Quasy Syariat Islam #EfekRazia

Fenomena perang opini di media sosial, pro dan kontra tentang Razia warung Ibu Saeni, juga tentang DONASI pada Ibu Saeni, lalu berujung pada konflik hormat menghormati ibadah puasa, dan berakhir pada KONFLIK AGAMA ISLAM vs NON ISLAM.

Ada apa dengan Orang-orang Indonesia?

Titik pokok soal adalah pada “PERDA WARUNG DAN RESTO BUKA SETELAH PUKUL 15.00 di Bulan Ramadhan”  Perda ini oleh sebagian muslim dianggap sebagai PERDA SYARIAH, dianggap sebagai PERDA yang membela kepentingan kaum muslimin.  Benarkah demikian??  Kesimpulan saya sih ini sebenarnya tidak murni perda syariah, tapi QUASY SYARIAH atau Syariah Semu.  Mengapa demikian?  Let’s analysis!

  1. Puasa di Bulan Ramadhan wajib bagi semua muslim baligh, kecuali orang tua renta, orang yang payah kalau berpuasa seperti ibu hamil/menyusui, pekerja berat, orang sedang haid/nifas, dan musyafir.  (ketentuan ini familiar sekali dan QS. Al Baqoroh ini sering dibaca jelang Ramadhan atau selama Ramadhan).
  2. Berdasarkan point pertama maka orang-orang tertentu masih diperkenankan untuk makan di siang hari.  Hanya saja tentu ada adabnya.  Dalam sebuah hadits “Malaikat akan bersujud pada orang yang berpuasa ketika di depannya ada orang makan” dengan begitu, yang tidak berpuasa tentu saja harus surti untuk tidak makan di depan orang berpuasa.  Dan orang berpuasa biasanya juga tidak terlalu hirau dengan orang makan di depannya karena memang dia sudah berniat puasa.
  3. Berdasarkan point 1-2, haruskah menutup warung makan? Sebetulnya tidak ada keharusnya.  Yang paling penting mengatur siapa yang berhak berbuka dan siapa yang tidak?
  4. Secara hukum islam “Apakah warung dan resto yang tetap buka pada waktu bulan Ramadhan kena hukum HARAM?”  Tentu saja tidak, selama dia menawarkan makanan halal, dan memperuntukkan makanannya pada orang-orang yang terkena uzur syarii untuk tidak berpuasa.  Jadi dapat disimpulkan bahwa PERDA yang ada hanyalah QUASY SYARIAH.

#RAZIA makanan bahkan sampai razia alat dapur untuk membuat efek jera agar mematuhi PERDA? Di sini saya merasa heran….

  1.  Makanan dan alat sekedar madaniah saja.  Yg melakukan kesalahan adalah person atau orangnya.  Saya mencoba mencari di dalam hukum islam apakah ada penyitaan terhadap alat2 atau benda?  Saya pun teringat sebuah riwayat perbuatan Rasulullah saw ketika melakukan infeksi pasar, didapati penjual yang menjual makanan basi di atas sementara makan masih layak makan di bawah, Rasulullah saw tidak menyitanya, beliau hanya menyuruh, “Taruhlah makanan segar ini di atas, dan makanan basi ini di bawah, agar orang-orang mengambil makanan yang masih segar”  Begitulah Rasulullah saw mencontohkan.
  2. Menyita dan membuang makanan adalah perbuatan yang mubazir.  Mubazir adalah kawan setan.  Apa yang dilakukan oleh satpol PP yang melakukan razia dan pembuangan makanan adalah sebuah perbuatan dzalim.  Apakah tidak bisa dilakukan tindakan yang lebih elegan?? Kalau pun alergi dengan HUMANIS, apakah tidak bisa dilakukan tindakan yang lebih syari’? Tindakan seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw?
  3. Bagaimana jika sudah diingat terus menerus bandel? Karena “PERSON” yang melanggar PERDA mungkin bisa disidang dan dihukum sesuai aturan yang berlaku.  Tidaklah elok MANUSIA yang BERSALAH tapi yang mendapatkan hukuman adalah MAKANAN dan BARANG.

