah mengizinkan Tata masuk kelasnya untuk hari ini….

Nisa menguping semua percakapan itu. Ibu-bapak Tata sudah di surga, berarti…..  Dan itu pamannya? Tata ikut pamannya, berarti….

“Tata!” Seru Nisa.  “Tata aku cari kemana-mana ternyata di sini, ayo! Aku bawa kue keju kita makan bersama!” Nisa berusaha bersikap biasa. Tata tentu saja terkejut, dia seperti akan berlari menjauhi Nisa.  Namun, pamannya mengengam tangan Tata sambil jongkok dia berkata pada Tata, “Temui temanmu, kamu harus berpamitan pada mereka.  Beri kesan yang baik pada temanmu”.   Tata agak ragu, tapi akhirnya dia berlari.  “Nisa!!!!” Tata memeluk Nisa.  “Nisa maafkan aku tadi pagi.  Aku ingin kamu membenci aku, jadi aku bisa cepat pergi dari sekolah ini.  Nisa aku harus pindah sekolah.  Ibu dan bapak aku meninggal karena kecelakaan lalu lintas liburan kemarin.  Aku harus tinggal dengan pamanku sekarang di Kota Bandung.  Maafkan aku Nisa!!!

Guru memotong cerita.  Tanyakan pada para murid.  Bagaimana Nisa dan Bagaimana Tata? Tanyakan apa yang seharusnya Nisa lakukan? Apa yang seharunya Tata lakukan?

Bel istirahat telah selesai.  Nisa dan Tata masuk ke kelas.  Mereka terkejut, guru kelas dan teman-teman lainnya menyiapkan origami bunga. Ibu guru berkata, “Tata, kami sedih mendengar apa yang terjadi pada kedua orang tuamu.  Kami juga sedih berpisah denganmu. Namun walaupun kita berpisah ruang dan tempat, kita masih bisa berkirim kabar denganmu”  Tata dipeluk oleh teman-temannya.  Hari ini mereka melakukan pesta perpisahan untuk Tata.

Guru meminta murid untuk menceritakan lewat tulisan, apa pesan moral dari cerita yang telah dibacakan guru.

“Cerita ini dibuat untuk pembelajaran moral di Sekolah Hikari