Quasy syariah yang diterapkan membuat sebagaian masyarakat Indonesia mengalami bipolar.   Mereka seakan-akan sangat islami dengan mempertahankan HORMATI DONG RAMADHAN! Padahal keinginan mereka untuk menghormati Ramadhan hanyalah muncul dari GAHRIZAH BAQO yaitu dari naluri mempertahankan eksistensi diri. Naluri ini lahir dari hawa nafsu mempertahankan eksistensi kelompok islam. Sebagaian kelompok islam pada saat ini merasa tertindas.  Mereka mayoritas, tapi mereka merasa ditindas, karena kaum nasionalis yang lebih banyak dipilih dan diterima masyarakat Indonesia.  PERDA2 QUASY SYARIAH seperti ini dianggap mewakili eksistensi mereka.   Inilah sebabnya mereka marah ketika sebagian orang melakukan donasi pada Ibu Saeni. Para donatur memandang  sisi humanisme –membantu mengembalikan modal usaha ybs.  Mereka yang terbelenggu Gharizah BAQO menganggap perbuatan donasi itu MENGHALANGI TEGAKNYA SYARIAH ISLAM, mereka menganggap tindakan donasi itu melecehkan islam, menentang islam, dsb.  ……Dan sesungguhnya orang-orang seperti ini sedang memperjuangkan syariah islam fatamorgana.

Ramadhan bukan subyek, dia tak butuh hormat, hanya butuh MENJALANKAN ibadah RAMADHAN.  Ramadhan adalah moment dimana berbagai ibadah dinilai berlipat ganda dengan keistimewaan syaum dan lailatul qodar.  Ramadhan adalah bulan penyucian bagi umat islam.  Kekhusuan ibadah ramadhan gak akan terganggu oleh warung2 yang bertebaran.  Jika ketakwaan individu muncul warung2 itu akan tutup dengan sendirinya karena tidak ada DEMAND.

Indikator sebuah kota BERTAKWA di bulan Ramadhan ini, bukan dari seabrek PERDA QUASY SYARIAH, sehingga semua warung makan tutup jam 8-15; tetapi dari Sejumlah warung makan tutup jam 8-15 karena kesadaran individu.

Ayo, Dakwah!

Bukan warung yang buka yang diberantas, tapi BERDAKWAHLAH AGAR SEMUA MUSLIM yang tidak ada uzur syari’ mau berpuasa, sehingga warung2 makan pun tutup karena sepi pembeli bukan karena PERDA.  Jika itu terjadi, maka INILAH KEBERHASILAN DAKWAH MENGAJAK MASYARAKAT MUSLIM INDONESIA UNTUK BERTAKWA PADA ALLOH SWT.

#Just think and write, although is nothing# 

 

PRESIDEN KITA DAN KAMU!

Sudah lama ingin nulis ini, akhirnya dapat juga kesempatan buat nulis, alhamdulillah.

Pemilihan CAPRES makin memanas, para cyber armny bertebaran menggunakan berbagai media sosial untuk menyebarkan kampanye termasuk kampanye hitam yang bawa-bawa agama.   Prihatin sekali! Apalagi itu dilakukan oleh mereka yang kadar keislamannya mendekati militan, artinya keislaman mereka dalam tataran ritual dan muamalah serta akhlak lebih tinggi levelnya dari pada islam abangan atau islam moderat.

Isu syiah, liberalisasi, dan sekulerisasi serta deislamisasi ditujukan pada capres nomor dua, oleh pendukung capres nomor satu. Adapun capres nomor dua dilemparkan isu terkait HAM oleh para pendukung capres nomor dua.

Bagi saya sih, isu HAM itu sudah finish.  Prabowo sudah menjalani hukuman atas tindakannya tersebut.  Dan pada saat itu dia melakukan segala kegiatan atas instruksi.  Hanya saja yang harus diselidiki siapa yang melakukan instrksinya.   Kalau yang melakukan panglima tertinggi, mau apa lagi Sang Panglima yaitu Pak Harto sudah meninggal.  Dan saya pikir juga sah2 saja, sebuah rezim mempertahankan kekuasaannya, dalam islam pun para pembangkang atau Bughot-ers dihukum dengan hukuman yang keras, dibunuh dan dipancung.  Itu semua untuk menjaga eksistensi ideologi islam.  Begitu juga ORBA saat itu, untuk menjaga pancasila dan UUD 1945, maka setiap pembangkang dibumihanguskan.  Revolusi dan Reformasi memang senantiasa membawa korban, dan itu konsekuensi perjuangan.  Jadi masalah HAM sudah finish!

Lalu isu syiah, liberalisasi, sekulerisasi, dan deislamisasi bagaimana?  Isu ini KONYOL BANGET gak pake nalar dan gak lihat fakta serta gak holistik memandang masalah.  SETELAH REFORMASI INI KITA MENGANUT DEMOKRASI KAN? DAN DEMOKRASI ADALAH IDE YANG DIPERJUANGKAN SEHINGGA TUMBANGLAH REZIM ORBA.  Lalu dari mana asal usul demokrasi? siapa negara pengusung ideologi demokrasi saat ini?  Ide-ide Demokrasi memang lahir sejak zaman Yunani Kuno, ide ini marak seiring LIBERALISASI yang dilakukan di PARIS dengan melahirkan TRIAS POLITIKA (Eksekutif, Yudikatif, dan Legislatif) menumbang sistem MONARKHI dan KATERDAL yang berkuasa saat itu.  Demokrasi juga mengiringi semangat LIBERALISASI para Migran di Amerika yang kemudian mendirikan Negara Amerika Serikat di tanah para Indian.  Perancis dan Amerika Serikat merupakan motor dan acuan BERDEMOKRASI.  Demokrasi menganggap suara rakyat adalah suara tuhan, memisahkan antara wilayah tuhan hanya ada pada ritual ibadah, sementara politik adalah kesepakatan rakyat dan mayoritas.  JADI SANGAT KONYOL JIKA MENUDUH CAPRES NO 2 PENGUSUNG LIBERALISME DAN SEKULARISME,  karena siapapun PRESIDEN INDONESIA selama dia menyepakati konstitusi yang dijalankan adalah konstitusi raykat-suara tuhan suara rakyat, maka liberalisme dan sekularisme adalah konsekuensi.  Bagai mata uang liberalisme, sekularisme, dan demokrasi adalah satu kesatuan utuh.

Bagaimana dengan isu syiah dan deislamisasi?  Indonesia memang dihuni oleh mayoritas muslim sunni.  Tapi ingat sistem negara kita bukan berdasarkan syariah islam.  Kenapa? Karena memang rakyatnya tidak menginginkan syariat islam.  Lihat saya partai yang mengusung azas syariat islam seperti PBB (matan Masyumi) perolehan suaranya Jeblok (1.41%).  Jika dilakukan kalkulasi pada PILEG Kemarin,  Dari 124.972.491 pemilih (Jumlah penduduk berdasarkan SENSUS 2010 BPS 237.641.326 — 77% punya hak pilih–68% menggunakan hak pilih)  didapatkan hasil partai nasionalis (PDIP, Nasdem, PD, Golkar, Gerindra, Hanura, PKPI) mendapatkan suara 68,95%.  Ini artinya sebanyak 47% rakyat Indonesia yang punya hak pilih setuju Indonesia dikendalikan oleh PARTAI NASIONAL yang mengusung DEMOKRASI.  Ada 32% Golput dengan beragam alasan, dan sisanya 22% saja rakyat indonesia yang menyukai partai berbaju islam partai ini terbelah menjadi Mengusung Islam Nasional-Setuju Demokrasi (PAN, PKB, dan PPP) jumlahya 16% penduduk dan partai yang punya tujuan mendirikan syariat Islam secara hidden agenda (PKS dan PBB).  Jadi kalau dihitung dengan yang memilih partai islam tetapi dukungannya terhadap penerapan ideologi DEMOKRASI maka jumlah yang setuju dengan Demokrasi adalah 63% rakyat Indoensia.  JADI INGAT MAYORITAS RAKYAT INDONESIA (63%) MEMILIH PARA ANGGOTA LEGISLATIF UNTUK MEMPERTAHANKAN DEMOKRASI.  Dan konsekuensi dari demokrasi adalah liberalisasi –  artinya orang bebas mau beragama apapun, berpaham apapun, …negara menjamin hak-hak sipil ini dan memberikan kesempatan yang sama pada semua ras, agama, dan paham apapun dalam berpolitik.  Mau syiah, sunni, ahmadiyah, bahkan atheis atau gay bebas memilih dan dipilih, partai konstentan pemilu dilarang menolak anggota hanya karena syiah, sunni, atheis, atau gay/lesbi….INI KONSEKUENSI DEMOKRASI.  Lalu konsekuensi yang lainnya adalah sekularisme –  “Agama tidak masuk dalam ranah politik, ekonomi, sosial dan budaya.  Agama hanya berbicara tataran ritual aja…” tawaran SYARIAH ISLAM akan serta merta ditolak, karena ini mencedarai sekularisme yang merupakan salah satu azas demokrasi.  JADI ISU SYIAH DAN DEISLAMISASI MERUPAKAN ISU KONYOL!!! Siapapun PRESIDEN INDONESIA selama dia berdiri pada sistem DEMOKRASI maka ia harus MENGHARGAI DAN MELINDUNGI HAK WARGA NEGARANYA APAPUN PILIHAN PEMAHAMANNYA MAU SYIAH, SUNNI yang dianut oleh mayoritas rakyat Indonesia, AHMADIYAH DLL. De-Islami-sasi, ya ilahhh….DEMOKRASI (suara rakyat, suara tuhan. Tuhan istirahat dalam kehidupan sosial politik makhluknya.  Berikan kesempatan manusia mengatur kehidupannya, tuhan gak usah ikut campur)  ANTITESA DARI SISTEM TEOKRASI (Tuhan Pembuat Undang-undang melalui Kitab yang diturunkan, manusia menjalankan kitab tsb).

Dalam PILPRES 2014 ada sebagaian kader partai tertentu yang sering broadcast tentang isu2 syiah, deislamisasi, liberalisme, dan sekularisme pada CAPRES NO 2.  Sesungguhnya, saya harus bertanya pada mereka dimana letak nalarnya? SEMUA CAPRES SUDAH TEKEN KONTRAK MENERAPKAN DEMOKRASI TIDAK MEMBERI RUANG BAGI SYARIAT ISLAM DAN MELINDUNGI HAK WARGANEGARA APAPUN PEMAHAMANNYA.

Jika memang anda bersikukuh mau menerapkan syariat islam, maka yang harus dilakukan adalah menggerser pemikiran dari 46% pemilih yang selama ini loyal atau bersimpati dengan partai Nasional. Dengan cara apa?

  1. Sentuhlan hatinya —> raih simpati.  Ini bisa dilakukan oleh partai yang ikut demokrasi.  Bagaimana rakyat mau simpati, jika mereka yang mengusung Syariah islam secara hidden atau terang-terangan menunjukkan sikap arogran, menumpuk harta, dan wanita.  Harga jam tangannya aja 70 juta, lalu dalam waktu 2 periode menjadi anggota DPR/MPR kekayaannya dari 900 juta meningkat jadi 12,1 Miliyar.  Ketika kader melakukan kesalahan, dibela habis-habisan dan menuduh sistem atau lembaga pemerintah serta orang-orang yang ada didalam lembaga tersebut sebagai agen ZIONIS dan melakukan konsfirasi, padahal jelas-jelas terbukti secara hukum menerima SUAP.  Simpati rakyatpun menguap…partai islam yang punya hidden agenda menerapkan syariat islam, ternyata hidupnya sangat jauh dari syariat islam.  Dirinya sendiri saja tidak menerapkan syariat bahkan jauh dari syariat islam, jadi gak usah bicara lagi tentang syariat islam bagi negara. Belum lagi kasus wanita idaman lain yang ada dikeliling para ketua partai islam itu.  POLIGAMI, menikah lagi dan menceraikan isteri pertamanya, serta menikahi ras kuda putih adalah fakta-fakta disekitar ketua-ketua partai islam yang punya agenda syariah islam, yang bikin luntur IZAH partai islam militan.
  2. Sentuh pemikirannya —> ubah paradigma dan mindset dengan melakukan diskusi, debat, dan syiar yang bisa mengubah mindset RIDHO DIHUKUMI DENGAN HUKUM ALLOH TIDAK MERASA GENGSI dan MERASA WAJIB MENERAPKANNYA. Sayangnya partai islam di parlemen tidak bisa diharapkan untuk mengubah mindset ini, mereka hanya kampanye jor-joran dengan janji-janji manis untuk SEKEDAR PILIH PARTAINYA.

Jika menang anda menghormati keputusan mayoritas rakyat indonesia (63%) atas pilihan ideologi mereka SAAT INI, maka HENTIKAN membodohi mereka dengan isu-isu KONYOL ANDA, mari hidup berdampingan secara damai di negara DEMOKRASI INDONESIA.  HARGAI JUGA PERBEDAAN, dengan menghargai perbedaan anda bisa hidup berdampingan,   Pandang orang lain dengan hak yang sama dengan anda, termasuk hak mendapatkan surga.   Jangan serasa andalah yang berhak memperoleh surga, sementara diluar anda  masuk neraka semua (MEMANGNYA SURGA ANDA YANG PUNYA ya?).  Dan terlebih lagi, jangan anda mengobok-obok perasaan dan pikiran rakyat dengan isu-isu SARA yang anda TWEET, UPDATE, dan BROADCAST.